
Lukas menghampiri meja makan dengan wajah cerah dan bersiul, gimana tidak cerah tuh muka kalau dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Tari dan menghabiskan waktu berdua dengan pujaan hatinya itu.
Mama dan papanya yang melihat untuk pertama kalinya sejak Lukas kembali ke Indonesia terlihat ceria dan bahagia saling melempar pandangan satu sama lain, baik mama Lili dan papa Sabastian memikirkan hal yang sama yaitu, "Hal apa yang membuat putra mereka itu terlihat begitu bahagia."
"Pagi ma, pagi pa." sapa Lukas ceria sebelum duduk dikursi yang tersisa.
"Pagi sayang." balas mama Lili.
Karna kepo, mama Lili akhirnya bertanya tentang penyebab putranya itu terlihat begitu ceria.
"Sayang, apa yang menyebabkan kamu terlihat begitu bahagia, kamu seperti orang yang lagi jatuh cinta saja."
Bukannya menjawab keingintahuan mamanya secara lisan, Lukas hanya menjawab dengan senyum tidak jelas, dan hal itu semakin memperkuat keyakinan mama Lili kalau putranya itu beneran sedang jatuh cinta.
"Jadi benaran kamu tengah jatuh cinta sayang." tentu saja mama Lili sangat bahagia mengetahui fakta tersebut, dia bersyukur karna pada akhirnya putranya itu membuka pintu hatinya setelah sempat mati suri.
"Hmmm." jawab Lukas benar-benar membuat orang tidak puas akan jawabannya, kalau tidak menjawab dengan senyuman, dia hanya menjawab dengan hmm doank.
Tapi mama Lili gak peduli dengan jawaban putranya, baginya, senyuman dan juga hmm yang keluar dari bibir putranya itu sudah sangat menjelaskan kalau Lukas benar-benar tengah jatuh cinta saat ini.
"Beneran kamu jatuh cinta Lukas." tanya papa Sebastian memastikan.
Lukas mengangguk menjawab pertanyaan papanya.
"Siapa gadis itu sayang, apakah Arin." cecar mama Lili.
"Bukan ma."
Mama Lili mengerutkan kening tidak mengerti, karna setahunya, putranya itu saat ini tengah dekat dengan Arin, "Terus kalau bukan dengan Arin, dengan siapa."
Papa Sebastian juga menatap putranya dengan keingintahuan tingkat tinggi siapa gadis yang berhasil membuat Lukas kembali membuka pintu hatinya.
Lukas menjawab dengan jawaban misterius lagi, "Nanti juga mama dan papa tahu sendiri."
"Astaga, sama mama dan papa saja kamu pakai main rahasia-rahasian segala lagi, kasih tahu donk sayang, mama penasaran ini." desak mama Lili benar-benar ingin tahu siapa gadis yang bisa membuat Lukas jatuh cinta kembali setelah lama vakum.
"Belum saatnya Lukas memberitahu mama dan papa, tapi nanti kalau mama dan papa tahu siapa gadis yang Lukas sukai, Lukas berharap mama dan papa menerimanya dengan tangan terbuka dan menyetujui hubungan kami."
"Tentu saja kami akan menyetujui hubungan kalian Lukas." papa Sebastian menimpali.
"Iya Lukas, kamu tidak usah khawatir akan hal itu, apapun pilihan kamu, kami pasti akan mendukungmu, jadi sayang, kasih tahu siapa nama gadis itu." mama Lili masih belum menyerah rupanya membujuk Lukas untuk memberitahu tentang wanita yang saat ini disukai oleh Lukas.
Mama Lili dan papa Sebastian tidak pernah berfikir sedikitpun kalau perempuan yang disukai oleh putra mereka adalah Tari sekertaris Lukas sendiri.
"Terimakasih ma, pa, tapi seperti yang Lukas bilang barusan, belum saatnya mama dan papa untuk tahu." Lukas masih kukuh tidak mau memberitahu mama dan papanya, dia tidak tahu apa kalau orang tuanya penasaran tingkat tinggi.
"Oke, gak apa-apa kalau kamu tidak mau memberitahu mama dan papa siapa gadis itu, tapi bisakah kamu memberitahu ciri-cirinya."
"Cantik sudah pasti, baik juga, lemah lembut dan pastinya cerdas." Lukas menyebutkan daftar kelebihan Tari sembari membayangkan wajah Tari, dan itu berhasil membuatnya senyum-senyum sendiri, Lukas sudah seperti ABG labil saja.
"Putra kita ternyata benar-benar tengah jatuh cinta ya ma, lihat saja tingkahnya sudah seperti ABG saja, dikit-dikit senyum."
"Iya pa, mama sangat bersyukur akan hal itu, akhirnya anak kita membuka hatinya juga, siapapun gadis itu, mama akan menerimanya dengan tangan terbuka." janji mama Lili.
"Hmm, oke ma, pa, kalau begitu, Lukas pergi dulu."
"Kamu mau ketemu sama gadis itu sayang."
"Tentu saja ma, kami berjanji akan mengabiskan waktu bersama."
"Duhh sweetnya, jadi pengen muda lagi deh pa."
Lukas terkekeh mendengar cletukan mamanya.
"Oke ma, pa, Lukas pergi dulu." pamit Lukas meninggalkan meja makan.
"Hati-hati sayang."
"Iya ma."
"Kapan-kapan ajakin mama donk pa keluar gitu, kita habiskan waktu berdua, mamakan juga pengin diajak jalan-jalan, kayak waktu kita masih muda dulu." cetus mama Lili pada suaminya saat Lukas sudah tidak terlihat.
"Aduh mama, kita itu sudah tua lho, jangan berfikir yang aneh-aneh deh."
"Ahkk papa ini, apanya coba yang aneh, mamakan ingin diajak jalan-jalan berdua gitu sama papa, dulu saja pas masa pacaran, hampir tiap hari papa ngajakin mama jalan, dan setelah sudah menikah tidak pernah lagi."
"Ya namanya juga ketika pacaran masih dalam tahap mendapatkan ma, kalau sudah mendapatkan, ngapain lagi papa repot-repot ngajakin mama jalan lagi, apalagi kalau sudah tua begini, sudah kakek nenek juga masih saja ingin diajak jalan, ingat sama umur ma."
Mama Lili tentu saja meradang mendengar jawaban suaminya itu, "Apa, papa bilang apa, papa tidak mau lagi repot-repot lagi ngajakin mama jalan."
Melihat istrinya mengamuk begitu, papa Sebastian buru-buru meralat kata-katanya, "Bukan begitu maksud papa mama, papa hanya...."
"Malam ini, papa tidur diluar." potong mama Lili.
"Yahh, jangan donk ma, masak mama tega membiarkan papa tidur diluar."
"Mama tidak mau tahu, pokoknya papa harus tidur diluar."
__ADS_1
"Yahh mama."
****
Lukas ingin menikmati waktu berdua dengan Tari, tanpa sopir, oleh karna itu, sejak tadi, dia berusaha untuk meyakinkan dirinya kalau dia bisa, dia biasa membawa mobil sendiri.
Pak Agung yang tahu tentang trauma tuan mudanya sempat heran saat Lukas meminta kunci mobilnya kepadanya, dia sempat ragu saat menyerahkan kunci tersebut kepada sang tuan.
"Tuan yakin akan membawa mobil sendiri." pak Agung bertanya memastikan.
"Iya pak Agung, dan pak Agung tidak perlu mengkhawatirkan saya, semuanya akan baik-baik saja, lagipula sudah saatnyakan saya menghilangkan trauma masa lalu saya." jawab Lukas meyakinkan.
"Iya tuan muda, tuan benar, jangan biarkan masa lalu menghambat masa depan tuan."
"Iya pak Agung."
Lukas kemudian berjalan menuju mobilnya yang sudah disiapkan oleh pak Agung didepan.
Sebelum memasuki pintu kemudi, Lukas meyakinkan dirinya kalau dia bisa, "Oke, aku pasti bisa, aku pasti bisa, yang perlu aku lakukan saat ini hanya tenang."
Setelah merasa tenang, Lukas membuka pintu mobil, dan duduk dibalik kemudi, namun yang terjadi kemudian, bayangan kelam yang terjadi malam itu kembali menguasai fikirannya begitu dia sudah duduk dikursi pengemudi, bayangan-bayangan itu membuat kepalanya pening, Lukas memegang kepalanya dengan frustasi, ternyata dia benar-benar belum bisa menghilangkan bayangan kelam masa lalunya.
"Tuhan, kenapa aku tidak bisa menghilangkan bayangan kelam itu, kenapa hal itu masih mempengaruhiku sampai sekarang." keluhnya mencengkram stir.
Dan pada akhirnya dia menyerah, bagaimanapun dia berusaha, bayangan tentang tabrakan maut yang merenggut nyawa Adam itu tidak kunjung bisa Lukas lenyapkan dari fikirannya begitu saja, dan dengan terpaksa dia membiarkan pak Agung yang menyopirinya untuk menjemput Tari.
"Kasihan sekali tuan muda, sampai sekarang dia masih belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu." batin pak Agung melihat tuan mudanya yang terlihat menderita karna tidak berhasil melawan traumanya akibat tabrakan dimasa lalu itu.
****
Tari sungguh sangat cantik pagi ini, dia sudah tidak sabar menunggu Lukas menjemputnya, bibirnya sejak tadi tersenyum, pokoknya saat ini Tari seperti orang yang untuk pertama kalinya jatuh cinta.
"Pagi-pagi sudah cantik sekali Tari, mau kemana." salah satu tetangga yang lewat didepan rumahnya bertanya saat melihat Tari berpenampilan rapi, ya maklumlah kalau tinggal dikomplek perumahan seperti tempat tinggal Tari, tetangga-tetangganya pada kepo.
"Mau keluar bu." Tari menjawab seadanya.
"Sama laki-laki ya."
"Hmmm iya." Tari menjawab ragu.
"Wahh mbak Tari sudah punya pacar sekarang, bagus donk, itu artinya mbak Tari tidak perlu lagi tebar pesona sama para suami ibu-ibu yang ada dikomplek ini." ujar sik ibu dengan entengnya tanpa memperdulikan perasaan Tari.
Tari dongkol mendengar clotehan sik ibu, dia yang tidak terima dengan kata sik ibu barusan berusaha meluruskan, "Mohon maaf ya bu, saya tidak pernah tuh yang namanya tebar pesona sama suami ibu-ibu yang ada dikomplek ini, apalagi sama suami ibu, suami kalian saja yang pada ganjen sama saya, tidak bisa melihat wanita cantik dikit matanya langsung ijo." tandas Tari membungkam bibir nyinyir sik ibu, "Jadi ya bu saya sarankan, kalau ibu tidak ingin suami ibu melirik wanita lain, berusahalah untuk tampil cantik didepan suami ibu, jangan dekil dan kucel donk." serang Tari telak, Tari sangat puas melihat wajah sik ibu yang terlihat pias karna tidak menyangka kalau Tari akan membalas kata-katanya dengan lebih pedas.
Dan tanpa mengatakan apa-apa, sik ibu main pergi begitu saja.
Gak lama kemudian, Tari melihat Lukas yang berjalan menghampirinya, jantung Tari kembali berdetak cepat melihat kedatangan Lukas, apalagi laki-laki itu terlihat sangat tampan dalam balutan pakaian kasualnya tanpa jas yang biasa dia gunakan sehari-hari.
Lukas tersenyum ke arahnya.
"Ya Tuhan, mas Lukas tampan sekali." seketika bunga-bunga bermekaran ditaman hati Tari.
"Pagi Mentariku." sapa Lukas begitu tiba didepan Tari.
Tari menjawab dengan berbunga-bunga, "Pagi mas Lukas."
Adem rasanya perasaan Lukas saat mendengar Tari memanggilnya dengan panggilan mas secara langsung.
"Sumpah, aku ingin langsung membawamu ke KUA saat ini Tari, apa kita ke KUA saja kali ya, ke pantainya kita batalkan saja."
Tari tertawa kecil dengan wajah bersemu, "Mas Lukas ini ada-ada saja."
"Ya udah kalau gitu Mentariku, lebih baik kita pergi sekarang saja."
"Baiklah mas."
"Tari."
"Iya mas."
"Gak apa-apakan kalau pak Agung yang menyopiri kita, kamu tidak keberatankan."
"Tentu saja tidak mas."
*****
Dua insan yang saat ini tengah kasmaran itu menghabiskan waktu berdua, saat bersama dengan orang yang kita cintai, waktu begitu cepat berlalu, begitu juga dengan yang dirasakan oleh Lukas dan Tari, perasaan mereka, mereka baru saja datang ke pantai, ehh kok tahu-tahunya matahari sudah akan tenggelam ke peraduannya.
Dan kini, dua orang yang saat ini tengah dimabuk asmara itu tengah berdiri dibibir pantai untuk menyaksikan matahari terbenam, sebuah pemandangan indah yang terjadi saat senja hari yang dilatar belakangi oleh langit berwarna orange.
"Indah ya mas." komentar Tari begitu matahari sudah masuk ke peraduannya.
"Pemandangan yang ada disampingku jauh lebih indah." gombal Lukas.
Tari tersenyum malu, dulu dia fikir Lukas adalah laki-laki cuek dan serius yang hanya fokus sama pekerjaan dan bagaimana memajukan perusahaan, Tari tidak pernah berfikir kalau Lukas ternyata bisa gombal juga.
"Gombal kamu mas." responnya.
__ADS_1
"Itu memang kenyataannya kok, tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan pemandangan yang ada disampingku ini."
"Ya Tuhan mas Lukas, aku tidak pernah menyangka lho kalau bibirmu semanis ini."
"Apa kamu mau merasakannya Tari." Lukas memajukan bibirnya.
Tari meletakkan tangannya dikedua sisi kepala Lukas dan memiringkannya.
"Bukan muhrim mas."
"Ya sudah kalau begitu, setelah pulang dari sini, kita langsung ke KUA saja bagaimana."
Tari tertawa menanggapi ucapan Lukas, "Mas Lukas mas Lukas, kenapa sieh sejak tadi yang mas sebut KUA terus."
"Ya biar aku bebas kalau mau ngapa-ngapain kamu Tari."
"Tapikan sekarang belum saatnya mas Lukas, kita jalani saja dulu hubungan kita saat ini, kita gunakan saat ini untuk saling mengenal satu sama lain."
"Iya Tari kamu benar."
"Tapi mas, apa keluargamu akan menerimaku, keluarga kaliankan berasal dari keluarga berada sedangkan aku, hanya wanita sederhana yang menyandang status janda."
"Mama dan papaku bukan orang yang melihat latar belakang seseorang karna hartanya Tari, asal aku bahagia, mereka pasti akan menerima siapapun wanita pilihanku."
Tari benar-benar berharap kalau kali ini cintanya berjalan dengan mulus tanpa adanya drama-drama ketidaksetujuan dari orang tua pasangannya saat seperti dia bersama Adam dulu.
"Sebaiknya kita pulang sekarang Tari, hari sudah gelap."
"Iya mas."
Setelah seharian menghabiskan waktu berdua, mereka memutuskan untuk pulang.
*****
"Permisi ibu Tari, maaf mengganggu ibu."
Saat ini Tari tengah sibuk mengerjakan sesuatu dileptopnya saat pak Heri, satpam kantor menyapanya, Tari mendongak dan menemukan pak Heri berdiri didepan mejanya.
"Iya pak Heri, ada apa ya."
"Ini ada titipan untuk pak Lukas." pak Heri menyerahkan sebuah kotak kepada Tari.
"Dari siapa ini pak."
"Kata kurirnya, kalau itu dari mbak Arin."
"Mbak Arin, dia mengirimkan kue untuk mas Lukas."
"Tolong ya bu, kue itu diberikan kepada pak Lukas."
"Iya pak, saya akan memberikannya sama pak Lukas, terimakasih ya telah membawakannya kemari."
"Iya bu sama-sama."
"Kalau begitu saya turun ke bawah dulu ibu Tari."
"Iya pak."
"Mbak Arin ngirim kue untuk mas Lukas, ini apa sieh maksudnya, mbak Tari ingin menarik perhatian mas Lukas sepertinya." mengetahui kenyataan itu membuat Tari tidak suka, namun dia tetap berdiri dan melangkahkan kakinya untuk menyampaikan kue pemberian Arin kepada Lukas.
"Masuk."
Tari mendengar perintah tersebut begitu dia selsai mengetuk pintu.
"Tari, ada apa." Lukas bertanya saat melihat Tari diambang pintu.
"Maaf mengganggu waktu berharganya pak Lukas, tapi bapak mendapatkan kiriman kue dari mbak Arin." saat mengatakan hal tersebut, Tari tidak bisa menyembunyikan keketusan pada nada suaranya.
"Arin ngirim kue."
Tari mendekat dan meletakkan kotak berisi kue itu dimeja Lukas.
"Silahkan untuk dinikmati pak Lukas."
"Hmmm." Lukas kemudian membuka penutup kue tersebut, dan terlihat kue bolu pandan yang bertabur keju diatasnya, kue itu benar-benar terlihat menggiurkan, dan tidak hanya kue, ada kartu ucapan juga yang diselipkan oleh Arin dikotak tersebut, Lukas mengambil kertas kecil itu dan memberitahu Tari dengan mengangkatnya.
"Ada kartu ucapannya juga Tari."
"Buka mas."
Lukas membuka lipatan kertas tersebut yang berbunyi.
Kata tante Lili, kamu suka kue bolu dengan rasa pandan ya, aku harap kamu suka ya mas Lukas, itu aku yang bikin lho
Arin.
*****
__ADS_1