CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
KEMESRAAN DIPAGI HARI


__ADS_3

081XX : Pagi Adam


Pagi itu saat memeriksa ponselnya, Adam menemukan sebuah chat masuk diponselnya dari sebuah nomer asing yang tidak dikenalnya.


"Ini siapa." gumamnya saat membaca pesan tersebut.


Karna merasa itu tidak penting, Adam mengabaikan pesan tersebut, dia memilih keluar dari kamar yang saat ini dia tempati dengan Tari, saat keluar dari kamar, Adam mendengar suara berisik dari dapur, dia memilih mengarahkan kakinya kesana.


Adam tersenyum menemukan istrinya tengah sibuk memasak, Tari tidak melihatnya karna posisinya yang membelakanginya.


Dengan langkah pelan supaya tidak ketahuan Adam mendekati istrinya, dan dari belakang Adam melingkarkan tanganya memeluk Tari.


"Pagi sayang." mengecup pipi Tari.


Tari yang tengah sibuk mengaduk-aduk nasi goreng diwajan kaget dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba, apalagi dia tidak mendengar suara langkah Adam saat memasuki dapur.


"Mas Adam, bikin kaget saja." protesnya.


Adam terkekeh, "Duhhh istri aku ini kagetan ternyata." masih memeluk Tari dan makin gencar mencium pipi Tari yang membuat Tari geli.


"Duhh mas Adam, jangan gangguin aku deh, aku lagi masak ini, mending mas Adam keluar deh." usir Tari karna ulah suaminya itu cukup mengganggu aktifitas memasaknya.


"Kok aku diusir sieh sayang." Adam bukannya pergi malah meletakkan dagunya dipundak sang istri.


"Habisnya mas mengganggu, akukan lagi masak."


Tanpa mengindahkan protes Tari Adam berkata, "Terimakasih ya sayang ."


"Untuk..."


"Ya atas pelayanannya semalam."


Gak perlu dijelaskan lebih lanjutlah ya, pasti tahukan apa yang dilakukan oleh sepasang pengantin baru.


Wajah Tari bersemu merah, dia jadi malu saat Adam mengingatkan akan malam pertama mereka yang berkesan.


"Kamu cantik sekali saat rambutmu basah begini."


"Apaan sieh mas Adam, gombal deh." balas Tari malu-malu.


Adam mencium pipi Tari gemes, rasanya dia ingin memakan Tari.


"Sayang." Adam berbisik ditelinga Tari, hal itu membuat bulu kuduk Tari merinding, "Aku mau lagi, mengulangi hal indah yang kita lakukan sekarang."


Sumpah rasanya Tari ingin menyembunyikan dirinya dilubang kelinci, dia sangat malu dan gugup pastinya.


"Aku lagi masak mas." alibi Tari untuk menetralkan rasa malunya, "Lagian ini masih pagi."


"Memang kenapa kalau pagi, kalau sudah jadi suami istri mah bebas kapan saja ngelakuinnya dan dimana saja."


"Sudah deh mas, jangan gangguin aku, aku jadi gak fokus nieh masaknya, mas lebih baik tungguin didepan sambil nonton TV."


"Tapi nanti setelah sarapan kita ngelakuin lagi ya." pinta Adam tidak menyerah membujuk Tari.


"Apaan sieh mas, mesum deh." Tari makin dibuat malu oleh Adam.


Adam terkekeh dan mengacak puncak kepala Tari, gemes dia melihat tingkah laku sang istri yang malu-malu, "Jadi gemes dan ingin makan kamu."


"Duhh mas Adam, jangan acak-acak rambutku, ntar ketombeku masuk lagi ke nasi gorenynya, memang mas mau makan nasi goreng rasa ketombe."


Adam terkekeh menanggapi ucapan Tari, "Kamu ada-ada saja."


"Kenapa masih disini, ayok sana pergi." usir Tari saat melihat Adam masih betah berdiri disampingnya.


"Hmmm baiklah, tapi jangan lama-lama ya sayang, aku sudah tidak sabar untuk melakukannya lagi." godanya mengedipkan mata.


"Isss mas Adam niehh." desis Tari.


****


Adam kembali ke kamar untuk mengambil HPnya, dia ingin menghubungi teman-temannya untuk mencari informasi tentang lowongan pekerjaan, karna dia membutuhkan pekerjaan secepatnya.


Saat memasuki kamar, dia mendengar rentetan suara notif yang masuk ke ponselnya.


"Duhhh siapa sieh yang pagi-pagi gini tidak punya kerjaan gangguin orang mulu." kesalnya dan meraih ponselnya.


Ternyata itu masih dari nomer asing yang pesannya dia abaikan.


"Nomer yang tadi ternyata, siapa sieh ini sebenarnya." herannya mengerutkan kening.

__ADS_1


Adam membuka chat yang dikirim oleh nomer tersebut.


081XX : Adam, kok gak dibalas sieh pesan aku, ini aku Siska anaknya Beny Barata, mama kamu yang memberikan nomer kamu ke aku, gak apa-apakan kalau aku menghubungi kamu.


081XX : Apa aku mengganggu kamu ya pagi-pagi begini.


081XX : Maaf ya kalau begitu, aku hanya ingin menyapa supaya kita lebih akrab


Adam mendesah setelah mengetahui siapa yang mengirim pesan tersebut, "Siska." gumamnya, "Kenapa mama memberikan nomerku sama Siska segala sieh."


Adam : Hai Siska, sorry baru balas, aku harap kita bisa BERTEMAN dalam artian yang sesungguhnya, tidak lebih.


Balas Adam, dia harap Siska menangkap makna teman yang dia tulis dengan huruf kapital, teman dalam artian yang sesungguhnya karna dia sudah bersama dengan Tari.


081XX : Ohh begitu ya


Dilihat dari balasannya, sepertinya Siska kecewa membaca pesan balasan Adam yang hanya menginginkan kalau mereka hanya sekedar berteman, sedangkan dirinya mengharapkan hubungan yang lebih, apalagi mengingat kalau mereka dijodohkan oleh orang tua mereka.


Adam tidak membalas pesan Siska yang terakhir.


"Massss, mas Adam, ayok keluar kita sarapan."


Adam mendengar suara teriakan Tari memanggilnya.


"Iya sayang." dia kembali meletakkan ponselnya dan berjalan ke luar, untuk sementara dia menunda untuk menghubungi teman-temannya untuk menanyakan lowongan pekerjaan.


Dua piring nasi goreng lengkap dengan telur ceplok diatasnya sudah siap terhidang dimeja makan.


"Ayok mas kita sarapan."


"Hmmm." Adam memejamkam matanya meresapi wanginya aroma nasi goreng yang mampir ke hidungnya, dia segera duduk, perutnya meronta-ronta ingin segera minta untuk diisi.


"Mmmm." Adam memejamkan matanya saat nasi goreng buatan sang istri masuk kemulutnya.


Ini bukan pertamakalinya Adam makan masakan Tari, saat mereka masih pacaran, Tari juga sering membawakannya bekal ke kampus, dan sejak dulu memang masakan Tari memang enak, tapi Adam merasa kalau masakan Tari rasanya bertambah enak saat telah menjadi istrinya.


Tari tersenyum melihat ekpresi suaminya, "Bagaimana mas, enakkan." dan setiap kali Adam memakan masakan yang telah dibuat, Tari juga tidak pernah absen menanyakan akan hal tersebut.


Adam mengacungkan dua jempolnya untuk mendeskripsikan pujiannya, "Enak banget sayang, aku sarankan kamu ikutan kompetisi master chef deh."


"Mas terlalu berlebihan, aku tidak sehebat itu untuk ikutan acara begituan." Tari merendah.


"Tapi bagiku, masakanmu adalah masakan terenak didunia, dan mengalahkan masakan chef Juna."


Untuk beberapa saat, mereka makan dalam diam, sampai kemudian Adam berkata.


"Tari, aku ingin mengajak kamu ke rumah orang tuaku."


Tari meletakkan sendok dan garpu yang ada peganganya, dia langsung memberikan perhatiannya sepenuhnya pada Adam saat mendengar kata-kata suaminya tersebut.


"Kita ke rumah orang tua mas Adam." Tari mengulangi.


Adam mengangguk, "Walaupun papa telah mengusirku, dan kemungkinan papa telah mencoret namaku dari kartu keluarga, tapi aku ingin memberitahu mereka kalau aku sudah menikahi kamu, yahh walaupun mungkin saat tiba disana kita akan langsung diusir, tapikan mereka tetaplah orang tuaku, dan mereka berhak tahu kalau aku sudah menikah." jelas Adam.


Mendengar keinginan Adam, Tari terlihat gelisah, dia memilin-milin jari tangannya, tentu saja Tari membenarkan kata-kata Adam, mereka pasti akan diusir saat ke rumah orang tua Adam, Tari jadi inget dengan kedatangan papa Atta yang menawarkan sejumlah uang kepadanya supaya dia mau meninggalkan Adam, hal itulah yang memacu kambuhnya penyakit asma ayahnya yang pada akhirnya membuat laki-laki yang dia sayangi itu harus pulang ke pangkuan Tuhan, tapi Tari cukup berbesar hati menerima kenyataan, dia sama sekali tidak menyalahkan papa Atta atas apa yang menimpa ayahnya, karna fikirnya, ini sudah takdir yang sudah digariskan oleh yang maha kuasa.


"Mas." Tari ingin menceritakan tentang perihal kedatangan papa Atta ke rumahnya, "Sehari sebelum ayah meninggal, papanya mas Adam ke rumah."


"Datang ke rumah ini maksud kamu."


Tari mengangguk, "Dia memintaku untuk meninggalkan mas Adam dan sebagai gantinya, dia memberikan cek kepadaku yang jelas tidak aku terima."


Adam begitu terkejut mendengar hal itu.


"Dan yahh, itu jadi pemicu penyakit asma ayah kambuh sampai dilarikan ke rumah sakit."


"Apa, jadi gara papaku ayah sampai begini." Adam terlihat shock mendengar penjelasan Tari.


"Aku tidak menyalahkan papa mas kok, ini sudah takdir dari yang maha kuasa." ujar Tari berbesar hati, dia juga tidak ingin Adam merasa bersalah dengan apa yang terjadi.


"Ya Tuhan papa, apa yang telah dia lakukan." Adam mendesah berat, sumpah dia sangat merasa bersalah sama Tari karna gara-gara papanyalah ayah Rahman sampai meninggal.


"Maafkan papa Tari, aku sebagai anaknya merasa malu dengan perbuatan papaku." Adam rasanya tidak sanggup memandang wajah Tari, Tari harus kehilangan ayah yang sangat dia cintai gara-gara papanya.


Tari tersenyum tipis, "Kan sudah aku bilang mas, aku tidak menyalahkan papa mas dalam hal ini, ini sudah takdir."


"Terimakasih Tari, kamu bener-bener gadis yang baik dan berhati besar, aku sangat beruntung bisa memilikimu." Adam meletakkan tangannya diatas tangan Tari yang tergeletak diatas meja.


"Aku juga beruntung dinikahi laki-laki bertanggung jawab seperti mas Adam."

__ADS_1


Mereka dua saling melempar senyuman satu sama lain.


"Jadi, kamu tidak membenci papakan."


Tari menggeleng, "Tentu saja tidak, sekarangkan, papanya mas Adam adalah papaku juga."


"Jadi bagaimana menurutmu Tari, apakah kita harus ke rumah keluargaku hanya untuk sekedar memberitahu kepada mereka kalau kita sudah resmi menikah sekarang."


"Baiklah kalau itu yang mas Adam inginkan, mas Adam benar, meskipun hubungan kita tidak direstui, mereka tetaplah orang tua mas Adam dan mereka berhak tahu tentang pernikahan kita ini."


Adam mengecup punggung tangan Tari, "Terimakasih sayang, kamu benar-benar istri yang baik dan pengertian."


****


Dan seperti yang telah direncanakan, dengan meminjam mobil Marcell Adam mengunjungi kediaman orang tuanya bersama dengan Tari.


Perasaan Tari tidak menentu, dia takut sebenarnya, takut berhadapan dengan keluarga Adam yang tidak menyukainya, makanya sejak tadi dia hanya diam saja, Adam juga begitu, dia menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan orang tuanya dan memberitahukan kalau dirinya sekarang sudah resmi menikahi Tari.


"Kamu gugup." tanya Adam saat melihat wajah sang istri terlihat tegang.


"Sedikit mas."


"Mas sendiri pasti gugup juga ya."


Adam mengangguk.


Ternyata suaminya lebih takut ketimbang dirinya, oleh karna itu, Tari meraih tangan suaminya dan mencoba untuk menenangkan, "Semoga semuanya berjalan lancar ya mas, dan semoga mama dan papanya mas Adam bisa menerima pernikahan kita dan memberikan restu mereka." ujar Tari penuh harap.


Adam mengangguk dan mengaminkan.


Setelah 30 menit, Adam menghentikan mobilnya tepat didepan gerbang rumah mewah milik keluarganya, dia membuka kaca mobil dan melongokkan kepalanya keluar untuk meminta pak Amir yang merupakan satpam untuk membukakannya gerbang.


"Pak Amir." teriaknya memangil sik satpam.


Seorang laki-laki berperawakan tegap dan berkulit kecoklatan keluar dari pos satpam yang berada didekat gerbang saat mendengar namanya dipanggil.


Satpam bernama Amir itu terkejut saat mengetahui kalau yang memanggilnya adalah tuan mudanya yang selama tiga hari ini tidak pernah pulang.


"Tuan Adam." pak Amir buru-buru berlari ke gerbang.


"Tuan muda, tuan muda kemana saja tidak pernah pulang beberapa hari ini, itu juga mobil tuan muda kayaknya terparkir terus digarasi."


Adam menjawab, "Iya pak Amir, saya lagi banyak urusan diluar, makanya baru sempat pulang sekarang."


"Ohhh iya juga ya, tuan mudakan sibuk dan banyak kerjaan, makanya jarang pulang, maklum calon pewaris keluarga Wijaya." pak Amir membenarkan dalam hati.


"Pak Amir tolong bukain gerbangnya."


"Iya tuan."


Terdengar suara bergemerincing dari gerbang yang ditarik oleh pak Amir, dibukanya pintu gerbang besi itu lebar-lebar supaya mobil yang dikendarai tuan mudanya bisa masuk.


Sebelum menjalankan mobil memasuki pekarangan rumahnya, Adam bertanya, "Papa ada pak." tanya Adam untuk memastikan.


Sebenarnya dia bisa memastikan kalau dijam segini papanya sudah pulang karna ini memang jam pulang kantor, karna lumayan berumur dan kadang darah tingginya sering kambuh, papa Atta sangat jarang lembur, tidak seperti saat dia muda dulu.


"Ada tuan, bapak baru saja sampai." informasi pak Amir.


Pak Amir mengerutkan kening saat melihat tuannya itu bersama dengan seorang wanita, melihat pak Amir memperhatikan dirinya dengan tanda tanya yang tercetak jelas dijidatnya, Tari mengangguk dan tersenyum tipis sebagai sopan santun, pak Amir mengangguk dan tersenyum kembali.


"Siapa wanita itu, apa itu pacarnya tuan muda kali ya." tanyanya pada diri sendiri, ingin bertanya langsung sama tuan mudanya, tapi kesannya kok tidak sopan saja mengingat dirinya hanya seorang satpam, akhirnya dia hanya memendam keingintahuannya dalam hati saja.


"Terimakasih ya pak Amir, kalau begitu saya masuk dulu."


"Iya tuan."


Adam kembali menjalankan mobilnya dan menghentikan mobil milik Marcell tepat didepan bangunan kokoh tersebut, Adam keluar dan diikuti oleh Tari.


Adam memandang bangunan yang berdiri kokoh itu untuk beberapa detik, rumah yang telah dia tempati selama 25 tahun yang meninggalkan banyak kenangan indah bagi Adam.


"Mas, apa mas Adam baik-baik saja." Tari menyentuh lengan suaminya.


Adam menoleh pada Tari yang berdiri disampingnya, sejujurnya dia tidak baik-baik saja, hatinya rasanya bergemuruh, tidak siap rasanya bertemu kembali dengan orang tuanya setelah dirinya diusir, tapi ya bagaimanapun, bagi Adam mereka tetaplah orang tuanya, dan mereka harus tahu kalau saat ini dirinya sudah menikah dengan perempuan pilihannya.


Adam memaksakan senyum dibibirnya untuk mengelabui Tari, "Iya, aku baik-baik saja Tari."


"Kamu sudah siap bertemu dengan keluargaku lagi." tanyanya balik dan mengegenggam tangan Tari.


Tari mengangguk mantap, "Aku siap mas."

__ADS_1


Setelah mendengar kesiapan Tari, dengan masih menggenggam tangan Tari Adam menuntun istrinya memasuki rumah mewah milik keluarga Wijaya, rumah itu sangat mewah, tapi bagi Tari, saat ini rumah itu sangat menyeramkan.


****


__ADS_2