
Siska beralih menatap laki-laki muda yang juga saat ini tengah duduk bersama keluarganya, Siska yakin kalau itu adalah putra dari rekan bisnis papanya.
"Ohhh jadi ini laki-laki yang bakalan dijodohkan dengan aku, oke juga tampangnya, dia juga terlihat berkharisma." Siska menilai dan memuji dalam hati.
Adam menoleh ke arah Siska, netra mereka bertemu, Adam tersenyum tipis sebagai sebuah kesopanan, Siska juga balas tersenyum.
"Kok hati aku jadi bergetar ya melihat senyumnya."
"Sayang, ayok duduk disini." Tania memanggil putrinya dan menepuk ruang kosong yang ada disampingnya.
Siska mendekat tanpa meningalkan senyum diwajah cantiknya.
"Kenalin sayang, ini om Atta Wijaya, rekan bisnis papamu dan sekaligus juga sahabat papa kamu." Tania memperkenalkan.
Tania tersenyum kepada papa Atta, "Halo om." sapa Siska.
Papa Atta mengangguk, "Kamu sudah besar sekarang Tania, dulu kamu kecil dan imut, sekarang kamu sudah tumbuh menjadi wanita cantik dan anggun." papa Atta melontarkan pujiannya pada putri sahabatnya itu.
Siska tersipu malu mendapat pujian dari papa Atta, "Terimakasih om."
"Nahh, dan ini tante Cellin, istirnya om Atta Wijaya." Tania beralih mengenalkan mama Cellin yang duduk didekatnya.
"Hai tante, salam kenal."
Mama Cellin tersenyum dan membalas, "Salam kenal juga sayang."
"Dan yang tampan itu adalah putra mereka, Adam Wijaya." yang terakhir Tania memperkenalkan Adam pada putrinya.
Karna dua keluarga itu memang berniat menjodohkan putra-putri mereka, jadi tentu saja mereka sangat berharap kalau ada benih-benih cinta yang tumbuh dipertemuan pertama ini diantara Adam dan Siska.
"Hai Adam, salam kenal, aku Siska Barata."
"Aku Adam." Adam memperkenalkan dirinya sekenanya.
"Senang bertemu denganmu Adam, semoga kita bisa berteman." ramah Siska.
Adam hanya mengangguk menanggapi ucapan Siska.
"Cowok dingin rupanya, kok aku tertantang ya untuk menaklukkannya."
"Bagaimana kalau ngobrol-ngobrolnya dilanjutkan sambil makan, kebetulan juga makan malamnya sudah siap." ujar Tania mengintrupsi obrolan suaminya dan Atta.
"Ahhh iya benar juga, ayok semuanya, obrolan ini sebaiknya kita lanjutkan dimeja makan saja biar enak." ajak Beny yang diangguki oleh papa Atta.
Mereka berjalan ke ruang makan.
Suasana makan malam itu berjalan dengan hangat, mereka ngobrol satu sama lain, kecuali Adam yang memang tidak terlalu banyak bicara karna fikirannya melayang pada sang kekasih yang jaraknya puluhan kilo darinya.
"Jadi gimana dengan rencana perjodohan putra-putri kita Atta." ujar Beny ditengah-tengah acara makan malam tersebut karna memang tujuan dari pertemuan antar dua keluarga besar tersebut adalah membicarakan tentang perjodohan anak-anak mereka.
Adam yang sejak tadi fokus dengan makanan dipiringnya seketika mendongak dan menoleh pada Beny, menatap Beny tidak percaya, dia berharap kalau kata-kata yang Beny ucapkan barusan hanyalah bercanda, namun kata-kata papanya memperjelas kalau apa yang dikatakan oleh Beny bukanlah hanya sekedar candaan belaka.
"Ya kami berharap perjodohan ini akan berlanjut sampai ke jenjang pernikahan Beny, karna kami sangat menginginkan putrimu sebagai bagian dari keluarga Wijaya, bukan begitu ma." papa Atta meminta pendapat istrinya.
"Iya jenk Tania, kami sangat berharap kalau hubungan kita bukan hanya sekedar hubungan persahabatan dan rekan bisnis saja, tapi alangkah lebih baik kalau hubungan kita berlanjut ke hubungan keluarga." harap mama Cellin.
"Kami juga berharapnya begitu jenk."
Disaat para orang tua sibuk membahas tentang perjodohan, Adam hanya menatap kedua orang tuanya secara bergantian, dia tidak percaya kalau orang tuanya merencanakan perjodohan ini padahal mereka tahu kalau dirinya mencintai Tari dan akan menikahinya, tapi saat ini, dia tentunya tidak bisa melayangkan protesnya didepan keluarga Barata, dia hanya menyimpan kekesalannya dalam hati.
Berbeda dengan Adam yang tidak menyetujui tentang rencana perjodohan ini, Siska sieh nerima-nerima saja meskipun dia baru pertama kalinya bertemu dengan Adam, meskipun baru pertamakali bertemu, tapi dihati Siska sudah ada getaran-getaran rasa suka gitu.
"Bagaimana menurut kamu sayang." Tania meminta pendapat putrinya tentang perjodohan yang telah direncanakan oleh kedua keluarga besar itu.
Dengan malu-malu Siska menjawab, "Mmmm, kalau aku sieh terserah mama dan papa saja, Siska sieh nurut saja, Siska yakin, apa yang mama dan papa lakukan, itu demi kebaikan Siska."
Papa Atta dan pak Beny terkekeh mendengar jawaban Siska.
"Inilah putri kebanggaanku, dia selalu menyerahkan semuanya kepada kami."
"Syukurlah." mama Cellin tentunya senang mendengar jawaban Siska.
Semua yang ada diruangan itu terlihat senang tanpa mengetahui perasaan Adam yang bergemuruh didalam sana, Adam mengepalkan tangannya, dia marah, marah karna kedua orang tuanya tanpa persetujuannya menjodohkannya dengan anak rekan bisnisnya, sedangkan mereka tahu kalau Adam hanya ingin menikahi Tari kekasih yang sangat dia cintai.
Acara makan malam itu berjalan dengan menyenangkan, tapi tidak bagi Adam, dia sudah tidak tahan berada diantara orang-orang yang dengan seenaknya merencanakan masa depannya tanpa memikirkan perasaanya, oleh karna itu dia berniat pergi dari rumah keluarga Barata lebih cepat.
"Om, tante." meskipun dirinya kesal, tapi Adam masih bisa bersikap sopan, "Karna acara makan malamnya sudah berakhir, saya pamit duluan ya, saya baru ingat kalau ternyata ada hal penting yang harus saya selesaikan." bohongnya.
"Lho, kok kamu buru-buru Adam, tinggal saja dulu kita minum teh, kita ngobrol-ngobrol gitu." Beny berusaha menahan Adam.
Papa Atta menatap putranya tajam, "Apa-apaan anak itu, pertemuan belum selesai sudah main pergi saja." desisnya dalam hati.
"Tidak bisa om, soalnya ini penting banget, maaf ya om, ngobrolnya sama papa dan mama saja." Adam kukuh sama pendiriannya.
Siska terlihat kecewa begitu mengetahui kalau Adam pamit pulang terlebih dahulu, padahalkan dia ingin ngobrol berdua gitu dengan Adam setelah makan malam untuk lebih mendekatkan diri.
"Adam, apa-apaan kamu main pulang begitu saja." papa Atta berusaha menahan kepergian putranya.
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa pak Atta, biarkan Adam pergi untuk menyelsaikan urusannya, lagipula kita bisa melakukan pertemuan lagi nantinyakan." ujar bijak Tania.
"Terimakasih tante, saya permisi dulu kalau begitu." pamitnya dan langsung pergi.
"Maafkan kelakuan Adam ya jenk." mama Cellin merasa tidak enak.
"Gak apa-apa jenk, lagian Adamkan pergi karna ada hal penting yang harus dia selesaikan." maklum Tania.
"Siska, maafkan putra tante ya sayang."
"Iya tante gak apa-apa." jawabnya, "Lagiankan nanti kita bisa bertemu lagi."
"Iya kamu benar sayang, kamu bisa main-main ke rumah kami." mama Cellin mengusulkan.
"Iya tante, kapan-kapan aku pasti akan mampir."
***
"Lho tuan muda, sudah selesai acara makan malamnya, apa kita akan pulang, tuan dan nyonya mana." pak Norman yang merupakan sopir keluarga Wijaya menanyakan rentetan pertanyaan sembari menoleh kebelakang bahu Adam untuk mencari keberadan tuan dan nyonya majikannya.
"Tidak pak Norman, acara belum berakhir, papa dan mama masih didalam."
"Terus tuan sendiri, kok sudah keluar."
"Saya harus pergi duluan karna ada hal yang harus saya selesaikan."
"Ohh, saya antar tuan." Norman menawarkan.
"Tidak perlu pak Norman, saya sudah memesan taksi online."
"Ohhh baiklah kalau begitu tuan muda."
"Baiklah pak Norman, kalau begitu saya duluan."
"Baik tuan, hati-hati."
Rumah keluarga Barata besar dan memiliki pekarangan yang luas sehingga Adam harus berjalan kaki untuk mencapai gerbang dan keluar dari area rumah tersebut.
Adam menunggu hampir 10 menit sebelum taksi yang dia pesan tiba, Adam masuk dan memberitahu sik sopir tujuannya.
Ternyata tujuan Adam adalah rumah Tari, sepanjang acara makan malam itu, Adam terus memikirkan kekasihnya itu, dan kini Adam sudah berdiri didepan rumah sederhana yang merupakan kediaman Tari dan ayahnya.
Adam mengirim pesan pada sang kekasih.
Adam : Sayang, aku diluar.
****
Saat tengah fokus membaca, dia mendangar suara notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya, Tari yakin kalau pesan itu merupakan pesan dari sang kekasih, siapa lagi yang akan mengechatnya dijam segitu kalau bukan Adam, maka dengan semangat Tari meraih ponselnya.
"Sepertinya urusan mas Adam sudah kelar."
Adam : Sayang, aku ada diluar.
Bunyi pesan itu sukses membuat Tari kaget, "Hah, mas Adam ada diluar." Tari menyingkap selimut yang menutup pinggangnya, dia kemudian berlari keluar untuk memastikan apakah benar kekasihnya itu diluar atau tidak.
Tari menyibak gorden dan melihat Adam berdiri diluar.
"Mas Adam, astaga, kenapa datang selarut ini sieh, kenapa dia tidak istirahat saja."
Tari membuka pintu dan menghampiri Adam.
"Mas Adam, kenapa mas Adam datang malam mal....."
Tari belum menyelsaikan kalimatnya karna Adam langsung memeluknya, hatinya yang gundah rasanya begitu tenang sekarang saat memeluk sang kekasih tercinta.
"Mas Adam, apa yang kamu lakukan." panik Tari berusaha melepaskan diri karna takut kalau tiba-tiba ada tetangga yang lewat dan memergoki mereka, bisa-bisa mereka dianggap melakukan perbuatan yang tidak-tidak lagi, dan itu bisa berpotensi menjadi bahan gosip selama satu satu bulan.
"Sebentar saja Tar, biarkanlah tetap seperti ini."
Saat Adam bilang begitu, Tari tahu kalau kekasihnya itu tengah ada masalah, oleh karna itu, untuk beberapa saat Tari membiarkan posisi mereka tetap seperti itu, dia bahkan membalas pelukan Adam.
"Aku mencintaimu Tari, aku akan menikahimu." dia membisikkan kata-kata itu ditelinga Tari.
Tari mengangguk dalam pelukan Adam.
"Mas Adam, kalau kita terus seperti ini, nanti dipergoki tetangga gimana." akhirnya Tari menyuarakan kekhawatirannya setelah hampir 6 menit berpelukan.
"Biarin saja, biar kita langsung dinikahkan." jawabnya santai.
Kata-katanya itu berhasil membuat Adam mendapat cubitan dipinggangnya.
"Awwa, sakit sayang, kok aku dicubit sieh."
"Habisnya mas ngaco."
"Memangnya kamu tidak ingin menikah denganku."
__ADS_1
"Ya ingin, tapi masak menikahnya karna kepergok sih, malu-maluin saja."
"Ayok mas lepasin."
"Tapi aku kangen, ingin meluk kamu terus sampai pagi."
"Ya Tuhan mas Adam, kok jadi kayak anak kecil begini seih."
"Biarin saja, itu karna aku mencintaimu."
Tari masih tetap berusaha melepaskan pelukan Adam, "Mas lepasin ihhh."
"Gak mau."
"Aduh mas Adam ini kenapa sieh, jangan kayak gini donk."
"Lepasin mas, nanti kalau ayah tiba-tiba keluar gimana, bisa tidak direstui hubungan kita karna mengangap mas laki-laki brengsek."
Mendengar kata-kata Tari tersebut, barulah Adam mengurai pelukannya.
Karna posisi mereka yang berhadapan dengan posisi yang begitu dekat membuat Tari bisa melihat wajah sendu kekasihnya, tambah yakinlah Tari kalau memang Adam tengah ada masalah.
Tari menyentuh wajah kekasihnya, tangan hangat Tari membuat Adam memejamkan mata meresapi ketenangan yang disalurkan oleh tangan mungil Tari.
"Mas Adam, apa yang terjadi."
Adam membuka matanya, menatap mata sang kekasih dan menjawab, "Tidak ada apa-apa."
"Cerita sama aku." desak Tari tanpa mengindahkan kalimat tidak apa-apa yang keluar dari bibir Adam.
"Mau jalan-jalan sebentar menikmati indahnya malam."
Tari tahu ini sudah malam, dan tidak seharusnya dia keluar selarut ini, tapi saat ini Tari yakin Adam tengah membutuhkannya sehingga dia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Adam.
Adam tersenyum dan menyodorkan telapak tangannya untuk digenggam oleh Tari, Tari meletakkan tangannya diatas tangan Adam yang langsung ditangkup oleh Adam, tangan Adam yang besar memberi kehangatan untuk Tari, Tari merasa aman saat tangannya digenggam oleh Adam.
Dan dengan bergandengan tangan, mereka berjalan dibawah naungan langit malam yang bertabur bintang, mereka terus berjalan sampai pada akhirnya mereka tiba disebuah taman bermain.
Mereka duduk dikursi semen yang ada ditaman bermain tersebut, karna Tari mengenakan pakain yang tipis sehingga angin malam yang berhembus membuatnya kedinginan, Tari mengelus lengannya, melihat sang kekasih yang terlihat kedinginan, Adam melepaskan jas yang sejak tadi dia kenakan dan menyampirkannya mengeliling bahu Tari.
Tari menolak, "Jangan mas, mas nanti kedinginan."
"Jangan khawatirin aku."
"Tapi...."
"Sssttt....." meletakkan jari telunjuknya dibibir Tari yang membuat Tari menelan kembali kata-katanya.
"Jangan membantah, jadilah gadis penurut."
Tari hanya mengangguk pasrah.
"Malam yang indah ya, bertambah indah saat kita mengahabiskannya saat bersama dengan kekasih." seru Adam sambil menatap langit.
"Hmm." hanya itu respon Tari.
Suasana menjadi hening untuk beberapa menit, sampai suasana hening itu dipecahkan oleh suara Adam yang memberitahu jawaban atas pertanyaan Tari yang dia tanyakan tadi.
"Aku dijodohkan."
Tari langsung menoleh dengan cepat ke samping dimana Adam duduk, Adam juga menoleh dan menemukan sang kekasih menatapnya memintanya untuk menjelaskan maksudnya.
Adam mendesah berat, "Aku dijodohkan Tari, aku dijodohkan dengan putri dari rekan bisnis keluargaku." Adam menghentikan kata-katanya.
Tari menunggu Adam menyelsaikan ucapannya.
"Tapi aku tidak mau, karna aku hanya mencintaimu dan hanya ingin menikahimu."
Tari tetap diam dan tidak menanggapi.
"Tari, ayok kita menikah." ajak Adam.
"Tapi bagaimana dengan keluargamu mas."
"Aku tidak peduli dengan mereka Tari, mereka egois dan tidak mempedulikan perasaanku, mereka seenaknya merencanakan perjodohan ini padahal mereka tahu aku mencintaimu dan ingin menikahimu."
"Mas serius ingin menikah denganku."
"Memang menurutmu apa yang aku lakukan selama ini tidak serius."
"Tapi bagaimana kalau keluarga mas membenci mas Adam, aku tidak ingin hubungan mas Adam dan keluarga mas Adam menjadi rusak gara-gara aku." Tari mengungkapkan kekhawatirannya.
"Sudah aku bilang, aku tidak peduli Tari." tandas Adam, "Tari menikahlah denganku, aku berjanji akan membuatmu bahagia." Adam menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Tari.
Setelah beberapa saat terdiam, Tari kemudian mengangguk, "Iya mas, aku mau, ayok kita menikah."
Jawaban Tari itu sontak membuat Adam tersenyum lebar, dia meraih tubuh Tari dalam dekapannya.
__ADS_1
"Iya sayang, kita akan segera menikah." janji Adam yang disaksikan oleh gelapnya malam, bintang-bintang dan rembulan yang bertengger dilangit.
****