
"Selamat pagi pak Lukas." sapa Tari berdiri dari kursinya saat melihat kedatangan boss barunya.
Rasa tidak nyaman saat melihat Tari tentu saja masih dirasakan oleh Lukas, tapi dia berusha untuk tidak menampakkanya, dia hanya tidak mau orang lain khususnya Tari bertanya-tanya apa yang menyebabkannya merasa tidak nyaman saat melihat Tari.
"Selamat pagi Tari." balas Lukas datar.
"Apa bapak mau kopi, teh." Tari menawarkan, bukannya dia sok cari muka gitu, hanya saja memang tidak ada salahnyakan seorang sekertaris membuat kopi atau teh untuk bossnya.
"Kopi saja kalau kamu tidak keberatan."
"Tentu saja tidak, saya akan membuatkannya untuk bapak."
"Terimakasih Tari."
Setelah mengatakan hal tersebut, Lukas memasuki ruangannya, sementara Tari berjalan menuju pantry untuk membuatkan kopi untuk Lukas.
Aroma harum kopi buatan Tari menyeruak diseantero ruangan pantry, dulu, Adam selalu memuji kopi buatan Tari, katanya kopi buatan Tari enak dan istimewa, gara kopi, Tari jadi teringatkan sama Adam, dan itu membuat wajahnya yang ceria kembali sendu, namun Tari buru-buru untuk mengenyahkan bayangan Adam dari fikirannya supaya dia tidak sedih lagi, ini adalah hari pertamanya bekerja, dia harus semangat dan menjalani hari ini dengan baik.
"Oke Tari, semangat, jangan biarkan masa lalu mempengaruhimu, kamu harus hidup dengan baik." gumamnya menyemangati dirinya sebelum membawa cangkir berisi kopi itu ke ruangan Lukas.
Tari mengetuk pintu, dan dari dalam dia bisa mendengar suara Lukas yang memintanya untuk masuk.
Tari melangkah mendekat ke arah meja bosnya dan meletakkan kopi buatannya tersebut dihadapan Lukas, "Secangkir kopi panas untuk memulai hari yang cerah ini."
"Terimakasih." gumam Lukas tanpa ekpresi dan sibuk mengutak-atik leptop didepannya tanpa menoleh sama sekali ke arah Tari.
"Sama-sama pak."
"Ahhh, akhirnya setelah sekian lama, aku bisa mendapatkan atasan seperti pak Lukas, tidak ganjen dan genit, dia bahkan orangnya cuek dan dingin, tapi ini jauh lebih baik daripada ganjen dan genit." batin Tari.
"Ohh iya pak Lukas, agenda bapak hari ini adalah, sekitar jam 09.30 bapak ada meting dengan para petinggi-petinggi perusahaan, dilanjutkan dengan makan siang bersama nyonya Lili."
Lukas yang saat ini fokus dengan leptopnya mengerutkan keningnya dan menghentikan kesibukannya, "Makan siang dengan mama." ulangnya.
"Iya pak, nyonya Lili sendiri yang secara khusus menghubungi saya dan mengatur jadwal makan siang dengan beliau."
"Dari mana mama mendapatkan nomermu."
"Katanya pak Firman yang memberikannya."
"Oke, selain itu apalagi agenda hari ini."
"Itu saja pak."
"Baiklah, terimakasih Tari."
"Sama-sama pak, saya permisi kalau begitu." Tari pamit undur diri dan berjalan keluar meninggalkan Lukas.
"Buat apa sieh mama ngajak aku makan siang segala, kenapa tidak makan siang sama papa saja." desah Lukas, dia menyeruput kopi buatan Tari, begitu cairan berwarna hitam itu berpindah ke mulutnya, Lukas memejamkan mata, rasa kopi itu begitu pas dilidahnya.
"Tari ternyata pintar membuat kopi." pujinya kembali menyeruput kopi tersebut, "Apa tidak apa-apa ya kalau tiap hari aku memintanya membuatkan aku kopi kayak gini."
*****
"Hai Tari, kamu kayaknya masih kelihatan sibuk, padahal sudah waktunya makan siang lho." sapa Firman berhenti didepan meja Tari.
Disapa begitu, Tari mendongak dan menemukan Firman berdiri dihadapan mejanya.
"Ehh pak Firman, iya pak, pak Lukas menyuruh saya mengetik laporan-laporan ini dan menyerahkannya padanya sebelum jam 2."
"Sudah waktunya makan siang lho ini, mending makan siang dulu, nanti lagi dilanjutkan."
"Ahh iya, pak Firman benar juga." Tari menyudahi mengetiknya dan mematikan leptopnya.
"Apa pak Lukas sudah keluar dari ruangannya." Firman bertanya sembari memandang pintu ruangan atasannya.
"Belum, siang ini pak Lukas ada agenda makan siang bersama dengan nyonya Lili."
Panjang umur, orang yang saat ini tengah dibicarakan keluar dari ruangannya, ponselnya ditempelkanya ditelinganya.
"Iya ma iya, ini juga aku sudah mau berangkat."
"........."
"Iya."
Lukas mengakhiri pembicarannya dengan mamanya ditelpon.
"Pak Lukas." Firman menyapa, dia dan Tari mengangguk saat Lukas menoleh ke arah mereka.
"Kalian tidak turun makan siang." Lukas bertanya.
"Iya pak, ini juga kami akan pergi makan siang." jawab Firman.
"Baiklah, saya duluan kalau begitu." Lukas berjalan meninggalkan kedua bawahannya.
"Sepertinya pak Lukas mau mau menemui ibu Lili untuk makan siang."
__ADS_1
"Iya sepertinya." Firman membenarkan, "Sebaiknya kita juga makan siang Tari, ayok kita bareng ke bawah."
"Iya."
Dua orang itu berjalan beriringan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai bawah dimana kantin kantor berada.
"Bapak jalan duluan saja deh, gak enak kalau jalan barengan gini, ntar orang berfikir macam-macam lagi." ujar Tari saat sudah keluar dari lift.
"Bareng saja ayok, ngapain difikirin omongan orang, lagiankan wajar kalau kita barengan mengingat kita sama-sama sekertarisnya pak Lukas."
"Mmmm, baiklah."
Tari sebenarnya gak mau makan satu meja dengan Firman, tapi gak enak juga sieh menolak ajakan Firman.
"Kamu mau makan apa Tari, disini sup iganya enak banget lho." Firman merekomendasikan.
"Oh ya, mmm ya udah deh, saya mau makan itu saja kayaknya." putus Tari mengikuti pilihan menu Firman.
Setelah memesan mereka duduk dimeja kosong yang tersisa.
****
Lukas melihat mamanya melambaikan tangan ke arahnya saat dia memasuki restoran tempat yang mamanya pilihkan untuk makan siang, mama Lili tersenyum begitu melihat kedatangan putranya.
Pandangan Lukas tertuju pada seorang wanita cantik yang duduk disamping mamanya.
"Siapa wanita yang bersama dengan mama itu." Lukas bertanya -tanya dalam hati sembari melangkahkan kakinya mendekati mamanya.
Mama Lili berdiri menyambut kedatangan putranya, "Hai sayang." sapanya sambil mencium pipi Lukas.
"Sayang, mama sengaja mengajak kamu makan siang bareng karna sekalian mama mau mengenalkan kamu dengan anak temannya mama."
Terjawab sudah siapa gadis yang saat ini tengah bersama mamanya itu.
Gadis yang dimaksud oleh mama Lili berdiri dan tersenyum manis pada Lukas.
"Nahh sayang, ini Arin putrinya jenk Ratna, cantikkan sama seperti mamanya." puji mama Lili.
"Ahh tante bisa aja." gadis bernama Arin itu terlihat malu-malu sebelum memperkenalkan dirinya secara resmi kepada Lukas.
"Hai Lukas, aku Arin."
"Hai Arin." balas Lukas tidak semangat saat mengetahui niat mamanya mengajaknya makan siang adalah untuk mengenalkannya dengan anak temannya.
Lukas dan Arin berjabat tangan, Arin entah beneran ramah atau hanya ingin menarik perhatian Lukas saja, gadis itu tidak lepas menyunggingkan senyum manisnya, Lukas hanya balas tersenyum tipis sebagai sebuah kesopanan.
Saat semuanya sudah duduk dengan nyaman, mama Lili melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan untuk memesan makanan, dan setelah memesan makan masing-masing, mama Lili memulai mempromosikan Arin pada putranya.
"Arin ini sayang, dia adalah mahasiswa kedokteran tingkat akhir lho, dia pintar dan berprestasi dikampusnya, bukan begitu Arin."
"Mmm, biasa aja kok tante, Arin tidak sepintar yang tante fikirkan."
Mama Lili tertawa pelan, "Tuh sayang, kamu dengerkan, Lili ternyata rendah hati, tidak sombong anaknya."
"Kalau Lukas ini sayang, diusia semuda ini dia sudah dipercaya oleh papanya untuk memegang perusahaan keluarga, tante dan Sebastian yakin, kalau putra semata wayang kami ini akan mampu membuat perusahaan semakin berkembang dan besar dibawah kepemimpinannya." mama Lili memuji putranya.
"Wahh hebat ya."
"Biasa aja kok." jawab Lukas datar.
Setelah menunggu beberapa saat, pelayan yang membawa makanan pesanan mereka datang, dan mereka makan sambil ngobrol, Lukas sieh tidak banyak omong, mamanyalah dan Arin yang lebih banyak mendominasi pembicaraan, sedangkan Lukas cendrung bosan dan ingin segera balik ke kantor.
"Lukas, besok besok, ajak Arin makan malam, jalan-jalan atau hanya sekedar nonton kek gitu untuk lebih mengakrabkan diri."
"Hmmm, lihat jadwal nanti ya ma." jawab Lukas, ini sebenarnya adalah penolakan secara halus.
"Sayang, kamu tidak keberatankan kalau besok-besok Lukas mengajak kamu jalan atau hanya sekedar makan malam atau makan siang."
"Ohh, tentu saja tidak tante, Arin justru senang." berbanding terbalik dengan Lukas yang tidak antusias, Arin malah antusias.
"Syukurlah, tante senang banget lho ngedengernya."
Sepertinya Arin menampakkan tanda-tanda suka sama Lukas, itu terlihat dari caranya menatap Lukas.
****
"Pak Lukas sudah mau pulang." sapa Tari begitu melihat Lukas keluar dari ruangannya, dan kebetulan saat ini memang sudah jam pulang kantor.
"Saya tidak langsung pulang, saya ada keperluan." jawabnya jujur karna dia dan kedua sahabatnya berencana untuk bertemu.
"Kamu, kenapa masih disini, kamu tidak pulang gitu."
"Iya pak, ini juga saya sudah mau pulang."
Tari merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke tas.
"Kalau gitu saya duluan Tari." Lukas berjalan meninggalkan Tari.
__ADS_1
Saat Lukas sudah berada didalam lift dan pintu lift sudah akan tertutup, sebuah tangan menahan lift tersebut, tangan itu adalah tangannya Tari.
"Maaf pak." ujarnya.
Lukas hanya mengangguk.
Hening, mereka hanya terdiam saat lift membawa mereka turun ke lantai dasar, sampai tiba-tiba, lampu lift tiba-tiba padam dan lift berhenti seketika, hal itu berhasil membuat Tari panik dan menjerit ketakutan.
"Apa yang terjadi, kenapa lampunya padam dan liftnya jadi berhenti begini."
"Tenang Tari, tidak akan terjadi hal yang buruk." Lukas berusaha menenangkan.
Hanya lima detik, lampu kembali menyala, tapi lift itu benar-benar berhenti total.
Saat lampu menyala, Lukas bisa melihat Tari menempel didinding, gadis itu terlihat ketakutan.
"Bagimana ini, bagaimana kalau terjadi sesuatu." gumam Tari dengan tubuh gemetaran, Tari memang sering mengalami serangan panik sejak kejadian malam nahas itu.
Lukas mendekati Tari dan berusaha kembali untuk menenangkannya, Lukas memegang pundak Tari, "Heii, tidak akan terjadi apa-apa, jadi kamu jangan takut oke."
Namun bukannya tenang, Tari semakin gemetaran, ada rasa tidak suka dihati Lukas melihat Tari ketakutan begitu, oleh karna itu, Lukas memencet-mencet tombol lift dan berteriak, "Heii, apa ada orang diluar, tolong kami, kami terjebak didalam." Lukas memukul pintu lift berharap ada yang mendengarnya dan mengeluarkannya dengan Tari dari sana.
Saat Lukas berbalik, dia melihat Tari meringkuk, "Apa kita akan terjebak disini, aku takut."
Entah kenapa, tiba-tiba dada Lukas sesak melihat Tari ketakutan begitu, dia mendekat, "Heiii, tidak akan terjadi apa-apa oke, semuanya akan baik-baik saja, percayalah kepadaku."
Tari mendongak, matanya bertemu dengan netra Lukas yang hitam pekat.
Lukas mengelus pipi Tari, "Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah, ada aku disini."
"Aku...aku takut...bagaimana kalau..."
"Sstttt." Lukas meletakkan jari telunjukknya dibibir Tari, "Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa."
Dan entah dorongan dari mana, Lukas menarik tangan Tari dan memeluknya, Lukas tidak bermaksud macam-macam apalagi mengambil kesempatan, hanya saja dia berusha untuk membuat Tari merasa tenang dan aman dalam pelukannya.
Lukas mengelus rambut Tari, "Semuanya akan baik-baik saja, percayalah."
Tubuh Tari yang tadinya menggigil gemetaran kini mulai rileks, sepertinya pelukan dan kata-kata Lukas mampu membuatnya tenang, mereka berpelukan beberapa saat sampai kemudian pintu lift terbuka, beberapa orang berdiri diluar.
Para karyawan yang berdiri diluar agak terkejut melihat boss mereka berpelukan dengan sekertaris barunya, mereka yang tadinya ingin menanyakan kondisi sang boss harus menghentikan bibir mereka untuk bertanya sementara waktu.
Begitu melihat lift terbuka, Tari yang kondisinya sudah membaik menjauhkan tubuhnya dari Lukas, sumpah dia merasa malu banget kpergok berpelukan begini.
Sedangkan Lukas, dia tidak terpengaruh sama sekali dengan pandangan orang-orang tersebut, dia terlihat cuek.
"Mmmm, saya duluan pak." tanpa menunggu jawaban dari Lukas, Tari main pergi saja, saat ini dia ingin jauh-jauh dari orang-orang yang menatapnya dengan pandangan sarat akan keingintahuan, keingintahuan apa hubungan sang sekertaris baru dengan sang boss.
"Pak Lukas, apa bapak baik-baik saja, tadi liftnya sedikit mengalami masalah." tanya salah satu dari para karyawan tersebut setelah sadar dari keterpanaan dari apa yang dia saksikan didepan matanya.
"Iya saya dan Tari baik-baik saja, lain kali pastikan liftnya beroperasi dengan baik, supaya tidak ada kejadian seperti ini lagi." ujarnya dan berlalu pergi.
"Baik pak."
****
Lukas merasa tidak nyaman berada ditempat hingar bingar seperti ini, suara dentuman musik membuat kepalanya terasa pening, iya saat ini Lukas tengah berada disebuah club malam, dia disini karna undangan Erik sahabatnya yang tengah merayakan ulang tahunnya diclub.
Bahkan Lukas mengenakan stelan pakain kerjanya ke club, dia tidak repot-repot mengganti pakaiannya, dia benar-benar terlihat salah kostum.
Kalau dulu, dunia malam dan minum-minum adalah dunianya, tapi semenjak kejadian malam yang membuat Lukas merasa berdosa seumur hidupya, dia tidak pernah lagi datang ke club malam apalagi menyentuh minuman terkutuk yang menyebabkan kejadian buruk itu terjadi, tapi kali ini adalah pengecualian, dia ada disini hanya untuk menghargai Erik sahabatnya, dan entah dimana Erik dan Parhan sekarang, sedangkan dirinya hanya duduk sendirian disalah satu sofa dengan minuman soda yang menemaninya.
"Ukhhh, panas." Parhan yang sejak tadi aktif menari mengikuti musik yang dimainkan oleh DJ kini mengistirahatkan tubunya sejenak disamping Lukas, dia meraih minuman keras yang ada dimeja dan meneguknya dalam sekali tegukan.
"Lo gak turun Kas."
Lukas menggeleng, sebenarnya di ingin pulang, tapi dia merasa tidak enak dengan Erik.
Erik yang juga sepertinya capek setelah menari dengan heboh dilantai dansa kini mendekati Lukas.
"Come on men, hari ini adalah hari ulang tahun gue, lo juga harus happy-happy donk, jangan hanya jadi patung seperti ini." bujuk Erik karna sejak kedatangannya diclub Lukas hanya duduk seperti patung.
"Sejak pulang dari Amrik lo berubah drastis men, gue fikir karna lo di Amrik, baliknya lo bakalan makin menikmati hidup, ternyata negara bebas itu telah merubah elo jadi kayak ustadz kayak gini." kekeh Parhan.
Bukan Amerikanya yang merubah Lukas, tapi kejadian malam itu, dia hanya ke Amerika untuk melarikan diri untuk berusaha melupakan kejadian itu, tapi tentu saja hal tersebut tidak dia ungkapkan pada sahabatnya.
Memang sieh, Lukas meminta Parhan mengawasi Tari, dia hanya bilang kalau dia merasa bersalah sama Tari dan dia hanya ingin memastikan kalau gadis itu baik-baik saja, sedikitpun Lukas tidak pernah menceritakan sama siapapun termasuk sama kedua sahabatnya kalau malam itu benar-benar mempengaruhinya sampai saat ini.
"Semua orang bisa berubahkan, lagipula minuman beralkohol tidak baik untuk kesehatan."
"Hahaha." Parhan dan Erik tertawa mendengar ucapan sahabat mereka mengingat dulu Lukas tidak akan berhenti minum kalau tidak sampai tepar.
"Ternyata sahabat kita ini benar-benar sudah berubah Rik, astaga, gue jadi berasa diceramahi ustadz beneran lho."
Lukas mengabaikan ledekan Parhan, sebagai gantinya, Lukas meminta izin sama Erik untuk pulang duluan, dan untungnya Erik yang melihat ketidaknyamanan Lukas mengizinkan Lukas pulang lebih dulu.
****
__ADS_1