CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
MELAMAR TARI


__ADS_3

"Iya pa, ada apa." ternyata Lukas menerima telpon dari papanya.


"Lukas, besok kamu jadi pergi ke bali dengan Tari." tanya papa Sebastian dari seberang.


"Jadi pa, Lukas akan melamar Tari disana, aku akan membuat lamaran yang mengesankan, aku ingin Tari tidak akan pernah melupakan hal itu." Lukas memberitahukan rencanya sama sang papa.


"Mmmm, Lukas." papa Sebastian terdengar ragu untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Kenapa pa, ada yang ingin papa katakan."


"Lukas, sebelum kamu menikahi Tari, sebaiknya kamu beritahu dia tentang kejadian yang terjadi dimasa lalu, sebuah hubungan itu tidak seharusnya di bangun diatas kebohongan Lukas, karna itu nantinya akan menghancurkan hubungan kalian." papa Sebastian menyampaikan apa yang selama ini dia fikirkan, dia ingin putranya itu memberitahu Tari akan apa yang terjadi dimasa lalu supaya hal itu tidak jadi masalah nantinya.


Lukas terlihat mendesah berat, dalam hati dia membenarkan kata-kata papanya, bukannya dia tidak pernah memikirkan tentang hal itu, kadang niat untuk memberitahu tentang apa yang terjadi masa lalu itu terlintas dibenaknya, namun saat membayangkan kalau Tari meninggalkannya saat dia memilih jujur dengan memberitahu Tari tentang apa yang terjadi masa lalu itu membuatnya takut, takut Tari akan meninggalkannya, lebih parahnya lagi, dia takut Tari akan membencinya dan tidak mau lagi mengenalnya, Lukas sangat mencintai Tari, dia tidak ingin kehilangan Tari, Lukas sudah mencintai Tari dengan begitu dalam, Lukas tahu, sejak awal seharusnya dia tidak boleh mencintai Tari, seharusnya sejak awal dia memadamkan percikan-percikan api cinta yang mulai menyala dihatinya, tapi yang dia lakukan adalah malah membiarkannya membesar sehingga sulit untuk dipadamkan seperti ini.


"Iya pa, Lukas akan memberitahu Tari akan semua ini, papa benar, tidak seharusnya Lukas membangun sebuah hubungan diatas dasar kebohongan, karna itu akan menjadi boomerang nantinya, tapi bagaimana kalau Tari meninggalkan Lukas pa, Lukas tidak mau hal itu terjadi." Lukas memberitahukan kekhawatirannya sama papanya.


"Lukas, kamu itu laki-laki, kamu harus mengambil resiko nak, Tari pasti akan sangat marah mengetahui kamulah dalang dibalik peritiwa yang merengut nyawa suaminya dimasa lalu, itu hal yang wajar Lukas, tapi, dari yang papa lihat, Tari itu bukan tipe orang pendendam, papa yakin dia akan memaafkanmu, apalagi dia sangat mencintaimu." papa Sebastian berusaha membesarkan hati putranya.


"Terimakasih pa, papa selalu ada untuk Lukas dan membuat Lukas tenang."


"Sama-sama putraku, kapanpun kamu butuhkan, kamu selalu bisa mengandalkan papamu ini."


"Terimakasih papa."


"Kamu sekarang sudah benar-benar dewasa Lukas, papa tidak pernah menyangka kejadian malam itu merubahmu menjadi sosok seperti ini."


"Lukas juga tidak pernah menyangka pa, Lukas harus menghilangkan nyawa seseorang dulu baru Lukas bisa seperti ini."


"Sudahlah Lukas, hal itu sudah berlalu, jangan pernah kamu ingat-ingat lagi oke, fikirkankanlah masa depanmu bersama dengan wanita yang kamu cintai, buatlah Tari bahagia bersamamu."


"Iya pa, papa benar, Lukas berjanji akan membuat Tari bahagia."


Setelah mengobrol beberapa saat dengan papanya, Lukas mengakhiri pembicaraannya dengan papanya ditelpon.


Lukas menyandarkan punggungnya dikursi kerjanya, menjadikan kursi tersebut sebagai tumpuannay untuk beberapa saat.


*****


"Ciee yang besok pagi akan ke Bali ciee." Laura menggoda Tari, "Pasti seru bangetkan di Bali, bisa jalan-jalan, pergi ke tempat-tempat romantis berdua, aih aih, kok aku yang jadi baper ya."


Malam ini memang Laura sengaja datang ke rumah sahabatnya itu untuk membantu Tari mengepakkan barang-barang Tari ke koper karna rencananya Tari akan di Bali selama 5 hari.


"Apa sieh Ra, inikan dalam rangka melakukan perjalanan bisnis, bukan untuk jalan-jalan."


"Apapun itu, pasti akan terasa menyenangkan kalau perginya bersama dengan laki-laki yang kita cintai Ra."


"Iya, kamu benar Ra."


"Aku bahagia Ra, ternyata keluarganya mas Lukas menerimaku."


"Tidak semua orang kaya seperti mantan mertua kamu itu Tari, banyak kok orang kaya yang baik dan tidak memandang status sosial seseorang, ya salah satu contohnya adalah orang tuanya Lukas itu."


"Iya Ra, aku sangat bersyukur akan hal itu, tadi aku takut, aku takut mamanya mas Lukas tidak akan menerimaku, tapi ternyata aku salah, orang tua mas Lukas menerimaku dengan tangan terbuka, bahkan mereka sangat baik kepadaku."


"Aku ikut bahagia Tari, aku sudah tidak sabar menunggu undangan pernikahanmu."


"Ra, kamu ya nanti yang jadi pengiringku ya."


"Oke, dengan sangat senang hati."


Dua gadis itu berangkulan satu sama lain.


"Akhirnya ya Ra, setelah sekian lama, kamu bisa menemukan kebahagianmu kembali."


Tari mengangguk.


"Kamu juga Ra, betah banget kamu ngejomblo, cari pacar donk."


Laura terkekeh, "Kamu tenang saja Tari, setelah kamu menikah nanti, aku pasti akan menyusul, kamu tunggu saja undangan dariku."


"Awas ya kalau kamu bohong."


"Iya, aku tidak bohong." kekehnya.


"Oh iya, ngomong-ngomong, oleh-oleh untukku jangan lupa ya."


"Beres."


*****


Rencananya Lukas dan Tari akan melakukan perjalanan bisnis selama 5 hari, perjalanan bisnisnya sieh cuma 3 hari, dua harinya mereka gunakan untuk menikmati indahnya kota Bali dengan berjalan-jalan menjelajahi setiap sudut kota Bali.


Seperti yang saat ini mereka lakukan, menikmati indahnya pantai disore hari sembari menunggu tenggelamnya matahari, sepasang kekasih itu duduk dipinggir pantai ditemani dengan suara deburan ombak yang menenangkan, Tari merebahkan kepalanya dipundak Lukas, tangan kedua insan tersebut saling bertaut sama lain.


Lukas mengecup puncak kepala Tari dengan mesra, baginya, menghabiskan waktu berdua dengan wanita yang dia cintai menjadi suatu hal yang sangat membahagiakan untuknya.


"Aku ingin selalu seperti ini sayang, selalu bersamamu dan menghabiskan waktu berdua."


"Aku juga mas, aku selalu ingin ada disisimu."


"Aku sangat mencintaimu Tari, aku tidak ingin kehilanganmu."


"Aku juga mencintaimu mas, meskipun kamu bukan yang pertama untukku, tapi aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu sampai kita tua kelak."


"Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia Tari."


"Aku tahu mas."


"Tari."


"Iya mas."


"Kalau seandainya aku melakukan kesalahan, apa kamu mau memaafkanku."


"Tentu saja." jawab Tari tanpa berfikir.


"Kalau kesalahanku sangat besar, apakah kamu masih mau memaafkan aku dan tetap bersamaku."


Tari menarik kepalanya dari pundak Lukas, menatap kekasihnya itu dengan bingung, "Apa mas Lukas melakukan kesalahan yang besar."


Lukas terlihat salah tingkah dengan pertanyaan Tari, tapi dia berusaha untuk menutupinya, "Tentu saja tidak sayang, inikan seandainya, kalau suatu saat nanti aku melakukan kesalahan yang besar yang sangat sulit untuk dimaafkan, apa kamu akan tetap bersamaku dan tidak akan meninggalkanku."


"Aku...."

__ADS_1


Lukas menunggu jawaban Tari dengan perasaan was was.


"Aku tentu saja akan memaafkanmu mas." Tari mengatakan hal itu hanya karna dia belum tahu kesalahan apa yang telah Lukas perbuat.


Disisi lain, Lukas sangat lega mendengar jawaban Tari, dia mengarahkan tangan Tari yang saat ini berada dalam genggamannya ke bibirnya.


"I love you Tari, berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi nantinya."


"Love you to mas, aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi." janji Tari.


Lukas bahagia mendengar jawaban Tari, dia semakin yakin untuk memberitahu akan hal yang pernah dia lakukan kepada Tari.


"Lihat mas, mataharinya sudah tenggelam." Tari menunjuk matahari yang kini secara perlahan masuk ke peraduannya.


"Sangat indah ya mas." memandang pemandangan tersebut dengan takjub.


"Kamu jauh lebih indah sayang."


"Gombal." gumam Tari dengan wajah bersemu merah, dalam hatinya dia sangat berbunga-bunga.


"Siapa yang gombal sieh, bagiku kamu adalah pemandangan terindah didunia ini Mentariku."


Tari menubrukkan tubuhnya memeluk Lukas, dan menyembunyikan wajahnya didada Lukas, sumpah dia merasa sangat malu, "Akhh mas Lukas ini, selalu saja membuatku malu seperti ini."


Lukas terkekeh, "Menggemaskan sekali sieh kamu."


Untuk waktu yang cukup lama, mereka duduk saling menautkan tangan satu sama lain dibibir pantai, karna momen seperti ini sangat jarang terjadi mengingat kesibukan mereka bekerja.


****


Ting


Tong


Tari mendengar suara bell kamarnya dipencet, saat membuka pintu, dia tidak menemukan siapa-siapa dibalik pintu.


"Siapa sieh, iseng banget."


Saat Tari akan berbalik ke kamarnya, dia melihat sebuah kotak yang berwarna merah muda dibawahnya, Tari mengerutkan keningnya, bertanya-tanya dalam hati siapakah gerangan yang meletakkan benda tersebut dikamarnya.


Tari meraih kotak tersebut dan membawanya masuk ke kamarnya, dia kemudian meletakkan kotak tersebut dia atas tempat tidur hotel sebelum membukanya, ternyata kotak tersebut berisi sebuah gaun yang terlipat, diatas gaun tersebut terdapat secarik kertas yang terlipat, Tari meraihnya, membukanya, dan membaca isinya.


Aku yakin, kamu pasti akan sangat cantik mengenakan gaun ini sayang, pakai gaun ini ya saat kita makan malam


Lukas


Tari tersenyum lebar saat mengetahui kalau gaun itu merupakan pemberian kekasihnya, dia dan Lukas memang sudah janjian untuk makan malam bersama.


Tari meraih gaun tersebut dan merentangkannya didepan matanya, matanya berbinar mengetahui kalau gaun berwarana biru muda begitu sangat cantik, Tari berlari ke depan cermin rias yang terdapat dihotel tersebut, dia mematut-matut dirinya dengan gaun tersebut dibadannya, Tari tersenyum, "Pasti terlihat cantik saat aku mengenakannya nanti."


Satu jam kemudian, saat Tari tengah memulas lipstik dibibirnya didepan cermin, dia kembali mendengar suara bell kamarnya dipencet, Tari yakin itu adalah Lukas.


"Iya tunggu sebentar." teriaknya.


Tari kemudian memakai sepatu haknya, meraih tas mungilnya yang dia sudah sediakan diatas tempat tidur dan berlari ke arah pintu.


Tari tersenyum lebar saat menemukan kekasihnya berdiri didepan pintu kamarnya, laki-laki yang kini berstatus sebagai kekasihnya itu sangat tampan dengan kemeja putihnya yang digulung sampai sikunya.


"Hai sayang, kamu begitu sangat cantik." puji Lukas yang membuat senyum Tari semakin lebar, "Kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku temui setelah mamaku Tari."


"Kamu selalu bisa membuatku tersipu mas."


Lukas menyodorkan telapak tangannya yang kemudian digenggam oleh Tari.


"Ayok sayang kita berangkat."


Tari menganguk, saat-saat bersama dengan Lukas merupakan hal yang sangat membahagiakan untuknya, dulu Tari fikir, hanya Adamlah yang bisa membuatnya bahagia, tapi Tari salah, ternyata setelah kepergian Adam, ada seseorang yang bisa menggantikan sosok Adam dihatinya, laki-laki itu adalah Lukas Pangestu, laki- laki yang sebelumnya tidak terfikir oleh Tari bisa singgah dihatinya karna Lukas adalah atasannya.


Ketika mereka keluar dari hotel, sebuah mobil sudah terparkir didepan, dan seorang laki-laki menghampiri Lukas.


"Selamat malam tuan Lukas, nona...."


"Mentari, nama calon istri saya adalah Mentari." Lukas memberitahu.


"Iya nona Mentari, saya Anto, setia setiap saat mengantarkan kemanapun anda akan pergi." laki-laki bernama Anto yang ternyata adalah sopir yang akan mengatarkan mereka ke tempat tujuan memperkenalkan dirinya.


"Terimakasih pak Anto."


"Ayok silahkan tuan, nona." Anto membukakan pintu mobil untuk Tari dan Lukas.


****


Mobil yang ditumpangi oleh Lukas dan Tari berhenti disebuah restoran, saat memasuki restoran tersebut, restoran tersebut terlihat sepi, satupun tidak ada pengunjung disana, hal itu membuat Tari merasa aneh.


Lukas menarikkan kursi untuk Tari, "Ayok sayang duduk."


"Hmmm." Tari duduk dan masih memperhatikan sekelilingnya.


"Ada apa sayang."


"Mas Lukas, kenapa restoran ini sepi ya kenapa hanya ada kita yang makan disini."


"Kalau kamu bertanya sama aku, jelas saja aku tidak tahu sayang." jawabnya bohong, padahal dia memang sengaja membooking restoran tersebut hanya untuk melamar Tari.


"Kok aneh ya mas, restoran ini terlihat mewah dan berkelas, tapi kok sepi gini."


"Sudahlah sayang, kamu tidak usah memikirkan hal itu, kita kesinikan untuk makan."


"Hmmm."


Dan dua orang pelayan, datang menghampiri meja mereka, masing-masing membawa hidangan ditangan masing-masing, pelayan tersebut tersenyum penuh arti saat meletakkan sebuah kue didepan Tari dan Lukas.


Tari tambah heran, pasalnya mereka belum memesan sama sekali dan pelayan sudah membawakan hidangan untuk mereka.


"Mas Lukas, kitakan belum memesan, kenapa pelayan-pelayan itu membawakan kue-kue ini untuk kita." Tari menyuarakan keherananya.


"Mungkin ini adalah makanan perkenalan dari restoran mereka kali." sambil mengatakan hal tersebut Lukas tersenyum penuh arti.


Dan Tari tidak curiga sama sekali.


"Ayok makan." ajak Lukas yang sudah mulai mengarahkan sendok berisi kue tersebut ke mulutnya.


Tari melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Lukas.

__ADS_1


"Enak mas kuenya."


"Kamu suka."


"Suka banget." ujarnya antusias dan melahap kue tersebut, namun kemudian, Tari merasakan ada sesuatu yang aneh dimulutnya, sesuatu yang keras dan terasa dingin dilidahnya, Tari mengarahkan tangannya untuk mengambil benda tersebut dan menariknya keluar.


"Ini apa." Tari memperhatikan benda yang ternyata adalah sebuah cincin emas putih berhiaskan berlian diatasnya.


Lukas tersenyum karna rencananya memberikan Tari kejutan berhasil.


"Mas ini...."


Lukas meraih tangan Tari yang tergeletak dimeja, "Mentari Whardhani, maukah kamu menikah denganku, mendampingiku dan menjadi ibu-ibu dari anak-anakku nantinya."


Tari memandang Lukas dan cincin yang ada ditangannya bergantian, "Jadi ini...." mata Tari berkaca-kaca.


Lukas mengangguk, "Iya sayang, aku sengaja membooking tempat ini untuk melamarmu, dan menyuruh pelayan meletakkan cincin tersebut dikue yang kamu makan, bagaimana, apakah kamu terkesan."


Tari mengangguk, air matanya kini mengalir, air mata bahagia.


"Jadi, apa jawaban atas lamaranku Tari." tanya Lukas berharap Tari menjawab iya atas pertanyaannya.


Tari tidak langsung menjawab, dia terdiam untuk beberapa saat, dia berusaha untuk menenangkan perasaanya yang penuh dengan luapan kebahagian, dia tidak pernah menyangka Lukas akan melamarnya dengan cara yang romantis seperti ini.


"Aku tidak menerima penolakan lho Tari." ujar Lukas saat dilihatnya gadis yang dia lamar tidak kunjung menjawab.


Tari tersenyum simpul, sebelum dia mengangguk, dia tidak bisa berkata-kata saking bahagianya.


"Jadi pertanyaan atas jawabanku adalah iya." ujar Lukas menyimpulkan anggukan Tari.


"Iya mas, aku mau menikah denganmu, mendampingimu, menjadi ibu dari anak-anakmu, dan menghabiskan sisa umurku bersamamu." Tari memperjelas.


"Benarkah itu Tari."


"Iya mas."


Lukas mengambil cincin yang ada ditangan Tari, dan menyematkannya dijari manis Tari, cincin itu begitu cantik dan pas tersemat dijarinya.


Tari sangat terharu, dia kembali menangis, ini untuk kedua kalinya dijarinya tersemat sebuah cincin yang sangat cantik, cincin yang pernah dipakaikan Adam dijarinya dulu kini tersimpan dengan rapi dilaci meja dirumahnya.


Lukas mencium punggung tangan Tari dengan mesra.


Setelah memakaikan cincin tersebut, Lukas berdiri dan berjalan menghampiri Tari yang duduk berhadapan dengannya, Tari juga berdiri saat melihat Lukas menghampirinya, dua insan itu saling berpelukan satu sama lain dalam kebahagian.


"Terimakasih Tari, terimakasih karna telah menerimaku, aku sangat bahagia malam ini."


"Aku juga bahagia mas Lukas, aku sangat bahagia."


Malam itu merupakan malam yang sangat bahagia untuk mereka berdua.


*****


Mereka kini sudah kembali ke hotel, mereka berdua berdiri diantara kamar yang mereka tempati masing-masing karna kebetulan kamar yang mereka ambil berhadapan.


Mereka sepertinya berat untuk berpisah dengan tangan saling bertaut satu sama lain.


"Rasanya aku tidak mau berpisah dengamu Tari, izinkan aku tidur dikamarmu malam ini."


Namun keinginan Lukas itu ditentang keras oleh Tari.


"Mas Lukas jangan aneh-aneh deh, kitakan belum sah." padahalkan sebelumnya mereka pernah tidur bersama sebelumnya, tapikan waktu itu mereka khilaf.


"Hamm, baiklah kalau kamu tidak mengizinkan, apa boleh buat." ujar Lukas pura-pura kecewa yang membuat Tari terkekeh.


"Mas harus tahan ya, sebentar lagikan kita akan menikah, saat itu mas Lukas bebas mau ngapain saja."


"Aku sudah tidak sabar menunggu waktu itu tiba." ujarnya menarik tubuh Tari dan membawanya dalam pelukannya.


"Mas lepasin, nanti ada yang lihat."


"Biarin saja, kamukan calon istriku."


"Cuma calonkan mas, belum jadi istri benaran."


Namun Lukas masih betah memeluk Tari.


"Mas Lukas, lepasin."


"Gak mau Tari, aku kangen."


"Kangen gimana sieh maksud mas Lukas, padahal seharian ini kita menghabiskan waktu bersama lho."


"Itu saja tidak cukup Tari."


"Akhh mas Lukas ini ada-ada saja."


Karna Lukas masih belum melepaskan pelukannya, terpaksa untuk sesaat Tari membiarkan Lukas memeluknya.


"Mas Lukas, sampai kapan mas Lukas akan memelukku seperti ini, mas Lukas tidak akan membiarkan aku tidur."


Barulah Lukas melepaskan pelukannya, "Tidurnya sama aku mau."


Tari mencubit pinggang Lukas.


"Awahhh, sakit sayang." Lukas mengaduh.


"Habisnya mas Lukas nakal banget."


"Ya sudah ya mas Lukas, aku masuk dulu."


Saat Tari akan berbalik, Lukas menarik lengan Tari yang membuat tubuh Tari kembali mengahadap ke arahnya, "Sun dulu sayang." Lukas mengarahkan jari telunjuknya ke pipinya.


"Baiklah."


Agar Lukas membiarkannya masuk dengan tenang, Tari melakukan apa yang dipinta oleh Lukas, Tari mendekat dan mencium pipi Lukas.


"Bye mas Lukas."


"Bye Mentariku."


Tari sangat suka saat Lukas memanggilnya dengan panggilan Mentari.


****

__ADS_1


__ADS_2