CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
PRESDIR MUDA


__ADS_3

Oke, akhirnya valid sudah Lukas mengambil alih kerajaan bisnis keluarganya, dan yang paling bahagia dengan berita ini adalah tentu saja mama Lili, dia sangat bersuka cita mengetahui kalau putra kesayangannya itu tidak jadi kembali ke Amerika dan tetap tinggal bersamanya di Jakarta, bahkan saking bersyukurnya mama Lili bahkan ingin tumpengan segala.


Dan hari ini adalah hari pertamanya Lukas menjabat sebagai presdir, jabatan tertinggi dalam sebuah perusahaan, oleh karna itu, papa Sebastian mengumpulkan beberapa pegawainya yang berpengaruh diperusahaan untuk memperkenalkan putranya yang akan menggantikan posisinya saat ini.


Beberapa menejer dan pegawai sudah menunggu kedatangan presdir mereka diruang meting, dan saat pintu terbuka, semua mata tertuju pada presdir mereka yang baru tiba setelah lebih dari satu minggu tidak pernah masuk karna sakit yang diderita, tapi sebenarnya, fokus utama yang diperhatikan oleh para petinggi perusahaan adalah laki-laki muda, tampan dan tegap yang berjalan dibelakang presdir mereka, mereka tidak perlu bertanya siapa laki-laki muda itu, orang-orang itu sungguh sangat yakin kalau laki-laki muda tersebut adalah putra dari presdir pemilik perusahaan tempat mereka bekerja mengingat kemiripan dua orang berbeda generasi itu sangat kentara.


Dengan langkah percaya diri Lukas berjalan dibelakang papanya dibawah tatapan ingin tahu para petinggi perusahaan yang hadir diruang meting.


Sebastian berhenti dikursi kebesarannya dan meminta putranya untuk duduk disampingnya.


Setelah duduk dengan nyaman, papa Sebastian memulai, "Baik, terimakasih semuanya karna telah hadir disini."


Semua memperhatikan dan menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh presdir mereka.


"Saya sengaja meminta kalian hadir disini karna ada hal penting yang akan saya sampaikan." papa Sebastian melanjutkan, "Mulai detik ini, saya telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan, dan sebagai gantinya, putra semata wayang saya inilah yang akan menggantikan posisi saya." Sebastian menepuk pundak putranya dengan bangga, kalau dulu papa Sebastian selalu memarahi putranya, kini dia memperkenalkan putranya dengan bangga didepan para petinggi perusahaan.


"Saya yakin, dibawah kepemimpinan putra saya, perusahaan akan semakin berkembang dan besar."


Para petinggi perusahaan yang mendengar berita tersebut saling melempar pandangan satu sama lain, mereka sama-sama tidak menyangka kalau mereka diminta untuk berkumpul untuk mendengarkan presdir mereka yang mengumumkan pengunduran dirinya.


"Tolong perkenalkan dirimu Lukas." pinta papa Sebastian pada putranya.


Lukas mengangguk, Lukas yang saat ini bukanlah Lukas yang dulu, Lukas yang saat ini adalah seorang laki-laki berwibawa dan cerdas, pandangan matanya tajam yang membuat orang terintimidasi sehingga meskipun usianya masih muda, orang tidak akan berfikir untuk meremehkannya.


Lukas berdiri dan menatap sekelilingnya, "Saya Lukas Pangestu, presdir kalian yang baru, saya harap kita bisa bekerjasama demi kemajuan perusahaan ini, dan saya sangat mengharapkan bantuan dan dukungan dari kalian, karna itu sangat berarti untuk saya, terimakasih." Lukas mengakhiri perkenalan singkatnya.


Semua yang ada diruangan itu bertepuk tangan begitu Lukas mengakhiri perkenalannya dan kembali duduk.


"Seperti yang putra saya katakan, saya harap kalian membantunya untuk menjalankan perusahaan demi kemajuan dan perkembangan perusahaan ini." Sebastian mengulangi kata-kata putranya.


"Kami akan dengan senang hati melakukannya." jawab para petinggi perusahaan kompak.


****


Dihari pertamanya menggantikan posisi papanya, Lukas mempelajari setumpuk berkas-berkas penting tentang perusahaan untuk mengetahui perkembangan perusahaan selama ini.


Firman yang merupakan sekertaris perusahaan dan merupakan orang kepercayaan papanya banyak membantu Lukas dalam hal ini.


Tampan, kaya dan berwibawa dan masih lajang tentu saja membuat Lukas menjadi pusat perhatian dan merupakan laki-laki yang banyak diincar oleh karyawan wanita diperusahaan, kalau dulu, Lukas akan dengan senang hati menerima semua perhatian dari wanita dan meresponnya, tapi kini Lukas tidak menggubris dan tidak peduli akan semua perhatian dan pandangan memuja dari setiap wanita yang melihatnya, bagi Lukas, fokus utamanya saat ini adalah perusahaan dan bagaimana caranya membuat perusahaan yang di percayakan oleh papanya menjadi semakin berkembang dan maju dibawah kepemimpinannya.


Seperti saat ini, Lukas tengah berkutat dengan berkas-berkas penting ditangannya sampai membuatnya lupa waktu, barulah saat pintu ruangannya didorong dari luar perhatiannya teralihkan dari berkas-berkas tersebut.


"Ma." ujarnya saat melihat kemunculan mamanya diambang pintu, dibelakang mamanya berdiri Firman.


"Halo sayang." sapa mama Lili menyapa putranya.


Lukas berdiri menyambut mamanya yang berjalan mendekatinya, mama Lili mencium pipi putranya saat berada didekat Lukas.


"Mama ngapain ke sini."


"Mama hanya ingin memastikan apakah putra kesayanganku ini sudah makan siang atau belum." jawab mama Lili.


Dan sebelum Lukas menjawab, mama Lili kembali berkata, "Mama tebak, pasti belumkan."


"Iya ma, Lukas belum sempat makan siang, Lukas sibuk mempelajari berkas-berkas tentang perusahaan kita." Lukas menunjukkan tumpukan kertas yang beberapa hari ini selalu setia menemaninya.


"Sibuk sieh sibuk sayang, tapi jangan sampai mengabaikan kesehatan, kalau kamu sakit gimana, siapa coba yang akan mengurus perusahaan, papamukan sekarang sudah malas berurusan dengan perusahaan, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan hobinya." oceh mama Lili mendengar jawaban Lukas, "Untungnya mama datang membawakanmu makan siang, kalau gak, mungkin sampai malam kamu tidak ingat mengisi perutmu."


Pada dasarnya kebanyakan seorang ibu cerewet jika menyangkut tentang anak mereka, begitu juga dengan mama Lili.


"Ayok sayang, tinggalkan pekerjaan kamu dan makan sianglah dengan mama." mama Lili menarik tangan Lukas dan mengambil kotak bekal yang tadi dia letakkan dimeja.


Sedangkan Firman masih setia berdiri didekat pintu, siapa tahu dia dibutuhkan oleh nyonya pemilik perusahaan.


"Firman."


"Iya nyonya."

__ADS_1


"Kamu sebaiknya membuka lowongan untuk mencari sekertaris pribadi untuk putraku ini, aku ingin saat dikantor ada yang mengurusnya."


"Mama ini apa-apaan sieh, Firman itu sudah cukup ma." bantah Lukas tidak setuju dengan ide mamanya.


"Firman itu sekertaris umum Lukas, sekertaris perusahaan, nahh, disini kamu juga butuh sekertaris pribadi untuk mengingatkan kamu ini itu, mengingatkan tentang jadwal pertemuanmu dengan klien dan lain-lain."


"Nyonya Lili benar pak Lukas, pak Lukas memang butuh sekertaris pribadi, bukankah semua presdir begitu." Firman mendukung mama Lili, bukan untuk meringankan pekerjaannya, tapi memang sudah seharusnya seorang presdir juga membutuhkan sekertaris pribadi.


"Tapi aku sudah cukup dengan kamu saja Firman, untuk apa aku butuh sekertaris pribadi segala."


"Tidak bisa begitu donk sayang, kamu tetap butuh sekertaris pribadi, pokoknya mama tidak mau tahu, besok saat saya kesini lagi, putraku sudah harus punya sekertaris pribadi, ingat itu Firman."


"Baik nyonya, saya akan langsung memasukkan iklan lowongan untuk pencarian sekertaris untuk pak Lukas."


Lukas hanya mendesah pasrah dengan keputusan mamanya, memang kalau mamanya ingin sesuatu itu wajib hukumnya dituruti.


"Kalau begitu, saya permisi dulu nyonya, pak Lukas." pamit Firman untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh sang nyonya.


Lukas mengangguk.


"Nahh, ayok makan yang banyak sayang, kamukan butuh tenaga ekstra untuk mengurus perusahaan sebesar ini." ucap mama Lili begitu dia sudah menjejerkan rantang yang dibawanya dimeja.


"Hmmm." Lukas mulai makan makanan yang dibawakan oleh mamanya.


"Ohh iya sayang, umur kamukan sekarang sudah 25 tahun, dan kamu juga sudah dipercaya oleh papa kamu untuk memegang perusahaan sebesar ini."


Kata-kata mamanya belum kelar, tapi Lukas mendapat firasat buruk akan kelanjutan kata-kata mamanya berikutnya.


"Oleh karna itu, mama rasa sudah saatnya untuk kamu untuk mencari pendamping hidup." mama Lili mengeluarkan bom atomnya, "Kalau kamu ada pendampingkan enak, ada yang ngurus, ada yang merawat kalau sakit juga."


"Iya ma, nanti, tapi saat ini, fokus utama Lukas adalah perusahaan dulu." Lukas berdalih.


"Iya, sambil ngurus kerjaan sekalian nyari pendamping, itu tidak akan susahkan sayang, atau gini saja, kalau kamu sebegitu sibuknya, mama akan mengenalkan kamu dengan anak-anak gadis teman-teman mama, gimana, apa kamu setuju sayang."


"Gak perlu ma, nanti Lukas cari sendiri." tolak Lukas, ogah banget dia dicomblang-comblangin begitu.


"Iya gak ada salahnyakan sayang mama juga bantuin kamu cari, siapa tahu kamu cocok, iyakan sayang." mama Lili memaksa.


Mama Lili tersenyum mendengar jawaban putranya, "Nahh, ini baru anak mama."


****


Akhir minggu, biasanya digunakan oleh Tari untuk memanjakan dirinya, mulai dari shoping, perawatan, jalan-jalan, intinya diakhir minggu, Tari ingin membahagiakan dirinya, dan hal ini biasnya dia lakukan supaya dia tidak teringat dengan Adam, kalau dia punya kegiatan, itu bisa mengalihkan rasa rindunya dari suaminya, dan biasanya, Tari akan pergi dengan Laura sahabatnya.


Seperti saat ini, mereka tengah berada ditoko pakaian memilah dan memilih pakaian yang tergantung, aktitas itu diselingi dengan obrolan.


"Rasanya aku sudah tidak tahan lagi Ra, aku mau resign, gak Johan gak pak Dava, dua orang itu semakin gencar mendekatiku, akukan jadi gak nyaman." Tari mengeluarkan unek-uneknya sama Laura.


"Emang kamu sudah dapat pekerjaan baru." timpal Laura.


"Ya belum sieh, tapi aku sudah memasukkan lamaran kerja gitu disebuah perusahaan besar, besok aku mendapatkan panggilan untuk wawancara, ya aku harap sieh bakalan diterima."


"Jurusan yang kamu ambil memang merupakan jurusan yang tidak lepas dari yang namanya dekat-dekat dengan atasan Tar, gimana kalau diperusahaan ditempat kamu memasukkan cv lamaran yang ini juga bossnya ganjen dan genit."


"Ya aku sieh berharapnya jangan Ra, capek juga sieh kalau harus keluar masuk perusahaan terus."


"Ya aku doakan deh supaya kamu diterima dan yang paling penting bossnya kali ini tuh alim dan gak ganjen."


"Amin."


"Ehh ini gimana, bagus gak Tar." Laura memperlihat baju yang ada ditangannya.


"Bagus, cobain gieh."


"Oke." Laura berjalan menuju kamar pas.


Sedangkan Tari kembali memilih-milih baju karna dia belum menemukan yang cocok, dia berhenti dirak yang menggantung baju-baju bayi, dia mengambil salah satu baju bayi yang menarik perhatiannya, Tari tersenyum melihat baju bayi untuk anak perempuan tersebut.

__ADS_1


Tari mengelus perutnya yang rata, "Seandainya kamu masih hidup nak, mungkin umurmu sekarang sudah satu tahun sayang, kalau seandainya kamu ada disamping mama, mama pasti tidak akan merasa kesepian seperti ini." Tari merasa sedih.


"Hei Tari, coba lihat, bagus gak." Laura menepuk pundaknya yang membuat Tari berbalik menghadap Laura.


Pandangan Laura langsung terarah pada baju bayi yang saat ini berada ditangan Tari.


"Kalau seandainya dia masih hidup, dia pasti cocokkan Ra memakai baju ini." Tari tersenyum miris sembari mengangkat baju yang ada ditangannya untuk memperlihatkannya pada Laura.


Laura prihatin, dia mengerti apa yang saat ini Tari rasakan, "Kamu yang sabar ya Tar."


Tari mengangguk lemah, "Iya, memang hanya itukan yang bisa aku lakukan."


"Heii, jangan sedih gitu donk, kitakan katanya mau seneng-seneng, masak sedih gini seih."


"Iya Ra kamu benar." Tari kembali menggantung baju anak tersebut ditempat dia mengambilnya tadi, "Aku harus hidup dengan baik, jangan terpaku pada masa lalu." Tari menyemangati dirinya sendiri.


"Nahh, itu baru Tari."


Tari memaksakan dirinya tersenyum.


"Jadi Tari, bagaimana menurut pendapatmu tentang baju ini."


Tari mengacungkan dua jari jempolnya, "Bagus banget, kamu sangat cantik dalam balutan baju itu Ra."


"Benarkah."


"Tentu saja benar, lagiankan memang apapun baju yang kamu pakai pasti bagus."


"Ahhh, kamu itu ya Tari, paling bisa deh membuat kepalaku jadi gede."


Tari terkekeh.


"Oke kalau gitu, aku ambil baju yang ini saja." putus Laura.


*****


"Oke Tari, kamu pasti bisa, kamu pasti bisa." Tari berusaha menenangkan dirinya saat akan memasuki ruang interview.


Tari memang belum keluar dari perusahaan yang sekarang ini tempatnya bekerja, dia akan keluar begitu dia berhasil diterima diperusahaan yang sekarang tempatnya memasukkan lamaran kerja. Dan oleh karna itu, hari ini, Tari izin dengan alasan sakit supaya bisa interview kerja hari ini.


Setelah sekitar 20 menitan berada diruang interview, akhirnya Tari keluar dengan nafas lega, proses interviewnya berjalan dengan baik dan lancar, dan pastinya Tari berharap dia akan diterima, dia hanya harus menunggu panggilan dari pihak perusahaan.


Tari melangkahkan kakinya keluar dengan lega dari perusahan, tempat yang dia harapkan menjadi tempatnya bekerja selanjutnya, dia berharap kalau seandainya dia diterima, perusahaan ini akan menjadi tempat terakhir baginya, karna dia sudah capek keluar masuk perusahaan, dan tentunya, harapan terbesar Tari adalah kalau bosnya tidak genit dan ganjen seperti bos-bosnya yang sebelumnya.


*****


Saat ini Lukas baru tiba dikantor setelah melakukan pertemuan bisnis dengan kliennya diluar kantor, Firman selalu setia mendampinginya.


Saat itu, dari arah berlawanan Lukas melilihat sosok yang selama ini membayangi mimpi-mimpinya tiap malam, perempuan yang selalu menangis pilu karna dirinya yang telah merenggut kebahagian wanita itu.


"Tari." batinnya tidak mengalihkan perhatiannya pada Tari yang semakin berjalan mendekat ke arahnya, bahkan saat Tari sudah melewatinya, Lukas memutar lehernya untuk melihat sosok Tari yang berjalan keluar dari kantornya.


"Pak Lukas, pak Lukas." Firman memanggil manggil.


"Ehh iya, ada apa Firman.".


"Pak Lukas kenapa, apa bapak mengenali gadis itu." tunjuk Lukas pada punggung Tari yang baru keluar dari pintu perusahaan.


Lukas menggeleng, "Ahh tidak." bohongnya, "Tadi saya fikir dia adalah teman lama saya, ternyata tidak."


"Ohh."


"Tari, ngapain dia disini." batinnya bertanya-tanya, Lukas sama sekali tidak pernah berfikir kalau Tari merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang melamar untuk menjadi sekertaris pribadinya.


"Selamat siang pak Lukas." salah satu karyawan yang bekerja diperusahaannya menyapa, gadis itu tersenyum manis dengan harapan Lukas akan kepincut.


Namun Lukas tidak menanggapi sama sekali sapaan dari karyawannya itu, dia dengan cueknya berjalan melewati gadis yang menyapanya tersebut.

__ADS_1


"Ya Tuhan, pak Lukas tampan banget, hatiku jadi bergetar." gadis itu memegang dadanya yang berdetak cepat, "Uhhh jadi semangat kerja deh kalau bossnya seganteng itu."


****


__ADS_2