
Tari dan Adam memulai kehidupan mereka yang baru, dan Tari hari ini rencananya akan memasukkan lamaran kerja dibeberapa perusahaan.
Setelah dia menyiapkan sarapan untuk Adam, kini dia sudah bersiap-siap mengenakan stelan rapi, dan saat ini dia tengah berdiri mematut dirinya didepan cermin besar yang ada dikamarnya.
Lewat kaca yang ada didepannya, Tari tersenyum saat melihat suaminya berjalan menghampirinya, Adam melingkarkan tangannya memeluk pinggang istrinya dari belakang, Adam meletakkan dagunya dipundak sang istri.
"Harus banget ya kamu memasukkan lamaran kerja hari ini." tanyanya manja, dia ingin istrinya tetap berada dirumah menghabiskan waktu seharian bersama dengan dirinya, karna dia sendiri belum bisa mencari pekerjaan mengingat belum ada konfirmasi dari kakaknya tentang ijazahnya.
Tari berbalik dan mengalungkan tangannya dileher suaminya, "Maafkan aku karna harus pergi ninggalin kamu sendirian dirumah mas, tapi aku harus cari kerjakan."
"Hmmm, maafkan aku yang tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kamu."
Tari menangkup wajah suaminya dan memandang lekat manik mata Adam, mata mereka bersitatap, "Jangan pernah berkata begitu, kita akan bersama-sama berusaha untuk merubah kehidupan kita menjadi lebih baik."
"Terimakasih Tari, karna mau menerima laki-laki kere dan pengangguran ini."
Tari mencium pipi suaminya, "I LOVE YOU suamiku."
"I LOVE YOU TO istriku."
"Aku harus pergi sekarang mas." Tari mengambil tasnya dan map coklat berisi cv lamaran kerjanya.
"Aku antar ya."
Karna dia tidak punya kendaraan sama sekali, jadi Adam berniat ikut mengantar istrinya menggunakan angkot saja.
"Mas dirumah saja." tolak Tari.
"Tapi aku takut terjadi apa-apa sama kamu sayang, kamu sering lihat diberitakan sering terjadi aksi kejahatan diangkutan umum."
"Insaalah Tari akan baik-baik saja mas, mas jangan khawatir ya." Tari mencoba menenangkan suaminya yang khawatir.
"Kalau nanti aku sudah dapat kerja, aku akan menabung untuk membeli kendaraan, yah minimalnya motorlah supaya aku bisa nganterin kamu kemana-mana, aku gak mau kamu berdesak-desakan naik angkutan umum."
"Iya mas, tapi sebelum hal itu terwujud, kemana-manakan kita harus menggunakan transportasi umum dulu, iyakan."
"Hmmm."
"Ya sudah ya mas, aku berangkat dulu." pamitnya.
"Aku antar sampai depan gang ya, minimal sampai kamu dapat angkot."
"Baiklah."
Dengan bergandengan tangan mereka berjalan menuju jalan raya untuk menunggu angkot yang lewat.
Saat dalam perjalanan, Tari berpapasan dengan bu Nindi salah satu tetangganya, ibu Nindi menyapa.
"Wahh, mau kemana nieh Tari."
"Mau cari kerja bu."
Ibu Nindi menoleh pada Adam yang hanya berpenampilan biasa, "Terus suaminya, gak kerja Tari."
Adam agak tersentil mendengar pertanyaan tersebut, Tari yang tidak ingin suaminya diremehkan berkata, "Mas Adam kerja bu, tapi mas Adam masih dalam masa cuti, iyakan mas."
"Iya, saya masih cuti." Adam membenarkan ucapan bohong istrinya.
"Ohh, saya fikir pengangguran, kan gak enak kalau istri kerja sedangkan suaminya hanya kerjanya cuma tidur dirumah."
Adam berusaha untuk menahan rasa kesalnya mendengar ocehan tetangga dekat rumahnya itu, yah ini salah satu resiko tinggal dikomplek perumahan padat penduduk begini, apa-apa diperhatikan dan dikomentarin, berbeda dengan komplek perumahan orang tuanya, orang-orang disana hidup sendiri tanpa saling memperdulikan kehidupan orang lain.
"Ya sudah bu, saya pergi dulu." ujar Tari gak mau berlama-lama berada didekat ibu Nindi yang bisa dibilang adalah biangnya gosip.
"Iya."
Tari kembali berjalan bersama dengan Adam.
"Kamu gak malu punya suami pengangguran seperti aku." sepertinya Adam masih memikirkan kata-kata tetangga Tari tersebut.
"Jangan diambil hati mas ucapan bu Nindi, yang pentingkan mas tidak seperti yang dikatakan oleh bu Nindi."
"Hmmm, tapi tetap saja aku merasa seperti laki-laki yang tidak berguna, suami macam apa aku membiarkan istriku bekerja sedangkan aku hanya ngedekam dirumah doank."
"Mas." Tari menghentikan langkahnya, Adam reflek juga melakukan hal itu, "Mas, aku kasih tahu ya, mungkin mas tidak ingat, aku bukannya kerja mas, aku itu hanya mau memasukkan lamaran kerja, bukannya langsung kerja, kan harus ada proses interviewnya dulu."
"Seenggaknya kamu berusahakan, gak kayak aku yang tidak ada usaha sama sekali." ternyata omongan bu Nindi barusan membuat Adam jadi sensitif begini.
"Astagaa, apa sieh yang ada difikiran mas Adam ini, gimana mas mau memasukkan lamaran kerja kalau mbak Hawa belum membawakan ijazah yang mas minta, nanti kalau mbak Hawa membawakan ijazahnya mas Adam, gak mungkinkan mas Adam hanya berpangku tangan dirumah."
"Hmmm."
"Sudahlah mas jangan bahas ini lagi, dan satu hal lagi, jangan dengerkan kata orang oke." untungnya saat ini gang menuju jalan raya sepi sehingga tidak ada yang melihat perdebatan mereka.
"Hmmm." Adam hanya menjawab dengan hmm hmm doank.
"Ayok kita melanjutkan perjalanan saja sebelum angkotnya lewat."
__ADS_1
Mereka kembali berjalan menuju jalan raya.
Tari menyetop angkot pertama yang dilihatnya setelah menunggu selama kurang lebih 10 menit.
Penumpang ngkot itu tidak terlalu banyak, hanya 3 orang yang duduk didalamnya.
"Aku pergi dulu mas." Tari meraih tangan Adam dan menciumnya.
"Jangan lupa kabarin aku."
"Iya mas." Tari masuk dan duduk diarea kursi penumpang yang kosong.
Sebelum angkot berjalan, Adam mendekati sopir angkot dan berpesan, "Bang, tolong bawa istri saya selamat sampai tujuan ya, saya tidak ingin istri saya kenapa-napa karna saya tidak bisa hidup tanpanya."
Sik sopir menoleh ke belakang melihat wanita yang dimaksud, begitu juga dengan penumpang lainnya yang juga melirik ke arah Tari, sumpah Tari merasa sangat malu rasanya, dia sampai menunduk karna menjadi pusat perhatian para penumpang lainnya.
"Ihh mas Adam ini apa-apaan sieh, kan aku jadi malu." batinnya.
"Oke sip mas, istri mas tercinta itu akan saya antar sampai tujuan dengan utuh tanpa kurang satu apapun."
"Terimakasih bang."
"Cepat pulang sayang, ku menunggumu." serunya sebelum angkot berjalan.
Tari tersenyum menanggapi ucapan suaminya, rasa keselnya akibat perdebatan barusan hilang begitu saja.
Mereka saling melambaikan tangan begitu angkot berjalan yang membawa penumpangnya pada tujuan masing-masing.
Sementara Adam kembali ke rumah, entah apa yang akan dia lakukan, mungkin tidur atau bagaimana.
****
Sementara itu dikediaman keluarga Hawa, Hawa saat ini tengah membantu suaminya untuk memasang dasi.
"Mas."
"Hmmm."
"Diperusahaan mas ada lowongan gak."
"Buat Adam." tebak Irfan mendengar pertanyaan istrinya.
Irfan tentu saja tahu apa yang terjadi saat ini dalam keluarga istrinya, kemarin papa mertuanya menelpon untuk memintanya jangan memberikan bantuan dalam bentuk apapun sama Adam yang sudah tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga Wijaya.
"Kok mas tahu."
"Papa kemarin nelpon, yah dia cerita secara singkat tentang adik kamu yang pembangkang, dan papa juga berpesan supaya aku tidak membantu adikmu itu dalam bentuk apapun."
"Menurut aku, sikap papa sudah benar kok." Irfan mendukung mertuanya, mungkin mereka satu spesies kali ya, "Adikmu itukan yang memilih pergi bersama dengan wanita miskin itu dan meninggalkan keluarga kalian, jadi wajar saja papa merasa sakit hati dan meminta orang-orang terdekatnya untuk tidak memberi bantuan kepada adikmu yang pembangkang, dan seharusnya kamu juga melakukan hal itu Hawa." Irfan menekan kalimat terakhirnya karna bau-baunya sang istri ada niatan untuk membantu Adam.
"Mas apa-apaan sieh, jangan ikut-ikutan sama papalah nyalah-nyalahin Adam, Adam itu memperjuangkan perasaannya, apa itu salah."
"Ya gak salah, asal yang dia perjuangkan adalah wanita yang pantas untuk diperjuangkan."
"Jadi menurut mas, Tari itu tidak pantas begitu untuk diperjuangkan hanya gara-gara dia berasal dari keluarga kurang berada."
"Yahh intinya aku mendukung papa Hawa, dan kamu, jangan lagi memintaku untuk membantu adikmu itu."
"Kenapa mas Irfan jadi menyebalkan begini seih." desis Hawa pagi-pagi sudah dibuat kesal oleh suaminya.
"Masalah Adam bukan urusanmu Hawa, lebih baik kamu fokus saja mengurus keluargamu sendiri."
"Adam itu adikku mas, bagaimana aku bisa cuek saja melihatnya kesusahan diluar sana." Hawa jadi ngegas mendengar ucapan yang keluar dari bibir suaminya, suaminya benar-benar tidak berempati sama sekali dengan kondisi Adam.
"Dia sendirikan yang memilih jalan hidupnya dan memilih hidup susah, jadi kenapa kita yang harus repot-repot mengulurkan bantuan kepadanya."
"Cukup mas Irfan, kalau mas Irfan tidak mau membantu Adam tidak apa-apa, mas fikir aku tidak mampu membantu adikku sendiri dengan kemampuanku." Hawa meradang.
"Lakukan saja, dan kamu tahu sendirikan akibatnya kalau papa sampai tahu apa yang kamu lakukan dibelakangnya."
Hawa menelan ludahnya mendengar kata-kata suaminya yang memang benar adanya, papanya adalah orang yang keras, yang tidak segan main tangan pada anak-anaknya, tapi memang selama ini Hawa anak yang penurut sehingga dia tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik dari ayahnya, Adamlah yang sering mendapatkannya.
Karna dilihatnya Hawa diam, Irfan kembali berkata, "Sudahlah, jangan fikirkan adikmu itu kalau kamu mau kehidupan kita tenang, lebih baik kamu fokus saja mengurus putri kita." ujar Irfan mengakhiri perdebatan dipagi hari itu.
Irfan mengenakan jasnya dan bersiap untuk turun dan sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor.
"Kamu masih mau bengong disini atau ikut turun untuk sarapan."
"Hmmm." Hawa mengikuti suaminya turun ke bawah, dan setelah suaminya pergi, dia rencananya akan pergi ke rumah orang tuanya, apalagi tujuannya kalau bukan meminta bantuan mamanya untuk memberikan ijazah Adam supaya adiknya mudah untuk mendapatkan pekerjaan.
****
Adam : Gue boring
Adam merasa bosan sendirian berada dirumah istrinya sehingga dia mengirim pesan sama Marcell sahabatnya.
Marcell : Elahh pengantin baru kok boring, lo kerjain tuh Tari
__ADS_1
Adam : Anjirr ya, otak lo itu ke arah situ mulu, insaf lo, kiamat sudah dekat
Marcell : Habisnya lo bilang boring, setahu gue gak ada pengantin baru yang boring, yang ada tuh pengantin baru lagi sibuk-sibuknya mendekam dikamar dan saling beradu mesra
Adam : Ini juga gue lagi ngedekam di kamar
Marcell : Lha terus
Adam : Sendirian gue
Marcell : Tari
Adam : Bini gue lagi nyari kerja, sedangkan gue kerjaannya cuma tidur doank, benar-benar laki-laki tidak berguna dan tidak tahu malukan gue
Marcell : Tahu gitu lo cari kerja donk
Adam : Ijazah gue ketahan dirumah, ya kali gue pulang dan memintanya sama ortu gue, yang ada gue dilemparin sendal
Marcell : Iya sieh, sekarang orang kalau mau kerja yang dilihat ijazah dulu, soal skill itu nomer sekian, tapi ada sieh pekerjaan yang tidak membutuhkan ijazah
Adam : Apaan
Marcell : Kuli, mau lo
Adam : Perlu dipertimbangkan tuh
Marcell : Elahh lagak lo, palingan membedakan mana sekop mana cangkul lo gak tahu
Adam : Meremehkan gue elo, lo tahukan jurusan gue ada kaitannya dengan perkulian
Marcell : Kaitannya gimana maksud lo, lokan arsitek, tukang mendisain gambar bangunan gitu, ya kulikan cuma ngangkut batu bata, ngaduk semen
Adam : Ya adalah pokoknya, lo mana ngerti
Marcell : Iya ya memang gue gak ngerti, secara itukan bukan bidang keahlian gue
Adam mengakhiri acar berkirim pesannya dengan Marcell, dia gak mau mengganggu Marcell yang saat tentu lagi sibuk, tidak seperti dirinya yang pengangguran.
Benar-benar sangat membosankan deh kalau tidak ada yang dikerjakan seperti ini, bahkan tidurpun rasanya sangat membosankan, karna tidak ada yang bisa Adam kerjakan, Adam akhirnya memilih untuk ke dapur, entah kesambet setan apa sehingga dia tiba-tiba kefikiran untuk memasak, padahal mah masak mi instan saja dia gak bisa.
Tapi fikirnya, dia harus mencobakan, kan sekarang tehnologi sudah canggih, jadi dia bisa mengikuti tutorial memasak lewat youtube, dengan pemikiran tersebut dia membulatkan niatnya untuk memasuki dapur.
"Begitu Tari pulang, diakan bisa langsung makan." lirihnya dalam perjalanan menuju dapur.
Dia melihat bahan-bahan yang tersedia dikulkas kecil didapur, disana ada telur, ikan dan beberapa sayuran.
"Oke semangat." Adam menyemangati dirinya sendiri.
Sebelum dia melakukan aktifitas memasaknya, dia terlebih dahulu mencari tutorial memasak yang sesuai dengan bahan yang tersedia di kulkas.
"Oke tumis kangkung saja, ini sepertinya gampang, dan setelah itu aku bisa membuat telur dadar dan menggoreng ikan." ujarnya percaya diri.
Dan setelah itu barulah dia mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas dan mulai mengeksekusinya sesuai dengan intruksi yang ada dalam vidio, ternyata membuat tumis kangkung tidak sesederhana kelihatannya, apalagi untuk Adam yang sebelumnya tidak pernah yang namanya memasak, tapi demi Tari, dia bertekad untuk bisa.
Adam memang berhasil, tapi hasil masakannya jauh dari kata sempurna, bahkan bisa dibilang gagal, tumis kangkung yang dibuat kematengan yang membuat kangkungnya sangat sangat lembek, telur dadarnya berwarna kehitaman atau mungkin lebih tepatnya bisa dibilang gosong, tapi Adam puas melihat hasil masakannya sendiri, "Ahhh bisa juga aku." ujarnya bangga.
Dan yang terakhir yang dia lakukan adalah menggoreng ikan.
Saat memasukkan ikan, minyaknya muncrat kemana-mana, bahkan mengenai kulit tangannya sehingga membuat kulitnya agak kemerahan.
Adam meringis merasakan perihnya minyak panas yang menyentuh kulitnya, belum juga luka diwajahnya sembuh, kini kulit tangannya kena cipratan minyak panas.
Dan alhasil, ikan itupun gak kalah hitamnya dengan telur dadar yang dia bikin, "Memang tidak sempurna, tapi seenggak aku sudah berusaha."
Setelah semua makanan terhidang dimeja, Adam kemudian menggambil gambar, niatnya dia ingin mengirimkannya pada Tari.
Sebelum dikirim, dibawah gambar tersebut diberi keterangan.
Hasil masakan pertamaku, aku berusaha demi kamu, cepat pulang kesayanganku.
"Aku harap Tari segera pulang, dan mencicipi hasil masakanku."
****
Tari memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan, dan setelah itu dia tinggal menunggu panggilan untuk melakukan wawancara kerja.
Dia lumayan lelah setelah setengah hari ini dia harus pergi ke perusahaan satu ke perusahaan lainnya.
Dan saat ini dia tengah duduk dikursi kayu yang berada didepan sebuah warung setelah tadi membeli air mineral, Tari meneguk air putih tersebut sampai tersisa tinggal setengahnya.
Saat itu dia mendengar suara notifikasi chat dari ponselnya yang ada didalam tasnya, Tari merogoh tasnya untuk mencari benda tersebut, dia tersenyum begitu mengetahui kalau pengirim chat tersebut adalah suaminya, dia membukanya dan melihat gambar masakan yang ditata dimeja rumahnya.
Hanya melihat gambar itu saja, Tari tahu kalau masakan itu gagal dan kemungkinan tidak layak dikonsumsi, tapi bukan itu yang penting, yang penting adalah bagaimana suaminya itu berusaha untuk memasak untuknya, dan itu membuat Tari terharu.
Dia kemudian menyentuh tombol keypad untuk membalas pesan tesebut.
Tari : Aku akan segera pulang mas Adam, dan terimakasih atas usaha mas Adam untuk memasak untukku
__ADS_1
Adam : Aku menunggumu sayang
****