
Tari membeku melihat papa dan mama mertuanya, mereka menatapnya tajam, sinar kebencian masih menyala dimata mereka, karna jelas fikir mereka, anak mereka jadi pembangkang gara-gara Tari.
Tari hanya bisa menunduk tidak sanggup rasanya menatap mata laser yang ditujukan kepadanya oleh kedua mertuanya tersebut.
"Mama dan papa mau makan." tanya Adam berusaha untuk bersikap ramah meskipun dia tahu orang tuanya jelas-jelas tidak mau beramah tamah.
"Kamu fikir kita mau ngapain dirumah makan kalau bukan untuk makan." mama Cellin menjawab ketus.
"Masih bisa kamu makan disini Adam setelah papa mencabut semua fasilitas yang kamu miliki." seperti biasa, suara papa Atta terdengar dingin.
"Dengan atau tanpa kartu yang diberikan oleh papa, Adam lebih dari mampu kok mengajak istriku sendiri untuk makan direstoran mahal ini."
"Darimana kamu mendapatkan uang, kamu sudah kerja."
"Saya tidak harus menjawab pertanyaan itukan pa."
Kata-kata Adam barusan membuat papa Atta geram, telapak tangannya mengepal.
"Ya sudah kalau begitu, kami akan pulang, silahkan mama dan papa masuk saja."
Karna aura permusuhan sangat kentara diperlihatkan oleh kedua orang tuanya, Adam akhirnya memilih pergi saja, takutnya terjadi keributan seperti waktu dirumah tempo hari, inikan tempat umum, kan gak lucu kalau mereka jadi tontonan banyak orang, apalagi mereka berstatus sebagai orang tua dan anak.
"Ayok sayang." ajak Adam meraih tangan Tari dan menggenggamnya untuk memberitahu sama orang tuanya kalau dia tidak menyesal meninggalkan kehidupan mewahnya dan memilih bersama dengan Tari.
Saat melewati mertuanya, Tari berusaha untuk bersikap ramah, meskipun dia tidak disukai, mereka itu tetaplah orang tuanya juga yang seharusnya di hormati olehnya.
"Mari ma, pa, kami duluan." menganggukkan kepalanya yang dibalas oleh mereka dengan dengusan yang semakin menunjukkan betapa tidak sukanya mereka kepada Tari.
Laura menatap tidak suka sama mertua Tari, "Jadi ini mertuanya Tari, kepribadiannya sangat berbeda dengan putranya yang baik, dasar orang tua materialistis." umpat Laura mengikuti Tari dan Adam dibelakang.
Kini Adam dan Tari sudah tiba dirumah, Tari ingin menanyakan tentang kartu yang digunakan oleh Adam untuk membayar makanan direstoran mahal tempat mereka makan barusan.
"Mas Adam."
"Iya Tari."
"Mas Adam pakai kartu siapa waktu direstoran tadi, bukannya mas Adam bilang kalau semua fasilitas termasuk kartu kredit milik mas dicabut semua."
"Ohh, itu punya mbak Hawa Tari, dia bilang, kartu itu bisa aku bawa sementara."
"Ohhh." gumam Tari.
"Aku berjanji sama mbak Hawa untuk mengambalikannya begitu aku mendapatkan pekerjaan."
Tari hanya mengangguk, "Mbak Hawa memang baik, sama seperti mas Adam." batinnya.
*****
Satu bulan sudah Tari bekerja sebagai sekertaris, bisa dibilang gajinya lumayan besar, tapi meskipun begitu,Tari tidak betah bekerja diperusahaan tersebut, hal ini disebabkan karna bosnya yang berperut buncit itu selalu menatapnya genit dan kadang sering melecehkannya secara verbal, Tari masih bisa bertahan, meskipun keinginannya untuk resign sangatlah besar, sulitnya mendapat pekerjaan baru membuat Tari untuk sementara memendam keinginannya tersebut dalam hati.
Tari mendongak untuk menatap jam yang tergantung didinding kantor, jarum jam sudah menunjukkan angka 05.10, itu berarti sudah saatnya jam pulang kantor bagi pegawai seperti dirinya, jam pulang kantor seperti ini adalah hal yang paling membahagiakan untuk Tari, itu artinya dia terbebas dari melihat wajah bosnya yang menyebalkan, dia sudah tidak sabar untuk segera pulang dan berkumpul dengan suaminya dan menceritakan kesehariannya selama dikantor, yahh kecuali tentang perlakuan bossnya yang selalu kurang ajar yang jelas-jelas tidak akan pernah Tari ceritakan sama sang suami, karna kalau dia menceritakan tentang kalimat-kalimat bosnya yang selalu menjurus ke arah melecehkannya, Tari yakin suaminya akan langsung ke kantor dan menghajar bosnya itu sampai babak belur.
Tari membereskan barang-barangnya sebelum pulang.
"Tari, duluan ya." tegur Dina rekannya sesama karyawan saat melewati meja Tari.
"Iya Din, ini juga aku sudah mau pulang kok." jawabnya.
Tari sudah berdiri dan siap untuk turun ke bawah saat pintu ruangan sang bos terbuka, sepertinya dia juga akan pulang.
Begitu melihat Tari, wajah sik bos langsung tersenyum genit, dan seperti kebiasaannya, sik boss menatap Tari dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan melecehkan, kalau bukan bos yang menggajinya, ingin rasanya Tari menonjok wajah bosnya itu.
Tari terkadang heran dengan bosnya yang selalu menatapnya seolah-olah ingin menelanjanginya, padahal Tari berpakaian dengan sangat sopan, rok selutut, dengan kemeja lengan panjang dan longgar yang membuat lekukan tubuhnya tidak terekpos sama sekali.
Meskipun sangat sangat kesal dengan ulah bosnya itu, tapi Tari memaksakan diri untuk menyapa, "Mau pulang pak."
"Iya, kamu juga sepertinya sudah mau pulang."
"Iya."
"Wahh kebetulan sekali, bagaimana kalau barengan sama saya, saya anter sampai rumah." sik bos menawarkan sambil mengedipkan mata.
Tari meringis, dia tidak bisa membayangkan dirinya berada dalam satu mobil dengan laki-laki hidung belang seperti bosnya itu, ini bukan pertama kalinya sik bos menawarkan untuk mengantarnya pulang, tapi Tari masih bisa menghindar, dan kali inipun Tari akan mencari alasan untuk menolak ajakan tersebut.
"Berada dalam satu mobil dengan laki-laki hidung belang seperti ini, itu sama saja dengan bunuh diri." batinnya.
"Sekalian kita mampir minum kopi gitu, bagaimana Tari, mau saya antar ya." lanjutnya saat Tari belum memberikan respon atas ajakannya.
Tari berusaha untuk mencari kata-kata yang sopan untuk menolak, dia tidak mungkin menggunakan alasan yang sama seperti sebelum-sebelumnyakan untuk menolak tawaran bosnya kali ini.
"Maafkan saya pak Dante, tapi saya tidak langsung pulang, tadi suami saya menelpon, dia katanya ada urusan disekitar sini dan dia meminta saya untuk menemuinya." jawab Tari dengan sangat meyakinkan.
__ADS_1
"Jadi, kamu gak mau gitu saya antar."
"Sekali lagi, maafkan saya pak."
"Hmmmm, baiklah kalau begitu Tari, mungkin hari ini bukan hari keberuntungan saya sepertinya, mungkin lain kali saja ya."
Tari tidak bisa menahan dengusannya mendengar kata-kata sang bos, "Keberuntungan apa maksudnya, dan jangan harap ya ada lain kali, aku lebih baik loncat dari gedung ini daripada harus menerima tawaranmu, dasar hidung belang brengsek, gak ingat apa anak istri dirumah." kata-kata yang hanya bisa disuarakan dalam hati tentunya karna Tari sadar untuk saat ini dia masih sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi dirinya dan Adam, yahh bisa dibilang suaminya itu pengangguran, tapi Adam bukannya hanya duduk, diam dan berpangku tangan, Adam tiap hari berusaha untuk mencari pekerjaan, dan memasukkan lamaran tanpa ijazahnya sama saja dengan kemustahilan, tapi Adam yakin, dengan bakatnya, suatu saat pasti ada perusahaan yang akan mempertimbangkannya.
Tari menunggu bosnya yang bernama Dante itu untuk pergi duluan, tapi karna sik bos tidak kunjung bergerak dari tempatnya dan masih betah menatapnya membuat Tari bertanya, "Maaf pak, bapak bukannya mau pulang, kenapa bapak masih betah berdiri disana"
"Bukannya kamu juga akan pulangkan, ayok sebaiknya kita barengan turunnya."
"Hmmm, baiklah." gumam Tari setengah hati.
Tari melangkah dan berjalan didepan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar, sedangkan Dante berjalan dibelakang dan memperhatikan body Tari dari belakang dengan pandangan mupeng.
Dante adalah laki-laki berumur 50 tahun dan merupakan CEO diperusahaan Tari bekerja, dia kaya dan ganjen, beberapa kali dia pernah mengencani sekertarisnya dan ada juga yang tidak bertahan lama menjadi sekertaris Dante karna tidak tahan akan kelakuan Dante yang hidung belang dan suka menggoda.
Kini dua orang itu berada dalam lift, sebisa mungkin, Tari berdiri sangat jauh dari Dante, jelas Tari tidak mau berdekat-dekatan dengan laki-laki hidung belang itu, apalagi saat ini Dante tidak lepas memandang Tari membuat Tari risih, perjalanan menuju lantai dasar begitu terasa sangat lama untuk Tari, sedangkan dia sudah ingin berada jauh-jauh dari Dante.
"Kamu sangat cantik Tari." pujian yang selalu Dante lontarkan saat pertama kali melihat Tari.
"Terimakasih pak." respon Tari tanpa ekpresi.
"Beruntungnya suamimu pernah merasakanmu, saya jadi iri dan ingin juga."
"Dasar laki-laki brengsek, tidak bisakah kamu menutup mulut kotormu itu." ingin rasanya Tari menjejalkan sepatunya dimulut bosnya yang kurang ajar itu, "Ini juga, kenapa gak sampai-sampai sieh, tumben banget lift ini lelet, apa jangan-jangan rusak lagi." rutuk Tari pada lift yang belum kunjung sampai ke lantai bawah, padahalkan biasanya cepat.
"Apa kamu mau menghabiskan waktu berdua dengan....."
Ting
Itu bunyi yang menandakan kalau lift sudah sampai dilantai dasar, tidak pernah Tari selega ini mendengar suara dentingan itu, sebelum bosnya yang mesum itu melanjutkan kalimatnya yang menjurus ke hal-hal jorok, Tari buru-buru ngacir.
"Saya duluan pak, selamat tinggal."
Tari berjalan setengah berlari, Tari baru bernafas lega saat dia sudah berada diluar dan langsung menghampiri tukang ojek yang mangkal diseberang jalan tempat perusahaan milik Dante berdiri.
"Satu hari yang berat telah terlewati." desah Tari lega.
****
Hari ini adalah hari yang benar-benar berat untuk Adam, tapi dia merasa puas karna akhirnya dia bisa mendapatkan pekerjaan setelah satu bulan lebih nganggur, yahh, meskipun pekerjaan yang tidak dia harapkan sieh, tapi dia mensyukurinya.
Flasback on
Seharian ini Adam wara-wiri kesana kemari, keliling-keliling tanpa tujuan yang jelas, dia fikir mungkin bisa mendapatkan pekerjaan, kemarin-kemarin Adam fikir masih bisa mendapatkan pekerjaan tanpa ijazah, tapi sekarang semuanya terasa sangat mustahil, dan Adam rela bekerja apa saja asal dia bekerja, sumpah dia sangat malu sama Tari yang selama ini membiyai kehidupan rumah tangga mereka, padahalkan dialah yang kepala keluarganya, tapi Tari selalu dengan ikhlas mengambil peran yang seharusnya ditanggung oleh Adam tanpa mengungkit-ngungkit kalau suaminya seorang pengangguran.
Adam berjalan tanpa arah, dia hanya mengikuti kemana kakinya membawanya, sampai langkahnya terhenti disebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung.
Seketika dia ingat obrolannya dengan Marcell di chat yang mengatakan bahwa, 'kalau jadi kuli, tidak butuh ijazah, cukup punya tenaga yang kuat' itu kira-kira bunyi chat Marcell.
"Oke, tidak ada salahnyakan kalau aku mencoba." dia memantapkan kakinya untuk mendekat, dan bertanya pada laki-laki yang saat ini tengah mengaduk-aduk semen.
"Maaf mas, apa disini butuh tambahan pekerja."
Laki-laki yang ditanya menghentikan aktifitasnya sejenak, menatap Adam dengan tidak yakin, ya wajarlah, Adam tampan dan memiliki kulit putih bersih, tentu saja orang berfikir kalau Adam salah alamat.
Walaupun berfikir Adam salah alamat, orang yang yang ditanyai oleh Adam berkata, "Saya kurang tahu, tapi coba mas tanyakan sama pak Yahya, mandor yang menangani proyek bangunan ini." sambil menunjuk laki-laki yang berpakain agak rapi yang memberi perintah sama bawahannya.
Adam mengangguk, "Terimakasih mas."
Adam melangkahkan kakinya menuju mandor yang ditunjuk oleh orang yang dia tanya tadi.
"Permisi pak."
Mandor yang bernama pak Yahya itu menoleh ke arah suara yang menyapanya, "Iya, apa ada yang bisa saya bantu."
"Apa bapak membutuhkan pekerja tambahan." tanya Adam penuh harap.
Sama seperti orang pertama yang Adam tanyai tadi, mandor itu juga menatap Adam dengan pandangan tidak yakin, orang-orang pasti berfikiran kalau dirinya lebih cocok bekerja kantoran ketimbang bekerja sebagai kuli bangunan, ya memang seharusnya begitukan, tapi karna terkendala ijazah, jadi tidak ada yang mau menerimanya.
Setelah puas menilai penampilan Adam, pak Yahya menyuarakan keheranannya, "Apa mas yakin mau bekerja sebagai kuli."
Adam mengangguk, "Iya pak, dan saya bisa kok." Adam berusaha untuk meyakinkan.
Meskipun sebenarnya dalam hatinya pak Yahya tidak yakin kalau Adam bisa bekerja dengan baik, tapi karna memang dia butuh tambahan pekerja, akhirnya dia mengangguk, "Kami memang sedang butuh tambahan tenaga sieh, tapi mas yakinkan bisa bekerja."
"Bisa pak, saya pasti bisa kok."
"Baiklah mas...."
__ADS_1
"Adam." Adam menyebutkan namanya.
"Baiklah mas Adam, mas Adam bisa mulai bekerja hari ini."
Adam merasa sangat bahagia, akhirnya dia bisa mendapatkan pekerjaan, yah meskipun hanya sebagai seorang kuli sieh, tapi yang penting halal dan tidak jadi beban lagi untuk Tari.
"Terimakasih pak, terimakasih, saya akan bekerja dengan sangat baik." sambil menyalami tangan pak Yahya antusias.
Flasback off
"Mas Adam." tegur Tari saat melihat suaminnya duduk diteras sambil menepuk-nepuk punggungnya.
Wajah Tari yang tadinya kusut kembali cerah begitu tiba dirumah apalagi melihat suaminya, rasa betenya karna ulah dari bosnya yang ganjen sirna sudah.
Adam tersenyum begitu melihat istrinya, "Tari, kamu sudah pulang."
Tari mendekat dan menyalami suaminya seperti yang biasa dia lakukan, Tari merasakan telapak tangan suaminya agak kasar, berbeda dengan sebelum-sebelumnya, tapi dia tidak ambil pusing akan hal tersebut.
"Mas Adam lagi menungguku ya."
"Iya, kangen soalnya." goda Adam.
"Mas Adam ini bisa saja."
"Masuk yuk mas."
Adam mengekor dibelakang Tari, "Kamu pasti capekkan sayang, tunggu sebentar ya aku buatkan teh." ujarnya, padahal dia juga sangat capek karna seharian ini bekerja berat, berat karna Adam terbiasa kerja kantoran, berpakaian rapi dan bekerja diruangan ber ac, dan bekerja didepan komputer, bukan dengan sekop dan harus mengangkut batu-batu kesana kemari, tapi fikir Adam, dia tidak boleh mengeluh, dia harus kuat dan bersyukur, karna masih banyak orang diluar sana yang hidupnya jauh lebih susah daripada dirinya, dia sejak kecil sudah hidup enak dan penuh dengan kemewahan, dan mungkin saat ini dia harus merasakan yang namanya perjuangan demi sesuap nasi.
Adam kembali ke ruang tamu dengan membawa cangkir berisi teh dan diletakkan dihadapan Tari.
"Terimakasih mas Adam."
"Kembali kasih." jawab Adam kemudian duduk disamping istrinya.
"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu."
Tari mendengarkan tanpa bertanya tentang apa yang akan dikatakan oleh Adam.
"Aku sudah dapat pekerjaan."
Tari dengan cepat menoleh ke arah Adam, "Benarkah, mas sudah dapat kerja." tanyanya untuk memastikan.
Adam mengangguk lemah, wajah Tari yang terlihat antusias membuatnya agak merasa bersalah, fikirnya, kalau Tari tahu apa pekerjaannya, pasti Tari tidak seantusias itu.
"Syukurlah, ternyata ada perusahaan yang mau menerima mas Adam tanpa embel-embel ijazah, Tari seneng dengernya mas."
Adam mengangguk lemah, melihat wajah Tari yang begitu bahagia mendengar dirinya dapat pekerjaan, membuatnya urung memberi tahu apa sebenarnya pekerjaannya, Tari pasti akan kecewa dan malu jika dirinya hanyalah seorang kuli.
"Selamat ya mas Adam." Tari memeluk suaminya.
Adam hanya tersenyum hambar menanggapi ucapan selamat dari Tari.
"Mas Adam kapan mulai kerjanya."
"Mmmm." Adam agak ragu menjawab, tapi akhirnya dia berkata, "Besok."
"Besok ya, bagaimana kalau malam ini kita jalan-jalan, kita ke toko baju gitu."
"Ke toko, baju ngapain."
"Ya beli baju untuk mas Adamlah, mas Adamkan hanya punya dua kemeja yang layak untuk dipakai ke kantor."
Dalam hati Adam mendesah berat, "Seorang kuli gak butuh pakain bagus dan layak Tari, baju kaos juga sudah cukup." tentu saja kata-kata itu hanya dilontarkan dalam hati saja.
"Mas gak perlu baju baru Tari, cukup yang dua itu saja yang mas pakai."
"Tapikan mas...."
"Simpan saja uangnya untuk keperluan lain, nanti kalau aku sudah gajian, kita bisa jalan-jalan beli baju sekalian membeli untuk kamu juga."
"Bener nieh mas gak butuh baju baru."
Adam menggeleng, "Gak sayang."
"Aku ada simpanan lho mas, kita bisa pakai uang itu dulu, beli baju, celana kain, sepatu."
"Kan mas sudah bilang, simpan uangnya untuk keperluan lainnya saja, untuk saat ini mas benar-benar tidak butuh baju dan segala macamnya."
"Baiklah kalau mas Adam tidak mau." desah Tari pasrah karna tidak berhasil membujuk suaminya.
****
__ADS_1