
Setelah kelas selesai Rara segera pergi menuju fakulitas kedokteran. Dia ingin segera bertemu dengan Satria dan memukul anak itu habis-habisan karena sudah menipunya tadi pagi. Rara melihat sekitar sambil bergumam " dimana si bangsat itu!"
Tidak disangka kalimat yang dilontarkan itu terdengar oleh salah satu mahasiswa. Mahasiswa itu merasa tersinggung akan kalimat yang Rara ucapkan seolah jika kata kasar itu ditujukan untuknya. Mahasiswa itu menanyakan kepada Rara apa maksudnya dengan marah. Seketika Rara menyadari kalau baru saja dia menggunakan kata kasar padahal itu bukan kepada mahasiswa itu melainkan yang dimaksudnya adalah Satria. Rara segera meminta maaf dan mengatakan jika dia mencari temannya bernama Satria.
Mahasiswa itu lalu tersenyum dan berkata jika Satria berada di tempat pemberian vaksin secara gratis di aula fakulitas kedokteran. Rara berterima kasih dan segera menuju aula fakulitas kedokteran. Dan benar saja Satria tengah duduk menunggu mahasiswa untuk melakukan vaksin kepadanya. Rara menuju ke arah Satria dengan marah.
"Heh! Satria! Kita harus bicara." ucap Rara berjalan menghampiri Satria.
Saat Rara mendekat, respon Satria padanya malah berbeda. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka berdua.
" Silakan duduk. Kamu terlihat kepanasan, apa kamu ingin minuman dingin untuk menyegarkan dirimu?" ujar Satria.
Rara lalu duduk, sedangkan Satria mulai membuka air mineral dan memasukannya kedalam botol air minum yang sudah ada es batunya. Rara tersadar akan tujuannya bertemu dengan Satria.
" Hentikan dulu semua itu dan berbicara padaku terlebih dahulu." pinta Rara.
" Minumlah ini dan tenangkan dirimu." ucap Satria.
Rara merasa kesal pada Satria. seolah dia tidak perduli dengan semua kejadian baru saja terjadi pada mereka berdua. Satria memberikan minuman itu pada Rara, namun Rara menolak.
" Baiklah. sekarang gulingkan lengan bajumu. Aku harus memeriksa tekanan darahmu." ujar Satria.
Rara menarik nafasnya pelan, mencoba tenang menghadapi cowok dihadapannya. Daripada menunggu waktu untuk berbicara berdua, sedangkan cowok ini tidak merespon sama sekali. Lebih baik Rara terus terang saja.
" Aku mohon padamu. Tolong hapus balasan komentar yang berisi tentangku. Itu membuat orang-orang bisa salah paham." ujar Rara.
"Jika kamu gak membiarkan aku memeriksa tekanan darah mu sekarang juga, silakan mengantri di belakang." ujar Satria.
__ADS_1
Rara melihat kebelakang, tidak mungkin dia mengantri dengan orang-orang sebanyak itu. Rara merasa kesal dengan Satria. Rara menatap tajam wajah Satria sambil mengulurkan lengan bajunya.
"Setelah ini kita harus!" ucap Rara penuh penekanan.
Satria memasang tensimeter ke lengan Rara sambil berkata, " Tenanglah, kita harus melakukan hal ini terlebih dahulu."
"Katakan saja, apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Rara kesal.
"Tekanan darahmu tinggi." ucap Satria.
Rara merasa kesal dengan melepaskan tensimeter yang dipasang di lengannya dengan kasar sambil berkata, " Tentu saja, karena sekarang aku lagi kesal padamu."
"Tanganmu." ucap Satria meminta Rara mengulurkan tangannya.
"Untuk apa?" tanya Rara kesal.
" Lalu, jantungmu berdetak sangat kencang." ujar Satria.
Rara terdiam dan segera menarik tangannya, lalu berkata, " Itu karena aku gak suka berada disini!"
" Terlepas dari resiko hipertensi, kamu mempunyai satu resiko lagi." ujar Satria.
"Apa?" tanya Rara.
"Penyakit jantung. Ini bukan penyakit jantung pada umumnya. Hal ini hanya terjadi disaat kamu berada di dekat orang kamu cintai." ujar Satria.
Rara terdiam, dia merasa salah tingkah saat Satria mengatakan hal itu.
__ADS_1
" Ra, jantungmu berdetak cepat saat kamu berada di dekatku. Apa kamu yakin gak mencintaiku?" tanya Satria.
Rara kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan Satria.
"Akui saja. Penyakit yang kau derita saat ini disebut penyakit menyangkal. Apa kamu ingin aku obati? Aku bisa menjadi vaksin untukmu." Ujar Satria lagi.
Rara salah tingkah, dia merasa kesal. Tidak disangka pertemuan dia dan Satria bukannya menyelesaikan masalah malah membuat Rara semakin kesal padanya. Rara mengumpat, lalu pergi dari hadapan Satria. Satria yang melihat kepergian Rara, hanya bisa tersenyum.
Di tempat lain, Mira memberikan materi pada masyarakat desa tentang penyakit demam berdarah. Mira menjelaskan tipe nyamuk yang berbahaya dan jika terkena gigitannya bisa memicu penyakit DBD. Sambil Mira menjelaskan, salah satu geng Anjay yaitu Jay berperan sebagai nyamuk dengan pakaian layaknya seekor nyamuk. Hal itu membuat gelak tawa masyarakat serta anak-anak yang mengikuti kegiatan itu. Bahkan ibu Nadia juga ikut tertawa. Ditengah-tengah Mira menjelaskan pentingnya menjaga kesehatan,dia melihat Raden dengan kamera sibuk memotret ibu Nadia yang tengah duduk diantara para ibu-ibu. Hal itu membuat Mira berhenti sejenak saat menjelaskan dan menghampiri Raden. Mira memberi kode untuk memotret dirinya yang sedang memberikan materi. Raden segera pindah dan mulai memotret Mira.
Saat Raden tengah fokuskan lensa ke arah Mira. Dari belakang Ken dan Yogi malah menggodanya.
"Ciee. kamu memotretnya. Apa kamu diam-diam menyukainya? Apa kamu mencintainya? Benar,kan?" ucap Ken sambil berbisik ditelinga Raden.
" Menyukainya? gak mungkin. aku memotretnya karena dia terlihat imut." ujar Raden kesal.
Tiba-tiba ibu Nadia menghampiri mereka dengan membawa seorang anak cowok. Ibu Nadia mengatakan jika anak itu merasa sakit akibat gigi berlubang. Dia meminta Raden menanganinya. Raden hanya tersenyum.
Di kampus Rara tengah mencuci tangannya di toilet. Rara bergumam sendirian, dia bingung siapa yang sebenarnya disukai Satria. Memang tidak ada tanda-tanda jika Satria memiliki hubungan dengan seorang cewek. Karena Satria terlihat sering menempel pada Bima. Tetapi kenapa Satria selalu saja merayu Rara. Namun, Rara merasa tidak yakin jika Satria menyukainya. Jika benar kenapa selalu menganggu hidupnya. Rara menatap dirinya sendiri di cermin, kalimat yang dilontarkan Satria barusan kembali terngiang. Rara merasa kesal dan mengumpat Satria. Rara segera mencuci wajahnya agar tidak teringat lagi akan ucapan Satria.
Rara mengambil masker yang di masukan ke saku bajunya. Setelah dirasakan ternyata tidak ada. Rara ingat jika tadi dia melepaskan saat bertemu dengan Satria. Rara lalu kembali ketempat vaksin barusan. Di sana sudah tidak ada orang lagi, Rara mencari maskernya bahkan sampai ke kolom meja yang tadi diduduki olehnya dan Satria. Namun, hasilnya nihil.
"Disini," ucap seseorang yang tak lain adalah Satria. Satria mengulurkan tangannya yang memegangi masker. Rara mendongak, dan berdiri mengambil masker itu.
" Masker ini punyaku." ujar Rara.
" Iya, masker itu memang punyamu. Namun, gak lama lagi, kamulah yang akan menjadi punyaku." ujar Satria.
__ADS_1
Kalimat itu membuat jantung Rara berdetak dengan kencang. Rara tidak berkata-kata, dia hanya terdiam menatap Satria yang juga menatap Rara. Jantung Rara terus berdetak, apa maksud dari kalimat Satria itu.