
Hari ini adalah hari minggu, karna libur bekerja, dan seperti kebiasaannya kalau libur, pagi itu Lukas lari pagi keliling komplek perumahnnya, dan setelah matahari terbit cukup tinggi, Lukas memutuskan untuk kembali pulang, dahinya dibasahi oleh peluh, bahkan baju tanpa lengan yang dia kenakan juga banjir oleh keringatnya.
Saat dia memasuki rumah, dia menemukan Arin yang saat ini tengah ngobrol bersama dengan mamanya diruang tamu.
"Nahhh, itu Lukas sudah pulang sayang." beritahu mama Lili saat melihat putranya.
Arin menoleh ke arah yang ditunjuk oleh mama Lili, gadis cantik itu tersenyum manis saat melihat Lukas, menurut Arin, Lukas terlihat menawan meskipun hanya mengenakan baju tanpa lengan dan celana pendek dengan keringat membasahi baju tanpa lengan yang dia kenakan.
"Hai Lukas." sapa Arin saat Lukas mendekat ke arahnya.
"Hai Rin." balas Lukas, "Ada apa nieh pagi-pagi gini udah ada di rumah aku."
Mama Lili yang menjawab, "Arin mau ngajak kamu jalan Lukas."
"Jalan."
"Iya Lukas, inikan hari minggu, kamu tidak bekerjakan hari ini, jadi gak ada salahnyakan kalau kamu menghabiskan waktu berdua dengan Arin."
Arin menatap Lukas penuh harap, Arin bener-benar berharap Lukas tidak menolak ajakannya.
"Hmmm, baiklah." jawab Lukas setelah sempat berfikir sesaat.
Mata Arin berbinar saat mendengar Lukas mengiyakan.
"Kamu tunggu sebentar ya Rin, aku mau mandi dan ganti baju dulu."
"Iya."
"Sayang, jangan lama-lama ya, jangan buat Arin menunggu lama."
"Iya ma." sahut Lukas berteriak.
"Tante senang Rin kamu kesini dan mengajak Lukas jalan, anak itu, kalau libur bekerja kerjaannya hanya ngedekam saja dirumah, ya sekali-kalikan ya dia keluar gitu untuk merefress fikirannya yang dipenuhi oleh pekerjaan selama satu minggu ini supaya tidak stress gitu."
"Iya tan, Arin inisiatif mengajak Lukas jalan, habisnya kalau nunggu dia ngajak jalan duluan kayaknya itu tidak akan pernah terjadi."
"Kamu benar Arin, anak itu memang anaknya cuek dan dingin, agak sulit gitu Rin untuknya membangun hubungan dengan seorang wanita, tante berharap, kamu tidak bosan ya Rin dengan sikap anak tante."
"Tantu saja tidak tante."
"Syukurlah, tante sangat berharap kamu bisa menjadi menantu tante Rin."
Arin tersenyum menanggapi ucapan mama Lili, "Doakan ya tante semoga Arin dan Lukas berjodoh."
"Amin, tante akan selalu mendoakan kalian."
*****
Setangah jam kemudian, Lukas dan juga Arin kini sudah berada di dalam mobil, mereka duduk dikursi penumpang belakang sementara pak Agung yang akan mengantarkan mereka, entah kemana tujuan mereka, intinya mereka belum memutuskan mau pergi kemana.
Sebenarnya Arin ingin menikmati waktu berdua dengan Lukas dalam artian Lukaslah yang membawa mobil, tapi Lukas tentu saja sejak peristiwa malam itu tidak pernah lagi mau menyetir sendiri, trauma yang dia alami membuatnya tidak mau lagi mau membawa mobil sendiri, oleh karna itu, kemanapun dia pergi, pak Agung selalu mengantarnya.
"Kita mau kemana Rin." Lukas bertanya saat mereka sudah duduk nyaman didalam mobil.
"Kita jalan-jalan ke mall saja ya."
"Hmmm, baiklah."
"Ayok pak jalan." perintah Lukas pada sopirnya.
"Baik tuan." pak Agung menjalankan mobil meninggalkan rumah keluarga Pangestu.
"Lukas."
"Hmmm."
"Kenapa pesan-pesan aku hanya kamu baca doank tidak pernah kamu balas." Arin bertanya saat dalam perjalanan.
"Maaf Rin, aku tidak sempat membalasnya, pekerjaan kantor lagi sibuk-sibuknya soalnya." Lukas tidak bohong, memang pekerjaannya dikantor lagi sibuk-sibuknya sehingga dia sering lembur dan mengharuskannya pulang malam.
"Ohh, aku fikir kamu sengaja tidak ingin membalas pesanku."
"Gak kok Rin, jangan suudzon gitu donk."
"Kalau kamu gak sibuk, kamu akan membalas pesankukan."
"Tentu saja."
Satu jam kemudian, mobil berhenti disebuah pusat perbelanjaan.
Setelah meminta sopirnya untuk menunggu, Lukas dan Arin kini berjalan memasuki pusat perbelanjaan tersebut.
Saat memasuki pusat perbelanjaan, Arin melilitkan tangannya dilengan Lukas.
"Lukas, tidak apa-apakan kalau aku menggandeng kamu kayak gini."
Lukas sebenarnya keberatan, tapi tidak enak untuk mengatakannya, akhirnya dengan terpaksa dia mengangguk.
Setibanya didalam, Arin membawa Lukas masuk ke toko yang satu ke toko yang lain.
"Lukas, ayok masuk ke toko kosmetik itu." tanpa melepas gandengan tangannya Arin menarik Lukas memasuki toko kosmetik.
Disana Arin membeli beberapa produk kecantikan dan skincare.
"Kamu beli kosmetik sebanyak itu hanya untuk satu muka kamu yang kecil ini." ya maklum sajalah Lukas berkata begitu mengingat dia laki-laki dan tidak pernah yang namanya make up dan juga skinceran, makanya dia heran dengan banyaknya produk yang dibeli oleh Arin.
"Iya inikan fungsinya beda-beda Lukas, ada yang untuk melembabkan, membuat wajah menjadi glowing, mencerahkan, mencegah penuaan dini, pokoknya macam-macamlah manfaatnya, dan wanita butuh semua ini untuk merawat kulitnya supaya tetap cantik dan kenceng." jelas Arin untuk membuat Lukas mengerti.
"Ya Tuhan, ribet banget ya ternyata jadi seorang wanita." gumam Lukas, "Untungnya aku dilahirkan sebagai seorang laki-laki, jadi tidak butuh produk sebanyak itu untuk merawat wajahku."
Setelah keluar dari toko kosmetik, Arin mengajak Lukas memasuki toko baju, sekali lagi Lukas hanya pasrah mengikuti keinginan Arin diseret kesana kemari, dalam hati Lukas berjanji, ini untuk pertama dan terakhir kalinya dia akan jalan bersama dengan Arin.
Arin sejak tadi meminta pendapat Lukas tentang beberapa baju yang membuatnya kepincut.
"Ini menurut kamu gimana Lukas, bagus tidak." tanya Arin memperlihatkan baju tersebut pada Lukas, ini sudah entah baju keberapa yang Arin tanyakan pada Lukas sehingga sangat wajar membuat Lukas bosan.
"Iya bagus." gumamnya tanpa menoleh.
"Gimana bisa kamu bilang bagus padahal kamu tidak melihatnya."
Lukas yang saat ini sibuk dengan ponselnya mendongak sesaat dan berkata, "Iya itu bagus, sepertinya akan cocok untukmu."
__ADS_1
Arin mendengus kesal.
Saat Lukas tengah menunggu Arin yang sepertinya masih belum ada tanda-tandanya selesai memilih dan memilah baju, seseorang berjalan mendekati Lukas.
"Pak Lukas."
Lukas langsung mendongak begitu mendengar suara yang begitu sudah familiar ditelinganya itu, suara itu adalah suara Tari sekertarisnya.
"Tari, kamu disini."
Tari tersenyum, "Ternyata beneran bapak, tadi saya fikir saya salah orang."
"Bapak belanja juga."
"Bukan, saya nemenin..."
"Lukas aku...." Arin langsung menghentikan kalimatnya saat melihat Lukas ngobrol dengan seorang wanita.
"Dia...."
"Dia Mentari Whardhani sekertrisku." ujar Lukas.
"Hai mbak." sapa Tari ramah, Tari berfikir kalau gadis itu adalah pacarnya Lukas, "Apa gadis ini pacarnya pak Lukas, cantik sekali." Tari memuji dalam hati.
"Hai, aku Arin." balas Arin memaksakan senyum, Arin merasa tidak suka melihat wanita yang diperkenalkan oleh Lukas sebagai sekertarisnya itu, apalagi Tari cantik.
"Oh ya Tari, kamu bersama siapa disini."
"Saya sendiri pak, tadinya saya janjian bersama dengan teman saya, tapi mendadak dia ada acara."
"Kenapa tidak aja pacar kamu saja Tari." Arin menimpali.
Tari terkekeh, "Saya tidak punya pacar mbak."
"Ehhh, dia tidak punya pacar, kalau dia bekerja dengan niat untuk menggaet Lukas gimana." Arin jadi khawatir mendengar status Tari.
Sebagai seorang wanita yang saat ini tengah gencar-gencarnya mendekati Lukas, tentu saja Arin khawatir dengan Tari, khawatir saja kalau Lukas dan Tari memiliki hubungan, tapi sebenarnya itu tentu saja tidak masalah mengingat keduanya sama-sama singglekan, apalagi Arin bukanlah siapa-siapanya Lukas.
"Gadis secantik kamu masak gak punya pacar sieh Tari, kamu bohong ya."
"Duhhh, beneran saya gak punya pacar lho mbak, ngapain saya bohong segala sieh."
"Sudahlah Arin, kenapa sieh kamu kepo banget ingin tahu tentang kehidupan pribadi Tari, walaupun dia punya pacar dan tidak mau memberitahu kamu itu wajar mengingat kamu adalah orang yang baru ditemuinya." tandas Lukas.
"Hmmm." gumam Tari membenarkan kata-kata Lukas.
"Ohh iya Tari, karna kamu sendiri, apa kamu mau bergabung bersama kami." tawar Lukas.
"Ihhh, kok Lukas ngajak Tari gabung segala sieh." protes yang hanya dikatakan oleh Arin dalam hati.
"Gak usah deh pak, saya takut menganggu bapak dengan Arin."
"Gak mengganggu kok, iyakan Rin."
Dengan setengah hati Arin berkata, "Tentu saja tidak mengganggu."
"Baiklah kalau begitu, gak enak juga sieh kalau sendirian." pada akhirnya Tari menyetujui.
Dan mereka menghabiskan waktu bertiga, dan sepanjang waktu itu, Arin sebenarnya bete, gimana tidak bete, Lukas dan Tari ngobrol berdua dan obrolannya itu kebanyakan membahas tentang pekerjaan, Arin serasa seperti menjadi kambing congek.
Bahkan saat pulangpun, Lukas menawarkan tumpangan untuk Tari, Tari menolak, tapi Lukas memaksa sehingga pada akhirnya Tari mengiyakan.
Dan setelah mengantar Arin terlebih dahulu, Lukas kemudian meminta pak Agung untuk mengantarkan Tari ke rumahnya, namun dalam perjalanan, Lukas berkata, "Tari, apa kamu tidak keberatan kalau kita mampir sebentar ke suatu tempat."
"Kemana pak."
"Nanti juga kamu tahu." ujar Lukas penuh misteri.
Pak Agung kembali menghentikan mobilnya disebuah toko perhiasan.
"Buat apa pak Lukas mengajak aku ke toko perhiasan." Tari bertanya-tanya dalam hati, "Ohh iya aku tahu, apa mungkin pak Lukas meminta bantuanku untuk memilihkan cincin untuk melamar Arin, makanya dia mengantar Arin terlebih dahulu dan mengajakku kesini." simpul Tari saat mengetahui kalau tempat yang dimaksud adalah toko perhiasan.
"Ayok turun Tari."
"Iya pak."
Tari mengikuti Lukas memasuki toko perhiasan tersebut.
Pekerja toko menyambut mereka dengan ramah, "Selamat datang mas, mbak, apa ada yang bisa saya bantu, apa mas dan mbaknya mencari cincin pernikahan."
Lukas dan Tari saling melempar pandangan sebelum sama-sama tersenyum dan Tari menyanggah dugaan pekerja toko perhiasan tersebut.
"Bukan mbak, saya hanya menemani boss saya ini untuk mencari cincin pernikahan." ucap Tari menyuarakan isi hatinya.
"Siapa yang mau menikah." heran Lukas.
"Ya bapaklah."
"Saya, dengan siapa saya akan menikah."
"Ya dengan mbak Arinlah pak, dengan siapa lagi coba."
"Astagaa, kamu salah paham Tari."
"Maksud bapak."
"Arin itu bukan pacar saya."
"Ehh, kok bisa pak."
Lukas geli sendiri melihat wajah Tari yang tampak kebingungan begitu.
"Saya dan Arin itu memang tidak memiliki hubungan seperti yang kamu maksud Tari, kami hanya tidak lebih dari sekedar teman." Lukas menjelaskan.
"Masak sieh pak."
"Iya."
"Saya fikir mbak Arin itu adalah calonnya pak Lukas."
"Makanya Tari, jangan ngambil kesimpulan sendiri, tanya dulu kek gitu."
__ADS_1
Tari terkekeh sendiri karna ternyata dugaannya salah.
"Terus, ngapain bapak mengajak saya ke toko perhiasan, kalau bukan membeli cincin pernikahan, terus bapak membeli perhiasan untuk siapa."
"Untuk mamaku Tari."
"Ohh, untuk ibu Lili."
"Iya, dua hari lagi mamaku akan berulang tahun dan aku ingin memberinya hadiah, oleh karna itu aku mengajak kamu kesini untuk membantuku memilih perhiasan yang kira-kira disukai oleh mamaku."
"Bapak mau beli apa dulu, kalung, cincin, anting, atau..."
"Menurut kamu apa." Lukas menanyakan pendapat Tari.
"Mmm, kalau menurut aku sih pak, kalung saja."
"Kalung ya, oke deh, kalau begitu aku kasih hadiah mama kalung saja." putus Lukas mengikuti saran Tari.
Mereka kini memilih kalung.
"Pak, yang ini kayaknya bagus deh." Tari menunjuk kalung dengan bandul berbentuk bunga mawar, kalung yang sangat cantik.
"Mbak, coba saya lihat yang ini."
Sik mbak mengambil kalung yang ditunjuk oleh Lukas dan menyerahkannya pada Lukas.
"Cantik." puji Lukas memperhatikan bandul kalung tersebut.
"Oke mbak, saya ambil kalung ini." putus Lukas.
"Baik mas, tunggu sebentar, saya akan mengambil kotaknya terlebih dahulu."
Setelah membayar, Lukas memasukkan kalung cantik itu dalam saku jaketnya.
Lukas melihat Tari tengah memperhatikan kalung berbandul hati didalam etalase.
"Apa kamu menyukai kalung itu Tari."
Lukas yang tiba-tiba berada didekatnya membuat Tari kaget, "Ehh pak Lukas, bapak membuat saya kaget saja."
"Apa kamu menyukai kalung itu." Lukas mengulangi pertanyaannya.
"Hmmm iya."
"Kenapa gak dibeli."
"Iya nanti, saat saya punya uang."
"Bapak sudah selesaikan."
"Iya."
"Apa setelah ini tidak ada lagi yang ingin bapak beli lagi."
"Tidak, kita langsung pulang."
"Baik pak."
Tari berjalan duluan menuju mobil, sedangkan Lukas masih tetap berdiri ditempatnya, "Mbak, saya ambil kalung yang ini juga." pinta Lukas pada pekerja toko mas tersebut.
"Baik pak."
Dan setelah urusannya selesai, Lukas menyusul Tari ke mobil.
"Bapak ngapain, kok lama." tanya Tari saat Lukas memasuki mobil.
"Gak ada kok." bohong Lukas.
"Oh iya Tari, terimakasih ya karna kamu meluangkan waktu berhargamu untuk menemani saya untuk membeli hadiah untuk mama."
"Iya pak sama-sama."
"Saya harap kamu bisa datang dihari ulang tahun mama saya nanti."
"Tentu saja saya akan datang kalau diundang."
"Kamu diundang, sebagai putranya mama, saya mengundang kamu ke acara ulang tahun mama, apa kamu akan datang Tari, saya yakin mama dan papa akan senang melihat kehadiran kamu."
"Iya pak, saya akan datang."
Setelah setengah jam lebih dalam perjalanan, Mobil berhenti tepat didepan gang yang menuju rumah Tari, Tari membuka pintu mobil dan Lukas juga ikutan turun.
"Tari."
"Iya pak."
"Saya mau ngasih kamu sesuatu."
Erland merogoh kantong celananya dan mengeluarkan kotak beludru berwarna merah marun dari sana.
"Ini untuk kamu." Lukas menyodorkan kotak itu pada Tari.
"Untuk saya pak." Tari mengambil kotak tersebut antara percaya dan tidak.
Tari kemudian membuka kotak yang ada kini ada ditangannya, dia hampir tidak mempercayai penglihatannya saat melihat kalung yang tadi dia inginkan berada didalam kotak beludru itu.
"Ini....ini beneran untuk saya pak.".
"Iya, itu untuk kamu."
"Tapi...kenapa bapak memberikannya untuk saya, ini terlalu mahal pak."
"Saya memberikannya karna selama ini kamu telah bekerja dengan baik, jadi Tari, kamu pantas untuk mendapatkannya, dan saya tidak menerima penolakan lho."
"Tapi pak ini...."
"Ambil Tari, tidak baik menolak pemberian orang."
"Terimakasih pak Lukas."
"Sama-sama Tari, saya harap, kamu akan lebih semangat untuk bekerja."
__ADS_1
Tari tersenyum simpul, "Pasti."
****