Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Foto masa lalu


__ADS_3

Dara datang dari belakang, dia merangkul Rara dan Satria sambil mengucapkan selamat kepada mereka berdua. " Selamat ya untuk kalian. Jadi tugasku sudah cukup sampai disini." ujar dara lalu menarik tangan Rara dan Satria untuk berpegangan.


Satria dan Rara tersenyum bahagia, begitupula dengan Sasa yang mendukung hubungan mereka pun turut bahagia. Bahkan sesekali Sasa tersenyum mengejek kepada Jeje yang berdiri di sebelahnya.


Mereka kembali kedalam tempat pesta. Rara duduk disampingnya Satria. Dia melihat kue ulang tahun Satria, Rara mengambil sendok, dia menyendok kue itu tepat di namanya Satria. Dia menyendok sampai nama Satria itu hilang didalam kue itu hilang, lalu Rara memakannya sambil tersenyum senang. Diam-diam Satria memperhatikan perlakuan Rara itu sambil tersenyum.


" Hallo semuanya, aku Sasa dari satria dan Rara. Fandom yang nyata daripada fandom yang lain. " ujar Sasa menyindir Jeje. Jeje yang menyadari itu, menatapnya dengan tatapan tidak suka. Tapi mau gimana lagi, emang benar jika fandom dara dan Satria bukanlah nyata melainkan Satria aslinya berpacaran dengan Rara.


" Bagaimana pun malam ini merupakan malam yang sangat baik. Karena malam ini kami para fans Satria dan Rara sangat senang melihat couple kami sudah berlayar. Jadi tidak lagi pekerjaan untuk kami sebagai fandom untuk memperlihatkan momen kebersamaan mereka. Untuk itu kami semua telah menyiapkan sebuah video pendek sebagai hadiah untuk kak Satria. Kalau begitu, mari kita lihat bersama-sama." ujar Sasa.


Terlihat gemuruh tepuk tangan, saat Sasa berdiri didepan. Video pun mulai di putar, diperlihatkan foto Satria bersama dengan Rara, foto romantis telah diperlihatkan. Membuat yang menonton heboh karena terbawa suasana. Rara nampak malu, namun yang menonton terus berteriak. Bahkan Jeje yang tadinya terdiam, mulai senyum sendiri melihat video yang tayang dihadapannya.


" Ngapain kamu senyum sendiri begitu " ujar Sasa.


" Aku udah tidak tahan, aku ingin teriak." ujar Jeje mulai terbawa suasana.


Satria merangkul Rara dan berbisik, "Lihat saja videonya, kamu terlihat manis di setiap foto."


" Apaan sih!" ucap memukul dada Satria.


Sasa dan Jeje terlihat begitu bahagia saat sedang asyik menonton video dihadapan mereka. Tiba-tiba ponsel Jeje berbunyi, ternyata sebuah notifikasi pesan. Dari wajah Jeje, dia terlihat begitu terkejut. Tidak berselang lama, semua ponsel di setiap tamu yang hadir juga ikut berbunyi. Para tamu melihat notifikasi di ponsel mereka, ekspresi wajah mereka terlihat sama seperti Jeje.


Jeje lalu memperlihatkan notifikasi yang masuk di ponselnya itu kepada Sasa.


" Sasa, lihatlah." ujarnya.


Sasa yang melihat itu juga terkejut, dia menatap pasangan yang tengah duduk bermesraan itu bergantian sambil melihat isi ponsel Jeje. Sasa membawa ponsel Jeje menuju rara, dia lalu memperlihatkan isi ponsel Jeje kepada Rara.


" Kak Rara, lihatlah. Ada orang yang sengaja ingin mempermalukan kakak di media sosial." ujar Sasa memperlihatkan sebuah foto, yang ternyata adalah foto Rara yang dulu. Foto Rara yang masih culun, mengenakan kacamata dan behel gigi.


" Wah.. Ternyata aslinya seperti ini, sekarang dia terlihat berbeda." ujar salah satu tamu.

__ADS_1


" Aku jadi berpikir dia ini kayaknya tak pantas buat Satria." ujar salah satu tamu yang duduk tak jauh dengan Satria dan Rara.


Komentar silih berganti kepada Rara, Rara melihat semua foto itu. Dia begitu malu mendengar semua komentar dari para tamu Satria. Satria mencoba menenangkan namun Rara malah justru menepis tangan Satria. Dia lalu pergi dari situ. Sasa menatap Rara dengan tatapan iba. Sedangkan dara hanya bisa diam, dia tak bergeming sama sekali.


Rara berlari keluar, Satria mencoba mengejarnya. " Ra, tunggu sebentar! Rara dengerin aku dulu!" ujar Satria.


Namun Rara terus pergi tanpa menolah, Satria mencoba meraih tangan Rara. "Ra, dengerin aku dulu!"


" Tidak mau. Lepaskan aku!" teriak Rara berusaha melepaskan tangannya.


" Ra, aku mohon dengerin aku dulu." ujar Satria mencoba memeluk Rara dari belakang.


" Lepaskan aku!" berontak Rara.


" Aku benar-benar tidak melakukannya." ujar Satria.


" Kamu benar-benar tidak melakukannya? Apaan sih! Sialan! Pembohong!" ujar Rara berontak agar Satria melepaskan pelukannya.


" Apa! Jelas-jelas kamu satu-satunya yang punya foto-foto itu." ujar Rara memberontak.


"Siapa lagi yang dapat melakukannya jika bukan kamu?" bentak Rara berhasil melepaskan pelukan Satria.


" Dengerin aku dulu, Ra." pinta Satria mencoba meraih tangan Rara.


" Aku tidak mau mendengarnya!" bentak Rara mendorong Satria yang mencoba mendekatinya.


" Aku benar-benar tidak melakukannya. Percaya padaku, kumohon." pinta Satria.


" Kamu mohon? jika kamu masih ingin berteman denganku. Maka jangan ikuti aku! Aku tidak ingin membencimu!" teriak Rara sambil menangis lalu pergi meninggalkan Satria yang berdiri dengan putus asa.


Rara hanya bisa menangis di meja belajarnya. Di meja belajar itu terdapat sepotong kertas yang bertulis, " Mama melihatnya di tas mu, makanya mama membersihkannya."

__ADS_1


Ternyata yang dimaksud ibunya adalah botol minuman dari satria. Rara masih terus menangis, dia melihat botol minuman itu. Dia mengingat kembali momen saat dirinya bersama dengan Satria, air matanya tidak berhenti mengalir.


Tidak berselang lama, Raden masuk ke kamar. "Kenapa sebegitu marahnya sama aku?" gerutu Raden saat masuk ke dalam kamar Rara.


Menyadari kehadiran kakaknya, Rara segera menghapus air matanya. Namun, sayangnya Raden sudah dahulu mengetahui jika adiknya itu tengah menangis. " Ra, kamu kenapa?" tanya Raden menghampiri adiknya itu.


Rara menoleh, matanya terlihat sembab. Raden sudah mengetahui adiknya itu tengah menangis. " Ra, siapa yang melakukan ini kepadamu?" tanya Raden tidak terima melihat adiknya menangis.


Satria menyusul Rara di depan rumahnya, Satria berteriak memanggil Rara. Berharap Rara keluar dan mendengar semua penjelasannya.


" Rara.. Aku tahu kamu berada di atas. Aku mohon keluar lah dan bicaralah padaku." teriak Satria diluar pagar.


Raden yang menenangkan adiknya, mendengar teriakan dari satria. Dia akhirnya tahu siapa yang membuat adiknya menangis. " Satria! brengsek!" ucap Raden keluar dari kamar Rara untuk menemui Satria.


" Kak Raden!" teriak Rara agar Raden tidak menemui Satria. Namun, Raden tidak perduli dia tetap menemui Satria karena sudah membuat Rara menangis.


" Ra.. keluarlah.. aku mohon.. bicaralah denganku, Ra." teriak Satria.


" Kenapa kamu berteriak didepan rumahku? Pulang sana ke rumahmu!" teriak Raden membuka pagar rumahnya.


" Bisakah aku berbicara dengan Rara sebentar?" pinta Satria kepada Raden.


" Dia tidak ingin berbicara denganmu. Sialan kamu ya!" bentak Raden.


" Bukan aku yang melakukan, meski penampilan Rara bagiku Rara tetap orang sama." ujar Satria menjelaskan.


" Lalu apa yang kamu lakukan? apa itu yang disebut dengan cinta?" ujar Raden mendorong Satria.


" Bukan aku yang melakukannya. Aku tidak mungkin melakukan hal yang membuat Rara tidak nyaman, kak." ujar Satria mencoba menjelaskan jika itu bukanlah kesalahannya.


Satria terus memanggil Rara, merasa tidak tahan Raden mendorongnya bahkan mengancam akan memukul wajah Satria jika dia terus memanggil nama adiknya. Sedangkan Rara, dia menangis dengan kencang mendengar perdebatan antar kakaknya dan satria di luar pagar.

__ADS_1


__ADS_2