
Ternyata Mira sudah tahu tentang Raden yang merupakan kakak tingkatnya bukan mahasiswa baru sama seperti dirinya. Mira mengetahui itu karena tidak sengaja membaca tugas laporan mereka berdua, di sanalah nama Raden tertulis dan juga Nim mahasiswa sebagai mahasiswa semester akhir. Mira menceritakan semuanya kepada Raden, Raden begitu merasa bersalah karena sudah membohongi Mira selama ini. Mira juga bercerita jika dia juga tahu kalau Raden bukanlah mahasiswa kedokteran gigi.
Mendengar semua penurutan Mira, Raden merasa bersalah dia mengacak rambutnya. Bingung harus bagaimana, jujur dia tidak mau Mira menjauh darinya.
" Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya alasan aku membohongimu. Aku malu atas kenyataan jika diriku ini bodoh. Kamu juga pernah cerita tentang itu. Makanya itulah alasan aku gak mau mengakui jika itu adalah aku, karena aku gak mau terlihat seperti orang bodoh di matamu. Emangnya kamu pikir aku senang melakukan itu? Dan jika aku tidak melakukan tugas bersama denganmu, mungkin aku gak akan lulus lagi."
" Raden, apa kamu tahu? jika selama ini aku melakukan apapun untuk mu. Karena aku berfikir jika kamu adalah temanku. Sepertinya sekarang aku menyadari seharusnya aku gak memanggil mu Raden, Seharusnya aku memanggilmu kak Raden sekarang." Mira menyadari jika selama ini dia tidak berlaku sopan terhadap Raden yang ternyata kakak tingkatnya.
" Apa aku begitu menyakiti perasaanmu? maafkan aku." ujar Raden, dia sadar jika ini akan terjadi jika Mira mengetahui kebenarannya. Mira akan menjauh darinya, hal itu membuat Raden tidak ingin itu terjadi.
" Namun, aku akan beri kakak kesempatan kedua. Kita mulai semuanya dari awal."
" Maksud kamu?"
" Ya, kita mulai saling mengenal lagi dengan jujur. Sama seperti saat kita pertama kali berkenalan."
Raden tersenyum senang, Mira memberikan kesempatan untuknya agar dekat lagi bersama Mira.
" Baiklah, namaku Raden Putra. Aku mahasiswa semester akhir dari fakultas teknik sipil." kata Raden mengulurkan tangannya sebagai bentuk perkenalan.
" Namaku Mira Wijayanti. Aku mahasiswa semester satu fakultas teknik sipil." ujar Mira menggenggam tangan Raden.
Raden tersenyum bahagia, akhirnya dirinya tidak perlu lagi harus berbohong kepada Mira. Karena sekarang Mira tidak akan menjauh darinya.
" Saat aku sudah menggenggam tangan seseorang aku tidak akan melepaskannya dengan mudah." Ujar Raden tersenyum menatap wajah Mira.
Suasana romantis pun akhirnya tercipta. Namun, suasana romantis itu hanyalah sesaat ketika Mira mengatakan, " Kalau misalnya nanti aku ke toilet, apakah kak Raden bisa melepaskan tanganku?"
Raden merasa kesal dengan perkataan Mira, baru saja dia menciptakan suasana romantis. Namun, harus hancur akibat perkataan Mira. Raden melepaskan genggaman tangannya itu dengan kesal.
" Kamu ini benar-benar gak tahu suasana romantis!" ucap Raden kesal dengan Mira.
Rara memasuki toko roti dekat kampus, hari ini dirinya merasa suasana hatinya begitu buruk. Karena itulah dia memasuki toko roti untuk memakan makanan manis, agar suasana hatinya kembali membaik. Tiba-tiba dara datang bersama dengan Satria. Rara menghela nafas kasar, " lagi-lagi mereka berdua!"
__ADS_1
Rara melihat dua sejoli itu, mereka tampak mesra. Dara terlihat sok manja di depan Satria, hal itu membuat Rara begitu muak. Setiap Dara meminta belikan cake, Satria selalu meminta Dara untuk melakukan pose imut.
" Menjijikan!" komentar Rara dengan tidak bersuara.
Setiap Rara memilih roti dan cake selalu saja didahului oleh Dara. Hal itu membuat Rara kesal dan pergi ke toilet toko itu. Rara berteriak kesal, di depan kaca wastafel dia menirukan gaya dara yang sok imut. Melihat kelakuannya Rara menggidik ngeri. Saat Rara keluar dari toilet, tidak disangka Satria sudah menunggunya dengan menyandarkan tubuhnya di tembok.
" Astaga! kamu mengagetkan ku saja! kamu ngapain sih disini?" tanya Rara yang kaget melihat Satria berdiri didepan toilet wanita.
" Kelihatannya kamu begitu kesal, cemburu ya!"
" Aku gak cemburu! itu dugaan mu saja."
" Sudahlah gak usah mengelak, jika cemburu katakan saja."
" Aku gak cemburu." bantah Rara.
" Kamu cemburu."
Satria menarik tubuh Rara dan mendorong ke tembok. Kini Satria berdiri didepan Rara dengan tangannya menahan di tembok. Ditatap wajah gadis didepannya itu dengan tajam.
" Benar, kamu memang tidak hanya cemburu tetapi kamu sangat sangat cemburu." ujar Satria.
Rara begitu malu, dia mendorong tubuh Satria agar menjauh darinya. Lalu Rara segera berlari dari situ. Rara berjalan ke koridor kampusnya, dia begitu kesal dengan kelakuan dara dan Satria. Namun, saat sedang ngedumel sendirian, dia melihat Bima keluar dari kelas. Wajahnya yang tadi ditekuk, kini senyuman terukir di wajahnya.
" Haha, kini giliran ku Satria!" ujar Rara menghampiri Bima.
Dara sedang menikmati cakenya, Satria datang menghampirinya dan duduk didepannya. Dara mencoba menyuapi Satria, namun Satria menolak.
" Sudahlah Dar, Rara gak ada disini." kata Satria menolak suapan dari dara.
Namun, tidak disangka Rara datang bersama Bima. Mereka memasuki toko roti itu.
" Bima, ini toko yang pernah aku belikan roti coklat untukmu." ujar Rara kepada Bima.
__ADS_1
Dara dan Satria menatap ke arah Rara dan Bima. Rara mulai memesan roti coklat, namun Bima malah menolak dengan memesan roti keju. Setiap Rara memilih pesanan untuk Bima, malah ditolak dengan Bima memesan yang lain. Satria yang mendengar itu hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Rara begitu malu karena setiap pesanan mendapatkan penolakan dari Bima.
" Yuk, kita cari tempat duduk." ajak Rara kepada bima.
Saat hendak berjalan mencari tempat duduk, Rara tidak sengaja terpeleset untungnya ada Bima yang menahan tubuhnya.
" Kamu gak apa-apa, Ra?"
" Gak apa-apa. Hanya terpeleset." Rara melihat ekspresi wajah Satria. Entah kenapa dia terlihat puas, kali ini Rara pura-pura terpeleset lagi dan Bima kembali menahan tubuhnya.
" Kamu yakin baik-baik saja?"
" Iya kok Bim. aku baik-baik saja."
Mereka berdua memilih tempat duduk diluar toko, kebetulan berdampingan dengan Satria dan dara namun terhalang oleh kaca. Satria terus menatap kearah Rara dan Bima.
" Makasih ya Ra, untuk traktirannya." ujar Bima.
" Iya, sama-sama. Untuk kamu, gak masalah buatku."
Bima menatap Satria yang duduk disampingnya. " Ra, aku ingin bertanya pada mu. Apa kamu sengaja melakukan ini, untuk membuat Satria cemburu?"
" Gak kok. Dia sedang bersama pacarnya. kebetulan aku bertemu denganmu, makanya aku mengajak mu makan roti dan cake bersamaku." Kata Rara membantah.
" Aku tahu Ra, sebenarnya permainan apa yang sedang kalian berdua mainkan?"
" Aku gak sedang main-main Bim. aku serius."
Bima memegang tangan Rara, " Ra, dengarkan aku.."
Satria yang melihat hal itu, mulai merasa curiga apa yang di sampaikan oleh Bima. Kenapa Bima memegang tangan Rara. Satria terus menatap Bima dan dan Rara dengan tatapan tajam. Tiba-tiba Satria melihat ekspresi wajah Rara yang terlihat begitu kesal, Rara terlihat menatap Satria. Rara lalu berdiri dan pergi dari situ. Satria yang melihat itu mencoba untuk menemui Rara. Namun, dirinya dicegat oleh dara.
" Dara, lebih baik kita hentikan semua ini." ujar Satria lalu pergi untuk menemui Rara.
__ADS_1