
Satria menyentuh pipi Rara dengan kedua tangannya. Rara kaget dengan apa yang dilakukan Satria padanya. Bukannya melawan, namun Rara hanya terdiam. Mata Rara memandang wajah Satria, dia merasakan jantungnya yang berdetak. Satria menatap lekat wajah Rara.
" Kenapa kamu menyentuh pipiku?" tanya Rara.
"Pipimu begitu lembut. Namun, bagaimana bisa hatimu begitu keras?" ujar Satria.
Rara terdiam, dirasakan jantung semakin berdebar. Saat kalimat itu keluar dari mulut Satria.
"Jika kamu belum siap untuk membuka hatimu. Kita bisa memulai dari berteman terlebih dahulu." ujar Satria.
" Gak! aku gak akan membuka hatiku untuk siapapun! Aku hanya membuka hatiku untuk Bima." ucap Rara.
" Menurutku kamu gak menyukainya sebanyak itu." ujar Satria.
" Jangan bertingkah seolah-olah kamu tahu segalanya. Aku ini bukan kamu." kata Rara menyangkal.
" Namun, aku tahu. Ini hanya persoalan waktu. Kamu akan jatuh hati padaku. Bocah dengan pipi lembut." ujar Satria.
Rara hanya terdiam, jantung terus berdebar. Telapak tangan Satria masih setia di pipi Rara. Sedangkan sang pemilik pipi lembut hanya terdiam kaku.
Rara berbaring di kamar tidurnya menatap langit-langit kamarnya. Dia terus meyakinkan dirinya jika dirinya mencintai Bima. Bahkan Rara berkali-kali mengucap kalimat jika dia mencintai Bima. Tiba-tiba disampingnya ada Satria yang berkata, " itu hanya persoalan waktu. Kamu akan jatuh cinta padaku."
Rara kaget dan segera memakai kacamata yang memang sudah diletakkan di samping kasurnya. Rara melihat kembali apakah yang dilihat memang Satria, tapi ternyata tidak ada siapapun di situ melainkan dirinya sendiri. Jika tadi Rara melihat Satria, itu hanya halusinasi Rara saja. Rara menghela nafasnya pelan, entah kenapa dia malah memikirkan dengan Satria. Rara menepuk kedua pipi untuk segera sadar jika cintanya hanya untuk Bima.
Kembali kepada Raden dan Mira. Raden tengah membaca komik di tabletnya. Ternyata komik yang dibacakannya itu bercerita tentang seorang siswa yang mengakui perasaannya pada seorang guru. Raden membaca tiap kalimat di komik itu dengan suara pelan. Meski sudah pelan, namanya juga satu tenda otomatis Mira yang sedang tidur terganggu. Mira menghela nafasnya dengan kesal. Raden masih asyik membaca bahkan meniru suara kecupan yang ada dalam komik. Mira terbangun dari tidur.
"Raden, hentikan! kamu itu sangat berisik. aku bahkan tidak bisa tidur," ujar Mira.
"Kupikir kamu sudah tidur. Aku minta maaf. Aku benar-benar terbawa oleh cerita komik digital ini. Soalnya jaringan WiFi di sini sangat mantap!" ucap Raden sambil tertawa mengingat dia pura-pura meminta sandi WiFi untuk mendekati ibu Nadia.
Mira merasa kesal akan hal itu, karena dia tahu raden memang sengaja meminta kata sandi WiFi supaya mendekati ibu Nadia. Akhirnya Mira memiliki ide agar Raden tetap bersamanya.
"Raden!" Ucap Mira.
"Ada apa?" tanya Raden.
__ADS_1
"Aku gak bisa tidur." jawab Mira.
" Lalu?" tanya Raden.
"Bisa gak kamu mengusap kepalaku?" pinta Mira.
"Kenapa harus aku yang melakukan itu?" tanya Raden.
"Karena gak ada orang yang bisa tidur jika melakukannya sendiri. Ku mohon Raden. Ini sudah tengah malam, aku harus pagi sekali nanti. Jika aku gak tertidur dalam setengah jam, hormon pertumbuhan ku akan berhenti bekerja. Please, tolong usapkan kepala ku." pinta Mira.
Raden tak bergeming, dia hanya menatap Mira. Entah kenapa Mira yang sedang memohon terlihat begitu menggemaskan di matanya. Setelah menyadari, Raden segera menggelengkan kepalanya. Seolah-olah berusaha menyadarkan dirinya jika apa yang dipikirkannya barusan merupakan sebuah kesalahan.
"Baiklah." ucap Raden.
Mira sangat senang, ternyata idenya itu berhasil. Dia segera membaringkan tubuhnya dan kepalanya diletakkan di paha Raden.
"Tunggu sebentar! apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tidur di pahaku?" tanya Raden saat menyadari bahwa Mira akan tidur di pahanya.
"Biasanya aku gak pernah ngalamin susah tidur. Tiap malam, saat di rumah ibuku selalu mengusap kepalaku sebelum tidur." Ujar Mira.
Raden menghela nafasnya, meski kesal mau tidak Raden menuruti. Karena peran Mira dalam tugas ini lumayan banyak. Jadi setidaknya hal itu sangat menyebalkan. Raden harus tetap melakukannya. Raden mengusap kepala Mira sambil kembali membaca komiknya.
" Ada apa lagi sih?" tanya Raden kesal.
"Kenapa kamu juga memilih jurusan kedokteran gigi?" tanya Mira.
Dengan kesal Raden menjawab, " Karena aku gak suka orang yang cerewet. Setiap berkunjung ke klinik dokter gigi suasananya terasa senyap. Dan aku juga suka berkerja di lingkungan yang tenang. Itulah aku gak suka sama orang yang suka banyak bicara, seperti dirimu."
Mira cemberut saat Raden mengatakan hal itu.
" Aku hanya berusaha bisa mengobrol denganmu." ujar Mira.
"Mir, kakiku terasa kaku. Bisa kamu bangun sebentar? biar aku bisa meregang kakiku." ujar Raden.
Mira bangun dari tidurnya, Raden segera merentangkan kedua kakinya. Saat Mira hendak tidur kembali. Dia melihat ada tato yang bergambar dua ekor ikan kecil di paha Raden.
__ADS_1
"Eh! Raden," ucap Mira.
"Ada apa lagi sih!" tanya Raden kesal.
" Kamu memiliki tato? Apa kamu gak kesakitan saat membuatnya? " Tanya Mira.
" Ya, memang. tapi aku menyukainya. karena aku masokis," Jawab Raden dengan maksud kembali membohongi Mira yang menurutnya cewek polos yang muda ditipu.
" kenapa memilih tato ini?" tanya Mira.
" tanda zodiakku." Jawab Raden.
"Benarkah! aku juga berzodiak Pisces. Ternyata ini juga termasuk dalam kesamaan kita berdua." ujar Mira.
Mira menyentuh tato itu sambil mengikuti gambar ikan. Raden merasa aneh, dia segera menghentikan aksi Mira itu.
"Sudah cukup! aku merasa geli. Berhenti menyentuh kakiku sekarang juga!' ujar Raden.
Namun, Mira malah menolak dan tetap menyentuh paha Raden yang bertato itu. Raden akhirnya mengancam jika Mira masih menyentuhnya maka dia tidak akan lagi mengusap kepala Mira. Mira menghentikan aksinya dan kembali berbaring di pangkuan Raden.
"Raden!" panggil Mira.
"Apa lagi?"tanya Raden dengan malas.
"Makasih." ujar Mira tersenyum.
" Jika kamu ingin berterima kasih padaku, gak ada lagi acara usap kepala dan segeralah tidur." ujar Raden.
" Aku bukan berterimakasih akan ha itu. Aku ingin berterimakasih akan semua bantuan, perlindungan, dan keperdulian yang kamu berikan kepadaku." Kata Mira.
" Kapan aku melakukan semua hal itu?" tanya Raden karena sepengetahuannya dia tidak pernah melakukan hal itu.
Mira mulai bercerita satu persatu hal yang Raden lakukan padanya, Mira juga mengingat saat Raden rela menyembur diri ke sungai demi mendapatkan botol air minumnya.
" Makasih banyak ya Raden." ucap Mira.
__ADS_1
" Iya, sama-sama. sekarang tidurlah." ucap Raden.
Raden terus mengusap rambut Mira. Tanpa disadari Mira, senyuman manis terukir di wajah Raden. Raden menyentuh pipi Mira. Dia tersenyum dan merasa kulit lembut Mira di telapak tangannya. Raden menghentikan aksinya itu, saat Mira tiba-tiba memanggilnya lagi dan menarik tangan Raden untuk kembali mengusap rambutnya. Raden pura-pura kesal dan marah padanya, namun sebuah senyuman kembali terukir diwajahnya.