
Tari tersenyum cerah saat melihat mobil sahabatnya yaitu Laura berada didepan kantornya, Tari memang rencananya mau menginap dirumah Laura malam ini, sejak bekerja dikantor milik keluarga Lukas selama dua bulan belakangan ini, Tari tidak pernah lagi nginep dirumah Laura, dan kini Tari memutuskan untuk menginap dirumah Laura karna dia ingin menceritakan banyak hal pada sahabatnya itu.
"Hai Ra, sudah lama." tanyanya saat dirinya sudah duduk dengan nyaman disamping Laura.
"Gak lama-lama amet kok, sekitar 10 menit yang lalu kok."
"Yuk jalan Ra."
Bukannya menjalankan mobilnya, Laura malah celingak-celinguk sampai Tari kembali menegurnya.
"Ra, ayok jalan, kenapa malah celingak-celinguk sieh, apa yang kamu cari."
"Aku ingin lihat kekasih kamu itu Tari, mana orangnya, tunjukkin ke aku."
"Astaga, aku kirain apa tadi, Lukas sudah lebih dulu pulang Ra, dia ada acara keluarga katanya."
"Yahh, padahal aku ingin lihat, aku penasaran banget lho ingin melihat pacar kamu itu." desah Laura terlihat kecewa.
"Kamu tenang saja, nanti juga bakalan aku kenalin kok sama kamu Ra."
"Baiklah kalau begitu, ayok kita berangkat." Laura menjalan mobilnya meninggalkan area kantor Tari, mobilnya meluncur membelah jalan raya bersama dengan mobil-mobil lainnya dijalan raya.
*****
"Wahh, ada Tari, kamu tumben datang sayang." tegur mama Indi ramah saat melihat kedatangan Tari dirumahnya.
Wanita yang sudah menganggap Tari sudah seperti anaknya itu sendiri memeluk Tari dan menciumnya.
__ADS_1
"Iya tante, habisnya akhir-akhir ini Tari lagi sibuk banget."
"Meskipun sibuk, kamu jangan lupa makan, dan harus tetap menjaga kesehatan lho Tari, ingat, kesehatan itu nomer satu, jangan seperti sahabatmu yang satu ini, kalau sudah sibuk jadi lupa makan."
Tari terkekeh, "Iya tante, insaallah, Tari tidak akan lupa makan."
"Ma, kami ke kamar dulu ya, soalnya ada banyak hal yang perlu untuk dicurhatkan oleh gadis-gadis ini." Laura mengintrupsi acara ramah tamah mamanya dan Tari.
"Kami ke kamar dulu ya tante." pamit Tari mengikuti Laura.
Mama Indi hanya mengangguk dan membiarkan Tari dan Laura pergi.
Begitu tiba dikamar Laura, Tari membanting tubuhnya ditempat tidur Laura, tempat tidur itu sangat nyaman, dulu saat zaman masih menggunakan seragam putih abu-abu dan saat zaman kuliah dulu, Tari sering menginap dirumah Laura, dan saat sudah menikah, Tari tidak pernah lagi menginap, dan begitu Adam sudah wafat, Tari menginap, tapi jarang.
"Ganti baju kamu gieh Tar." ujar Laura.
"Iya." jawab Tari dengan agak malas-malasan menarik tubuhnya untuk bangun.
Tari berjalan menuju lemari Laura untuk mencari baju untuk mengganti pakaiannya, dan setelah selesai mengganti pakaiannya, Tari kembali ke tempat tidur dan duduk bersila mengikuti Laura yang juga sudah duduk bersila disana, Laura siap untuk menunggu Tari untuk bercerita.
"Jadi Mentari Whardhani sahabat kandungku, sekarang ceritakan bagaimana hubunganmu dengan kekasih barumu yang sekaligus merupakan atasamu itu." Laura bertanya dengan antusias.
Tari tidak langsung menjawab pertanyaan Laura, yang dia lakukan adalah memegang kalung yang melingkar dengan manis dilehernya, kalung yang dibelikan oleh Lukas untuknya, dan Laura otomatis mengarahkan pandangannya ke arah leher Tari.
"Ohh my god." jeritnya heboh.
"Kamu kenapa Ra."
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kalung itu dibelikan oleh sik boss pujaan hati hati kamu itu Tari." Laura menebak.
Senyum Tari tiba-tiba mengembang dibibir mungilnya sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan Laura tersebut.
"Jadi beneran kalung itu dibelikan oleh Lukas." meskipun sudah tahu jawabannya, Laura meminta konfirmasi secara langsung dari Tari secara lisan.
Tari mengangguk malu, "Iya, memang kalung ini dibelikan oleh mas Lukas, tapi kalung ini dibelikan sebelum kami pacaran."
"Itu artinya, saat dia membelikan kamu kalung itu, dia sudah memiliki rasa sama kamu Tari."
"Mmm, mungkin."
"Sialan, aku sangat penasaran ingin melihat seperti apa sieh orang yang berhasil membuat kamu jatuh cinta itu Tari." Laura penasaran akut.
"Pokoknya dia baik, hmmm, apalagi ya." Tari terlihat berfikir mengingat-ingat kelebihan yang dimiliki oleh sang pujaan hati, "Yang pastinya sieh tampan."
"Ciee tampan, ya namanya juga kamu lagi jatuh cinta, ya dimata kamu tampanlah." goda Laura yang tersenyum jail.
"Tapi Lukas beneran tampan Ra, dia itu menjadi idola karyawan-karyawan wanita dikantor lho." Tari menjelaskan.
"Oh ya, lebih tampan mana sik Lukas itu dan mas Adam."
Mendengar nama Adam disebut-sebut membuat Tari menunduk, sesungguhnya, meskipun sudah bersama dengan Lukas dan melabuhkan cintanya sama Lukas, Adam tidak bisa Tari hilangkan, Adam memiliki tempat tersendiri di hatinya.
Sadar karna pertanyaannya telah menyingung Tari, Laura buru-buru meminta maaf, "Ra, maafin aku, aku gak maksud...."
"Aku tahu Ra." Tari berusaha untuk tersenyum, meskipun senyum itu palsu, "Mas Adam dan mas Lukas adalah dua orang yang berbeda, mas Adam hadir dikehidupanku lebih dulu dan pada akhirnya dia lebih dulu meninggalkan aku, dan mas Lukas hadir menggantikan mas Adam, dan memberikan harapan yang baru, mas Lukas tidak benar-benar bisa menggantikan mas Adam sieh, karna meskipun mas Adam sudah tiada, dia menempati tempat khusus dihatiku Ra."
__ADS_1
Laura terpaku mendengar penuturan Tari, dia bangga sama sahabatnya itu, Tari benar-benar gadis yang kuat, buktinya dia mampu menjalani hidupnya setelah dihadapkan pada cobaan yang begitu berat dimasa lalu, kehilangan suami, sekaligus bayinya disaat bersamaan.
****