
Laura dan kedua orang tuanya langsung kerumah sakit begitu dia mendapat kabar kalau sahabatnya mengalami kecelakaan.
Setelah bertanya pada resepsionis dilobi, Laura langsung berlari menuju tempat yang diberitahukan oleh sik mbak-mbak resepsionis barusan, saking paniknya, Laura sampai tidak memperdulikan mama dan papanya dibelakang, saat ini dia hanya ingin melihat Tari dan Adam untuk memastikan apakah mereka baik-baik saja, sepanjang dalam perjalanan menuju rumah sakit dia tidak putus-putusnya berdoa supaya Tari dan Adam baik-baik saja.
Laura melihat dokter didepan sebuah ruangan yang tadi disebutkan oleh sik mbak-mbak resepsionis, Laura berlari menghampiri dokter tersebut.
"Dokter bagaimana...." Laura menelan kata-kata selanjutnya, dia langsung membekap bibirnya, air matanya mengalir deras saat melihat perawat laki-laki mendorong bankar yang diatasnya terbaring kaku seseorang laki-laki yang sangat dia kenal, Laura menghentikan perawat itu, dia menatap tidak percaya pada sosok yang terbaring dengan mata terpejam yang kini berada dihadapannya.
"Mas A...dam, ya Tuhan, aku tidak percaya ini." Laura menggeleng, dia tidak mempercayai penglihatannyam
"Apa anda keluarga korban." sik dokter bertanya.
Laura yang masih shock dengan apa yang dilihatnya tidak menjawab pertanyaan sik dokter.
"Kalau anda keluarga korban, kami membutuhkan tanda tangan anda untuk mengoperasi korban satunya lagi, gadis itu harus secepatnya dapat penanganan untuk menyelamatkan nyawanya."
Mendengar ucapan sik dokter, barulah Laura sadar kalau masih ada Tari yang belum dia ketahui bagaimana nasibnya, "Iya dokter saya keluarga korban, bagaimana keadaan Tari dokter, dia baik-baik sajakan." tuntut Laura, dia sangat berharap kalau dokter itu menjawab kalau sahabatnya itu dalam keadaan baik-baik saja, rasanya dia tidak akan sanggup menerima kenyataan kalau dokter itu memberitahu kalau nyawa sahabatnya itu juga tidak bisa diselamatkan.
Dokter menjelaskan, "Keadaannya tidak bisa dibilang baik, kami harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi dalam perutnya, karna kalau tidak cepat kami keluarkan akan menyebabkan nyawa sik ibu akan melayang juga."
"Ya Tuhan...." Laura semakin terisak hebat, dia melupakan fakta kalau saat ini Tari tengah hamil tua, seharusnya dua bulan lagi pasangan suami istri itu akan berbahagia dengan kehadiran buah hati mereka yang sudah lama mereka tunggu-tunggu, sayangnya takdir berkata lain, kecelakaan telah merenggut kebahagian keluarga kecil tersebut.
"Tarii, sungguh malang nasibmu." tidak sanggup rasanya Laura membayangkan kalau dirinya berada pada posisi Tari.
"Nona, bisakah anda menandatangi surat persetujuan ini, supaya kami bisa segera menangani pasien, takutnya kalau kelamaan nyawa sik pasien tidak bisa kami selamatkan." dokter mengingatkan.
Laura tersadar dari ratapannya, meratap tidak bisa membuat keadaan baik-baik saja, dia menghapus air matanya dan mengambil kertas dan polpen yang disodorkan oleh sik dokter, dengan mantap Laura membubuhkan tanda tangannya diatas kertas putih itu.
"Dokter, selamatkan sahabat saya, jangan biarkan dia juga pergi, tolong dokter, saya benar-benar mengharapkan dokter, lakukanlah yang terbaik untuk sahabat saya dokter."
"Kami hanya bisa berusaha nona, Tuhanlah yang menentukan hasilnya, sebaiknya nona banyak berdoa untuk sekarang ini, mohon pada Tuhan untuk keselamatan sik pasien, karna kemungkinannya untuk selamat juga kecil." sik dokter menasehati sebelum memberi perintah pada para perawat untuk membawa Tari ke ruang operasi.
Saat tubuh Tari yang terbaring diatas bankar beroda didorong keluar, kembali Laura tidak kuasa menahan tangisnya melihat kondisi sahabatnya itu, mata Tari terpejam dengan wajah pucat, beberapa bagian wajahnya tergores aspal.
Pandangan Laura beralih pada perut Tari yang membuncit, "Ya Tuhan nak, kamu belum sempat melihat indahnya dunia dan kamu sudah dipanggil oleh Tuhan, surga menantimu nak." lirih Tari sebelum membiarkan perawat itu membawa tubuh Tari ke ruang operasi.
Tubuh Laura terasa tidak bertulang, dia sampai berpegangan pada dinding untuk menyangga tubuhnya, dan tepat pada saat itu kedua orang tua Laura menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Tari dan suaminya Laura." tanya mamanya yang merangkul tubuh putrinya.
"Maaa." Laura langsung memeluk mamanya erat, Laura menangis keras dalam pelukan mamanya, "Tari harus dioperasi ma, untuk mengeluarkan bayo yang ada dalam perut Tari, sedangkan mas Adam....mas Adam sudah pergi untuk selamanya ma."
"Ya Tuhan." mamanya kaget, begitu juga dengan papa, mereka tentu sangat bersedih dengan musibah yang menimpa Tari, karna mereka sudah menganggap Tari sebagai anak mereka, mereka hanya bisa berharap kalau keadaan Tari baik-baik saja dan dokter bisa menyematkan Tari.
"Sayang, tangisan dan ratapanmu tidak bisa menyelamatkan Tari, bagaimana kalau sekarang kita sholat, kita berdoa kepada Tuhan supaya team dokter berhasil menyelamatkan Tari."
Laura hanya bisa mengangguk mengiyakan kata-kata mamanya.
****
Tidak lama, keluarga dari pihak Adam juga datang, mereka langsung meluncur ke rumah sakit saat mengetahui berita kalau putra mereka kecelakaan, tidak hanya papa Atta dan mama Cellin yang datang, tapi Hawa dan juga suaminya Irfan. Hawa begitu sangat shock saat pagi-pagi sekali mendapat kabar kalau Adam dan Tari mengalami kecelakaan, Hawa jadi sangat menyesal sekarang karna selama ini dia mengabaikan setiap chat dan telpon Adam, hal itu dia lakukan karna ancaman papanyakan.
"Papa, mama takut terjadi apa-apa dengan Adam pa, ya Tuhan putraku, apa yang terjadi, kenapa dia bisa kecelakaan begini." rintih mama Cellin saat berjalan dikoridor rumah sakit.
__ADS_1
"Tenang ma, jangan berfikiran negatif, Adam pasti baik-baik saja." papa Atta berusaha menenangkan istrinya.
"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Adam, mama tidak akan pernah memaafkan papa, sudah berulangkali mama menyuruh papa untuk memaafkan putra kita, tapi papa malah tidak menghiraukan kata-kata mama dan kukuh dengan pendirian papa yang tetap ingin memusuhi Adam, dan sekarang papa lihat, jadi beginikan jadinya." mama Cellin menyalahkan papa Atta.
Papa Atta hanya terdiam, yah, dia merasa bersalah saat mendengar ucapan istrinya.
"Dokter, pasien atas nama Adam Wijaya yang mengalami kecelakaan mobil ditempatkan diruangan mana ya." tanya Irfan pada salah satu dokter yang dia temui, dia yang memilih bertanya karna yang lainnya sepertinya tidak bisa membuka bibir hanya untuk sekedar bertanya mengingat ketiga orang keluarga Adam tersebut masih dalam keadaan shock.
"Atas nama Adam Wijaya, apa anda keluarganya" sik dokter balik nanya.
"Iya dokter, kami keluarganya."
"Pasien atas nama Adam Wijaya dinyatakan meninggal ditempat saat kecelakaan, dan sekarang jenazahnya sudah dipindahkan ke ruang jenazah."
Berbarengan dengan berakhirnya pemberitahuan dokter itu, tubuh mama Cellin ambruk kelantai, tidak kuat rasanya bathinnya menerima berita ini.
Sedangkan Hawa menjerit pilu, "Tidakkkk." jerit Hawa begitu mendengar berita yang disampaikan oleh sik dokter, "Dokter bohongkan, adikku tidak mungkin meninggalkan dokter, katakan kalau dokter bohong." Hawa masih menjerit histeris sambil menanyai dokter, dia semakin merasa bersalah sama adiknya, apalagi sudah beberapa bulan ini dia selalu mengabaikan sang adik.
"Mama." papa Atta meraih tubuh istrinya yang tergeletak tidak berdaya dilantai, dia menepuk-nepuk pipi sang istri untuk membangunkannya, "Bangun ma."
Sementara itu Irfan merangkul tubuh istrinya yang terguncang, "Tenangkan dirimu Hawa."
"Bagaimana aku bisa tenang mas, Adam, adikku meninggal."
"Maafkan kami, kami juga tidak ingin memberitahukan akan hal ini, tapi itu semua kenyataan." ujar sik dokter, diwajahnya tersirat rasa bersalah, padahalkan memang itu bukan salah mereka.
"Ya Tuhan, apa yang selama ini telah aku lakukan sama putraku." papa Atta terlihat menyesal, tapi karna dia laki-laki, dia masih bisa mengontrol emosinya.
"Pa, sebaiknya bawa mama dulu untuk dirawat, mama sepertinya shock, setelah itu kita lihat jenazah Adam." saran Irfan.
Seperti saran Irfan, mama Cellin diberi perawatan karna wanita setengah baya itu belum kunjung sadar, sedangkan papa Atta, Hawa dan juga Irfan memilih untuk melihat jenazah Adam.
Irfanlah yang membuka penutup yang menutupi tubuh Adam yang terbaring kaku dengan wajah pucat, begitu melihat tubuh adiknya, kini giliran Hawa yang langsung tidak sadarkan diri, untungnya Irfan dengan sigap menangkap tubuh istrinya sampai tidak sampai jatuh membentur lantai.
Sedangkan papa Atta, laki-laki yang selalu menampakkan wajah dingin dan datar itu tidak kuasa membendung air matanya begitu melihat putranya yang terbujur kaku, dia meratap diatas tubuh anaknya yang sudah tiada.
"Adamm, maafkan papa nak, maafkan papa, ini salah papa nak, maafkan papa." papa Atta menangis hebat, penyesalan begitu menguasai perasaanya, penyesalan yang tidak pernah bisa dia perbaiki lagi, "Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan kepada putraku selama ini, kenapa secepat ini engkau mengambilnya ya Tuhan, dia masih begitu sangat muda, seharusnya dia bisa mengejar segala impiannya." keluh papa Atta.
"Adam putraku, maafkanlah papa nak, papa sungguh-sungguh sangat menyesal." papa Atta terus meratap, memang, penyesalan tidak akan pernah ada gunanya.
Sementara Irfan berusaha untuk meyadarkan Hawa, sama seperti mama Cellin, Hawa juga shock berat, rasanya dia tidak sanggup menerima kenyataan pahit ini.
*****
Kejadian tabrakan maut yang merenggut nyawa Natasha dan Adam terus membayangi Lukas di alam bawah sadarnya, tubuh gadis yang terbaring lemah itu juga memenuhi fikirannya, Lukas bisa melihat dengan jelas wajah pucat itu dan rembasan darah segar yang mengalir diantara kedua kakinya.
"Tidak, tidak." Lukas menggigau, dahinya dipenuhi oleh keringat, tubuhnya bergetar hebat, tangannya mengepal, Lukas merasakan penyesalan yang teramat sangat, namun sayangnya, apa yang telah dia lakukan terlalu fatal, rasanya tidak yang bisa dia perbuat untuk menebus dosanya itu, hal itu membuat dada Lukas terasa sesak, dari sudut matanya mengalir buliran kristal bening.
"Maafkan aku, maafkan aku, aku menyesal, aku bersalah, hukumlah aku." racaunya dialam bawah sadarnya dengan keringat deras merembas dari dahinya, Lukas benar-benar terlihat merasa bersalah dan tersiksa.
"Sayang, bangun sayang, buka matamu." mama Lili yang tidak pernah meninggalkan sisi putranya sejak tiba dirumah sakit terlihat panik melihat keadaan Lukas, dia menepuk pipi putranya untuk mencoba membangunkannya, "Ayok bangun sayang, buka matamu, jangan takut, ada mama dan papa yang akan selalu disampingmu."
"Tidak, jangan dia, jangan dia, ambil saja nyawaku."
__ADS_1
Mama Lili menangis hebat, tidak kuasa dia melihat keadaan putra kesayangannya itu, "Papa, apa yang terjadi dengan putra kita papa."
Papa Sebastian mendekat ke bankar dimana putranya terbaring, tubuh anak laki-lakinya itu bergetar hebat, "Lukas, bangun nak, ada kami yang akan selalu ada disampingmu." namun Lukas sepertinya masih enggan untuk membuka matanya.
Sehingga beberapa saar kemudian, "Tidakkkkkk." Lukas terbangun karna tidak kuat rasanya menahan rasa bersalah yang membuncah didadanya.
"Lukas putraku." mama Lili memeluk putra semata wayangnya itu, "Syukurlah nak kamu sudah bangun, ya Tuhan, terimakasih karna engkau telah mengabulkan doa hamba ini." lirih mama Lili penuh syukur.
Lukas berusaha untuk bangkit dari posisi berbaringnya dan menyingkarkan tangan mama Lili yang memeluk tubuhnya.
"Jangan bangun dulu sayang, berbaring saja ya."
Namun Lukas tidak mengindahkan ucapan mamanya, dia tetap berusaha untuk bangun sehingga terpaksa mama Lili membantu putranya.
"Awhhhh." begitu berhasil mendudukkan tubuhnya atas bantuan mamanya, Lukas mengaduh karna kembali merasakan pening dikepalanya yang kini sudah di perban.
"Sakit sayang, kamu sebaiknya berbaring lagi ya, jangan dipaksa untuk dudul." pinta mama Lili sabar.
Namun yang Lukas lakukan adalah mengabaikan rasa sakit dikepalanya dan mencabut selang infus yang terpasang ditangannya, saat ini dia tidak bisa tenang sebelum melihat gadis itu, gadis yang terbaring tak berdaya diaspal.
"Lukas, apa yang kamu lakukan nak." panik mama Lili yang melihat Lukas menarik selang infus ditangannya.
"Papa, anak kita kenapa pa."
"Lukas, kamu mau kemana nak." papa Sebastian berusaha menahan putranya yang sepertinya ingin pergi.
"Lepasin aku papa, jangan halangi aku, aku ingin melihat gadis itu."
"Gadis, gadis yang mana Lukas."
Namun Lukas sepertinya enggan menjawab keingintahuan papanya, dia terus berontak ingin keluar dan melihat keadaan gadis yang dia tabrak.
"Lepasin aku papa, jangan halangi aku." teriaknya, hati Lukas benar-benar tidak tenang saat ini, sudah dua nyawa yang melayang karna ulahnya, dia juga tidak ingin gadis yang tengah hamil tua itu juga pergi bersama bayi yang berada dalam perutnya.
"Lukas sayang, kamu masih sakit nak, berbaringlah ya supaya kondisi kamu segera pulih." mama Lili berusaha membujuk putranya.
"Aku tidak butuh istirahat ma, aku hanya ingin melihat keadaan gadis itu." Lukas ngotot.
"Iya iya, tapi gadis yang mana yang kamu maksud sayang, biar mama antar ya untuk melihatnya."
"Ma, biarkan mama mengantar Lukas untuk melihat gadis yang dia maksud."
Papa Atta menarik tangannya yang dia gunakan untuk menahan tubuh Adam.
Akhirnya mama Lili menyerah karna Lukas begitu keras kepala, mama Lili memapah putranya yang tidak bisa berjalan dengan sempurna.
"Gadis yang mana yang kamu maksud sayang." mama Lili mengulangi pertanyaannya.
"Gadis yang Lukas tabrak ma, tolong ma, antar aku padanya, aku tidak bisa tenang kalau belum melihat kondisinya."
"Iya sayang, ayok kita melihat kondisi gadis itu ya." balasnya sambil memapah putranya berjalan menuju pintu ruangan dimana Lukas saat ini dirawat.
Sedangkan papa Sebastian hanya menatap punggung putranya dan istrinya yang berjalan menjauh, dia tahu jiwa putranya saat ini tengah terguncang karna kecelakaan yang dia alami, tidak hanya luka fisik yang yang diderita oleh putranya, tapi lebih daripada itu, Luka bathin yang diderita oleh Lukas jauh lebih parah.
__ADS_1
****