
"Welcome back home." itu yang Lukas ucapkan begitu tiba dibandara, setelah satu tahun lebih tidak pernah kembali, kini dia kembali menginjakkan kakinya ditanah kelahirannya, kalau mau jujur, Lukas sebenarnya tidak ingin kembali, tapi apa dayanya, kondisi papanya mengharuskannya untuk kembali.
"Tuan muda."
Pak Agung yang merupakan sopir pribadi papanya telah menunggunya dibandara, laki-laki yang seusia papanya itu tersenyum cerah begitu melihat tuan mudanya yang berjalan mendekatinya.
Pak Agung bisa melihat kalau tuan mudanya itu kini sangat berubah dari segi penampilan dan sikap, kalau dulu penampilan Lukas sudah kayak berandalan dengan rambut berantakan dan celana jeans sobek, kini laki-laki terlihat rapi dan bertambah tampan saja, dan juga terlihat kalem dan sopan.
"Tuan muda, selamat datang kembali ke Indonesia tuan." sapa pak Agung begitu tuan mudanya itu sudah berada didekatnya.
Adam tersenyum dan membalas sapaan pak Agung, "Terimakasih pak Agung, bagaimana keadaan pak Agung." Lukas bertanya penuh perhatian, kalau dulu, jangankan menyapa, melirik saja ogah.
"Alhamdulillah saya baik tuan muda, tuan muda sendiri bagaimana kabarnya." pak Agung balik nanya.
"Saja juga baik pak Agung."
"Ahh syukurlah kalah tuan baik-baik saja."
"Sebaiknya kita pulang sekarang tuan, tuan pasti capek dan butuh istirahat."
"Pak Agung, saya mau langsung ke rumah sakit saja, saya mau melihat kondisi papa."
"Tuan mau langsung ke rumah sakit, apa tuan tidak pulang dulu untuk istirahat, tuan terlihat lelah."
"Tidak pak Agung, saya mau langsung ke rumah sakit saja, saya ingin melihat keadaan papa."
"Baiklah tuan, ayok mari saya antarkan."
Dua laki-laki berbeda generasi itu berjalan beriringan menuju parkiran.
****
Mama Lili langsung menoleh saat mendengar suara pintu kamar dimana suaminya dirawat terbuka, mama Lili langsung meloncat saat mengetahui kalau yang datang adalah putra kesayangannya, wanita yang masih cantik di usianya yang sudah memasuki kepala lima itu langsung berlari menyongsong kedatangan putra semata wayangnya itu.
Mama Lili langsung menubruk tubuh putranya, mama Lili memeluk Lukas dengan sangat erat untuk menyalurkan rasa kangen karna terakhir kali dia bertemu dengan Lukas adalah 3 bulan yang lalu saat dia dan suaminya berkunjung ke Amerika.
"Putraku, mama sangat bersyukur kamu tiba dengan selamat." ucapnya penuh syukur dan haru karna dia bisa bertemu dengan putranya itu lagi, "Mama sangat senang melihatmu."
Lukas mengelus punggung mamanya, "Iya ma, Lukas juga."
"Gimana keadaan papa ma." tanya Lukas menoleh pada bankar dimana papanya tengah terbaring.
Mama Lili mengurai pelukannya dan menoleh ke arah suaminya yang terbaring dengan mata terpejam, "Keadaan papamu sekarang sudah lebih baik Lukas, untungnya dokter segera menanganinya, sekarang papamu tengah beristirahat."
"Syukurlah ma." desah Lukas lega.
Rasa capek yang tadi tidak sempat dia rasakan karna perjalanan jauh antara Amerika dan Indonesia kini mulai terasa saat dia mendengar kalau keadaan papanya sekarang sudah membaik.
Lukas berjalan ke arah papanya hanya sekedar untuk menyapa, Lukas menatap laki-laki yang selama ini telah membesarkannya dengan baik dan juga selalu memarahinya karna kebengalannya, kini, Lukas tidak lagi seperti dulu, dia sudah berubah, kejadian malam itulah yang merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik seperti sekarang ini.
"Hai pa, putramu sudah kembali." Lukas menyapa papanya meskipun papanya tidak bisa mendengarnya, Lukas memegang tangan papanya yang tergeletak disamping tubuhnya, "Cepat sembuh pa, kasihan mama, dia sering menangis karna melihat papa terbaring sakit kayak gini."
Setelah mengajak papanya ngobrol, ngobrol sepihak sieh maksudnya, Lukas berjalan ke arah sofa, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah dan pegal-pegal.
"Kamu lapar sayang, apa kamu ingin makan, kamu ingin makan apa biar mama pesankan." tanya mamanya penuh perhatian.
Dulu Lukas paling kesal sama mamanya karna kecerewatannya, tapi begitu di Amerika, salah satu hal yang dia rindukan adalah suara mamanya, kecerewatan mamanya yang sarat akan perhatian didalamnya, omanya juga cerewet dan perhatian sieh, tapi tetap mamanya tidak bisa terganti.
"Nanti saja ma, Lukas gak lapar-lapar amet." tolak Lukas menyandarkan tubuhnya disofa dan memejamkan matanya.
"Baiklah, tapi kalau kamu lapar, bilang sama mama ya."
"Iya ma."
"Sayang, kamu akan tinggalkan."
Sepertinya Lukas harus menunda untuk istirahat karna mamanya mengajaknya bicara, Lukas menegakkan tubuhnya sebelum menjawab pertanyaan mamanya, "Gak ma, Lukas hanya disini sampai papa sembuh."
"Apa maksud kamu, kamu akan pergi lagi gitu."
"Mmmm, iya ma, Lukas akan kembali ke Amerika untuk menyelsaikan pendidikan Lukas yang belum kelar."
"Bisakah kamu tidak usah kembali ke Amerika sayang, mama selalu khawatir dengan keadaanmu saat jauh dari mama, mama tidak bisa tenang memikirkan kamu."
Lukas terkekeh, "Mama tenang saja, oma merawat aku dengan sangat baik dan memastikan aku makan tiga kali sehari dengan gizi yang terpenuhi, jadi, mama gak perlu khawatir aku akan kelaparan." Lukas menjawab kata-kata mamanya dengan bercanda.
__ADS_1
"Astagaa kamu itu, bukan begitu maksud mama Lukas, mama hanya takut kejadian malam itu terulang kembali, kamu tidak tahukan bagaimana khawatirnya mama saat itu, mama rasanya mati rasa saat mendengar kamu mengalami kecelakaan waktu itu, mama fikir mama sudah kehilangan kamu."
"Ma, mama tenang saja, Lukas tidak seperti dulu lagi ma, kejadian malam itu mengajarkan banyak hal kepada Lukas." Lukas berusaha meyakinkan mamanya.
"Meskipun begitu, kamu jangan kembali ya sayang, kamu di Jakarta saja urus perusahaan papa kamu, papa kamu sudah tua lho, sudah saatnya bagi papamu untuk pensiun dan kamu yang mengambil alih."
"Ahhh mama ini ada-ada saja, masak papa yang masih muda begitu dibilang sudah tua, kalau papa denger, Lukas yakin papa akan tersinggung."
"Tersinggung bagaimana, orang beneran kok papa kamu sudah tua."
"Berarti mama juga sudah tua donk."
"Ihhh enak saja, kalau mama itu awet muda ya."
Lukas terkekeh, dimana-mana memang begitu, wanita selalu menolak dikatakan tua.
"Mama mama." Lukas geleng-geleng, "Mengatakan papa tua, tapi mama sendiri menolak dikatakan tua."
****
Besok, Lukas sudah akan kembali ke Amerika karna bisa dibilang kondisi papanya sudah membaik dan sudah diizinkan pulang dari rumah sakit.
Mama Lili sampai memohon-mohon sama putranya supaya Lukas tinggal dan jangan kembali lagi ke Amerika, sayangnya Lukas tetap dengan pendiriannya, dia akan tetap kembali ke Amerika seperti rencana awalnya, Amerika tidak sepenuhnya bisa membuatnya melupakan kejadiaan nahas itu, tapi saat berada di Jakarta, hampir tiap malam kejadian maut itu terus membayangi mimpi-mimpinya yang membuatnya tidak pernah tidur nyenyak.
Dan sebelum kembali, entah kenapa, Lukas tergerak untuk menemui Tari, sebenarnya bukan menemui secara langsung, tapi lebih kepada dia ingin melihat keadaan Tari dari jarak jauh hanya untuk sekedar memastikan kalau wanita itu bisa menjalani hidupnya dengan baik.
Dan disinilah Lukas berdiri sejak tadi, berdiri diseberang jalan menanti saat Tari keluar dari kantornya karna ini memang sudah jamnya pulang.
Setelah setengah jam berlalu, dan penantian Lukas ternyata tidak sia-sia, Lukas bisa melihat dengan jelas gadis yang satu tahun lalu dia hancurkan hidupnya berjalan dengan seorang pria disampingnya, Lukas bisa melihat kalau gadis itu terlihat baik-baik saja dan terlihat sehat.
Lukas tersenyum, dia merasa bahagia melihat Tari bisa menjalani hidupnya dan terlihat bahagia, hal ini tentu saja sedikit tidaknya mengurangi rasa bersalahnya akibat perbuatannya dimasa lalu.
"Syukurlah dia baik-baik saja, aku jadi tenang." gumamnya melepas kepergian Tari yang memasuki sebuah mobil bersama pria yang tadi berjalan keluar bersamanya.
Setelah memastikan dengan mata kepalanya sendiri kalau Tari baik-baik saja, kini Lukas memutuskan untuk pulang, dia menyetop taksi pertama yang dilihatnya.
****
"Apa kamu mau kita berhenti dulu gitu Tari, ngopi atau...."
"Gak usah mas, antarkan saja aku langsung ke rumah saja, rasanya aku capek dan badanku pegal-pegal, aku ingin langsung istrahat." tolak Tari bahkan sebelum Johan menyelsaikan ucapannya.
Johan dengan berbagai upaya dan daya pada akhirnya berhasil mengajak Tari untuk pulang bareng, yah meskipun hanya mengantar doank sieh, tapi fikir Johan ini adalah sebuah kemajuan mengingat Tari sangat susah untuk taklukkan, bahkan saat sudah berhasil mengajak Tari pulang bareng dan mereka sudah duduk manis berdua didalam mobil, yang Tari lakukan hanya diam dan sepertinya sangat malas untuk ngobrol meskipun Johan sudah berusaha memancing pembicaraan, tapi Tari hanya menjawab dengan singkat.
"Kamu tinggal dengan siapa Tari."
"Sendiri." tuhkan, benar-benar singkat deh jawaban Tari.
"Apa kamu tidak berniat gitu untuk cari calon pendamping supaya kamu tidak kesepian." Johan berusaha memancing pembicaraan ke arah hal yang menjurus tentang sebuah hubungan.
"Gak tertarik mas, lagian juga aku tidak merasa kesepian kok." tandas Tari.
"Ohhh." Johan hanya ber oh ria, rasanya dia sudah kehabisan bahan obrolan mengingat Tari hanya menjawab seadanya saja.
"Terimakasih mas Johan atas tumpangannya." ucap Tari begitu mobil Johan berhenti tepat didepan gang menuju rumahnya, bahkan dia tidak berbasa-basi hanya untuk menawarkan Johan untuk mampir, yang Tari lakukanan adalah ingin langsung turun dari mobil, namun saat tangannya akan mendorong pintu mobil, Johan menahannya dengan memegang lengannya.
"Tari, tunggu sebentar."
Tari terpaksa menarik tangannya dari pintu mobil dan menoleh dengan malas ke arah Johan.
"Kenapa mas."
"Mmmm, apa kamu tidak menawarkanku untuk mampir."
"Aduhh maaf ya mas, lain kali saja ya, aku rasanya benar-benar capek dan ingin langsung istirahat." tolak Tari halus, "Gak apa-apakan mas."
Johan menarik nafas pelan dan menghembuskannya, padahal dia ingin sedikit berlama-lama dengan Tari, tapi yah rasanya gadis itu saat ini benar-benar lelah dan butuh istirahat, dan untuk kesekian kalinya Johan harus menelan kekecewaan, "Ya udah kalau begitu, kamu istirahat ya agar besok kamu fress menjalani hari baru."
Tari mengangguk, "Baiklah mas kalau begitu, selamat tinggal." pamitnya dan membuka pintu mobil, Tari berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Tari, Tari, kenapa kamu begitu susah untuk ditaklukkan." desahnya menatap punggung Tari yang berjalan menjauh.
****
Saat Lukas tiba dirumahnya, dia berpapasan dengan mamanya.
__ADS_1
"Kamu dari mana sayang."
"Ketemu teman lama ma, pamitan karna besok aku sudah akan kembali ke Amrik." bohongnya.
"Jadi besok beneran kamu akan kembali."
Lukas mengagguk pasti.
Mama Lili terlihat mengehela berat, "Apa yang mama harus lakukan supaya kamu tidak jadi kembali ke Amerika."
"Gak ada ma."
"Kamu itu ya, keras kepala seperti papa kamu, susah untuk dihentikan kalau sudah maunya."
"Mama tahu itu, jadi berhenti membujuk Lukas untuk tetap tinggal ma, karna Lukas akan tetap akan kembali."
Bik Retno salah satu ART dirumah kediaman keluarga Pangestu terlihat berjalan mendekati nyonya dan tuan mudanya.
"Permisi nyonya, tuan." sapa bik Retno mengintrupsi pembicaraan Lukas dan mamanya.
"Kenapa bik."
"Tuan besar meminta saya untuk memanggil tuan muda, katanya tuan muda disuruh menemui tuan besar diruang kerjanya."
"Papa manggil aku bik."
"Iya tuan."
"Ada apa."
"Kurang tahu saya tuan."
"Sudah sana lebih baik kamu temui papa kamu, mungkin ada sesuatu hal yang penting yang akan papamu bicarakan dengan kamu."
Lukas mengangguk, "Baik ma."
Lukas berjalan menuju dimana ruang kerja papanya, saat tiba didepan pintu, Lukas mengetuk pintu.
"Masuk."
Lukas mendorong pintu saat mendengar perintah papanya, papanya duduk di singgle sofa yang terdapat diruang kerja tersebut.
"Duduk Lukas." perintah papa Sebastian.
Dari raut wajahnya yang terlihat serius, sepertinya memang ada hal penting yang akan papa Sebastian sampaikan pada putranya itu.
"Ada apa pa, sepertinya ada hal penting yang akan papa sampaikan pada Lukas." tanya Lukas begitu dia sudah mendudukkan bokongnya disofa panjang.
Papa Sebastian mengangguk, "Batalkan niat kamu kembali ke Amrik." ujar papa Lukas langsung pada intinya.
Lukas mengerutkan keningnya, "Maksudnya gimana pa, apa papa ingin Lukas menunda kepergian Lukas kembali ke Amrik."
"Bukan ditunda, tapi kamu tidak akan pernah kembali kesana, dalam artian, kamu akan tetap stay disini."
"Stay pa."
"Hmmm, sudah saatnya kamu mengambil alih kepemimpinan perusahaan Lukas, papa rasanya sudah tidak sanggup lagi mengurus perusahaan, sudah saatnya papa turun tahta dan menyerahkan jabatan presdir ke kamu."
"Lukas yang harus mengurus perusahaan pa." tanyanya.
Papa Sebastian mengangguk.
"Tapi Lukas tidak sanggup pa, Lukas tidak punya pengalaman dalam dunia bisnis." itu hanya alasan Lukas menolak permintaan papanya secara halus, karna dia tidak mungkin menolak secara blak-blakan, kalau dulu sieh tanpa berfikir panjang dia sudah pasti akan menolak mentah-mentah, tapi sekarang, dia sudah bisa menjaga sikapnya dan menjadi laki-laki dewasa.
"Kamu anak papa Lukas, darah pengusaha ada dalam darahmu, papa menyerahkan perusahaan bukan hanya karna semata-mata kamu putra papa, tapi papa yakin kamu bisa." ujar papa Sebastian penuh keyakinan pada kemampuan putranya.
"Tapi pa, bagaimana dengan pendidikan S2 yang saat ini aku tempuh, aku belum menyelsaikannya dan ini adalah tahun terakhirku."
"Kamu tidak butuh sekolah Lukas, yang kamu butuhkan sekarang adalah terjun langsung ke lapangan menangani perusahaan kita, papa yakin, dibawah kepemimpinanmu, perusahaan kita akan semakin maju dan berkembang." papa Sebastian benar-benar yakin dengan kemampuan putranya itu.
Resiko menjadi anak tunggal yang menjadi tumpuan dan harapan keluarga sehingga membuat Lukas mau tidak mau harus menuruti keinginan papanya meskipun hatinya sebenarnya tidak menginginkannya.
"Baiklah pa, Lukas akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan."
Papa Sebastian tersenyum mendengar keputusan putranya, "Papa yakin kamu bisa Lukas, papa mengandalkanmu."
__ADS_1
Lukas hanya tersenyum tipis menanggapi kata-kata papanya.
*****