CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
PERGI KE AMERIKA


__ADS_3

Laura ingin menangis, tapi berusaha ditahannya, dia menoleh ke arah mamanya, dia berharap mamanyalah yang menjelaskan semua ini sama Tari, karna mamanya memiliki kemampuan untuk membuat orang tenang dengan kata-kata lembutnya.


"Ma..." desisnya.


Mama Indi mengerti, dia tahu putrinya tidak sanggup menjawab pertanyaan Tari, oleh karna itu dia mendekat, dia menarik kursi dan duduk disamping Laura, mama Indi akan berusaha menjelaskan apa yang terjadi kepada Tari.


Mama Indi meraih tangan Tari dan menggenggamnya dengan maksud untuk memberi penguatan pada Tari.


"Ma, ba yi ku ma na, dia...ba ba ik sajakan."


Mama Indi menarik nafas dan menghembuskannya sebelum menjawab pertanyaan Tari, mama Indi berusaha untuk tersenyum, "Iya sayang, bayi kamu baik-baik saja."


Tari tersenyum mendengar penjelasan yang dikatakan oleh mama Indi.


Mama Indi melanjutkan, "Bayi kamu sudah berada ditempat yang terbaik sayang, bayimu....bayimu kini ada disurga Tari."


"Ma....mak sud tante."


Mama Indi semakin kuat menggenggam tangan Tari, "Kamu yang kuat ya sayang, saat kecelakaan itu terjadi, perutmu terbentur dengan sangat kuat sehingga menyebabkan pendarahan hebat dan membuat sik bayi...." mama Indi tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, dia terdiam beberapa saat, karna agak berat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Air mata Tari langsung tumpah ruah karna tahu kelanjutan kalimat yang akan dikatakan oleh mama Indi selanjutnya, "Ba yiku." isaknya sembari memegang perutnya yang rata.


Laura juga ikut menangis, dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Tari.


"Kamu yang sabar ya sayang, ini adalah ujian dari Tuhan." mama Indi berusaha untuk menguatkan Tari.


Lintasan kejadian malam itu berkelebat dalam benak Tari, saat itu dia baru pulang makan malam dengan Adam ketika ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju dari arah berlawanan, dan tabrakan itu tidak bisa dihindari, mengingat kejadian malam itu tentunya membuat Tari teringat dengan Adam.


"Ma s, Ada m, dia ba ik- baik sajakan." tanyanya penuh harap, dia sudah kehilangan bayinya, dia juga tidak ingin kehilangan suaminya juga.


"Mas Adam....mas Adam tidak bisa di selamatkan Tari, mas Adam...." Laura menangis sesenggukan, dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Tari menggeleng, dia tidak percaya ini, dia kehilangan dua orang yang sangat disayangi dalam waktu yang bersamaan, rasanya dia tidak sanggup menanggung beban seberat ini, fikirnya, kenapa dia juga tidak mati saja daripada hidup sebatang kara, "Ga k mu ng kin, mas Ad am gak mungkin pergi ninggalin akukan." Tari menolak percaya kalau kini suaminya juga telah tiada, "Gak mu ng kinnnn."


Laura bangun dan memeluk Tari, mereka menangis bersama, Laura sangat tahu apa yang dirasakan oleh sahabatnya saat ini, tidak mudah memang menerima semua kenyataan menyakitkan ini.


"Ada aku Tari, ada aku yang akan selalu berada disamping kamu, kamu jangan pernah merasa sendiri Tari."


"Mas Ad am Ya Tuhan."


Hanya pelukan yang bisa Laura berikan dan membiarkan Tari menangis, fikir Laura biarlah Tari menangis untuk menumpahkan kesedihannya, biasanya wanita setelah menangis akan merasa lebih baik.


****


Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini Lukas bisa sedikit tersenyum, dia bahagia, bahagia karna mendengar kabar dari perawat yang merawatnya kalau gadis bernama Mentari Wardhani yang dia tabrak kini sudah sadar, alangkah bahagianya Lukas mendengar berita tersebut, dia memang meminta suster Tuti, suster yang merawatnya untuk memantau keadaan Tari, dan melaporkan perkembangan Tari padanya, selain meminta suster Tuti untuk memantau perkembangan Tari, Lukas juga sering diam-diam datang ke ruangan Tari, tentu saat Laura tidak ada, cari mati namanya melihat keaadan Tari saat Laura ada disana.


Sebenarnya, kondisi Lukas bisa dibilang sudah sembuh, bahkan dokterpun sudah mengizinkan Lukas untuk pulang, hanya saja Lukas menolak untuk pulang dengan alasan dia masih merasakan sakit pada kepalanya, itu jelas alasan yang dibuat-buat, alasan sebenarnya adalah supaya dia bisa melihat Tari setiap hari, meskipun hanya melihatnya dari kaca kecil yang ada dipintu ruang inapnya.


Dan seperti saat ini yang Lukas lakukan, dia hanya bisa melihat Tari melalui kaca kecil tersebut, melihat kalau gadis itu sudah sadar dan menangis sendiri, hal itu membuat Lukas merasa bersalah karna dia yakin gadis itu menangis karna mengingat suami dan calon bayinya yang dibunuh oleh Lukas.


Lukas memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, sesak karna rasanya dia benar-benar tidak tega melihat gadis itu menangis, ingin rasanya Lukas masuk dan memeluknya, menenangkannya dan membisikkan kata-kata kalau semuanya pasti membaik, tapi tidak mungkin dia melakukan hal itu mengingat dialah yang menyebabkan semuanya ini terjadi, dialah yang menghancurkan kehidupan gadis itu dan merenggut kebahagiannya.


Lukas bersandar didinding, menatap langit-langit rumah sakit untuk mencegah air matanya yang akan terjatuh, "Tuhan apa yang harus aku lakukan untuk menebus dosaku, rasanya dia tidak mungkin untuk memaafkan." desahnya putus asa.


*****


Waktu berganti dengan begitu cepat, sudah dua minggu dan Tari sudah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter, secara fisik, kondisi Tari memang sudah membaik, tapi tidak dengan jiwanya, kadang Tari melamun, menangis, kadang juga tersenyum sendiri, entahlah apa yang dia fikirkan, mungkinkah dia mengingat masa-masa indah saat bersama dengan Adam dan masa depan indah yang telah mereka rancang bersama, masa depan yang tidak akan pernah bisa mereka wujudkan mengingat laki-laki yang akan membangun masa depan bersamanya itu telah pergi jauh dan tidak akan pernah akan kembali lagi.


Dan rencananya memang hari ini Tari akan pulang, dan Hawa kakak iparnya juga datang untuk mengantarkan Tari.


Hawa langsung memeluk Tari begitu dia datang, seperti janjinya, Hawa beberapa kali datang menjenguk Tari ke rumah sakit, kadang dia juga membawa Orlin putri kecilnya, tapi saat ini Hawa tidak membawa Orlin, dia hanya datang sendiri dan hanya diantar oleh sopir.


"Bagaimana keadaanmu Tari." tanyanya.


"Seperti yang mbak lihat, aku baik." jawabnya dibibir dengan senyum lesu.


Dan tidak ada satupun orang yang akan percaya dengan jawaban tersebut, begitupun Hawa, sebagai seorang perempuan, Hawa salut dengan ketegaran Tari, Tari begitu sangat kuat menghadapi cobaan berat yang saat ini dia alami, harus kehilangan suami dan calon anak disaat bersamaan, Hawa sendiri kalau berada diposisi Tari saat ini yakin kalau dia tidak akan sekuat Tari.


Hawa mengelus punggung Tari, "Percayalah Tari, kamu tidak sendiri, kamu punya mbak."

__ADS_1


"Dan punya aku juga." Laura yang telah membereskan barang-barang Tari turut menimpali yang membuat Hawa dan Tari tersenyum.


"Intinya Tari, masih banyak orang yang masih menyayangimu, jangan pernah merasa sendiri oke, kamu harus tetap menjalani hidupmu, meskipun yah...." Hawa menghentikan kata-katanya sejenak, rasanya dia masih tidak sanggup mengucapkan nama adiknya, "Tanpa Adam disisimu." rasanya setiap menyebut nama Adam, Hawa rasanya ingin menangis, tapi tentu saja dia berusaha untuk tidak melakukan hal itu mengingat Tari saat ini ada didepannya, dia harusnya menguatkan Tari dalam hal ini, bukan sebaliknya.


"Iya mbak, aku akan mencobanya, meskipun rasanya pasti akan sangat berat tanpa mas Adam." jawab Tari tidak yakin.


"Heii, jangan berkata begitu Tari, mbak yakin, Adam disana tidak ingin melihat kamu larut dalam kesedihan seperti ini, dia pasti ingin melihat wanita yang dia sayangi bangkit dan menjalani hidupnya dengan baik dan berbahagia, yah meskipun suatu saat nanti kamu akan merasakannya dengan laki-laki lain."


"Rasanya aku tidak mungkin bisa membuka hatiku untuk orang lain mbak, hatiku sudah dibawa oleh mas Adam bersamanya."


"Jangan berkata begitu Tari, jangan hidup dalam kenangan, mbak yakin, suatu saat, akan ada seseorang yang akan membuat kamu bahagia dan bisa menggantikan Adam dihati kamu."


"Aku tidak menginginkannya mbak, bagiku, tidak ada yang akan bisa menggantikan mas Adam."


Hawa mendesah berat, yah dia seharusnya maklum, Tari saat ini masih dalam keadaan berduka, dan rasanya pasti akan sangat sulit untuk melupakan seseorang yang meninggalkan kita yang pergi karna dipanggil oleh Tuhan, ketimbang berpisah karna orang ketiga.


"Semuanya sudah beres, sebaiknya kita pulang sekarang." intrupsi Laura.


"Mbak."


"Kenapa Tari."


"Aku ngin pergi ke makam mas Adam, Tari kangen ingin bertemu dengan mas Adam dan anak Tari." cetus Tari tiba-tiba.


Laura berbalik membelakangi Tari, dia tidak kuat, air matanya langsung meluncur begitu mendengar kata-kata penuh kerinduan dari sahabatnya.


"Iya, kita mampir ke makam Adam dan bayi kamu dulu ya." Hawa mengiyakan keinginan Tari.


Kebetulan, Adam dan bayinya dimakamkan bersebelahan, saat pulang membawa jenazah Adam waktu itu, Hawa juga meminta keluarganya untuk membawa serta anak Adam dan Tari, awalnya keluarganya menolak, tapi atas desakan Hawa, keluarganya juga membawa serta bayi itu dan memakamkannya berseblahan dengan makam ayahnya.


"Laura, ayok kita balik." tegur Hawa.


"Ehh iya." Laura langsung menghapus air matanya dan kembali berbalik menghadap Tari dan Hawa.


****


Tanpa mereka sadari, sejak tadi, ada seorang laki-laki yang sejak tadi memperhatikan dan mendengar percakapan mereka dari luar, orang tersebut adalah Lukas, Lukas sudah pulang dari rumah sakit sejak satu minggu yang lalu, dan dari informasi yang didapatnya dari suster Tuti kalau hari ini Tari sudah diizinkan pulang oleh dokter sehingga Lukas bela-belain datang untuk melihat Tari untuk terakhir kalinya, padahal hari ini juga dia akan berangkat ke Amerika, Lukas memilih untuk pergi ke Amerika dan tinggal bersama kakek dan neneknya disana, selain itu, Lukas juga ingin melanjutkan studynya disana, sebenarnya bukan itu alasan utamanya, dia memilih pergi ke Amerika untuk melupakan semua kenangan buruk dan rasa bersalah yang selalu menghantuinya, hampir tiap malam Lukas bermimpi buruk tentang kejadian naas malam itu, dan malam-malamnya juga sering dihantui oleh suara tangis Tari yang menyayat hati.


Dan begitu ketiga wanita yang ada didalam ruangan tersebut akan keluar, Lukas buru-buru pergi untuk bersembunyi, dia keluar dari persembunyiannya saat ketiga gadis itu sudah menjauh, menatap punggung wanita yang berada ditengah-tengah yang tidak lain adalah Tari.


"Maafkan aku Tari, maafkan aku." sudah ratusan kali kalimat maaf tersebut terus dia ucapkan, tapi dia sama sekali tidak berani mengucapkannya didepan orangnya secara langsung, pernah sieh, tapi saat Tari belum sadar waktu itu.


Suara ponsel dikantong jaket Lukas berdering yang membuat Lukas mengalihkan perhatiannya dari punggung Tari yang semakin menjauh.


"Iya ma."


"Kamu dimana sieh sayang, sebentar lagi pesawatnya akan berangkat lho."


"Iya ma, Lukas akan segera ke bandara."


Ternyata itu telpon dari mama Lili yang kini sudah berada dibandara, dia dan papa Sebastian saat ini sudah ada dibandara untuk mengantarkan kepergian putra mereka pergi ke Amerika.


Lukas bergegas keluar dari rumah sakit, dia antarkan oleh sopir mamanya, sejak peristiwa naas itu, Lukas trauma dan tidak pernah membawa mobil lagi, dia takut kejadian malam itu akan terulang lagi.


****


Hawa meminta sopirnya untuk menghentikan mobinya dipemakaman umum tempat Adam dan sik bayi dimakamkan, dan kini Tari duduk diantara makam suaminya dan anaknya.


Tari tidak bisa menahan air matanya saat melihat batu nisan yang bertuliskan nama suaminya.


"Mas Adam." desis Tari memandang pusara suaminya, tanah makam Adam masih terlihat basah, "Kenapa kamu meninggalkan aku sendirian mas, aku takut tidak bisa melewati semua ini sendirian tanpa kamu, hiks hiks."


Hawa yang duduk disamping Tari memegang pundak adik iparnya tersebut.


"Belum apa-apa aku sudah merindukanmu mas, aku sangat rindu, pasti rasanya akan sangat berat tanpa kamu yang ada disampingku."


"Tari, ikhlaskan Adam supaya dia bisa tenang dialam sana, ikhlaskan dia Tari." ujar Hawa.


Tari mengangguk mengerti, dia sebenarnya sudah mengikhlaskan, hanya saja dia tidak kuat saat berada didepan makam Adam dan bayinya.

__ADS_1


"Beristirahatlah dengan tenang mas Adam, aku disini akan berusaha menjalani hidupku dengan sebaik-baiknya, mas pasti bahagiakan disana karna mas Adam tidak sendirian, ada bayi kita yang senantiasa menemani mas Adam disana." Tari menghapus air matanya.


"Tari, ini." Laura menyerahkan bunga yang tadi dibelinya pada Tari untuk ditaburkan dimakam Adam.


Tari mengambil bunga tersebut dan menaburkannya dimakam Adam dan juga makam bayinya, dan setelah itu dia berdoa dengan khsyuk semoga Adam dan bayinya ditempatkan ditempat terbaik disisinya.


Dan setelah itu barulah ketiga wanita tersebut memutuskan untuk pulang.


Awalnya Laura memaksa Tari untuk tinggal dirumahnya untuk sementara karna mama dan papanya dengan senang hati menerima kedatangan Tari, tapi Tari menolak, dia tidak ingin merepotkan keluarga Laura karna keluarga Laura sudah sangat baik kepadanya, selain itu, Tari tidak ingin meninggalkan rumahnya karna rumah tersebut penuh dengan kenangan, dan pada akhirnya Laura menyerah meminta Tari untuk tinggal dirumahnya.


****


Saat ini dibandara.


Rasanya mama Lili tidak ingin melepas pelukannya pada putranya, dia rasanya berat untuk melepas kepergian putra semata wayang itu, apalagi Lukas harus terpisah ribuan kilometer dari dirinya.


"Kamu kenapa harus pergi segala sieh sayang, bisakah kamu ditinggal disini saja dan membatalkan kepergianmu." didetik terakhir, mama Lili masih berusaha untuk membujuk putranya untuk membatalkan kepergiannya, "Pa, lakukan sesuatu doank supaya Lukas tidak jadi pergi, ini kenapa papa malah diam saja, bagaimana sieh papa ini."


"Ma, sudahlah ikhklaskan kepergian Lukas, lagiankan disana Lukas tinggal bersama mama dan papa, jadi kita tidak perlu khawatir."


"Iya ma, Lukaskan kesana bukan untuk senang-senang juga, Lukas kesana untuk melanjutkan kuliah Lukas."


"Kuliahnya disini sajakan bisa Lukas, gak perlu sampai ke Amerika segala."


"Ma, jangan kayak anak kecil deh yang kerjaannya merengek terus."


"Papa ini gimana sieh, ya wajarlah mama seperti ini, mamakan tidak sanggup rasanya berpisah dengan anak mama, emangnya kayak papa yang tidak pernah sayang sama Lukas."


"Mama ini ada-ada saja kalau bicara, gimana bisa papa tidak menyayangi anak papa sendiri, Lukas sudah memilih jalan hidupnya sendiri, jadi biarkanlah dia pergi, lagipula kalau sudah saatnya, Lukas pasti akan kembali lagi dan akan mengurus perusahaan kita."


"Maafkan aku pa, rasanya aku tidak ingin kembali lagi kesini." kata-kata yang hanya diucapkan oleh Lukas dalam hati, karna dia tidak mungkin menyuarakannya, karna bisa-bisa dia tidak akan diizinkan untuk pergi oleh papanya.


"Kalau mama kangen, mamakan bisa datang ke Amerika ma untuk menjenguk Lukas, Amerika dan Indonesia itu dekat lho ma." ucap Lukas.


"Kamu jangan mengada-ngada ya Lukas, apanya yang dekat coba."


Lukas terkekeh mendengar bantahan mamanya.


Saat mendengar suara petugas bandara yang meminta penumpang dengan tujuan Amerika untuk segera memasuki pesawat, tangis mama Lili pecah, bagaimana tidak, dia harus melepaskan putranya pergi ke negeri yang sangat jauh.


Lukas memeluk mamanya sebelum berangkat, "Sudah ma, mama jangan menangis lagi oke, begitu Lukas sampai, Lukas akan mengabari mama."


"Begitu turun dari pesawat kamu langsung VC mama ya."


"Iya ma." janji Lukas.


Dan yang terakhir, Lukas memeluk papanya, laki-laki yang selama ini selalu memarahinya karna kelakuan bengal Lukas yang selalu berbuat seenaknya, kini Lukas tahu, papanya sering memarahinya karna papanya itu sayang kepadanya.


"Jaga mama ya pa." pesan Lukas sama papanya.


Papa Sebastian mengangguk, "Sampaikan salam papa sama kakek dan nenekmu."


"Pasti pa."


Setelah itu Lukas berjalan menjauh, dia berbalik dan melambai untuk terakhir kalinya kepada kedua orang tuanya, papa Sebastian merangkul istrinya yang masih menangis karna tidak rela melepas kepergian putra mereka yang akan pergi jauh.


"Tari, aku akan pergi jauh, aku harap kamu bisa menjalani hidupmu dengan baik." doa Lukas sebelum kembali melangkahkan kakinya memasuki burung besi yang akan membawanya ke negeri yang nun jauh diseberang.


*****


Hari berganti hari, bulanpun berganti bulan, dan kini sudah satu tahun lebih Lukas berada di Amerika, dia menjalani hidupnya sedikit lebih baik dinegeri paman Sam tersebut, Lukas benar-benar sudah berubah sekarang, tidak ada Lukas yang suka minum-minum, gonta-ganti pacar, Lukas benar-benar berusaha memperbaiki hidupnya, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar.


Dari luar Lukas mungkin terlihat sehat dan baik-baik saja, tapi tidak ada yang tahu apa yang dirasakan oleh Lukas saat ini, bahkan setelah satu tahun yang cukup panjang berlalu, rasa bersalah itu masih saja menghantuinya, dia benar-benar tidak bisa mengenyahkan kejadian malam itu dengan mudah dari fikirannya, bahkan sampai saat ini, kejadian tentang malam itu kadang masih suka hadir dalam mimpinya meskipun tidak sesering dulu, Lukas sering terbangun tengah malam dengan keringat dingin, dan kalau itu sudah terjadi, Lukas akan takut untuk tidur lagi, takut mimpi itu kembali menghantuinya.


Dan mengenai Tari, tentu saja Lukas tidak melupakan gadis itu begitu saja, bayangan akan Tari yang menangis juga tidak luput menghiasi malam-malamnya, bahkan Lukas sampai meminta bantuan psikolog untuk membantunya menghilangkan trauma yang dia rasakan, sayangnya, itu tidak membantu sama sekali.


Saat ini Lukas tengah berada diperpustakaan kampus tempatnya melanjutkan pendidikannya, Lukas berusha mencari kegiatan untuk mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang tidak ingin diingatnya tentang malam itu, salah satunya adalah dengan mendekam diperpustakaan dan mengalihkan perhatiannya dengan buku-buku tebal, saat itu notifikasi pesan masuk terdengar dari ponselnya yang tergeletak dimeja.


Lukas membukanya, dan pesan tersebut adalah pesan gambar yang dikirim oleh Parhan, itu adalah foto-foto Tari yang tengah melakukan kegiatan hariannya yaitu pergi ke kantor.

__ADS_1


Selama satu tahun ini, lewat sahabatnya itu, Lukas ingin memastikan keadaan Tari baik-baik saja dengan meminta Parhan untuk memantau semua kegiatan Tari dan melaporkannya padanya, dan bahkan dengan semua koneksi papanya, Lukas mempermudah Tari untuk mendapatkan pekerjaan, hal itu dilakukan untuk menebus rasa bersalahnya, meskipun Lukas tahu, hal itu tidak cukup untuk menebus kesalahannya dimasa lalu karna apa yang telah dia lakukan rasanya mustahil untuk dimaafkan.


*****


__ADS_2