
Lukas menscroll foto-foto yang dikirim oleh Parhan, foto yang diambil diam-diam oleh Parhan.
Parhan : Gila, lo benar-benar kayak penguntit tahu gak, kalau gadis itu tahu lo nguntit dia lewat mata gue, bisa dilaporin polisi lo
Lukas : Haha, sorry bro kalau gue manfaatin elo untuk mata-matain Tari, hanya ini satu-satunya cara yang bisa gue lakuin untuk mengetahui keadaan Tari, gue hanya sekedar ingin memastikan apakah dia hidup dengan baik.
Parhan : Gue rasa cewek itu sekarang sudah baik-baik saja Kas, gue lihat sieh dia sudah menjalani hidupnya dengan normal, jadi kalau gue boleh saranin nieh ke elo, berhenti khawatirin dia, mulai tata dan fokus dengan hidup lo sendiri, lo juga berhak bahagia, jangan tenggelamin diri lo dengan rasa bersalah berkepanjangan kayak gini.
Sebagai sahabat, tentunya Parhan tidak ingin sahabatnya itu tenggelam dalam rasa bersalah tiada akhir, toh hal itu sudah berlalu dan Parhan yakin gadis itu juga sudah melupakan peristiwa dimalam tersebut.
Lukas : Sepertinya lo benar Han, gue rasa Tari sudah baik-baik saja sekarang, gue sedikit lebih tenang sekarang, rasanya mulai sekarang gue harus mulai untuk memperhatikan hidup gue
Parhan : Nahh, gitu donk, nikmati hidup lo bro, hidup itu cuma sekali, jangan sia-siain untuk hal yang tidak penting
Parhan : Ngomong-ngomong, betah amet lo di Amrik bro, gak ingin balik ke tanah air nieh
Lukas : Kayaknya gue gak berniat balik ke Indo deh Han, gue kayaknya mau tetap stay disini, ceweknya cantik-cantik soalnya, betah gue
Parhan : Cantikkan juga cewek Indo Kas, elahh sejak kapan seih selera lo cewek-cewek bule begitu
Lukas : Ya guekan ingin memperbaiki keturunan bro, gue ingin punya anak yang matanya biru
Parhan : Ada-ada saja lo, lebih bagusan juga cewek dengan mata coklat.
Lukas mengakhiri chatnya dengan Parhan, karna dia sudah lama diperpustakaan, jadi di memutuskan untuk pulang ke rumah kakek dan neneknya sekarang.
*****
"Gimana hari ini, semuanya berjalan baikkan." tanya Laura pada Tari.
Saat ini dua gadis itu janjian makan siang bareng.
"Yahh gak bisa dibilang baik sepenuhnya juga sieh Ra."
"Bos kamu yang ganjen itu lagi." simpul Laura.
Tari mengangkat bahu, "Siapa lagi."
Sejak satu tahun belakangan ini, Tari sudah beberapa kali pindah kerja, Tari sieh bukannya tidak betah dengan pekerjaannya, bossnyalah yang yang membuat Tari tidak pernah betah, heran deh Tari, hampir semua bos diperusahaan tempatnya bekerja semuanya ganjen dan genit, suka menggoda Tari, dan Tari jelas tidak suka akan hal itu, dia itu niatnya bekerja, bukan untuk menjadi kekasih gelap bossnya, dan kali inipun Tari berniat untuk resign, tapi hal itu belum tereleseasikan karna saat ini dia tengah mencari-cari lowongan pekerjaan.
Tari benar-benar berharap deh memiliki boss yang benar-benar profesional dalam bekerja dan bukannya menjadikan sekertarisnya sebagai kekasih gelap, kalau ada laki-laki seperti itu, Tari bakalan sujud syukur deh.
"Kamu sabar-sabarin aja dulu Tar, begitu kamu dapat pekerjaan baru, baru dah kamu resign."
"Ra, kok susah banget ya dapat boss yang gak ganjen dan genit, heran deh aku, semua laki-laki yang pernah jadi atasanku semuanya ganjen dan ihhh..." Tari jadi merinding sendiri.
"Nanti kamu pasti dapat kok bos yang benar-benar alim, bahkan hanya ngelirik kamu aja gak minat."
"Aminn, itu yang sangat aku harapkan."
Selama setahun belakangan ini, Tari berusaha bangkit dari kesedihan dan keterpurukannya, dia berusaha menjalani hidupnya meskipun semuanya tidak lagi sama seperti dulu, dari luar tampak Tari terlihat sehat dan baik-baik saja, tapi tidak ada yang tahu apa yang dirasakan oleh Tari, bayangan Adam dan juga bayinya selalu menguasai fikiran Tari, dan kadang saat dia tidak kuasa menahan kerinduan pada suaminya dan juga bayinya, Tari tidak peduli jam berapapun dia akan datang menyambangi makam suaminya dan bayinya untuk mencurhatkan hari-hari berat yang dia lalui tanpa kehadiran Adam disampingnya.
Beberapa kali Tari bertemu dengan Hawa, kakak iparnya itu selalu memberi penguatan padannya supaya Tari jangan bersedih dan menjalani hidupnya dengan baik, bahkan Hawa meminta Tari untuk membuka hatinya untuk laki-laki lain untuk menggantikan posisi Adam, tapi Tari rasanya tidak mungkin akan melakukan hal itu, baginya cintanya sudah dibawa mati bersama dengan Adam, Tari merasa mustahil baginya untuk bisa menerima laki-laki lain dalam hidupnya, dan pada akhirnya, Hawa berhenti membujuk Tari, dia tidak pernah menyangka kalau Tari mencintai almarhum adiknya dengan begitu sangat dalam.
Johan : Tari, kamu dimana, aku cari-cariin kamu dari tadi, aku mau ngajakin kamu makan siang bareng.
Tari mendengus membaca pesan dari salah satu rekan kerjanya tanpa berniat untuk membalas pesan tersebut, dia kembali menggeletakkan HPnya dimeja dan melanjutkan makannya.
"Siapa, bos kamu atau sik Johan itu." kepo Laura.
Laura tahu semua tentang laki-laki yang berusaha mendekati Tari, karna Tari sering mengeluh tentang laki-laki yang berusaha mendekatinya pada sahabatnya itu.
"Sik Johan."
"Bilang apa dia."
"Mau ngajakin makan siang katanya."
"Kayaknya sik Johan dan sik boss kamu itu gencar banget ya ngedeketin kamu Tar, gila, janda makin terdepan, perawan kayak aku mah gak ada yang doyan." kekeh Laura meledek dirinya sendiri.
Tari terkekeh mendengar ocehan Laura, "Makanya, jadi cewek jangan pemilih-pemilih amet deh Ra, jadi jomblokan sampai sekarang."
"Lihat dulu siapa yang ngomong, lebih pemilihan kamu kali Tar, tiap ada yang datang dicuekin begitu saja."
__ADS_1
"Aku bukannya pemilih ya Ra, hanya saja aku gak mau menerima hati yang baru, karna aku masih sangat mencintai mas Ad....." Tari langsung terdiam saat akan menyebut nama Adam, sampai saat ini dia masih tidak bisa mengatakan nama Adam tanpa membuatnya sedih.
Merasa bersalah karna memancing-mancing arah pembicaraan tentang mantan suami Tari, Laura meminta maaf, "Tar maafin aku."
Tari tersenyum hambar, "Tidak apa-apa Ra, memang akunya saja yang lebay, dikit dikit sedih, kepergian mas Adam ternyata masih mempengaruhi aku sampai sekarang."
"Wajar Tar kamu belum bisa melupakan mas Adam sampai saat ini, karna ada banyak moment-momen indah yang pernah kamu lalui bersama dengan mas Adam."
Tari mengangguk, "Ayok makan lagi Ra, duhh kok jadi sedih-sedih gini sieh."
"Iya." jawab Laura.
Dua wanita itu kembali melanjutkan makannya.
****
"Hai Tari, pulang bareng yuk." ajak Johan mendekati saat jam pulang kerja berakhir.
Johan sudah lama menyukai Tari dan Johan dengan terang-terangan menampakkan rasa sukanya itu, tapi Tari yang memang pintu hatinya sudah tertutup sepenuhnya untuk laki-laki lain tidak pernah menanggapi perhatian yang Johan berikan padanya.
"Mmmm, maafkan aku mas Jo, tapi aku ada janji." jawab Tari tidak bohong, dia memang ada janji dengan Laura, karna ini akhir minggu, sahabatnya itu mengajaknya menghabiskan waktu bersama, entah itu nonton, shoping, atau apalah, intinya mereka ingin senang-senang deh.
"Sama pacar kamu." Johan langsung mengambil kesimpulan.
"Bukan mas, dengan sahabat aku." bantah Tari.
"Cowok atau cewek."
Tari mendengus, "Kalau aku tidak mau menjawab tidak apa-apakan mas."
"Hmmm, tidak apa-apa sieh."
"Baiklah kalau begitu mas Johan, aku duluan ya, sepertinya teman aku sudah menunggu dibawah."
"Iya, hati-hati Tari."
Johan mendesah frustasi, padahal dia sudah sangat jelas menampakkan rasa sukanya sama Tari, dan berbagai hal dia lakukan untuk menarik perhatian Tari, tapi gadis itu sama sekali tidak pernah mempedulikannya, bukannya merasa sakit hati atas perlakuan Tari yang selalu mengabaikannya, Johan malah semakin tertantang untuk menaklukkan Tari, baginya wanita seperti Tari itu langka, makanya Johan bertekad untuk bisa mendapatkan Tari.
"Aku pasti bisa mendapatkan kamu Tari." batinnya yakin, "Kita lihat saja nanti."
Pak Deva adalah ceo diperusahaan tempat Tari dan Johan bekerja, dan laki-laki yang sudah punya istri dan tiga anak itu juga menyukai Tari, tapi Johan yang masih lajang saja tidak sukai oleh Tari, apalagi pak Johan, ya jelas tidak mungkin akan dipertimbangkan oleh Tari untuk dijadikan tambatan hati, intinya pak Johan wasalam deh.
Benar kata Laura, janda semakin terdepan, meskipun berstatus sebagai janda, banyak yang mau sama Tari, termasuk dua orang ini yaitu Johan dan juga pak Dafa.
Johan jelas sangat tidak menyukai bossnya itu, apalagi bossnya itu juga menyukai Tari sama seperti dirinya, tapi berhubung pak Dava adalah bosnya, jadinya, mau tidak mau Johan harus pura-pura harus bersikap ramah.
"Ehh pak Dava, gak ada apa-apa pak, saya hanya ingin memastikan apakah Tari sudah pulang atau belum."
"Hmmm" dengus pak Dafa, "Saya peringatkan sama kamu ya Johan, jangan berani-beraninya kamu dekatin Tari, karna saya menyukai Tari, hanya saya yang boleh menyukai Tari." ujar pak Dava arogan.
Mendengar ucapan pak Dafa membuat Johan geram, dia mengepalkan tangannya, ingin rasanya dia menonjok pak Dafa, tapi akal sehatnya masih mendominasi, dia sadar dengan siapa dia berhadapan saat ini, jadi dia hanya bisa memendam amarahnya dalam hati.
"Dan kalau saya melihat kamu merayu Tari, bisa dipastikan kamu akan angkat kaki dari perusahaan ini, mengerti kamu." ancamnya dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Johan yang memandang bosnya dengan tatapan ingin membunuh.
"Brengsek, kalau tidak ingat lo adalah boss gue, sudah gue kirim lo ke UGD." Johan mengepalkan tangannya geram, tangannya sangat gatal untuk menonjok bossnya yang ganjen dan genit itu.
****
"Lukas sayang, ayok turun makan malam." oma Rosa yang merupakan oma Lukas mengetuk pintu kamar cucunya tersebut, namun karna tidak ada sahutan dari dalam, oma Rosa mendorong pintu dan tidak menemukan cucu kesayangan itu dikamarnya, namun oma Rosa mendengar suara air dari kamar mandi yang membuat oma Rosa yakin kalau cucunya itu saat ini tengah berada dikamar mandi.
Oma Rosa berniat menunggu Lukas agar mereka nantinya sama-sama turun ke bawah, oleh karna itu diberjalan menuju tempat tidur dengan niatan duduk disana untuk menunggu sang cucu yang akan keluar dari kamar mandi, dan saat sudah dekat, dia melihat banyak gambar berserakan ditempat tidur Lukas, oma Rosa mengernyit heran melihat foto-foto tersebut, dia kemudian duduk dan meraih foto itu dan memperhatikan foto-foto itu satu persatu, semua foto itu ternyata berisi satu gambar l wanita, hal itu membuat oma bertanya-tanya.
"Siapa gadis ini, dia sepertinya gadis lokal, apakah dia pacar cucuku." gumamnya penuh harap mengingat banyaknya foto gadis tersebut yang disimpan oleh Lukas, dan oma Rosa senang kalau seandainya benar kalau gadis dalam foto itu adalah pacar cucunya. Karna sejak tinggal bersama dirinya, Lukas tidak pernah sekalipun terlihat dengan wanita manapun, dan hal itu membuat oma Rosa khawatir dan berfikir yang aneh-aneh karna beranggapan kalau cucu kesayangannya itu tidak menyukai wanita, dan melihat foto itu membuat hatinya sedikit tenang.
Memang sejak awal kedatanganya ke Amerika, niat Lukas adalah untuk melupakan kejadian kelam yang terjadi dimalam nahas itu, sehingga saat dia tiba dirumah kakek dan neneknya di Amerika, dia sama sekali tidak pernah mengungkit-ngungkit tentang kehidupannya selama di Jakarta kepada kedua orang tua papanya tersebut.
Begitu keluar dari kamar mandi, Lukas terkejut melihat omanya yang sudah duduk manis ditempat tidurnya, tambah terkejut lagi saat dia melihat tangan omanya itu memegang foto-foto Tari, tadi memang Lukas tengah melihat-lihat foto Tari yang dikirim oleh Parhan selama satu tahun belakangan ini, dan foto-foto tersebut telah dicetak oleh Lukas dan dia menyimpannya dalam sebuah amplop coklat.
"Oma, apa yang oma lakukan dikamar Lukas." panik Lukas dan menghampiri neneknya dengan langkah tergesa-gesa.
Lukas hanya berharap kalau neneknya tidak mengadukan tentang foto-foto tersebut kepada mamanya, karna setiap kali menelpon, mamanya selalu saja menanyakan tentang pacarnya, padahalkan untuk saat ini Lukas tidak mau dipusingkan dengan hal-hal begituan.
"Gadis cantik dalam foto ini apa pacar kamu sayang." tanya oma tersenyum simpul penuh makna.
__ADS_1
Lukas terlihat salah tingkah mendengar pertanyaan omanya, dia meraih foto-foto yang berserakan ditempat tidurnya dan memasukkannya diamplop coklat, "Bukan oma, gadis itu bukan pacarku." bantah Lukas.
"Bukan ya, kok foto-fotonya begitu banyak, apa kamu menyukai gadis itu diam-diam Lukas." omanya masih mencecar.
"Bukan juga oma." Lukas ingin mengambil foto Tari yang saat ini dipegang oleh omanya, tapi dengan sigap oma Rosa menjauhkannya dari jangkauan Lukas.
"Gadis ini cantik sekali ya Lukas, dia memiliki kulit kuning langsat yang sehat." puji oma Rosa memperhatikan foto Tari tanpa mempedulikan kata-kata cucunya, "Oma menyukainya, bawalah dia kerumah dan kenalkan sama oma dan opa ya."
"Duhh oma, kan aku sudah bilang kalau gadis itu bukan pacarku, dia hanya..."
"Hanya apa." kejar oma Rosa.
"Pokoknya bukan siapa-siapa oma, ayok sini oma balikin fotonya."
"Kalau oma kasih tahu mama kamu, mama kamu pasti heboh dan pasti ingin berkenalan langsung dengan gadis yang ada di foto ini."
"Jangan oma, jangan kasih tahu mama." panik Lukas saat mendengar kata-kata neneknya.
"Lho, emangnya kenapa, mama kamu berhak tahu kamu menyukai siapa, lagian kerjaan mama kamu itu tiap nelpon selalu saja menggrecoki oma dan menanyakan siapa pacar kamu sekarang, oma sampai dibuat pusing oleh mama kamu itu." keluh oma Rosa mengingat kelakuan menantunya yang selalu menanyakan tentang pacar Lukas di Amerika.
"Jangan saja oma, kan aku sudah bilang kalau gadis difoto itu bukan pacar aku."
"Kamu itu ya Lukas, sama oma masih saja main bohong-bohongan, kenapa tidak jujur saja gitu lho sama oma kamu ini."
"Oma yang paling aku sayangi sedunia, Lukas gak bohongin oma, gadis ini benaran bukan pacar aku." ucap Lukas dengan sangat meyakinkan.
"Kalau bukan pacar kamu, kenapa fotonya kamu simpan, sebanyak ini lagi."
"Dia....dia adalah gadis dari masa lalu Lukas oma, dia adalah...." Lukas tidak ingin menceritakan tentang masa lalunya kepada siapapun termasuk kepada omanya, tapi kalau dia tidak menceritakan tentang siapa gadis yang ada difoto tersebut, omanya pasti tidak akan berhenti mencecarnya, omanya adalah tipe orang yang tidak akan puas mencecar orang sebelum rasa keingintahuannya terpenuhi.
Namun disaat Lukas sudah akan memberitahu siapa gadis itu sebenarnya, ponselnya berdering yang menyebabkan dia harus menunda untuk menjawab pertanyaan omanya untuk sementara waktu, tidak pernah dalam hidupnya Lukas begitu bahagia mendengar suara deringan ponselnya, dia sangat berterimakasih pada orang yang menelponnya.
"Mama." gumam Lukas begitu melihat nama yang tertera dilayar, Lukas heran, tidak biasanya mamanya menelponnya malam-malam begini, ya kalau Indonesia saat ini mungkin siang hari.
Lukas menoleh sejenak ke arah omanya sebelum menggeser simbol telpon berwarna hijau, sebelum dia sempat mengatakan 'Halo' terdengar suara histeris mamanya diseberang.
"Lukass."
Perasaan Lukas langsung menjadi tidak enak saat mendengar suara mamanya itu, apalagi Lukas dengan sangat jelas mendengar suara isakan sang mama.
"Ma, apa yang terjadi, semuanya baik-baik sajakan." tanya Lukas berharap mamanya mengatakan 'iya' atas pertanyaannya barusan, tapi Lukas yakin mamanya tidak akan menjawab iya.
"Pulang Lukas, pulang sekarang, papa kamu, papa kamu kena serangan jantung nak, mama...hiks hiks, mama takut terjadi apa-apa sama papa kamu Lukas, mama sangat takut."
Tentu saja Lukas terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh mamanya, "Ma, mama tenang oke, yakinlah tidak akan terjadi apa-apa sama papa, mama jangan menangis."
Terbayang bagaimana paniknya mamanya, apalagi mamanya sendirian, bisa dibilang, mereka tidak memiliki keluarga di Jakarta mengingat kebanyakan keluarga mereka berdomisili di luar negeri.
"Lukas akan pulang ma, malam ini juga aku akan pulang."
Setelah menenangkan mamanya, Lukas menutup telpon.
"Sayang, apa yang terjadi." cecar oma meskipun tadi dia sempat mendengar ucapan cucunya yang tadi mengatakan kalau papanya pasti akan baik-baik saja.
"Lukas akan kembali ke Jakarta oma, papa, papa kena serangan jantung."
"Astaga anakku, oma ikut, oma ingin mengetahui keadaan putra oma." oma Rosa menangis mengetahui kalau putranya kena serangan jantung.
"Oma." Lukas memegang lengan omanya, dia bukannya tidak ingin omanya itu ikut, hanya saja omanya sudah tua, perjalanan dari Amerika Indonesia bukanlah perjalanan yang bisa ditempuh dalam waktu singkat, "Oma sebaiknya disini saja oke, Lukas yakin papa akan baik-baik saja, kalau Lukas tiba di Jakarta, Lukas akan langsung menghubungi oma untuk memberitahu keadaan papa."
"Tapi Lukas, oma khawatir dengan keadaan papa kamu, oma tidak akan tenang kalau tidak melihatnya langsung."
Dengan penuh kesabaran Lukas berusaha memberi pengertian sama omanya itu, "Lukas ngerti oma, hanya saja, oma juga harus memperhatikan kesehatan oma juga, opa juga yang sudah mulai sakit-sakitan dan tidak mungkinkan melakukan perjalanan jauh."
Oma Rossa mengangguk, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh cucunya itu.
"Oma sebaiknya tetap disini oke, pokoknya, Lukas akan selalu mengabarkan keadaan papa 24 jam sama oma."
Pada akhirnya setelah diyakinkan oleh Lukas, oma Rosaa mengerti juga, dia mengurungkan niatnya untuk ikut setelah Lukas memberi pengertian padanya.
Dan pada akhirnya setelah satu tahun meninggalkan tanah air kelahirannya, Lukas akhirnya kembali, kembali ditempat dimana dia telah tumbuh dan besar.
"Oke Lukas, semuanya akan baik-baik saja, kamu pasti bisa menghadapi ini semua, masa lalu itu tidak akan mempengaruhi kamu lagi." dia meyakinkan dirinya saat akan menaiki pesawat, karna bagaimanapun, bayangan akan kejadian malam itu tidak sepenuhnya bisa dimenyahkan Lukas dari fikirannya, dan kini dia harus kembali ke tanah airnya, tempat dimana peristiwa itu terjadi satu tahun yang lalu.
__ADS_1
*****