CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
MENCOBA BAJU PENGANTIN


__ADS_3

"Apa lagi sieh maunya mas Lukas, jangan bilang dia mau membicarakan hal yang tadi, sumpah aku malas banget." dengus Tari sambil berdiri dengan ogah-ogahan dan berjalan menuju ruangannya Lukas.


Tari mengetuk pintu ruangan kekasihnya itu.


"Masuk." suara dingin Lukas terdengar dari dalam.


Tari mendorong kenop pintu, dan Tari bisa melihat wajah dinginnya Lukas, hal itu membuat Tari merasa aneh karna tadi Lukas tidak sedingin itu.


"Mas Lukas kenapa sieh, kok wajahnya jadi dingin begini, perasaan tadi tidak sedingin ini deh." Tari bertanya-tanya dalam hati.


"Duduk Tari." perintah Lukas penuh penekanan.


Tari melakukan apa yang diperintahkan oleh Lukas dengan patuh.


"Jelaskan itu maksudnya apa." Lukas sedikit membanting ponselnya ke hadapan Tari.


Tari yang belum mengetahui duduk perkaranya mengambil ponsel Lukas dan melihat sumber yang menjadi kemarahan Lukas, Tari bahkan sampai mendekatkan wajahnya untuk memastikan apakah foto-foto itu beneran dirinya atau tidak.


"Ini....."


"Sialan, siapa yang telah melakukan ini kepadaku." umpat Tari dalam hati saat melihat foto-foto tersebut.


"Jadi, apa yang terjadi dibalik foto-foto itu Tari, kamu terlihat tersenyum bahagia bersama dengan laki-laki yang tadi mengantarmu." sindir Lukas.


"Siapa yang mengirim foto-foto itu mas." Tari balik bertanya.


"Apa itu hal yang penting untuk kamu ketahui Tari."


Tari mendesah, "Apa yang terlihat difoto tidak seperti kenyataan yang terjadi mas, tapi mas Lukas pasti tidak akan percaya dengan penjelasankukan." karna yakin Lukas tidak akan mempercayai kata-katanya, jadinya Tari memilih diam dan tidak berusaha untuk menjelaskan.


"Jadi, siapa sebenarnya laki-laki itu Tari, kenapa kamu terlihat bahagia bersamanya." Lukas meninggikan suaranya.


"Apa-apaan sieh mas Lukas ini, akukan sudah menjelaskan tadi, kenapa sieh mas Lukas selalu mengulangi pertanyaaan yang sama, heran aku."


Lukas mendesah berat, sumpah dia ingin marah sama Tari, karna sepertinya Tari tidak peduli dengan apa yang dia rasakan, buktinya Tari tidak berusaha membujuknya ataupun berusaha menjelaskan tentang foto-foto itu, hal itu membuatnya bertanya-tanya, apakah sebenarnya Tari benar-benar mencintainya atau tidak.


Hal tersebut ditanyakan dalam bentuk lisan oleh Lukas, "Apa kamu beneran mencintaiku tidak sieh Tari."


Tari dengan cepat menoleh ke arah Lukas, "Kenapa mas Lukas bertanya tentang hal itu, mas Lukas meragukan cintaku."


"Ya wajar saja aku meragukan cintamu Tari, kamu itu tidak peduli padaku, kamu bahkan tidak mau bersusah payah menjelaskan tentang foto-foto itu kepadaku."


"Akukan sudah menjelaskannya tadi mas, foto itu tidak seperti kenyataan yang terjadi, kami makan bertiga dan Laura pamit pergi duluan, dan kalau mungkin mas Lukas lupa, laki-laki yang ada dalam foto itu adalah mas Johan, mantan rekan kerjaku saat masih bekerja di perusahaanku dulu, apa lagi yang mas Lukas perlu ketahui." Tari mengulang kata-katanya waktu diparkiran.


Lukas terdiam, tidak menanggapi ocehan Tari.


"Mas, yang perlu mas Lukas tahu, orang yang mengirim gambar-gambar tersebut berniat untuk menghancurkan hubungan kita mas."


Lukas mendesah berat, kepalanya tiba-tiba terasa pening.


"Untuk apa aku menerima lamaran mas Lukas kalau aku tidak mencintai mas Lukas." Tari melanjutkan, "Dan mas Lukas masih meragukanku dengan mempercayai foto-foto yang bisa jadi menipu itu." jelas Tari emosi, dia kok jadi kesal yang sama Lukas, apalagi Lukas meragukan cintanya, dia fikir kenapa dia mau tidur sama Lukas kalau bukan karna cinta, memangnya dia wanita semurah itu sampai bisa menyerahkan tubuhnya sama semua laki-laki.


"Kalau tidak ada yang mas Lukas akan katakan lagi, sebaiknya aku keluar saja."


Karna tidak kunjung mendapatkan respon dari Lukas, Tari berdiri, fikirnya buat apa dia menjelaskan sepanjang jalan sampai bibirnya berbusa-busa kalau orang yang dia jelaskan tidak percaya dengan penjelasannya.


"Tari." panggil Lukas yang tidak dihiraukan oleh Tari sama sekali, gadis itu terus berjalan membawa kejengkelan dalam hatinya.


Namun belum sampai pada pintu keluar, Tari merasakan ada tangan kokoh yang memeluknya dari belakang.


"Jangan pergi Tari, jangan tinggalkan aku, aku mencintamu."


"Cinta saja tidak cukup mas, dalam sebuah hubungan yang diperlukan adalah kepercayaan, bukannya mas langsung percaya dengan apa yang mas lihat begitu saja."


"Aku minta maaf sayang, kamu benar, seharusnya aku mempercayaimu, bukannya aku meragukanmu seperti ini, maafkanlah aku Tari, jangan tinggalkan aku, aku mohon, aku sangat mencintamu sayang."


Mendengar kata-kata Lukas luluhlah hati Tari yang tadi diselimuti oleh amarah, dia berbalik dan kini posisi mereka saling berhadapan satu sama lain, dengan mata saling beradu, mata tajam Lukas menatap Tari sendu, sangat terlihat jelas kalau Lukas sangat mencintai Tari, dan dia tidak ingin kehilangan gadis itu.


"Maafkan aku yang telah meragukanmu, aku mencintaimu, jangan pernah berniat untuk meninggalkanku."


"Aku juga minta maaf mas, aku juga mencintaimu, percayalah padaku, aku tidak mungkin menduakanmu."


Lukas mengangguk, dia kemudian mencium kening Tari, "Aku tidak mau kehilangan kamu Tari, aku sangat mencintaimu." Lukas kini manarik tubuh Tari dan memeluknya seolah-olah takut Tari akan pergi meninggalkannya.


"Aku juga mencintaimu mas." Tari membalas pelukan Lukas.


*****


"Seharusnya sieh mereka sudah berantem hebat donk ya sekarang, atau lebih tepatnya sieh mereka harusnya putus, itu yang sangat aku harapkan." harap Arin setelah dia mengirim foto-foto tersebut kepada Lukas.


Karna ingin mengetahui kondisi hubungan Lukas dan Tari, Arin sampai bela-belain nongkrong didepan kantor Lukas saat jam pulang kantor, dia ingin melihat secara langsung kondisi hubungan Lukas dan Tari yang hancur berantakan, oleh karna itu sejak tadi senyumnya terus mengembang dibibirnya.


Sayangnya, harapannya tidak sesuai dengan kenyataan saat melihat Tari dan Lukas berjalan beriringan dengan senyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan hubungan mereka.


"Hehh, apa yang terjadi, kenapa mereka terlihat baik-baik saja, apa foto-foto yang aku kirim tidak sampai membuat mereka berantem atau putus, kok bisa sieh mereka terlihat masih tersenyum bahagia begitu." Arin meradang dan memukul stir berkali-berkali, "Brengsek brengsek brengsek." teriaknya penuh amarah, "Kenapa bisa seperti ini, kenapa harapanku tidak sesuai dengan kenyataan." Tari merutuk.


"Oke, kamu tenang Arin, kalau dengan cara ini kamu tidak bisa memisahkan mereka, masih banyak cara lain yang bisa kamu lakukan, intinya, jangan biarkan mereka bersama dan menari diatas penderitaanmu oke."


Arin tidak mau menyerah begitu saja, dia akan mencari cara untuk memisahkan Lukas dan Tari, dia berjanji pada dirinya sendiri.


******


"Ya ma, aku dan Tari akan kesana."


"......."


"Iya ma, mama tunggu saja disana oke, kami akan segera datang."


"......."


"Oke ma, bye."


Lukas menutup sambungan telponnya, tadi mamanya menelpon untuk memintanya dan Tari datang ke butik untuk fiting baju pengantin.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya Tari." membayangkan hal tersebut membuat senyum Lukas mengembang.


****


Saat ini Tari dan Chacha berniat untuk makan siang bareng, mereka juga sudah siap untuk berdiri saat pintu ruangan Lukas terbuka dan tanpa basa-basi dia langsung berkata, "Sayang, mama menyuruhnya kita untuk menyusulnya ke butik tante Inez untuk fiting baju pengantin."

__ADS_1


Chacha langsung memutar lehernya dengan cepat ke arah Tari, gadis itu tentu saja shock mendengar kata-kata Lukas barusan, dia berharap Tari bisa menjelaskan apa maksud dari kata-kata Lukas barusan, namun sayangnya rasa penasarannya harus menunggu karna Lukas kini mendekati mereka.


"Ayok sayang, mama sudah menunggu kita dibutik." Lukas melingkarkan tangannya pinggang Tari dengan posesif seolah-olah memberitahu kepada dunia kalau Tari adalah miliknya.


Tari yakin, dia pasti akan dicecar habis-habisan lewat chat oleh Chacha, lihat saja pandangan gadis itu yang menatapnya penuh dengan keingintahuan.


"Cha, aku...."


"Pergi saja Tari." ujar Chaca.


"Maaf ya Chacha, Tarinya saya pinjem dulu."


"Tentu saja pak Lukas, bawa saja Tari pergi, bapak lebih membutuhkannya."


"Kamu benar-benar pengertian Chacha."


"Ayok sayang kita pergi sekarang."


"Ya Tuhan, pak Lukas ini kenapa bikin baper yang jomblo sieh, mesra banget deh." komen Chacha dalam hati.


"Mas, bisa tidak jangan peluk kayak gini, gak enak dilihat."


"Kamu itu, padahal sebentar lagi akan menjadi istriku masih saja malu seperti ini."


"Apa, sejak kapan sieh sebenarnya mereka menjalin hubungan, kenapa tiba-tiba sudah menjadi calon istri, sik Tari, ternyata diam-diam menghanyutkan ternyata." Chacha bercloteh dalam hati.


"Ayok sayang, nanti mama marah lagi karna kelamaan menunggu."


"Mmm, baiklah ayok."


"Aku pergi dulu ya Cha." pamit Tari.


"Iya Tari."


Chacha tidak mengalihkan perhatiannya dari punggung Lukas dan Tari yang semakin menjauh.


"Tari punya hutang penjelasan sama aku."


*****


Mama Lili memeluk Tari begitu Tari dan Lukas memasuki butik.


"Hai sayang." sapanya hangat


"Hai ma."


Kedua gadis itu bercupika-cupiki, suatu hal yang bisa dikatakan sebagai kewajiban saat para wanita bertemu.


"Ma." Lukas memeluk mamanya.


"Kamu tambah cantik saja Tari, kamu pasti akan bertambah cantik nantinya dalam balutan baju pengantin."


"Terimakasih ma."


"Ayok ayok, apa lagi yang kalian tunggu, ayok kita lihat baju pengantinnya." antusias mama Lili menggandeng tangan Tari dan membawanya masuk ke sebuah ruangan khusus.


"Ayok silahkan masuk calon pengantin." sambut pemilik butik dengan ramah sekaligus desainer yang merancang baju-baju pengantin.


"Tidak sangka ya Lili, putramu sebentar lagi akan menikah, dan sebentar lagi kamu sudah akan menjadi nenek lho."


Mama Lili terkekeh menanggapi ucapan pemilik butik yang juga merupakan sahabatnya itu, "Meskipun aku akan menjadi nenek-nenek, tapi aku tetap cantikkan Inez."


Inez terkekeh mendengar clotehan sahabatnya itu, "Masalah cantik, memang tidak ada yang bisa mengalahkan kamu Lili, kamu masih yang paling cantik."


"Lha, kok kita jadi sibuk sendiri, mana baju pengantin yang harus dicoba oleh calon menantuku dan putraku Inez."


Inez menunjuk sebuah gaun cantik yang ada ditubuh menekin, dan satunya lagi pakaian untuk pria yang tentu yang akan dikenakan oleh Lukas.


Tari sangat takjub melihat pakaian pengantin tersebut, gaun berwarna putih dan mengembang dibagian pinggang ke bawah, dua kata yang mendeskripsikan gaun itu, sangat cantik.


"Gaun itu sangat cantik sayang, pasti akan sangat cantik saat kamu mengenakannya nanti." bisik Lukas, "Aku sudah tidak sabar melihat kamu mengenakannya."


Tari hanya tersipu mendengar ucapan Lukas.


"Cantik sekali Inez, aku memang benar-benar tidak salah memintamu untuk merancang gaun pernikahan untuk calon menantuku, rancanganmu selalu tidak pernah gagal."


Inez tersenyum bangga mendapat pujian dari pelanggannya sekaligus juga sahabatnya itu.


"Ayok Tari, Lukas, kenapa kalian malah bengong, coba gaunnya, mama sudah tidak sabar melihat kamu dalam balutan gaun tersebut."


Inez meminta dua karyawannya untuk membantu Tari mengenakan gaun tersebut, sedangkan Lukas tentu saja tidak butuh bantuan.


Yang namanya laki-laki, tidak butuh waktu lama untuk mengenakan pakain yang saat ini dicoba, dan begitu selesai mengenakan pakain yang akan dia kenakan saat nanti di hari pernikahannya, Lukas keluar untuk memperlihatkannya sama mamanya.


"Gimana ma."


Mama Lili yang tadi sibuk berbalas pesan dengan suaminya menoleh pada putrnya, dia tersenyum saat melihat apa yang melekat pada tubuh putranya itu sangat pas membungkus tubuh atletis Lukas yang membuat aura ketampanan Lukas semakin terpancar, mama lili berdiri menghampiri putranya tersebut.


"Putra mama, tampan sekali, rasanya baru kemarin mama mandiin kamu dan menggendong kamu, dan sekarang kamu sudah akan menikah saja." mama Lili terharu bahkan dia sampai menitikkan air mata.


"Jangan nangis donk ma, mama ini ada-ada saja, putranya mau menikah mama malah menangis."


"Ini air mata bahagia Lukas." mama Lili menghapus air matanya yang mengalir deras.


"Aduh mamaku cengeng sekali." Lukas meraih tubuh mamanya dan memeluk mamanya.


"Anakku ini sudah sangat dewasa, waktu begitu sangat cepat berlalu tanpa terasa."


Dan kini giliran Tari yang keluar dari kamar pass, Tari terlihat malu-malu.


"Mmm, mas Lukas, mama." panggilnya untuk menarik perhatian dua orang tersebut.


Lukas dan mama Lili yang saat ini tengah berpelukan mengurai pelukan mereka satu sama lain, ibu dan anak itu sama-sama takjub saat melihat Tari dalam balutan baju pengantin yang membungkus tubuh langsing Tari.


"Tari." mama Lili mendekat, matanya memandang Tari dengan penuh kekaguman, "Ya Tuhan, apa bener ini calon menantuku, kamu begitu sangat cantik Tari."


Tari tersenyum malu, "Mama bisa saja."


"Sayang, lihat calon istrimu, bukankan dia begitu sangat sempurna, dia sudah seperti bidadari yang baru turun dari kahyangan."

__ADS_1


Lukas hanya mengangguk membenarkan kata-kata mamanya, dia memang tidak berkata-kata, tapi matanya sangat jelas mengatakan kekagumannya.


"Lukas sampai tidak berkedip menatapmu Tari." goda mama Lili yang semakin membuat wajah Tari bersemu.


"Lukas, ayok berdiri didekat Tari, mama akan mengambil gambar kalian."


Tari yang malu jelas menolak, "Gak usah ma, jangan."


"Kok gak usah sieh, harus ambil gambar donk." mama Lili tidak menerima penolakan ternyata, "Apa yang kamu tunggu Lukas, sana berdiri disamping calon istrimu."


Lukas menurut dan berjalan mendekati Tari, "Kamu sangat cantik sayang." Lukas berbisik tepat ditelinga Tari, sapuan nafas hangat Lukas membuat Tari merasa geli.


Lukas menarik pinggang, Tari supaya mereka berdekatan, "Fotonya harus dekat-dekat, masak jauh-jauhan kayak orang musuhan saja."


Sementara itu mama Lili mengintruksi, "Senyum yang manis, supaya gambarnya bagus."


"Senyum sayang."


"Oke, ganti gaya."


Dan Lukas dan Tari terpaksa menuruti keinginan mama Lili dan berpose dengan berbagai gaya, dan setelah mengambil beberapa gambar, mama Lili memperlihatkan hasil jepretannya kepada pasangan tersebut.


"Bagus ma hasilnya." Lukas memuji hasil jepretan mamanya.


"Mama gitu lho." mama Lili membanggakan diri.


"Kirim ya ma."


"Dikirim ke Tari juga ya ma."


"Tadi saja pada gak mau." sindir mama Lili yang membuat Tari tersenyum simpul.


*****


"Jadi, gak ada yang mau dishare nieh non, diem-diem waee." ujar Chacha saat mendekati meja Tari dan duduk dikursi yang berhadapan dengan Tari, sepertinya sesi introgasi akan mulai dilakukan.


"Gak ada yang perlu dishare Cha."


"Aku kepo setengah mati dan kamu bilang gak ada yang perlu dishare, ayoklah, aku menunggu kamu kembali dengan pak Lukas sudah seperti menunggu berbulan-bulan tahu gak."


Tari yang sibuk dengan leptopnya terpaksa menghentikan kesibukannya untuk sementara karna dia tidak mungkin konsentrasi bekerja saat Chacha terus mengintrogasinya begini.


"Oke Chacha, apa yang ingin kamu ketahui."


"Buaaanyakk, yang pertama, sejak kapan kamu dan pak Lukas menjalin hubungan." pertanyaan pertama dari bibir Chacha.


"Pada saat ulang tahun sekaligus perayaan aniversary pernikahan mama Lili dan papa Sebastian."


"Omj, sudah mulai panggil mama dan papa nieh ceritanya."


"Hmmm, begitulah." Tari tesenyum simpul.


"Idihh yang sebentar lagi menikah, bawaannya senyum terus."


"Ya jelas aku senyum donk, kan aku lagi bahagia."


"Bikin iri saja."


Chacha tidak sengaja melihat tangan Tari yang tergeletak dimeja dan tentunya dia melihat cincin emas putih bertahtakan berlian yang tersemat dijari manis Tari.


"Ohh my god." Chacha sampai membekap bibirnya.


"Kamu kenapa Cha."


"Apa itu cincin yang digunakan oleh Lukas untuk melamarmu Tari." Chacha menunjuk cincin yang di jari Tari.


"Iya."


"Coba lihat coba lihat." Chacha meraih tangan Tari dan memperhatikan cincin tersebut dari tangannya, "Sumpah cantik banget, pasti nieh cincin harganya selangit." Chacha memandang cincin Tari dengan muka mupeng, "Pasti bahagia banget ya Tari kalau dilamar oleh orang kaya, dilamarnya pakai cincin mahal."


Tari terkekeh, "Kamu mau juga Cha, makanya cari suami orang kaya gieh, agar nanti dilamar dengan cincin mahal."


"Duhhh jangan ngeledek aku deh Tari, wajah standar kayak wajahku adalah tipe wajah yang tidak diminati oleh orang kaya.".


Tari tertawa mendengar clotehan Chacha, "Chacha Chacha, kamu ada-ada saja, aku saja berwajah biasa tapi dapatnya orang kaya."


"Kamukan cantik Tari, wajar sieh pak Lukas suka sama kamu."


"Sudah deh, kenapa malah ngebahas masalah fisik sieh."


"Oke, kembali ke topik, kapan pak Lukas melamar kamu."


"Di Bali, waktu kami melakukan perjalanan bisnis, dia membooking restoran untuk melamar aku, pokoknya romantis banget deh."


Cerita Tari tersebut membuat Chacha gigit jari, pasalnyakan dia juga ingin seberuntung Tari.


"Kamu membuatku tambah iri saja Tari."


Tari terkikik melihat wajah rekan kerjanya yang terlihat nelangsa.


"Tari, aku diundangkan nanti."


"Kalau aku ingat." goda Tari


Chacha memberengut, kesal dia mendengar jawaban Tari meskipun itu cuma bercanda.


"Elahh ngambek, cuma bercanda kali, sudah pasti nanti kamu akan aku undang."


"Benar ya."


"Iya pasti Cha, masak sieh aku gak ngundang teman aku sendiri."


"Ukhhh, akhirnya kamu akan melepas masa lajangmu juga Tari."


"Mas janda Cha, kamu gak ingat apa kalau aku ini janda."


"Ahh iya, janda kembang kesayangan presdir."


Tari terkekeh, "Kayak judul novel di aplikasi novel online saja."

__ADS_1


"Haha, benar juga."


*****


__ADS_2