
"Oh iya Tari, besok ulang tahun saya lho, bertepatan dengan hari aniversary pernikahan tante dan papanya Lukas." beritahu mama Lili.
"Iya ibu, saya tahu, pak Lukas yang ngasih tahu."
"Kamu datang ya."
"Saya diundang nieh bu."
"Tentu saja donk, kamukan selama ini telah banyak membantu saya menangani Lukas."
Tari terkekeh, "Itu sudah menjadi tugas saya bu."
"Aku juga sudah nyuruh Tari datang ma." sahut Lukas.
"Acaranya akan diadakan dihotel, saya harap kamu datang bersama pacar kamu Tari."
Tari tertawa kecil menanggapi ucapan mama Lili.
"Lho, kenapa kamu tertawa Tari."
"Saya gak punya pacar bu."
"Ahkk masak sieh, wanita secantik kamu tidak memiliki pacar."
"Iya bu beneran, saya memang tidak punya pacar."
"Astaga, sayang sekali, cantik-cantik gini kamu gak punya pacar."
"Apa kamu tidak tertarik sama Firman Tari." mama Lili menyarankan.
"Pak Firman bu."
"Iya, Firman sekertaris perusahaan, ya memang sieh Firman itu duda dan memiliki anak satu, tapi Firman itu tampan lho, pekerjaannya juga mapan."
"Ma, mama ini kenapa sieh, hobi banget deh njodo-jodohin orang, cukup aku saja ma yang mama jodoh-jodohkan, Tarikan bukan anak mama." Lukas menyuarakan ketidaksetujuannya.
"Kamu ini mending diam dulu deh Lukas, gak usah ikut campur dulu." tandas mama Lili, "Lagiankan Tari singgle, Firman juga, gak ada salahnyakan dicoba dulu, siapa tahu gitu cocok."
"Untuk saat ini, saya ingin sendiri dulu bu, gak memikirkan tentang pasangan."
"Mencari pendamping hidup itu penting lho Tari, masak sieh kamu tidak kesepian."
"Ma, mama ini apa-apaan sieh, jangan jodoh-jodohin Tari ma, Tarinya bilangkan dia ingin sendiri dulu."
"Baiklah-baiklah, mama tidak akan membahas-bahas tentang Firman lagi nieh."
"Lebih baik ayok lanjutkan makan kalian."
****
"Kamu kenapa sieh mendukung kata-kata mama aku barusan tentang Arin." protes Lukas saat dia dan Tari kini berada dimobil.
"Mamanya kamu benar donk, kamu memang sudah seharusnya menikah, masak kamu tidak mau menikah sieh."
"Mau tapi sama kamu."
Tari tertawa mendengar cletukan Lukas karna dia tahu Lukas bercanda, "Lukas Lukas, kamu bisa saja bercandanya."
"Lagian kamu kenapa tidak sama mbak Arin saja sieh, apa kurangnya coba mbak Arin, baik, cantik, pinter lagi."
"Sudahlah Tar, gak usah bahas-bahas itu lagi, pening kepalaku." Lukas memijit kepalanya.
"Tapi terimakasih ya."
"Untuk."
"Ya karna kamu telah menyelamatkan aku dari pembahasan mama kamu tentang Firman."
"Hmmm."
"Ibu Lili kok senang banget ya menjodoh-jodohkan orang, kenapa dia tidak membuka biro jodoh saja."
"Saran kamu boleh juga, nanti aku bilangin ke mama tentang hal ini."
"Astaga, kok dianggap serius sieh, aku cuma bercanda lho."
"Aku berfikir kamu ada benarnya Tari, gak ada salahnyakan kalau mamaku membuka biro jodoh, dan kamu yang jadi pelanggan pertamanya."
Tari tertawa mendengar clotehan Lukas, dia tidak pernah menyangka kalau atasannya yang biasanya dingin dan cuek itu bisa juga bercandanya.
"Pak, ayok jalan." perintah Lukas sama sopirnya.
"Kita kembali ke kantor tuan."
"Iya."
*****
Lukas : Besok kamu jadi datang ke ulang tahun mama sekaligus aniversary mama dan papaku
Tari : Iya, aku akan datang
Lukas : Sama siapa datangnya
Tari : Sendiri
Lukas : Gak sama pacarnya.
Tari : Kamu ini ngeledek ya, kan aku sudah bilang gak punya pacar
Lukas : Ahh iya benar juga aku lupa, berarti besok aku ada temannya
Tari : Maksudnya
Lukas : Ya aku rasa tamu-tamu mama dan papa pasti pada membawa pasangan masing-masing, ya kamu dan aku yang jomblo, kalau ada temannyakan aku gak jadi nelangsa
Tari : Makanya, kamu cari pacar donk agar gak nelangsa
Lukas : Yang ngomong sendiri jomblo
Tari : Hehe iya benar juga
__ADS_1
Lukas : By the way, kamu lagi apa sekarang Tari
Tari : Lagi balas chat kamu
Lukas : Itu aku tahu, pakai dikasih tahu segala lagi, yang lainnya Tari
Tari : Gak ada sieh, cuma duduk sendirian dikamar sambil bengong
Lukas : Makanya cari teman hidup donk agar gak bengong sendiri, kalau ada teman hidupkan minimal ada yang dikerjain saat dikamar
Tari : Astaga, ngelantur aja fikirannya
Lukas : Emang kamu tahu apa yang aku fikirkan
Tari : Tentang hubungan suami istrikan
Lukas : Tuhkan, fikiran kamu tuh yang ngeres
Tari : Ihh, enggak ya, fikiran kamu tuh yang ngeres
Lukas : Kamu
Tari : Kamu
Lukas : Duhh, kok masalah sepele begini jadi berdebat gini seih.
Tari : Habisnya kamu duluan
Lukas : Besok aku tunggu ya dipesta mama dan papaku
Tari : Dihh yang gak mau jomblo sendirian
Tari dan Lukas kini menjadi akrab, hubungan mereka tidak hanya sebatas sebagai atasan dan bawahan, tapi sudah lebih dari itu, itu terbukti dengan intensnya mereka berkirim pesan satu sama lain.
*****
"Tari." tegur Firman
Tari yang saat itu tengah sibuk mengerjakan sesuatu dileptopnya mendongak begitu mendengar Firman memanggilnya, "Ehh pak Firman, ada apa ya."
"Mengenai pesta ulang tahun sekaligus aniversary ibu Lili dan pak Sebastian, kamu datangnya sama siapa."
"Sendiri."
"Kamu mau gak datang bareng aku, nanti aku jemput ya." Firman sangat berharap Tari mengiyakan ajakannya.
"Ehh gak usah pak, saya datang sendiri saja, saya takut merepotkan pak Firman kalau harus menjemput saya segala."
"Gak repot kok Tari, mau ya barangkat bareng aku." bujuk Firman.
Tari yang merasa tidak enak akhirnya terpakasa mengiyakan ajakan Firman, "Mmm, baiklah kalau begitu."
"Nahh gitu donk, nanti aku jemput jam.07.00."
"Hmmm." gumam Tari setengah hati.
"Ohh ya, berhubung aku tidak tahu rumah kamu, nanti kamu kirim alamatnya lewat chat saja ya."
"Iya."
Chaca salah satu pegawai diperusahaan tersebut dan kebetulan dekat dengan Tari mendekati Tari begitu Firman sudah pergi.
"Ngapain sik Firman itu tadi Tar."
"Ohh pak Firman, dia ngajakin aku bareng ke pesta ulang tahunnya mamanya pak Lukas."
"Kamu diundang." tanya Chaca.
"Iya."
Maklum saja Chaca bertanya karna tidak semua karyawan yang diundang, hanya yang memegang jabatan penting saja yang dapat undangan, dan Chacha termasuk yang tidak dapat dalam hal ini.
"Tari kamu tahu tidak."
"Apa."
"Firman itu suka lho sama kamu."
"Ahkk, jangan mengada-ngada kamu Cha."
"Eh gak percaya dia, itu kelihatan banget dari caranya mandang kamu, dan kalau dia tidak suka sama kamu, tidak mungkinkan dia ngajakin kamu bareng ke pesta ulang tahunnya mamanya pak Lukas."
"Ya itu karna supaya dia ada temannya saja, biar ada teman ngobrolnya gitu." Tari berusaha membantah praduga Chaha.
"Kamu itu tidak percaya dibilangin, Firman itu beneran suka sama kamu."
"Apa kata-kata kamu deh Cha." tandas Tari karna malas membahas tentang Firman, kemarin mama Lili yang berencana mencomblangkannya dengan Firman, sekarang Chacha lagi yang mengatakan hal yang tidak masuk akal dengan mengatakan kalau Firman menyukainya.
"Kamu sendiri gimana Tar." ternyata Chaca belum kelar membahas masalah tentang Firman.
"Gimana apanya."
"Kamu suka juga tidak sama sik Firman itu."
"Pak Firman itukan atasan aku Cha, ya gak mungkinlah aku suka."
"Lho, emang apa salahnya menyukai atasan sendiri, gak dosakan, lagiankan sieh ya Tar, Firman itu dari segi tampang oke juga, lumayan kaya lagi, yah meskipun duda anak satu, jadi, kalau dia menyatakan perasaannya sama kamu, sebaiknya kamu terima saja, lumayankan ada yang nganter jemput."
"Kamu fikir pak Firman driver apa."
"Pacar merangkap driverlah, haha."
"Dihh apaan sieh kamu itu Cha, udah sana go out, jangan ganggu aku, jadi gak konsentrasikan akunya gara-gara kamu terus ngoceh."
"Iya iya aku pergi." Chacha berlalu dari meja Tari, namun baru saja beberapa langkah dia kembali berbalik, "Tar, ntar makan siang bareng ya, ada restoran yang baru buka tuh didekat kantor, masih dalam masa-masa promo tuh kayaknya."
"Oke." Tari menyetujui.
****
Dan saat waktu istirahat makan siang tiba, Tari dan Chacha mendatangi restoran yang dimaksud oleh Chacha, restoran itu memang masih sangat baru, baru buka sekitar satu minggu ya lalu.
__ADS_1
"Duduk disana Tar." Chaca menunjuk salah satu meja kosong.
Tari mengangguk.
Mereka telah memesan daging yang nantinya akan mereka panggang sendiri, dan mata Chaha tidak sengaja mengarah pada pintu masuk, dengan heboh dia menunjuk untuk memberitahu Tari.
"Tari, pak Lukas tuh."
Tari yang posisinya saat ini membelakangi pintu keluar menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Chacha, dan saat dia menoleh, Lukas juga kebetulan menoleh ke arahnya, Lukas tersenyum begitu melihat Tari dan berjalan menghampirinya.
"Ehhh, pak Lukas kemari lagi Tar."
"Duhh dari sekian banyak teman makan, kenapa Lukas kesini sieh, masak dia ngejar diskonan juga." keluh Tari dalam hati.
"Hai Tari, hai..." Lukas mengernyitkan keningnya mengingat nama karyawannya yang saat ini tengah bersama dengan Tari tersebut.
"Saya Chacha pak."
"Ohh ya Chacha, apa saya boleh bergabung dengan kalian."
"Tentu saja, ayok pak gabung saja."
"Tari, apa boleh saya bergabung." secara khusus Lukas bertanya sama Tari.
"Ohh tentu saja pak."
Lukas kemudian memilih menu yang sama seperti yang dipesan oleh Tari dan Chacha.
Sejak pertama kali melihat Lukas, Chacha sudah kagum dengan ketampanan atasannya itu, dan ini untuk pertama kalinya dia begitu dekat dengan Lukas, dia begitu senang makan satu meja dengan atasannya tersebut.
Lukas mengambil daging sapi dan melumurinya dengan bumbu dan kemudian memanggangnya dipemanggang, setelah matang dia menaruhnya dipiring Tari.
"Makan yang banyak Tari agar kamu cepat besar." ujarnya bercanda.
Tari terkekeh, "Pak Lukas fikir saya masih anak-anak apa."
Chacha juga berharap Lukas akan melakukan hal yang sama kepadanya, sayangnya setelah menunggu beberapa saat, hal itu tidak pernah terjadi.
"Kok cuma Tari sieh yang panggangin sama pak Lukas, akunya gak."
"Cha, kamu kenapa malah begong sieh, gak mau makan." tegur Tari saat dilihatnya Chacha hanya berdiam diri tanpa menyentuh makanannya.
"Eh iya."
Sambil makan, tiga orang itu ngobrol ngolor ngidul, bahkan juga bercanda, yang lebih banyak bicara sebenarnya Tari dan Lukas, Chacha sieh lebih banyak jadi pendengar, dia tidak pernah menyangka kalau bossnya yang dilihat selalu dingin dan cuek itu bisa begitu friendly dengan Tari, hal ini membuat Chacha menyimpulkan satu hal.
"Apa pak Lukas juga suka ya sama Tari, iya sepertinya begitu, terlihat dari caranya memperlakukan Tari." itu yang disimpulkan oleh Chacha.
"Duhhh senangnya jadi Tari, disukai oleh Firman yang merupakan sekertaris dan sekaligus juga disukai oleh atasan sendiri, kalau aku jadi Tari sieh, ya aku pilih pak Lukaslah daripada Firman, Firman sieh memang oke, tapi pak Lukas lebih oke, selain kaya, masih lajang lagi, maka nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan Tari."
Dan saat Tari dan Chacha berjalan menuju kantor sedangkan Lukas sudah lebih duluan kembali ke kantor, Chacha menyampaikan hasil analisisnya yang memenuhi benaknya sejak tadi.
"Tari."
"Hmmm."
"Sepertinya pak Lukas juga menyukai kamu."
Tawa tertawa ngakak, bahkan dia sampai memegang perutnya segala, menurutnya apa yang dikatakan oleh Chacha benar-benar lucu, gak masuk diakal.
"Kok kamu malah ketawa sieh, kamu fikir aku lagi ngelawak apa."
"Ya habisnya kamu itu ngaco deh Cha, masak kamu bilang pak Lukas suka sama aku, gak mungkin banget."
"Ya mungkin bangetlah Tari, kamu itu perempuan, dia itu laki-laki, apanya yang tidak mungkin coba."
"Astaga, bukan itu maksudku Chacha, maksud aku, ya gak mungkin bangetlah selera pak Lukas itu perempuan seperti aku, boss besar seperti pak Lukas itu pastinya menginginkan perempuan yang cantik, modis dan fashionable."
"Kamu juga cantik."
"Tapi janda, ya gak mungkinlah pak Lukas mau sama janda."
"Jangan salah donk Tar, sekarang janda itu semakin terdepan, apalagi janda berkelas kayak kamu, sudah cantik, berpendidikan lagi."
"Ahh sudahlah Cha, bisa tidak kamu tidak membahasa laki-laki yang kamu fikir menyukaiku, menurut aku, kamu itu ngaur tahu gak, bisa-bisanya kamu beranggapan kalau pak Lukas dan pak Firman itu suka sama aku."
"Tari Tari, masalah begini otak kamu oon ya, masak sieh gak kenal tanda-tanda laki-laki yang menyukai kamu."
"Iya yang pinter, ayok buru sebelum kita kena semprot."
*****
Dan seperti janjinya, Firman menjemput Tari dirumahnya jam 07.10 menit, karna mobilnya tidak bisa masuk gang, mobilnya dia parkir didepan.
"Maaf ya pak Firman, bapak harus nunggu lama." ucap Tari merasa tidak enak karna telah membuat Firman menunggu selama 10 menit.
"Gak apa-apa Tari, sudah siap berangkat sekarang."
"Iya."
"Yuk."
Mereka berjalan ke jalan raya dimana Firman memarkir mobilnya.
Didalam mobil tidak banyak percakapan yang tercipta antara kedua orang itu sampai mereka tiba dihotel tempat berlangsungnya acara.
Mama Lili tersenyum penuh makna saat melihat kedatangan Tari dan Firman, dua orang itu berjalan mendekati mama Lili dan papa Sebastian untuk mengucapkan selamat.
"Selamat ulang tahun sekaligus aniversary pernikahan yang ke 30 ya bu Lili, om Sebastian, semoga hubungan kalian semakin langgeng sampai maut yang memisahkan." ucap Tari begitu sudah berada didekat pasangan pasutri tersebut.
"Terimakasih Tari." balas papa Sebastian senang melihat kehadiran diacaranya ulang tahun istrinya sekaligus aniversary pernikahan mereka.
Firman juga mengucapkan hal yang sama kepada mantan atasannya tersebut.
"Terimakasih Tari, saya sangat senang kamu datang, dan ngomong-ngomong, datangnya bareng Firman nieh, sepertinya sudah ada sinyal-sinyal gitu ya." mama Lili menurun naikkan alisnya menggoda Tari.
Tari tahu makna dari mimik wajah yang ditampilkan oleh mama atasannya tersebut sehingga dia membantah praduga mama Lili, "Itu bukan seperti yang ibu fikirkan kok, kami datang bersama sebagai teman."
"Berawal dari teman dulu kemudian baru suka-sukaan, bukan begitu Tari."
Tari tersenyum tipis menanggapi ucapan mama Lili, untuk saat ini atau entah sampai kapan dia memang belum mau membuka hatinya untuk laki-laki lain, nama Adam masih bercokol dengan manis didalam hatinya.
__ADS_1
****