CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
KUNJUNGAN PAPA SEBASTIAN


__ADS_3

Dua sejoli itu menikamati indahnya malam dibawah siraman sinar rembulan dan bintang-bintang yang bertabur di angkasa raya, bagi Arin, tentu saja malam ini sangat romantis, bersama dengan laki-laki yang disukai memang tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini, tapi tidak begitu dengan Lukas, Lukas yang selama satu tahun belakangan ini puasa dengan mahluk bernama wanita agak sugkan berduaan dengan Arin, dia tidak tahu harus memulai obrolan darimana, dia yang dulunya punya seribu satu bahasa untuk merayu wanita kini tidak tahu harus berkata apa untuk memulai obrolan.


Arin gregetan karna sejak tadi menunggu Lukas untuk membuka obrolan, meskipun hanya sekedar mananyakan kabarnya saja kek, boro-boro, itu terjadi, Lukas sejak tidak kunjung membuka bibirnya, akhirnya karna tidak tahan saling diem-dieman begitu, Arin memutuskan untuk memulai obrolan terlebih dahulu.


"Sebagai presdir, tentu kamu sangat sibuk ya Lukas."


Saat ini mereka berdua duduk dibangku kayu ditengah-tengah taman belakang.


"Yahh begitulah, tiap hari harus ngurus perusahaan, meting, bertemu dengan klien, sibuk, tapi membosankan karna harus berkutat dengan hal-hal seperti itu setiap hari." jawab Lukas seadanya, dan sepertinya dia tidak berniat hanya sekedar nanya balik pada Arin.


"Hmmh." gumam Arin tidak tahu harus menanggapi jawaban Lukas seperti apa karna dia tidak tahu menahu tentang dunia perkantoran sehingga membuat suasana kembali hening.


"Lukas gimana sieh, diam-diam saja dari tadi, gak nanya tentang kesibukanku atau gimana kek, apa memang dia seperti ini orangnya, kaku dan cuek." Arin mengeluh dalam hati, dia senang sieh menghabiskan waktu berdua dengan Lukas seperti ini, tapi gak aktif diem-dieman gini juga kali.


"Kalau kamu sendiri, kesibukan kamu apa Rin." akhirnya setelah sekian lama Lukas bertanya juga.


"Akhirnya dia nanya juga."


"Akhir-akhir ini aku sibuk ngurus skripsi, bolak-balik kampus, ketemu dosen pembimbing, maklum mahasiswa tingkat akhir, lagi sibuk-sibuknya." jelas Arin.


"Wahh, sebentar lagi wisuda donk, selamat ya Rin, bentar lagi menyandang sarjana kedokteran, hebat kamu."


"Belum wisuda sudah dikasih selamat, tapi terimakasih ya."


"Iya gak apa-apa donk ngasih selamatnya duluan."


Dan eh ternyata, mereka nyambung juga ngobrolnya.


"Kamu datang ya Kas saat wisudaku nanti."


Gak enak juga sieh menolak, akhirnya Lukas menjawab, "Iya, nanti aku usahakan, semoga saja kesibukanku tidak padat waktu itu."


"Usahakan ya Lukas, aku benar-benar mengharapkan kedatanganmu soalnya."


"Iya."


"Kapan-kapan, aku bolehkan main ke kantor kamu."


"Kamu mau main ke kantor aku, buat apa."


"Ya aku cuma mau lihat saja dunia kantor atau dunia yang kamu geluti itu seperti apa."


"Datang saja kalau kamu mau, tapi aku yakin, itu untuk pertama dan terakhirnya kamu akan berkunjung."


"Lho, kok bisa gitu, emang kenapa."


"Dunia kantor sangat-sangat membosankan soalnya."


"Tapi kalau ada kamunya pastinya gak donk." canda Arin mesem-mesem.


Lukas terkekeh, "Kayaknya tetap membosankan juga."


Dua insan itu kemudian tertawa bersama.


Dan saat akan pulang, mereka saling bertukar nomer ponsel, Lukas sieh tidak janji akan menghubungi, tapi Arin janji akan menghubungi Lukas.


****


"Gimana Arin sayang." tanya mama Lili saat dalam perjalanan pulang.


"Arin gadi yang baik dan ceria ma." jawab Lukas.


Mama Lili tersenyum mendengar jawaban putranya.


"Wahh, ternyata ada yang sudah akrab nieh ceritanya." papa Sebastian menimpali.


"B aja, gak akrab-akrab banget, baru saja dua kali ketemu."


"Ada rencana untuk ketemu kembali dengan Arin lagi sayang."


"Kalau ketemunya karna direncanakan kayaknya gak deh ma, tapi ya siapa tahu gitu kita ketemunya gak sengaja saat dijalan atau dimana gitu."


"Kata jenk Ratna, katanya Arin itu sebentar lagi wisuda lho."


"Iya ma, Arin juga bilang gitu sama aku."


Papa Sebastian menimpali, "Langsung saja gas bawa ke KUA Lukas sik Arin begitu selesai wisuda."


"Apaan sieh papa ini, bawa ke KUA KUA, Arinkan bukan pacar aku."


"Sekarang itu gak zaman pacar-pacaran, langsung saja bawa ke KUA, dan pacaran setelah menikah gitu, daripada yang pacarannya lama tapi belum tentu juga berjodoh."


"Apa sieh yang papa omongkan, jangan ngomong yang aneh-aneh pa, lagiankan aku dan Arin baru dua kali bertemu, ya kali berakhir dipelaminan."


"Memang kamu tidak ada keinginan gitu untuk membangun rumah tangga."


"Iya adalah pa, tapi untuk saat ini seih belum dulu, Lukas ingin fokus mengurus perusahaan dulu."


"Menikah sambil mengurus perusahaankan bisa sayang."


"Duhh kenapa kalian membahas masalah nikah sieh, iya aku akan menikah, tapi nanti, bukan sekarang, lagiankan Lukas juga masih muda ini."


Akhirnya mama Lili dan papa Sebastian berhenti menyebut-nyebut masalah pernikahan didepan putranya itu karna Lukas sepertinya jengah saat membahas tentang masalah pernikahan.


*****


Siang itu Papa Sebastian berjalan menuju ruangan putranya, terdengar suara Tari menghentikannya.


"Ehh pak, bapak mau kemana." ya wajar saja Tari menghentikan papa Sebastian mengingat dia tidak tahu kalau laki-laki itu adalah papa dari sang boss.


"Saya mau mencari Lukas." jawab papa Sebastian sambil bertanya-tanya dalam hati siapa gadis yang menahannya ini.

__ADS_1


"Apa bapak sudah membuat janji terlebih dahulu dengan pak Lukas."


"Tidak."


"Bapak harus membuat janji dulu kalau mau ketemu sama pak Lukas, pak Lukas itu orang sibuk dan tidak bisa ditemui begitu saja." jelas Tari.


"Ohh begitu ya, kalau boleh tahu, kamu itu siapa ya."


"Saya Tari pak, sekertarisnya pak Lukas."


"Ohh." bibir papa Sebastian membeo, "Ini sekertaris putraku, gadis yang sering bicarakan oleh Lili dan ditelpon untuk menanyakan tentang Lukas oleh Lili." papa Atta memperhatikan Tari, "Cantik." pujinya dalam hati.


Pintu ruangan Lukas terbuka dari dalam yang menampakkan tubuh Lukas.


"Lho papa, papa ngapain ke sini." heran Lukas melihat papanya berdiri didepan ruangannya.


"Ya bertemu kamulah."


"Papa." ulang Tari saat mendengar Lukas memanggil laki-laki yang ditahannya itu dengan panggilan papa.


"Jadi bapak adalah..."


"Papaku Tari."


"Ohh, maaf maaf, saya tidak tahu." Tari merasa bersalah, "Kenapa bapak tidak bilang kalau bapak adalah papanya pak Lukas, tahu begitu saya tidak akan menahan bapak."


"Santai saja Tari, kamu tidak perlu merasa bersalah begitu."


"Saya merasa tidak enak pak."


"Tidak usah di fikirkan, wajarkan kamu menahan saya barusan karna kamu tidak tahu."


"Pa, ayok sebaiknya papa masuk."


"Hmmm." Lukas berjalan masuk duluan.


"Baiklah Tari, saya masuk duluan kalau begitu."


"Baik pak."


Pintu ruangan Lukas ditutup dari dalam.


"Ada perlu apa papa datang ke kantor setelah sekian lama tidak pernah berkunjung." Lukas menyuarakan keheranannya.


Lukas mengarahkan papanya untuk duduk disofa yang terdapat diruangannya.


Papa Sebastian mendudukkan bokongnya dengan nyaman sebelum menjelaskan maksud kedatangannya.


"Papa kesini mau membahas mengenai kerjasama kita dengan Atta Wijaya."


Lukas mendengus saat mendengar nama laki-laki itu disebut oleh papanya.


"Dia menghubungi papa kemarin, katanya kamu main pergi gitu saja sebelum bicara sedikitpun tentang masalah kerjasama yang kita lakukan dengan perusahaannya."


Papa Sebastian menggeleng.


"Dia menghina Tari."


"Tari, sekertarismu barumu itu."


Lukas mengangguk, "Iya."


"Apa yang terjadi, kenapa Atta Wijaya bisa menghina Tari, setahu papa, dia bukan tipe orang yang suka mengina orang lain, apalagi orang yang baru ditemuinya."


"Siapa bilang Tari orang baru ditemuinya."


"Maksud kamu."


"Om Atta Wijaya adalah mantan mertua Tari pa."


"Hah, maksud kamu, Tari adalah menantu Atta Wijaya, begitu maksud kamu."


"Hmmm."


"Kok bisa."


"Dan ada satu hal lagi yang pastinya akan membuat papa terkejut."


"Apa."


"Adam Wijaya, suami Tari yang merupakan anak dari Atta Wijaya, merupakan salah satu korban kecelakaan tabrakan yang Lukas sebabkan waktu itu."


"Apa." papa Sebastian tambah terkejut mengetahui fakta itu, fakta yang sudah terkubur selama satu tahun ini dan tidak pernah diungkit-ungkit lagi, dan memang tidak seharusnya diungkit.


"Jadi laki-laki yang meninggal waktu kecelakaan itu adalah..."


"Iya pa, Adam Wijaya, putra Atta Wijaya, kalau om Atta tahu, sudah bisa di pastikan akan membatalkan kerjasama dengan perusahaan kita, parahnya lagi, Tari pasti akan membenciku seumur hidup." Lukas terlihat lesu.


"Astagaaa, papa tidak pernah menyangka, kita begitu dekat dengan keluarga dari korban kecelakaan malam itu Lukas." papa Sebastian sama sekali tidak pernah menyangka.


"Tapi sepertinya gadis itu terlihat baik-baik saja Lukas, tidak nampak bekas-bekas kesedihannya."


"Iya, dia bisa menjalani hidupnya dengan sangat baik pa, dan aku bersyukur akan hal itu, meskipun Lukas tidak bisa memungkiri kalau berada didekatnya membuat rasa bersalah dan bayangan masa lalu itu terus membayangiku." curhat Lukas untuk pertama kalinya.


"Apa kamu mau papa carikan sekertaris yang baru saja, sepertinya berada didekat gadis itu bisa mempengaruhi fikiranmu." papa Sebastian menawarkan dan saran papanya itu langsung ditolak oleh Lukas.


"Tidak pa, Tari sekertaris yang berkompeten dan bisa diandalkan, gadis itu cerdas, aku yakin, dengan seringnya kami bersama, lambat laun membuatku terbiasa dan membuatku bisa sepenuhnya melupakan bayangan masa lalu."


"Papa Lihat juga seperti itu, Tari adalah tipe gadis profesional, papa rasa, kamu harus menyembunyikan semua ini dari Tari."


Lukas mengangguk membenarkan kata-kata papanya.

__ADS_1


"Hmmm, jadi masalah kerjasama itu..."


"Biar papa yang handle, papa yang nanti akan menemui Atta Wijaya dan berbicara dengannya, selama Atta Wijaya tidak memutuskan hubungan kerjasama tersebut terlebih dahulu, papa rasa kita harus tetap mempertahankan hubungan kerjasama dengannya, biar bagaimanapun, dia adalah rekan bisnis kita yang menguntungkan."


Lukas mengangguk menyetujui.


Setelah mengobrol singkat dengan putranya, papa Sebastian mengajak putranya itu makan siang bersama karna kebetulan sudah waktunya makan siang, "Lukas, bagaimana kalau kita makan siang bersama."


"Boleh pa." ujar Lukas menyetujui usul papanya.


Ayah dan anak itu berjalan bersama keluar ruangan, dan kebetulan saat itu Tari juga akan makan siang.


"Ehh pak Lukas, pak Sebastian." sapa Tari begitu melihat sang bos dan papanya keluar ruangan.


"Kamu mau makan siang Tari." papa Sebastian bertanya.


"Iya pak."


"Ohh, kebetulan sekali, bagaimana kalau kamu ikut bergabung dengan kami, saya dan Lukas juga akan makan siang bersama." papa Sebatian menawarkan.


"Mmm, terimakasih atas tawarannya pak Sebastian tapi..."


"Ayok ikut saja Tari, lagiankan lebih seru lho makan siang rame-rame, daripada sendirian." papa Sebastian memaksa.


"Sudahlah pa, kalau Tari tidak mau jangan dipaksa, Tari mungkin ada janji makan siang dengan orang lain." sela Lukas.


"Apa kamu ada janji makan siang dengan orang lain Tari."


"Tidak ada pak, tapi..."


"Bagus, kamu sebaiknya ikut bergabung bersama dengan kami."


"Mmmm, baiklah kalau begitu."


"Nahh begitu donk." papa Sebastian terlihat senang karna berhasil membujuk Tari ikut makan siang bersamanya.


Tiga orang itu berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar.


Papa Sebastian mengajak Lukas dan Tari makan direstoran china karna papa Sebastian yang memiliki darah chines ditubuhnya menyukai makanan China.


"Tari, tidak apa-apakan kalau om mengajak kamu makan disini, kamu tidak keberatankan dengan makanan china."


"Ohhh tentu saja tidak pak, saya tidak terlalu pemilih dalam hal makanan."


"Baguslah."


Mereka bertiga duduk disalah satu meja kosong, memesan makanan dan menunggu makanan yang mereka pesan tiba papa Sebastian mengajak Tari ngobrol.


"Bagaimana, apa kamu betah menjadi sekertaris putraku Tari."


"Pa, pertanyaan apa sieh itu." protes Lukas.


"Tidak ada salahnyakan kalau papa menanyakan pendapat Tari, iyakan Tari."


"Ehh iya pak, tidak apa-apa kok."


"Tari, jangan panggil pak, panggil saja om."


"Tapi, bapakkan papanya pak Lukas."


"Iya terus kenapa kalau saya papanya Lukas."


"Itu berarti bapak adalah atasan saya juga."


"Tidak begitu konsepnya Tari, saya sudah tidak lagi ikut campur dalam urusan perusahaan setelah menyerahkan kepemimpinan perusahaan kepada Lukas, jadi, jelaskan disini kalau saya bukan atasan kamu, jadi panggil saja om ya."


"Baiklah pak, ehh maksud saya om."


"Nah, begitukan enak didengarnya."


Meskipun begitu, tetap saja rasanya Tari merasa agak sungkan memanggil ayah atasannya dengan panggilan om.


"Nahh jadi Tari, pertanyaan om yang pertama gimana, apa kamu betah bekerja dengan putraku."


Lukas mendengus kesal, pasalnya, papanya masih belum melepas pertanyaannya yang pertama barusan.


"Pak Lukas orangnya baik, saya betah menjadi sekertarisnya pak Lukas."


"Apa kamu tidak terganggu dengan sikap datarnya itu Tari."


"Ahhh tentu saja tidak om." lisan Tari, tambahnya dalam hati, "Aku lebih baik punya boss datar, dingin, cuek dan tidak banyak omong ketimbang punya boss yang genit dan ganjen."


"Papa tidak sangka Lukas, ada juga yang betah dengan sikap kamu itu." papa Sebastian terkekeh.


Setelah menunggu beberapa saat, makanan yang mereka pesan diantarkan oleh pelayan.


Lukas sieh memang sejak tadi diam, tapi papanya yang cerewet sejak tadi, terus mengajak Tari bicara.


"Maaf ya Tari kalau selama jadi sekertaris Lukas, istri saya terus menggrecoki kamu, meminta kamu memastikan Lukas harus makan tepat waktu, meminta kamu menyuruh Lukas tepat waktu, selain jadi sekertaris Lukas, kamu juga harus bersedia jadi penghubung antara istri saya dan Lukas."


"Gak apa-apa kok om, saya ngerti kok, ibu Lilikan mengkhawatirkan pak Lukas, kalau saya yang jadi ibu Lili, tentu saya akan melakukan hal itu."


"Saya baru pertamakalinya menemukan sekertaris seperti kamu Tari, selain cantik, kamu juga baik."


"Om bisa saja." dipuji begitu membuat pipi Tari memerah.


"Pa." tegur Lukas yang sejak tadi diam, "Berhenti ajak Tari ngobrol, lihat itu makanan Tari tidak kunjung habis-habis, kami harus segera ke kantor karna banyak pekerjaan yang harus kami kerjakan."


"Astaga, perkara begitu saja kamu marah." cetus papa Sebastian, "Ayok Tari lanjutkan makanmu, dan santai saja makannya, jangan terpengaruh dengan kata-kata Lukas."


Tari mengangguk, dia kembali melanjutkan makanannya yang masih tersisa banyak.

__ADS_1


****


__ADS_2