CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
UNDANGAN MAKAN MALAM


__ADS_3

Adam mengantar Tari pulang sampai depan rumahnya.


"Aku tidak disuruh mampir nieh Tar." cetusnya begitu mereka sudah tiba didepan teras rumah Tari.


"Mas pulang saja sana, lagian mas Adamkan sudah ditungguinkan sama mamanya mas Adamkan."


Adam cembrut karna merasa diusir oleh sang kekasih, "Aku diusir nieh."


Tari terkekeh melihat tingkah Adam yang menurutnya sudah seperti anak kecil saja.


"Bukannya aku ngusir mas, hanya saja mamanya mas Adam nanti khawatir, lagipula ini sudah malam lho mas, apa kata tetangga nantinya." Tari berusaha memberi pengertian pada kekasihnya yang kadang bersikap kekanak-kanakan itu.


"Aku akan pulang, tapi sun dulu." Adam meletakkan jari telunjuknya dibibir sebagai kode meminta Tari intuk menciumnya.


"Apaan sieh mas." wajah Tari memerah karna malu.


"Ayok sun dulu, kalau gitu aku gak mau pulang nieh."


Tari dengan cepat mencium pipi Adam, bukannya dibibir seperti yang diinginkan oleh Adam.


"Udahkan, ayok sana mas Adam pulang."


"Kan aku minta disini." menyentuh bibirnya, "Bukan dipipi."


"Astaga mas, jangan kayak anak kecil gitu deh, ntar kalau dilihat orang gimana."


"Ya biaran saja, kan kita sebentar lagi akan menikah." kukuh Adam tidak menyerah.


"Ayok sayang sun disini, biar aku bisa tidur nyenyak dan mimpi indah." Adam merengek kayak anak kecil yang minta dibelikan mainan saja.


"Ya Tuhan mas Adam." desah Tari.


Agar Adam cepat pergi, Tari akhirnya terpaksa mengabulkan keinginan kekasihnya itu, seperti tadi, dia akan melakukannya dengan cepat, Adam sudah memejamkan matanya menunggu kecupan manis dari sang kekasih, 3 centi, 2 centi, 1 centi, alam sepertinya tidak mengizinkan, karna saat bibir mereka sudah akan bersentuhan, ayah Rahma tiba-tiba datang.


"Ekhemmm." beliau berdehem untuk memberitahu keberadaan dirinya.


Suara deheman itu membuat Tari kaget dan langsung menarik wajahnya menjauh.


Adam membuka matanya dan melihat ayah Rahman yang mengenakan sarung dan baju koko lengkap dengan pecinya, ayah Rahman sepertinya baru pulang dari masjid.


"Ayah." ujar Tari salah tingkah melihat kedatangan ayahnya yang tiba-tiba.


"Ayah, ayah baru pulang dari masjid." sapa Adam meraih tangan ayah Rahman dan menciumnya.


Sumpah Adam malu banget, kalau sampai ayah Rahman melihat mereka berciuman bisa-bisa dia dia dianggap laki-laki brengsek lagi.


"Iya nak Adam, ayah baru pulang dari masjid, nak Adam sudah lama." tanya ayah Rahman balik.


Melihat keberadaan Adam dirumahnya, ayah Rahman yakin kalau putrinya dan Adam telah berbaikan, dan dia bersyukur akan hal itu.


"Baru saja kok ayah, aku hanya mengantarkan Tari saja, rencananya aku akan langsung pulang."


"Lho, kok buru-buru, gak mau mampir dulu gitu."


"Lain kali saja ayah, sudah malam, gak enak sama tetangga" tolaknya halus.


"Baiklah."


"Kalau gitu, aku pamit ayah." Adam kembali meraih tangan ayah Rahman dan menciumnya lagi sebelum pergi, "Tari, aku pulang dulu ya."


"Iya mas Adam, hati-hati, jangan ngebut-ngebut."


"Pasti." jawab Adam berlalu.


"Kalian sepertinya sudah baikan ya." tanya ayah Rahman saat Adam sudah pergi.


Dia tahu putrinya dan kekasihnya itu sudah berbaikan, kalau tidak, ngapain mereka berduaan diluar dan seperti orang kasmaran, pertanyaan itu hanya untuk sekedar meyakinkan ayah Rahman saja.


"Iya ayah, aku dan mas Adam sudah berbaikan."


"Syukurlah, ayah seneng mendengarnya, kamu jadi tidak galau lagi." goda ayah Rahman.


Tari tersenyum simpul karna malu.


"Ayah ayok kita masuk, diluar dingin, nanti ayah bisa masuk angin." ajak Tari yang diangguki oleh ayahnya.


***


Adam pulang ke rumah, saat melewati ruang tengah dalam perjalanan menuju kamarnya yang terletak dilantai dua, suara papa Atta menghentikan langkahnya.


"Adam, papa mau bicara dengan kamu." suara itu dingin dan tegas.


Adam menoleh ke arah sumber suara, terlihat papanya tengah duduk dengan wajah datar disinggle sofa, sepertinya memang papa Atta sengaja menunggunya.


"Malam pa." sapa Adam.


"Duduk Adam." perintah papa Atta mengabaikan sapaan sang putra.


Adam nurut, dia duduk disofa panjang.


"Dari mana saja kamu sejak semalam dan baru pulang sekarang." introgasi sang papa menatap putranya tajam, "Masuk kantor juga gak, kamu fikir karna itu perusahaan papa, kamu jadi seenaknya sendiri."


"Aku nginep diapartmen teman pa." jawabnya, "Dan yah, aku tidak masuk kantor karna ada masalah yang harus aku selesaikan."


"Masalah dengan anak penarik angkot itu maksud kamu." papa Atta memperjelas.


Adam yang sejak tadi tidak berani menatap sang papa mendongak dan menatap papanya, dia tidak suka papanya merendahkan Tari dan ayah Rahman, apalagi didepannya, "Pa, jangan hina Tari dan ayahnya." Adam menyuarakan protesnya.


"Kenapa, memang itu kenyataannyakan."


"Adam mencintai Tari pa, dan sebentar lagi Tari akan menjadi menantu papa, jadi papa, jangan pernah hina Tari." tegas Adam.


"Percaya diri sekali kamu, kamu fikir papa mau menerima gadis itu sebagai menantu dalam keluarga kita."


"Maksud papa apa, papa tidak merestui hubungan kami."


Ayah dan anak itu berdebat yang menciptakan aura ketegangan diruangan tersebut.


Belum sempat papa Atta menjawab pertanyaan Adam, mama Cellin nongol dan melihat kalau putranya ternyata sudah kembali, "Lho sayang, kamu sudah pulang." mama Cellin terlihat lega, dia berjalan mendekati putranya.


Aura ketegangan jelas terasa diruangan tersebut dan hal itu bisa dirasakan oleh mama Cellin.


"Ini ada apa." tanyanya melihat wajah anak dan suaminya mengeras dan terlihat menahan emosi.


Bukannya menjawab pertanyaan mamanya, Adam malah berdiri, "Aku ke kamar dulu, aku capek mau istirahat." dia langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban mamanya.


"Adam, papa belum selesai bicara dengan kamu." teriak papa Atta marah melihat putranya pergi begitu saja.


Namun Adam tidak memperdulikan teriakan papanya, dia terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.

__ADS_1


"Lihat itu anakmu ma, main pergi saja, bener-bener kurang ajar." ketus papa Atta begitu Adam sudah tidak terlihat.


"Itu anakmu juga pa." jawab mama Cellin.


"Papa dan Adam membicarakan apa tadi, suasananya tegang sekali."


"Masalah perempuan pilihan anakmu yang ingin dia jadikan sebagai istri, apa sieh yang kamu ajarkan sama Adam, sampai memilih calon istri saja tidak becus." papa Atta beralih menyalahkan mama Cellin.


Mama Cellin tidak terima disalahkan, dia membela diri, "Lho, kenapa papa menyalahkan mama sieh, ya mama mana tahu kalau anak kita akan suka sama gadis seperti itu, lagiankan dia sudah gede dan lebih banyak diluar ketimbang dirumah, jelas saja mama tidak bisa mengontrol pergaulannya."


Papa Atta memijit keningnya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut.


"Pa, sebaiknya kita mengenalkan Adam dengan anak rekan bisnis papa itu, siapa tahu setelah melihat Siska, Adam berpaling, secara Siska itu sangat cantik, anggun, pinter dan berpendidikan tinggi, mana ada laki-laki yang bisa menolak wanita sempurna seperti Siska." saran mama Cellin.


Papa Atta mengangguk, dia menyutujui usul istrinya.


"Papa akan bicarakan dulu dengan pak Beny ma."


Mama Cellin mengangguk, dia sangat berharap kalau putranya itu menyukai Siska dan meninggalkan Tari.


****


Paginya, untuk kedua kalinya Tari mengirimkan gambar jarinya yang kembali dilingkari oleh cincin pemberian Adam pada Laura, dia hanya ingin memberitahu Laura kalau mereka sudah berbaikan.


Dibawah foto yang akan dia kirim disertai dengan keterangan yang berbunyi,


Aku dan mas Adam sudah berbaikan Ra.


Balasan Laura datang begitu cepat.


Laura : Jadi ceritanya udah baikan nieh, happy donk sekarang, gak nangis-nangis kejer lagi kayak kemarin.


Tari terkekeh membaca balasan dari Laura.


Tari : Iya Ra, mas Adam ngelamar aku untuk kedua kalinya ditaman tempat kami pertama kali bertemu.


Tari melapor.


Laura : Duhhh suitnya, jadi valid nieh bakalan nikah, nanti aku jadi pengiringnya ya.


Tari : Amin, doakan ya Ra.


Laura : Aku akan selalu berdoa untuk kebahagian kamu dan mas Adam Tari.


Tari : Terimakasih Ra, kamu sahabat sejatiku dan selalu ada untukku.


Laura : Itu gunanya sahabatkan, kamu juga pasti akan sepertiku kalau aku berada dalam posisi kamu.


Tari : Iya Ra.


Balas Tari membenarkan.


Tari gak punya rencana hari ini sehingga yang dia lakukan hanya berdiam diri dirumah, ayahnya sudah sejak tadi berangkat bekerja.


Saat dia tengah menikmati kesendiriannya, terdengar notifikasi chat yang dikirim oleh kekasihnya.


Adam : Morning sunshine


Melihat bunyi pesan yang dikirim oleh Adam membuat kedua sudut bibir Tari melengkung sempurna.


Tari : Pagi juga mas Adam


Tari : Gak ada mas, hanya baring-baring saja.


Adam : Aku kangen sayang, ketemu yuk


Tari : Bukannya mas Adam bekerja


Adam : Ahh iya, aku jadi lupa, sepulang aku dari kantor aku akan menemuimu.


Tari : Iya mas.


Adam : Sudah dulu ya sayang, aku mau siap-siap dulu mau ke kantor.


Tari : Iya mas.


Adam : I LOVE YOU


Tari : I LOVE YOU TO


Adam : Kissnya mana


Tari : Mas jangan aneh-aneh deh, kita bukan ABG lagi.


Adam : Kok aneh sieh sayang, itu wajar, ayok kasih aku kiss bye dulu supaya aku semangat kerjanya.


"Mas Adam ini ada-ada saja."


Meskipun bilang begitu, tapi Tari mengikuti keinginan Adam, karna kalau tidak dituruti Adam akan terus menerornya.


Tari : Yang semangat kerjanya kesayanganku, mmmmuahhhh.


Adam :Terimakasih sayang, kalau kayak gini aku pasti akan semangat kerjanya, mmmuahh, bye sayang.


Tari tersenyum, "Ahh mas Adam." bapernya.


****


Sore itu setelah pulang dari kantor, Adam sudah berganti pakaian dengan pakaian kasual dan bersiap menemui Tari sang pujaan hati.


Adam bersiul sepanjang jalan menuju pintu keluar.


"Adam, kamu mau kemana." tanya mama Cellin melihat putranya yang sepertinya akan pergi.


"Aku mau menemui Tari ma."


Mama Cellin terlihat rapi dan anggun, sepertinya dia juga akan pergi.


"Keluarga kita diundang oleh kelurga Barata untuk makan malam, kamu tahukan kalau keluarga Barata merupakan rekan bisnis perusahaan kelurga kita yang paling berpengaruh."


"Adam gak ikut ya ma."


"Tidak bisa sayang, sebagai pewaris bisnis papa, kamu harus ikut, sekalian juga mengenal lebih dekat dengan keluarga Barata."


Adam mendengus, bahunya merosot, dia yang tadinya terlihat bersemangat kini terlihat lesu karna pemberitahuan mamanya


"Kamu tunggu sebentar ya, sebentar lagi kita akan berangkat, mama mau panggil papa kamu dulu." mama Cellin berjalan menuju kamarnya untuk memanggil suaminya.


Adam menghempaskan bokongnya disofa, dia kemudian mengetikkan pesan untuk mengabarkan pada Tari kalau dia ada urusan mendadak dan tidak bisa menemui Tari.

__ADS_1


Adam : Tari sayang, maafkan aku, aku tidak bisa menemuimu, aku ada urusan yang tidak bisa aku tinggalkan.


Tari : Gak apa-apa mas.


Adam : Maaf ya sayang, jangan marah


Tari : Astaga mas Adam ini, aku gak marah kok mas, beneran.


Adam : Pengertian banget calon istri aku ini, jadi makin cinta


Tari : Mulai deh gombalnya


"Adam, ayok sayang kita berangkat." panggil mama Cellin.


Adam : Sudah dulu ya sayang, aku harus pergi sekarang.


Tari : Iya mas, hati-hati


Adam : Nanti aku telpon setelah aku pulang.


Tari : Iya mas


*****


Dengan diantar sopir keluarga, ayah Atta, mama Cellin dan Adam berangkat menuju kediaman keluarga Beny Barata, salah satu pengusaha sukses ditanah air.


Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai dikediaman keluarga Barata.


Begitu sampai, mereka disambut oleh pak Beny Barata dan istrinya Tania Barata.


"Selamat datang Atta Wijaya, sahabatku sekaligus rekan bisnisku." sapa Beny Barata begitu Atta keluar dari mobil.


Atta tersenyum dan menghampiri sahabatnya itu, dua laki-laki setengah baya itu saling berangkulan satu sama lain.


"Senang bertemu dengan kamu lagi Beny." Atta menepuk punggung Beny.


"Kamu terlihat sehat dan bugar Atta."


"Kamu juga Beny."


"Yahh meskipun umur kita sudah tidak lagi muda, tapi kesehatan dan kebugaran itu perlukan."


"Iya kamu benar Ben."


"Hai jenk Cellin, selamat datang dikediaman keluarga kami." tegur nyonya rumah ramah pada mama Cellin.


Namanya juga wanita, tradisi cupika-cupiki sudah melekat sehingga tidak heran mereka langsung cupika cupiki.


"Terimakasih jenk Tania karna telah menyambut keluarga kami."


"Memang sudah seharusnya jenk Cellin."


Pandangan Tania beralih pada laki-laki muda yang berada dibelakang Cellin, "Saya tebak, pemuda tampan ini pasti putramu jenk."


"Iya jenk Tania, ini Adam, putra kami, pewaris kerajaan bisnis keluarga Wijaya." mama Cellin memperkenalkan putranya dengan bangga.


"Halo tante, saya Adam." sapa Adam mendekat dan mencium tangan Tania, setelah itu dia beralih menyalami Beny Barata, "Halo om."


Beny Berata menepuk pelan punggung Adam, "Kamu sudah besar Adam, dulu kamu begitu masih sangat kecil, dan sekarang, kamu sudah matang dan siap menikah."


"Semuanya berlalu dengan sangat cepat om."


"Ahhh iya kamu benar Adam."


"Anak jenk selain tampan sopan ya, ini pasti karna didikan jenk ya." Tania memuji.


Mama Cellin tersenyum simpul karna mendapat pujian, "Ahh jenk bisa saja."


"Lho, kok tamu agung kita di ajak ngobrol diluar gini sieh sayang." imbuh pak Beny.


"Bener juga pa, jadi lupa saking senengnya bertemu teman lama."


"Ayok masuk jenk Cellin, pak Atta, Adam." nyonya rumah mempersilahkan dengan ramah.


"Terimakasih jenk."


Mereka semua masuk ke rumah besar tempat kediaman keluarga Barata.


Sebelum acara makan malam dimulai, mereka ngobrol santai diruang tamu, membicarakan tentang banyak hal termasuk juga tentang bisnis, Adam tidak terlalu banyak bicara, dia hanya menjadi pendengar pembicaraan orang tuanya dan rekan bisnisnya itu, dia hanya akan menjawab saat ditanya, dan itupun hanya sekedarnya saja.


"Oh iya jenk Tania, putrimu mana."


"Siska, dia ada dikamar jenk, akan saya suruh bik Imah memanggilnya."


"Bik, bik Imah." Tania memanggil ARTnya


Seorang wanita yang tidak bisa dibilang muda dan tidak bisa dibilang tua menghampiri sang nyonya.


"Iya nyonya."


"Bi Imah, tolong panggilkan Siska ya bik."


"Baik nyonya." bik Imah berlalu untuk memanggil nona muda keluarga Barata.


"Adam kurang enak badan ya, sejak tadi diam saja." tanya mama Cellin karna sejak tadi dilihatnya Adam diam saja.


Adam tersenyum tipis, "Gak kok tante, Adam baik-baik saja."


"Ohh syukurlah kalau begitu."


Lima menit kemudian, seorang gadis cantik dan anggun berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri orang-orang yang tengah mengobrol diruang tamu tersebut.


"Nahh jenk, itu dia putri kami Siska." beritahu Tania saat melihat kedatangan putrinya.


Semua mata yang ada diruangan tersebut kini tertuju pada seorang gadis yang baru tiba diruang tamu, gadis bernama Siska Barata itu tersenyum dan menyapa.


"Selamat malam semuanya."


"Nahh Atta, itu putriku kesayanganku dan kebanggaanku, Siska Barata, kamu pernah bertemu dengannyakan."


Papa Atta mengangguk, "Putrimu sangat cantik Beny."


"Siapa dulu papanya."


Papa Atta terkekeh mendengar clotehan sahabatnya tersebut.ur


Mama Cellin memandang Siska takjub, dalam hati mengagumi kecantikan anak gadis dari keluarga rekan bisnis suaminya itu, "Cantik sekali gadis ini, aku yakin, Adam bisa berpaling dari Tari."


Namun reaksi Adam biasa-biasa saja tuh saat melihat Siska, ya dia tidak memungkiri kalau Siska itu memang cantik, tapi dia bukan laki-laki yang menyukai seseorang karna tampilan fisiknya.

__ADS_1


***


__ADS_2