CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
TIDAK BERHASIL MEMBUJUK MAMA


__ADS_3

Pucuk dicinta, ulampun tiba, itu mungkin pepatah yang tepat untuk menggambarkan apa yang saat ini tengah diharapkan oleh Hawa, dia yang berniat menemui mamanya demi kepentingan Adam, dan mamanya ternyata menelponnya terlebih dahulu beberapa menit setelah suaminya berangkat kerja, mamanya mengajaknya untuk jalan-jalan, shoping, nyalon, intinya mamanya itu mengajaknya untuk seneng-seneng deh, yahh Hawa tahu mamanya melakukan hal itu untuk menghibur hatinya yang sedih gara-gara Adam yang memilih pergi meninggalkan keluarganya dan lebih memilih Tari.


Oleh karna itu, tanpa fikir panjang, Hawa langsung mengiyakan ajakan mamanya, Hawa berjanji akan menjemput mamanya.


Satu jam kemudian, Hawa sudah siap pergi ke rumah orang tuanya untuk menjemput mamanya terlebih dahulu dan setelah itu barulah mereka meluncur ke mall, tentunya dia antar oleh pak Basuki sopir pribadinya. Hawa tidak membawa Orlin, putri kecilnya itu dia titipkan pada pengasuhnya.


Saat mobilnya memasuki pekarangan rumah besar milik keluarganya, mamanya sudah berdiri didepan sepertinya tengah menunggu kedatangannya.


"Haii ma." sapa Hawa menghampiri mamanya, "Maaf telah membuat mama menunggu." ucapnya dan mencium pipi mamanya.


"Tidak apa-apa sayang."


"Jadi kita berangkat sekarang ma."


Mama Cellin mengangguk.


45 menit kemudian, mereka sudah tiba disebuah pusat perbelanjaan dijantung ibu kota.


Dua wanita yang bersatus sebagai ibu dan anak itu berjalan-jalan memasuki toko demi toko untuk memuaskan hasrat belanja mereka, dan sekarang, tangan mereka sudah menenteng beberapa paperbag ditangan masing-masing.


Yah bagi seorang wanita yang tengah dilanda rasa sedih, belanja merupakan salah satu hal yang membuat mereka kembali happy, mama Cellin yang sejak kemarin terlihat murung gara-gara kepergian putranya kini terlihat lebih ceria, Hawa bisa melihatnya.


Mereka memasuki toko-toko yang menjual barang-barang bermerk, membeli apapun yang mereka inginkan sesuka hati dan menggesek kartu kredit yang memang dikhususkan untuk mereka oleh suami masing-masing.


Dan setelah puas belanja kesana kemari, mereka sekarang memilih memanjakan diri dengan masuk ke salah satu salon yang terdapat dipusat perbelanjaan tersebut, disana Hawa dan mama Cellin melakukan perawatan badan dan wajah yang bernilai sampai puluhan juta sekali perawatan, ya gak heran kalau mama Cellin tetap cantik diusianya yang ke 50 tahun mengingat sekali perawatan saja bisa menghabiskan puluhan juta.


Setelah puas jalan-jalan, berbelanja dan memanjakan diri, kini kedua wanita itu merasa lapar dan mereka memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk pulang.


Karna melihat mamanya yang terlihat bahagia, Hawa memutuskan saatnya untuk bicara dengan mamanya mengenai masalah Adam.


"Ma." Hawa memulai.


Mama mengalihkan perhatiannya dari makanan yang saat dia santap ke putrinya.


"Kenapa Hawa."


Hawa berharap semoga mamanya bisa diajak bekerjasama.


"Mmmmm, Adam ma." Hawa terdiam kembali, sepertinya dia berusaha untuk memilih kata-kata yang tepat.


Sedangkan mama Cellin masih menunggu putrinya akan mengatakan apa selanjutnya, dan hatinya agak perih saat mendengar nama putra yang telah menyakiti perasaannya itu disebut-sebut oleh Hawa.


"Adam kesulitan mencari pekerjaan ma karna ijazahnya tertahan oleh papa."


Dengan takut-takut Hawa memandang mamanya, Hawa menunggu respon mamanya.


Wajah mama Cellin terlihat datar dan sepertinya mengisaratkan ketidakpedulian, padahal dalam hatinya tentu saja sedih mendengar putranya yang tanpa fasilitas apa-apa hidup diluar sana.


Karna tidak ada respon dari mamanya, Hawa kembali melanjutkan ucapannya, "Jadi ma, Hawa minta tolong sama mama, bisakah mama membujuk papa untuk memberikan ijazah itu kepada Hawa dan akan Hawa berikan kepada Adam supaya dia mudah untuk mendapatkan pekerjaan."


Mama Cellin mendesah berat, dia peduli sama Adam, sangat peduli malah, tapi putra kesayangannya itu juga menorehkan luka yang cukup dalam dihatinya sampai berdarah, dia tidak mungkin bisa luluh begitu saja mendengar cerita Hawa, yah meskipun hatinya juga agak gimana gitu, "Adikmu telah memilih jalan hidupnya Hawa, jadi, biarkan saja dia menjalani hidupnya sendiri tanpa apapun yang telah kami berikan kepadanya, termasuk ijazahnya."


Hawa tidak menyangka mamanya akan mengucapkan hal tersebut, "Ma, mama tega membiarkan Adam diluar sana hidup dalam kesusahan, biar bagaimanapun, Adam tetaplah anak mama."


"Cukup Hawa, kamu jangan bahas-bahas masalah adikmu itu lagi, mama tidak ingin mendengarnya, anak itu telah membuat hati mama dan papa sakit, jadi sekarang, mama tidak peduli apapun yang terjadi padanya, terserah dia mau hidup luntang lantung atau sengsara sekalipun, mama tidak akan peduli lagi sama dia."


Hawa bener-bener tidak menyangka respon mamanya akan seperti ini, fikirnya mamanya akan lebih bersimpati pada Adam, tapi nyatanya dia salah, ternyata mamanya itu tidak peduli sama adiknya. Adam tidak meminta apapun, dia hanya meminta ijazahnya saja untuk memudahkannya untuk mencari pekerjaan.


Hawa mendesah berat, dia gak tahu harus melakukan apa kalau mamanya menolak untuk membujuk papanya untuk menyerahkan ijazah milik adiknya itu, bicara dengan papanya secara langsung, jelas itu sangat tidak mungkin, menyebut nama Adam saja didepan papanya dia pasti akan diusir.


"Hawa, mama harap kamu menuruti kata-kata papa kamu, jangan membantu adikmu itu dalam hal apapun, kalau papamu tahu kamu meminta mama untuk membujuk papa untuk memberikan ijazah adikmu, papamu pasti akan sangat marah kepadamu." mama Cellin memperingatkan dengan mengulangi kata-kata suaminya.


Hawa menelan ludah, rasanya dia tidak punya harapan sama sekali untuk mendapatkan ijazah milik sang adik.


****


Setelah setengah hari memasukkan lamaran di beberapa perusahaan, Tari akhirnya pulang ke rumah, saat tiba dirumah sederhana peninggalan mendiang ayahnya, Adam sudah menunggunya dengan duduk diteras depan, Adam langsung tersenyum begitu melihat kepulangan sang istri, dia langsung menyongsong kedatangan Tari dan mengambil alih tas yang dicangklongkan Tari dilengannya.


"Capek sayang." tanyanya.


"Sedikit mas."


"Lapar juga."


Tari mengangguk.


Adam menggandeng lengan istrinya dan membawanya masuk ke rumah mereka, "Aku sudah memasak, kamu sudah lihatkan gambar yang aku kirim, aku tahu aku tidak pernah memasak dan bentuk masakankupun tidak meyakinkan, tapi aku hanya ingin kamu mencicipinya, dan kalau rasanya tidak layak, kita bisa membuangnya dan pesan gofood saja."


Tari tersenyum mendengar clotehan suaminya, "Terimakasih mas Adam karna mas telah memasak untukku, tapi mas Adam seharusnya tidak perlu repot-repot begini."


"Gak repot kok sayang, daripada aku tiduran doankkan lebih baik aku melakukan hal yang bermanfaat, benarkan."


Adam meletakkan tas Tari dikursi ruang tamu dan baru kemudian membawa Tari ke ruang makan.


Begitu didekat meja makan, Adam membuka tudung saji dan memperlihatkan apa yang ada dibalik tudung saji tersebut pada sang istri.

__ADS_1


"Tadaaaa."


Tari tidak kaget melihat masakan Adam tersebut karna Adam tadi sudah mengirimkan gambarnya terlebih dahulu.


"Ayok duduk dan cicipi." Adam menarikkan kursi untuk Tari.


Adam mengambil piring dan mengambilkan nasi untuk Tari, dia juga mengambilkan tumis kangkung, telur dadar dan ikan yang warna agak hitam, porsi yang diambilkan untuk Tari hanya sedikit, dia takut istrinya keracunan, "Sedikit saja ya sayang." ujarnya meletakkan piring tersebut didepan Tari.


"Terimakasih mas, seharusnya aku yang ngelayanin mas Adam sebagai seorang istri, bukan sebaliknya."


"Sekali-kali aku yang harus ngelayanin kamu sayang." timpalnya.


Adam kemudian duduk disamping Tari dan mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri.


Setelah berdoa, mereka kemudian menyuapkan makanan ke mulut mereka masing-masing.


Adam langsung berlari ke kamar mandi begitu masakannya masuk ke mulutnya, rasanya benar-benar tidak layak untuk dimakan, sementara Tari, dia lebih memilih menelan makanan yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya, walaupun masakan Adam sangat sangat tidak enak, tapi menurutnya tidak ada salahnyakan menghargai usaha suaminya dengan menelan makanan tersebut.


Begitu kembali ke meja makan, Adam langsung meraih gelas berisi air putih dan menandaskan isinya sampai tidak bersisa.


Adam menoleh ke arah istrinya, "Maafkan aku sayang, aku tahu masakanku tidak layak untuk dikonsumsi, tapi aku tetap menyuruhmu untuk memakannya, aku benar-benar payah."


"Tidak apa-apa mas, mas jangan menyalahkan diri sendiri."


"Kita pesan makanan digofood saja ya."


Tari hanya mengangguk.


"Kamu mau makan apa sayang." tanya Adam saat sudah masuk ke aplikasi tersebut.


Tari membuka bibirnya untuk menyebutkan apa yang dia inginkan, tapi kata-katanya tertelan kembali saat mendengar suara ketukan dari pintu depan, sebagai gantinya Tari membelokkan kata-katanya.


"Sebentar ya mas, aku lihat dulu siapa yang datang." Tari berjalan keluar untuk melihat siapa tamu yang datang siang-siang begini.


"Tariiiii." seru Laura begitu pintu terbuka, gadis itu langsung memeluk Tari.


Tari membalas pelukan sahabatnya, tidak menyangka Laura datang siang  bolong begini.


"Kamu kok tumben datang siang-siang begini." Tari menyuarakan keheranannya.


"Kangen sama kamu." jawabnya.


Tari mengernyit mendengar jawaban Laura.


Melihata ekpresi sahabatnya yang jelas tidak percaya dengan apa yang dia katakan barusan, Laura memberitahu alasan yang sebenarnya, "Aku sebenarnya ada urusan gitu disekitaran sini, dan yah aku ingat kamu, makanya mampir deh."


"Nemuin dosen dirumahnya, kamu tahulah, saat ini aku gencar-gencarnya mengurus skripsiku, mama sudah uring-uringan tuh dirumah karna aku belum wisuda juga, dan kalau membahas masalah wisuda, pasti mama membandingkan aku dengan kamu." Laura bercerita sambil terkekeh.


"Kamu kalau butuh bantuan aku jangan sungkan ya Ra, mungkin aku bisa bantu."


"Iya aku tahu, aku bisa kok ngatasin sejauh ini, jadi kamu tenang saja oke, nanti pas aku diwisuda, kamu dan mas Adam wajib datang."


"Aku dan mas Adam pasti datang."


"Ohh ya, kamu sudah makan siang belum, nieh aku bawakan makan siang untuk kamu." Laura menunjukkan paperbag yang berisi makanan pada Tari.


Bertepatan dengan itu, terdengar suara Adam dari belakang yang kembali menanyakan makanan apa yang ingin  dimakan oleh istrinya, "Sayang, jadi kamu mau makan apa." 


"Gak usah mas, Laura datang membawakan makan siang untuk kita." beritahunya.


Adam berjalan mendekat dan menyapa sahabat istrinya itu, "Hai Laura."


"Hai mas Adam." 


"Terimakasih ya Laura telah membawakan makan siang untuk kami, aku dan Tari gagal makan sang gara-gara masakanku sangat tidak layak untuk dimakan, makanya kami berencana untuk memesan lewat gofood." setelah mengakhiri kata-katanya Adam nyengir.


Laura terkekeh mendengar penjelasan Adam, "Untungnya aku datang tepat waktu dan sebagai penyelamatkan."


"Iya, kamu datang tepat waktu."


"Lha, kok jadi ngobrol diluar sieh, ayok masuk Ra." ajak Tari baru sadar kalau mereka berdiri diteras depan.


Laura mengikuti Tari dibelakang.


****


"Iya pak, saya akan datang besok, terimakasih atas informasinya." Tari mengakhiri percakapannya dengan orang dari pihak perusahaan tempatnya memasukkan lamaran kerja, dia mendapat jadwal interview besok.


"Gimana sayang." tanya Adam saat Tari naik ke tempat tidur mendekatinya yang duduk bersandar ditempat tidur.


Tari duduk berselonjor disamping Adam, meletakkan kepalanya dipundak sang suami dan melingkarkan tangannya dipinggang Adam, barulah kemudian dia menjawab pertanyaan suaminya itu.


"Aku besok ada wawancara kerja mas, doakan ya mas semoga wawancaranya berjalan dengan lancar dan yang paling penting aku diterima."


"Pasti sayang, aku pasti akan selalu mendoakanmu, dan aku yakin kamu pasti bakalan diterima, secara istriku ini cerdas."

__ADS_1


"Mas selalu melebih-lebihkan."


"Bukannya melebih-lebihkan, tapi itu faktakan."


"Hmmm."


"Sayang."


"Hmmm."


"Kalau aku sudah dapat kerja nantinya, kamu dirumah saja ya."


Tari tidak langsung mengiyakan, tapi berkata, "Mas, aku boleh mengajukan penawaran gak."


"Penawaran apa."


"Meskipun nantinya mas dapat kerja, aku boleh tetap kerja ya, soalnyakan bosan kalau berdiam diri dirumah terus."


Adam akan membuka bibirnya untuk menyela ucapan Tari, tapi Tari lebih dulu meletakkan jari telunjuknya dibibir suaminya itu sebagai pertanda kalau dia belum menyelsaikan kata-katanya.


"Aku akan berhenti kalau kita sudah punya anak mas, aku akan fokus mengurus dan mendidik anak kita nantinya." Tari melanjutkan kalimatnya.


"Mmmm, oke, aku setuju, itu bukan ide yang buruk."


Tari terlihat senang mendengar persetujuan dari suaminya.


"Oleh karna itu, sekarang aku akan mulai bekerja keras untuk membuat kamu cepat hamil." Adam mengedipkan matanya.


"Apaan sieh mas, mesum."


"Gak apa-apa mesum kalau sama istri sendiri, gak dosakan." Adam kembali menggoda istrinya yang membuat wajah Tari bersemu merah.


Dan malam itu kembali dihabiskan oleh sepasang insan itu melewati malam-malam panjang dengan memadu kasih.


****


Pagi-pagi Adam menerima pesan dari kakak perempuannya yang memintanya untuk menemuinya disebuah cafe.


"Sayang kamu sudah mau berangkat." tanya Adam saat melihat istrinya keluar dari kamar dengan menggunakan pakaian rapi.


"Iya mas, interviewnya sih sebenarnya jam sembilan, tapi aku mau datang lebih pagian."


Adam mengangguk, "Kita bareng ya, mbak Hawa ngajak aku ketemuan soalnya."


"Iya."


Mereka berjalan keluar dan berjalan sekitar lima menit untuk sampai dijalan raya untuk menunggu angkutan umum yang akan membawa mereka ke tempat tujuan masing-masing.


Hari ini angkot penuh sesak yang membuat mereka harus duduk berdesak-desakan, Adam berusaha menjaga Tari, dia tidak mengizinkan laki-laki duduk didekat istrinya.


Melihat wajah Tari yang dipenuhi oleh bulir keringat akibat berdesakan, membuat Adam berjanji dalam hati untuk bisa mendapatkan pekerjaan secepatnya dan membeli minimalnya motor supaya Tari tidak perlu berdesak-desakan seperti ini lagi.


"Maafkan aku sayang, aku belum bisa membuatmu bahagia." batin Adam merasa kasihan menatap wajah sang istri.


Dan terlebih dahulu, Adam mengantar istrinya terlebih dahulu sampai perusahaan dimana istrinya akan melakukan wawancara kerja dan setelah memastikan Tari sampai tujuan, Adam meminta sik sopir angkot membawanya ke tempat dimana dirinya dan kakaknya berjanji untuk bertemu, Adam benar-benar berharap kakaknya membawa apa yang dia harapkan.


*****


Begitu Adam tiba ditempat yang telah ditentukan untuk bertemu, Adam melihat kakaknya melambaikan tangan ke arahnya untuk menarik perhatiannya, Adam tersenyum begitu melihat sang kakak.


Adam berjalan mendekati Hawa. Hawa berdiri menyambut kedatangan adiknya.


"Hai mbak." sapa Adam begitu tiba didepan kakak perempuannya.


Hawa membalas, "Hai Adam." Hawa menawarkan pipinya untuk dicium oleh Adam sebelum mempersilahkannya duduk.


"Duduk Dam."


Adam mengambil tempat duduk berhadapan dengan kakaknya.


Hawa melambai ke arah pelayan, 


"Kamu pesan apa." tanya Hawa saat pelayan cafe tersebut sudah berada didekatnya dan bersiap mencatat pesanan pelanggannya.


Adam tidak memesan makanan karna dia sudah makan dari rumah, dia hanya memesan secangkir kopi.


"Jadi gimana mbak, apa mbak berhasil." tanya Adam the to point.


Hawa senang melihat adiknya, tapi begitu Adam menanyakan tentang ijazah yang diharapkan dibawa olehnya, bahu Hawa merosot dengan wajah merasa bersalah.


Melihat mimik wajah kakaknya, Adam tahu kakaknya tidak berhasil membujuk keluarganya untuk memberikan ijazahnya yang saat ini bisa dikatakan adalah nyawa keduanya untuk menyambung hidup.


"Maafkan mbak Adam."


Ditambah dengan permintaan maaf dari bibir Hawa semakin mempertegas kalau memang kakaknya itu tidak berhasil membawa apa yang dia inginkan, bahu Adam merosot, dia memikirkan bagaimana dia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak tanpa ijazahnya.

__ADS_1


****


__ADS_2