
Tari mengambil kartu ucapan yang ada ditangan Lukas, dia mendesah kesal setelah membaca kartu ucapan yang ditulis oleh Arin, sebagai seorang wanita, tentu saja dia tidak suka kalau laki-laki yang dia cintai mendapatkan perhatian dari wanita lain.
"Mbak Arin sepertinya masih belum menyerah untuk mendapatkan perhatianmu mas."
"Kayaknya seperti itu."
"Dia benar-benar wanita idaman ya mas."
"Maksud kamu apa Tari."
"Dia cantik, baik, ramah, cerdas, pintar masak lagi, pasti banyak laki-laki yang mengejar-ngejarnya." nada suara Tari terdengar ketus saat menyebut sederet kelebihan Arin, Tari merasa dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Arin, kalau kemarin-kemarin dia selalu menyebut-nyebut kelebihan Arin tanpa perasaan apa-apa, kini setelah dia menjalin hubungan kedekatan dengan Lukas, dia merasa agak gimana gitu dengan Arin, mungkin istilah yang tepat cemburu kali ya.
"Yah aku memang mengakui kalau Arin itu cantik, baik, ramah dan juga cerdas." Lukas membenarkan kata-kata Tari barusan, dan hal tersebut berhasil membuat Tari jeoulas, itu wajar sieh mengingat tidak ada satupun wanita di dunia ini yang suka mendengar laki-laki yang dia cintai memuji wanita lain di depannya.
Tari ingin mengatakan, "Kalau begitu, kenapa kamu tidak bersama dengan Arin saja." tapi sebelum dia berkata begitu, Lukas mendahuluinya dengan berkata, "Tapi aku tidak peduli akan hal itu, karna hatiku hanya untuk Mentariku seorang."
Tari yang tadinya kesel kini hatinya menjadi menghangat mendengar kata-kata Lukas barusan, reflek, kedua sudut bibirnya melengkung.
Lukas berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan mengitari mejanya untuk menghampiri Tari, Lukas mengulurkan tangannya kepada Tari, Tari menaruh telapak tangannya diatas permukaan telapak tangan Lukas, Tari kemudian berdiri dan Lukas menarik pinggang Tari mendekat ke arahnya yang membuat tubuh mereka menempel satu sama lain, Lukas menatap Tari dengan tatapan sarat akan cinta, dipandang dengan penuh kelembutan begitu membuat Tari malu dan menunduk, rasanya dia tidak sanggup menatap mata tajam Lukas, karna itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
Lukas marapikan rambut Tari yang agak berantakan dan menyelipkannya ditelinga Tari, "Tatap aku Tari."
Dengan ragu Tari mendongak dan memberanikan dirinya memandang mata Lukas.
"Aku mencintaimu, dan hanya mencintaimu, jadi jangan pernah meragukan perasaanku kepadamu."
Tari mengangguk, Tari bisa melihat kalau Lukas begitu sangat mencintainya, itu terlihat dari pancaran mata Lukas.
Tari merebahkan kepalanya di dada bidang Lukas, dulu dia fikir, hanya Adam yang bisa memberikanya kenyamanan, tapi Tari salah, nyatanya Lukas mampu menghadirkan kenyamanan untuknya.
"I love you Tari." bisik Lukas ditelinga Tari.
"I love you tou mas."
Disaat mereka tengah saling memberikan kenyaman satu sama lain dengan saling berpelukan, tiba-tiba pintu ruangan Lukas terbuka tanpa peringatan dan itu tentu saja membuat Tari reflek mendorong tubuh Lukas menjauh darinya, dia dan Lukas kaget saat mengetahui kalau yang datang itu adalah Sebastian papanya Lukas.
Tidak hanya Tari dan Lukas yang kaget, papa Sebastian juga tidak kalah kagetnya dengan kedua orang itu, matanya bahkan sampai melebar melihat putranya dan sekertarisnya itu tengah berpelukan, dan papa Sebastian langsung menyimpulkan tentang satu hal dalam benaknya, "Apa Tari wanita yang disukai oleh Lukas."
Papa Sebastian memandang Lukas dan Tari bergantian dengan curiga, dua orang itu terlihat salah tingkah karna kepergok berpelukan.
"Papa, kenapa papa datang tiba-tiba tidak memberitahu Lukas lebih dulu." sapa Lukas setelah berhasil mengatasi kekagetannya.
"Inikan masih perusahaan papa juga Lukas, papa gak perlu bilang-bilangkan kalau mau kesini."
"Hmm, papa benar."
Tari merasa tidak enak dengan papa Sebastian, apalagi papa Sebastian terus memperhatikannya, hal itu membuat Tari berfikir yang tidak-tidak, "Apa om Sebastian marah sama aku karna melihatku berpelukan dengan Lukas, apakah dia seperti papa Atta yang juga tidak akan menerimaku dan memusuhiku, bagaimana ini."
Tari merasa gelisah, dia memilin-milin jari tangannya yang berkeringat, suatu hal yang sering dia lakukan saat dia merasa gelisah.
"Mmm, pak Lukas, om Sebastian, saya permisi dulu kalau begitu." ujar Tari pamit.
Lukas mengangguk.
Dan setelah mendapatkan persetujuan, dia dengan terburu-buru langsung keluar, dia ingin segera menjauh dari jangkauan pandangan mata om Sebastian yang setajam silet, laki-laki itu memang baik dan ramah kepadanya, tapi Tari fikir, itu bukan menjadi jaminan kalau om Sebatian akan merestui hubungannya dengan Lukas, setiap orang tua pasti mengharapkan yang terbaik untuk anak mereka, dan Tari merasa dia bukanlah wanita yang baik untuk Lukas.
Saat fikiran-fikiran negatif tentang tidak direstuinya hubungannya dengan Lukas, Tari dibuat kaget oleh sentuhan dipundaknya.
"Chaca." desahnya, "Kamu bikin aku kaget saja."
"Astaga, gitu saja kaget."
"Kamu lihat apa sieh, dari tadi aku perhatikan kamu terus memandang pintu ruangannya pak Lukas."
"Gak ada apa-apa." bohongnya.
"Gak mungkin tidak ada apa-apa, emang ada apa sieh."
"Beneran gak ada apa-apa Cha, tadi hanya pak Sebastian yang datang mengunjungi pak Lukas."
"Oh kirain ada apa."
"Tari."
"Hmm."
__ADS_1
"Wajah kamu kelihatan pucat gitu." komen Chacha saat memperhatikan wajah Tari dari dekat.
"Masak sieh."
"Iya, apa kamu sakit."
"Tentu saja tidak, mungkin ini efek aku kurang tidur kali ya." bohongnya.
"Kamu kurang tidur selama ini, apa ada yang kamu fikirkan."
"Masalah pekerjaan Cha, seabrek yang harus diselsaikan."
Dan Chacha percaya lagi apa yang dikatakan oleh Tari.
"Oh ya, kamu ngapain kemari, inikan masih jam kerja, sana balik, ntar pak Lukas marah lagi."
"Aku kesini cuma mau ngajakin kamu makan siang bareng ntar."
"Iya boleh."
"Oke deh kalau gitu aku balik dulu, sampai ketemu nanti Tari."
****
Kembali ke ruangan Lukas, Lukas bersiap untuk disidang oleh papanya didalam, papa Sebastian mengambil tempat duduk dikursi presdir, kursi yang dulunya adalah kursi yang sering dia duduki setiap hari, dan kini kursi itu sudah berpindah tangan kepada putra tunggalnya. Lukas masih setia menunggu apa yang akan dikatakan oleh papanya yang saat ini mungkin tengah mengumpulkan daftar pertanyaan yang akan dia tanyakan kepada Lukas.
"Jadi." papa Sebastian mulai buka suara, "Gadis itu ternyata adalah Tari hah."
"Hemm."
"Papa tidak marahkan." Lukas menatap papanya takut-takut, takut kalau papanya mengetahui wanita yang dia sukai, papanya itu tidak akan setuju.
Papa Sebastian terdiam beberapa detik, dan hal itu membuat Lukas tegang saja.
"Tentu saja papa tidak marah, tidak ada yang salahkan dengan kamu yang jatuh cinta dengan Tari."
Lukas tersenyum lega mendengar jawaban papanya, "Terimakasih pa."
"Hanya saja, papa tidak pernah menyangka kalau gadis yang kamu sukai itu adalah Tari, gadis yang kamu hancurkan hidupnya dimasa lalu."
Lukas duduk dikursi yang berhadapan dengan papanya, dia menarik nafas sebelum berkata, "Aku saja tidak pernah menyangka pa, kalau gadis yang aku sukai adalah Tari, aku sadar pa, seharusnya aku tidak menyukainya, bagaimana reaksinya kalau dia tahu akulah yang membunuh suaminya, aku takut pa, aku takut kalau dia tahu, dia akan meninggalkanku, aku sudah terlanjur mencintainya." curhat Lukas sama sang papa.
Lukas menyandarkan punggungnya disandaran kursi dan menatap langit-langit ruangannya.
"Lukas, papa harap kamu segera memberitahu Tari akan hal itu, sebelum dia tahu dari orang lain." papa Sebastian menyarankan, "Jangan membangun sebuah hubungan diatas kebohongan Lukas."
"Iya pa, aku pasti akan memberitahunya, aku akan mencari waktu yang tepat."
"Kapan-kapan, ajaklah dia makan malam ke rumah Lukas, meskipun mamamu sudah mengenalnya, tapi pasti dia ingin kamu membawa Tari secara resmi dan memperkenalkannya sebagai calon istrimu, kamu tahu, setiap malam, mamamu itu sebelum tidur terus saja membicarakan tentang calon menantunya, dia berharap kamu segera memperkenalkannya kepada kami."
"Apa mama akan menerima Tari pa."
"Pasti, papa yakin itu, kamu tahu sendirikan mamamu orang yang seperti apa, asal kamu bahagia, dia akan selalu mendukungmu apapun pilihan kamu."
"Pa, papa jangan beritahu akan hal ini sama mama dulu bisa, biarkanlah ini menjadi rahasia kita dulu."
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, papa tidak akan membocorkan akan hal ini sama mama kamu, meskipun papa harus mati bosan mendengarkan tentang ocehannya tiap malam, tapi meskipun begitu, papamu ini sangat mencintai mamamu yang bawel."
Lukas terkekeh mendengar curhatan papanya tentang mamanya.
"Wahh, kue dari siapa ini Lukas, kelihatannya enak." papa Sebastian menjilat bibirnya saat melihat kue yang dikirim oleh Arin tersebut ada diatas meja kerja putranya.
"Itu dikirim oleh Arin pa, makan saja kalau papa mau."
"Arin sebenarnya menantu idaman, apalagi mamamu sangat berharap dialah yang menjadi pendampingmu, tapi kalau kamu sukanya sama Tari, ya kami juga harus setuju, biar bagaimanapun, kebahagianmu adalah hal yang paling penting, lagian Tari juga wanita yang baik, dan juga cerdas, dan masalah status jandanya, papa rasa, janda lebih berpengalaman daripada perawan, jadi gak masalah." kekeh papa Sebastian.
Lukas tersenyum kecil mendengar ocehan papanya.
"Oh ya Lukas, papa ingin makan kue ini, tolong donk, minta tolong sama calon menantu papa untuk membawakan papa pisau, garpu dan juga piring."
"Baik pa." Lukas kemudian meraih gagang telpon yang tergelatak dimeja kerjanya dan menghubungi Tari.
"Tari, tolong kamu bawakan papa pisau, garpu dan juga piring ke ruangan aku ya, papa katanya ingi makan kue yang dibawa oleh Arin."
"Baik pak."
__ADS_1
*****
"Duhh, masak aku kembali ke ruangan pak Lukas sieh, aku malu ketemu sama om Sebastian." lirih Tari saat membawakan apa yang diminta oleh Lukas.
Tari menarik nafas dan membuangnya, hal itu dilakukan untuk menenangkan dirinya, setelah merasa tenang, barulah Tari menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu ruangan Lukas.
"Masuk mantu."
Tari dengan jelas mendengar suara papa Sebastian, "Ehhh." heran Tari saat mendengar papa Sebastian memanggilnya dengan panggilan tersebut, "Aku tidak salah dengarkan, papa Sebastian memanggilku dengan panggilan calon mantu."
Tari mendorong pintu, pandangannya langsung bertemu dengan papa Sebastian yang tampak tersenyum kepadanya, Tari membalas senyuman papa Sebastian dengan senyum simpul, sesungguhnya dia tidak menyangka kalau papa Sebastian akan tersenyum padanya, dia fikir papa Sebastian akan bersikap ketus kepadanya setelah tadi memergokinya tengah berpelukan dengan Lukas.
"Ini om, yang om minta." Tari meletakkan piring, pisau dan garpu dimeja.
"Apa om mau dipotongin kuenya."
"Tentu saja calon mantu."
Tari merasa salah tingkah mendengar papa Sebastian yang memanggilnya dengan pannggilan calon mantu, "Aku memang gak salah dengarkan, om Sebastian memanggilku dengan calon mantu, apa ini artinya hubunganku dan mas Lukas mendapat persetujuan darinya." Tari bertanya-tanya dalam hati.
Tari memotong-motong kue yang dikirim oleh perempuan yang mencintai kekasihnya dan kemudian meletakkannya dipiring, dan setelah itu, barulah dia meletakkannya di depan papa Sebastian dan satunya lagi didepan Lukas.
Lukas tersenyum saat Tari melakukan hal itu, dia seperti dilayani oleh istrinya sendiri.
"Terimakasih calon mantu."
"Sama-sama om."
"Kalau begitu saya permisi."
"Tari, kamu bisa bergabung dengan kami, gak usah terburu-buru." papa Sebastian menahan Tari.
"Tapi om..."
"Ayok duduklah Tari, bergabung dengan kami makan kue yang dikirim oleh Arin."
Tari menoleh ke arah Lukas untuk meminta persetujuan dari laki-laki itu dan Lukas menganguk.
"Baiklah om."
"Nahh, ayok kita sebaiknya duduk di sofa saja, masak iya kamu harus memangku Tari Lukas, itu pasti akan membuat papamu ini iri."
Lukas terkekeh mendengar cletukan papanya, sedangkan Tari hanya tersenyum malu.
Dan saat ini, ketiga orang itu sudah duduk nyaman di sofa yang ada diruangan Lukas, papa Sebastian duduk disinggle sofa, sedangkan Tari dan Lukas duduk berdekatan, tadinya Tari duduk mengambil jarak dari Lukas, tapi Lukas malah mendekatinya dan duduk disampingnya, bahkan mereka duduknya berdempetan.
"Aihh Lukas, kamu sejak tadi terus saja menempel-nempel sama Tari, kamu tahu tidak, itu membuat papa iri saja."
Tari hanya bisa menunduk, dia berusaha untuk menggeser duduknya, sayangnya Lukas menahan pinggangnya sehingga di tidak berhasil melakukan hal itu.
"Papa ini sudah tua masih saja iri sama yang muda, papa sudah kadaluarsa melakukan banyak hal dengan mama." balas Lukas atas ledekan papanya barusan.
Papa Sebastian tertawa menangapi kata-kata Lukas
Dan kini, papa Sebastian memfokuskan dirinya sama Tari, calon menantunya, "Saya ingat, saya pernah bertanya sama kamu Tari dengan pertanyaan, 'Apa kamu betah menjadi sekertaris Lukas', kamu masih ingat Tari."
"Iya om."
"Sekarang saya bertanya, apa kamu betah menjadi kekasihnya Lukas."
"Iya om." jawab Tari sambil menunduk.
"Duhh Tari, saya itu tidak gigit lho, jadi saya berharap kamu gak usah sungkan, apalagi takut sama saya, biasa saja ya."
"Iya om." lagi-lagi jawaban Tari hanya iya saja.
"Jadi, sudah berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Lukas Tari."
"Baru dua hari om."
"Baru dua hari dan putraku sudah tergila-gila sama kamu Tari, baru kamu lho yang bisa membuatnya seperti ini."
Tentu saja Tari tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh papa Sebastian, tapi dia tidak menyuarakan ketidakpercayaannya dalam bentuk lisan.
"Om bisa saja." jawabnya.
__ADS_1
Tari bersyukur dalam hati karna ternyata kekhawatiran tentang papa Sebastian tidak terjadi, papa Sebastian sepertinya menerimanya dan tidak masalah dengan hubungannya dengan Lukas, dari sini Tari belajar kalau semua orang kaya tidak sama, tidak semua orang kaya seperti papa Atta dan mama Cellin yang memilih calon menantu berdasarkan status sosialnya
*****