CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
MEMAAFKAN


__ADS_3

"Kamu itu benar-benar ya Lukas, bisa tidak sehari saja kamu tidak membuat ulah, tiap hari kerjaan kamu bikin masalah terus, kalau sudah begini, papa yang harus repot menyelsaikan masalah yang kamu buat." papa Sebastian mengomeli putranya habis-habisan begitu keluar dari kantor polisi.


Bagi orang kaya seperti mereka, tidak butuh waktu lama untuk mengurus hal-hal seperti ini, cukup dengan lembaran kertas berwarna merah dan kelar deh urusan.


Ini bukan pertama kalinya papa Sebastian dipanggil oleh polisi oleh ulah putra semata wayangnya itu, papa Sebastian sudah sangat sering berkunjung ke kantor polisi semenjak Lukas SMA, dan kini stok kesabaran papa Lukas sepertinya sudah habis menghadapi kebengalan putranya yang tidak ada habisnya, gimana tidak, dia tengah menikmati mimpi indahnya dan harus terganggu karna panggilan polisi pagi-pagi buta karna Lukas yang kembali berbuat ulah sampai ditahan oleh polisi.


Ada yang memarahi, ada yang membela, kalau papa Sebastian memang selalu memarahi Lukas saat putranya membuat masalah seperti ini, mama Lili pasti tampil membela putra semata wayangnya, "Cukup pa, papa ini bagaimana sieh, anak baru keluar juga diomel-omelin."


"Ini gara-gara kamu ya ma yang selalu manjain dan membela dia seperti ini, makanya sekarang dia jadi ngelunjak, berbuat masalah sesuka hatinya, mau jadi apa kamu Lukas." sesi marah-marah papa Sebastian sepertinya bakalan panjang nieh.


"Pa, aku tidak pernah meminta papa untuk mengurus setiap masalah yang aku buat ya, papa sendiri yang dengan suka rela datang sendiri dan mengeluarkan uang untuk membebaskanku." jawab Lukas, dan itu tentu saja semakin memancing amarah papa Sebastian.


"Apa kamu bilang, sudah papa tolong juga balasanmu seperti ini, dasar anak tidak tahu diuntung, lihat ma anak kesayanganmu ini, tidak ada terimakasihnya sama sekali sama papa, kalau bukan karna mamamu yang memohon-mohon sama papa untuk mengurus setiap masalah yang kamu buat, papa tidak akan pernah ikut campur dan menggunakan kekuasaan papa untuk menyelsaikan setiap masalah yang kamu buat." papa Sebastian meradang.


"Sudah papa, sudah." mama Lili mengelus lengan suaminya berusaha untuk menenangkan, "Ini kita masih berada diarea kantor polisi lho, gak enak dilihat sama polisinya pa kalau papa marah-marah begini."


"Lebih baik kita pulang sekarang ya." mama Lili berusaha membujuk suaminya, "Lukas sayang, kita pulang ya nak, kamu pasti lelah, kamu butuh istirahat."


"Ingat ya Lukas, sekali lagi kamu bikin masalah, papa tidak akan pernah mau ikut campur lagi, urus masalahmu sendiri." setelah mengatakan hal itu, papa Sebastian berjalan menuju mobil meninggalkan istri dan anaknya dibelakang.


Mama Lili menepuk-nepuk lengan putranya, "Kamu jangan ambil hati ucapan papa kamu ya Lukas, dia lagi marah, makanya ucapannya jadi tidak terkontrol begitu."


"Hmmm."


"Ayok sebaiknya kita pulang." mama Lili melilitkan tangannya dilengan putranya dan membawanya ke mobil.


*****


Tari ternyata benar-benar marah, buktinya dia membiarkan Adam tidur diruang tamu semalaman.


Adam merasa punggungnya terasa sakit karna harus tidur dikursi rotan yang keras, dia meringis begitu terbangun saat paginya.


Adam menoleh ke arah pintu kamar yang masih tertutup sempurna, Adam mendesah mengingat istrinya ternyata benar-benar sangat marah kepadanya sampai tidak membukakannya pintu semalaman yang membuatnya terpaksa harus tidur dikursi rotan yang keras.


Gak lama, pintu terbuka yang memampangkan tubuh Tari yang baru bangun dan berniat untuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, begitu melihat istrinya, Adam tersenyum namun malah dicuekin oleh Tari, meskipun begitu, Adam tidak menyerah, dia bertanya kepada istrinya itu, "Mau sholat berjamaah."


Memang setelah menikah, mereka selalu sholat berjamaan bareng.


Jawab Tari, "Gak, aku sholat sendiri saja."


"Sholat berjamaah itu pahalanya lebih banyak lho ketimbang sholat sendiri, dan lagian juga gak baik lho nolak ajakan suami."


Mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Adam membuat Tari akhirnya menjawab dengan terpaksa, "Baiklah."


Bibir Adam kembali dipenuhi dengan senyum mendengar jawaban Tari meskipun dia tahu itu terpaksa.


Mereka sholat shubuh berjamaah, dan begitu selesai, Tari mencium punggung tangan suaminya, meskipun dia melakukannya dengan terpaksa sieh mengingat dia masih marah kepada Adam yang telah membohonginya selama ini.


Milihat wajah istrinya yang merengut, Adam kembali meminta maaf, "Tari, maafkan aku, aku benar-benar menyesal karna tidak jujur sama kamu dari awal tentang pekerjaanku yang sekarang, aku hanya tidak mau kamu malu memiliki suami kuli seperti aku, sedangkan kamu bekerja disebuah perusahaan ternama."


"Mas hentikan, berhenti berfikir seperti itu tentang aku, aku bukan wanita seperti itu." tandas Tari dengan suara meninggi.


"Sekali lagi maafkan aku Tari, memang tidak seharusnya aku berfikir seperti itu tentangmu." Adam menunduk, rasanya dia tidak sanggup menatap mata istrinya.


Tari mendesah, dia marah tentu saja, tapi fikirnya, tidak baik-baik berlama-lama marahan sama suaminya seperti ini, oleh karna itu, dia berniat mengakhirinya, "Baiklah, aku memaafkan kamu mas."


Adam mendongak begitu mendengar kata-kata yang keluar dari bibir istrinya, "Kamu memaafkan aku Tari."


"Hmmm, biar bagaimanapun, kamu adalah suamiku mas, gak baik kalau aku mendiamkan kamu berlama-lama, aku takutnya nanti dilaknat oleh Tuhan."


"Benarkah kamu memaafkan aku Tari." Adam mengulangi pertanyaannya, sepertinya dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Iya mas Adam, aku memaafkanmu, tapi dengan satu syarat."


"Apa syaratnya."


"Jangan pernah berbohong lagi dalam hal apapun kepadaku, tidak ada satupun orang yang suka dibohongi."


Adam mengangguk pasti, "Aku berjanji tidak akan pernah berbohong lagi."

__ADS_1


Tari mengangguk.


"Sini." Adam merentangkan tangannya, sebagai kode kalau dia ingin memeluk Tari.


Tari mendekat dan memeluk suaminya, "Aku kangen sama kamu, semalaman kamu membiarkan aku tidur diluar dan tidur dikursi ruang tamu yang keras, pungungku sakit tahu gak."


Tari terkekeh mendengar keluhan suaminya, "Anggap saja itu sebagai balasan untuk kamu yang telah berbohong sama aku."


"Iya kamu benar juga."


"Tari."


"Hmmm."


"Maafkan aku kalau gajiku yang sebagai kuli bangunan tidak akan bisa membuat kita hidup enak, apalagi hidup mewah."


"Aku gak masalah mas, toh aku sudah terbiasa hidup susah dengan almarhum ayah, lagian tidak penting apakah kita hidup mewah atau tidak, yang penting aku tetap bisa bersamamu, itu sudah lebih dari cukup."


"Beruntungnya aku memilikimu, terimakasih karna telah menerimaku."


Pasangan pasutri itu saling berpelukan satu sama lain beberapa saat, sampai Adam kemudian berbisik ditelinga Tari, "Mbak Hawa menyampaikan pesan."


"Apa."


"Katanya dia ingin kita segera memberinya keponakan supaya Orlin punya teman bermain."


Wajah Tari bersemu merah mendengar bisikan suaminya.


"Katanya kita harus bekerja keras untuk bisa segera mewujudkannya."


"Tapi ini sudah pagi mas, sebentar lagi kita sama-sama akan berangkat kerja."


"Masih lama sayang, masih sempat kok." dan tanpa menunggu jawaban dari Tari, Adam membopong tubuh Tari dan membawanya ke kamar mereka.


****


Hari ini Hawa ikut arisan bersama mamanya, kegiatan bulanan yang sering dilakukan oleh para ibu-ibu sosialita.


"Sudahlah ma, jangan ambil pusinglah omongan wanita-wanita itu." Hawa berusaha menghibur mamanya begitu mereka sudah duduk didalam mobil.


"Gimana mama tidak fikirkan Hawa, mereka bisa mendapatkan menantu berkelas dan bisa dibanggakan, sedangkan mama, apa yang bisa mama banggakan, masak mama bilang kalau menantu mama adalah anak seorang penarik angkot, coba saja Siska yang menjadi menantu mama, mama pasti akan bahagia banget dan dengan bangga memperkenalkannya pada teman-teman mama, secara Siska itu gadis cantik, berkelas dan berpendidikan tinggi."


"Tari itukan juga berpendidikan lho ma, cerdas dan juga lulusan terbaik dikampusnya, jadi jangan terpaku dengan pekerjaan ayahnya donk."


"Tetap saja Hawa, dia adalah orang miskin, heran deh mama sama kamu, kenapa sieh kamu selalu membela istri adikmu itu."


"Ma, gak penting kaya atau tidaknya, yang pentingkan hatinya Tari itu baik, dan itulah yang dilihat Adam dari Tari, dan bukannya mama yang selalu mengajajarkan sama aku dan Adam, berteman itu jangan pandang status sosialnya, bertemanlah dengan orang yang baik dan tulus, itukan yang selalu mama katakan" Hawa mengingatkan mamanya tentang apa yang selalu mama ajarkan kepadanya.


"Ya itukan dalam hal berteman Hawa, dalam memilih pasangan hidup lain lagi ceritanya."


Hawa hanya mendesah, kali ini dia memilih diam dan tidak mau berdebat dengan mamanya.


"Ohh ya ma, kemarin Hawa bertemu dengan Adam lho." Hawa lebih memilih membicarakan topik lain.


"Kenapa kamu memberitahu mama." ketus mama Cellin mendengar nama putranya disebut-sebut oleh Hawa.


Terlihat cuek dan tidak peduli, padahal mah, mama Cellin ingin mendengar lebih lanjut apa yang akan dikatakan oleh Hawa berikutnya tentang Adam.


Meskipun mamanya bilang begitu, tapi Hawa tahu mamanya peduli, makanya dia melanjutkan ceritanya, "Adam terlihat kurus ma, kulitnya juga kecoklatan, dan mama tahu gak pekerjaan dia apa."


"Apapun yang dia kerjakan, mama tidak peduli."


Tanpa mengindahkan ucapan mamanya, Hawa memberitahu, "Kuli ma, Adam bekerja sebagai kuli bangunan."


Diluar keinginannya, mama Cellin langsung memutar kepalanya dengan sangat cepat ke arah Hawa, mencoba mencari tahu kalau apa yang dikatakan oleh Hawa benar atau hanya bohong belaka.


"Iya ma, Adam bekerja sebagai kuli bangunan, kasihan sekali dia ma, Hawa saja rasanya tidak tega melihatnya seperti itu."


Hawa berharap setelah mendengar apa yang dia ceritakan tentang Adam, hati mamanya terketuk dan membujuk papanya untuk memberikan ijazah adiknya itu supaya Adam bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan bakatnya.

__ADS_1


Mama Cellin hanya meremas kedua tangannya, Adam sudah menciptkan luka yang masih membekas sampai sekarang dihatinya, dan rasanya sangat sulit baginya untuk memaafkan Adam, tapi demi mendengar cerita Hawa, hatinya terasa tersayat-sayat, putranya yang sangat dia sayangi harus bekerja keras membanting tulang dibawah siraman sinar matahari, sedangkan kekayaan mereka begitu sangat melimpah.


Melihat perubahan raut wajah mamanya, Hawa kembali berkata, "Ma, Adam tidak meminta apa-apa, dia hanya menginginkan ijazahnya, tidak bisakah dia mendapatkannya supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."


"Putraku, kasihan sekali kamu nak." mama Cellin menangis dalam hati.


"Hhmmm, mama akan berusaha untuk bicara dengan papamu Hawa, ini semua tergantung padanya."


Cerita Hawa ternyata membuahkan hasil.


"Iya ma." Hawa terlihat senang, karna mamanya luluh dan Hawa berharap papanya juga begitu.


"Hawa."


"Iya ma."


"Mama ingin melihat dimana adik kamu itu bekerja."


"Mama ingin melihat Adam ma." ulang Hawa, tentu saja dia sangat senang mendengar keinginan mamanya itu.


Mama Cellin mengangguk.


"Tentu saja ma, Hawa akan membawa ke tempat dimana Adam bekerja, ini juga sepertinya sudah jam makan siang dan sepertinya Adam juga tengah beristirahat sekarang, jadi, kita bisa menemuinya."


Hawa tahu tempat dimana Adam bekerja karna Adam memberitahunya kemarin saat mereka bertemu.


Hawa kemudian menyebutkan sebuah alamat kepada sopirnya dan memintanya menuju tempat tersebut.


****


"Nahh, ini dia tempat Adam bekerja ma." beritahu Hawa begitu mobil berhenti disebuah tempat pembangunan proyek yang tengah berlangsung.


Dari jendela mobil yang terbuka mama Cellin memperhatikan tempat tersebut, hatinya begitu miris membayangkan putranya harus bekerja berat sebagai kuli ditempat seperti ini.


"Ayok ma turun, kita temui Adam." ajak Hawa yang sudah bersiap untuk membuka pintu mobil namun langsung ditahan oleh mama Cellin.


"Jangan Hawa."


"Lho, kenapa ma, bukannya mama ingin bertemu dengan Adam."


"Mama hanya ingin melihatnya dari jauh saja."


"Kenapa ma, kita bisa nyamperin Adam, Hawa yakin Adam pasti akan sangat senang bertemu dengan mama."


"Gak Hawa, mama hanya ingin melihat dari jauh saja." kukuh mama Cellin.


"Baiklah kalau itu yang mama inginkan." pasrah Hawa karna tidak bisa membujuk mamanya untuk menemui Adam secara langsung.


Para pekerja bangunan alias kuli bersiliweran didepan mobil, mereka mengangkut batu bata atau adukan semen yang siap untuk digunakan.


Setelah beberapa saat menunggu, Hawa melihat adiknya yang tengah berjalan menuju tempat pengadukan semen.


"Itu dia ma, itu Adam." tunjuk Hawa memberitahu mamanya.


Mama Cellin langsung mengikuti arah telunjuk Hawa, setelah satu bulan lebih tidak melihat anaknya, kini dia bisa melihatnya meskipun dari jarak jauh.


"Adam, ya Tuhan putraku." desis mama Cellin prihatin melihat putranya dalam balutan pakaian kucel, dia merasa tidak tega melihat putranya yang mengangkat ember berisi adukan semen yang tentu cukup berat, mama Cellin hanya bisa menangis dalam hati melihat kondisi putranya itu.


Mama Cellin bisa melihat dengan jelas kulit anaknya yang dulunya putih kini berubah kecoklatan dengan tubuh yang agak kurus.


"Hawa, kita pulang sekarang." perintah mama Cellin karna tidak tega berlama-lama melihat putranya.


"Tapi ma, apa mama tidak mau menemui Adam dulu gitu walau hanya sebentar." Hawa berusaha membujuk mamanya.


"Gak perlu Hawa, sebaiknya kita pulang saja."


"Ohhh, baiklah kalau begitu."


Hawa kemudian kembali memerintahkan sopirnya untuk mengantarkan mamanya terlebih dahulu kembali ke kerumah orang tuanya.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, mama Cellin hanya memandang keluar jendela, wanita setengah baya itu sejak tadi berusaha menahan air matanya, namun pada akhirnya, sebulir kristal bening pada akhirnya luruh juga jatuh membasahi pipinya, mama Cellin dengan cepat menghapusnya, dia tidak ingin Hawa melihatnya menangis.


****


__ADS_2