CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
MENGHINDARI LUKAS


__ADS_3

Tari berlari saat dilihatnya lift akan tertutup, dan saat pintu lift akan menutup, dia menahannya dengan tangannya, "Tunggu tunggu."


Dan matanya langsung melebar saat melihat kalau yang ada didalam lift tersebut adalah Lukas dan Firman.


Tari jadi salting mengingat chat mereka semalam, apalagi Lukas memintanya untuk memanggilnya dengan panggilan Lukas saja, mengingat hal itu membuat Tari mengurungkan niatnya untuk memasuki lift.


"Mmm, bapak duluan, saya nanti belakangan."


"Apa-apaan sieh kamu Tari, ayok masuk, meskipun ruangan lift ini tidak terlalu besar, tapi sangat lebih dari cukup untuk memuat kita bertiga." imbuh Firman.


Tari terlihat bimbang, rasanya dia agak gimana gitu dekat-dekat dengan atasannya sejak chat mereka yang bisa dibilang akrab semalam.


"Ayok Tari, apalagi yang kamu tunggu." desak Firman.


"Ehh iya pak." akhirnya Tari melangkahkan kakinya memasuki lift.


Sejak kemunculan Tari sampai memasuki lift, mata Lukas terpaku dengan leher Tari dimana kalung yang dia belikan untuk Tari kini melingkar dileher jenjang Tari.


Tari sengaja mengambil tempat agak berjauhan dengan Lukas, dia rasanya kok jadi gugup gitu.


Tari menoleh kesamping dimana Lukas berdiri dan disaat yang sama juga Lukas melirik ke arahnya, Lukas tersenyum yang membuat Tari semakin salah tingkah, dia langsung membuang pandangannya.


Dan begitu lift terbuka, Tari tidak langsung keluar, tapi dia membiarkan Lukas dan Firman yang lebih dulu keluar.


Firman yang sejak tadi merasa sikap Tari agak aneh kembali ke belakang dan dilihatnya Tari seperti tidak ada tanda-tandanya akan keluar


"Tari, kamu tidak ingin keluar." tegurnya saat melihat Tari masih betah berdiri didalam lift.


"Ehh iya pak, ini saya akan keluar." mendapat teguran begitu membuat Tari melangkahkan kakinya keluar.


"Tari."


"Kenapa pak."


"Kamu sebenarnya kenapa."


"Emangnya saya kenapa." Tari malah nanya balik.


"Sikap kamu itu agak aneh."


"Aneh gimana sieh pak, perasaan saya biasa-biasa saja." Tari mengelak


"Kamu kok sepertinya menghindari pak Lukas gitu, apa terjadi sesuatu antara kamu dan pak Lukas." tebak Firman tepat dan akurat.


"Tentu saja tidak, kenapa pak Firman bisa berfikiran begitu." masih saja Tari mengelak, ya jelaslah dia mengelak, tidak mungkin dia jujurkan dengan mengatakan kalau saat ini dia memang menghindari Lukas.


"Ya feling aja sieh."


"Ya jelas feling pak Firman salahlah."


"Hmmm."


Kemudian dua orang itu berpisah menuju tempat masing-masing.


Sebelum berjalan menuju mejanya, Tari menoleh ke arah pintu ruangan Lukas yang tertutup.


"Duhhh, kok aku jadi kayak gini sieh, kenapa aku jadi gugup dan salting gini saat melihat pak Lukas." Tari mendesah berat, kalau dia tetap seperti ini, itu tidak akan baik untuk pekerjaannya karna pekerjaannya lebih banyak selalu berhubungan dengan Lukas.


Suara deringan telpon dimeja kerjanya membuat Tari kaget karna saking fokusnya menatap pintu ruangan Lukas.


"Astagfirullah, bikin kaget saja." rutuknya kesal.


Tari mengangkat panggilan tersebut, "Halo."


"Tari, tolong bawakan kopi untuk saya." perintah Lukas dari sambungan telpon dan tanpa menunggu jawaban dari Tari dia langsung menutup telpon tersebut.


"Astagaa, kenapa pak Lukas pakai nyuruh aku bikinin dia kopi segala sieh, padahalkan saat ini akukan tengah menghindarinya." Tari mendesah frustasi, Tari takut nanti saat berhadapan dengan Lukas akan kelihatan saltingnya.


"Gitu aja repot, aku tinggal bikinin dia kopi dan suruh saja OB yang nganterin." fikir Tari dan merasa urusan beres.


Setelah membuatkan kopi untuk Lukas, Tari meminta Tejo yang merupakan OB dikantor tersebut untuk mengantarkan kopi buatannya ke ruangan Lukas.


Tari fikir semua urusan beres karna untuk beberapa waktu dia tidak perlu berhadapan langsung dengan Lukas, tapi nyatanya, Tejo keluar dari ruangan Lukas dan kini berjalan ke arahnya.


"Tejo kok membawa kopi itu keluar sieh, apa pak Lukas tidak menyukainya." Tari bertanya-tanya dalam hati.


"Bu Tari, pak Lukas bilang, harus ibu yang membawa kopi ini untuknya."


"Ehhh kok gitu sieh." desah Tari.


"Apa kamu bilang kalau itu kopi buatan saya Jo."


"Iya bu, tapi pak Lukas ngotot katanya harus ibu yang mengantarkan kopi ini untuknya."


"Hmmm, baiklah kalau begitu, biar saya yang akan mengantarkannya Jo."


"Baik bu." Tejo meletakkan nampan tersebut dimeja Tari dan berlalu pergi.


"Ada ada saja sik Lukas itu, aku atau Tejo yang nganterinkan sama saja." omel Tari dan dengan terpaksa membawa baki berisi cangkir kopi tersebut ke ruangan Lukas.


"Duhhh, kok jadi berdetak lebih cepat gini sieh jantung aku." desah Tari, dia berusaha untuk menenangkan debaran jantungnya yang berdetak tidak normal sebelum mengetuk pintu ruangan Lukas.


Tok


Tok


"Masuk Tari."


Setelah menghela nafas, Tari mendorong pintu, dia berusaha untuk bersikap normal dan sewajarnya.


"Pagi pak." sapa Tari sembari menyunggingkan senyum.


"Pagi Tari." jawab Lukas yang tidak melepaskan pandangannya sama Tari yang melangkah mendekatinya.

__ADS_1


"Duhh, kok Lukas malah ngelihatin aku terus sieh, kan tambah jadi salting aku."


"Ini kopinya pak." Tari meletakkan kopi tersebut didepan Lukas.


"Terimakasih Tari."


"Sama-sama pak Lukas, kalau begitu saya permisi keluar." pamit Tari dan berjalan dengan terburu-buru, dia ingin segera jauh-jauh dari Lukas.


Begitu sudah menutup pintu ruangan Lukas, barulah Tari bisa mendesah lega dan bisa bernafas dengan normal, sesunggunya Tari merasa aneh pada dirinya sendiri, kenapa dia jadi gugup begitu didepan Lukas, jawabannya adalah, hanya gara-gara chat semalam yang menyebabkan dia jadi seperti ini.


Tari buru-buru berjalan ke arah meja kerjanya, baru saja dia mendudukkan bokongnya, dia mendengar suara notifikasi chat masuk ke ponselnya.


Lukas : Kamu benar-benat cantik memakai kalung itu Tari


Diluar keinginannya, wajah Tari blushing begitu membaca pesan yang dikirim oleh Lukas, Tari memegang pipinya yang memanas.


"Apa-apan sieh Lukas." Tari senyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa Tari senyum-senyum sendiri begitu." tanya Herman yang tahu-tahunya kini sudah ada didekatnya.


"Ehh, pak Herman." gumam Tari malu, "Duhh, malu aku, pak Firman pasti berfikir aku gila atau gimana." saat ini ingin rasanya Tari bersembunyi dilubang kelinci kalau ada, sayangnya, tidak ada lubang kelinci disekelilingnya, yang ada hanya tembok dan ubin.


"Anu...aku...."


"Apa kamu lagi berkirim pesan dengan pacarmu Tari." tebak Herman karna tadi dilihatnya Tari senyum-senyum sendiri sembari memegang ponselnya.


Belum sempat Tari membantah, pintu ruangan Lukas terbuka, Lukas terlihat menghampiri kedua bawahannya tersebut, Lukas yang sempat mendengar percakapan antara Tari dan Firman menimpali, "Siapa yang berkirim pesan dengan pacarnya, apa kamu Firman."


"Tentu saja bukan pak Lukas, tapi Tari."


"Tari."


"Iya, dia senyum-senyum sendiri gitu sambil menatap layar ponselny.."


Tari buru-buru membantah kesalahpahaman tersebut, "Ee eh, bukan bukan, saya tidak punya pacar kok, tadi itu...tadi itu teman saya yang mengirim pesan lucu sehingga membuat saya senyum-senyum sendiri." bohongnya


"Ohh, saya fikir pacar kamu Tari."


"Bukan pak."


"Itu artinya saat ini kamu jomblo donk."


"Mmmm, iya."


"Wahh, aku punya kesempatan donk nieh untuk...."


"Sebaiknya sekarang kita pergi ke ruang rapat, sebentar lagi rapatnya akan dimulai." Lukas memotong ucapan Firman yang belum kelar dan setelah mengatakan hal tersebut di berjalan lebih dulu ke ruang rapat.


"Ayok Tari." Firman mengajak.


"Iya pak." Tari mengekor dibelakang."


****


Setengah jam kemudian, rapat berakhir, saat Tari membereskan meja, Firman terlihat mendekatinya.


"Tari akan ikut saya menemui klien Firman." Lukas yang menjawab.


"Ohh." Firman terlihat kecewa.


"Saya tunggu kamu dimobil Tari." Lukas berjalan lebih dulu keluar ruang rapat tersebut.


"Maaf ya pak."


"Tidak apa-apa Tari, besok-besok kita bisa makan siang bareng ya."


"Iya."


"Kalau begitu saya akan menyusul pak Lukas dulu pak Firman, takutnya dia kelamaan menunggu sehingga membuatnya berpotensi darah tinggi dan marah-marah sama saya."


"Iya Tari."


Lukas sudah duduk dengan manis dibelakang saat Tari memasuki mobil, dan Lukas memerintahkan sopirnya untuk menjalankan mobil.


Tari kembali merasa gugup saat berdekatan seperti ini dengan Lukas.


"Perasaan sebisa mungkin aku menghindari supaya jangan sampai berada pada jarak yang begitu dekat dengan pak Lukas, tapi kok semesta sepertinya tidak mendukung ya, ada banyak hal hari ini yang membuat kami berada dalam jarak yang begitu sangat dekat."


"Mmm, pak." Tari memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Kenapa Tari." Lukas menoleh ke samping dimana Tari duduk.


Ditatap seperti itu semakin membuat Tari bertambah gugup saja, "Bisa tidak pak Lukas gak usah menghadap ke arahku, biasanya juga kalau menjawab dia tidak pernah sampai menoleh dengan intens begini."


"Kenapa Tari, kenapa kamu malah diam." cecar Lukas karna Tari belum kunjung buka suara juga.


"Itu pak anu..."


"Anu apa."


"Kita mau bertemu dengan klien yang mana ya, setahu saya bapak hari ini tidak ada pertemuan dengan klien deh." ya jelaslah Tari tahu, hal-hal semacam inikan menjadi tugasnya dan salah satu tugasnya adalah mengingatkan tentang jadwal pertemuan yang akan dilakukan oleh bossnya itu.


"Maaf kalau sebelumnya saya harus berbohong sama kamu Tari, kita tidak akan bertemu dengan klien, tapi kita akan bertemu dengan mamaku." jujur Lukas.


"Ehh, mamanya pak Lukas."


"Hmmm."


"Tapi kenapa saya diajak pak."


"Supaya saya ada alasan untuk cepat-cepat pergi, biasanya mama pidatonya panjang kali lebar kalau ngajak makan siang begini, dan hanya satu persoalan yang selalu dibahas, apalagi kalau tentang nikah terus, bosan saya mendengarnya."


Tari terkekeh mendengar curhatan sang boss.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah tertawa Tari."


"Maafkan saya pak, hanya saja, saya fikir mamanya pak Lukas memang benar, diumur bapak ini memang sudah seharusnya untuk memiliki pendamping hidup."


"Tari, kamu tidak ingat apa yang saya bilang semalam."


"Yang mana ya pak."


"Saat kita berdua seperti ini, jangan panggil pak, panggil saja Lukas."


"Saya lupa pak, ehh maksud saya Lukas." Tari merasa tidak enak gitu rasanya memanggil Lukas hanya dengan panggilan nama saja berhubung Lukas adalah atasannya, tapi dia harus malakukannya karna itu permintaan Lukas sendiri.


"Nahh, begitu donk."


Tidak ada lagi obrolan yang tercipta antara mereka, sampai mereka tiba direstoran dimana tempat Lukas janjian bersama dengan mamanya.


Begitu melihat mamanya, Lukas langsung melangkah menuju meja dimana mamanya berada.


Sedangkan mama Lili yang melihat putranya yang kinj tengah bersama seorang wanita mengerutkan kening, dia bertanya-tanya pada diri sendiri, "Siapa gadis yang datang bersama Lukas itu, apa pacarnya, bukankah dia tengah dekat dengan Arin saat ini."


Maklum mama Lili berfikiran kalau Tari adalah pacar Lukaa mengingat dia belum pernah bertemu secara langsung dengan Tari, dia hanya bicara lewat telpon saja selama ini.


"Hai ma." sapa Lukas begitu dekat mamanya, Lukas mencium pipi sang mama.


"Hai juga sayang." balas mama Lili.


"Sayang, dia...." mama Lili menunjuk Tari dengan rasa keingintahuan.


"Masak mama tidak tahu sieh."


"Memangnya dia siapa."


"Orang yang sering mama hubungin hanya sekedar untuk mengingatkan aku hanya untuk makan."


"Ohhh, Tari ya."


Tari tersenyum, "Iya bu Lili, saya Tari, sekertarisnya pak Lukas."


"Duhhh, saya sudah sering meminta tolong ini itu sama kamu dan merepotkan kamu tentang banyak hal, tapi ini untuk pertama kalinya saya melihat kamu Tari, kamu ternyata sangat cantik."


"Terimakasih tante."


"Kok jadi berdiri gini ya, ayok duduk, kita ngobrolnya sambil duduk."


Tiga orang itu duduk, mama Lili melambai untuk memanggil pelayan, dan setelah memesan, kini mereka tinggal menunggu pesanan mereka datang.


"Suami saya juga pernah cerita, katanya dia pernah bertemu sama kamu, dia muji-muji kamu lho Tari, katanya sekertarisnya Lukas itu cantik, cerdas dan bla bla, saya sampai kesel dengernya, masak didepan istri sendiri muji wanita lain, tapi ternyata, kamu memang seperti yang dibilang sama suami saya Tari." jelas mama Lili panjang lebar.


Tari terkekeh, "Bapak emang bisa saja kalau muji."


"Ma, mama kenapa ngajakin aku makan siang, perasaan, mama itu rajin banget ngajakin aku makan siang bareng." Lukas mengintrupsi.


"Memang kenapa, kamu tidak suka gitu makan siang bareng sama mama."


"Ya bukan begitu ma, hanya saja...."


"Tuhh kamu lihat kelakuan atasan kamu Tari, diajakin makan siang oleh mamanya sendiri dia malah keberatan gitu."


"Bukan begitu ma, tapi..."


"Sebagai seorang ibu, wajarkan Tari kalau saya ngajakin putra saya satu-satunya ini makan siang." mama Lili tidak membiarkan Lukas menyelsaikan ucapannya.


"Iya bu."


"Mamakan hanya ingin qualiti time gitu sama kamu Lukas, habisnya kamu itu berangkat pagi dan keseringannya pulangnya malam saat mama tidur, mamakan kangen gitu lho ngobrol dengan kamu."


"Bukan ngobrolin tentang masalah nikah-nikah gitukan ma."


"Kenapa sieh kamu itu tidak suka saat mama membahas masalah pernikahan, sebagai orang tua wajarkan mama ingin kamu segera menikah, mamakan ingin gendong cucu Lukas."


Tari jadi ikut mendengarkan tentang curhatan mama Lili deh.


"Bagaimana menurut kamu Tari."


"Ehh apa buk." Tari tidak siap saat ditanya begitu.


"Wajarkan kalau saya membahas tentang masalah pernikahan dan menginginkan boss kamu ini menikah."


"Ohhh iya, itu sesuatu hal yang wajar kok bu, memang setiap orang tua menginginkan anaknya segera menikah." Tari memberi dukungannya sama mama Lili.


"Duhh Tari, dia kenapa malah mendukung pendapat mama gini sieh, bela aku kek, yang atasannya siapa coba."


"Nahh tuh, kamu dengar itu Lukas."


"Memangnya pak Lukas sudah ada calonnya bu."


"Ya belum ada sieh, hanya saja, saya sangat mengharapkan Lukas bersama dengan Arin."


"Mbak Arin."


"Kamu kenal sama Arin Tari."


"Tentu saja buk, saya pernah bertemu dengan mbak Arin saat jalan bersama dengan pak Lukas."


"Menurut kamu Arin itu bagaimana Tari."


Lukas mendengus mendengar pertanyaan mamanya.


Tari menoleh ke arah Lukas terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan mama Lili, "Menurut saya, mbak Arin itu gadis yang baik, cerdas lagi dan calon dokter, dan menurut saya, mbak Arin cocok dengan pak Lukas."


"Nahh tuh kamu dengar sendirikan Lukas, Tari saja bilang Arin itu baik dan cocok dengan kamu."


"Ma, bisa tidak kita makan dulu, Lukas lapar." tandas Lukas saat pelayan menghampiri meja yang mereka tempati.

__ADS_1


Dan terpaksa mama Lili untuk sementara menghentikan ocehannya, untuk sementara mereka memang harus mengisi perut terlebih dahulu.


*****


__ADS_2