
" Apa yang telah kamu lakukan kepada kakakku?" tanya Rara merasa heran dengan Raden yang sikapnya melunak saat melihat satria.
Satria menceritakan tentang semalam, tentang kesepakatan antar dirinya dengan Raden. Jika Raden tidak menyetujui hubungan Satria dan Rara maka Satria akan bertindak yang sama untuk menjauhkan Mira dari Raden. Hal itulah yang membuat Raden menjadi lunak saat bertemu dengan Satria.
" Serius? Aku gak nyangka jika kakakku sebucin itu dengan adikmu." ujar Rara karena selama ini kakaknya terkenal sangat playboy dikalangan gadis di kampus.
" Tapi jika kakakku sudah setuju. Bagaimana dengan orang-orang di kampus melihat kita berangkat bersama seperti ini?" tanya Rara khawatir, karena dirinya masih belum bisa mengumbar hubungan mereka mengingat akun FB yang pernah dibuat oleh Sasa dan Jeje.
Tiba-tiba seseorang muncul diantar mereka berdua, orang itu adalah dara. Ternyata dara sudah ada dalam mobil. Namun, Rara tidak mengetahui hal itu.
" Jangan khawatir. Ada aku yang berangkat bersama kalian berdua. Satria sudah menceritakan semuanya kepadaku. Dengan pergi bertiga, orang tidak akan mencurigai." ujar dara kepada Rara. Namun, Rara hanya tersenyum kikuk, namun dia menyetujui ide tersebut.
" Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Aku ingin terus pergi keberbagai tempat bersamamu. Jadi, Dara akan membantu kita untuk menutupi hubungan ini. Kamu mengerti, kan?" ujar Satria mendekati Rara.
" Iya, aku mengerti." ucap Rara tersenyum malu-malu.
" Kalau begitu, ayo kita pergi." ujar Satria.
Satria dengan sengaja menyentuh paha Rara, membuat Rara terkejut dan menjauh.
" Maaf, Aku salah pegang." ucap Satria tersenyum miring.
Membuat Rara takut, dia melihat kebelakang ada dara yang terlihat biasa saja.
" Dara lebih baik kamu duduk di depan saja. Biarkan aku duduk dibelakang." ujar Rara takut jika dirinya kembali disentuh oleh Satria.
" Sat, berhentilah menggoda Rara." ucap dara.
Satria hanya tersenyum, sedangkan masih takut.
" Dar, kamu pindah ke depan ya."
" Udah, gak usah takut. Paket gih sabuk pengamannya." ujar dara.
Di kampus, Rara keluar dari ruangan kelas. Hari ini ujiannya begitu memberatkan. Rara merasa jika nilainya akan turun karena soal-soal yang berikan lumayan sulit untuk dikerjakan. Bunyi notifikasi pesan di ponselnya.
Satria: Aku menunggumu di cafe ya.
" Oke, aku baru saja selesai ujian. Sebentar lagi aku akan kesana." balas Rara.
Sesampainya di cafe, Rara melihat Satria dan dara yang sedang memilih makanan. Dara nampaknya begitu nempel dengan Satria. Mereka berdua terlihat bercengkrama. Hal itu membuat Rara merasa cemburu, namun mau bagaimana lagi dia tidak mau orang lain tahu hubungan mereka. Jadi kemanapun mereka berdua pergi, dara pasti mengikuti. Satria dan dara melihat kedatangan Rara.
" Kamu udah disini." ucap Satria tersenyum.
__ADS_1
Rara tersenyum tipis menghampiri mereka berdua.
" Bagaimana dengan ujiannya?" tanya Satria.
" Ya, bisa aku kerjain lah." jawab Rara kecut.
Satria menyadari ekspresi Rara berbeda. " Ada apa? Kamu takut orang melihat kita?" tanya Satria.
" Aku memilih tempat yang jauh dari universitas kita. Jadi mahasiswa di universitas kita tidak akan mungkin datang kesini. Lagian kita disini hanya mengobrol tidak bermesraan." ujar Satria memegang tangan Rara.
" Sekarang udah gak takut dilihat orang kan?" tanya dara.
Rara lalu melepaskan tangan Satria yang memegangi tangannya. Dara lalu mengajak mereka duduk. Rara duduk duluan disusul oleh Satria yang duduk disampingnya. Dengan sengaja Satria menyentuh paha Rara. Rara terkejut dengan tindakan Satria.
" Kenapa kamu menyentuh pahaku?" tanya Rara menarik tangan Satria yang masih bertengger di pahanya.
" Kenapa? Emang gak boleh jika aku menyentuhmu?" tanya Satria menggoda.
" Berpegangan tangan gak apa-apa. Tapi jangan seperti ini." bisik Rara malu didengar orang dan berusaha melepaskan tangan Satria.
" Kenapa gak?"
Dara datang menghampiri mereka berdua. " Ra, kamu duduk disebelah sini. Biar aku yang duduk disitu." ujar dara.
" Bukannya kemarin kamu baru makan itu." ujar Satria.
" Emang kenapa? kalau begitu aku akan memesan untukmu." ujar dara.
" Kamu tahu saja apa yang ku mau. Kamu sangat mengenalku dengan baik." ujar Satria memuji dara.
Rara dihadapan mereka hanya menatap kemesraan dua orang itu. Disini Rara merasa jika dia hanyalah nyamuk diantar mereka berdua. Terlihat Dara begitu sangat mengenal Satria begitu pula dengan Satria. Sedangkan Rara tidak tahu apa-apa, bahkan kesukaan satriapun Rara tidak tahu.
" Cuman itu saja." ujar Rara kepada pelayan.
" Ra, kamu gak pesan sesuatu?" tanya Satria melihat Rara tidak memesan apapun.
" Ah itu.. aku belum bisa menentukan menu yang ingin aku makan. Biar nanti aku pesan sendiri." ujar Rara tersenyum kikuk.
" Kalau begitu, boleh aku merekomendasikan makanan untukmu?" tanya dara.
" Boleh."
" Aku sering datang ke cafe ini dengan Satria. Jadi aku lumayan tahulah menu makan yang enak." ujar dara.
__ADS_1
" Begitu ya? Kalian berdua sering datang kesini sebelumnya?" kata Rara meski dilubuk hatinya dia merasakan sakit hati.
" Iya, disini tempat kesukaan Satria loh." ujar dara.
" Iya, soalnya makanan disini enak-enak." ucap Satria.
Tanpa mereka sadari Rara begitu cemburu dengan dara. Karena Dara begitu tahu tempat kesukaan Satria.
" Menu ini aja gimana? Satria juga menyukai menu ini." ujar Dara merekomendasikan menu makanan untuk Rara.
Rara hanya tersenyum kikuk, dia merasa seperti orang asing disini.
Disisi lain Raden berjalan bersama dengan Mira. Raden asyik mengecek ponselnya, dia terlihat begitu senang saat melihat ponselnya.
" Wah gila! Uhu!" teriak Raden bahagia bahkan sampai loncat kegirangan.
Mira memandang Raden bingung karena kelakuannya. " Raden, kamu gak apa-apa? Apa yang telah terjadi?" tanya Mira.
" Mir, bolehkah aku memelukmu." kata Raden lalu memeluk tubuh Mira dengan senang.
" Kenapa sih! Kenapa kamu memeluk ku?" tanya Mira kebingungan dengan sikap Raden.
" Emangnya gak boleh aku memelukmu. Baiklah aku akan menciummu." ujar Raden mencium pipi Mira.
" Raden, apa-apaan sih! Ada apa?"
" Aku senang Mira, kamu harus lihat ini." ujar Raden kembali menatap layar ponselnya.
Raden menunjukan layar ponselnya. Ternyata nilainya sudah keluar, Raden mendapatkan nilai C dan lulus dari kata kuliah ulangan.
" Lihatlah, aku lulus dengan nilai C." ujar Raden kegirangan.
" Kenapa kamu begitu senang dengan nilai C?" tanya Mira heran.
Dia tidak sadar jika Raden sangat susah mendapatkan nilai C dari mata kuliah apapun sebelumnya. Yang penting bagi Raden bukanlah nilai tetapi dia bisa lulus itu sudah menjadi keberuntungannya.
" Tidak perduli dengan nilainya, yang penting bisa lulus. Itu sudah bagus." ujar Raden.
" Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?"
" Ya, harus begitu. Meski nilai ku udah meningkat jadi C tapi otakku ini masih F, asal kamu tahu itu." ujar Raden.
Mira hanya bisa menggeleng kepala mendengar perkataan Raden.
__ADS_1
" Sekali lagi makasih ya, bocilku." ujar Raden kembali mencium pipi Mira. Membuat gadis itu merasa malu.