CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
MAKAN SIANG BERSAMA BOS


__ADS_3

Semuanya berlalu sebagaimana mestinya, meskipun yah memang pekerjaan yang jalani oleh Adam cukuplah berat, dia yang terlahir kaya dan bergelimang harta saat ini tengah berjuang menghadapi kerasnya hidup, sudah sepuluh hari Adam bekerja sebagai kuli dengan upah kecil dan dibayar harian, uangnya Adam tabung dan niatnya akan diberikan sama Tari begitu sudah masuk waktu satu bulan sebagaimana pekerja kantoran pada umumnya.


Tari tidak curiga sama sekali dengan Adam, karna paginya mereka berangkat bareng, dan dari rumah Adam mengenakan pakaian rapi seperti pekerja kantoran pada umumnya, tapi kemudian, Adam mengganti pakaiannya sebelum mencapai tempat kerja.


Adam bekerja dengan penuh semangat, tiap hari berada dibawah teriknya sinar matahari membuat kulit Adam yang dulunya putih kini berubah kecoklatan, tangannya juga kasar seperti kuli pada umunya, Tari tentu saja heran dengan perubahan kulit suaminya, namun Adam selalu bisa mengelabui Tari dengan mengatakan bahwa dia bekerja disebuah perusahaan yang menempatkannya di devisi yang banyak diterjunkan ke lapangan sehingga membuat kulitnya menjadi kecoklatan karna sering terpapar sengatan sinar, dan Tari percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang suami.


"Wahhh, saya sebenarnya sejak awal melihat mas Adam meragukan kalau mas Adam bisa bekerja berat begini, mas Adam terlihat lebih cocok bekerja dikantoran." pak Yahya yang menjadi mandor dibangunan yang saat ini Adam kerjakan menyuarakan keheranannya saat melihat-lihat untuk memantau para pekerjanya, "Saya tidak menyangka kalau mas Adam ternyata kerjanya rajin dan penuh semangat."


"Hehe, iya pak, terimakasih atas pujiannya." Adam menanggapi, "Saya harus bekerja keras, sebagai kepala keluarga saya harus menafakahi keluarga saya."


"Kalau boleh tahu, apa mas Adam sudah punya anak."


"Belum pak, ini masih dalam proses."


"Semoga segera diberikan momongan ya mas Adam." menepuk-nepuk pundak Adam.


"Amin, terimakasih doanya pak."


Pak Yahya berlalu dan melihat-lihat pekerjan para pekerjanya yang lain.


Adam mengibas-ngibaskan topi yang dia pakai didepan wajahnya, saat ini waktu istirahat makan siang, dan Tari telah membuat bekal untuknya.


Saat tengah bersantai begitu, ponselnya yang berada disaku celananya berbunyi, itu merupakan panggilan dari kakaknya.


"Iya mbak, ada apa."


"Adam, kamu dimana, mbak mau ketemu sama kamu."


"Bisa nanti saja mbak ketemunya."


"Memang apa yang kamu lakukan sekarang."


"Mmm, kerja."


"Kamu sudah dapat kerja Dam." suara Hawa terdengar antusias.


"Ya begitulah." jawab Adam lemah mengingat orang-orang yang disayanginya begitu senang mendengar dirinya mendapatkan pekerjaan, kalau mereka tahu apa yang dia kerjakan, mereka pasti akan kecewa.


"Mbak senang banget dengernya, kamu bekerja diperusahaan mana Dam, akhirnya ya, ada juga yang mau menerimamu tanpa menyertakan ijazah di cv lamaranmu."


"Nanti saja Adam jelaskan saat bertemu mbak."


"Oke."


"Ketemunya sore saja ya mbak."


"Baiklah, nanti mbak kirimkan alamatnya ya."


"Baiklah mbak."


Begitu sambungan terputus, Adam mendekat ke arah teman-teman sesama kulinya untuk bergabung dan makan bersama, sambil makan, para kuli itu mengobrol satu sama lain menceritakan tentang pengalaman mereka menjadi seorang kuli.


*****


Disaat yang sama, diperusahaan tempat Tari bekerja juga sudah waktunya untuk makan siang, karna gajinya lumayan besar, Tari kadang membawa bekal atau juga kadang makan dikantin perusahaan, dan saat ini, Tari berniat makan dikantin, saat dia berdiri, telpon dimejanya berdering nyaring.


Tari mendesah lelah, "Sudah waktunya makan siang begini masih saja ada yang mengganggu."


"Halo, ada yang bisa saya bantu." tanya Tari profesional.


"Tari, datang ke ruangan saya." perintah dari orang yang menelpon yang merupakan pak Dante bosnya.


"Baik pak." jawab Tari terpaksa.


"Mau apa sieh dia nyuruh-nyuruh aku ke ruangannya segala, gak tahu apa ini sudah waktunya makan siang." keluh Tari saat mengetahi kalau itu panggilan dari bos genitnya, orang yang paling malas dia lihat diseluruh dunia.


"Oke Tari, kuatkan kuping dan terutama mental kamu." saat berada didepan pintu bossnya, Tari berusaha untuk menguatkan diri, Tari yakin bosnya itu memintanya ke ruangannya bukan untuk urusan pekerjaan, "Setiap apa yang akan dia katakan, jangan pernah difikirkan, masuk kuping kanan, keluar kuping kiri, oke, ayok kita masuk, hadapi sik hidung belang brengsek itu." setelah itu, barulah Tari mengetuk pintu dimana sik boss berada.


Tok


Tok


"Masuk." terdengar perintah dari dalam.


Tari mendorong pintu begitu mendengar perintah tersebut, "Bapak ada perlu dengan saya." tanyanya sambil berusaha untuk bersikap ramah.


"Tari, duduklah."


Tari melangkah kedalam dan duduk dikursi yang berhadapan dengan bosnya, salah satu hal yang paling tidak suka Tari adalah duduk menghadap bosnya seperti posisinya saat ini, karna pandangan mereka tepat berhadapan begini, dan kalau bicara bosnya yang menyebalkan itu selalu memandangnya dengan genit dan kadang mengedipkan matanya, difikir Tari doyan apa sama pria hidung belang seperti dirinya, Tari rasanya mau muntah saja.

__ADS_1


"Ada apa ya bapak memanggil saya, bukannya ini sudah waktu makan siang ya." Tari sangat sangat berusaha untuk menampakkan wajah normal dihadapan bosnya.


"Iya saya tahu, oleh sebab itu saya ingin mengajak kamu makan siang bersama."


"Tidak usah pak tidak usah repot-repot." tolaknya cepat, "Saya makan dikantin kantor saja."


"Jangan menolak Tari, tidak baik menolak ajakan bos sendiri, siapa tahu setelah makan siang ini, kamu mendapatkan kenaikan gaji." ujarnya mengedipkan mata.


"Aku tidak butuh kenaikan gaji, yang saat ini aku butuhkan adalah jauh-jauh dari bos ganjen sepertimu." tentunya kata-kata itu hanya bisa Tari teriakkan dalam hati doank.


"Saya tidak naik gaji tidak apa-apa kok pak, saya sudah cukup dengan gaji yang biasanya dibayarkan oleh bapak tiap bulannya." Tari masih berusaha untuk menolak.


"Tenanglah Tari, kamu jangan khawatir seolah-olah menganggap saya mau makan kamu, saya hanya mau mengajak kamu makan siang bersama, itu saja, lagian saya sudah memesan makanan yang cukup banyak, tidak mungkinkan saya menghabiskannya sendiri."


Tari dengan amat sangat terpaksa menerima ajakan sik bos.


Pintu ruangan sang bos kembali diketuk, terdengar suara salah satu karyawan dikantor itu dari luar.


"Maaf pak Dante, saya hanya mau makanan yang bapak pesan."


"Masuk."


Karyawan laki-laki bernama Indra itu menatap Tari dengan pandangan kasihan, bukan sebuah rahasia lagi kalau sik bos yang terkenal mata keranjang itu suka menggoda sekertarisnya, itu kenapa sekertaris yang dia pilih cantik-cantik semua, dan dari sana terlihat jelas kalau bosnya mencari sekertaris bukan berdasarkan kemampuannya tapi berdasarkan tampangnya yang pada akhirnya bisa dijadikan boneka mainan sik bos, tapi tidak termasuk dengan Tari.


Indra meletakkan paperbag makanan dari restoran ternama yang dipesan bosnya dimeja.


Indra menoleh ke arah Tari, dan kebetulan Tari juga menoleh pada Indra, pandangan mereka bersirobok, Tari memohon pertolongan lewat pandangan matanya, tapi Indra juga tidak bisa melakukan apa-apa saat ini.


"Indra, kenapa kamu masih berada diruangan saya."


"Ehhh iya pak, saya keluar." Indra buru-buru ngacir melihat tatapan horor sang bos.


Sumpah Tari rasanya benar-benar tidak nyaman banget, yang saat ini dalam fikirannya hanya Adam dan Adam suaminya.


"Lho Tari, kenapa kamu hanya diam saja, ayok kamu letakkan makanannya dipiring."


"Maksudnya kamu mau aku melayani kamu gitu, yang benar saja, kamukan bukan siapa-siapaku."


Meskipun sangat ogah, tapi ya Tari harus melakukan apa yang diperintahkan oleh pak Dante.


Dengan sangat tidak ikhlas Tari mulai menata makanan dipiring, dan lalu meletakkannya didepan sang bos, saat seperti itu, sik bos mengambil kesempatan untuk memegang tangan Tari dan mengelusnya.7


"Terimakasih Tari, kamu benar-benar istri idaman."


Supaya tidak ada kesempatan dirinya disentuh lagi, Tari buru-buru kembali ke tempat duduknya.


Wajah Dante terlihat puas karna pada akhirnya setelah sekian lama ingin menyentuh Tari, keingannya bisa terwujud juga meskipun hanya mengelus tangan doank.


"Brengskkk sialan, begitu aku mendapatkan pekerjaan baru, aku akan langsung pergi dari perusahaan terkutuk ini."


Mendadak rasa lapar yang dirasakan oleh Tari hilang begitu saja, bahkan makanan enak dari restoran mewah yang kini ada dihadapannya sama sekali tidak membuatnya berminat sama sekali, rasanya sudah seperti menelan gabus saja.


"Kenapa Tari, apa makanannya tidak enak."


"Enak kok pak." jawab dilisan, jawaban dihati, "Makan bersama denganmu itu yang membuatnya tidak enak."


Meskipun rasanya susah untuk menelan, tapi Tari berusaha untuk melahap makanannya supaya cepat terbebas dari bosnya itu.


"Mmm pak Dante, saya sudah selesai, bisakah saya permisi."


"Tunggu sebentar Tari, kamu lihatkan saya belum selesai lho."


"Aku harus menunggunya selesai juga, dia fikir siapa dirinya itu."


"Ekhemm." Dante berdehem begitu makanan dipiringnya tandas, "Tari, maukah kamu menghabiskan waktu berdua dengan saya malam ini, saya jamin kamu pasti akan suka bersama dengan saya."


"Dia sudah mulai terang-terangan mengajak aku keluar sekarang."


Tari menjawab tegas, "Sayangnya saya tidak bisa pak Dante, saya lebih memilih menghabiskan waktu berdua dengan suami saya." tandas Tari yang saat ini tidak bersusah-susah lagi menyembunyikan ketidaksukaannya.


Dante menganga, antara percaya atau tidak karna ada wanita yang berani secara terang-terangan menolak dirinya.


"Sebaiknya bapak juga menghabiskan waktu berharga bapak dengan anak dan istri bapak, bukan dengan istri orang seperti saya."


"Saya permisi pak, dan terimakasih atas makan siangnya."


Tanpa menunggu pak Dante membalas kata-katanya, Tari langsung melenggang keluar, dan buru-buru kemeja kerja, Tari masih mencerna setiap kata yang dia lontarkan barusan, dia sangat berani sekaligus bunuh diri, berani karna menolak denga kasar permintaaan bosnya, bunuh diri karna Tari yakin pasti sebentar lagi dia akan menerima surat pemecatan secara tidak hormat hanya karna gara-gara menolak ajakan bosnya dengan kata-kata yang cukup kasar, Tari seharusnya tidak melakukan hal itu, dia seharusnya bisa bicara dengan sopan mengingat dia masih membutuhkan pekerjaannya yang sekarang, dia masih membutuhkan uang dari perusahaan Dante untuk meyokong kehidupannya.


"Aku pasti akan dipecat." desahnya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Kenapa Tari." Dina salah satu karyawan yang juga bekerja diperusahaan Dante dan lumayan mengenal Tari mendekat ke arah Tari, dia baru saja balik dari makan siang, "Wajah kamu kelihatan frustasi gitu kayaknya."


"Gimana gak Frustasi Din, sebentar lagi bos kamu yang genit itu pasti akan mecat aku."


"Lho, kok bisa, emang kamu ngelakuin kesalahan apa."


"Gak ngelakuin kesalahan sebenarnya."


"Lha terus."


"Laki-laki brengsek itu tadi ngajakin aku makan siang diruangannya, dan diakhir dia ngajakin aku menghabiskan waktu nanti malam sama dia, ihhh, ogahlah."


"Terus terus." Dina penasaran dengan kelanjutannya.


"Aku menolaknya dengan kata-kata yang cukup kasar dan sepertinya dia tersinggung sampai membuatnya sampai menganga, dan aku yakin setelah kata-kata yang aku lontarkan barusan dia pasti akan memecat aku, aku memang gak betah disini, tapi aku masih butuh pekerjaan ini." Tari mengakhiri keluhannya.


Dina menepuk-nepuk punggung Tari, "Yang sabar Tari."


Disaat Tari berfikir kalau dia pasti akan dipecat karna kata-katanya yang cukup kasar, sik bos tidak berfikiran begitu tuh, meskipun dia kesal juga karna ada gadis yang begitu berani dan terang-terangan menolaknya, tapi laki-laki itu sama sekali tidak berniat memecat sekertarisnya itu, tidak dalam waktu dekat ini sebelum dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Kamu pasti bisa aku taklukkan Tari, kita lihat saja nanti, tidak ada yang tidak bisa didapatkan oleh seorang Dante." Dante tersenyum licik.


*****


Adam : Sayang, aku pulangnya mungkin agak telat, kak Hawa meminta aku untuk menemuinya.


Sepulang kerja, seperti janjinya, Adam menemui kakaknya ditempat yang telah ditentukan untuk bertemu, oleh karna itu dia mengirim pesan pada Tari untuk memberitahu akan hal itu.


Dua menit kemudian barulah balasan Tari tiba


Tari : Baiklah mas


Begitu melihat sang adik memasuki cafe, Hawa melambaikan tangannya untuk menarik perhatian Adan, Hawa begitu senang melihat adiknya karna sudah lebih tiga minggu mereka sudah tidak bertemu.


Adam berjalan mendekat begitu melihat kakaknya.


Beberapa orang dicafe itu melihat Adam dengan pandangan seolah-olah mengatakan, "Nieh orang salah masuk kali ya."


Sadar dirinya diperhatikan sepanjang jalan menuju meja yang ditempati oleh kakaknya, Adam memperhatikan penampilannya yang kucel dan dekil, dia memang belum sempat mengganti pakaiannya setelah selesai bekerja, tapi dia masa bodohlah, dia tetap berjalan dengan cuek ke arah Hawa.


"Adam....." gumam Hawa yang sama seperti orang-orang lainnya, dia juga memperhatikan penampilan adiknya yang memang bisa dibilang tidak layak untuk memasuki cafe tersebut, "Kamu...."


"Aku boleh pesan makankan mbak, lapar aku." cetus Adam tidak memperdulikan wajah kakaknya yang terlihat prihatin dengan keadaannya.


Adam melambai untuk memanggil pelayan.


Hawa mengangguk, dia tidak lepas memperhatikan penampilan adiknya itu, bertanya-tanya dalam hati, kenapa bisa adiknya yang tampan dan putih kini berubah kucel dengan warna kulit kecoklatan, sampai ketika pelayan yang mencatat pesanan Adam pergi barulah Hawa menanyai adiknya.


"Adamm, apa yang terjadi dengan kamu."


"Memangnya apa yang terjadi mbak denganku, aku merasa baik-baik saja kok."


Hawa mendesah karna pertanyaan ditanggapi tidak serius, "Maksud mbak, kenapa penampilan kamu kucel begini, pakai sandal jepit lagi."


"Ya kuli mah memang penampilannya begini mbak." Adam menjawab santai.


"Kuli." Hawa mengulangi kata-kata itu, "Maksud kamu apa Adam, kenapa kamu membawa-bawa kuli."


Hawa harus menunggu untuk mendapatkan jawaban dari adiknya karna pelayan kembali menghampiri meja yang mereka tempati untuk mengantarkan pesanan Adam.


Mata Hawa melebar begitu melihat adiknya memesan beberapa porsi makanan yang seharusnya untuk tiga orang, karna kakaknya yang akan membayar, jadinya Adam bisa memesan sepuas hatinya.


Begitu semua makanan yang dia pesan sudah terhidang dimeja, tanpa basa-basi atau bahkan menjawab pertanyaan kakaknya barusan Adam langsung menyerbu makanan tersebut.


Adam lapar, jadinya dia makan dengan rakus, fikir Adam, didepan kakaknya dia tidak perlu berpura-purakan seperti di depan Tari.


Bibir Hawa sampai terbuka saking takjubnya dengan perubahan adiknya yang drastis setelah tiga mingguan mereka tidak bertemu, Hawa seperti melihat orang yang berbeda yang kini duduk dihadapannya, bukan adiknya.


Setelah beberapa saat dalam ketakjuban, Hawa akhirnya buka suara juga, "Adam, pelan-pelan kenapa sieh, seperti orang yang tidak pernah makan enak saja."


"Habisnya aku lapar banget mbak."


"Emang kamu habis bekerja berat sampai kelaparan begini."


"Iya mbak, tiap hari aku bekerja sangat keras."


"Ini maksud kamu apa sieh Adam, bisa jelasin sama mbak."


"Izinkan aku menghabiskan makananku dulu mbak."

__ADS_1


Hawa mengangguk menyetujui permintaan adiknya.


****


__ADS_2