
"Lho mama, tumben banget mama kemari." Hawa tentu kaget saat melihat mamanya tiba-tiba datang ke rumahnya.
Saat itu Hawa tengah bermain dengan Orlin diruang tengah.
Hawa berdiri dan menyongsong mamanya, Hawa memeluk mamanya dan mencium pipi mamanya, melihat raut wajah mamanya yang kelihatan murung, Hawa yakin ada sesuatu yang menyebabkan mamanya itu datang ke rumahnya, karna setahu Hawa, mamanya lebih seneng kumpul-kumpul dengan geng sosialitanya ketimbang mendatanginya ke rumah.
Sik Orlin kecil menggapai-gapai ke arah neneknya, "Eang eang." panggilnya dengan suara yang belum jelas.
"Sini sayang eyang gendong." mama Cellin mengangkat cucunya dan membawanya dalam gendonganya, "Duh cucu eyang, gemes banget sieh." mencium pipi Orlin yang gembil.
"Duduk dulu ma."
Mama Cellin duduk disofa sembari memangku cucunya yang memain-mainkan manik-manik yang menempel dibajunya.
"Mbak Srii, mbak Marni." Hawa memanggil pembantu rumah tanggannya dan baby siter Orlin.
Seorang wanita kira-kira berumur empat puluhan datang tergopoh-gopoh menghampiri nyonya majikannya.
"Iya nyonya."
"Mbak, tolong buatkan minum untuk mama ya."
"Baik nyonya."
Dua detik kemudian, Marni juga datang.
"Ibu memanggil saya."
"Iya mbak Marni, tolong bawa Orlin main ke kamarnya ya."
"Baik bu."
Marni mengambil Orlin dan pangkuan eyangnya, "Ayok Orlin sayang kita main dikamar Orlin ya."
Gadis kecil itu nurut, "Tatah Eang." melambaikan tangannya yang mungil.
"Dadah cucu kesayanganku." mama Cellin balas melambai.
Setelah baby siternya pergi, Hawa memusatkan perhatiannya pada sama sang mama dan menanyakan maksud kedatangan mamanya itu menemuinya, "Ada apa ma sebenarnya."
Mama Cellin terlihat menarik nafas dan mendesah, dari sini Hawa bisa menebak kalau ada sesuatu yang terjadi dalam keluarganya.
"Apa adikmu menghubungimu Hawa." tanya mama Cellin, dia berharap Hawa mengatakan 'iya' karna dia sangat khawatir dengan putranya, sejak semalam Adam tidak mau menjawab panggilannya.
Sayangnya harapan mama Cellin tidak terkabul karna Hawa menggeleng, "Gak ma, Adam tidak menghubungi Hawa, memangnya apa yang terjadi ma."
"Adikmu itu sejak semalam pergi dari rumah, dan sampai saat ini dia belum pulang, mama sudah berusaha menghubunginya, tapi dia malah mengabaikan panggilan mama."
"Adam pergi dari rumah ma, emang ada apa, semalamkan semuanya baik-baik sajakan, Adam kelihatan bahagia bersama dengan Tari."
Mengabaikan ucapan Hawa, mama Cellin malah meminta pendapat Hawa tentang Tari, "Hawa, menurut kamu gadis itu gimana."
"Tari mama maksud mama."
Mama Cellin mengangguk.
Hawa terlihat berfikir sejenak sebelum menjawab; "Dari apa yang Hawa lihat semalam, Tari baik ma, cerdas lagi karna dia selalu mendapatkan beasiswa."
"Tapi dia berasal dari keluarga miskinkan." potong mama Cellin.
"Memangnya kenapa ma kalau Tari berasal dari keluarga kurang mampu, jangan bilang mama tidak suka sama Tari gara-gara hal itu." cecar Hawa mendengar nada ketus yang keluar dari bibir mamanya.
"Oke, mama akan jujur sama kamu Hawa, mama memang tidak menyukai gadis itu karna dia berasal dari keluarga kurang mampu, kamu bayangkan saja Hawa, bagaimana keluarga kita bisa bersanding dengan ayah Tari yang hanya seorang penarik angkot."
"Ma." Hawa menekan kata-katanya, "Gak ada yang salah dengan ayah Tari yang penarik angkot, bukannya mama yang selalu mengajarkan pada Hawa dan Adam kalau derajat manusia disisi Tuhan itu sama, dan mama juga mengajarkan pada kami untuk tidak membedakan orang dalam bergaul, selama ini yang Hawa tahu, mama selalu baik dan bahkan papa menjadi donatur tetap dibeberapa panti asuhan, Hawa gak nyangka mama bisa mengatakan hal itu, pantas saja Adam pergi dari rumah."
"Kamu jangan berfikir negatif tentang mama Hawa, mama dan papamu tetaplah orang baik yang tidak melihat seseorang dari status sosialnya, hanya saja, rasanya mama berat menerima Tari sebagai menantu dikeluarga kita."
"Terus, bagaimana tanggapan Adam setelah mengetahui kalau mama tidak menyukai latar belakang keluarga Tari."
"Hmmm, kamu bisa menebak sendirikan Hawa dari cerita mama, dia pergi dari rumah setelah berdebat dengan mama tentang Tari, dan saat mama hubunginya, dia malah mengabaikan panggilan mama, wajarkan Hawa kalau mama menginginkan yang terbaik untuk adikmu itu, apalagi dia adalah pewaris kerajaan bisnis keluarga Wijaya."
"Hawa ngerti ma, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, hanya saja ma, Adam sangat mencintai Tari, itu terlihat dari caranya memperlakukan dan menatap gadis itu, dan lagipula Tari adalah gadis yang baik, dan menurut Hawa sieh fine-fine aja kalau Tari bersama dengan Adam, tapi munurut mama sendiri, Tari bukanlah yang terbaik untuk Adam, tapi bagi Adam, pasti Tarilah yang terbaik untuknya." Hawa berusaha menjelaskan berharap mamanya itu mengerti.
"Baik saja tidak cukup Hawa, dalam keluarga terpandang seperti kita, silsilah keluarga juga menjadi pertimbangan untuk mencari menantu, seperti suami kamu yang berasal dari keluarga terpandang."
Hawa mendesah karna mamanya ternyata tetap pada pendiriannya untuk tidak menerima Tari, "Papa gimana ma, apa dia juga tidak suka dengan Tari."
"Jelas saja papamu tidak suka sama Tari sama seperti mama, papamu tidak akan menerima seseorang menjadi anggota keluarga kita kalau gak jelas bibit, bebet dan bobotnya."
"Intinya, mama dan papa tidak setuju dengan hubungan Tari dan Adam." Hawa memperjelas.
"Hmmm."
"Tapi bagaimana dengan perasaan Adam ma, mama tidak memikirkan perasaan dia." Hawa merasa kasihan sama adiknya itu, kisah cinta adiknya ternyata tidak semulus kisah cintanya.
"Mama dan papa telah berencana menjodohkan adikmu itu Hawa dengan putri dari rekan bisnis papamu, keluarga mereka terpandang dan yang pastinya cocok bersanding dengan keluarga Wijaya, mama pernah melihat gadis itu, gadis itu sangat cantik, jika dibandingkan dengan Tari, jelas Tari tidak ada apa-apanya, mama yakin, setelah bertemu dengan gadis itu, Adam pasti bisa melupakan Tari." mama Cellin sangat yakin dengan kata-katanya.
"Ahhh mama dan papa, kenapa kalian begitu egois memikirkan diri sendiri tanpa memperdulikan perasaan Adam." desah Hawa dalam hati prihatin dengan kisah cinta sang adik yang tidak direstui oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Mama minta tolong sama kamu Hawa, tolong kamu hubungi adik kamu itu ya, siapa tahu kalau kamu yang menghubunginya dia akan menjawab."
"Iya ma, akan Hawa coba."
Hawa mengambil ponselnya yang tergeletak dimeja dan mulai mendial nomer adiknya.
Dan benar saja apa yang dikatakan oleh mama Cellin, Adam menjawab panggilan kakaknya.
"Dia menjawab ma." beritahu Hawa tanpa suara.
"Ajak dia bicara." ujar mama Celin tanpa suara juga.
Hawa mengaktifkan pembesar suara supaya mamanya bisa mendengar percakapannya dengan sang adik.
"Adam." panggil Hawa.
"Iya mbak ada apa."
"Kamu dimana."
"Mama pasti telah memberitahu mbak ya kalau aku tidak pulang dari semalam."
"Iya, mama...." Hawa menghentikan kalimatnya saat melihat bibir mama Cellin bergerak.
"Jangan katakan mama ada disini." gumam mama Cellin tanpa suara.
Hawa mengangguk mengerti.
"Iya, mama tadi nelpon, nanyain apakah kamu menghubungi mbak atau gak, sekarang kamu ada dimana Dam."
"Aku ada disuatu tempat mbak, dan aku baik-baik saja, mbak tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, mbak lega dengarnya, tapi Dam, pulanglah, mama mengkhawatirkan kamu."
"Aku yakin, mama juga pasti sudah menceritakan kenapa aku tidak pulangkan." tebak Adam.
"Hmmm, iya."
"Bilang sama mama mbak, aku tidak akan pulang sampai dia merestui hubunganku dengan Tari."
Mama Cellin merebut ponsel dari tangan Hawa, "Adam sayang, pulang ya nak, mama sangat mengkhawatirkan kamu."
"Mama." suara Adam terdengar terkejut mendengar suara mamanya, pasalnya tadi kakaknya mengatakan kalau mama mereka menelponnya untuk menanyakan dirinya, gak tahunya mamanya saat ini tengah bersama dengan kakaknya.
"Pulang ya sayang." mama Cellin memohon.
"Kita bisa membicarakan semuanya baik-baik Adam, kamu pulang dulu ya sayang."
"Bicara apa ma, yang Adam inginkan hanya mama merestui hubungan kami dan membiarkan kami menikah."
"Adam kamu itu....."
Tut tut tut
Adam mematikan sambungan secara sepihak.
"Adam, Adam." panggil mama Cellin mendengus kesal, "Di matikan sama anak itu."
Mama Cellin kembali menghubungi Adam, tapi Adam tidak menjawabnya.
"Bener-bener anak itu." mama Cellin memberikan ponsel itu kembali kepada Hawa.
"Kamu lihat sendirikan Hawa, hanya gara-gara gadis miskin itu dia jadi anak durhaka seperti ini sekarang, main matikan begitu saja, padahal mama belum selesai ngomong."
"Sudahlah ma, biar nanti Hawa ya yang bicara sama Adam."
"Yahh ajaklah adikmu itu bicara Hawa, kasih pengertian sama dia, dia lebih mendengarkanmu daripada mama." pasrah mama Cellin.
"Ya sudah kalau begitu, mama sebaiknya pulang saja, mama mau istirahat, kepala mama tiba-tiba pusing memikirkan adikmu itu."
"Iya, mama sebaiknya istirahat, tenangkanlah fikiran mama." Hawa memeluk mamanya, dan mengantarkan kepergian mamanya sampai depan dimana sopir keluarga menunggu disana.
"Bye ma." Hawa melambaikan tangan melepas kepergian mamanya.
"Aku tidak yakin Adam akan mendengarkanku dalam hal ini." pesimisnya.
****
Saat ini Adam berada diapartmen Marcell, sedangkan yang punya apartmen sendiri belum pulang kerja,
tapi memang Adam sudah biasa keluar masuk apartmen Marcell meskipun si empunya sedang tidak ada.
Adam sendiri malas pergi ke kantor, intinya saat ini dia lagi ngambek sehingga membuatnya malas melakukan apa-apa, ya wajarlah, toh Adam adalah anak dari pemilik perusahaan, jadi ngambek sedikit tidak ada yang menegur kalau tidak masuk, beda ceritanya kalau kerja diperusahaan milik orang yang pastinya tidak bisa membuatnya semena-mena.
"Mungkin Tari sudah berada dirumah sekarang." gumamnya pada diri sendiri, "Iya mungkin saja, inikan sudah sore, sebaiknya aku ke rumahnya saja untuk menemuinya."
Adam berdiri, bersiap untuk pergi, tapi langkahnya terhenti saat pintu apartmen terbuka.
"Hai bro, baru pulang lo." sapanya begitu melihat Marcell masuk dengan membawa sesuatu yang terbungkus plastik diluarnya.
__ADS_1
"Hmmm." Marcell berjalan ke sofa dan meletakkan bawaannya dimeja.
"Lo mau kemana, kayaknya lo mau pergi."
"Gue mau ke rumah Tari."
"Lo makan dulu, tuh gue bawain makanan untuk lo." Marcell mengedikkan dagunya pada bungkusan yang dia letakkan dimeja.
"Terimakasih karna lo perhatian sama gue Cell, tapi rasanya gue gak nafsu makan sebelum masalah gue kelar."
"Duduk dulu Dam, cerita-cerita dulu sama gue."
Adam nurut, dan untuk sementara mengurungkan niatnya ke rumah Tari.
"Sebenarnya apa yang terjadi antara lo dan Tari, setahu gue, Tari adalah gadis yang tidak neko-neko."
"Tari memutuskan hubungan kami Cell."
"Heh." kaget Marcell, tidak menyangka kalau Tari memutuskan hubungannya dengan Adam, tadinya Marcell berfikir ada masalah apa gitu, tahunya masalahnya lebih parah daripada yang dia fikirkan, "Pantas saja sik Adam sampai uring-uringan dan sampai mabuk begitu, Adamkan bucin parah sama Tari, ya frustasilah saat dia putuskan begini oleh Tari."
"Tari memutuskan elo karna laki-laki lain Dam." tanya Marcell tidak yakin dengan pertanyaannya mengingat dia mengenal Tari yang merupakan wanita setia.
Adam menggeleng.
"Sudah gue duga kalau gue salah." gumamnya tanpa suara.
"Terus."
Karna Marcell adalah sahabat terdekatnya, Adam tidak sungkan menceritakan permasalahan yang saat ini tengah dia hadapi kepada Marcell, "Ini semua gara-gara mama gue."
"Tante Cellin, kok bisa gara-gara tante Cellin, tante tidak merestui hubungan lo dengan Tari Dam." tebak Marcell dan tentu saja tebakannya benar seratus persen.
Adam mengangguk.
"Karna apa, setahu gue Tari gadis super baik dan gue jamin dia bisa menjadi menantu idaman mama elo, menurut gue, gak ada alasan mama lo untuk tidak merestui hubungan lo dengan Tari."
"Gue fikir juga begitu awalnya, gue yakin keluarga gue akan menerima Tari dengan baik dan akan merestui hubungan kami, gak gue sangka, mama gue ternyata tidak menyukai hubungan kami hanya karna Tari berasal dari kalangan bawah."
"Masak sieh nyokap lo seperti itu, setahu gue nyokap lo orang baik yang bergaul dengan siapa saja tanpa membedakan status sosial."
"Gue saja tidak menyangka mama gue kayak gitu, entah apa yang mama katakan sama Tari sehingga Tari memutuskan hubungan kami secara sepihak, padahal gue sudah melamar dia."
"Ehhh, lo sudah ngelamar Tari Dam, yang bener lo." Marcell bertanya tidak percaya.
"Ya benarlah, masak gue bohong sieh."
"Busett, sahabat gue sebentar lagi bakalan melepas masa lajangnya, selamat ya bro."
"Ngeledek lo, sudah tahu Tari memutuskan hubungannya dengan gue."
"Hehe, lupa gue." kekeh Marcell, "Tapi lo gak nyerah gitu aja donk Dam memperjuangkan hubungan lo dengan Tari."
"Ya gaklah, gue akan memperjuangkan hubungan gue dengan Tari apapun yang terjadi, Tari adalah hidup gue Cell, gue gak tahu apa yang bakalan terjadi sama gue kalau gue gak bisa bersama dengan dia."
"Busettt, lo bucin parah gini, apa yang dilakuin Tari sieh sama lo sampai membuat elo jadi gini."
"Gak ada, gue hanya terpesona karna senyumnya, kebaikannya, keramahannya." Adam mengabsen hal yang menjadi penyebab dirinya mencintai Tari.
"Ck ck." Marcell berdecak dan menggeleng, "Seorang Mentari Whardani mampu membuat Adam bertekuk lutut seperti ini, kalau gue ketemu sama Tari, gue akan mengucapkan selamat karna mampu membuat elo bertekuk lutut sama dia."
"Oke Cell, karna gue tidak ingin kehilangan cinta sejati gue, gue akan ke rumah Tari dan memintanya untuk kembali sama gue dan gue akan menikahinya."
Marcell tersenyum dan menepuk pundak Adam, "Gue doain lo berhasil bro."
"Meskipun lo gak pernah sholat, gue harap Tuhan mengijabah doa lo Cell."
"Jangan buka aib gue donk lo."
"Makanya lo rajin sholat sebelum maut menjemput."
"Iya iya yang rajin sholat, rajin sholat juga setelah pacaran dengan Tari."
"Makanya cari pacar yang bisa mengingatkan elo tentang akhirat Cell, kayak Tari."
"Iya, akan gue usahain."
"Amin, gue doain lo beruntung mendapatkan wanita yang sholehah."
Marcell mengaminkan dalam hati, biar bagaimanapun bobroknya akhlaknya, tapi tetap Marcell menginginkan wanita baik-baik sebagai pendampingnya kelak.
"Ohh iya Cell, lo sudah ngambil mobil guekan ke club."
"Yoi, tadi gue mampir kesana." Marcell melemparkan kunci mobil Adam yang langsung sigap ditangkap oleh Adam.
"Gue pergi dulu Cell mengejar cinta gue."
"Good luck Dam."
****
__ADS_1