CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
LUKAS


__ADS_3

Hawa meletakkan tangannya diatas tangan sang adik yang tergeletak pasrah di atas meja dan menepuk-nepuknya.


"Kamu jangan khawatir Adam, kakak akan berusaha membantumu." Hawa mencoba menghibur adiknya yang terlihat frustasi.


"Tapi mana ada mbak perusahaan yang mau nerima aku tanpa ijazah." keluhnya.


"Ijazah itu cuma formalitas doank Adam, yang pentingkan kemampuan kamu."


"Ahh mbak ada-ada saja, meskipun memiliki kemampuan, tapi mana ada perusahaan yang mau menerima pegawai tanpa ijazah." Adam mendesah, entah apa yang harus dia lakukan tanpa ijazah.


Hawa juga membenarkan sieh apa yang dikatakan oleh adiknya, ijazah memang diperlukan saat melamar pekerjaan.


"Mbak sudah tanya-tanya beberapa teman-teman mbak tentang lowongan pekerjaan, tapi saat ini memang belum ada, nanti mbak hubungin teman mbak yang lainnya, dan mbak jelaskan tentang kemampuan kamu sehingga tidak perlu melamar tanpa membawa ijazah segala."


Adam hanya mendesah tidak yakin, wajahnya terlihat sendu sekarang, kalau gak punya pekerjaan, dia mau kasih Tari makan apa.


"Sudah jangan bermuram durja begitu, kan ada mbak yang selalu ada untuk kamu, pokoknya mbak akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu kamu oke."


Adam tersenyum tipis menanggapi ucapan kakaknya, dia sangat bersyukur punya kakak perempuan yang begitu pengertian dan tidak ikut-ikutan membencinya.


"Terimakasih mbak, mbak benar-benar kakak yang baik."


"Seorang kakak memang sudah seharusnya doank baik sama adiknya."


"Iya, mbak benar."


"Ohh ya, Tari apa kabarnya Adam, kenapa kamu tidak ajak dia ikut ketemu sama mbak."


"Tari kabarnya baik mbak, saat ini dia tengah melakukan wawancara kerja disebuah perusahaan."


"Semoga saja dia diterima." harap Hawa.


Kata-kata kakaknya itu membuat Adam nelangsa, pasalnya kalau Tari bekerja, terus apa yang akan dia lakukan, gak mungkinkan dia hanya tidur dan dinafkahi oleh istrinya, Adam menggeleng, intinya dia tidak boleh berpangku tangan, dia harus berusaha meskipun tanpa ijazah.


Hawa mengeluarkan dompetnya, dari dalam sana Hawa mengeluarkan sebuah kartu dan menyodorkannya dihadapan adiknya.


Adam hanya menatap kakaknya untuk meminta penjelasan maksud dari kakaknya menyodorkan benda tersebut kepadanya.


"Kamu bawa kartu punya mbak ya, siapa tahu kamu membutuhkannya." jelas Hawa begitu sangat tulus membantu adiknya.


Adam memang butuh, sangat butuh malah, apalagi bisa dibilang dia keluar dari rumah orang tuanya dengan tangan kosong, sehingga untuk beberapa hari ini, Tarilah yang menanggung beban rumah tangga yang seharusnya ditanggung olehnya, Adam malu sebenarnya, tapi apa yang bisa dia lakukan, yang dia harapkan adalah mendapatkan ijazahnya kembali atas bantuan kakaknya supaya dia bisa mendapatkan pekerjaan dan bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Tari, sayangnya, ternyata kakaknya gagal membawa apa yang dia inginkan.


Adam kembali mendorong kartu tersebut dihadapan sang kakak, meskipun butuh, rasanya dia tidak enak menerima uluran bantuan kakaknya tersebut, "Gak mbak, itu punya mbak dari mas Irfan, aku gak berhak untuk menggunakan uang mbak." tolaknya.


Hawa mengambil kartu tersebut dan menjejalkannya ditangan Adam, "Kamu gak perlu merasa tidak enak begitu Adam sama mbak, mbak ini adalah kakakmu, kita bersaudara lho, kalau kamu tengah kesusahan, mbak juga ikut merasakannya, jadi, kamu terima ya."


"Maafkan aku mbak, gara-gara aku mbak harus juga ikut susah."


"Bukan begitu Adam maksud mbak, hanya saja, masak iya mbak tega melihat kamu tanpa pegangan apapun, jadi kartu ini kamu pegang dulu ya, siapa tahu sewaktu-waktu kamu butuh, kamu bisa mengembalikannya kalau sudah dapat kerjaan."


"Tapi mas Irfan."


"Tidak usah fikirkan kakak iparmu itu, memang kartu itu pemberian darinya, berarti itu punya mbak, dan mbak berhak donk memberikan kepada siapapun yang mbak inginkan."


Meskipun merasa tidak enak, tapi karna dipaksa begitu, akhirnya Adam menerima kartu kredit pemberian kakaknya, dulu sebelum dia memilih menikahi Tari, dalam dompetnya dia bahkan memiliki tiga kartu seperti itu sekaligus, tapi sekarang, jangankan kartu, uang saja dia gak punya.


"Terimakasih mbak."


"Apapun akan mbak lakukan untuk kamu Adam."


Adam benar-benar sangat beruntung punya kakak sebaik Hawa, meskipun dulu ketika masih remaja mereka sering berantem dan berteriak pada satu sama lain, tapi sekarang, kakaknya itu begitu sangat menyayanginya melebihi menyayangi dirinya sendiri, dan hal itu membuatnya terharu, kalau dia cewek, mungkin dia sudah menangis saat ini.


****


Adam berjalan melewati gang menuju rumahnya atau lebih tepatnya rumah Tari, kakaknya mengantarkannya sampai depan gang, dia menawarkan kakaknya untuk mampir, tapi kakaknya itu menolak karna takut Orlin mencarinya.

__ADS_1


Saat tiba dirumah, ternyata Tari sudah lebih dulu sampai, istrinya itu terlihat duduk dikursi yang berada diteras depan, dan sepertinya dia sengaja menunggu Adam, Adam bisa melihat sinar cerah tersungging dibibir sang istri, senyum itu sedikit mengobati kegalauan hatinya.


Tari berjalan menyongsong kedatangan Adam dan melilitkan tangannya dilengan suaminya, senyum Tari masih tidak lepas dari bibirnya yang memancing Adam untuk mengajukan pertanyaan.


"Sepertinya kamu sangat bahagia, apa interviewnya berjalan dengan lancar." tebaknya.


Tari mengangguk dengan antusias, "Iya mas, bahkan mereka memujiku, katanya aku pintar dan berwawasan luas, dan mereka bilang, mereka membutuhkan pegawai seperti aku dikantor mereka." lapor Tari bangga.


"Orang istriku ini cerdas, pantas saja mendapat pujian."


"Tapi meskipun begitu mas, tetap saja Tari gak boleh kesenengan dulu, meskipun mereka memberi pujian setinggi langit, belum tentukan aku diterima, siapa tahu yang lainnya lebih bagus dari aku."


"Pasti diterima sayang, percaya deh sama aku."


"Aminn." Tari mengaminkan.


"Ayok mas kita makan, aku tadi sudah membeli makanan diwarteg." dengan masih merangkul lengan suaminya Tari membawa Adam memasuki rumah sederhana peninggalan ayahnya.


Kali ini Tari yang melayani suaminya, mengambilkan nasi, lauk pauk dan menuangkan air di gelas untuk sang suami.


"Tari...." Adam harus menyampaikan berita buruk yang diterima dari sang kakak.


"Iya mas." Tari menoleh ke arah Adam.


Adam mendesah berat, menunduk sejenak sebelum kembali menegakkan kepalanya dan memberitahu Tari, "Mbak Hawa tidak berhasil membantuku mendapatkan ijazah yang ditahan oleh papa."


Adam sudah siap mendengar rentetan omelan dari Tari, dalam fikirannya Tari mungkin akan marah-marah dan berkata, "Gimama sieh mas, bagaimana mas menghidupiku kalau tidak punya kerjaan, terus mas Adam mau numpang makan doank gitu."


"Maafkan aku Tari, mungkin aku tidak akan bisa memberimu kehidupan yang layak, tapi aku akan berusaha untuk bekerja dan memenuhi segala kebutuhanmu, kamu jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab." lanjutnya.


Namun Adam salah, Tari tidak seperti kebanyakan wanita yang hanya memikirkan tentang materi, Tari benar-benar menerima suaminya apa adanya.


"Jangan meminta maaf mas, ijazah bukan segalanya."


"Iya aku tahu, tapi apa yang bisa aku lakukan tanpa ijazah Tari, hampir semua perusahaan menerima pegawai yang memiliki ijazah."


"Kamu gak marah sama aku Tari."


"Marah, kenapa aku harus marah sama mas, aku mencintaimu, dan akan selalu menerimamu dalam keadaan suka dan lebih-lebih lagi dalam keadaan duka."


"Aku benar-benar beruntung menikahimu Tari, kamu benar-benar yang sangat baik dan tidak pernah menuntut."


Tari tersenyum dan membalas, "Aku juga beruntung menikah dengan laki-laki bertanggung jawab seperti mas."


"Terimakasih sayang telah menerima kekuranganku."


Tangan mereka saling bertaut.


"Makan lagi mas." Tari mengingatkan dan melepaskan tangannya yang digenggam oleh suaminya itu.


Adam mengangguk, dua orang itu kembali menghabiskan makanan mereka.


****


"Brengsek, mau mati lo." umpat pengendara mobil saat disalip oleh pengendara yang ugal-ugalan dijalan.


Sementara dua orang yang berada dalam mobil yang kena umpat barusan yang berkendara tidak mempedulikan keselamatan dirinya dan pengendara lainnya tertawa mendengar umpatan tersebut seakan-akan menganggap itu adalah sebuah hiburan, dua orang yang berada dalam mobil tersebut yang terdiri dari seorang laki-laki dewasa dan perempuan dewasa itu dalam pengaruh minuman keras, mereka benar-benar cari mati namanya, tapi untungnya Tuhan masih menyayangi mereka sehingga mereka masih diberi kesempatan untuk hidup, itu terbukti mereka sampai tujuan dengan selamat.


"Sayangggg." sik gadis bergayut manja dilengan sik laki-laki dan meletakkan kepalanya dilengan laki-laki tersebut dan satu tangannya mengelus dada laki-laki yang terekpos karna dua kancing atasnya terbuka.


"Kamu mampir ya sayang malam ini diapartmen aku, temani aku, aku kesepian soalnya." sik gadis membujuk dengan suaranya yang manja.


Sik laki-laki memegang tangan gadis yang membelai dadanya, "Maafkan aku Luna, malam ini aku tidak bisa menginap, sik tua bangka itu akan marah padaku kalau aku sampai tidak pulang."


Gadis yang bernama Luna itu manyun karna keinginannya tidak dituruti, "Menyebalkan."

__ADS_1


Sik laki-laki terkekeh, "Jangan marah begitu donk sayang, besok aku janji akan menemui kamu lagi."


"Janji ya, awas ya kalau bohong."


"Tidak sayang, aku mana mungkin berbohong."


"Baiklah, kamu boleh pergi sekarang Lukas." dengan janji akan datang kembali, Luna pada akhirnya membiarkan Lukas yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya untuk pergi.


Lukas melepaskan gamitan tangan Luna dilengannya, "Oke sayang, aku pergi dulu."


"Bye sayang."


Lukas memberi kiss byenya sebelum memasuki mobil yang dibalas oleh Luna dengan memberi kiss bye juga.


Luna merasa menjadi wanita paling beruntung didunia karna berhasil memacari laki-laki yang merupakan pewaris dari kerajaan bisnis salah satu orang terkaya dinegeri ini, selain berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya, Lukas didukung oleh wajah tampan yang mampu membius kaum Hawa, sehingga dua hal itu membuat Lukas tidak perlu bersusah payah mendekati wanita, wanitalah yang dengan suka rela menyodorkan dirinya kepada Lukas, tapi sayangnya, dibalik kelebihan yang dia miliki, Lukas adalah laki-laki brengsek yang hobi bergonta-ganti perempuan seperti mengganti pembalut, dia tidak pernah pacaran lebih dari seminggu, kalau itu terjadi, itu masuk dalam keajabain dunia, Luna adalah wanita yang sudah tiga hari ini berstatus sebagai kekasihnya, entah mungkin besok ata lusa kemungkinan Luna akan didepak oleh Lukas.


Setelah memarkir mobilnya sembarangan, Lukas melangkah menuju rumah kediaman keluarganya, dengan kunci yang dipegangnya dia membuka pintu utama, jam sudah menunjukkan tengah malam, dijam segitu, semua penghuni rumahnya sudah lelap dalam mimpi sehingga tidak heran kalau rumah besar itu gelap gulita.


Lukas berjalan dalam gelap menuju kamarnya yang berada dilantai dua, sayangnya, dalam perjalanan menuju lantai dua dimana kamarnya berada, lampu mendadak menyala dan diikuti oleh sebuah suara dingin.


"Jam berapa ini Lukas."


Lukas bisa melihat papanya duduk disofa ruang tamu, sepertinya memang sengaja menunggu kepulangannya, wajah laki-laki setengah baya itu mengeras melihat penampilan putranya yang berantakan.


"Hai pa, belum tidur." sapa Lukas santai seperti tidak terpengaruh dengan kemarahan yang terpancar jelas dimata papanya.


Dengan langkah lebar papa Lukas yang bernama Sebastian itu mendakati putra semata wayangnya, dari jarak dekat, papa Sebastian mencium bau alkohol yang berasal dari putranya itu.


"Mabuk lagi kamu hah." sentak papa Bastian, dia mengernyit menghirup bau alkohol yang menyengat menusuk hidungnya, "Sampai kapan kamu begini terus Lukas, kamu itu pewaris perusahaan papa, bisa hancur perusahaan yang telah papa bangun dari nol kalau dipegang oleh kamu."


Lukas malah terkekeh menanggapi kata-kata papanya, "Siapa juga yang berminat mengurus perusahaan papa, lagiankan aku sudah bilang sejak awal, aku itu tidak mau disangkut pautkan dengan hal-hal begituan, bikin pusing saja."


Kata-kata putranya itu membuat papa Bastian berang, putra satu-satunya itu memang lebih memilih keluyuran dan main perempuan ketimbang membantunya mengurus perusahaan yang telah susah payah dibangunnya, kalau saja dia masih muda, rasanya dia ingin menambah satu anak lagi mengingat putranya yang saat ini berdiri dihadapannya benar-benar tidak bisa diandalkan, sekarang dia menyesal karna hanya membuat satu anak saja.


"Kamu putra papa satu-satunya Lukas, kalau bukan kamu yang memegang perusahaan, siapa lagi yang akan papa harapkan."


"Siapa suruh papa tidak bikin anak lagi sama mama." namanya juga orang mabuk, omongannya asal keluar saja.


"Kamu...." tunjuk papa Sebastian, sumpah setiap kali berhadapan dengan Lukas selalu saja membuat darahnya langsung naik, anaknya itu benar-benar pembangkang.


Terdengar suara langkah mendekat ke arah perdebatan yang dilakukan oleh ayah dan anak tersebut, orang itu adalah Lili istrinya Sebastian alias mamanya Lukas.


"Lukas, syukurlah nak kamu sudah pulang, mama sangat khawatir." mama Lili mendekati putranya dan memeluknya.


Memang dimana-mana, seorang wanita lebih menyayangi anaknya ketimbang laki-laki, hal itu sangat wajar mengingat wanitalah yang capek-capek mengandung, bertaruh nyawa melahirkan, dan menyusui dan membesarkan, sehingga melihat putranya sudah berada dirumah, Lili sangat lega, dia tidak seperti suaminya yang memarahi Lukas.


"Ajarkan anakmu ini supaya kerjaannya jangan keluyuran dan main perempuan saja, dia sudah dewasa dan sudah saatnya dia belajar tentang tanggung jawab, apalagi dia adalah pemimpin perusahaan."


Lukas mendengus mendengar kata-kata papanya, papanya berulangkali mengatakan hal itu, sampai membuatnya jadi jengah.


Ada yang memarahi, ada yang membela, kalau papa Christian memarahi Lukas habis-habisan, maka disini mama Lililah yang membela putranya, "Pa, anak baru pulang malah diomelin begini, ya biarkan dia istirahat dululah pa, orang dia capek begini."


"Iya ma, aku sangat capek dan ngantuk, papa malah marah-marahin aku, bukannya membiarkan aku istrirahat." adu Lukas sama mamanya, papanya sering memarahinya, tapi kalau mamanya sudah turun tangan, biasanya papanya akan menghentikan omelannya.


"Ini gara-gara kamu yang selalu memanjakan anak ini Lili yang membuatnya kurang ajar dan melakukan apapun sesuka hatinya."


"Eh eh." mama Lili berkacak pinggang, wanita itu tidak terima disalahkan begitu saja oleh suaminya, "Kok papa malah nyalahin mama, Lukaskan juga anakmu pa, seharusnya kamu juga turut andil donk mendidiknya, jangan hanya sibuk dikantor saja."


Lukas pergi diam-diam, dia membiarkan mama dan papanya berdebat.


"Aku kerja banting tulangkan untuk mama dan Lukas, tugas mamalah yang mendidik Lukas, ajarkan dia hal-hal baik sejak kecil, ini malah membiarkannya melakukan apapun sesuka hatinya, lihatlah dia sekarang, jadi berandalan, pemabuk yang hobi main wanita, untung kita kaya, kita bisa menutup aib-aibnya dengan menggunakan uang, kalau gak, bisa malu keluarga kita dengan perbuatannya itu kalau tersebar kemana-mana, dan mamu Lukas...." papa Christian langsung terdiam saat mengetahui putranya itu sudah tidak ada disana.


"Tuh kamu lihat ma kelakuan putramu itu, orang tua belum selesai bicara dia main pergi saja, benar-benar anak kurang ajar."


"Terus saja salahin mama pa, memang ya semuanya salah ma." sungut mama Lili kesal dan dia juga ikutan meninggalkan suaminya.

__ADS_1


***


__ADS_2