CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
MAKAN MALAM


__ADS_3

Tari berdiri dan menatap tajam ke arah Lukas dan Arin yang baru keluar.


"Mmm, Tari kami mau makan siang, kamu ikut ya." Lukas mengajak Tari.


Arin langsung menatap tidak suka sama Lukas, dia tidak setuju kalau Tari ikut makan siang bersama dengan mereka, Arin hanya ingin makan siang berdua dengan Lukas.


"Gak pak, saya takut menggangu bapak dan mbak Arin." tolak Tari ketus.


Tentu saja Arin sangat senang mendengar penolakan tersebut.


"Bagus, sadar diri juga kamu ternyata." batinnya.


"Apa yang kamu fikirkan sieh Tari, ayok kamu ikut dengan kami, lagian aku dan Arin ini hanya teman kok, bukan begitu Arin."


"Hmmm." dengus Arin kesal mendengar ucapan Lukas.


"Tidak pak, lagian saya sudah berjanji akan makan siang bersama dengan pak Firman." bohong Tari hanya untuk membuat Lukas.


Dan berhasil, Lukas tentu saja kesal mengetahui kalau Tari sudah punya janji makan siang dengan Firman.


"Apa, kamu akan makan siang bersama dengan Firman Tari."


"Iya pak, apa ada masalah."


"Hmmm, tentu saja tidak ada, tapi menurut saya, alangkah lebih baik kamu itu bergabung makan siang bersama dengan aku dan Arin saja, sekalian kita bisa berdiskusi tentang pekerjaan." Lukas masih berusaha untuk membujuk Tari.


"Mohon maaf pak Lukas, tapi saya tidak mungkin membatalkan janji saya dengan pak Firman."


"Baiklah Tari kalau kamu tidak mau bergabung dengan kami, ayok mas, aku sudah lapar banget soalnya." Arin menarik lengan Lukas.


"Tari, aku pergi dulu ya."


"Hmmm."


"Isshh, dasar cowok." kesal Tari saat melihat lengan Lukas yang ditarik oleh Arin menuju lift.


"Ihhh, ingin gue bejek-bejek mereka berdua itu." Tari *******-***** tangannya saking kesalnya.


"Tari, makan siang bareng yuk." seperti biasa, Chacha menghampiri Tari dan mengajaknya makan siang bersama.


"Tari." panggil Chacha karn Tari tidak kunjung merespon kata-katanya, Chacha bahkan menowel lengan Tari, dan barulah Tari menoleh ke arah Chacha.


"Cha, kamu sudah lama disini."


"Cukup lama untuk menyaksikan kamu ngomel-ngomel."


"Emang kamu kenapa sieh Tar, kayaknya kamu lagi kesel gitu."


"Gak kenapa-napa." begitulah kalau cewek, selalu bilang tidak kenapa-napa padahal kenapa-napa.


"Ada apa sieh Tar." Chacha tentu saja tidak percaya begitu saja.


"Sudah aku bilang tidak apa-apa Cha." tandas Tari mulai kesal karna ditanya-tanya terus.


"Sudah yuk mending kita makan siang, aku sudah lapar neih."


"Baiklah, ayok."


Mereka berjalan menuju lift.


"Kamu mau makan dimana Tari."


"Dikantin kantor sajalah yang dekat Cha."


"Baiklah."


Ternyata, Lukas dan Arin juga makan dikantin kantor, dua orang itu menjadi pusat perhatian para karyawan yang berfikir kalau mereka adalah sepasang kekasih.


Tari dibuat makin kesal saja melihat Lukas makan bersama dengan Arin, padahal dua orang itu makannya normal, dalam artian, mereka tidak makan sambil suap-suapan, tapi ya begitulah, seorang wanita tetap saja tidak akan suka melihat kekasihnya makan bersama dengan wanita lain.


"Kok malah diam bagai patuh sieh, ayok masuk, tadi katanya lapar." ajak Arin.


"Iya."


Lukas yang melihat kedatangan Tari melambai ke arah Tari, namun Tari langsung melengos.


"Pak Lukas tuh Tari, dia melambai ke arah kamu." beritahu Chacha.


"Biarin aja Cha."


"Ihh, kenapa mereka makan disini sieh, kan ketahuan kalau aku bohong." desah Tari karna tadi dia bilang akan makan siang bersama Firman.


"Ehh, tapi itu pak Lukas sama siapa ya Tari, apa itu pacarnya pak Lukas." tebak Chacha yang memiliki pemikiran yang sama seperti karyawan yang lainnya.


"Mungkin." jawab Tari acuh tak acuh.


Setelah memesan, mereka duduk dimeja yang tersisa, beberapa kali Lukas menoleh ke arah Tari yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Tari.


"Tari."


"Hmmm."


"Pak Lukas lihat kesini terus ya." lapor Chacha, "Lebih tepatnya sieh dia lihatin kamu terus gitu Tar."


"Sudahlah biarin saja Cha."


"Gadis itu beneran pacarnya pak Lukas gak ya Tari, kalau gadis itu adalah pacarnya, gak mungkinkan dia lihatin kamu terus."


"Aduhh, aku gak tahulah masalah itu Cha, bisa gak, kita gak usah bahas pak Lukas terus, bosan aku."


"Hmmm oke, baiklah."


****


Begitu jam kantor berakhir, karna tidak ingin bertemu dengan Lukas, Tari dengan cepat membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke tasnya, dan setelah itu dia buru-buru pergi.


Ojek online yang dia pesan telah menunggunya dibawah, Tari langsung menghampiri sik tukang ojek dan meminta sik tukang ojek buru-buru pergi.


"Ayok pak jalan."


"Baik neng."


Tari benar-benar kesal sama Lukas dia bahkan sampai mematikan ponselnya agar Lukas tidak menghubunginya.


"Ini hari yang benar-benar melelahkan." keluhnya membaringkan tubuhnya tanpa mengganti pakaian yang melekat ditubuhnya, "Tidak ada hanya fisikku yang lelah, hatiku juga benar-benar diuji kesabarannya hari ini." desahnya memejamkan matanya untuk menetralisir rasa capeknya.


****


Sementara itu Lukas kesal saat mengetahui kalau nomer ponsel Tari tidak aktif.


"Kenapa sieh nomernya tidak aktif, apa Tari sengaja tidak mengaktifkan nomernya, apa dia marah sama aku, apa dia marah gara-gara yang tadi siang itu." iyalah Lukas, gara-gara apalagi coba.


Lukas mendesah berat, dia menyandarkan tubuhnya dikursi kerjanya, dia kemudian membuka google dan mengetik 'Cara-cara untuk membujuk pacar yang ngambek' dimesin pencarian, dan seketika, banyak bermunculan artikel-artikel tentang bagaimana cara mengatasi pacar yang ngambek.


Lukas membuka tautan satu persatu, namun hal itu ternyata membuat kepalanya mumet.


"Ukhhh ribet amet sieh." membaca artikel itu ternyata membuat kepalanya menjadi pusing sehingga dia memutuskan untuk pulang dan berendam dengan air hangat, fikir Lukas, itu mungkin akan membuat fikirannya akan fress dan bisa membuatnya bisa berfikir lebih jernih.


Dan benar saja, setelah berendam dibathub selama kurang lebih setengah jam, Lukas kefikiran untuk mengajak Tari untuk makan malam romantis, oleh karna itu, tadi dia telah memesan tempat disebuah restoran.

__ADS_1


Dan sekarang, Lukas tengah memilih-milih baju yang akan dia kenakan, setelah rapi, dia kemudian keluar kamar dan turun ke bawah, karna masih trauma dengan masa lalunya sehingga Lukas tidak bisa membawa mobil sendiri, oleh karna itu dia akan meminta pak Agung untuk mengantarnya.


Saat melewati ruang tengah, mama Lili yang melihatnya menghentikan langkahnya.


"Sayang, mau kemana kamu, kamu baru saja pulang, dan sekarang kamu sudah akan pergi saja."


"Lukas ada urusan ma." jawab Lukas karna tidak mungkin dia bilang kalau dia akan pergi membujuk pacarnya yang ngambek.


"Urusan apa malam-malam begini." cecar mama Lili.


"Ma, mama seperti gak pernah muda saja, anak kita inikan sekarang tidak jomblo lagi lho, ya dia pergi untuk urusan hatilah." papa Sebastian membantu Lukas untuk menjawab secara lengakap dan detail.


"Ohh astaga, iya iya, putra kita ini sekarang tidak jomblo lagi ya pa, duhh mama lupa." mama Lili mengetuk keningnya pelan.


"Baiklah sayang, pergilah temui pujaan hatimu, dan cepatlah ya bawa dia ke rumah, mama sudah tidak sabar ingin melihatnya."


"Iya ma." Lukas kemudian menghampiri mama dan papanya untuk mencium tangan kedua orang tuanya.


"Aku pergi dulu ma, pa." pamitnya.


"Lukas, jangan lupa ya sayang, sampaiin salam mama sama calon mantu mama itu."


"Iya."


****


Dalam perjalanan, Lukas meminta pak Agung untuk berhenti karna dia ingin membeli bunga untuk Tari, Lukas tidak tahu bunga apa yang disukai oleh Tari, namun bunga yang dia pilih adalah bunga lili, seperti nama mamanya.


Lukas mengerutkan keningnya saat tiba didepan rumah Tari, pasalnya rumah Tari terlihat gelap gulita padahal ini baru saja jam 08.10.


"Apa Tari gak ada dirumah kali ya." fikirnya ragu saat akan mengetuk pintu rumah Melati, "Apa jangan-jangan dia ada dirumah temannya kali ya."


"Ahkk, tapi gak ada salahnyakan aku mengetuk untuk mencoba keberuntunganku."


Lukas mulai mengetuk pintu sembari memanggil nama Tari, "Tari."


"Tari, buka pintunya, ini aku Lukas." tidak ada sahutan untuk beberapa menit, sampai kemudian Lukas bisa melihat kalau lampu dari dalam dinyalakan, dan Lukas yakin Tari ada dirumah saat ini.


Dan gak lama, Luka melihat kenop pintu bergerak yang menandakan pintu dibuka dari dalam.


"Mas Lukas." gumam Tari saat melihat Lukas berdiri didepan pintu rumahnya malam-malam begini.


"Malam sayang." sapa Lukas tersenyum.


Tari mengucek matanya, begitu tiba dirumah saat pulang kerja sore tadi dia langsung tertidur tanpa mengganti pakaian kerjanya.


"Mas Lukas ngapain disini." tanya Tari ketus saat mengingat kekesalannya siang tadi.


"Aku ingin menjemputmu sayang."


"Menjemputku, untuk apa."


"Tentu saja untuk mengajakmu makan malam."


"Mengajakku makan malam, dalam rangka apa mas Lukas mengajakku makan malam."


"Karna aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan kamu sayang."


Tari mendengus kasar, "Kenapa mas Lukas tidak mengajak Arin saja sana." Tari menampakkan kecemburuannya yang sejak tadi siang sudah ditahan-tahannya.


"Ngapain aku ngajak Arin makan malam, diakan bukan siapa-siapaku, kamukan pacarku sayang, makanya aku mengajak kamu makan malam."


"Tapi mas makan siang bersamanya."


"Itu karna aku tidak tega nolak sayang, lagiankan aku juga ngajak kamu makan siang bersama dan kamu tidak mau."


"Maafkan aku sayang, waktu itu aku benar-benar tidak tahu kalau posisi Arin sangat dekat denganku, dia memintaku untuk membaca skripsinya dan memintaku untuk memberikan pendapatku dan saran."


"Hmmm."


"Maafkan aku ya sayang, aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu cemburu." Lukas meraih tangan Tari dan menarik Tari mendekat dan memeluknya.


"Hmm." gumam Tari membalas pelukan dari Lukas, pelukan yang diberikan oleh Lukas benar-benar membuatnya merasa nyaman.


"Apa kamu memaafkan aku sayang." Lukas mengulangi pertanyaannya.


"Iya." jawab Tari dengan suara kecil namun masih bisa didengar oleh Lukas.


Lukas mencium puncak kepala Tari, "Terimakasih sayang."


"Jadi, maukan makan malam bersamaku."


"Hmm, tapi aku belum siap." Tari melihat penampilannya yang berantakan.


"Aku tungguin."


"Tapi aku siap-siapnya itu lama lho."


"Sampai kiamatpun aku bersedia menunggumu."


Reflek kedua sudut bibir Tari melengkung, "Dasar gombal."


"Aku tidak gombal sayang, itu memang kenyataannya."


"Hmmm, baiklah kalau begitu, mas lebih baik tungguin aku didalam."


Lukas mengangguk, "Sayang, ini untukmu." Lukas menyerahkan bunga yang dia bawa untuk Tari.


"Terimakasih mas Lukas."


"Apa kamu suka."


"Tentu saja aku suka."


"Aku tidak tahu bunga apa yang kamu sukai, aku fikir bunga lili oke, sama seperti nama mama, makanya aku beliin bunga lili."


Tari tersenyum mendengar penjelasan Lukas, "Sekali lagi terimakasih mas Lukas."


"Sama-sama sayang."


Dan setelah menunggu Tari siap-siap kurang lebih sekitar setengah jam, kini mereka berdua sudah duduk didalam mobil, siapa meluncur ke restoran yang telah dipilih oleh Lukas.


"Ayok jalan pak."


"Baik tuan."


"Kita mau makan malam dimana sayang."


"Nanti kamu lihat sendiri sayang."


Mobil kini meluncur membelah jalanan ibu kota malam hari bersama dengan mobil lainnya.


Mobil berhenti disebuah gedung bertingkat, Lukas mengajaknya keluar dan membawanya memasuki lobi gedung tersebut, dan berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke roptop dimana restoran berkonsep outdoor.


Bernaung langit malam yang bertabur ribuan bintang yang menghiasi angkasa, dan indahnya pemandangan kota dimalam hari membuat suasan direstoran tersebut begitu sarat akan suasana romantis.


"Bagaimana sayang, apa kamu suka." Lukas bertanya.


"Aku suka banget mas."

__ADS_1


Lukas menarikkan kursi untuk Tari, "Duduk sayang."


Tari mengangguk.


Lukas kemudian mengambil tempat duduk berhadapan dengan Tari.


Seorang pelayan berjalan menghampiri mereka dengan membawakan buku menu, setelah memesan, sepasang kekasih tersebut saling menautkan tangannya diatas meja, mereka saling menatap dengan pandangan penuh cinta.


Ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan kedua orang tersebut sejak mereka memasuki restoran tersebut.


"Kamu cantik sekali Tari."


Tari tersipu malu, "Kamu membuat kepalaku membesar mas."


Lukas terkekeh mendengar jawaban Tari, "Itu kenyataannya sayang."


Mereka teru seperti itu sampai pelayan datang membawakan makanan yang mereka pesan.


"Restoran ini sangat romantis ya mas." komen Tari sembari menikmati makanannya.


"Makanya aku membawamu kemari, untuk menghiburmu supaya kamu tidak ngambek."


"Aku gak ngambek."


"Kalau gak ngambek, apa namanya sampai tidak mengaktifkan nomer segala hemm."


"Itu ponsel aku saja yang mati mas, bukannya aku sengaja tidak mengaktifkannya." bohongnya.


"Hmm, masih saja ngelak ya, tapi aku senang kamu cemburu, itu artinya kamu benar-benar mencintaiku."


"Jadi, kamu sengaja membuatku cemburu."


"Tentu saja tidak, mana mungkin aku melakukan hal itu."


Mereka menghabiskan makanan mereka sambil mengobrol.


"Mas Lukas, aku ke toilet dulu."


"Aku temenin."


"Gak perlu mas Lukas, mas disini saja, aku gak akan lama kok."


"Baiklah kalau begitu." Tari berjalan meninggalkan Lukas.


Toilet itu sepi saat Tari masuk, dan dia kini tengah merapikan riasannya dicermin panjang didepan wastafel.


Karna sibuk merapikan riasanya sehingga dia tidak memperdulikan orang yang baru masuk, sampai orang tersebut berdiri dibelakangnya dan menyapa Tari.


"Halo Tari, bagaimana kabarmu manis."


Mendengar suara itu membuat Tari reflek mendongak dan menatap cermin didepannya, dan dari cermin itulah matanya bertemu dengan mata seseorang yang tidak pernah ingin dilihatnya, dia adalah Dante, bossnya diperusahaan sebelumnya, sekaligus orang yang pernah ingin melecehkannya.


"Pak Dante." desis Tari saat melihat bayangan pak Dante dicermin.


Senyum itu masih sama, senyum menjijikkan yang membuat Tari mual.


"Kamu semakin cantik Tari, membuatku ingin merengkuhmu."


Tari membalikkan tubuhnya menghadap pak Dante, raut ketakutan jelas tercetak diwajah Tari saat melihat laki-laki tersebut.


"Pak Dante mau apa."


"Menuntaskan apa yang belum tuntas." jawab laki-laki itu tersenyum nakal.


"Jangan macam-macam pak, atau saya akan teriak." ancam Tari mencengkram pinggiran wastafel.


"Hahaha." pak Dante tertawa jahat.


"Berteriaklah Tari, kamu fikir ada yang akan mendengar kamu, disini, hanya ada kita berdua, dan aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu." senyum jahat terbingkai dibibir Dante.


"Tuhan, tolong aku." jerit Tari dalam hati meminta pertolongan Tuhan berharap Tuhan akan mengirimkan seseorang untuk menolongnya saat Dante mendekatinya.


****


"Kenapa Tari belum kembali ya." Lukas khawatir karna sejak tadi belum juga kembali, oleh karna itu, dia berniat menyusul Tari ke toilet.


Saat sudah didekat toilet perempuan, Lukas mendengar suara ribut-ribut dari dalam toilet, hal itu membuat Lukas mengerutkan keningnya.


"Tolongggg."


Lukas mendengar jeritan minta tolong, dan Lukas sangat tahu pemilik suara tersebut.


"Tarii." gumamnya.


Lukas langsung berlari ke toilet, membuka pintu tersebut dengan kasar, dan pemandangan yang dilihatnya sungguh membuat darahnya mendidih, seseorang yang tidak dikenalnya tengah mencengkram lengan Tari, posisi tubuh laki-laki tersebut mengurung tubuh Tari ditembok.


"Mas Lukas, tolongin aku mas." suara Tari menghiba.


Tanpa basa-basi, Lukas menarik kerah baju laki-laki tersebu dan memberi bogeman bertubi-tubi diwajah laki-laki yang telah bersikap kurang ajar pada kekasihnya, Lukas memukul tanpa memberi celah kepada musuhnya untuk membalas, Lukas begitu emosi dan sangat marah, dia paling tidak suka melihat wanita dilecehkan, meskipun dia dulunya seorang playboy dan suka mempermainkan wanita, tapi Lukas tidak pernah sekalipun melecehkan wanita, dia dengan perempuan yang dulu pernah singgah dihidupnya melakukan kontak fisik tanpa adanya paksaan.


"Dasar laki-laki brengsek, bajingan." Lukas masih memukul laki-laki yang telah melecehkan Tari, Lukas kalap, rasanya dia ingin menghabisi laki-laki tersebut dan mengirimnya ke neraka.


"Mas, berhenti mas." ujar Tari takut, Tari takut Lukas akan membunuh mantan bosnya itu yang membuat Lukas berakhir dipenjara, tentunya Tari tidak ingin Lukas masuk penjara.


"Mas Lukas, hentikan, pak Dante bisa mati mas."


Namun, telinga Lukas sepertinya tuli seketika karna dia sama sekali tidak menghiraukan jeritan Tari yang memintanya berhenti untuk memukul Dante.


Mungkin Lukas akan benar-benar mengirim Dante ke neraka kalau Tari tidak memeluknya dari belakang dan memintanya untuk berhenti.


"Mas Lukas, berhenti mas, aku tidak ingin mas Lukas masuk penjara gara-gara laki-laki brengsek ini."


Tangan lukas terhenti diudara dalam perjalanannya untuk memukul Dante.


Lukas bisa merasakan tangan Tari yang memeluk perutnya bergetar, dan itu membuat kesadarannya kembali menguasainya.


"Berhenti mas Lukas, aku gak mau mas Lukas masuk penjara."


Lukas berbalik dan memeluk Tari, penampilan kekasihnya itu terlihat berantakan karna ulah bejat Dante.


"Maafkan aku Tari, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu." Lukas terlihat menyesal.


Tari menggeleng, "Kamu tidak perlu meminta maaf mas, kamu tidak pernah salah."


Dengan jari tangannya Lukas merapikan rambut Tari yang berantakan, Lukas mengurai pelukannya, "Sebentar sayang."


Lukas kembali meraih kerah baju Dante dengan kasar dan memberi peringatan pada laki-laki tersebut.


"Saya peringatkan samu kamu." dengan wajah merah padam Lukas menunjuk wajah Dante, "Sekali lagi kamu berani menyentuh Tari seujung kukupun, aku pastikan akan mengirimmu ke neraka."


Buk


Setelah memberi peringatan dan memberikan pukulan untuk terakhir kalinya dan mengehempaskan tubuh Dante ke lantai, Lukas mengajak Tari pergi dari tempat tersebut.


"Ayok sayang kita pergi." Lukas merangkul Tari dan menuntunnya keluar.


Berada dalam rangkulan tubuh Lukas, Tari merasa aman, seolah-olah, tidak akan ada yang akan berani menyentuhnya apalagi menyakitinya.


*****

__ADS_1


__ADS_2