CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
DIUSIR


__ADS_3

Saat Adam tiba dirumah dan akan menuju kamarnya saat melewati ruang tamu, Adam melihat mama dan papanya duduk disana, sepertinya mereka memang sengaja menunggunya.


Papa Atta langsung berdiri saat melihat kedatangan putranya itu, dia langsung menghampiri Adam dan 'plak' tanpa basa-basi, papa Atta langsung melayangkan tamparan yang cukup keras dipipi Adam yang membuat wajah Adam sampai oleng ke samping.


"Papa." kaget mama Cellin langsung mendekati suaminya saat melihat putra kesayangannya ditampar didepan matanya sendiri.


"Dasar anak kurang ajar, anak tidak tahu diuntung, bisa-bisanya kamu bikin malu papa dihadapan keluarga Barata, pergi begitu saja sebelum pertemuan keluarga barakhir." papa Atta meluapkan amarahnya yang sejak tadi dia pendam, "Ini cara kamu berterimakasih sama papa atas segala apa yang telah papa berikan untuk kamu hah."


"Papa, ya ampun, kenapa papa menampar Adam." protes mama Cellin saat berada didekat suaminya dan putranya.


"Tamparan itu saja tidak cukup ma untuk mengajarkan bagaimana caranya mengajarkan anakmu ini sopan santun didepan orang."


Adam hanya diam menghadapi amarah papanya, ini bukan pertama kalinya dia kena tampar dan dimarahi habis-habisan, dia juga dulu sering dimarahi hanya karna nilainya yang turun saat kuliah.


Mama Cellin mengelus-elus lengan suaminya, "Sudahlah papa, lagiankan keluarga Barata tidak mempermasalahkan kepergian Adamkan, jadi kenapa papa harus marah-marah sama Adam, ini sudah malam lho papa, sebaiknya papa istrihat ya." mama Cellin berusaha membujuk suaminya yang punya tekanan darah tinggi tersebut.


"Adam sayang, kamu juga istirahat ya sayang, besokkan kamu kerja." ujar mama Cellin beralih pada Adam.


Kalau mau jujur, tentu saja mama Cellin kesal dengan putranya itu, tapi rasanya kesalnya langsung sirna saat melihat suaminya menampar Adam, biar bagaimanapun, seorang ibu tidak rela melihat anak yang susah payah dikandung selama 9 bulan dan dilahirkan disakiti didepan matanya meskipun itu oleh suami mereka sendiri, orang yang berperan dalam mencetak anak itu sendiri.


Dengan masih tetap mempertahankan kebisuannya, Adam kembali melangkah menuju kamarnya, namun baru beberapa langkah, kata-kata papanya kembali membuatnya menghentikan kakinya.


"Besok malam, kamu ajak Siska makan malam, supaya kalian bisa lebih akrab lagi, Siska sepertinya menyukaimu." itu bukan permintaan, tapi perintah.


Adam membalikkan badannya mendengar perintah papanya, dan menyuarakan isi hatinya yang dia pendam sejak acara makan malam itu, "Adam tidak menyukai Siska pa, dan Adam tidak mau dijodohkan dengan Siska, karna Adam mencintai Tari dan hanya akan menikahi Tari."


Papa Adam menggeram, dia mengepalkan tangannya, dengan langkah lebar dia kembali mendekati putranya dan kembali melayangkan tamparan.


Plak


Plak


Kali ini tidak hanya sekali, tapi Adam mendapat tamparan dikedua pipinya.


"Papaaaa." mama Cellin berlari menyongsong suaminya untuk mencegah suaminya kalau-kalau dia akan kembali memberikan kekerasan fisik sama putra mereka.


"Papa, apa yang papa lakukan, jangan menyakiti Adam seperti itu pa, ingat lho pa, dia anak kita."


"Apa maksud kamu hah." bentak papa Atta pada Adam dan tidak mengindahkan rengekan mama Cellin.


Adam merasakan pipinya memanas karna sudah ketiga kalinya dia mendapatkan tamparan dipipinya, tapi dia seorang laki-laki, tentu saja meskipun papanya menamparnya dengan keras, tapi rasa sakit akibat tamparan tersebut tidak ada artinya sama sekali.


Adam dengan berani menatap mata papanya yang saat ini menatapnya tajam, dia sudah bertekad untuk tidak menerima perjodohan ini dan akan membangun kehidupan rumah tangga yang bahagia dengan sang pujaan hatinya yaitu Tari.


"Bukannya maksud Adam jelas pa, Adam tidak mau dijodohkan karna Adam hanya mencintai Tari, dan papa tahu itu, tapi papa malah menutup mata dan telinga, papa egois hanya mementingkan uang dan bisnis tanpa memikirkan perasaan Adam."


"Anak kurang ajar."


Plak


Tamparan keempat yang mendarat mulus dipipi Adam, dan paat papa Atta akan kembali mengangkat tangannya untuk kembali memberi tamparan pada Adam, mama Cellin berusaha menahan tangan suaminya, "Pa, jangan papa, mama mohon, jangan tampar Adam lagi, kasihan putra kita." air mata mama Cellin berjatuhan, gak tega rasanya dia melihat putranya ditampar terus oleh suaminya, sebagai seorang ibu, dia juga ikut merasakan sakit.


"Lepasin ma, jangan tahan papa, anak kurang ajar ini perlu dikasih pelajaran." amarah papa Atta kian memuncak.


"Jangan papa, mama mohon, hentikan."


Karna rengekan istrinya, papa Adam terpaksa memendam keinginannya untuk menyalurkan amarahnya, "Lepasin ma."


"Jangan pukul Adam papa."


"Iya, tapi lepasin dulu tangan mama."


Mendengar janji suaminya, mama Cellin akhirnya melepas tangannya dari suaminya.


Dengan emosi yang masih terlihat nyata, papa Atta bertanya, "Jadi, apa yang kamu inginkan sekarang Adam."


"Adam akan tetap menikahi Tari dengan atau tanpa restu mama dan papa." tegas Adam mantap.

__ADS_1


Mama Cellin yang masih berurai air mata menganga mendengar jawaban putranya, dia tidak pernah menyangka putra kesayangannya itu akan lebih memilih hidup bersama dengan wanita yang baru dikenalnya ketimbang orang tuanya yang telah membesarkannya.


"Lihat anakmu ini ma, benar-benar anak yang tidak tahu diuntung, dia malah memilih gadis miskin itu untuk dia nikahi daripada kita sebagai orang tuanya." suara papa Atta meninggi.


"Adam, apa yang kamu katakan sayang, kamu tidak akan benar-benar menikahi gadis itukan." mama Cellin menghiba.


"Iya ma, Adam akan menikahi Tari meskipun tanpa restu dari mama dan papa."


Plak


Entah sudah keberapa kalinya Adam mendapatkan tamparan dalam kurun waktu kurang dari setengah jam, dan kali ini, mama Cellin tida berusaha mencegah suaminya lagi, saat ini batinnya terguncang mendengar kata-kata putranya, dia tidak menyangka, putranya akan memilih menikahi Tari meskipun tanpa restu dari mereka.


"Bener-bener ya kamu Adam, kami sudah memberikan segalanya untuk kamu, tapi ini balasan kamu terhadap kami, bener-bener anak durhaka kamu."


Adam terdiam, dia memejamkan mata meresapi setiap kata yang di lontarkan oleh papanya, Adam membenarkan kata-kata papanya, dia memang anak tidak tahu diuntung, anak durhaka yang tega menyakiti kedua orang tuanya.


"Maafkan Adam pa, ma." hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir Adam menyadari kalau apa yang dikatakan oleh papanya memang benar adanya.


"Pergi kamu dari rumah papa, jangan pernah injakkan kaki kamu lagi disini, mulai sekarang, kamu bukan lagi anak kami." usir papa Atta.


"Papaaa." mama Cellin terkejut mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh suaminya.


"Apa lagi yang kamu tunggu, keluar kamu dari rumah papa Adam, nikahi sana wanita yang kamu cintai, sekarang kamu bebas melakukan apapun yang kamu inginkan."


"Baiklah pa, Adam akan pergi, dan terimakasih karna mama dan papa telah membesarkan Adam dengan baik dan memberikan Adam segala kemewahan, selamat tinggal ma, pa." setelah selesai mengucapkan kalimat perpisahan itu, Adam kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


"Adam." panggil papa Atta dengan suara dingin.


Mendengar suara papanya, Adam menghentikan langkahnya.


"Kembalikan semua fasilitas yang papa berikan kepadamu, kartu kredit, kunci mobil, kamu tidak berhak lagi memilikinya, dan satu lagi, mulai besok, kamu tidak perlu lagi datang ke kantor."


Tanpa protes atau bagaimana, Adam langsung mengeluarkan dompetnya dari kantong celananya dan mengeluarkan apa yang diminta oleh papanya, dan dari kantong satunya lagi, Adam mengeluarkan kunci mobil dan meletakkannya dimeja.


"Terimakasih pa, atas segala fasilitas mewah yang papa telah berikan pada Adam."


"Adammm." mama Cellin berlari berusaha untuk mencegah kepergian putranya.


Begitu berhasil menyusul putranya, mama Cellin menggamit lengan Adam, "Jangan pergi nak, minta maaf sama papamu, katakan sama papamu kalau apa yang kamu katakan barusan tidak benar."


Adam tersenyum miris, sekarang dia merasa benar-benar menjadi anak durhaka karna gara-gara dia mamanya menangis parah seperti ini, "Maafkan Adam ma, apa yang Adam katakan itu memang benar adanya, Adam mencintai Tari dan akan menikahinya."


"Adam, kamu lebih memilih wanita itu daripada mama hah, tega sekali kamu Adam."


"Sekali lagi, maafkan Adam ma, Adam tidak pernah bermaksud menyakiti mama."


"Adam harus pergi ma, Adam bukan lagi bagian dari keluarga ini, selamat tinggal mama, jaga diri mama baik-baik." Adam melepaskan gamitan tangan mamanya dari lengannya dan kembali melanjutkan perjalanannya.


"Adammm." teriak mama Cellin tidak rela membiarkan putranya pergi begitu saja, namun Adam tidak menoleh, dia terus berjalan sampai hilang dibalik pintu.


Mama Cellin kembali kepada suaminya dan membujuk sang suami untuk mencegah kepergian Adam, "Papa, jangan biarkan Adam pergi papa, bagaimana nasib Adam diluar sana papa, dia akan luntang lantung diluaran sana tanpa uang." yang namanya seorang ibu memang tidak pernah tega melihat anaknya menderita meskipun sik anak telah menyakitinya dengan sedemikian rupa.


"Biarkan ma, biarkan dia hidup diluar, biar dia tahu bagaimana rasanya hidup tanpa fasilitas yang kita berikan, dia telah memilih jalan hidupnya sendiri."


"Papa jangan usir Adam begitu papa, kita hanya perlu membujuk Adam, mama yakin dia akan berubah fikiran dan akan menuruti kata-kata papa, ya pa ya, bujuk Adam kembali." rengek mama Cellin.


"Sudahlah ma, jangan tangisi anak kurang ajar itu, dia tidak pantas untuk mama tangisi." tandas papa Atta dan meninggalkan mama Cellin yang menangis hebat karna kepergian putranya.


"Papaa, jangan biarkan putra kita pergi papa." rintihnya.


****


Tempat pertama yang ada dalam fikiran Adam untuk dituju adalah apartmen Marcell, oleh karna itu dia menyetop taksi dan menyebutkan tujuannya pada sik sopir taksi.


Bisa dibilang saat ini Adam sudah tidak memiliki apa-apa lagi karna semua fasilitasnya sudah cabut oleh papanya, tapi untungnya dia masih punya beberapa lembar uang sebagai ongkos untuk sampai diapartmen Marcell.


Begitu tiba di depan apartmen Marcell, Adam menekan beberapa angka yang merupakan kata sandi dari apartmen sahabatnya itu, dan terbuka, Adam bersyukur karna sahabatnya itu belum mengganti kata sandi apartmennya.

__ADS_1


Apartmen itu terlihat gelap, sangat kelihatan kalau penghuninya mungkin sudah tertidur pulas.


Apartmen Marcell memiliki dua kamar tidur, dan biasanya saat Adam menginap diapartmen sahabatnya itu, Adam akan menggunakan kamar yang satunya lagi, Adam bisa saja sieh langsung masuk dikamar yang biasa dia tempati, tapi gak enak juga sieh main tidur saja sebelum izin sama si empunya apartmen, oleh karna itu Adam berjalan ke kamar Marcell dan langsung membuka pintu.


"Cell gue....."


Adam langsung menggantung kata-katanya, matanya melotot dengan bibir terbuka saat melihat sahabatnya itu tengah melakukan pergulatan panas diatas tempat tidur.


Dua orang yang saat ini tengah melakukan pergulatan panas itu langsung menghentikan aktifitas mereka, tentu saja mereka kaget karna melihat tamu yang tidak diundang mengganggu aktifitas seru mereka.


"Sial." umpat Adam, Marcell yang melakukan perbuatan dosa, malah dia yang merasa malu.


"Lanjutkan, gue tunggu lo diluar Cell." Adam menutup pintu kembali dan berjalan ke arah sofa.


Adam menghempaskan bokongnya disofa, "Brengsek sik Marcell, siapa lagi itu yang dia ajak ke tempat tidurnya, benar-benar playboy."


Karna fikirannya lagi mumet, Adam meraih sebatang rokok milik Marcell yang tergeletak dimeja, Adam sudah lama tidak menyentuh rokok saat bersama dengan Tari, Tari benar-benar membawa pengaruh positif bagi kehidupan Adam, tapi kali ini, dia butuh menghisap nikotin yang terdapat dalam kandungan rokok untuk sedikit menenangkan fikirannya yang kalut.


Adam menghisap rokok tersebut dan menghembuskan asapnya, setengah jam kemudian, pintu kamar Marcell terbuka, Marcell dan perempuan yang tadi bergulat dengannya kini sudah berpakaian lengkap.


"Hai bro, maaf karna membuat elo lama menunggu." sapa Marcell santai, dia tidak merasa malu sedikitpun karna kepergok melakukan adegan dewasa dengan perempuan yang bukan muhrimnya.


Wanita yang saat ini bersama Marcell hanya menyunggingkan senyum malu kepada Adam.


"Santai aja bro, gue ngerti kok." jawabnya dilisan, padahal dalam hati kesel banget dia.


"Dam, lo tunggu sebentar, gue mau nganterin Nada balik dulu."


"Oke." gumam Adam.


Marcell menuntun gadis bernama Nada itu keluar apartmennya.


"Marcell Marcell." Adam menggeleng, "Kapan lo berubah, kerjaan lo main perempuan mulu."


****


Setengah jam kemudian, Marcell kembali dan menemukan Adam masih betah duduk ditempatnya, Marcell duduk di ruang kosong disamping Adam, Marcell menatap sahabatnya sejenak sebelum bertanya.


"Lo ada masalah apa lagi." tanyanya to the point.


Adam kembali menghisap rokok dan menghembuskan asapnya sebelum menjawab pertanyaan Marcell.


"Gue diusir dari rumah." jawab Adam santai tanpa beban.


"Hah." tentu saja Marcell terkejut mendengar berita itu, dia meneliti wajah sahabatnya untuk mencari kebenaran apa yang disampaikan oleh Adam barusan, dan melihat wajah Adam yang terlihat biasa saja membuat Marcell jadi berfikir kalau Adam cuma bercanda doank.


"Bercandakan lo."


"Gue serius, ya kali gue bercanda."


"Yang bener lo."


"Hmmm."


"Lo diusir gara-gara apa."


"Gue gak mau menerima perjodohan yang diatur oleh orang tua gue karna gue memilih menikah dengan Tari."


"Whattt." tambah kagetlah sik Marcell mendengar penjelasan sahabatnya.


"Terus."


"Ya gak ada terus-terusnya, gue diusir, dan semua fasilitas yang berikan oleh papa gue dicabut, sekarang gue menjadi cowok kere, haha." tertawa garing.


"Ya ampun, kasihan sekali hidup lo." Marcell prihatin.


"Oleh karna itu, izinin gue nginep di apartmen elo, karna gue gak punya tujuan.

__ADS_1


****


__ADS_2