
"Tari." panggil Lukas tiba-tiba sudah ada didepan Tari.
Tari yang saat ini tengah berbalas pesan dengan Laura kaget saat melihat Lukas tahu-tahunya sudah ada dihadapannya, "Ehh iya pak, bapak perlu apa."
Sumpah Tari rasanya gak enak karna ketahuan main ponsel disaat jam kerja begini, dia sudah yakin Lukas bakalan menegurnya, namun ternyata Lukas berkata, "Ikut saya meting dengan rekan bisnis perusahaan kita."
"Baik pak." Tari mendesah lega.
"Tadi aku fikir pak Lukas bakalan negur aku." batinnya.
Lukas berjalan didepan sedangkan Tari mengikuti dibelakang, saat akan memasuki lift yang membawa mereka ke lantai dasar, Tari yang heran bertanya, "Meetingnya dimana pak, bukannya ruang meetingnya dilantai 10."
"Rekan bisnis kita meminta bertemu direstoran Tari, dia ingin suasana agak santai dan selingi dengan makan siang." Lukas menjelaskan dan kebetulan juga sebentar lagi memang sudah waktunya makan siang.
"Ohhh."
Dengan diantar oleh pak Agung mereka sampai disebuah restoran mewah.
Seorang waitres menghampiri mereka saat mereka memasuki restoran, "Apa bapak dengan pak Lukas." sik Waitres bertanya.
"Iya benar."
"Ohhh, mari ikut saya pak."
Lukas mengangguk, dia dan Tari mengikuti waitres tersebut menuju sebuah ruangan yang dikhususkan untuk tamu kelas atas yang menginginkan privasi atau tempat yang memang untuk membicarakan tentang bisnis.
"Mmm pak Lukas."
"Kenapa Tari."
"Saya kebelet pipis pak, tidak apa-apakan kalau bapak duluan, nanti saya menyusul."
"Baiklah."
Tari berjalan cepat menuju toilet karna dia sudah tidak tahan lagi.
"Silahkan pak, bapak Wijaya telah menunggu anda didalam."
Lukas masuk dengan percaya diri memasuki ruangan tersebut, matanya bertemu dengan seorang laki-laki yang seumuran dengan papanya, laki-laki itu adalah Atta Wijaya, Atta Wijaya merupakan rekan bisnis papanya selama beberapa bulan terakhir ini, laki-laki itu juga didampingi oleh seorang perempuan cantik yang kemungkinan adalah sekertarisnya.
Wanita itu tersenyum manis saat melihat Bara, namun sayangnya Bara tidak membalas keramahan berlebih yang ditunjukkan oleh wanita tersebut.
"Selamat datang Lukas pangestu, putra Sebastian Pangestu, silahkan, silahkan duduk." sambut Atta Wijaya saat melihat orang yang dia tunggu sudah datang.
Lukas mengangguk dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan Atta Wijaya, ini untuk pertama kalinya Lukas bertemu dengan rekan bisnis papanya yang satu ini.
"Saya benar-benar tidak menyangka, ternyata pewaris Sebastian Pangestu masih begitu sangat muda."
"Meskipun saya masih muda, tapi saya mampu menghandle perusahaan papa saya dengan baik, jadi, om tidak perlu meragukan kemampuan saya." tukas Lukas dengan penuh percaya diri.
Memang banyak yang meragukan kemampuannya mengingat usianya yang masih sangat muda, namun Lukas mengubah keraguan orang-orang yang awalnya meremehkan kemampuannya dalam mengurus perusahaan papanya menjadi sebuah kekaguman saat mengetahui kinerja Lukas
"Kamu begitu sangat percaya diri Lukas, ternyata sifat Sebastian Pangestu menurun kepadamu, bagus, saya suka itu."
"Begitulah memang seharusnya, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnyakan om."
__ADS_1
"Kamu benar Lukas."
"Maafkan saya, saya tadi kelamaan di toilet, saya...." Tari yang baru memasuki ruangan tersebut kembali menelan kata-katanya begitu melihat siapa yang saat ini tengah bersama dengan Lukas, Atta Wijaya yang merupakan papa Adam atau lebih tepatnya adalah mertuanya, mertua yang tidak pernah menganggapnya sama sekali sebagai menantu.
Baik Tari ataupun Atta Wijaya sama-sama terkejut, mereka tentunya sama-sama tidak menyangka kalau mereka akan dipertemukan kembali setelah setahun berlalu.
Tari menelan ludahnya, dia menunduk, dia tidak sanggup menatap mata mertuanya yang memandangnya dengan tajam, pandangan Atta Wijaya masih sama seperti dulu, pandangan merendahkan seolah-olah Tari adalah hewan menjijikkan.
"Tari, kenapa kamu berdiri disana, ayok duduk." Lukas menegur saat Tari tidak kunjung duduk juga.
"Iya pak." Tari mengangguk, dengan masih menunduk Tari duduk disamping Lukas.
Begitu Tari sudah duduk disampingnya, Lukas memperkenalkan, "Perkenalkan, Mentari Whardhani, dia sekertaris pribadiku om."
"Ohh, gadis ini adalah sekertarismu Lukas." Atta Wijaya mengatakannya dengan sinis.
"Iya." Lukas bisa melihat kalau rekan bisnisnya itu menatap Tari dengan tatapan tidak suka, dan Lukas juga bisa merasakan kalau Tari yang saat ini tengah duduk disampingnya merasa tidak nyaman, intinya Lukas meyakini kalau antara rekan bisnisnya dan sekertarisnya sudah saling kenal satu sama lain sebelumnya.
"Kamu masih muda Lukas, jadi wajar saja kamu memilih sekertaris berdasarkan fisiknya."
Lukas mengernyit, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Atta Wijaya, "Maksud om Atta apa, Tari adalah gadis cerdas dan kompeten, saya memilihnya karna kemampuannya bukan karna fisiknya." balas Lukas ketus, dia tidak suka dengan orang yang baru bertemu dan sudah meremehkan kemampuan Tari.
"Haha." Atta terkekeh, "Benarkah begitu, baguslah kalau begitu."
Sementara itu, Tari hanya diam dan menunduk, biar bagaimanapun, dia menghargai papa Atta sebagai mantan papa mertuanya meskipun laki-laki itu sampai sekarang tidak menyukainya, dan Tari tidak ingin mencari gara-gara dengan mantan papa mertuanya itu.
Lukas masih belum mengerti arah pembicaraan rekan bisnisnya itu, bukannya malah langsung pada inti mereka melakukan pertemuan, malah Atta Wijaya membahas tentang Tari, ini semakin memperkukuh keyakinan Lukas kalau memang Tari dan Atta Wijaya saling kenal.
"Tapi kalau saya boleh ngasih saran untuk kamu Lukas Pangestu, berhati-hatilah dengan sekertaris kamu itu."
Lukas juga akan berkata begitu, tapi Tari sudah cukup mewakilkannya.
"Jangan sok polos kamu Tari."
"Setelah putraku meninggal, kini kamu mendekati laki-laki kaya lainnya untuk kamu keruk hartanya, sungguh hebat kamu Tari, wajahmu saja yang kelihatan polos, tapi hatimu licik." hina Atta Wijaya.
Tari sampai menganga mendengar tuduhan tidak berdasar yang dilontarkan oleh Atta kepadanya.
Lukas menatap Tari dan Atta Wijaya bergantian, "Apa maksudnya ini, jangan bilang suami Tari adalah putra dari Atta Wijaya."
"Tutup mulut anda." Tari yang tidak seperti yang dikatakan oleh Atta Wijaya tentu saja meradang, dia tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Atta Wijaya, "Saya tidak seperti yang anda tuduhkan, saya menikahi mas Adam karna saya benar-benar tulus mencintainya." kini pelupuk mata Tari digenangi oleh air mata yang sebentar lagi sepertinya siap untuk meluncur, mengingat Adam membuat Tari jadi emosi dan dadanya terasa sesak, "Dan sekarang saya bekerja sama pak Lukas, bukan untuk mendekati pak Lukas, tapi saya benar-benar ingin bekerja."
"Berani kamu meninggikan suaramu kepadaku Tari, dasar wanita pembawa sial, selain mendekati putraku karna hartanya, kamu juga penyebab putraku meninggal, kenapa tidak kamu saja yang mati, kenapa harus putraku."
Kini air mata Tari sudah deras mengalir, Tari juga inginnya begitu, kalau bisa dia juga ingin ikut pergi bersama Adam dan juga bayi mereka, Tari tidak ingin hidup sendirian, tapi apa dayanya, Tuhan masih menginginkannya untuk hidup.
"Cukup." tandas Lukas tidak terima Atta Wijaya mengata-ngatai Tari, Tari bukan wanita pembawa sial seperti yang dikatakan oleh Atta Wiyaja, Tari benar-benar tidak bersalah sama sekali saat peristiwa malam itu, Lukaslah yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi, Lukaskah yang merenggut nyawa Adam, namun, dia tidak mungkin untuk mengungkapkan kebenaran tersebutkan.
"Berhenti menghina Tari, dia adalah sekertarisku, dan anda tidak berhak untuk menghinanya." Lukas membela Tari.
"Ohh, ternyata tuan muda pangestu mulai kepincut dengan pesona gadis licik berwajah lugu ini." papa Atta tersenyum sinis, "Asal kamu tahu saja Lukas, wanita seperti dia hanya menginginkan harta kamu."
"Cukup, aku bilang cukup, tutup mulut anda itu." Lukas sampai berteriak, "Jangan berani-beraninya anda menghina Tari, kalau sekali saja saya dengar anda menghina Tari, saya pastikan anda akan berakhir dirumah sakit." Lukas benar-benar emosi, nafasnya kembang kempis dan bahunya naik turun.
"Ayok Tari kita pergi, aku tidak ingin bekerjasama dengan orang yang tidak bisa menghargai orang lain." ucap Lukas dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Tari mengikuti Lukas dibelakang, sementara Atta menatap tajam punggung dua orang yang kini pergi meninggalkannya.
"Berani kamu mengancamku Lukas, awas saja, lihat apa yang akan saya lakukan kepada kamu." geramnya mengepalkan tangannya.
Sampai saat ini memang keluarga Wijaya, yaitu Atta dan Cellin tidak bisa terima begitu saja dengan kepergian putra mereka, putra mereka yang seharusnya menjadi pewaris bisinis keluarga, tapi sayangnya anak laki-laki satu-satunya itu menjadi pembangkang dan lebih memilih gadis miskin untuk dinikahi, sampai pada akhirnya putra mereka harus meregang nyawa, polisi tidak mengusut kasus ini karna polisi beramsumsi kalau kejadian malam itu adalah murni kecelakaan, sehingga keluarga Wijaya mengambing hitamkan Tari, menuduh Tari kalau Tarilah yang menyebabkan kecelakaan itu, bahkan setelah satu tahun, keluarga Wijaya, kecuali Hawa tidak pernah bisa menghilangkan kebencian mereka pada Tari, sehingga saat melihat Tari, Atta langsung menyerang Tari dan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang Tari, hal itu dia lakukan supaya hidup Tari menderita, Atta Wijaya dan istrinya tidak suka melihat Tari hidup bahagia sementara putra mereka harus pergi untuk selama-lamanya.
****
Didalam mobil, Tari menangis sesenggukan, hatinya sakit dituduh yang tidak-tidak oleh papa Atta.
"Apa salahku, kenapa papa mas Adam membenciku dan menuduhkan hal yang tidak-tidak kepadaku." desah Tari dalam hati.
Pak Agung penasaran ingin bertanya kenapa sekertaris majikannya itu menangis begitu keluar dari restoran, tapi fikirnya, seorang sopir tidak sopan menanyakan tentang hal tersebut sehingga dia hanya memendam rasa penasarannya dalam hati saja.
"Kalau kamu butuh sandaran, kamu bisa menggunakan bahuku untuk bersandar Tari." Lukas menawarkan, Lukas yakin kalau Tari tidak akan mau menjadikan pundaknya sebagai sandaran, tapi ternyata, begitu Lukas menyelsaikan tawarannya, Tari langsung merebahkan kepalanya dipundak Lukas, dia memang butuh sandaran untuk saat ini hanya untuk sekedar merebahkan kepalanya yang terasa berat.
Sampai beberapa saat Tari masih sesenggukan, Lukas membiarkan karna dia juga tidak bisa menghibur, dia hanya bisa meminjamkan pundaknya saja sama Tari.
"Pak Agung, tolong berhenti sebentar dimini market itu." tunjuk Lukas pada salah satu minimarket yang berdiri dipinggir jalan.
"Baik tuan muda." pak Agung mengarahkan mobilnya sesuai dengan perintah tuannya.
"Tari, bisakah kamu mengangkat kepalamu." pinta Lukas.
Tari menarik kepalanya dengan pelan dari pundak Lukas.
"Tunggu sebentar." pesannya dan keluar dari mobil.
Tidak lama, Lukas kembali dengan menenteng kantong plastik berlogo minimarket yang tadi dia masuki.
Lukas kemudian menyerahkan kantong plastik yang dibawanya sama Tari.
Tari tidak langsung mengambil kantong plastik yang diberikan oleh Lukas, dia memandang Lukas dengan pandangan bertanya-tanya.
Karna Tari tidak kunjung mengambil kantong plastik tersebut, Lukas meraih tangan Tari dan menjejalkan kantong plastik tersebut ditangan Tari.
Tari membuka kantong plastik tersebut untuk mengetahui isinya, isinya ternyata adalah es krim.
"Makanlah, siapa tahu setelah makan es krim suasana hatimu akan membaik."
Tari mengambil es krim corneto, merobek bungkusnya dan memakannya dengan lahap, ternyata dia lapar juga mengingat memang tadi dia belum sempat makan, dia sudah keburu kenyang dengan tuduhan demi tuduhan yang dilontarkan oleh papa Atta kepadanya, tuduhan yang menurut Tari benar-benar tidak bersadar.
"Gimana, apa perasaan kamu sudah membaik." Lukas bertanya.
Tari menggeleng, "Es krim tidak membuatku kenyang pak, bisakah kita makan dulu pak sebelum ke kantor."
Lukas terkekeh menanggapi kata-kata Tari, "Astaga Tari Tari, ku fikir berhubung kamu lagi sedih kamu jadi tidak nafsu makan, ehh tahunya kamu lapar juga ternyata."
"Akukan belum sempat makan sama sekali direstoran tadi pak."
"Hmmm baiklah, sekali lagi, tolong berhenti direstoran terdekat pak Agung." pinta Lukas.
"Baik pak."
Pak Agung kembali menghentikan mobil tuannya direstoran pertama yang dijumpai dalam perjalanan.
__ADS_1
****