CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
LEMBUR


__ADS_3

Sejak insiden pelukan dilift itu tersebar diseantero kantor, beberapa karyawan, khususnya karyawan wanita memandang Tari dengan tatapan sinis, para karyawati itu iri karna Tari sebagai sekertaris pribadinya Lukas bisa dekat-dekat dengan Lukas, dan selain itu, mereka juga berfikir kalau Tari adalah wanita ganjen dan genit, karna sebagai karyawan baru Tari sudah main peluk-pelukan dengan atasan.


Tari hanya berusaha untuk tidak peduli dengan tatapan sinis dan gosip-gosip yang beredar dikalangan para karyawan, dia dikantor inikan murni untuk bekerja, bukan mendekati atasannya seperti yang digosipkan oleh para karyawan-karyawan tersebut.


Dan sejak insiden itu juga, Tari agak salting dan canggung saat berhadapan dengan bossnya itu, seperti saat ini, saat dia dan Lukas sama-sama baru tiba dikantor dan memasuki lobi, Tari salah tingkah saat melihat Lukas menoleh ke arahnya.


Tari tidak ingin menyapa, tapi sebagai sopan santun dan sebagai bawahan, Tari harus tetap melakukannyakan.


"Selamat pagi pak Lukas."


"Pagi juga Tari." jawab Lukas datar tanpa senyum.


Tari berjalan pelan, sengaja membiarkan Lukas berjalan lebih dulu, dia menghindari berdekatan dengan bossnya itu dan berada diruangan yang sama dengan Lukas, apalagi dilift yang tidak terlalu besar, intinya untuk saat ini Tari tidak mau berdekat-dekatan dengan Lukas.


Tapi sayangnya keinginan Tari tidak terwujud karna Lukas menoleh ke belakang, "Tari, apa yang kamu lakukan, ayok cepat supaya kita bisa naik ke lantai atas samaan."


"Ehh, bapak duluan saja." tolak Tari.


"Emangnya kamu masih ada urusan dibawah."


"Mmmm, gak ada sih pak."


"Ya udah ayok bareng kalau gitu." paksa Lukas.


"Ehh, baiklah."


Terpaksa deh Tari mempercepat langkahnya, dia yang saat ini menghindari berada dekat-dekat dengan Lukas harus kembali berada dilift yang sama.


"Gak enak banget sieh canggung kayak gini sama boss sendiri." batin Tari melirik ke arah Lukas yang berdiri tenang agak berjarak darinya, "Kalau difikir-fikir, kenapa aku harus merasa canggung begini, toh pak Lukas saja biasa saja tuh, Tari, bersikap biasa saja oke." ujarnya dalam hati.


Begitu lift terbuka, Tari keluar duluan dari lift dan berjalan cepat ke meja kerjanya, namun Lukas bukannya langsung masuk ke ruangannya dia malah mendekati Tari.


"Pak Lukas kok mendekat seih."


"Tari, apa agendaku hari ini." Lukas bertanya saat berada didekat Tari.


"Untuk hari ini tidak ada agenda bertemu dengan klien ataupun pertemuan dengan yang lainnya pak Lukas."


"Hmm oke."


Lukas berjalan meninggalkan Tari, namun belum jauh, dia kembali berbalik, "Tari."


"Iya pak."


"Bisakah kamu membuatkan saya kopi lagi."


"Ohh, tentu saja bisa pak."


"Terimakasih."


"Kembali kasih." gumam Tari dengan suar kecil.


*****


Baru dua hari kerja, tapi Tari sudah merasakan lembur, saat ini dia berjibaku menyelsaikan beberapa laporan yang harus dia serahkan kepada Lukas malam ini juga, dan saat ini jam sudah menunjukkan angka 09.10 menit dan Tari memperkirakan sepertinya pekerjaannya baru kelar jam 10 ke atas, saat tengah fokus-fokusnya, pintu ruangan Lukas terbuka, Tari reflek mendongak, dia menemukan atasannya itu menatap ke arahnya yang membuat Tari buru-buru menunduk kembali.


Lukas mendekat, "Tari." panggilnya begitu didepan meja Tari.


"Ehh iya pak." Tari kembali mendongak.


"Tolong kamu pesankan saya makan ya."


"Ohh, baiklah, bapak ingin makan apa."


"Kamu ingin makan apa." bukannya menjawab pertanyaan Tari, Lukas malah balik nanya.


"Ehhh, maksudnya pak."


"Kamu juga belum makankan."


"Iya."


"Jadi, kamu ingin makan apa."


"Mmmm...ayam geprek."


"Ya udah, kamu pesan ayam geprek dua porsi dengan nasinya juga."


"Dua pak, bapak bisa menghabiskannya."


"Bukannya satu untuk kamu."


"Untuk saya."


"Iya, jadi pesannya dua ya."


"Ohhh, oke."


Setelah mengatakan hal itu, Lukas kembali ke ruangannya, kini hanya tinggal mereka berdua yang ada dikantor.


"Permisi bu, ini pesanan makanan yang ibu pesan." pak Tono satpam kantor mengantarkan makanan yang Tari pesan.


"Terimakasih pak Tono." Tari mengambil kotak makanan yang diberikan oleh pak Tono.


"Lembur bu."


"Iya pak, saya harus menyelsaikan beberapa laporan."


"Kalau begitu mari bu saya permisi dulu."


"Iya."


Setelah kepergian Tono, dengan membawa satu kotak makanan tersebut Tari berjalan menghampiri ruangan Lukas.


"Pak Lukas." panggilnya begitu tiba didepan ruangan atasannya.


"Iya Tari masuk."

__ADS_1


Tari mendorong pintu, Tari melihat Lukas tengah berkutat dengan laptopnya.


"Pak, ini makanan yang bapak pesan." Tari meletakkan kotak makanan tersebut dimeja Lukas dan berbalik melangkah menuju pintu.


"Tari." panggil Lukas yang membuat Tari yang belum jauh kembali berbalik.


"Kenapa pak, apa ada yang bapak perlukan lagi."


"Apa kamu tidak keberatan kalau kita makan bersama."


Tari terlihat berfikir sejenak.


"Kalau kamu tidak mau tidak apa-apa." ucap Lukas karna berfikir Tari keberatan dengan ajakannya.


"Mmm, iya pak, saya mau kok." Tari mengangguk.


Kini mereka berdua duduk disofa yang terdapat diruang kerja Lukas sambil menyantap makanan yang tadi dipesan oleh Tari.


Karna bisa dibilang mereka tidak pernah ngobrol, hanya bicara seperlunya saja dan itupun hanya menyangkut tentang masalah pekerjaan doank sehingga tidak heran mereka hanya diam, tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk membuka obrolan.


Fikir Lukas, tidak baik juga diem-dieman, sehingga dia berinisiatif untuk membuka obrolan terlebih dahulu, "Mmmm, Tari, apa kamu sudah menginformasikan pada orang rumah kalau kamu akan pulang terlambat."


Tari tidak langsung menjawab, dia terdiam beberapa saat, "Saya tinggal sendiri pak." jawabnya sendu.


"Apa yang kamu fikirkan Lukas dengan bertanya begitu, kamu yang telah menyebabkan Tari tinggal sendirian dengan membunuh suaminya dengan tanganmu, bahkan bayinya yang belum sempat melihat dunia ini juga harus pergi karna ulahmu." Lukas merasa bersalah, tidak seharusnya dia menanyakan akan hal itu, apalagi dia yang menyebabkan itu semua terjadi.


"Maafkan saya Tari kalau pertanyaan saya membuat kamu sedih."


"Ahhh tidak apa-apa kok pak."


Kembali hening, sampai keheningan itu dipecahkan oleh suara ponsel Tari yang berdering, sebelum menjawab panggilan tersebut, Tari melirik ke arah Lukas.


"Mamanya pak Lukas, kira-kira ada apa ya di nelpon aku malam-malam begini." Tari bertanya dalam hati.


Melihat Tari tidak kunjung menjawab panggilan tersebut memancing Lukas untuk bertanya.


"Kenapa tidak diangkat."


"Mmm, ini panggilan dari mamanya pak Lukas."


"Mama, ngapain dia nelpon kamu malam-malam begini." jangankan Tari, Lukas saja heran, kok bisa mamanya menelpon Tari malam-malam begini, "Coba angkat."


Tari mengangguk dan menggeser simbol telpon berwarna hijau, sebelum Tari menyapa, terdengar suara mama Lili dari seberang.


"Halo, Tari."


"Iya ibu."


Tari mengaktifkan pembesar suara sehingga Lukas bisa mendengar suara mamanya.


"Apa kamu saat ini masih dikantor dengan putraku."


Tari menoleh sejenak ke arah Lukas sebelum menjawab, "Iya, saya saat ini tengah bersama pak Lukas."


Tari heran, kalau khawatir tentang putranya, kenapa tidak menelpon Lukas saja, kenapa malah menelponnya, namun kemudian keheranan Tari terjawab oleh penjelasan mama Lili berikutnya.


"Lukas baik-baik saja mama, mama tidak perlu khawatirin Lukas." Lukas menyahut.


"Tari, tolong berikan ponselmu sama Lukas ya, tante ingin bicara sama dia."


"Iya bu."


Tari menyerahkan ponselnya pada Lukas.


"Ada apa ma." tanya Lukas saat tuh ponsel ditempelkan ditelinganya.


Lukas sedikit menjauh supaya percakapannya tidak didengar oleh Tari.


"Kamu itu selalu saja tidak mengaktifkan ponsel kamu, tidak ngabarin mama lagi kalau bakalan pulang telat, kamu tahu tidak mama disini tidak bisa tenang, takut kalau terjadi apa-apa sama kamu, tidak kayak papamu itu yang sudah ngorok terbang ke alam mimpi. Untungnya ada Tari yang bisa mama hubungin, kalau gak mama bakalan mati khawatir mikirin kamu." omel mama Lili.


"Iya maaf ma karna Lukas bikin mama khawatir, ponsel Lukas mati soalnya jadi gak sempat hubungin mama." jelas Lukas supaya terhindar dari omelan mamanya.


"Kebiasaan banget deh kamu, kalau ponselmu mati ya dicas donk."


"Iya nanti dirumah, lagian juga Lukas gak bawa cas ma."


"Kamu kapan pulangnya, apa kamu sudah makan belum."


"Iya ma sebentar lagi juga Lukas pulang, Lukas juga lagi makan saat mama nelpon."


"Apa sieh yang sebenarnya kamu lakukan dikantor, kenapa sampai saat ini kamu belum pulang juga."


"Iya ma, kan Lukas sudah bilang sebentar lagi Lukas akan pulang."


"Ma, sudah dulu ya, Lukas harus menyelsaikan pekerjaan Lukas nieh."


"Cepat pulang ya sayang."


"Iya ma."


Lukas kembali pada Tari saat dia selesai berbicara dengan mamanya, dia menyerahkan ponsel Tari.


"Maaf ya, mama harus nelpon kamu malam-malam begini hanya untuk menanyakan aku."


"Gak apa-apa kok pak."


Satu jam kemudian, Tari sudah menyelsaikan pekerjaannya dan dia kembali ke ruangan Lukas untuk menyerahkan laporan yang telah dia selesaikan.


"Karna pekerjaan saya sudah selesai, saya pamit pulang dulu ya pak." ujar Tari sekalian pamitan.


Lukas mengangguk, sepertinya dia sendiri masih belum akan pulang


****


Lukas menemukan Tari masih berdiri didepan kantor saat Lukas keluar dari kantor.


"Lho Tari, kamu masih disini."

__ADS_1


"Iya pak, saya lagi nunggu taksi."


"Kamu naik taksi malam-malam begini."


"Iya."


Lukas terlihat mendesah berat sebelum berkata, "Tari, apa kamu tidak keberatan kalau kamu saya antarkan, naik taksi malam-malam begini bahaya bagi wanita seperti kamu." Lukas menyuarakan kekhawatirannya.


"Tapi saya sudah memesan taksinya pak."


"Batalkan, kamu pulangnya sama saya saja."


"Tapi pak...."


"Batalkan Tari, saya tidak tenang membiarkan kamu pulang naik taksi malam-malam begini." ujar Lukas tidak bisa dibantah.


"Baiklah pak, akan saya batalkan."


Setelah Tari membatalkan taksi online yang dipesannya lewat aplikasi, gak lama kemudian, mobil Lukas yang dibawa oleh sopir pribadinya berhenti didepan mereka.


"Ayok masuk Tari." ajak Lukas sembari memasuki mobilnya.


Setelah Tari menyebutkan alamat rumahnya, pak Agung yang awalnya menjadi sopir pribadi papa Sebastian kini diambil alih untuk menjadi sopir pribadinya. Pak Agung menjalankan mobilnya untuk mengantar Tari terlebih dahulu.


Didalam mobil suasananya hening, tidak ada percakapan bahkan saat tiba digang menuju rumah Tari berada.


"Terimakasih pak Lukas atas tumpangannya." ujarnya sebelum keluar.


Lukas ikut turun, "Rumah kamu mana Tari."


"Saya hanya perlu memasuki gang dan berjalan dua menit untuk sampai dirumah saya pak." Tari memberitahu.


"Baiklah, ayok saya antar."


"Ehh, gak perlu pak, sampai sini saja." tolak Tari tidak enak.


"Jangan menolak Tari, saya tidak akan tenang sebelum saya melihat kamu masuk ke dalam rumahmu."


"Tapi pak..."


"Ayok jalan." tandas Lukas tidak bisa dibantah.


"Hmmm."


Akhirnya Tari pasrah saat Lukas memaksa untuk mengantarkannya sampai depan rumahnya.


"Lho, kenapa kamu malah jalannya dibelakang Tari, seharusnya kamu yang didepan sebagai penunjuk jalan."


Tari terkekeh membenarkan ucapan Lukas, dia kemudian mengubah posisinya dengan berjalan didepan sedangkan Lukas mengikuti dibelakangnya.


"Sekali lagi terimakasih ya pak karna bapak telah mengantarkan saya sampai depan rumah begini." Tari kembali berterimakasih saat sudah sampai didepan rumahnya.


"Sama-sama Tari."


"Kalau begitu, saya masuk dulu, selamat malam pak Lukas." pamit Tari.


"Selamat malam Tari."


"Tari." panggil Lukas yang membuat Tari berbalik.


"Terimakasih untuk hari ini karna kamu telah bekerja keras."


Tari mengangguk, "Itu sudah tugas saya."


"Masuk dan beristirahatlah, supaya besok kamu bisa menghadapi hari yang baru"


"Iya pak, bapak juga." setelah itu Tari memasuki rumahnya.


Setelah memastikan Tari masuk ke rumahnya dengan selamat, barulah Lukas juga pergi, dia juga harus kembali ke rumah karna tubuhnya butuh istirahat setelah melalui hari yang panjang dan melelahkan.


Tari mengintip dari jendela, dia melihat punggung Lukas yang berjalan menjauh.


"Pak Lukas benar-benar baik dan bertanggung jawab." gumamnya.


****


Waktu berlalu dengan cepat, dan tidak terasa ternyata kini genap sudah sebulan Tari bekerja sebagai sekertaris pribadi Lukas, ini untuk pertamakalinya Tari benar-benar menikmati dan menjalani pekerjaannya dengan hati senang dan riang, intinya Tari betah bekerja diperusahaan milik keluarga Pangestu dan untuk pertamakalinya juga Tari sedikitpun tidak punya niat untuk resign, tentu saja hal ini disebabkan oleh Lukas yang bener-benar boss dalam artian yang sebenarnya bukan boss yang menjadikan Tari sebagai sekertaris sekaligus incaran sebagai selingkuhan, dan Tari bersyukur atas itu.


Laura : Halo Tari, apa kamu masih hidup disana


Tari terkekeh membaca pesan yang dikirim oleh sahabatnya itu.


Tari : Apaan sieh Ra


Laura : Aku fikir sudah jadi almarhum, habisnya tidak ada kabar beritanya sieh


Tari : Akukan sibuk Ra


Laura : Ciee yang menikmati pekerjaannya sekarang, jadi, gak punya niat resign donk kayak yang kemarin-kemarin


Tari : Gak donk, dimana lagi coba nemu boss yang tidak ganjen dan genit kayak pak Lukas


Laura : Baguslah kalau begitu, akhirnya boss kamu yang sekarang benar-benar menggunakan jasa kamu untuk membantunya saja, bukan untuk dijadikan sebagai jasa selingkuhan


Tari : Iya, aku bersyukur atas hal itu


Laura : Besok akhir pekan lho Tar, jalan yuk, refresing gitu


Tari : Gak dulu deh Ra, aku mau istirahat total, satu minggu ini pekerjaan aku lagi banyak-banyaknya, jadi weekend ini aku mau tidur-tiduran saja dan mengistirahatkan tubuhku yang telah aku porsir


Laura : Oh, baiklah kalau begitu, beristirahatlah


Tari : Sorry ya Ra


Laura : Iya gak apa-apa Tar, santai saja


*****

__ADS_1


__ADS_2