Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Kesal


__ADS_3

Setelah menerima klip ikan dari Bima. Saat di rumah, Satria terus memperhatikan klip ikan itu. Tiba-tiba ponsel berbunyi, Satria meletakkan klip ikan itu diatas meja dapur. Setelah Satria kembali ternyata klip ikan itu sudah tidak ada di meja. Satria mencoba mencari di sekitaran meja dapur, namun tidak kunjung ditemukan. Dia mencoba pergi ke kamar, siapa tahu klip ikan itu dia letakkan di kamar. Setelah mencari dan menggeledah isi lemari, Satria belum juga menemukan klip ikan itu.Satria mendengar bunyi motor, dia keluar dari kamar dan menghampiri adiknya.


" Siapa yang mengantarmu pulang?" tanya Satria kepada adiknya itu.


" Teman kampus, kak. Ada apa?"


" Apa kamu melihat sebuah benda di atas meja?"


" Benda? apa?"


Satria melihat adiknya meminum air di botol minuman yang dibawanya. Di tali gantungan minuman itu dia melihat klip ikan yang diberikan Bima.


" Nah itu dia." Satria menunjukan klip ikan ditali botol air minum adiknya.


" Ini botol air minum ku." sang adik tidak mengerti apa yang dimaksud oleh kakaknya.


" Bukan, yang ini." Satria menunjukan klip ikan itu kepada adiknya.


" Oh, maksudmu ini. Jadi ini punya kakak?"


" Jadi kamu yang mengambilnya."


" Iya kak. klip ini sangat lucu. jadi, aku memasangkannya di tali gantungan botol air minum ku. Tapi maafkan aku kak, aku gak sengaja menjatuhkannya tadi. Jadi dipinggir klip ini agak sedikit jelek."


Sang adik mencopot klip itu dan memberikannya kepada Satria. Satria melihat klip itu sambil berkata dalam hati, " Klip ini jadi kelihatan gak bagus, seperti hubunganku dengan Rara."


Sang adik yang melihat kakaknya yang terus memperhatikan klip itu merasa khawatir, " Kakak baik-baik saja? Apa klip itu mahal? Aku bisa membelikan yang baru untuk kakak."


Flashback end.

__ADS_1


Rara sudah tidak tahan dengan kelakuan dara yang terus mengganggunya. Dia ingin segera pergi dari perpustakaan, saat hendak berjalan keluar. Petugas perpustakaan mencegah Rara, dia meminta Rara untuk kembalikan buku yang dia letakkan di meja begitu saja. Rara dengan kesal kembali ke mejanya, melewati Satria yang berdiri menatap klip ditangannya. Rara mengambil dan mengembalikan ke tempat semula. Namun, tidak disangka tempat itu begitu tinggi. Rara mencoba melompat meletakkan buku itu, namun tidak disangka dia tidak seimbang membuat dia terjatuh. Beruntungnya ada Satria dibelakangnya, sehingga Satria menahan tubuh Rara agar tidak terjatuh kelantai. Rara menengok ke belakang, menatap wajah Satria begitu pula dengan Satria, tatapan mata mereka bertemu. Namun, adegan itu harus dihentikan dikarenakan kedatangan Dara yang menarik tangan Rara untuk segera menjauh dari tubuh Satria.


" Kamu hanya boleh menyentuhku saja." ujar Dara pada Satria lalu menyenderkan badannya kepada Satria. Melihat itu, Rara begitu kesal dan pergi dari perpustakaan.


Malam hari, orang di rumah sudah pada terlelap. Tetapi tidak bagi Rara, dia sudah mencoba memejamkan matanya. Namun, tetap saja dia tidak bisa tertidur. Rara merasa kesal, " kurang ajar kamu Satria! Gara-gara kamu aku sampai gak bisa tidur."


Kejadian tadi di perpustakaan, terus terngiang dipikirannya. Dia mengingat bagaiman dara menarik tangannya untuk tidak menyentuh Satria. Rara begitu kesal kepada Dara. Dia menendang tembok kamarnya. Kebetulan kamar Raden bersebelahan dengan kamar Rara. Raden yang sudah tertidur, kaget mendengar suara berisik di kamar adiknya itu.


" Tenangkan dirimu." teriak Raden meski Rara tidak mendengar teriakannya Raden. Rara terus menendang tembok kamarnya, dia sangat kesal malam itu. Karena merasa kesal dengan perlakuan adiknya Rara, Raden keluar dari kamarnya dan membuka pintu kamar adiknya.


" Kalau kamu masih menendang, akan ku hajar kamu!" teriak Raden.


" Menghajar wajahnya Satria, kan?"


" Menghajar wajahmu!"


Namun, Rara terus menendang tembok kamarnya. Ingin rasanya dia menendang wajah Satria sekarang juga.


" Sudah peringatkan kamu untuk berhenti."


Hari ini di kampus sedang melaksanakan acara festival, acara itu dilaksanakan sekali dalam setahun. Semua jurusan, sudah mendirikan gerai masing-masing untuk menjual berbagai macam makanan bahkan ada pula yang mengadakan kuis untuk mempromosikan fakulitas mereka masing-masing. Sedangkan khusus fakulitas kedokteran baik kedokteran gigi sekalipun uang dari hasil jualan mereka akan disumbangkan kepada pihak rumah sakit untuk membiayai pasien yang tidak kekurangan biaya.


Rara menghampiri kedai yang menjual bakso bakar. Belum juga memesan, tiba-tiba datanglah Dara dan Satria yang juga ingin membeli bakso bakar. Rara yang melihat mereka berdua merasa kesal.


" Sayangku, aku ingin makan bakso bakar." ujar Dara manja kepada Satria.


Mata Satria tidak lepas padangan dari Rara.


" Eh! Rara, kamu juga disini. Sesuatu yang kebetulan ya." ujar Dara kaget melihat Rara berdiri disampingnya.

__ADS_1


"Oh iya, ini beneran cewek yang kamu bilang hanya teman itu?" tanya dara kepada Satria sambil matanya menatap Rara.


" Iya. Hey, lagi jalan-jalan?" tanya Satria kepada Rara.


Rara tersenyum, " gak, aku sedang lapar."


Rara mengambil sosis, kebetulan yang penjual bukan hanya menjual bakso bakar saja namun ada sosis, aneka macam tempura yang ditusuk seperti sate. Namun, Dara mengambil sosis yang sama dengan Rara. Hal itu membuat Rara kesal dan berkata, " Ada begitu banyak pilihan disini. Kenapa


kamu mengambil punyaku?"


" Aku gak mau yang lain. aku hanya ingin apa yang kamu inginkan." ujar Dara.


" Ya udah, ini ambil saja."


" Sayang, kamu tolong Carikan tempat duduk ya. Aku akan ke sana setelah makanan sudah siap, kamu tolong carikan juga tempat duduk untuk temanmu yang di sampingku ini, ya! Dia harus duduk didepan kita berdua, agar dia bisa menjadi saksi keromantisan kita berdua." pinta dara kepada Satria dengan manja.


" Tentu saja, sayangku." jawab Satria lalu pergi.


Rara yang mendengar obrolan itu, memutar bola matanya, "Lebay!" Rara memilih kembali beberapa makanan, Dara mengikuti apa yang Rara pilih.


" Ini mau di kasih sambel level berapa?" tanya sang penjual.


" Sedang aja kak." jawab Rara.


" Kalau aku, yang Super pedas! Karena aku begitu menyukai hal-hal yang pedas!" ujar Dara memberikan penekanan pada kata pedas sambil menatap Rara. Sedangkan Rara tersenyum.


Makanan sudah jadi, Rara mengambil dan tak lupa dia membayar, Begitu pula dengan Dara.


" Kamu boleh duduk bersama kami. Namun, jika gak ingin melihat adegan yang membuat kamu merasa sakit hati. Lebih baik kamu duduk saja di tempat lain."

__ADS_1


Rara tersenyum, dia tetap mengikuti dara dengan membuktikan jika ucapan Dara tidak benar. Dia tidak akan merasa sakit hati jika harus melihat Satria bersama dara.


" Aku sudah memesan tempat duduk untuk kita. Kemari dan duduklah disini." teriak Satria memanggil Dara dan Rara.


__ADS_2