CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
KECELAKAAN MAUT


__ADS_3

"Tapi sayang, tutup matamu dulu." pinta Adam.


"Tutup mata, kenapa harus tutup mata segala mas." bingung Tari dengan permintaan suaminya itu.


"Karna aku akan memberikanmu kejutan."


"Mmmm, kejutan ya, baiklah kalau begitu." Tari kemudian memejamkan matanya.


"Ayok sayang." Adam meraih tangan istrinya dan menuntunnya keluar.


Setelah berjalan 3 menitan, Adam meminta Tari membuka matanya, "Sekarang buka matamu sayang."


Saat Tari membuka matanya, indra penglihatannya itu disambut oleh sebuah mobil berwarna putih terparkir tepat berada didepannya.


Tari menoleh ke arah Adam untuk meminta penjelasan, "Mas ini...."


"Ini mobil baru kita sayang."


"Mobil kita, ini mas yang...."


"Pak Sutomo sangat puas dengan hasil kerjaku selama beberapa bulan bekerja dengannya, sehingga beliau menaikkan jabatanku, dan sebagai bonusnya, dia memberikan mobil ini, katanya supaya mempermudah karyawan terbaiknya untuk pergi kantor."


"Astaga." Tari terlihat bahagia, sejak kehamilannya, rasanya tidak ada putus-putusnya hal baik menghampiri kehidupan rumah tangga mereka.


Tari memeluk suaminya, "Selamat ya mas."


"Terimakasih sayang, ini semua berkat doa kamu dan juga tentunya sik kecil." Adam mengelus perut Tari, "Bayi kita benar-benar membawa berkah untuk kehidupan kita sayang."


Tari mengangguk membenarkan kata-kata suaminya.


"Ayok sayang, kamu harus coba menaiki mobil baru kita." Adam menuntun Tari dan membukakan pintu untuk sang ratu yang selalu bercokol dihatinya, "Silahkan tuan putri."


Tari jadi bersemu, "Terimakasih mas."


Setelah Tari masuk dan menutup pintu, Adam berputar, dia masuk dan duduk di kursi penumpang.


"Mobilnya sangat bagus mas." puji Tari mengedarkan pandangannya mengamati mobil barunya.


"Iya sayang, mulai sekarang, kamu tidak perlu naik angkot lagi kalau mau pergi kemana-mana, aku akan menjadi sopir pribadi kamu 24 jam."


"Iya mas Adam, terimakasih."


"Kita berangkat sekarang."


Tari mengangguk.


****


Bagi Lukas, tidak ada malam tanpa bersenang-senang, laki-laki itu benar-benar menikmati hidup dengan caranya sendiri, menyambangi club tiap malam, membuat dirinya mabuk dan menari dengan dentuman musik club yang bertalu-talu menghiasi seantero ruangan.


"Sayang." seorang gadis cantik berpakaian minim duduk menempel dan melingkarkan tangannya memeluk Adam, dia adalah Natasha, gadis yang baru satu hari ini dipacari oleh Adam.


"Kamu malam ini nginep di apartmen aku ya, aku ingin menghabiskan malam yang indah ini bersama." bujuk gadis itu manja.


"Tentu saja sayang." jawab Adam dan meneguk minuman dalam gelas yang ada ditangannya.


Natasha tersenyum cerah mendengar janji dari sang kekasih.


Meskipun tahu kalau Lukas brengsek dan suka gonta-ganti pacar, para wanita seolah-olah tidak peduli akan hal itu, mereka dengan sangat suka rela menyerahkan diri mereka kepada Lukas, bagaimana tidak, dibalik keberengsekannya Lukas adalah tipe pria yang royal yang tidak segan-segan memberikan apapun kepada wanita yang dia pacari, jadi intinya, meskipun hanya dipacari hanya beberapa hari saja, wanita-wanita yang pernah dipacari oleh Lukas tidak rugi karna mereka dilimpahi oleh barang-barang mewah.


"Ayok sayang, sebaiknya kita pulang menghabiskan malam panjang kita di apartmenku" Natasaha mengedipkan matanya genit.


Lukas terkekeh dan merangkul pacar barunya keluar club dan menuju parkiran dimana mobilnya berada.


"Sayang, kamu mabuk, sebaiknya aku saja yang menyetir." saran Natasha, dia juga minum, tapi tidak terlalu banyak sehingga tidak sampai menyebabkannya mabuk, bisa dibilang kesadarannya masih penuh.


"No." tolak Lukas, "Mana mungkin aku membiarkan gadis secantik dirimu menjadi sopir untukku, biar aku saja yang jadi sopir pribadi untukmu sayang." Lukas mengelus pipi Natasha dengan mesra yang membuat Natasha tersipu, dia merasa tersanjung karna berfikir Lukas benar-benar mencintainya.


"Kamu duduk manis disampingku saja sayang, percayalah, aku masih sadar dan bisa membawamu ke apartmen." ucap Lukas meyakinkan.


"Baiklah, aku percaya padamu sayang."


Meskipun brengsek, tapi Lukas memiliki sikap yang manis pada setiap gadis yang pernah menjadi pacarnya meskipun pada akhirnya akan dicampakkan, selain kaya dan tampan, itulah mungkin yang membuat banyak wanita tergila-gila padanya. Salah satu sikap manis yang selalu dia tunjukkan selain selalu menggandeng tangan kekasihnya adalah, Lukas selalu membukakan pintu mobil untuk kekasihnya, seperti yang saat ini dia lakukan pada Natasha.


"Silahkan masuk cantik."


Sebelum masuk, Natasha mencium pipi Lukas, "Terimakasih cintaku, aku sangat mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu." balasnya, dan setelah itu dia memutari mobil, masuk dan duduk dikursi pengemudi.


Mobil yang dibawa Lukas berjalan membelah jalan raya digelapnya malam bersama dengan mobil lainnya, entah mungkin karna mabuk atau mungkin karna sudah menjadi kebiasaanya sehingga Lukas selalu menyalip mobil-mobil yang dia anggap menghalangi jalannya, apa yang dia lakukan sangatlah berbahaya, dan sekarang, Lukas malah melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, Lukas tidak peduli dengan resiko kecelakaan yang akan terjadi.


"Pelan-pelan sayang." Natasha memperingatkan, dia mulai agak khawatir.

__ADS_1


Bukannya mempedulikan peringatan Natasha, Lukas malah meraih tangan kekasihnya dan mengelusnya, dan pandangannya melekat pada Natasha bukannya pada jalanan, "Percayalah padaku sayang, aku akan membawa kamu pulang dengan utuh tanpa kurang satu apapun, mana mungkin aku membiarkan wanita yang jadi pusat duniaku kenapa-kenapa." janjinya dan mendekatkan tangan Natasha pada bibirnya.


Natasha adalah salah satu gadis bodoh yang terhipnotis oleh kata-kata manis yang diucapkan bibir Lukas, wajah Natasha bersemu dengan hati berbunga-bunga.


"Aku percaya padamu, selalu percaya." jawabnya sebelum pandangan Natasha kembali menghadap depan dengan mata membelalak, karna didepan ada mobil yang melaju ke arah mereka.


"Lukasss, awasss." teriaknya.


Karna tidak fokus akibat saling pandang-pandangan membuat Lukas salah jalur, Lukas berusaha untuk menghindari tabrakan, sayangnya hal itu tidak bisa dia hindari mengingat tingginya kecepatan mobil yang Lukad kendarai sehingga membuat tabrakan tidak bisa dihindari antara kedua mobil tersebut.


Kepala Lukas membentur stir dengan cukup keras yang mengakibatkan Adam merasakan pening yang teramat sangat dikepalanya, "Awhhhh." erangnya.


Sedangkan Natasha yang tidak mengenakan sabuk pengaman membuat tubuhnya terhempas dengan sangat keras kedepan, tubuhnya menabrak kaca depan yang pecah akibat tabrakan.


Sementara mobil yang ditabrak oleh Lukas berputar dijalan sebelum akhirnya terbalik karna menabrak dinding pembatas jalan, itu adalah mobil yang dikendarai oleh Adam dan juga Tari, tubuh Tari terpental beberapa meter diaspal dengan perut jatuh duluan.


Tari mengerang karna merasakan sakit yang teramat sangat pada bagian parutnya, darah merembas dari selangkangannya.


"Ma ma s A dam...." rintih Tari sebelum dia kehilangan kesadarannya.


Lukas memegang kepalanya yang terasa berdenyut hebat, dari kepalanya mengalir darah segar, untuk sesaat, Lukas tidak menyadari apa yang terjadi sampai dia menoleh kesamping dan menemukan setengah tubuh Natasha berada dikap mobil.


Menyadari apa yang telah dia lakukan, Lukas panik dan terlihat sangat ketakutan.


"Tidak tidak tidak, apa yang telah aku lakukan, ya Tuhan." mengabaikan rasa sakit dikepalanya, Lukas keluar menghampiri tubuh Natasha yang sudah bergelimangan darah.


"Nat, nat." Lukas mengguncang tubuh kekasihnya sayangnya tubuh itu tidak bergerak sama sekali.


"To lo ng."


Lukas mendengar suara rintihan yang membuatnya mengalihkan perhatiannya.


"Tidakkkk." Lukas berteriak frustasi melihat korban yang dia tabrak.


Dengan langkah cepat dia menghampiri laki-laki yang tidak lain adalah Adam, dengan sisa tenaga yang dia miliki, Lukas berusaha mengeluarkan tubuh Adam dari mobil yang kini posisinya terbalik.


"Tidak, apa yang telah aku lakukan." rintih Lukas.


"To long, istri ku..." disaat terakhirnya, Adam masih sempat mengingat Tari sebelum nafasnya berhenti.


"Tidak tidak, jangan mati, ku mohon." Lukas menguncang tubuh yang sudah tidak berdaya itu.


Lukas hanya bisa merintih menyesali perbuatannya yang telah menyebabkan dua orang kehilangan nyawa akibat ulahnya.


Lukas mengangkat tubuh Tari dan meletakkan kepalanya dipangkuannya, tatapannya beralih pada kedua kaki Tari yang dialiri oleh darah segar, tangan Lukas gemetaran, ketakutan yang teramat sangat menguasai dirinya saat ini, tidak pernah dia merasa sangat ketakutan seperti ini sepanjang hidupnya.


"Jangan ambil nyawa gadis ini dan juga bayinya Tuhan, ambil saja nyawaku sebagai gantinya." pintanya sungguh-sungguh ditengah keputusasaannya.


Lukas mengangkat tangannya, memandang tangannya yang penuh dengan darah sebelum kesadarannya hilang karna shock yang dia alami.


*****


Malam ini mama Lili tidak bisa tidur, perasaannya tidak enak, dia terus memikirkan putranya, dia telah berusaha untuk menghubungi Lukas beberapa kali hanya untuk memastikan apakah putranya itu baik-baik saja, sayangnya nomer Lukas sama sekali tidak aktif dan hal itu membuatnya bertambah khawatir.


"Paaa." mama Lili mengguncang bahu suaminya yang tertidur lelap, namun tidak ada respon dari suaminya.


Mama Lili semakin kuat mengguncang tubuh suaminya, "Papa, bangun pa, anak kita belum pulang."


"Ma, sebaiknya mama tidur, kenapa mama memikirkan anak badung itu, saat ini dia mungkin lagi bersenang-senang." respon papa Sebastian dengan mata terpejam.


"Tapi pa, mama khawatir, mama khawatir terjadi apa-apa sama Lukas, perasaan mama tidak enak, mama sudah beberapa kali menghubungi nomernya, tapi tidak aktif." beritahunya.


"Sudahlah ma, jangan khawatirkan anak itu, dia pasti baik-baik saja sekarang, sebaiknya mama tidur dan jangan ganggu papa lagi."


Mama Lili berharap apa yang dikatakan oleh suaminya benar kalau Lukas saat ini baik-baik saja, hanya saja perasaannya mengatakan sebaliknya, mama Lili berusaha untuk tidur dan memejamkan matanya, dia berusaha meyakinkan dirinya kalau anak semata wayangnya itu saat ini dalam keadaan baik-baik saja, tapi sekuat apapun dia berusaha, dia tetap tidak bisa menghempaskan perasaan tidak enak itu dari hatinya, alhasil, sampai beberapa jam kemuadian dia belum juga bisa memejamkan matanya, sedangkan suaminya sudah kembali terbang ke alam mimpi.


"Papa ini gimana sieh, anak belum pulang tapi dia bisa tidur dengan nyenyak." rutuknya kesal melihat suaminya yang tertidur nyenyak tanpa memikirkan putra mereka yang belum kembali.


Tadi mama Lili berulangkali menyambangi kamar putranya untuk melihat apakah Lukas sudah pulang atau belum, tapi hasilnya nihil, Lukas sama sekali tidak ada dikamarnya.


Tok


Tok


Tiba-tiba suara pintu kamar mama Lili diketuk dari luar, suara ketukan dipintu ditengah malam buta begini tentu saja membuat mama Lili berjengit kaget dan takut pastinya, fikirnya yang mengetuk pintunya malam-malam begini adalah mahlus halus, namun terbantahkan saat suara pembantu rumah tangganya memanggil.


"Nyonya, tuan."


"Bik Irah, ngapain dia malam-malam ketuk-ketuk pintu." herannya saat mendengar suara bi Irah.


"Nyonya, tuan." karna belum ada respon, bi Irah kembali memanggil nyonya dan tuan majikannya.


"Pa bangun pa." mama Lili kembali mengguncang tubuh suaminya.

__ADS_1


"Ada apa lagi sieh ma, tidak bisakah papa beristirahat dengan tenang, besok papa kerja lho." kayaknya papa Sebastian mulai kesal karna sejak tadi istrinya itu terus mengganggu tidurnya, padahalkan besok dia harus kerja dan dia butuh tidur supaya fikirannya fress.


"Pa, bi Irah manggil-manggil itu diluar."


"Ya sudah sana mama samperin, tanyakan ada apa, ini mama malah ngebangunin papa."


"Hmmm."


Mama Lili menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur, dia melangkah ke arah pintu untuk mencari tahu penyebab bi Irah mengetuk pintu kamarnya malam-malam buta begini.


Begitu pintu terbuka, mana Lili menemukan bi Irah berdiri dengan wajah panik.


"Ada apa bi Irah, bi Irah tahukan ini jam berapa."


"Maaf nyonya kalau saya mengganggu, tapi didepan ada polisi yang menunggu nyonya dan tuan."


"Polisi." ulang mama Lili.


"Iya nyonya."


"Ya Tuhan, ini Lukas pasti membuat ulah lagi." desahnya, "Baiklah bik, saya akan menemui polisi itu bersama dengan tuan."


"Baik nyonya." bi Irah mengundurkan diri dan berlalu.


Mama Lili kembali pada suaminya yang kini sudah kembali terlelap, "Pa bangun pa, ada polisi diluar yang nyariin kita, kayaknya Lukas ditahan lagi."


Papa Sebastian membuka matanya dengan kesal, "Anak itu." omelnya, "Bisa tidak sehari saja dia membiarkan hidup kita tenang, kenapa sieh dia terus saja membuat masalah begini." rutuknya dan dengan terpaksa dia bangun dari tempat tidurnya untuk menemui polisi yang menghampiri rumahnya.


Mama Lili mengikuti suaminya dibelakang.


Dua polisi mengenakan jaket kulit duduk diruang tamu menunggu kedatangan sang pemilik rumah.


"Selamat malam pak, apakah benar ini dengan bapak Sebastian Pangestu." sapa salah satu polisi itu saat melihat kedatangan tuan rumah.


"Malam bapak polisi, iya benar, saya Sebastian Pangestu."


"Apa benar, Lukas Pangestu adalah putra anda."


"Iya benar." papa Sebastian mengkonfirmasi.


"Mobil yang dikendarai oleh putra anda mengalami kecelakan yang cukup parah, dan sekarang putra anda telah dibawa ke rumah sakit terdekat."


"Tidakkkkkk, Lukas putraku." suara jeritan dari bibir mama Lili, tubuh wanita itu lemas seketika, dia hampir saja jatuh namun dengan sigap ditahan oleh suaminya, "Ma."


Papa Sebastian juga sangat terkejut dengan berita ini, Lukas memang sering membuat ulah dan membuatnya kesal, meskipun begitu, tentu saja dia tidak pernah menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada putra tunggalnya itu.


Mama Lili menjerit dan menangis hebat dalam dekapan suaminya, "Papaaa, Lukas papa, putra kita, ya Tuhan anakku, apa yang terjadi dengannya."


"Tenang ma, tenang." papa Sebastian berusaha menenangkan istrinya meskipun hatinya juga sangat mencemaskan keadaan putranya, dia hanya berdoa dalam hati supaya keadaan putranya itu baik-baik saja.


"Bagaimana mama bisa tenang papa, anak kita....anak kita kecelakaan."


"Bagaimana keadaan putra kami sekarang pak." papa Sebastian bertanya.


Salah satu polisi itu menggeleng, "Kami kurang tahu, tapi kami bisa memastikan kalau wanita yang satu mobil dengan putra anda meninggal ditempat."


"Tidakkkkk." jeritan mama Lili semakin kencang menghiasi seantero ruangan besar itu mendengar penjelasan dari polisi tersebut, dia jadi berfikir, kalau teman putranya saja yang satu mobil dengannya meninggal, terus bagaimana dengan putranya, yang jelas saat itu fikiran mama Lili berkata kalau putranya juga tidak akan selamat.


Jeritan mama Lili membuat para pekerja dirumah besar bangun dan melihat apa yang terjadi sehingga membuat nyonya mereka menjerit begitu, mereka saling berbisik satu sama lain.


"Ada apa, ada apa."


"Tuan muda kecelakaan."


"Astaga, ya Tuhan, tuan muda, kasihan sekali dia."


"Semoga saja tuan muda tidak apa-apa."


Hati papa Sebastian juga terguncang, tapi dia laki-laki, dia berusaha kuat demi istrinya.


"Ma, tenangkan diri mama, sebaiknya kita kerumah sakit sekarang untuk melihat keadaan putra kita."


Ditengah ketidak berdayaannya, mama Lili mengangguk menanggapi ucapan suaminya.


"Agung, siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang." perintah papa Sebastian pada sopir pribadinya.


"Baik tuan." Agung langsung berlari mencari kunci mobil.


"Ayok ma."


Papa Sebastian memapah istrinya yang lemah, sedangkan polisi yang memberikan informasi tersebut mengikuti mereka dibelakang.


****

__ADS_1


__ADS_2