CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
BERDUKA


__ADS_3

Adam mengangguk dengan pasti, "Iya ayah, Adam akan menikahi Tari." janji Adam.


"A yah, ra sa, umur ayah tidak akan lama lagi." suara ayah Rahman terputus-putus.


"Ayah, jangan berkata begitu." potong Tari, dia takut mendengar kata-kata ayahnya, kalimat ayahnya seperti mengindikasikan kalau dia akan pergi dan tidak akan pernah kembali, "Ayah sebaiknya istirahat ya, ayah harus banyak istirahat supaya cepat sembuh." ujar Tari.


"Tari benar ayah, ayah sebaiknya istirahat, nanti kalau ayah sudah sehat, masalah ini kita bahas lagi ya." Adam menimpali.


Namun ayah Rahman tidak mengindahkan peringatan putrinya dan Adam, dia menggeleng lemah.


"Ayah tidak bisa tenang sebelum melihat putri ayah ada yang menjaga."


"Ayahh, cukup ayah, hentikan, ayah tidak boleh terlalu banyak bicara dulu, ayah harus istirahat, ayah jangan bicara macam-macam, ayah pasti sehat kok." Tari sudah sesenggukan, entahlah, perasaan Tari menjadi tidak enak karna kata-kata ayahnya menjurus pada hal yang paling dia takutkan.


Lagi-lagi ayah Rahman mengabaikan kata-kata putrinya.


"Ayah minta, nikahilah putri ayah sekarang nak Adam, selagi ayah punya kesempatan untuk menyaksikannya."


Laura yang melihat adegan mengharukan itu juga tidak kuasa untuk menahan air matanya, dia sayang sama ayah Rahman dan sudah menganggap ayah sahabatnya itu sebagai ayahnya sendiri, Laura tidak ingin terjadi hal yang buruk sama ayah Rahman.


"Jangan berkata begitu ayah, ayah pasti akan sehat dan bisa menyaksikan Adam dan Tari menikah."


Ayah Rahman menggeleng, "Ayah mohon nak, nikahikah putri ayah sekarang." kukuh ayah Rahman.


Pada akhirnya, Adam mengangguk, "Baiklah ayah, Adam akan menikahi Tari sekarang."


****


"Saya terima nikahnya Mentari Whardhani dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai." ucap Adam mantap dihadapan penghulu.


Adam tidak pernah menyangka akan mengucapkan kalimat sakral itu dalam kondisi berduka begini, yang dia inginkan adalah mengucapkan kata-kata sakral itu dalam suasana bahagia, tapi yah apa mau dikata, Adam harus menuruti ayah Rahman, Adam takut mungkin ayah Rahman tidak akan bertahan lama.


"Sahh." kompak saksi yang terdiri atas Laura, Marcell dan dokter yang menangani ayah Rahman serta dua orang perawat.


Tari menitikkan air mata bahagia sekaligus sedih, bahagia karna akhirnya dia bisa menikah dengan laki-laki yang dia cintai, sedih karna dia dan Adam menikah saat ayahnya tengah terbaring sakit tidak berdaya.


Ayah Rahman meraih tangan putrinya dan tangan Adam yang sekarang sudah resmi menjadi menantunya, ayah Rahman mempersatukan kedua tangan itu, "Jagalah putri ayah nak Adam, jangan pernah sakiti dia." itu adalah harapan setiap seorang ayah.


"Iya ayah, Adam janji, Adam akan selalu menjaga dan melindungi Tari, Adam tidak akan pernah menyakiti Tari."


Tari hanya bisa menangis dan menangis, perasaan tidak enak itu semakin kuat membuncah.


"Terimakasih nak Adam, ayah percaya sama kamu, sekarang ayah bisa pergi dengan tenang."


Setelah mengatakan hal itu, ayah Rahman terlihat kesulitan untuk bernafas, bibirnya terbuka seperti ingin melafalkan sesuatu.


"Ayahhh, jangan pergi ayah, jangan tinggalkan Tari." Tari menangis histeris melihat kondisi ayahnya yang memburuk.


Laura mendekat dan langsung memeluk Tari, sedangkan Adam mendekatkan bibirnya untuk membisikkan talkin di telinga ayah Rahman.


"Ayah Ra, ayah." Tari rasanya gak kuasa berpisah dengan ayahnya secepat ini.


Laura juga menangis, dua gadis itu menangis sambil berpelukan, saat ini Laura juga tidak bisa berpura-pura kuat dan menenangkan Tari, dia hanya bisa memberi pelukan sama Tari.


Dan dengan dibantu oleh Adam, dan setelah berjuang mengucapkan talkin, akhirnya ayah Rahman menghembuskan nafas terakhir.


"Ayahhhh." Tari menjerit histeris dan berlari memeluk jasad ayahnya, "Ayahhh, jangan tinggalkan Tari ayah, huhhu, maafkan Tari ayah, Tari belum bisa menjadi anak yang baik dan berbakti, Tari belum bisa membahagiakan ayah."


Adam tentu saja sedih kehilangan mertuanya, tapi dia masih bisa mengontrol kesedihannya, dia meraih tubuh Tari dan membawanya dalam pelukannya.


"Mas Adam, ayah mas, ayah."


"Iya Tari, ayah telah pergi meninggalkan kita, kamu harus kuat dan tabah Tari, ikhkaskan kepergian ayah supaya dia pergi dengan tenang." Adam mengelus lembut kepala Tari, gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya.


"Tapi...tapi bagaimana denganku mas, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, hanya ayah yang aku miliki di dunia ini."


Adam mengurai pelukannya, dia menangkup wajah sang kekasih, "Heii, apa yang kamu katakan, aku disini Tari, aku akan selalu ada untukmu dan menjagamu, ayah telah menyerahkan kamu kepadaku untuk menjagamu, dan satu hal yang perlu kamu ingat, sekarang aku adalah suami kamu Tari." Adam mengingatkan Tari kalau saat ini statusnya adalah suami Tari dan tentunya dia akan selalu ada untuk istrinya itu.


Tari mengangguk, dia melupakan fakta kalau sekarang dia sudah sah menjadi seorang istri dari Adam Wijaya.


"Maafkan aku mas."


"Kamu jangan menangis lagi Tari, relakan ayah agar ayah tenang disana."


Tari mengangguk membenarkan ucapan suaminya, Adam benar, Tari harus merelakan kepergian ayahnya.


****


Suasana haru menghiasi pemakaman ayah Rahman, beberapa kenalan dan tetangga datang untuk mengiringi kepergian ayah Rahman, termasuk Laura dan juga kedua orang tuanya, sama seperti Laura yang menganggap ayah Rahman seperti ayahnya sendiri, orang tua Laura juga sudah menganggap Tari sudah seperti anaknya sendiri, mereka ikut berduka dengan perginya ayah Rahman.


Tari sudah bisa tegar, dia tidak menangis histeris lagi seperti kemarin, tapi air matanya kembali berjatuhan saat melihat tubuh ayahnya untuk terakhir kalinya sebelum dimasukkan ke liang lahat.


Adam tidak pernah meninggalkan sisi Tari, dia senantiasa memeluk sang istri dan menguatkan sang istri, seperti saat ini, dia merangkul Tari erat dan menguatkan sang istri.

__ADS_1


"Kamu yang sabar sayang."


Tari mengangguk.


Saat semua yang ikut mengantarkan jenazah ayah Rahman ke peristirahatannya yang terakhir, Tari tetap tinggal bersama dengan Adam, dia duduk disamping makam ayahnya, menatap gundukan tanah basah itu dengan tatapan hampa.


Laura dan juga kedua orang tuanya masih berada disana, kemudian papa dan mama Laura berjalan mendekati Tari untuk menyampaikan bela sungkawa mereka secara khusus.


Mama Indi, mamanya Laura menepuk pundak Tari yang membuat Tari menoleh.


Mama Indi tersenyum sendu, dia turut merasakan kesedihan yang dialami oleh sahabat putrinya itu, "Sayang, tante turut berduka cita atas kepergian ayah kamu, kamu yang tabah ya menghadapi cobaan ini."


"Terimakasih tante."


Tari memeluk mama Indi, mama Indi mengelus puncak kepala Tari, "Kamu jangan merasa sendiri Tari, ada tante, om dan juga Laura yang akan selalu ada untukmu, jangan pernah sungkan kepada kami, anggaplah kami seperti keluarga kamu sendiri."


Tari mengangguk, ternyata memang masih banyak orang yang peduli kepadanya.


"Iya Tari, kamu sudah kami anggap seperti anak kami sendiri, jadi om harap, kamu tidak sungkan kepada kami saat kamu membutuhkan pertolongan." papa Anto menimpali ucapan istrinya.


"Terimakasih om, tante, kalian begitu sangat baik sama Tari."


"Itu memang sudah seharusnya sayang."


Mama Indi mengurai pelukannya saat dilihatnya Laura mendekati mereka, "Om dan tante pamit dulu ya sayang."


Tari mengangguk, "Sekali lagi terimakasih om, tante karna telah datang mengantarkan ayah ke peristirahatannya yang terakhir."


Mama Indi tersenyum sebagai balasan, "Adam, tolong jaga Tari ya." pesan mama Indi sama Adam, dia dan suaminya sudah tahu kalau Tari sudah menikah dengan Adam.


"Iya tante, Adam akan menjaga Tari."


"Kalau kamu sampai macam-macam atau menyakiti Tari, kamu akan berhadapan dengan om." ancam papa Anto bercanda.


Candaan itu membuat yang ada disana terkekeh, sedangkan Tari hanya tersenyum tipis karna untuk saat ini dia masih belum mampu untuk tertawa.


"Laura, mama dan papa tunggu kamu dimobil." imbuh mama Indi pada putrinya.


Laura mengangguk.


Dua gadis yang bersahabat sejak SMA itu saling berpelukan satu sama lain.


"Kamu jangan sedih lagi ya Tari, kamu dengarkan kata mama, kamu tidak sendirian, ada kami yang akan selalu ada untukmu, ada mas Adam juga yang sekarang sudah resmi menjadi suami kamu."


"Aku yang lebih beruntung menjadi sahabatmu."


Setelah berbicara singkat, Laura pamit karna dia tidak mau papa dan mamanya menunggu terlalu lama.


"Aku pulang dulu ya Tari."


Tari mengangguk sebagai jawaban.


"Mas Adam, aku pamit dulu ya."


"Iya Ra, terimakasih karna kamu telah banyak membantu."


"Iya mas sama-sama, kalau aku yang dalam keadaan kesusahan, aku yakin kalian juga akan melakukan hal yang sama."


Setelah kepergian Laura dan keluarganya, sekarang tinggal mereka berdua, Tari kembali duduk berjongkok didepan makam ayahnya, diikuti oleh Adam yang duduk disamping Tari.


Tari mengangkat tangannya, berdoa untuk ayahnya yang sekarang sudah tenang berada di alam sana, Adam juga ikut mendoakan mertuanya itu.


Dan sebelum pergi, Tari berkata, "Selamat tinggal ayah, aku akan selalu berdoa untuk ayah supaya ayah ditempatkan ditempat terbaik disisinya."


"Amin." Adam mengaminkan ucapan sang istri.


"Ayok sayang kita balik." ajak Adam dan melingkarkan tangannya mengelilingi punggung sang istri.


"Iya mas."


Mereka berjalan meninggalkan pemakaman, dan sebelum benar-benar pergi, Tari menoleh untuk terakhir kalinya ke arah gundukan tanah basah tersebut, dia berjanji akan sering-sering datang berkunjung untuk menengok ayahnya.


****


Mereka pulang ke rumah sederhana peninggalan ayah Rahman, Tari duduk dikursi rotan, dia meneliti setiap sudut ruang tamu rumahnya, dan kenangan bersama dengan ayahnya kembali membayanginya, dan hal itu kembali membuatnya bersedih, bagaimana tidak, begitu banyak kenangan indah yang terjadi bersama ayahnya dirumah sederhana itu, meskipun kehidupan mereka pas-pasan, tapi ayahnya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk sang putri.


"Ayahh." desah Tari saat kenangan indah itu bermunculan satu persatu ke permukaan.


Adam tahu istrinya pada masa-masa ini masih dalam fase berduka dan mungkin hanya butuh waktu sendiri dulu, Adam membiarkan karna itu merupakan sesuatu hal yang wajar, diapun kalau seandainya ditinggalkan oleh orang tuanya juga akan melakukan hal yang sama seperti Tari.


Oleh karna itu, Adam berjalan menuju dapur berinisiatif membuatkan teh hangat untuk Tari, bisa dibilang, ini untuk pertama kalinya dia membuatkan teh untuk seseorang, karna terlahir dari keluarga kaya sehingga Adam biasanya kalau mau apa-apa termasuk dibikinin teh atau kopi selalu meminta sama Artnya.


Setelah memasak air dan mencelupkan kantong teh pada air panas dan memasukkan gula, teh yang dia buat diantarkan kepada Tari.

__ADS_1


Adam meletakkan cangkir berisi teh itu dihadapan Tari, Tari hanya menatap teh yang diletakkan oleh sang suami dihadapannya, dan lalu kemudian beralih menatap Adam kembali, makna pandangannya menyiratkan, "Ini beneran mas Adam membuat teh."


Memang hanya teh sieh, suatu hal yang sangat sederhana, tapi untuk orang yang tidak pernah menyentuh peralatan masak memasak tentu saja membuat teh bukanlah suatu hal yang mudah.


Menyadari makna dari tatapan Tari, Adam menjelaskan, "Iya aku tahu apa yang kamu fikirkan Tari." ujarnya, "Tapi kalau hanya teh sieh aku bisa sayang, jadi, jangan meremehkan suami kamu ini."


"Hmmm."


"Cuma hmmm doank, diminum donk sayang."


Tari meraih cangkir berisi teh tersebut, karna masi panas, Tari meniupnya terlebih dahulu sebelum mendekatkannya ke bibirnya, dan, ekpresi wajah Tari seperti orang yang memakan buah mengkudu saat air berwarna kecoklatan itu berada dimulutnya.


"Kenapa Tari." Adam bertanya saat melihat wajah Tari yang kelihatan berusaha untuk menelan air teh yang sudah terlanjur masuk kemulutnya.


"Kok tehnya asin sieh mas."


"Asin, masak sieh."


"Iya, apa yang mas masukin garam kali ya."


Adam mengambil cangkir itu untuk membuktikan apakah benar apa yang dikatakan oleh Tari, dan Adam langsung memuncratkan teh yang sudah bercampur dengan air liurnya itu keluar dari mulutnya, lidahnya sampai melet-melet begitu.


"Asin banget."


Tari tertawa pelan, ini untuk pertama kalinya dia bisa tertawa setelah kepergian ayahnya, tawa Tari ternyata menular sama Adam, dia juga ikutan tertawa.


"Beneran kayaknya yang mas masukin ke teh itu adalah garam bukannya gula, asin banget gitu tehnya."


"Sepertinya sieh iya, sepertinya aku memang salah ambil, garam aku fikir gula, habisnya dua benda itu sama tapi beda rasa, sama-sama putih dan halus."


Tari kembali terkekeh.


"Syukurlah dia sudah kembali tertawa, aku bahagia melihatnya."


Karna suasana masih dalam keadaan berduka sehingga Adam masih belum memberitahu Tari kalau dirinya diusir dari rumah, parahnya lagi, dia sudah tidak dianggap sebagai anak lagi oleh papanya, oleh karna itu, saat ini Adam ingin memberitahukan akan perihal ini sama Tari.


"Tari." gumamnya.


Tari memberikan perhatiannya sepenuhnya pada sang suami saat suara suaminya terdengar serius, "Kenapa mas."


"Mmmm." Adam agak ragu untuk memberitahunya.


"Ada apa mas." cecar Tari saat melihat suaminya malah diam.


"Aku diusir dari rumah oleh papaku."


"Mas apa...."


"Aku diusir Tari." Adam mengulangi kata-katanya.


"Mas diusir, ya Tuhan." Tari disini merasa bersalah karna beranggapan ini semua gara-gara dirinya.


"Maafkan aku mas."


Adam heran, kenapa kekasihnya malah meminta maaf, "Kamu kenapa malah meminta maaf Tari."


"Karna gara-gara aku mas Adam sampai diusir."


Adam tersenyum tipis, "Ini bukan salahmu sayang, jadi, jangan pernah salahkan dirimu, ini adalah keinginanku, aku ingin hidup dan membangun rumah tangga bersamamu, tapi keluargaku menentangnya, dan aku berhak untuk hidup bersama dengan wanita yang aku cintai." Adam berusaha menjelaskan, dia tidak ingin Tari menyalahkan dirinya atas keputusannya ini.


Tapi mendesah, meskipun Adam bilang begitu, tapi tetap saja dia merasa bersalah.


"Sekali lagi, maafkan aku mas."


"Sudah aku bilang ini bukan salahmu, jadi berhenti menyalahkan dirimu kamu oke."


Tari mengangguk.


"Dan yah, aku aku diusir dari rumah dan semua fasilitas yang selama ini papa berikan kepadaku dicabut kembali, termasuk aku juga dikeluarkan dari kantor, dan sekarang aku jadi laki-laki kere yang pengangguran, maukah kamu hidup bersama dengan laki-laki kere yang tidak punya apa-apa ini Tari."


Tari meraih tangan suaminya dan menggenggamnya, dia memandang suaminya dengan penuh cinta dan menegaskan, "Aku tulus mencintaimu mas, bukan karna hartamu, jadi apapun kondisi kamu, aku akan selalu menerimamu."


Adam tahu Tari akan mengatakan hal itu, dia sangat bersyukur akan hal itu, dia mengarahkan tangan Tari ke bibirnya dan menciumnya, "Terimakasih sayang, aku benar-benar beruntung mendapatkanmu."


Tari tersipu malu.


"Dan sekarang, marilah kita memulai kehidupan kita yang baru, aku akan mencari pekerjaan untuk membiayai kehidupan rumah tangga kita."


"Iya mas." angguk Tari.


Kini kehidupan mereka yang baru akan mulai.


****

__ADS_1


__ADS_2