
"Permisi pak Lukas, maaf kalau saya mengganggu waktu anda." ujar Firman saat memasuki ruangan Lukas.
"Ada apa Firman."
"Kami sudah menemukan sekertaris pribadi untuk pak Lukas, setelah melalui seleksi yang cukup ketat, akhirnya kami telah memutuskan untuk memilih seorang yang benar-benar layak dan sesuai bidangnya dan pastinya berpengalaman." Firman menjelaskan maksud kedatangannya menemui Lukas.
Lukas melepas kaca minus yang membingkai matanya, dia mendesah berat, sesungguhnya dia tidak butuh sekertaris pribadi, dia sudah cukup dengan adanya Firman, tapi apa dayanya, dia tidak bisa menolak keinginan sang nyonya besar dalam hal ini adalah mamanya yang ngotot meminta Firman untuk membuka lowongan untuk mencari sekertaris untuknya.
"Mana orangnya Firman." tanyanya acuh tak acuh dan kembali membolak-balikkan berkas yang ada ditangannya.
"Kemari, perkenalkan dirimu pada pak Lukas." panggil Firman pada seseorang yang menunggu diluar.
Seseorang yang dipanggil barusan berjalan memasuki ruangan presdir, dia berhenti tepat disamping Firman dan mulai memperkenalkan dirinya.
"Selamat pagi pak Lukas, perkenalkan saya Mentari Whardhani sekertaris baru pak Lukas, dan saya akan berusaha bekerja dengan baik menjadi sekertaris yang bisa diandalkan oleh bapak "
Begitu mendengar nama dari sekertaris barunya itu, Lukas langsung mendongak menatap ke arah gadis yang baru memasuki ruangannya, sangat kentara kalau Lukas terkejut melihat gadis yang selama ini sering membayangi mimpinya, bahkan berkas yang ada ditangannya sampai terjatuh.
"Astaga dia, selama ini aku sangat berusaha menghilangkan bayang-bayang tentang dirinya dan kini gadis itu berdiri dihadapanku, apa yang harus aku lakukan sekarang, kalau mulai saat ini aku akan selalu melihatnya setiap hari." kepala Lukas tiba-tiba terasa pening yang membuatnya memijit keningnya.
Tari dan Firman saling melempar pandangan saat melihat ekpresi Lukas yang langsung berubah saat melihat Tari.
"Kenapa pak Lukas begitu kaget melihat aku, apa kami pernah bertemu sebelumnya, apa aku pernah membuat pak Lukas tidak nyaman, tapi setahuku ini untuk pertamakalinya aku bertemu dengan pak Lukas." heran Tari.
"Pak Lukas, apa bapak baik-baik saja." Fiman mendekat berusaha untuk memastikan apakah atasannya itu baik-baik saja.
Lukas mengangkat tangannya sebagai kode bahwa dia baik-baik saja, "Kalian berdua sebaiknya keluar, tinggalkan saya sendirian." usirnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi sieh dengan pak Lukas, dia ngelihat aku sudah seperti melihat hantu saja." Tari bertanya-tanya dalam hati.
"Tapi pak..."
"Keluar saya bilang." bentak Lukas.
"Baik pak, kami akan keluar."
"Ayok Tari, kita keluar."
"Tapi...tapi saya tetap diterimakan pak bekerja diperusahaan ini." Tari khawatir dirinya akan langsung dipecat dihari pertamanya mengingat bagaimana ekpresi Lukas saat melihatnya.
"Iya, tapi sebaiknya untuk saat ini kita keluar dulu, biarkan pak Lukas sendiri dulu."
Tari dengan pasrah mengikuti Firman keluar ruangan boss barunya, atau mungkin saja dia tidak sempat memanggil boss karna kemungkinannya dia akan dipecat tanpa melakukan kesalahan.
"Pak Firman, apa yang sebenarnya terjadi dengan pak Lukas, kok dia seperti kaget gitu saat melihat saya, sebelum ini, saya merasa tidak pernah bertemu dengan pak Lukas, jadi saya tidak mungkinkan melakukan kesalahan padanya mengingat ini untuk pertama kalinya kami bertemu." Tari menyuarakan keheranannya.
"Saya juga tidak tahu apa yang terjadi dengan pak Lukas Tari." Firman sama bingungnya dengan Tari.
"Masak iya saya harus dipecat dihari pertama saya kerja sieh, padahal saya bela-belain lagi resign dari kantor saya yang kemarin, dan sekarang kalau saya beneran dipecat, saya harus cari kerja yang baru lagi." Tari mendesah berat, melihat cara Lukas menatapnya, dia sudah yakin bakalan dipecat.
"Tenanglah, saya yakin kamu tidak akan dipecat, jadi jangan berfikir macam-macam."
"Semoga saja."
Sementara itu didalam ruangan, Lukas berusaha mengontrol perasaannya begitu Tari sudah keluar dari ruangannya.
"Kenapa bisa dia, dari sekian banyak populasi wanita di Jakarta, kenapa harus dia yang dipilih sebagai sekertaris pribadiku, sekarang apa yang harus aku lakukan kalau setiap hari aku harus melihatnya." Lukas mendesah frustasi dengan keadaan ini, disaat kehidupannya sedikit lebih membaik dan bayang-bayang masa lalu itu sudah mulai memudar, kini salah satu pemerannya hadir dihadapannya seolah-olah tidak ingin membiarkan Lukas menjalani hidupnya dengan tenang.
"Dan bagaimana kalau suatu saat nanti dia mengetahui kalau aku yang telah menghancurkan kebahagiaannya, dia pasti akan sangat membenciku seumur hidupnya, dan memang seharusnya aku pantas untuk dibenci olehnya."
Untuk beberapa menit Lukas berjibaku dengan perasaan dan rasa bersalahnya, semakin dia berusaha melupakan, bayang-bayang dosanya dimasa lalu semakin tergambar jelas dihadapannya, Lukas menarik laci meja kerjanya, mengambil botol kecil bening dari sana, menuangkan sebutir pil ditangannya dan menelannya, Lukas meraih gelas berisi air putih dan mengarahkannya ke bibirnya untuk memudahkan pil itu untuk masuk ke lambungnya.
Setelah beberapa saat, efek dari pil yang ditelannya itu mulai terasa, dia mulai agak tenang dan bisa berfikir jernih, tidak ada yang tahu kalau selama ini untuk menghilangkan trauma dan rasa bersalahnya, Lukas mengkonsumsi pil penenang, di awal-awal, hampir setiap hari dia harus menelan pil tersebut, tapi ini untuk pertama kalinya dia menelannya kembali setelah dua bulan tidak pernah lagi menelannya.
"Aku harus tenang, masa lalu tidak boleh mempengaruhiku, bahkan dengan kehadiran gadis itu didekatku."
Setelah merasa baik-baik saja, Lukas meraih gagang telpon yang ada disampingnya untuk menghubungi Firman.
"Firman, suruh gadis itu masuk ke ruangan saya." perintahnya dan tanpa menunggu jawaban dia langsung menutup telponnya.
Lima detik kemudian, terdengar suara ketukan dari luar pintu ruangannya.
"Masuk." perintahnya.
Lukas sangat berusaha untuk bersikap sewajarnya dan tidak terpengaruh oleh bayang-bayang masa lalu saat berhadapan dengan gadis tersebut.
__ADS_1
Lukas memasang wajah datar dengan pandangan tajam begitu pintu terbuka yang memampangkan tubuh Tari yang berjalan masuk mendekatinya.
Tari menunduk, tidak berani menatap mata Lukas yang menatapnya dengan tajam.
"Duduk." perintah Lukas
Tari duduk dikursi yang berhadapan dengan Lukas.
"Siapa nama kamu tadi, maaf saya lupa." tanya Lukas sebagai formalitas belaka mengingat dia ingat diluar kepala nama Tari.
"Mentari Whardhani pak, bapak bisa memanggil saya Tari saja." jawab Tari masih menunduk.
"Saya rasa kamu pernah diajarkan sopan santun oleh orang tua kamu, kalau orang bicara dengan kamu tatap orangnya, bukan malah menunduk."
Tari langsung mendongak, dan netranya langsung bertemu dengan netra laki-laki yang saat ini berstatus sebagai bosnya tersebut.
"Maafkan saya pak Lukas kalau saya terkesan tidak sopan, tapi saya tidak bermaksud seperti itu kok."
Perasaan Lukas campur aduk saat bertatapan dengan mata sendu itu, dimata itu seolah-olah Lukas bisa melihat semua kilasan nahas yang terjadi malam itu dengan jelas, oleh karna itu, Lukas langsung mengalihkan perhatiannya menatap ke arah lain.
"Saya yakin, kamu dipilih oleh pihak HRD karna kamu layak dan berpotensi bekerja diperusahaan ini, oleh karna itu, saya juga harus menerima kamu sebagai sekertaris pribadi saya." ungkap Lukas mantap, meskipun dia tahu akan sangat berat selalu berdekatan begini dengan Tari.
"Yang benar pak, bapak tidak mecat saya." mata Tari berbinar.
"Kenapa kamu berfikir saya akan mecat kamu."
"Habisnya bapak tadi ekpresinya kaget dan kayak tidak suka gitu saat melihat saya, saya fikir..."
"Maafkan saya atas ketidaknyamanan barusan, itu hanya reaksi refleks saya saja saat berhadapan dengan orang baru." alibinya.
"Ohhh." Tari hanya mangut-mangut.
"Baiklah Mentari Whardhani, selamat bergabung diperusahaan ini, saya harap kamu bisa bekerja dengan baik dan membantu saya."
"Tentu pak, saya akan bekerja dengan baik, bapak bisa mengandalkan saya." jawab Tari mantap, "Asal bapak jangan ganjen saja seperti boss-boss saya yang sebelumnya, tapi sepertinya bapak adalah tipe laki-laki baik deh." nilai Tari dalam hati.
"Baiklah, kamu bisa mulai bekerja hari ini, dan mengenai tugas-tugas kamu, biar nanti Firman yang menjelaskan."
"Iya pak Lukas, terimakasih."
Firman kini sudah berdiri didepan meja sang boss, menunggu apa yang akan dikatakan oleh atasannya tersebut.
"Firman, tolong kamu arahkan Tari, kasih tahu dia apa yang seharusnya dia kerjakan."
"Baik pak."
"Ayok Tari, ikut saya."
Tari mengangguk, dan permisi kepada Lukas sebelum mengikuti Firman keluar dari ruangan tersebut.
Lukas mendesah lega begitu Tari sudah tidak ada dihadapannya, sumpah, berada dalam jarak dekat dengan Tari membuatnya tersiksa karna kilasan masa lalu itu terus saja membayanginya.
****
Hari itu berjalan dengan lancar tanpa hambatan, dan Tari bisa menyerap dengan baik setiap apa yang dikatakan oleh Firman, dan kini sudah saatnya untuk pulang kantor, Tari sudah memesan ojek online untuk membawanya pulang ke rumahnya.
Tari berdiri didepan perusahaan menunggu ojek online yang dipesannya melalui aplikasi, tapi setelah beberapa menit menunggu, belum ada tanda-tandanya abang gojek datang.
Saat menunggu begitu, sebuah mobil berhenti tepat didekatnya, Tari bertanya-tanya dalam hati siapakah gerangan yang ada didalam mobil tersebut, pertanyaannya terjawab saat kaca mobil diturunkan yang membuat Tari bisa melihat dengan jelas siapa yang ada didalam mobil yaitu Lukas atasannya.
"Tari, kamu ngapain berdiri sendiri didepan begini." Lukas bertanya, tampangnya masih tetap sama seperti tadi pagi, datar dan dingin.
"Saya lagi nunggu gojek pak."
Tari sudah yakin Lukas akan menawarkan untuk mengantarkannya, dan Tari juga sudah bersiap untuk menolak.
"Ohh, baiklah kalau begitu, saya duluan ya."
"Jalan pak." perintah Lukas pada sopirnya.
"Ehhh." Tari heran, dia sudah kegeeran saja kalau boss barunya itu akan menawarkannya tumpangan, ehh tahunya murni cuma nanya doank, mungkin karna sudah terbiasa kali Tari sering ditawari tumpangan oleh boss-bossnya yang sebelumnya sehingga dia jadi kegeeran begini, sumpah rasanya Tari ingin tertawa dalam hati, "Haha, ya Tuhan, aku kegeeran sekali, tapi syukurlah, semoga saja pak Lukas tidak seperti atasan-atasanku yang sebelumnya." harap Tari dalam hati.
Dan setelah kepergian Lukas, gak lama gojek yang dipesannya tiba, Tari bergegas menaikinya, dia ingin segera sampai rumah dan istirahat.
****
__ADS_1
"Gimana kerjaan Baru." tanya Laura dari sambungan telpon.
"Mmm, ini baru hari pertama, jadi aku tidak bisa bilang kalau pekerjaan saat ini baik-baik saja, bukankah diawal-awal biasanya semuanya akan serba baik."
"Iya sieh kamu benar juga."
"Gimana dengan boss kamu, apa ada tanda-tanda keganjenannya muncul saat melihat kamu untuk pertama kalinya."
"Hmmm, aku rasa sieh boss aku yang ini agak beda Ra."
"Bedanya itu gak ganjen dan genit maksud kamu."
"Bisa jadi, karna pertama melihatku saja dia kayak ngelihat hantu gitu, pucat wajahnya, dia bahkan sampai ngusir aku keluar dari ruangannya."
"Ohh ya, menarik nieh, terus-terus."
"Yahh setelah beberapa saat, dia kembali memanggil aku, dan intinya dia bilang selamat bergabung gitu diperusahaannya, dan kamu tahu tidak saat pulang, dia menghentikan mobilnya tepat didekatku, ku fikir dia akan menawarkan tumpangan gitu sama aku, ehh tahunya dia sekedar nanya aku lagi ngapain berdiri sendirian, dan setelah itu dia pergi gitu aja, padahal aku sudah geer dan menyiapkan kata-kata untuk menolaknya." cerita Tari tentang hari pertamanya bekerja diperusahaan Lukas.
"Hahaha." dari seberang tawa Laura terdengar begitu Tari menyelsaikan ceritanya, "Sumpah kamu kegeeran Tar."
"Ya wajarlah Ra, mengingat diperusahaan yang dulu-dulu tempat aku bekerja, hampir semua atasanku selalu mengajak aku pulang bareng, tapi aku bersyukur sieh pak Lukas orangnya tidak seperti itu, dan aku harap sieh sikapnya akan terus seperti itu sampai kiamat."
"Syukurlah ya Tar, akhirnya kamu mendapatkan atasan seperti yang kamu inginkan, aku harap kali ini kamu bertahan lama ditempat kerja kamu yang baru."
"Iya, aku harap juga begitu."
****
"Jadi gimana, apa Firman sudah menemukan sekertaris baru untukmu." tanya mama Lili saat makan malam dengan keluarganya.
"Sekertaris baru ma." heran papa Sebastian yang tidak tahu menahu akan hal ini.
"Iya pa, mama meminta Firman untuk mencarikan Lukas sekertaris pribadi gitu lho, untuk memperlancar pekerjaan Lukas." jelas mama Lili pada suaminya.
Papa Sebastian hanya mangut-mangut, pasalnya dulu dia sama sekali tidak diizinkan memiliki sekertaris pribadi oleh istrinya itu, diizinkan memang, tapi sekertarisnya itu haruslah cowok, fikir papa Sebastian, kalau cowok mah Firman juga sudah cukup.
"Lukas mama izinkan punya sekertaris pribadi, dulu mama tidak mengizinkan papa sama sekali punya sekertaris pribadi."
"Siapa bilang mama tidak mengizinkan, mama mengizinkan kok."
"Iya mama mengizinkan, tapi sekertarisnya harus cowokkan."
"Iya kalau cewek takutnya papa selingkuh lagi."
"Mama ini, gak percayaan sekali sama sama suami sendiri, papa itu setia ma."
"Sudahlah pa, lagiankan itu sudah berlalu, jadi ngapain masih disebut-sebut, lagiankan sekarang papa sudah pensiun juga."
"Hmmm." desah papa Sebastian.
"Jadi gimana sayang, Firman sudah menemukan sekertaris barukan untuk kamu."
"Hmmm." gumam Lukas.
Dalam hatinya agak kesel juga dengan mamanya itu, mengingat gara-gara mama yang ngotot meminta Firman untuk mencarikannya sekertaris pribadi sehingga dia sampai bertemu kembali dengan Tari.
"Baguslah, besok mama akan menemuinya."
"Buat apa ma."
"Ya ada beberapa hal yang harus mama sampaikan pada sekertaris kamu itu, misalnya meminta dia untuk mengontrol supaya kamu jangan sampai terlambat makan."
"Aduhh ma, gak perlu, malu-maluin aja, lagiankan itu bukan tugas sekertaris ma, Lukas janji tidak akan pernah lupa makan."
Lukas benar-benar heran dengan mamanya itu, bisa-bisanya dia meminta Tari untuk mengingatkannya hanya sekedar untuk makan doank.
"Iya ma, Lukas benar, lagiankan putra kita bukan anak kecil lagi, kalau dia lapar ya dia akan makan dengan sendirinya, gak perlu pakai diingatkan segala." papa Sebastian mendukung argumen putranya.
"Tuh dengar ma."
"Baiklah baiklah, mama tidak akan menemui sekertaris kamu itu, asal kamu memang berjanji saja jangan sampai lupa untuk makan meskipun kamu sibuk dengan pekerjaanmu." mama Lili menyerah.
"Iya mama, mama tenang saja, aku memang tidak boleh sakit, kalau aku sakit tidak ada yang akan mengurus perusahaan kitakan."
****
__ADS_1