
Pagi menjelang, kini Tari duduk dimeja makan sembari menunggu ayahnya. Mata Tari terlihat sembab karna dia menangis semalaman, padahal dia sudah mengompres matanya dengan es batu, tapi ternyata itu tidak berpengaruh sama sekali.
"Ayah, ayok ayah duduk kita sarapan." ucap Tari saat melihat sang ayah mendekatinya dimeja makan, Tari berusaha untuk terlihat ceria dan tersenyum didepan ayahnya, namun sayangnya, apa yang dia lakukan sia-sia belaka karna matanya yang bengkak tidak bisa menyembunyikan apa yang saat ini tengah dia rasakan.
Ayah Rahman menatap putrinya sejenak sebelum mendudukkan bokongnya dikursi.
Tari mengambil piring ayahnya dan mengambilkan nasi goreng yang dia buat dan telur ceplok.
"Ayok makan ayah, ayah harus makan yang banyak supaya sehat dan bertenaga." clotehnya sembari menuangkan air putih digelas ayahnya.
"Nak."
"Kenapa ayah." Tari menoleh.
Ayah Rahman memfokuskan perhatiannya sama Tari, melihat tatapan ayahnya, Tari sadar kalau ayahnya memintanya untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Adam.
Dan benar saja, ayah Rahman kemudian memulai pembicaraan, "Apa yang terjadi antara kamu dan nak Adam Tari, kamu bisa menceritakannya sama ayah."
Tari menunduk, sebenarnya kalau bisa, dia ingin memendamnya sendiri, tapi ya ayahnya tidak mungkin juga tinggal diam melihatnya seperti ini terus, sebagai seorang ayah, tentu saja ayah Rahman khawatir dan ingin sang anak bercerita tentang masalah yang menimpanya, dan siapa tahu dia bisa memberi solusi.
"Nakk, ada apa sebenarnya, apa kamu ada masalah dengan nak Adam atau keluarga nak Adam." ayah Rahman kembali bertanya karna Tari tidak kunjung buka suara.
Tari mengangguk, dia tetap menunduk tidak berani menatap wajah teduh ayahnya, walaupun sudah berusaha untuk ditahan, tapi toh air matanya lolos membasahi pipinya, Tari buru-buru menghapusnya.
"Kenapa, apa yang terjadi, berbagilah sama ayahmu ini nak, jangan dipendam sendiri."
Setelah menguatkan hatinya, Tari mendongak dan menatap wajah ayahnya yang sudah keriput disana sini, begitu melihat wajah sang ayah, Tari kembali sedih karna mengingat hinaan mamanya Adam yang mengatakan kalau dirinya dan keluarganya ingin hidup enak dengan menikahi Adam.
"Ayah, Tari telah memutuskan hubungan Tari dengan mas Adam." ucap Tari memberitahu garis besarnya saja, dan harapannya kalau ayahnya tidak bertanya lebih lanjut tentang alasan kenapa dirinya memutuskan hubungan dengan Adam.
"Ini maksudnya apa nak, ayah tidak mengerti, kenapa kamu tiba-tiba memutuskan hubunganmu dengan nak Adam, padahal saat nak Adam menjemputmu semuanya baik-baik saja."
"Hmmm, mungkin ini yang terbaik untuk kami ayah, Tari merasa tidak pantas bersama dengan mas Adam, mas Adam bisa mendapatkan wanita yang selevel dengan keluarganya." Tari masih berusaha untuk menjelaskan tanpa menceritakan kalau mamanya Adam tidak menerimanya, hal ini dilakukan karna Tari tidak ingin melihat ayahnya sedih.
"Apa kamu sudah memikirkan keputusanmu itu nak, kamu dan nak Adam telah bersama sudah cukup lama lho, dan setahu ayah, nak Adam adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab tanpa pernah menyinggung status sosial."
"Mas Adam memang orang baik ayah, dia bahkan tidak peduli dengan status keluarga kita yang berasal dari golongan sederhana, tapi keluarganya yang tidak menerimaku." jawaban yang hanya bisa Tari ungkapkan dalam hati saja.
"Percayalah sama Tari ayah, ini yang terbaik untuk kami, hubungan kami memang seharusnya berakhir."
Ayah Rahaman mengelus punggung tangan putri semata wayangnya yang tegeletak dimeja dan berkata, "Apapun keputusanmu nak, ayah akan selalu mendukungmu, kamu sudah dewasa, ayah yakin kamu tahu mana yang terbaik untuk kamu." ujar ayah Rahman bijak.
"Iya ayah, terimakasih atas pengertian ayah." air mata Tari kembali meluncur turun.
Ayah Rahman tersenyum, "Kalau ini keputusan yang terbaik yang kamu ambil, seharusnya kamu tidak menangis nak."
"Iya ayah." Tari menghapus air matanya, "Tari tidak akan menangis lagi."
"Terus, apa rencanamu nak."
"Tari akan fokus cari kerjaan saja dulu supaya bisa merubah kehidupan keluarga kita menjadi lebih baik ayah, supaya ayah tidak perlu lagi narik angkot dan tinggal dirumah saja."
"Iya nak, apapun yang akan kamu lakukan, ayah selalu mendukungmu, tapi selagi mampu dan sehat, ayah akan tetap bekerja, ayah tidak ingin jadi beban untuk kamu."
"Ayah jangan berkata begitu, tentu saja ayah bukan beban untuk Tari, ayah adalah segalanya untuk Tari." Tari sedih mendengar kata-kata ayahnya barusan.
"Ayah tahu kamu adalah anak yang berbakti."
"Pokoknya Tari akan cari kerja dan akan membahagiakan ayah, Tari berjanji sama ayah, Tari akan merubah kehidupan kita menjadi lebih baik."
"Ayah akan selalu berdoa untuk kesuksesanmu putriku."
"Terimakasih ayah." Tari berdiri dan memeluk ayahnya.
"Terimakasih ayah karna ayah telah menjadi ayah terbaik untuk Tari, Tari berjanji akan membahagiakan ayah."
"Sama-sama putriku."
Ayah dan anak itu saling berpelukan satu sama lain.
****
Sementara itu diapartmen Marcell, Adam terbangun oleh bunyi ponselnya yang berisik.
Adam menggeliat dan membuka matanya secara perlahan, dengan setengah sadar dia memperhatikan ruangan yang saat ini dimana dia berada, dia sama sekali tidak ingat tentang kejadian semalam.
Dengan menjulurkan tangannya, Adam berusaha menjangkau nakas untuk meraih ponselnya, "Mama." dengusnya saat melihat nama mamanya yang tertera dilayar, Adam memilih mengabaikan panggilan dari mamanya.
__ADS_1
Adam berusaha untuk duduk, "Awhhh." keluhnya memegang kepalanya yang terasa berdenyut, "Sial, kepala gue kenapa bisa sesakit ini." keluhnya.
Adam menyandarkan tubuhnya disandaran tempat tidur, dia berusaha mengingat kejadian semalam, yang dia ingat hanya Tari mengabaikan panggilannya dan chatnya sehingga dia mencari pelampiasan dengan mendatangi club malam dan menenggak minuman beralkohol tinggi, dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.
Adam meneliti setiap sudut ruangan untuk mencari tahu dimana keberadaanya saat ini, saat kepalanya tengah berfikir keras, pintu terbuka yang memampangkan tubuh Marcell.
"Bangun juga lo." sapa Marcell, tangannya membawa nampan berisi roti dan dan jus jeruk dan pil penghilang pusing.
"Marcell." gumamnya.
Melihat sahabatnya itu barulah Adam menyadari kalau saat ini dirinya tengah berada diapartmen milik sahabatnya, sudah cukup lama dia tidak pernah lagi main keapartmen ini sehingga wajar saja dia tidak mengenali kamar yang dulunya sering dia tempati saat menginap.
"Kenapa gue bisa berada ditempat lo."
Marcell meletakkan nampan yang dibawanya dinakas samping tempat tidur sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya, "Karna apalagi, ya karna gue gak mungkin memulangkan elo ke rumah besar lo dalam kondisi mengerikan, gue yakin kalau orang tua lo melihat keadaan putra kesayangan mereka semalam pasti lo bakalan langsung diblacklist dari penerima harta warisan." kekehnya bercanda.
"Semabuk itu ya gue semalam."
"Hmmm, bahkan selama gue mengenal lo Dam, semalam adalah level terparah lo, berjalan saja lo gak sanggup sampai harus gue papah, untungnya lo gak sampai pingsan, kalau iya, mana kuat gue gendong elo."
"Astagaa..." Adam seperti ingat sesuatu, dia langsung bangun.
"Kenapa Dam." tanya Marcell cemas melihat sang sahabat kelihatan panik.
"Gue harus ketemu sama Tari, sudah jam berapa ini." sembari mendekatkan tangannya didepan mata yang dilingkari oleh arloji.
"Sial, sudah jam sepuluh lebih." umpatnya.
"Cell, sepatu gue mana."
"Ada diluar."
Adam dengan tergesa-gesa keluar untuk mencari sepatunya, Marcell mengikuti dibelakang dengan heran, fikirnya, kok sepertinya Adam sengebet itu ingin bertemu dengan Tari, ya Marcell tahu sieh kalau penyebab Adam kembali datang ke club dan sampai membuatnya mabuk berat adalah karna Tari, tapi menurut Marcell ya tidak perlu seheboh ini juga kali, baru bangun langsung ingin nyamperin Tari, kan bisa nanti-nanti.
"Dam, lo gak perlu terburu-buru juga kali, masih ada banyak waktu untuk ketemu sama Tari, lo lebih baik sarapan dulu." Marcell berusaha untuk mencegah kepergian sahabatnya itu.
"Gak bisa Cell, gue harus menyelsaikan permasalahan gue secepat mungkin, gue gak mau sampai kehilangan Tari." Adam memasang sepatunya dengan cepat.
Adam berjalan menuju pintu keluar, namun dia kembali berbalik saat tangannya sudah bersiap untuk membuka pintu, "Oh ya Cell, terimakasih, elo memang sahabat terbaik gue, gue akan menemui elo begitu masalah gue kelar." dan setelah mengucapkan kalimat tersebut, Adam membuka pintu dan pergi.
Marcell hanya menggeleng, "Ahhh cinta benar-benar membuat orang buta."
"Mobil elo gue tinggalin diclub, ntar lo ambil deh kesana."
"Pinjemin gue mobil elo."
Marcell meraih kunci yang tergeletak dimeja dan melemparkannya pada Adam yang dengan gesit ditangkap oleh Adam.
"Thank you Cell." Adam kembali menutup pintu apartmen Marcell.
****
Setelah ayahnya pergi bekerja, Tari kembali mengurung diri dikamarnya, apalagi yang dia lakukan kalau tidak menangis, memang ya yang namanya cinta, cinta bisa membuat orang bahagia sekaligus menangis.
Tari hanya menatap cincin yang disematkan oleh Adam dijari manisnya, Tari memang sudah mengakhiri hubungannya dengan Adam, tapi kok rasanya dia begitu berat melepaskan cincin itu dan mengembalikannya pada Adam, bukan karna itu cincin mahal, Tari bukan gadis matrek kok, hanya saja cincin itulah yang menjadi pengikat dirinya dan Adam.
"Tar...Tari, buka pintunya Tari." itu suara Laura yang baru tiba dan mengetuk pintu rumahnya.
Pagi-pagi sekali, Laura menelponnya untuk mengetahui bagaimana pertemuan Tari dan keluarga Adam, Tari tidak menjawab panggilan dari sahabatnya itu, tapi dia mengirim pesan pada Laura untuk memberitahu kalau pertemuan itu tidak berjalan baik, dan Laura yang selalu ada untuk sahabatnya langsung tancap gas menemui Tari untuk menghibur sahabatnya yang saat ini tengah gundah gulana.
Tari menghapus air matanya, dia bangun untuk membuka pintu untuk Laura.
"Ya ampun Tari." Laura terkejut melihat kondisi sahabatnya yang bisa dibilang berantakan, mata bengkak dengan lubang hidung membesar, itulah mungkin yang membuat laki-laki tidak tega melihat wanita menangis, karna wanita saat menangis terlihat jelek.
"Raaa....hiks hikss." Tari terisak.
Laura langsung memeluk sahabatnya dan mengelus punggungnya.
"Aku sedih Ra." gumam Tari disertai isakan dalam pelukan Laura.
"Iya aku ngerti Tar kesedihan kamu, menangislah kalau itu membuat hati kamu tenang."
Setelah beberapa saat saling berpelukan, Laura menuntun sahabatnya masuk ke dalam, "Kita masuk ya Tar, gak enak kalau dilihat sama tetangga." Laura membawa Tari masuk ke kamarnya.
Fikir Laura, Tari mungkin akan menceritakan apa yang terjadi semalam, dan gak lucu saja kalau mereka bercerita dipintu, kalau tetangga dengerkan bisa jadi bahan gosip.
"Duduk dulu Tar."
__ADS_1
Tari nurut.
"Tunggu sebentar ya aku ambilin minum." ini yang tamu siapa yang tuan rumah siapa.
Laura menuju dapur, dia menuangkan air dalam gelas dan membawanya kembali keruang depan.
"Minum dulu Tari." Laura menyodorkan air putih tersebut pada Tari.
Laura kemudian duduk disamping Tari, dia bersiap mendengarkan cerita Tari.
Tari meneguk air putih itu perlahan, dan dia sedikit menjadi lebih tenang.
"Apa yang sebenarnya terjadi Tar, kenapa kamu bisa mengakhiri hubunganmu dengan mas Adam, memang apa yang keluarganya katakan sama kamu." Laura memulai sesi introgasinya begitu melihat Tari sepertinya sudah siap untuk memuntahkan unek-uneknya.
Kalau sama Laura, Tari memang lebih terbuka, berbeda dengan ayahnya, dia tidak menceritakan keseluruhan ceritanya sama ayahnya karna dia tidak ingin ayahnya terluka dan sedih. Dan mulailah Tari menceritakan penyebab dirinya memutuskan hubungan dengan Adam.
Laura mendengarkan dengan seksama, dia tidak menyela sedikitpun meskipun dalam hati sumpah dia panas banget mendengar hinaan yang dilontarkan oleh mamanya Adam sama Tari.
"Jadi, aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan mas Adam Ra, karna aku yakin inilah yang terbaik untuk kami." kalimat itu mengakhiri cerita Tari yang lumayan panjang.
Respon Laura saat Tari mengakhiri ceritanya, "Ya ampun, jahat banget ya mamanya mas Adam, aku fikir kebaikan mas Adam karna memang bawaan dari keluarganya, tahunya mereka hanya orang kaya yang sok, ya kecuali mas Adam sieh tentunya."
"Terus mas Adamnya sendiri gimana Tar, dia nerima gitu aja kamu putusin atau dia tahu gak penyebab kamu mutusin dia."
Tari menggeleng, "Mas Adam nelpon aku dan ngechat aku semalam, tapi aku abaikan, dichatnya dia bilang dia tidak ingin kehilangan aku dan dia bilang juga sama aku apapun yang terjadi dia akan nikahin aku."
Laura jadi baper mendengar cerita Tari, dia juga ingin suatu saat bisa mendapatkan laki-laki yang mau memperjuangkannya seperti Adam yang memperjuangkan Tari.
"Kamu beruntung Tari, mas Adam benar-benar mencintai kamu."
"Aku tahu Ra, tapi apakah bisa cinta kami bersatu saat orang tuanya tidak menyukaiku, dan sudah pasti mereka tidak akan merestui hubungan kami seandainya hubungan kami berlanjut."
Laura mengangguk-anggukkan kepalanya, "Kamu ada benarnya sih Tar, tapi gimana kalau mas Adam tidak peduli dan lebih memilih kamu, apa yang akan kamu lakukan."
"Itu tidak mungkin Ra, kalau dikasih pilihan, mas Adam sudah pasti memilih orang tuanya, dan aku tidak akan menyalahkan mas Adam, tapi ya mas Adam gak perlu milihkan Ra karna aku sudah mengakhiri hubungan kami."
"Aku yakin mas Adam pasti akan nyari kamu Tar, dia gak mungkin nerima gitu aja kamu putusin."
Bertepatan dengan selesainya kalimat Laura, pintu rumah Tari digedor dengan cukup keras dari luar, tidak perlu bertanya siapa yang melakukan itu karna suara gederan itu kemudian disertai dengan teriakan, "Tariii, buka pintunya Tari, aku tahu kamu didalam, ayok bicara baik-baik Tari."
"Mas Adam." lirih Tari.
Laura berdiri berniat untuk membuka pintu untuk Adam, namun Tari memegang pergelangan tangannya dan menggeleng, "Jangan dibuka Ra, aku gak mau ketemu sama mas Adam untuk saat ini."
"Tapi Tar, kamu harus menyelsaikan masalah kamu dengan mas Adam, kalian bicarakan gitu baik-baik, kasihankan mas Adamnya."
"Aku tahu Ra, tapi saat ini rasanya aku belum siap untuk bicara dengan mas Adam, aku butuh waktu Ra."
"Tari sayang, buka pintunya ya sayang, jangan menghindari aku kayak gini." suara Adam masih terdengar diluar, suaranya terdengar putus asa.
"Plis Ra, ngertiin aku, aku pasti akan nemuin mas Adam, tapi aku belum siap saat ini." Tari menghiba berharap Laura mengerti
Laura menghela berat, dia kembali duduk, "Baiklah Tar kalau kamu tidak ingin menemui mas Adam untuk saat ini, tapi jangan terlalu lama juga, kasihan mas Adamnya sepertinya tersiksa."
Tari mengangguk, "Terimakasih Ra atas pengertiannya." Tari memeluk Laura.
Laura mengelus lembut rambut Tari.
Mereka berdua berdiam diri dikamar dan tidak mempedulikan Adam yang terus menggedor-gedor pintu dan terus-terusan memanggil Tari.
"Tari keluar Tari."
Ternyata suara Adam yang cukup berisik memancing tetangga mendekat ke rumah ayah Rahman untuk mencari tahu penyebab keributan tersebut.
"Maaf mas, mungkin neng Tarinya tidak ada dirumah." tegur tetangga yang menggendong anaknya tersebut memberitahu Adam.
"Ohhh iya bu, saya rasa juga begitu, soalnya sejak tadi saya panggil dia gak keluar-luar, kira-kira menurut ibu dia kemana ya."
"Setahu saya, neng Tari itu baru wisuda, ya maklumlah mas, orang baru diwisuda, mungkin saat ini neng Tari tengah mencari pekerjaan gitu." jawab sik ibu.
"Mungkin juga."
"Ya udah bu saya pulang saja kalau gitu, minta tolong ya bu kalau Tarinya pulang kasih tahu ada yang nyari dia, namanya Adam." pesan Adam.
"Iya mas, kalau neng Tarinya pulang, pasti akan saya sampaikan."
"Terimakasih bu, saya pamit dulu kalau gitu."
__ADS_1
Akhirnya karna merasa apa yang dikatakan oleh ibu itu benar adanya, Adam memilih untuk pergi dari rumah Tari dan berjanji akan datang kembali.
****