Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Berhenti membohongi diri


__ADS_3

Satria menatap Rara yang tengah sedih akan patah hati yang baru saja dia terima.


" Dari hasil analisisku, itu bukanlah cinta. itu hanya obsesi mu saja." Kata Satria.


Perkataan itu membuat Rara kaget dan menatap Satria dengan tidak percaya, mana mungkin jika dia tidak mencintai Bima.


"Obsesi gimana maksudmu?" tanya Rara yang tidak terima saat Satria mengatakan itu.


" Baiklah, aku akan memberikan contoh yang sederhana. Kamu lihat bunga-bunga itu?" tanya Satria menunjukan bunga yang bermekaran tidak jauh dari tempat yang mereka duduki. Rara memandang bunga yang bermekaran itu.


" Jika kamu menganggap mereka cantik. Itu artinya kamu mulai menyukai bunga-bunga itu atau tertarik pada bunga-bunga itu. Jika kamu ingin mengambilnya, itu artinya kamu justru terobsesi pada mereka. Namun, jika kamu jaga dan membuat mereka tumbuh, itu artinya kamu mencintai mereka." ujar Satria lalu menatap Rara. begitupula sebaliknya Rara juga memandang Satria.


" Anggaplah Bima merupakan salah satu dari bunga-bunga itu. Jadi sekarang katakan padaku seperti apa tanggapan mu tentang dirinya?" tanya Satria lalu menyenggol pundak Rara.


Rara merasa kesal dan mendorong tubuh Satria agar jauh, Rara lalu memalingkan wajahnya ke samping.


"Ya.. ku rasa aku ingin menjaganya." jawab Rara.


"Ra, berhentilah membohongi dirimu sendiri. itu penyakit." ujar Satria.


Rara kesal saat Satria mengatakan jika dirinya penyakit.


" Penyakit gimana? gak ada yang salah dengan diriku." ucap Rara kesal.


"Ada. kamu itu gemar menyangkal." ucap Satria.


" Gak!" teriak Rara.


" Iya." ucap Satria.


Hingga terjadilah saling perang kata iya dan tidak diantara Rara dan Satria. Rara mendorong tubuh Satria, namun tangan Rara langsung dipegang oleh Satria agar tidak mendorong tubuhnya lagi. Membuat Rara menatap wajah Satria, Satria merasakan denyut nadi di tangan Rara. Rara pun juga merasakan hal sama, denyut jantungnya berdegup kencang.


" Kamu bisa saja berkata berbohong. Namun, reaksi fisikmu tidak bisa." ujar Satria.

__ADS_1


Rara jadi salah tingkah saat Satria mengatakan hal itu. Dia bingung harus berbuat, dilihat minuman beralkohol disamping Satria yang pernah ditawari kepadanya. Rara mengambil minuman kaleng itu dan menenguknya sampai tak tersisa. Satria memandang Rara dengan bingung. Seketika Rara merasakan pusing di kepalanya dia dia tidak sadar diri. Rara pingsan, kepala menyandar ke bahu Satria. Hal itu membuat Satria begitu khawatir kepadanya.


" Ra, kamu becanda ya? Ra!" ucap Satria menahan Rara dengan tangannya.


Satria mencoba menggoyangkan bahu Rara, mungkin saja Rara bangun. Namun, Rara masih menutup matanya. Tiba-tiba Satria merasakan gerimis di tangannya. Satria mengumpat, kenapa harus turun hujan disaat seperti ini. Bingung mau dibawa kemana, kebetulan rumahnya lumayan dekat dengan Bima. Terpaksa Rara di gendong dan dibawa ke rumahnya. Dibaringkan Rara di kamarnya, diselumuti tubuh Rara.


Satria duduk disamping Rara, sambil menatap wajah gadis itu dengan senyuman yang terukir manis diwajahnya. Namun, disaat Rara mengeliat, Satria segera menghindar dari situ. Jika merasa Rara sudah tertidur pulas, Satri kembali mendekat. Satria berlutut, menatap lekat wajah gadis itu. Dan juga Satria mengelus rambut sang gadis. Tak bosan-bosannya Satria menatap wajah Rara.


" Ra, aku ingin menjagamu." ucap Satria sambil tersenyum menatap wajah Rara yang tertidur.


Tiba-tiba mata Rara berkedip, reflek Satria segera menjauh dari Rara. Hal itu membuat kaki Satria tersadung. Rara mengerakkan tubuhnya, Satria langsung berpura-pura berdiri sambil melipatkan tangannya di dada.


Rara meregangkan kedua tangannya, dirinya merasa ada yang aneh dengan tempat tidur ini. Rara melihat selimut yang menyelimutinya.


"Heh! kamu udah bangun? Hanya satu tegukan saja kamu malah pingsan." ujar Satria.


Rara merasa bingung dengan kamar yang di tiduri, seperti bukan tempat tidurnya.


" Dimana aku?" tanya Rara yang masih bingung dimana dia berada.


Rara kaget akan jawaban Satria, Rara lalu bertanya, " Kamarmu? Sudah jam berapa sekarang?"


" Hampir pukul satu malam." jawab Satria.


" Mampus deh! Aku lupa mengabari kedua orangtuaku. Ibu pasti akan memarahiku. Lalu kenapa kamu bisa membawaku kemari?" tanya Rara terbangun dan duduk di kasur Satria.


" Sebentar lagi hujan turun. Rumah kamu terlalu jauh, makanya aku gak mungkin mengantarmu. Kamu mau kita berdua basah kuyup. Aku udah susah payah membawamu kemari. Aku sudah menjaga dan menyelimutimu. Bukankah setidaknya kamu ucapkan terima kasih kepadaku?" Kata Satria.


Rara merasa saat Satria mengatakan hal itu, namun ego Rara tinggi tidak mungkin baginya mengucapkan kata terima kasih kepada Satria. Rara mengumpat pada Satria dan segera bangun dari kasur. Rara segera mengambil tasnya dan hendak pergi. Namun ditahan oleh Satria.


" Ra, Apakah kamu begitu merasa takut saat bersama denganku?" tanya Satria yang merasa Rara terlihat takut padanya.


Rara terdiam, dia merasa bersalah kepada Satria.

__ADS_1


" Aku pusing. Aku harus pulang." ujar Rara.


" Kamu sedang gak melarikan diri dari kenyataan, kan?" Tanya Satria.


Rara terdiam sejenak lalu menjawab, " Gak!"


Rara lalu segera pergi dari situ. sedangkan Satria hanya menatap kepergian Rara.


Rara sudah sampai di rumah, terlihat rumah sudah sepi. Rara berfikir jika Ayah dan ibunya sudah tertidur. Dengan melangkah pelan Rara menaiki tangga menuju kamarnya. Rara merasa kesal dengan Satria, karena sikap Satria yang seolah-olah tahu segalanya tentangnya. Rara membuka pintu kamarnya pelan, dan tak disangka ibu Rara sudah ada di kamar. Rara begitu kaget melihat ibunya, bahkan ibunya duduk sambil memegang sebuah buku yang di dalamnya terdapat foto Bima.


"Apa ibu membaca ibu itu?" tanya Rara memastikan.


"Ya, ibu melihat buku ini diatas kasur ini makanya ibu mengambilnya." jawab ibu Rara.


" Ibu seharusnya gak lancang menyentuh barang-barang ku." ujar Rara dengan kesal.


Ibu Rara terdiam, berusaha menenangkan dirinya untuk menghadapi Rara.


" Darimana saja kamu? kenapa jam segini baru pulang?" tanya ibu Rara.


"Aku sedang belajar." jawab Rara berbohong.


" Ibu bisa mencium bau alkohol. Ap kamu mabuk?" tanya ibu Rara khawatir.


" Gak Bu, aku hanya mengobrol dengan temanku." jawab Rara.


"Lalu kenapa kamu harus mabuk?" tanya Ibu Rara.


" Tetapi ibu sebenarnya gak selancangnya menyentuh barang-barang ku." kata Rara.


Selama ini, ibu Rara membuat aturan untuk anak gadisnya itu. Ibu Rara sangat tidak mengizinkan Rara untuk berpacaran. Karena ibunya takut kejadian yang dulu pernah ibunya alami. Ibu Rara pernah mengalami kehilangan keperawanan diusia muda. Jadi sebab itulah dia tidak mau anaknya itu mengalami hal yang sama. Karena aturan itulah terkadang hubungan kedua anak itu tidak begitu dekat. Alasan Rara tidak begitu menyukai aturan tersebut, dia merasa sudah dewasa dan berhak melakukan apapun yang dia mau.


" Kenapa kamu gak jujur padamu, Ra? Apa kamu gak sadar? selama ini kamu begitu menjauh dari ibu. Kamu bahkan gak mengobrol dengan ibu." ujar ibu Rara.

__ADS_1


Rara hanya terdiam, dia merasa kesal. Ibunya tidak merasa bersalah padahal ibunya sendiri yang membuat aturan itu. Rara mengambil buku ditangan ibunya. Ibu Rara berdiri, menatap sendu anaknya.


"Ibu aku pamit belajar." ucap Rara lalu pergi meninggalkan ibunya.


__ADS_2