
Tari memasuki mobil yang merupakan mobil milik mama Lili, karna ini hari minggu dan Tari libur bekerja, calon ibu mertuanya itu mengajak Tari untuk ikut arisan bersamanya sekaligus dia ingin memperkenalkan Tari dengan teman-teman arisannya.
"Maaf ya ma lama." ucap Tari saat memasuki mobil.
"Gak apa-apa sayang."
"Ayok Agung berangkat."
"Baik bu."
Pak Agung menjalankan mobilnya menuju tempat dimana para ibu-ibu sosialita sering berkumpul hanya sekedar untuk arisan.
"Mama ingin memperkenalkan kamu sama teman-teman arisan mama Tari, kamu tidak keberatankan."
"Tentu saja tidak ma."
Mobil yang dikendarai oleh pak Agung memasuki area restoran mewah dan berhenti diparkiran, pak Agung keluar untuk membukakan pintu untuk sang nona.
"Silahkan nyonya."
"Kamu tunggu disini ya Agung sampai kami selesai."
"Baik bu."
"Ayok sayang kita masuk." ajak mama Lili.
"Iya ma."
Mama Lili dan Tari berjalan bersisian memasuki restoran.
Terlihat seseorang melambai ke arah mama Lili saat mereka sudah memasuki restoran, mama Lili balas melambai.
"Ayok sayang, itu adalah teman-teman mama." mama Lili menunjuk ke arah genk sosialitanya untuk memberitahu Tari.
"Iya ma."
Mama Lili yang diikuti oleh Tari berjalan mendekati perkumpulan ibu-ibu sosialita tersebut.
"Hai jenk." para wanita itu saling menyapa satu sama lain dan seperti biasa wajib yang namanya cupika-cupiki.
"Aduhh jenk Lili ini makin cantik saja, makin awet muda gitu lho." wanita bernama Merry memuji.
"Jenk Merry bisa saja, jenk juga cantik banget lho."
"Ahh bisa saja jenk ini."
"Siapa wanita muda dan cantik yang bersama dengan jenk Lili ini." wanita bernama Lisa bertanya.
"Ohh astaga, sampai lupa lho aku." mama Lili tersenyum ke arah Tari dan memperkenalkannya, "Kenalkan jenk, ini adalah Tari, dia adalah calon menantuku, calon istri putraku." mama Lili memperkenalkan dengan bangga.
"Oh astaga, putra jenk akan menikah toh, selamat ya jenk."
"Terimakasih lho jenk Lisa."
"Aduhh, calon menantunya cantik sekali jenk."
Tari hanya tersenyum simpul dipuji oleh teman-teman calon mama mertuanya itu.
"Terimakasih jenk, selain cantik Tari ini juga cerdas lho, dia adalah lulusan terbaik lho dikampusnya." mama Lili memberi pujian.
"Beruntung sekali ya jenk mendapatkan menantu seperti Tari, sudah cantik, cerdas lagi, pintar sekali Lukas memilih calon istri."
"Iya jenk, sayang memang beruntung."
"Ehh kenapa malah berdiri jenk, ayok duduk jenk, Tari." jenk Cantika mempersilahkan.
"Ayok sayang duduk."
"Iya ma."
"Wahh Tari sudah memanggil jenk Lili dengan panggilan mama toh."
"Iya jenk, toh juga sebentar lagi akan jadi anak benerankan." kekeh mama Lili
"Iya benar juga."
"Maaf ya jenk-jenk, saya lama di toiletnya, tidak ada sesuatu yang saya lewatkan kan." seorang wanita cantik, anggun dan tampak berkelas datang tiba-tiba.
Mendengar suara itu, Tari refleks mendongak dan tatapannya bertemu dengan wanita baru yang datang itu yang membuat Tari terkejut, tidak hanya Tari, wanita itupun tidak kalah terkejutnya saat melihat Tari, wanita itu adalah mama Cellin, mantan ibu mertua Tari.
"Mama Cellin." gumam Tari dalam hati, Tari tidak menyangka dia akan bertemu dengan mama Cellin, padahalkan Jakarta sangat luas.
"Gadis ini, ngapain dia disini." mama Cellin tidak lepas memperhatikan Tari dengan tajam.
Tari hanya bisa menunduk, tidak mau bersitatap dengan mata menakutkan mama Cellin yang selalu memandangnya dengan tatapan merendahkan.
Jenk Lisa yang melihat tatapan Cellin yang terus terpaku sama Tari menjelaskan, "Gadis muda dan cantik ini calon menantu jenk Lili lho jenk Cellin."
"Apa, dia calon menantunu jenk."
Mama Lili membenarkan, "Iya jenk, ini adalah Tari calon menantuku."
"Apa, jadi gadis ini adalah calon menantu dari keluarga Pangestu, kenapa keluarga Pangestu mau menerima gadis miskin yang hanya menginginkan harta mereka."
"Jenk Lili, apa jenk tidak salah, gadis itu beneran adalah calon menantu jenk."
"Iya jenk, sebentar lagi dia dan putraku akan menikah."
"Jangan lupa undangannya lo jenk." jenk Merry menimpali.
"Tentu saja, saya pasti akan mengundang jenk-jenk semuanya."
"Putraku meninggal gara-gara dia, sedangkan dia sekarang menikmati hidupnya dengan baik tanpa rasa bersalah sedikitpun, bahkan dia akan menikahi putra dari pengusaha kaya, bahagia sekali hidup gadis ini, tidak seperti putraku yang malang, seharusnya dia yang mati dalam kecelakaan itu, bukan putraku, putra semata wayangku yang malang. Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan gadis yang telah membunuh putraku hidup bahagia, aku tidak rela melihatnya hidup bahagia sedangkan putraku harus pergi untuk selamanya." jeritan hati mama Cellin.
"Jenk Lili, apa ini jenk tidak salah memilih calon menantu."
Tari yang sejak tadi menunduk karna tidak mau bertatapan dengan mama Cellin mendongak menatap wanita itu.
"Apa maksudmu jenk." mama Lili bertanya.
"Ohh, jadi memang benar ternyata jenk Lili benar-benar tidak tahu menahu tentang masa lalu gadis yang jenk bangga-banggakan akan menjadi calon menantu jenk ini."
"Tante." Tari buka suara untuk pertama kalinya, dia tentunya tidak ingin mama Cellin membeberkan tentang masa lalunya dihadapan teman-teman mama mertuanya, "Bisa tidak tante menutup mulut tante."
Mama Lili memandang Tari dan mama Cellin bergantian, dia penasaran, sepertinya ada sesuatu diantara calon menantunya ini dan genk sosialitanya tersebut.
"Ini ada apa seih sebenarnya, apa sebelumnya kalian sudah saling mengenal." mama Lili menyuarakan keheranannya.
"Tentu saja aku mengenal calon menantumu ini dengan baik jenk Lili."
"Tante, aku harap tante bersikap bijak, jangan ungkit-ungkit masa lalu." suara Tari terdengar menghiba, dia berbarap calon ibu mertuanya itu menutup bibirnya dan jangan mengungkit hal yang sudah terjadi di masa lalu.
Tapi mama Cellin tidak memperdulikan kata-kata Tari, intinya, dia tidak ingin melihat Tari bahagia, dia ingin melihat Tari menderita mengingat putranya pergi untuk selamanya gara-gara Tari, (Padahal Tari tidak melakukan apa-apa dimalam peristiwa nahas itu terjadi, yang menyetirpun adalah Adam, dan kenapa Tari yang disalahkan oleh keluarga Adam atas peristiwa malam itu, jawabannya adalah karna mereka tidak menyukai Tari dan menganggap Tari sebagai gadis pembawa sial yang menyebabkan putra mereka sampai meninggal diusia muda dalam peritiwa kecelakaan tersebut.)
Ibu-ibu sosialita lainnya kini fokus menyimak.
"Aku tidak mengerti, kenapa bisa kalian saling mengenal." mama Lili masih bingung dengan semua ini.
__ADS_1
"Jangan terkejut saat aku memberitahumu jenk Lili tentang masa lalu gadis ini."
"Tante..." Tari meratap dengan putus asa, sayangnya ratapannya tidak dihiraukan sama sekali.
"Dia adalah istri dari almarhum putraku."
Semua yang ada disana, termasuk mama Lili terkejut mendengar fakta tersebut.
Tari hanya bisa menunduk, dia pasrah, pasrah tentang apa yang difikirkan oleh orang-orang tentang dirinya.
"Apa, Tari adalah istri dari almarhum putramu."
Mama Cellin menganguk pasti, "Asal kamu tahu jenk, gadis ini pembawa sial, dialah yang menyebabkan putraku meninggal."
Semua mata menatap ke arah Tari, tatapan menuduh, kecuali mama Lili tentunya.
"Tidak, itu tidak benar." Tari berusaha membela diri, dia tidak terima difitnah begitu saja oleh mama Cellin, "Aku dan mas Adam mengalami kecelakaan, aku berhasil selamat, sedangkan mas Adam...mas Adam tidak bisa diselamatkan." diingatkan tentang masa lalu membuat Tari tidak kuasa membendung air matanya, cairan bening itu jatuh membasahi pipinya.
"Putraku tidak akan mati kalau tidak menikahimu Tari, putra kesayanganku harus meninggal gara-gara kamu, dasar gadis pembawa sial." mama Cellin kini mengeluarkan hal yang terus mengganjal dibenaknya.
"Cukup jenk, hentikan ocehanmu itu." sahut mama Lili dengan suara meninggi, dia tidak terima Tari dihina didepannya, "Tari bukan gadis seperti itu, dia adalah gadis yang baik, dan dia adalah gadis pilihan putraku, dan kamu, tidak memiliki hak untuk menghinanya."
"Aku hanya mengingatkanmu jenk agar putramu tidak bernasib sama seperti putraku."
"Kamu jangan mengada-ngada, mana ada orang pembawa sial, putramu meninggalkan karna memang itu sudah takdirnya." bantah mama Lili, "Jadi jenk Cellin, aku peringatkan kamu, jangan pernah katakan kalau Tari adalah gadis pembawa sial."
Dua wanita sosialita itu saling adu mulut.
"Terserah kamulah, yang penting aku sudah mengingatkan kamu."
"Terimakasih karna telah memperingatkanku, tapi aku tidak percaya calon menantuku ini pembawa sial, bahkan aku yakin dia akan membawa keberuntungan untuk keluargaku."
"Sudah jenk, jangan pada berantem, gak enak itu dilihatin oleh orang-orang, bukannya kita disini untuk arisan." jenk Merry berusaha untuk melerai.
"Aku sudah tidak berminat untuk ikut arisan, aku sangat malas disini." mama Cellin meraih tasnya dan meninggalkan tempat tersebut dengan terburu-buru.
"Jenk...jenk Cellin." jenk Lisa memanggil, sayangnya panggilannya tidak dihiraukan sama sekali.
"Sudahlah jenk, biarkan wanita itu pergi dari sini, toh tanpa dia acara tetap masih bisa berlanjutkan, daripada dia disini kerjaannya mitnah Tari terus."
"Ya sudah yuk, mending kita mulai saja acara arisannya."
****
"Lho, kenapa pulang arisan wajah mama jadi bete begini." komen papa Sebastian saat melihat wajah istrinya ditekuk.
Mama Lili menjatuhkan bokongnya disamping suaminya.
"Sebel banget mama pa."
"Sebel kenapa sieh ma."
"Itu lho pa, istrinya sik Atta, rekan bisnismu itu, dia menghina Tari habis-habisan didepan teman-teman arisan mama, masak dia bilang calon menantu kita gadis pembawa sial, ingin rasanya mama menjambak rambutnya dan menampar mulutnya yang kurang ajar itu."
"Dia mengatakan Tari gadis pembawa sial, memang kenapa dia bilang begitu ma." tentu saja papa Sebastian sudah tahu kalau Tari adalah mantan menantu dari keluarga Wijaya Lukaslah yang menceritakannya
"Dia bilang, gara-gara Tari putranya meninggal, benar-benar tidak masuk akal."
"Kalau dia tidak suka sama Tari, dia gak perlu menjelek-jelekkan Tarikan bisa, kasihankan Tari, dia jadi sedih."
"Sudahlah ma, yang pentingkan kita tidak terpengaruh dengan kata-kata sik Cellin itu."
"Hmmm, papa benar, Tari adalah gadis yang baik, dan mama yakin dia bisa membuat putra kita bahagia."
"Papa juga yakin akan hal itu."
"Mama sebaiknya sana gieh mandi, agar emosinya mereda."
"Ya sudah pa, mama ke kamar dulu, mandi untuk menjernihkan fikiran mama yang mumet." mama Cellin berjalan menuju kamarnya.
Saat mamanya sudah memasuki kamar, Lukas datang menghampiri papanya, "Mama kenapa pa."
"Saat mamamu mengajak Tari ikut arisan, Tari bertemu dengan mantan mama mertuanya di acara arisan yang diikuti oleh mamamu."
"Hah, terus gimana pa." kejar Lukas
"Yahh, seperti suaminya yang dulu menghina Tari, sik Cellin itu juga berusaha menjelek-jelekkan Tari didepan teman-teman mamamu dengan mengatakan kalau Tari adalah gadis pembawa sial." beritahu papa Sebastian.
Lukas mengepalkan tangannya, sumpah rasanya dia sangat marah mendengar cerita papanya.
"Terus pa."
"Ya mama kamu tidak tinggal diam, dia berusaha membela Tari."
"Gak suami, gak istrinya, mereka sama saja, kenapa sieh mereka harus mengusik hidup Tari dan menyalahkan Tari atas apa yang terjadi di masa lalu, padahalkan itu sudah sangat lama, tidak bisakah mereka berdamai dengan masa lalu."
"Sudahlah Lukas, yang pentingkan mamamu berhasil membungkam bibir Cellin itu."
"Hmmm." Lukas berdiri dan berniat ke kamarnya.
"Lukas, kenapa kamu pergi, duduklah temenin papa disini."
"Gak bisa pa, Lukas ingin menghubungi Tari."
"Dasar anak muda, padahal sudah seharian bertemu dikantor apa itu tidak cukup apa, dan sekarang malah mau telponan segala lagi." papa Sebastian menggeleng.
*****
Panggilan Lukas dijawab pada deringan pertama oleh Tari.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja."
"Mas sudah mendengar ceritanya dari mama."
"Iya, papa yang menceritakannya sama aku."
Lukas mendengar suara isakan Tari, "Sayang, apa kamu menangis."
"Hmmm, aku hanya sedih mas, kenapa keluarga mas Adam masih saja mengusik kehidupanku." curhat Tari.
"Apa kamu ingin aku kesana Tari."
"Hmmm."
"Baiklah, tunggu aku, aku akan menemuimu."
"Mas Lukas, ini sudah malam, mas Lukas tidak perlu kemari."
"Tapi aku ingin, aku ingin menghibur calon istriku, aku tidak ingin calon istriku bersedih.".
"Baiklah kalau mas memaksa, hati-hati ya mas, aku menunggumu."
"Love you sayang, aku akan segera menemuimu."
"Love you to mas."
Begitu memutus sambungan, Lukas bergegas meraih jaketnya.
__ADS_1
Saat dia berjalan melewati papanya diruang tamu, papanya menegurnya, "Lho, kamu mau kemana Lukas."
"Menghibur calon istriku pa."
Papanya kembali menggeleng, "Dasar anak muda."
Dengan diantarkan oleh pak Agung, Lukas tiba dirumah Tari, Tari menyambutnya saat dia dia tiba.
"Mas Lukas."
Lukas langsung meraih tubuh Tari dan membawanya dalam pelukannya, karna sejatinya, wanita disaat bersedih yang dia butuhkan adalah sebuah pelukan dari laki-laki yang dia cintai.
Lukas membawa tubuh Tari masuk kedalam, dan dengan masih berpelukan Lukas membawa Tari duduk diruang tamu.
"Tenanglah sayang, aku disini untukmu, jangan menangis lagi oke."
"Terimkasih mas."
"Terimakasih untuk..."
"Karna mas Lukas dan keluarga mas Lukas mau menerimaku tanpa melihat masa laluku."
"Tentu saja sayang, masa lalu telah berlalu, hal yang harus kita lakukan sekarang adalah fokus menatap masa depan."
"Aku sangat beruntung mengenalmu mas Lukas, kamu benar-benar menerimaku tanpa syarat."
"Bukankah cinta memang seharusnya memang begitu, menerima tanpa syarat."
"Mas Lukas benar."
"Tari, kamu jangan khawatir, aku akan selalu ada untukmu."
"Iya mas, aku tahu."
"Kamu sangat berharga untukku, aku tidak suka melihat kamu menangis kayak gini." Lukas mengahapus air mata Tari.
"Apa kamu mau jalan-jalan."
"Ini sudah malam mas, kita mau kemana malam-malam begini."
"Mungkin kamu mau nonton mungkin, lagiankan ini masih jam 08.09."
Tari menggeleng, "Aku mau dirumah saja mas, aku malas pergi keluar."
"Ya sudah kalau kamu gak mau, aku akan menemanimu disini."
Tari mengangguk.
"Mas Lukas, menginaplah disini malam ini."
"Tidur bersama maksudmu."
Tari menggeleng, "Mas Lukas itu fikirannya mesum melulu deh."
"Habisnya kamu menyuruh aku menginap disini."
"Ya maksud aku, aku tidur didalam, dan mas Lukasnya tidur dikamar bekas kamar ayah gitu."
"Oke baiklah, itu juga lebih baikk kok."
"Mas, aku belum ngantuk."
"Iya terus."
"Bagaimana kalau kita nonton."
"Boleh."
"Aku ambil leptop dulu ya mas."
Lukas mengangguk.
Gak lama Tari kembali keluar dengan membawa leptopnya.
"Mas mau nonton film apa." tanya Tari.
"Super hero deh."
"Kok super hero sieh, mana seru itu mas."
"Ya serulah Tari, emang film yang seru menurut kamu itu film apa sieh."
"Drama korea."
"Dimana sieh letak serunya drama korea."
"Kan cowoknya cakep-cakep mas, jadi betah gitu ngelihatnya."
"Astaga Mentari, orang itu kalau nonton film yang dilihat jalan ceritanya menarik atau tidak, bukan pemainnya cakep atau tidak."
"Iya pemainnya dulu mas yang dilihat, kalau pemainnya cakep-cakep, baru deh semangat nontonnya."
Lha ini malah berdebat tentang cakep atau tidak pemeran dalam film yang mereka tonton.
"Ya deh terserah kamu deh Tari, ayok cepat buka leptopnya."
Tari meletakkan leptopnya dimeja dan membukanya.
"Jadinya mau nonto film apa nieh mas."
"Ngapain sieh kamu pakai nanya segala kalau kamu pada akhirnya tidak akan menuruti keinginanku."
"Iya iya, benar juga."
"Kita nonton drama korea saja ya mas."
"Hmmm, terserah kamu saja, yang penting bisa membuat kamu happy."
"Kamu benar-benar laki-laki yang sangat pengertian mas Lukas, beruntungnya aku punya calon suami yang seperti kamu." puji Tari.
"Hmm."
"Tunggu sebentar ya mas, aku buatin teh sekalian aku mau ambilkan cemilan agar seru nontonnya."
"Iya."
Tari berjalan menuju dapur, dan gak lama kemudian dia keluar dengan mambawa apa yang dia ambil.
Setelah filmnya dimulai, Tari duduk disamping Lukas, Tari meraih tangan kekasihnya itu dan melingkarkannya dibahunya.
"Terimakasih mas Lukas karna telah mau datang dan menemaniku."
"Apapun akan aku lakukan untukmu, supaya aku selalu bisa melihat senyum manismu."
"Dasar gombal."
"Mana pernah aku gombal, aku hanya menyuarakan apa yang aku rasakan."
__ADS_1
"Hmmm." gumam Tari kini perhatiannya terpusat pada layar leptop.
*****