
Tari mengangkat tangannya untuk memperlihatkan pada Laura dimana di jari manisnya melingkar cincin yang disematkan oleh Lukas disana.
Laura menarik tangan Tari dan mencoba melihat cincin tersebut dengan lebih dekat, "Cantik banget Tari cincinnya." puji Laura memandang cincin yang ada ditangan Tari lekat.
Saat ini Laura dan Tari tengah makan siang bersama disela-sela jam kantor, Laura memaksa Tari untuk bertemu karna penasaran ingin melihat cincin yang digunakan oleh Lukas untuk melamar Tari.
"Kamu iri ya Ra, makanya suruh pacar kamu untuk melamar kamu sana." ledek Tari.
"Dihh ngeledek kamu ya, aku itu ya gak butuh yang namanya pacar-pacaran, langsung nikah saja nanti."
"Kamu taaruf Ra, calonnya sudah ada emang."
"Ya gak ada sieh hehe."
"Dasar Laura."
"Ehh Tari, kapan donk kamu mengenalkan aku sama calon suami kamu itu, sumpah ya aku sangat penasaran lho ingin melihatnya."
"Saat-saat ini mas Lukas lagi sibuk-sibuknya Ra, ada proyek baru yang saat ini tengah ditangani oleh perusahaan, jadi untuk saat ini seih kayaknya belum bisa Ra."
"Yah, padahal aku penasaran banget lho ingin melihat mas Lukasmu itu."
Tari terkekeh, "Kamu sabar ya, atau kamukan bisa melihatnya nanti saat hari pernikahan kami saja."
"Ya gak bisa begitulah Tari, aku ingin melihatnya sebelum kalian melangsungkan acara sakral kalian."
"Iya iya, nanti aku usahakan deh supaya kamu bisa bertemu dengan mas Lukas." janji Tari.
"Atau kamu ada fotonya gak sieh, kasih lihat fotonya donk ke aku."
"Yahh, gak ada tuh Ra."
"Kekasih macam apa sieh kamu Tari, masak foto pacar sendiri gak ada."
"Aku mah gak perlu fotonya mas Lukas tersimpan diponselku Ra, mas Lukas itu sudah tersimpan dengan rapi disini." Tari memegang dadanya.
"Ya Tuhan, sik Tari kayak ABG labil saja kamu itu." Laura terkikik.
"Kamu malah ketawa lagi."
"Habisnya kamu lebay banget."
Saat tengah asyik ngobrol sambil menyantap makanan mereka, tiba-tiba terdengar sebuah sapaan.
"Tari."
Tari dan Laura reflek mendongak pada sumber suara yang menyapa Tari barusan, agak kaget juga sieh Tari saat mengetahui kalau yang menyapanya ternyata adalah Johan, laki-laki yang dulu juga pernah menyukainya.
"Mas Johan."
"Ahh ternyata beneran kamu Tari, tadi aku fikir salah orang." desah Johan terlihat lega.
"Apa aku boleh bergabung dengan kamu Tari."
"Ohh, tentu saja, gabung saja bersama kami mas." jawab Laura mendahului Tari menjawab.
"Terimakasih." Johan tersenyum senang, dia duduk dikursi yang tersisa.
"Aku tidak mengganggukan."
"Tentu saja tidak mas." jawab Tari.
"Oh iya mas, perkenalkan, ini Laura sahabat aku." Tari memperkenalkan Laura sama Johan.
Dua orang itu saling berjabat tangan satu sama lain, dan setelah itu Johan kembali menoleh ke arah Tari.
"Tari, aku senang bertemu kamu kembali setelah kamu memilih resign dari perusahaan sik sialan itu." umpat Johan pada atasannya sekaligus merupakan saingannya untuk mendapatkan Tari pada saat Tari masih bekerja diperusahaan yang dulu.
"Hmm, iya mas, aku juga senang bertemu mas kembali." bohong Tari hanya sebagai sebuah sopan santun belaka, sesungguhnya perasaanya B saja bertemu dengan Johan, namun dia tidak mungkin untuk mengatakannyakan secara terang-terangan.
"Kamu sekarang bekerja dimana Tari."
Tari menyebutkan perusahaan milik keluarga Pangestu tempat dimana dia bekerja sekarang.
"Itukan perusahaan besar Tari, kamu sangat beruntung bisa diterima bekerja disana."
"Iya mas, aku memang sangat beruntung."
"Gimana gak beruntung, sekali menyelam sambil minum air." timpal Laura bergurau.
"Apaan sieh Ra, jangan goda aku deh."
"Maksudnya apa ya." Johan penasaran.
"Jangan dengarkan Laura mas, biasa dia mah bercanda."
"Ohhh."
"Mas Johan masih bekerja ditempat yang dulu." Tari balik nanya, sebenarnya dia tidak ingin tahu sieh, tapi dia bertanyakan hanya sekedar sebagai sebuah kesopanan saja, masak iya Johan bergabung tapi di kacangin, kan gak lucu.
"Aku terpaksa bertahan Tari, habisnya susah banget cari kerja."
Tari prihatin sama Johan karna sikap mantan bossnya yang dulu kadang sering semena-mena sama bawahannya, "Bersabarlah mas."
"Yahh, memang itu yang harus aku lakukan untuk bertahan hidup untuk sementara ini Tari."
"Ngomong-ngomong bagaimana kabar bossmu itu mas."
"Mantan bossmu itu masih tetap sama Tari, dia tidak pernah berubah, tetap genit dan ganjen sama wanita cantik, dan sama sekertarisnya sekarang juga sering dia goda."
"Syukur aku sudah resign, kalau gak, aku bakalan diganggu tiap hari sama sik hidung belang itu."
"Memang diperusahaan tempat kamu bekerja sekarang bossnya tidak genit Tari."
__ADS_1
"Gak kok mas, boss yang sekarang baik."
"Yang namanya pacar ya pastilah dipuji." Laura kembali menyambung.
"Ra, duhh jangan ngelanturkan bisa."
"Hehe." Laura malah cengengesan.
"Pacar, itu maksud Laura apa Tari, kamu pacaran dengan atasan kamu sendiri." tebak Johan menyimpulkan apa yang dikatakan oleh Laura barusan.
"Bukan mas, Laura hanya asal ngomong saja kok tadi, jangan anggap serius."
"Aku aduin lho Tari sama Lukas kalau kamu tidak ngakuin dia sebagai pacar." jail Laura menggoda Tari.
"Kamu beneran sudah punya pacar Tari, dan pacar kamu adalah atasan kamu." Johan mengkonfirmasi kebenarannya.
Fikir Tari untuk apa bohong dan menyembunyikan Lukas sebagai pacarnya, oleh karna itu Tari mengangguk, "Iya mas, aku memang sudah punya pacar dan kami juga telah memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat."
Terlihat jelas Johan kecewa mendengar berita tersebut, sejak dulu dia menyukai Tari, bahkan sampai sekarangpun masih meskipun dia sudah lama tidak bertemu dengan Tari.
"Kamu membuatku patah hati Tari." Johan menyuarakan isi hatinya.
Mendengar kata-kata Johan membuat Tari merasa tidak enak juga, "Maafkan aku mas Johan."
Johan mendesah berat, "Yahh, apa boleh buat, aku terpaksa harus move on." ujar Johan terlihat nelangsa saat mengetahui Tari akan menikah.
*****
"Tari, sorry ya, aku tidak bisa mengantarkan kamu balik ke kantor, atasan aku nyuruh aku segera balik neih ke kantor." tukas Laura saat mendapatkan chat dari atasannya.
"Ohh, gak apa-apa kok Ra, nanti aku bisa naik taksi kok."
"Terimakasih ya Tari atas pengertianmu, sekali lagi maafkan aku." Laura memeluk Tari dan mencium pipinya sebelum melangkah keluar menuju pintu keluar.
Kini hanya tinggal Tari dan Johan yang masih menghabiskan makanan mereka yang tersisa dipiring mereka.
"Tari, nanti aku antar ya." Johan menawarkan jasanya, Johan tidak bermakasud apa-apa, dia murni hanya menawarkan bantuan semata, mendengar Tari sudah memiliki kekasih dan sebentar lagi mereka berniat untuk menikah membuat Johan merasa tidak punya kesempatan lagi untuk mendapatkan Tari, oleh karna itu dia mundur teratur dan mulai sekarang mengusahakan untuk move on.
Tari yang tidak enak jelas saja menolak tawaran dari Johan, "Terimakasih mas Johan atas tawarannya, tapi aku naik taksi saja mas ke kantornya."
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan." Johan tidak memaksa.
Tanpa mereka sadari, dari tadi ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua dan mengambil gambar mereka diam-diam, orang yang mengambil gambar tersebut tersenyum puas saat mendapatkan gambar yang dia inginkan, orang tersebut adalah Arin, Arin makan di restoran itu juga, dia bahkan sudah lebih dulu berada di restoran tersebut ketimbang Tari, jadi, Arin tahu kalau Tari datangnya dengan temannya yang cewek, dan dia juga melihat laki-laki yang saat ini tengah bersama Tari datang menghampiri dan ikut bergabung dengan Tari dan Laura, dan sampai pada akhirnya Laura pulang duluan, jelas disini Arin tahu kalau Tari tidak punya hubungan apa-apa dengan Johan, namun karna dia sakit hati sama Tari karna Lukas lebih memilihnya dan akan menikahinya, makanya Arin mengambil beberapa gambar Tari dan Johan, akan Arin buat kalau seolah-olah Tari berselingkuh dengan dengan laki-laki yang saat ini tengah bersamanya itu, dan Arin berniat menunjukkan foto-foto tersebut pada Lukas untuk menghancurkan hubungan Tari dan Lukas.
Arin tersenyum licik saat berhasil mendapatkan gambar yang dia inginkan, gambar yang seolah-olah memperlihatkan Tari seperti tengah berselingkuh.
"Hahaha, rasain kamu Tari, aku yakin mas Lukas akan sangat marah saat melihat fotomu ini." Tari melihat gambar tersebut dengan perasaan puas.
Flas back on.
"Mas Lukas, jalan yuk." ajak Arin lewat saluran telpon.
"Aku lagi ada Bali saat ini Arin." jawab Lukas.
"Aku kesini untuk urusan bisnis Rin, bukan untuk senang-senang."
"Pasti Bali seru banget deh, mas Lukas sama siapa ke Balinya."
"Sama Tari."
"Sama Tari mas, cuma berdua donk."
"Iya."
"Ishh, kok mas Lukas bisa sieh pergi berdua dengan Tari, menyebalkan."
"Memang kenapa, Tarikan sekertarisku dan juga sekaligus...."
"Aku gak suka mas, berdua-duaan dengan Tari." potong Arin.
"Memang apa hakmu melarang aku pergi bersama Tari." jawab Lukas telak yang berhasil membungkam Arin.
"Ya aku gak suka aja mas, Tari pasti ngerayu maskan disana, dasar gadis ganjen."
"Arin stop, aku tidak suka ya kamu menghina calon istriku."
"Calon istrimu mas, ini apa maksudnya."
"Aku sudah melamar Tari, aku memintanya untuk menjadi istriku, dan Tari menerima lamaranku." jelas Lukas dengan gamblang.
"Mas Lukas tidak seriuskan, mas Lukas bercandakan."
"Tentu saja aku tidak bercanda Arin, mana mungkin aku bercanda tentang hal sebesar ini, aku dan Tari saling mencintai asal kamu tahu."
Namun Arin menolak untuk percaya, "Gak mungkin, gak mungkin, mas Lukas tidak mungkinkan setega ini sama aku, mas Lukas tidak mungkin melakukan hal inikan, mas Lukas tidak mungkin akan menikahi Tarikan."
"Maafkan aku Arin, tapi aku mencintai Tari dan aku tidak ingin kehilangan Tari."
Arin menangis, "Mas Lukas jahat, mas Lukas tega, kamu brengsek mas, aku membencimu mas."
"Maafkan aku Arin, tapi aku fikir, kamu tidak perlu berlebihan begitu mengumpatku, karna kita tidak memiliki hubungan apa-apa, aku dan kamu murni hanya sebatas sebagai teman, tidak lebih." Lukas memperjelas status mereka.
"Dasar brengsek kamu mas."
"Arin, kamu tidak perlu selebay ini, kamu cantik dan cerdas, pasti banyak laki-laki diluar sana yang menginginkan kamu, dan aku yakin kamu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada aku." Lukas berusaha untuk membesarkan hati Arin.
"Tapi aku maunya sama kamu mas, tidak mengertikah kamu, aku menginginkan kamu mas Lukas, aku mencintaimu, tidak bisakah kamu membalas perasaanku."
"Tapi aku mencintai Tari, perasaan tidak bisa dipaksakan Arin."
"Kamu menyakitiku mas Lukas, kamu jahat."
"Sudah Rin, jangan seperti anak kecil begini, laki-laki bukah hanya aku saja di dunia ini."
__ADS_1
"Tapi aku maunya kamu brengsek, jahat banget sieh kamu, aku doakan semoga hubungan kalian tidak berjalan dengan baik."
Lukas mendesah berat, karna berfikir tidak ada gunanya berbicara dengan Arin yang terus mengumpatnya, Lukas memilih untuk mengakhiri panggilan.
Dan hal tersebut membuat Arin semakin meradang.
Flas back off
"Mas Lukas pasti akan sangat marah saat melihat foto-foto kekasihnya tengah makan berdua dengan laki-laki lain, mas Lukas pasti akan mengira kalau Tari selingkuh, dan mas Lukas akan marah dan mengakhiri hubungan mereka, hahaa." Arin tertawa jahat membayangkan hubungan Lukas dan Arin berantakan.
Dan oleh karna itu, Arin mengirim gambar-gambar tersebut pada Lukas, Arin tersenyum senang saat membayangkan wajah kaget Lukas melihat foto-foto yang dia kirim tersebut.
****
Dan gak lama, dua orang yang tidak menyadari kalau mereka tengah di awasi itu menghabiskan makanan mereka, dan Tari lebih dulu keluar restoran, saat ini dia tengah berdiri dipinggir jalan menunggu taksi yang lewat saat mobil yang dikendarai oleh Johan berhenti didepannya.
Johan membuka jendela mobilnya, "Lagi nunggu taksi kamu Tari."
"Iya mas."
"Bagaimana kalau sebaiknya kamu aku antar saja, kayaknya disekitar sini jarang ada angkutan umum yang lewat."
"Hmmm." Tari berniat untuk menolak.
"Ayoklah, jangan berfikir macam-macam tentangku Tari, sejak aku mengetahui kalau sebentar lagi kamu akan menikah, sejak saat itu aku berjanji untuk move on."
Tari tersenyum tipis, sumpah dia merasa sangat bersalah pada Johan karna dia tidak bisa membalas perasaan laki-laki tersebut.
"Maafkan aku ya mas Johan."
"Gak perlu minta maaf Tari, perasaankan tidak bisa untuk dipaksakan, jadi sekarang, ayok naik aku antar sebagai teman."
Karna sejak tadi menunggu dan belum juga ada taksi yang lewat dan dia tidak mau telat ke kantor karna dia akan mengikuti rapat nantinya, oleh karna itu dia terpaksa menerima tawaran Johan.
"Apa mas tidak keberatan mengantarkanku."
"Tentu saja tidak, ayok naiklah Tari."
"Baiklah."
Johan mengantarkan Tari sampai depan kantor, sebelun menjalankan mobilnya kembali Johan membuka kaca mobil.
"Terimakasih mas karna telah dikasih tumpangan."
"Sama-sama Tari, kamu perlu sungkan begitu begitu sama aku."
"Sekali lagi terimakasih mas Johan."
Johan mengangguk, dan saat Johan menjalankan mobilnya, Tari melambaikan tangan mengiringi kepergian Johan.
Tari tidak sadar kalau dirinya saat ini tengah diperhatikan oleh sepasang mata elang milik Lukas yang sejak tadi memperhatikannya dari dalam mobil karna kebetulan Lukas juga baru selesai makan siang.
Lukas membuka pintu mobil dan membantingnya, dengan wajah memerah dia mendekati Tari.
"Ohh, pantas saja ya kamu menolak makan siang bersamaku, ternyata kamu memilih makan siang dengan laki-laki itu." ketus Lukas suudzon.
Lukas memang mengajak Tari makan siang bareng, tapi karna dia sudah janjian akan makan siang bareng Laura makanya Tari menolak ajakan Lukas.
Tari berbalik saat mendengar suara Lukas yang terdengar marah dibelakangnya.
"Mas Lukas, kenapa mas Lukas ada disini."
"Kenapa Tari, apa kamu tidak suka kalau aku melihatmu saling berpamitan mesra dengan teman laki-lakimu itu."
Tari berusaha untuk menjelaskan, "Mas Lukas salah paham, aku memang makan siang dengan Laura tadi, dan mas Johan menghampiri kami dan ikut bergabung bersama kami, karna Laura balik duluan karna ada urusan mendesak dikantornya makanya Laura meninggalkan kami, aku mau naik taksi mas, tapi karna tidak ada taksi yang kunjung lewat makanya terpaksa aku mau diantar oleh mas Johan." Tari menjelaska panjang lebar-lebar sama Lukas yang sudah ngalah-ngalahin panjangnya artikel berita dikoran dan Tari sangat berharap Lukas mengerti dan memperpanjang masalah sepele ini.
"Oh, jadi nama laki-laki itu adalah Johan ya, nama yang sangat bagus ya Tari, jadi, sudah berapa lama kamu mengenalnya." rongrong Lukas.
"Mas astaga, kenapa sieh mas Lukas kayak gini, laki-laki itu bukan siapa-siapa aku mas, dia hanya rekan kerjaku saat aku masih bekerja di kantor aku yang dulu"
Tapi Lukas kelihatan tidak percaya dengan penjelasan Tari.
Beberapa karyawan yang akan masuk ke kantor melirik mereka sesaat sebelum kembali berjalan masuk, ya gak mungkin mereka menonton secara terang-terangan mengingat Lukas adalah atasan mereka.
"Mas, ini hanya masalah sepele, jadi aku rasa kita tidak perlu ribut tentang hal gak penting kayak gini." ujar Tari kesal karna fikirnya Lukas sangat kekanak-kanakan menuduhnya yang bukan-bukan.
Setelah mengatakan hal itu, Tari berjalan masuk meninggalkan Lukas yang hanya bisa memandang Tari dan hanya bisa menyimpan kekesalannya karna masalah mereka belum kelar Tari sudah main tinggal saja.
"Siapa sieh laki-laki itu sebenarnya, apa benar cuma mantan rekan kerja Tari dulu, laki-laki itu kelihatan menaruh rasa sama Tari." Lukas bermonolog sendiri sebelum dia juga ikut masuk menyusul Tari.
Saat tiba dilantai dimana ruangannya berada, Lukas langsung nyelonong masuk ruangannya tanpa menyapa Tari, dia hanya melirik sesaat sebelum membuang pandangannya.
Tari mendesah berat melihat kelakuan Lukas, "Apa sieh yang ada difikiran mas Lukas, difikirnya aku wanita tukang selingkuh apa."
Tari malas untuk membujuk Lukas, toh dia sudah menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya, fikirnya kalau Lukas tidak percaya dengannya ya sudah, Tari tidak mau ambil pusing akan hal tersebut.
*****
Lukas menghempaskan bokongnya dengan keras dikursi kerjanya, dia fikir Tari akan membujuknya, berusaha untuk menjelaskan untuk membuatnya percaya, eh tahunya Tari malah nyuekin dia gitu aja barusan, gimana dia tidak jengkel coba dia.
Lukas mendengar suara notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya, dengan malas-malasan Lukas meraih benda tersebut dari dalam kantong celananya.
"Mau apa sieh Arin, gambar apaan yang dia kirim." desisnya saat melihat nama Arin yang mengirim pesan.
Meskipun malas untuk melihat gambar yang dikirim oleh Arin, toh Lukas membukanya, dan mata Lukas langsung on saat melihat gambar yang dikirim oleh Arin ternyata itu adalah gambar Tari dan laki-laki yang dilihatnya diparkiran barusan.
Arin : Lihat mas kelakuan calon istrimu, selingkuh dibelakangmu
"Apa-apan ini." Lukas menscrool foto-foto yang dikirim oleh Arin tersebut, foto-foto yang menampilkan Tari yang tengah makan siang berdua dengan Johan disebuah restoran, dibeberapa foto tersebut Tari dan Johan terlihat tersenyum seperti sepasang kekasih yang tengah kasmaran.
"Jadi Tari cuma makan siang berdua doank dengan laki-laki itu, bukan makan siang bertiga seperti yang Tari jelaskan, sial, apa sieh maksud Tari membohongiku." umpat Lukas geram karna dia merasa dibohongi oleh Tari, dia mengepalkan tangannya diatas meja yang membuat buku-buku jari tangannya memutih.
Dengan gerakan kasar dia meraih gagang telpon dimeja kerjanya untuk menghubungi Tari, "Ke ruangan saya sekarang Tari." perintahnya dan meletakkan telpon tersebut setengah membanting.
__ADS_1
****