CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
DANSA


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang sebentar dengan mama Lili dan papa Sebastian, Tari dan Firman pamit dan membiarkan tamu yang lainnya untuk memberikan ucapan selamat kepada mama Lili dan papa Sebastian.


"Tari, apa kamu haus." tanya Firman.


"Iya, sedikit."


"Tunggu ya aku cari minum dulu."


"Iya."


Firman berjalan meninggalkan Tari untuk mengambil minuman.


Saat Firman pergi, Tari merasa asing karna tidak mengenal satupun dari tamu-tamu yang hadir, Tari hanya berharap supaya Firman segera datang.


Disaat seperti itu, Tari mendengar sebuah bisikan tepat ditelingnya yang membuatnya berjengit kaget.


"Akhirnya kamu datang juga."


Tari menoleh ke samping dan menemukan Lukas berdiri disampingnya dengan senyum lebarnya, Lukas begitu sangat tampan dalam balutan tuxedo berwarna hitam yang melekat sempurna ditubuhnya.


"Lukas, kamu itu bikin kaget saja, bisa tidak datangnya jangan kayak tuyul begini." protes Tari.


Lukas terkekeh, "Gitu aja kaget."


"Gimana gak kaget kalau kamu munculnya tiba-tiba begitu."


"Oke deh sorry, lain kali aku tidak akan muncul tiba-tiba kayak gini."


"Hmmm."


"Apa kamu kemari naik taksi."


"Aku datang bersama pak Firman."


"Kamu datang bersama Firman, kamu bilang akan datang sendiri."


"Iya rencananya begitu, tapi pak Firman ngajakin aku bareng, jadi gak enakkan kalau aku nolak."


"Sekarang Firmannya mana."


"Ngambil minum."


"Apa kamu sudah ketemu sama mama dan papa."


"Iya sudah tadi sambil memberi selamat sama mereka."


"Ohh sialan." umpat Lukas memandang ke satu titik.


Tari mengikuti arah pandang Lukas, ternyata yang membuat Lukas mengumpat adalah Arin, gadis itu begitu sangat cantik dan anggun dalam balutan gaun cantik berwarna putih gading dengan rambut yang disanggul.


Lukas kemudian menarik tangan Tari menjauh untuk menghindari Arin.


"Apa yang kamu lakukan Lukas." protes Tari saat Lukas menarik tangannya supaya jauh dari jangakauan Arin yang sejak tadi mencari keberadaannya.


"Kita harus jauh-jauh dari Arin Tari, aku risih sejak tadi gadis itu terus ngintilin aku terus."


"Ya kamu saja yang jauh-jauh, kenapa kamu jadi narik-narik aku juga sieh untuk ikut menjauhinya."


"Sudah diam kenapa sieh, protes terus deh sejak tadi."


Lukas terus menarik tangan Tari sampai menjauhi kerumunan pesta sampai pada akhirnya mereka sampai ditaman belakang hotel tersebut.


"Duhhh, kita ngapain sieh disini, ntar aku di cariin lho sama Firman."


"Sudah cuek saja, yang saat ini harus kamu lakukan adalah menemaniku disini, aku malas berada didalam, Arin itu menarikku kesana kemari difikirnya aku hewan peliharaannya apa."


Tari terkekeh mendengar curhatan bossnya.


"Lebih baikkan disini, lebih tenang dan nyaman."


"Kamu benar juga sieh, tapi nanti kalau mama dan papa kamu nyariin gimana."


"Sudah santai saja, mereka tidak membutuhkan aku kok."


"Tar, kita duduk disana deh." Lukas menunjuk bangku besi yang ada ditengah-tengah taman.


Tari hanya mengangguk, saat Tari akan melangkah, Tari yang saat ini memakai gaun panjang menginjak gaunnya sendiri sehingga hal itu membuat tubuhnya hilang keseimbangan dan membuat tubuhnya terhuyung kedepan, Lukas yang saat ini berada didepannya reflek menangkap tubuh Tari, dia yang dalam keadaan tidak siap saat menangkap tubuh Tari membuat tubuhnya jatuh terjerembab dengan Tari yang tepat berada diatasnya.


Netra mereka beradu satu sama lain, karna dengan posisi menempel begini, Lukas dan Tari bisa merasakan detak jantung satu sama lain, untuk sesaat mereka berada posisi seperti itu.


"Apa yang terjadi denganku, kenapa jantungku berdetak cepat seperti ini." batin Tari.


Lukas juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Tari, jantungnya berdetak cepat, Tari begitu sangat dekat dengannya, bahkan hembusan nafas lembut Tari bisa dirasakan diwajahnya.


Sampai pad akhirnya Lukas mengaduh, "Aduhhh pinganggku." ringisnya.


Tari buru-buru berdiri dari tubuh Lukas, "Aduhh maafkan aku Lukas, aku benar-benar tidak sengaja." Tari membantu Lukas untuk berdiri.


"Sakit ya."


"Ya sakitlah, ditimpa sama kamu, kamukan berat."


Salah satu hal yang membuat wanita sensitif adalah disinggung masalah berat badan, sehingga Tari reflek memukul lengan Lukas, "Aku tidak seberat itu."


"Kamu berat tahu, kalau pinggang aku kenapa-napa, kamu harus tanggung jawab ya."


"Idihhh ogah, akukan gak sengaja."


"Hmmm."


Tari mendengar ponsel yang ada ditas tangannya berbunyi, dia membuka tasanya untuk mencari tahu siapa yang menelponnya.

__ADS_1


"Firman." gumam Tari, "Aku angkat ya." ujar Tari meminta persetujuan Lukas.


Lukas mengangguk.


"Iya pak Firman."


"Tari, kamu dimana, dari tadi aku cari-cariin."


"Aku lagi ada ditoilet pak." bohong Tari.


"Kamu sebaiknya cepat kembali karna sebentar lagi ibu Lili dan pak Sebastian akan memulai acaranya."


"Baiklah." ujar Tari menutup telpon.


"Sebaiknya kita masuk ke dalam deh, katanya acaranya akan dimulai."


"Bisa tidak kita disini saja, aku sangat malas ke dalam."


"Kamu ini bagaimana sieh Lukas, itukan acara mama dan papa kamu, ayok ahh kita masuk kedalam." Tari menarik lengan Lukas untuk masuk ke tempat berlangsungnya acara.


Dan begitu tiba di dalam, acara tiup lilinnya akan dimulai, saat melihat batang hidung putranya, mama Lili melambai meminta putranya untuk mendekat.


"Tuh, kesana gieh, ibu Lili memanggil kamu."


Lukas mendesah berat, "Ada Arin disana, malas aku."


Tari terkekeh melihat wajah Lukas yang terlihat nelangsa, "Sudah sana maju, sebagai anakkan kamu kudu mendapampingi mama dan papamu."


"Kamu juga ikut yuk ke depan."


"Ya gaklah, emangnya aku ini siapa."


"Kamu inikan sekertaris aku."


"Tapi tetap saja aku orang lain Lukas."


"Arin juga orang lain, tapi dia ada disamping mama dan papa."


"Ya bedalah Lukas, mbak Arin itukan calon menantu ibu Lili dan om Sebastian, jadi calon anaklah istilahnya."


"Bisa tidak gak usah sebut-sebut calon menantu, malas aku dengernya."


Tari terkekeh, "Sudah sana maju, ibu Lili dan om Lukas nungguin kamu baru mereka akan tiup lilin, siapa tahu kalian akan tiup lilinnya bersama."


"Kalau itu sampai terjadi, sungguh terlalu."


"Udah ah sana, sejak tadi dipanggilin juga." Tari mendorong lengan Lukas.


Sementara Arin yang ada didekat mama Lili merasa tidak suka melihat intraksi antara Tari dan Lukas yang terlihat begitu akrab, hatinya agak panas gitu melihat kedua orang itu senyum-senyum.


"Kamu kemana saja sieh Lukas, sejak tadi mama cariin juga." omel mama Lili sama putranya.


Sementara Arin menampakkan wajah bete, gimana gak bete, dia sejak tadi mencari Lukas yang meninggalkannya.


Makin panaslah hati Arin saat mendengar pengakuan Lukas, "Jadi Lukas dan Tari sejak tadi berdua, kemana mereka, kenapa mereka tidak terlihat diruangan ini." rutuknya kesal.


"Kamu ini, di otaknya hanya pekerjaan-pekerjaan saja, inikan acara mama dan papa, bisa tidak jangan bahas masalah pekerjaan."


"Iya ma maaf, sekarangkan Lukas ada disini."


"Tuh kamu lihat Arin yang sejak tadi nyariin kamu." mama Lili mengedikkan dagunya ke arah Arin yang terlihat cemberut.


"Maaf ya Rin aku harus ninggalin kamu, aku dan Tari harus membahas hal yang penting soalnya."


"Hmmm." gumam Arin tidak bersusah-susah menyembunyikan kekesalannya.


"Ma, ayok sebaiknya kita mulai saja acaranya." intrufsi papa Sebastian.


"Iya pa."


Dan setelah acara tiup lilin dan pemotongan kue yang tingginya sampai satu meter, kini giliran pengisi acara yang mengambil alih untuk menghibur para tamu undangan.


Musik mengalun lembut dan kemudian disusul oleh suara merdu dari salah satu penyanyi papan atas yang sengaja disewa untuk memeriahkan acara aniversary mama Lili dan papa Sebastian.


Dan pasangan pasutri yang sudah tidak lagi muda itu berdansa untuk menunjukkan betapa harmonisnya hubungan mereka.


Lukas kabur dari dekat Arin, dia kembali mendekati Tari yang terpaku menyaksikan keromantisan pasangan pasutri yang tengah berdansa tersebut.


"Agar kamu tidak ngiler melihat keromantisan orang lain, aku sarankan, mulai sekarang kamu memikirkan untuk mencari pasangan." entah sejak kapan, tapi Lukas sangat senang berbisik ditelinga Tari.


"Astagaa Lukas, bisa tidak kerjaannya jangan bikin orang kaget mulu." Tari memukul lengan Lukas.


"Kamu kagetan sekali ya, dikit-dikit kaget, padahal suara aku kecil lho."


"Makanya, jangan suka muncul tiba-tiba gitu donk."


"Tapi aku suka muncul dengan cara dramatis dan bikin kamu kaget begini." goda Lukas.


"Ishh apaan sieh Lukas."


"Mau dansa denganku." Lukas menawarkan karna beberapa pasangan juga mulai ikutan untuk berdansa.


"Gak deh, terimakasih." tolak Tari.


"Kenapa."


"Ada dua alasan."


"Yang pertama."


"Karna aku gak bisa dansa."

__ADS_1


"Alasan yang kedua." kejar Lukas.


"Karna kamu adalah atasanku."


"Emang kenapa kalau aku atasanmu."


"Ya gak enaklah."


"Gak enak gimana maksudnya."


"Ya gak enak dilihat orang saja, ntar orang pada berfikir macam-macam lagi tentang kita."


"Kamu itu terlalu memikirkan pendapat orang Tari, hanya cuma berdansa doank ya kali orang berfikir kita punya hubungan."


"Kamu ajak Arin saja gieh."


"Gak, aku maunya kamu, kamu seharusnya merasa terhormat lho Tari aku ajak dansa, beberapa gadis sejak tadi lho melirik aku dan sepertinya bertekad untuk mengajak aku turun ke lantai dansa."


"Kamu itu terlalu kegeeran deh."


Bertepatan dengan selesainya ucapan Tari, salah satu gadis datang menghampiri dan mengajak Lukas berdansa.


"Haii, kamu Lukas Pangestukan."


"Iya."


"Maukah kamu berdansa denganku."


"Maaf mengecewakanmu, tapi aku sudah punya pasangan." Lukas menggamit lengan Tari.


"Oh." gadis itu terlihat kecewa dan berlalu meninggakan Lukas.


"Tuh, kamu lihat sendirikan bagaimana larisnya aku."


Tari tertawa mendengar kata-kata Lukas, "Kamu kayak barang dagangan saja."


"Beneran ya Tari, kamu lihat tuh disekelilingmu, gadis-gadis itu pada ngelihatin aku."


Tari mengikuti apa yang dikatakan oleh Lukas, memang benar yang dikatakan oleh Lukas, beberapa gadis muda dan cantik saat ini tengah melirik ke arah Lukas.


"Jadi Mentari Whardhani, tolong kali ini kamu selamatkan aku ya dari pemangsa-pemangsa yang akan menjadikan aku santapan empuk mereka." klakar Lukas.


"Apaan sieh kamu, sejak tadi omongannya ngaco terus."


Tanpa mengindahkan ucapan Tari, Lukas menyodorkan telapak tangannya, "Tari, berdansalah denganku."


Agak ragu, tapi pada akhirnya Tari meletakkan telapak tangannya diatas telapak tangan Lukas, tangan besar Lukas menggenggam erat tangan Tari dan membawanya ke lantai dansa bergabung dengan yang lainnya.


Tari yang tidak pernah sama sekali berdansa merasa kikuk, "Mmm, ini gimana caranya sieh."


Lukas meraih tangan Tari dan meletakkannya dimasing-masing bahunya, sedangkan dia meletakkan tangannya dipinggang Tari.


"Oke, kamu santai saja ya, rileks, ikuti irama lagunya." Lukas menjelaskan.


Dan mereka bergerak mengikuti irama musik.


Tari merasa canggung berdekatan begini dengan Lukas, bukan berdekatan lagi, tapi menempel satu sama lain, Tari yang merasa malu hanya bisa menunduk, dia tidak mau menatap mata tajam Lukas.


"Lihat ke depan donk Tari, masak lihatnya ke bawah sieh, gak ada koin lho dibawah, atau kamu gugup ya berdekatan dengan aku kayak gini." goda Lukas.


"Ehh gak kok." bantah Tari cepat dan langsung mendongak dan netranya langsung bertemu dengan netra Lukas.


Mata Lukas begitu tajam yang membuat Tari merasa masuk kedalam mata itu, dia seperti terhipnotis dengan bola mata hitam legam itu.


"Kamu sangat cantik malam ini Tari." bisik Lukas tepat ditelinga Tari yang membuat Tari merinding, hembusan lembut nafas Lukas menyapu kulitnya.


Karna terhipnotis dengan kelembutan Lukas sehingga membuat Tari meletakkan kepalanya didada Lukas, Tari merasa nyaman, dia sudah lama tidak memiliki tempat bersandar semenjak Adam meninggalkannya, dan saat ini Tari merasa butuh tempat bersandar hanya untuk menghilangkan rasa lelah dan penatnya, dan dia tidak pernah menyangka kalau dada yang membuatnya nyaman ternyata adalah dada milik Lukas, atasannya sekaligus orang yang telah merenggut nyawa Adam dan bayinya.


Tangan Lukas mengelus rambut halus Tari, dia kembali merasakan adanya percikan api yang telah lama padam dihatinya, Lukas tahu, seharusnya dia langsung memadamkannya sejak awal, tapi entah apa yang saat ini tengah difikirkan oleh Lukas sehingga dia membiarkan percikan api itu menyala dan pada akhirnya semakin membesar.


"Pulangnya sama aku ya."


"Tapi pak Firman bagaimana."


"Nanti aku yang bicara dengan dia."


Tari mengangguk, entahlah, Tari tidak tahu apa yang saat ini tengah dia rasakan, tapi saat ini, dia ingin berlama-lama dengan Lukas, laki-laki pertama yang membuatnya nyaman setelah kepergian Adam.


****


Ada dua pasang mata yang sejak tadi melihat kemesraan Lukas dan Tari dengan hati panas, siapa lagi kalau bukan Arin dan Firman, Arin mengepalkan tangannya dengan geram.


"Gak mungkinkan hubungan mereka hanya sekedar sekertaris dan atasan doank, pasti mereka memiliki hubungan khusus." duga Arin, "Pokoknya, aku tidak rela melihat Lukas dengan wanita lain, aku ingin Lukas menjadi milikku."


Sementara itu Firman, Laki-laki itu memang menyukai Tari, dia sering menampakkan rasa sukanya itu sama Tari, tapi Tari memang tidak pernah menggubris perasaannya, dan fikirnya, kalau Tari menyukai Lukas, apa boleh buat, dia tidak mungkin bisakan memaksa orang untuk menyukainya, yang bisa dia lakukan adalah melepaskan dan melupakan perasaanya sama Tari, lagipula, dibandingkan Lukas, jelas dia tidak ada apa-apanya, jadi intinya, Firman sangat tahu diri untuk tidak bersaing dengan bossnya.


Dan begitu lagu berakhir, Tari yang sadar kalau dia sejak tadi menyandarkan kepalanya didada Lukas langsung menarik kepalanya, dia merasa tidak enak.


"Maafkan aku Lukas, aku tadi..."


"It's okey, itu bukan suatu dosa kok."


"Hmmm."


"Apa kamu haus."


Tari mengangguk.


"Aku akan mengambilkan minum dulu untukmu."


Kembali Tari hanya bisa mengangguk, rasanya dia tidak berani menatap mata Lukas karna itu bisa membuatnya terhipnotis seperti tadi.

__ADS_1


****


__ADS_2