CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
PERTEMUAN DENGAN PARHAN


__ADS_3

Lukas tersenyum melihat Tari makan dengan lahap, dia sampai lupa memakan makananya sendiri.


"Pak Lukas tidak makan." tanya Tari aaat dilihatnya Lukas sama sekali tidak menyentuh makananya.


"Ehh iya, aku jadi lupa saking asyiknya melihat kamu makan." kekehnya.


Tari jadi malu sendiri, "Maaf pak."


"Maaf untuk."


"Mmm, karna bapak harus mendengarkan pertengkaran saya dengan papa, eh maksud saya pak Atta Wijaya, gara-gara saya pak Lukas dan pak Atta tidak jadi membicarakan tentang kerjasama perusahaan."


"Sudahlah Tari, masalah itu tidak usah kamu fikirkan."


"Tapi perusahaan bisa rugi kalau..."


"Aku bilang sudah gak usah dibahas, biar itu menjadi urusanku."


Tari mengangguk, sedikit merasa bersalah juga karna gara-gara dirinya pembicaraan yang seharusnya membicarakan tentang kerjasama antar dua perusahaan itu harus ditunda, atau mungkin lebih parahnya dibatalkan, dan Tari benar-benar tidak ingin hal itu terjadi.


"Tari."


"Iya pak."


Agak sungkan rasanya Lukas untuk menanyakan hal ini, tapi dia kok penasaran ya, "Aku mau bertanya sesuatu, tapi kamu jangan marah, dan kalau kamu risih atau keberatan, gak usah kamu jawab."


"Memangnya pak Lukas mau menanyakan tentang apa."


"Om Atta itu adalah mertuamu."


Tari menunduk, teringat akan pernikahannya yang tidak mendapat restu dari orang tua almarhum suaminya.


"Maafkan aku Tari kalau pertanyaanku membuatmu sedih, kamu tidak perlu...."


"Iya, pak Atta adalah mertuaku, lebih tepatnya adalah mantan mertuaku, dia papa dari almarhum suamiku." jelas Tari.


"Dia kenapa begitu membencimu."


"Keluarga almarhum suamiku menentang hubunganku dengan almarhum mas Adam." Tari tahu, tidak seharusnya dia menceritakan tentang kehidupan pribadinya kepada atasannya, tapi entah kenapa, Tari ingin bercerita, dia ingin didengarkan, "Keluarga mas Adam berfikir kalau aku hanya menginginkan harta mas Adam, mereka berfikir, aku mendekati mas Adam untuk memperbaiki status sosial keluargaku, karna almarhum ayahku hanya seorang sopir angkot." untuk sesaat, Tari terdiam, mengatur nafasnya yang naik turun.


Sementara Lukas masih setia menunggu cerita Tari yang belum kelar, Lukas benar-benar merasa kasihan dengan Tari.


Tari kembali melanjutkan ceritanya, "Dan yahh, mas Adam pada akhirnya lebih memilihku dan meninggalkan keluarganya tanpa membawa apa-apa, kami berjuang bersama untuk membuat kehidupan kami yang lebih baik, dan saat semuanya membaik, kejadian nahas itu harus merenggut nyawa mas Adam dan bayiku." sampai sini, Tari rasanya sudah tidak tahan lagi, air matanya sudah mulai membanjiri pipinya.


Lukas hanya terpaku, rasa bersalah kembali menguasai perasaanya, dialah orang yang merenggut kebahagian Tari, seharusnya bukan Adam dan bayi mereka, tapi dia yang seharusnya mati dalam peristiwa tersebut, dan sepertinya, rasa bersalah itu akan terus menghantuinya sampai Lukas sampai dia mati.


Tari menghapus air matanya dengan tisu, "Maafkan saya pak kalau bapak harus menjadi pendengar curhatan janda seperti saya."


Lukas berusaha tersenyum tipis menanggapi ucapan Tari, "Kapanpun kamu butuhkan, berceritalah padaku Tari, aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu."


"Pak Lukas pasti iba ya mendengar cerita saya, sekali lagi maafkan saya pak."


"It's okay Tari."


"Karna saya janda, sehingga banyak orang yang mencemooh, ada juga yang bilang kalau saya adalah wanita pembawa sial, beberapa tetangga bahkan juga menuduh kalau saya menggoda suami mereka, padahal itu tidak benar, suami-suami mereka yang suka genit sama saya. Dan papa Atta juga mengatakan kalau saya bekerja dengan pak Lukas sekalian ingin menggaet pak Lukas dan ingin mendapatkan harta bapak, saya harap pak Lukas tidak terpengaruh dengan kata-kata pak Atta, saya murni ingin bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menyambung hidup, bukan bekerja sekalian untuk mendekati pak Lukas." Tari meluruskan setiap kata yang dilontarkan oleh papa Atta, dia tidak ingin Lukas terpengaruh dengan kata-kata papa Atta.


"Iya saya tahu, kamu tidak usah khawatir Tari, fikiran saya tidak sedangkal itu kok percaya begitu saja dengan ocehan orang."


Tari bersyukur dalam hati karna Lukas ternyata tidak terpengaruh sama sekali dengan kata-kata yang dilontarkan oleh papa Atta.


Mereka kemudian kembali menyantap makan siang mereka, saat tengah menyantap makananan yang mereka pesan, Lukas melihat Parhan yang baru saja memasuki restoran, dan kebetulan juga Parhan menoleh ke arahnya, melihat sahabatnya itu Parhan melambaikan tangan, dan berjalan mendekati Lukas.


"Hai bro, lo disini juga ternyata." sapanya begitu didekat Lukas, "Wiehhh lo sama siapa ini, tambatan hati lo yang baru ya, wahh kebuka juga tuh hati ya setelah sekian lama mati suri." cerocos Parhan belum melihat siapa wajah gadis yang saat ini bersama dengan Lukas.


Tari yang membelakangi Parhan dan tidak melihat kedatangan Parhan mendongak begitu mendengar sapaan yang ditujukan kepada atasannya tersebut.


"Lho, gadis ini..." tentu saja Parhan kenal dengan Tari, sangat kenal malahan mengingat selama satu tahun belakangan ini tiap hari kerjaannya harus memantau Tari dari jauh dan melaporkan semua kegiatan Tari kepada Lukas dan sekaligus juga mengirimkan foto-foto kegiatan Tari.


Lukas memberikan tatapan peringatan kepada sahabatnya itu untuk menghentikan ocehannya, dan tentu Parhan mengerti makna tatapan tersebut sehingga dia langsung diam.


"Duduk Han."


Parhan duduk tanpa mengalihkan pandanganya sama Tari sambil bertanya-tanya dalam hati, "Kenapa Lukas bisa bersama dengan gadis ini, padahal kemarin-kemarin dia menolak untuk menemui gadis ini secara langsung."


Tari yang diperhatikan sedemikian rupa oleh Parhan agak risih juga, "Maaf, apa bapak mengenalku."


Reflek Parhan menjawab, "Tentu saja aku mengenal ka...." dia langsung menghentikan kalimatnya begitu sadar kalau dia hampir saja keceplosan, kalau dia keceplosan lebih jauh lagi bisa-bisa Tari tahu kalau selama ini Lukas menguntitnya lewat mata Parhan dan kalau itu terjadi, Tari pasti akan tahu siapa orang dibalik kecelakaan yang merenggut nyawa suaminya dan anak yang dikandungnya.


Parhan buru-buru membelokkan kata-katanya, "Maksud aku, tentu saja aku tidak mengenal kamu, kamu hanya terlihat mirip dengan seseorang, makanya aku memperhatikan kamu."


"Ohhh." Tari ternyata mempercayai kata-kata Parhan.


"Apa gue boleh bergabung dengan kalian." kayaknya Parhan tidak perlu persetujuan karna dia langsung duduk dikursi yang tersisa.


Parhan melirik Lukas, lewat lirikan tersebut dia berharap Lukas menjelaskan kenapa bisa Lukas bersama dengan gadis yang selama ini dia hindari.

__ADS_1


Lukas yang mengerti arti lirikan sahabatnya itu kemudian menjelaskan, "Parhan, kenalkan, Mentari Whardhani."


Kalau nama sieh gak perlu disebutkan mengingat Parhan hafal diluar kepala Nama Tari bahkan wajah Tari, yang ingin dia ketahui adalah apa hubungan Tari dengan Lukas yang membuat dua orang itu bisa makan siang bersama seperti saat ini.


"Dia adalah sekertarisku." Lukas melanjutkan yang menyebabkan rasa penasaran Parhan terjawab.


"Ooo."


"Dan Tari, dia Parhan temanku."


Tari tersenyum sebagai sopan santun, "Senang bertemu dengan anda pak Parhan."


Parhan terkekeh mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan pak, "Panggil saja Parhan Tari, tidak usah pakai pak, saya tidak setua itu untuk dipanggil dengan sebutan pak."


"Tidak enak pak, bapakkan temannya pak Lukas."


"Iya, tapikan saya bukan atasan kamu seperti Lukas, jadi panggil Parhan saja agar lebih akrab."


"Baiklah pak, ehhh maksud saya Parhan."


"Nahh gitu donk, kan lebih enak didengar."


"Sudah berapa lama kamu bekerja dengan Lukas Tari." kepo Parhan.


"Satu bulan lebih."


"Gimana, apa kamu betah bekerja dengan Lukas, kamu di godain gak sama boss kamu ini, secaraka kamu itu cantik."


"Han, apa-apaan sieh lo."


Parhan terkekeh, "Sorry bro gue bercanda, elokan sekarang sudah berubah."


"Pak Lukas baik kok, gak neko-neko apalagi macam-macam." Tari mengatakan yang sejujurnya.


"Ohh ya, ternyata lo benar-benar sudah taubatan nasuha ya bro." goda Parhan.


Lukas hanya mendengus mendengar godaan sahabatnya itu.


Setelah makan siang tersebut, Lukas dan Tari kembali ke kantor, mereka dan Parhan berpisah diparkiran karna Parhan juga masih ada urusan.


****


Tari sudah akan bersiap untuk pulang saat mendengar suar ponselnya yang berada dalam tasnya berdering nyaring, Tari merogoh tasnya untuk mencari ponselnya untuk melihat siapa gerangan yang menelponnya.


Daripada bertanya-tanya, Tari memilih menjawab panggilan tersebut untuk mengetahui penyebab mamanya Lukas menghubunginya.


"Halo Tari."


"Iya bu Lili."


"Malam ini kamu dan Lukas tidak lemburkan."


"Tidak bu, kenapa ya."


"Ohh tidak, saya hanya memastikan saja, bisakah kamu memberitahu boss kamu itu untuk lebih cepat pulang, lagi-lagi anak itu ponselnya tidak bisa dihubungin."


"Ohh tentu saja bu saya akan memberitahu pak Lukas."


"Terimakasih ya Tari, kamu benar-benar bisa diandalkan."


"Iya bu sama-sama."


Setelah mematikan sambungan, Tari langsung berjalan menuju ruangan bossnya yang tertutup, Tari mengetuk pintu.


"Masuk."


Tari mendorong pintu dan melihat bossnya itu masih berkutat dengan leptopnya, sepertinya Lukas belum ada tanda-tandanya akan pulang.


"Maaf pak menganggu."


"Ada apa Tari."


"Mamanya bapak tadi menelpon saya, katanya pak Lukas diminta untuk cepat pulang."


"Baiklah, saya akan pulang setelah ini."


"Kalau begitu saya permisi pak Lukas."


"Tari."


"Iya."


"Kamu sudah tidak sedih lagikan."


Tari menggeleng, "Tidak pak, terimakasih atas es krimnya."

__ADS_1


"Syukurlah."


Tari kembali berbalik, namun lagi-lagi Lukas memanggilnya, "Tari."


"Iya pak."


"Hati-hati."


"Iya pak, bapak juga." jawab Tari dan berlalu pergi setelah menutup pintu ruangan atasannya itu.


Begitu pintu tertutup, Lukas menutup leptopnya dan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi kerjanya, "Dia benar-benar wanita yang kuat dan tangguh, dia mampu bangkit dari keterpurukannya, aku benar-benar sangat berdosa, gara-gara aku dia harus menyandang status janda, dan menjadi hinaan orang-orang disekelilingnya." Lukas bermonolog, "Apa yang akan dia lakukan kalau mengetahui akulah yang telah merengut kebahagiannya, apakah dia akan membenciku dan akan langsung berhenti bekerja dan tidak sudi untuk melihatku." hal-hal tersebut berseliweran dalam benak Lukas, ada rasa takut dihatinya, takut akan terbongkarnya rahasia yang dia sembunyikan rapat-rapat dari Tari.


****


"Ahhh akhirnya kamu pulang juga." mama Lili terlihat lega begitu melihat putranya sudah sampai dirumah.


"Emang ada apa ma, mama sampai menelpon Tari segala untuk meminta aku pulang cepat."


"Jadi gini sayang, kamu ingatkan Arin, Arin yang calon dokter itu lho Lukas."


"Arin yang waktu itu bersama mama."


"Iya."


"Ada apa ma dengan Arin, dia mau menikah ma."


"Astaga, bukan, kalaupun menikah, tentunya nanti sama kamu donk."


"Ahh mama ini ada-ada saja." Lukas fikir mamanya bercanda, padahal memang mama Lili sangat berharap kalau putranya suatu saat bisa jadi dengan Arin.


"Di aminkan donk Lukas, mamakan harapannya begitu."


Lukas hanya mendesah, pasalnya saat ini dia sama sekali belum kefikiran untuk menikah.


"Jadi gini sayang, keluargnya jenk Ratna mamanya Arin itu mengundang kita untuk makan malam dirumah mereka, oleh karna itu..."


"Aku gak ikut ma, mama dan papa saja deh ya." potong Lukas sebelum mamanya menyelsaikan kata-katanya.


"Kamu ini gimana sieh, masak hanya mama dan papa saja, ya kamu juga harus ikut donk."


"Aku capek ma, mau istirahat, jadi, mama dan papa saja ya yang pergi." Lukas masih berusaha bernegosiasi dengan mamanya.


"Tidak bisa sayang, kamu juga harus ikut, keluarganya jenk Ratna ingin mengenal putra mama yang tampan ini."


Lukas menghela berat, "Ini bukan acara perjodohankan ma."


"Yahh ketebak." batin mama Lili, dia memang berencana menjodohkan putranya itu dengan Arin, karna menurutnya Arin sangat cocok dengan Lukas, itu sebenarnya semacam usaha saja, toh walaupun pada akhirnya kalau Lukas ataupun Arin tidak sreg jugakan tidak bisa dipaksakan juga.


Mama Lili berusaha mengelak, "Ya tentu saja bukan sayang, ini hanya makan malam biasa antar teman saja, jadi, kamu ikut ya sayang, keluarga jenk Ratna bisa kecewa lho kalau kamu tidak ikut."


"Baiklah, toh juga mama akan tetap memaksakan kalau aku tidak mau ikut."


"Ya seperti itulah kira-kira."


"Kamu sebaiknya siap-siap gieh sana, mama dan papa tungguin kamu oke."


"Hmmm."


Lukas benar-benar tidak ingin ikut, Lukas yakin pasti acara makan malam itu akan membosankan, tapi apalah dayanya kalau ibunda ratu sudah memberikan titah, tidak ada yang bisa menolak, bahkan papanya sendiri tidak pernah bisa menolak apa yang dikatakan oleh mama Lili.


***


Keluarga Pangestu disambut baik oleh keluarganya Arin, keluarga itu menjamu tamu mereka dengan sangat baik, saat acara makan malam itu berlangsung, berulangkali mama Ratna memuji begitu tampannya Lukas, itu membuat mama Lili bangga karna telah melahirkan Lukas ke dunia ini.


Arin juga, gadis itu sangat cantik dan anggun dengan gaun merah marunnya, mahasiswa kedokteran tingkat akhir itu tidak lepas mengulas senyum dibibir cantiknya.


Sejak melihat Lukas pertama kalinya waktu direstoran, Arin memang memiliki ketertarikan sama Lukas, dan saat melihat Lukas untuk yang kedua kalinya, hati Arin berdebar-debar, apalagi malam ini Lukas terlihat begitu tampan dalam balutan baju kasualnya, Arin berharap, tidak hanya dirinya yang memiliki ketertarikan sama Lukas, dia juga berharap kalau Lukas juga menyukainya balik, oleh karna itu, malam ini dia berdandan dengan begitu cantik, salah satu tujuannya adalah untuk menarik perhatian Lukas, sayangnya, sejak tadi, Lukas tidak menoleh ke arahnya, laki-laki itu hanya fokus dengan pembicaraan tentang bisnis dengan papanya, sebenarnya Arin ingin mengobrol berdua dengan Lukas, Arin tidak tahu ingin membicarakan apa, tapi saat ini dia kok ingin gitu menikmati waktu berdua dengan Lukas, sampai kesempatan itu datang saat mamanya berkata.


"Arin sayang, kamu ajak Lukas jalan-jalan gitu ke taman belakang ya supaya tidak bosan, maklum ini pembicaraan orang-orang tua yang pasti sangat membosankan untuk anak muda seperti kalian."


"Iya ma." antusias Arin, karna itu memang yang dia inginkan, menghabiskan waktu berdua dengan Lukas.


Lukas malas gerak, siapa bilang dia bosan dengan pembicaraan diruang tengah tersebut, dia cukup menikmati kok pembicaraanya dengan papa Andre papanya Arin, tapi ya gak enak juga sieh kalau harus membantah mama Ratna.


"Sudah sana kalian habiskan waktu berdua." ucap mam Lili.


Lukas dan Arin berjalan meninggalkan ruang tengah, sementara itu mama Lili dan mama Ratna menatap kepergian dua sejoli itu dengan penuh pengharapan, pengharapan kalau ada benih-benih cinta yang akan tumbuh diantara dua anak manusia itu setelah menghabiskan waktu berdua.


"Semoga saja setelah ini timbul benih-benih cinta diantara mereka berdua ya jenk."


"Iya jenk, aku sangat berharap lo bisa berbesanan dengan jenk Lili."


"Begitupun saya jenk."


****

__ADS_1


__ADS_2