CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
KEMARAHAN PAPA ATTA


__ADS_3

Bersantai ditaman belakang sambil minum teh bersama suami dan memperhatikan anak bermain merupakan salah satu hal yang membahagiakan bagi Hawa, minum teh menjadi rutinitas yang sering dilakukan oleh Hawa minggu sore bersama dengan suaminya, qualiti time bersama dengan keluarga kecilnya setelah selama 6 hari suaminya disibukkan dengan rutinitas kantor, dan hari minggu biasanya akan digunakan oleh Hawa untuk memonopoli suaminya.


Dan disaat tengah bersantai begitu, pembantunya dengan tergopoh-gopoh datang menghampirinya.


"Maaf nyonya."


"Kenapa bik."


"Tuan ada ruang tamu menunggu nyonya."


"Tuan." ulang Hawa, "Maksudnya papa saya."


"Iya nyonya."


"Papa ngapain kesini ya, tumben banget." tanyanya pada diri sendiri dalam hati.


Irfan suami Hawa mengernyitkan keningnya, dia juga berfikir hal yang sama dengan istrinya, bertanya-tanya dalam hati penyebab mertuanya itu tiba-tiba mendatangi mereka ke rumah mereka secara langsung.


"Baiklah bik, saya akan menemui papa."


"Baik nona, saya permisi."


"Kira-kira ada perlu apa ya mas papa sampai ke rumah kita segala." Hawa  menyuarakan keheranannya.


"Mana mas tahu, lebih baik ayok kita samperin beliau, supaya baliau tidak kelamaan menunggu."


"Baik mas."


Pasutri tersebut berjalan ke ruang tamu untuk menemui papa Atta, tidak seperti mama Cellin yang bisa dibilang sering main ke rumah Hawa, papa Atta bisa dipastikan berkunjung ke rumah putrinya bisa dihitung dengan jari, dan itupun biasanya kalau berkunjung pasti membahas masalah bisnis dengan Irfan.


"Pa." tegur Hawa saat melihat papanya duduk disofa.


Hawa menghampiri papanya yang tetap duduk tempatnya, Hawa kemudian menunduk dan mencium pipi papanya.


Wajah papa Atta terlihat dingin dan datar, yahh memang begitu bawaannya dari lahir.


Hawa tahu papanya memang berwajah datar dan dingin, tapi kok kali ini Hawa merasakan ada  sesuatu yang tidak enak dengan kedatangan papanya.


Hawa dan Irfan duduk bersebrangan dengan papa Atta.


"Papa kok tumben kemari, kenapa gak ngajak mama pa." Hawa mulai buka suara sedangkan Irfan hanya menjadi pendengar.


Tanpa menjawab pertanyaan putrinya, papa Atta langsung pada inti kedatangannya menemui Hawa, "Papa bilang apa samu kamu sejak awal Hawa." dengan suara dinginnya papa Atta berujar.


Hawa yang tidak mengerti maksud papanya tentu saja bingung, dia melirik Irfan, fikirnya siapa tahu suaminya itu mengerti apa yang dimaksud oleh papanya, tapi tentu saja Irfan tidak tahu maksud dari kata-kata yang dilontarkan oleh mertuanya barusan.


"Maksud papa apa, aku gak ngerti pa."


"Papa dengan tegas melarang kamu bertemu apalagu membantu anak kurang ajar itu, dan apa yang kamu lakukan dibelakang papa hah." suara papa Atta sekarang meninggi.


Hawa hanya mengerut ditempatnya mendengar kemarahan papanya, Irfan juga hanya bisa terdiam, dia gak tahu kalau selama ini istrinya sering bertemu dengan Adam dan membantunya, karna sejak terakhir Hawa menanyakan tentang apakah ada lowongan yang kosong diperusahaannya untuk membantu Adam, dan Irfan dengan tegas menolak untuk memberi bantuan sama Adam, sejak itulah Hawa tidak pernah lagi membahas-bahas tentang Adam lagi didepannya.


"Dan sekarang, apa yang kamu lakukan sama mama kamu Hawa sampai mama kamu memohon-mohon dan menangis meminta sama papa untuk memberikan ijazah anak durhaka itu."


Setelah bungkam, Hawa memutuskan untuk menjawab pertanyaan papanya, "Hawa tidak melakukan apa-apa pa, mama hanya bilang ingin melihat Adam, dan yah mama kasihan melihat Adam yang bekerja sebagai kuli, dan mama memutuskan untuk membujuk papa memberikan ijazah miliknya Adam supaya Adam bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."


"Anak itu tidak punya apa-apa samasekali, semua yang dimilikinya adalah milik papa, dan saat dia memutuskan memilih gadis kampung itu, semua yang papa berikan padanya papa tarik termasuk ijazahnya, dia tidak berhak meminta sepeserpun apa yang telah papa berikan kepadanya."


Hawa diam sambil menunduk, dia menelan ludahnya, tidak menyangka papanya akan mendatanginya dan semarah ini padanya.


"Irfan." kini papa Atta beralih pada menantunya tersebut.


Mendengar namanya disebut, otomatis Irfan menoleh ke arah mertuanya.


"Kenapa kamu hanya mendiamkan istrimu saat dia membantu anak brengsek itu, padahal papa sudah memperingatkan kamu supaya jangan sekali-kali kamu ataupun Hawa berhubungan dengan anak itu lagi, apalagi sampai memberikan bantuan segala."


Irfan hanya bisa menunduk sama seperti Hawa saat kena amuk sama papa mertuanya yang kalau marah benar-benar menyeramkan.


"Maafkan aku pa, aku tidak tahu kalau Hawa sering bertemu Adam dibelakangku diam-diam dan membantunya." Irfan membela diri, dia yang tidak tahu apa-apa yang diperbuat oleh istrinya dibelakang tentu saja donk tidak terima ikut disalahkan juga.


"Untuk saat ini, papa masih bisa menolerir apa yang kamu lakukan kali ini Hawa karna mengingat kamu adalah putri papa, tapi kalau sekali lagi kamu membantu anak durhaka itu, papa tidak akan segan-segan menarik dana yang telah papa gelontorkan untuk membantu perusahaan suami kamu."


Hawa dan Irfan kompak mendongak dan menatap papa Atta tidak percaya, mereka tentu saja tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh papa Atta, yang Hawa tidak habis fikir, kok papanya sampai segitunya sampai mengancam menarik dana yang telah papanya berikan untuk membantu perusahaan suaminya hanya gara-gara dia membantu Adam, karna Hawa fikir, biar bagaimanapun, Adam itu adalah anak papa Atta, dan yang Hawa heran, kenapa papanya itu tidak berempati sedikitpun kepada Adam.


"Ini gara-gara Hawa papa sampai ngancam segala mau narik dana yang telah dia berikan, Hawa yang salah, nama perusahaan pakai dibawa-bawa segala." batin Adam menatap istrinya jengkel.

__ADS_1


Irfan tentu saja menyalahkan istrinya yang tidak berfikir tentang dampak dari akibat apa yang dia lakukan pada kehidupan keluarga mereka.


"Maafkan Hawa pa, Hawa janji tidak akan pernah berhubungan dengan Adam lagi." janjinya dengan hati tidak menentu.


Hawa harus memilih salah satu, pilihannya adalah, dia tidak akan pernah lagi  mau lagi ikut campur urusan adiknya.


Adam adiknya, dan Hawa tidak ingin melihat adiknya itu menderita, tapi dia memiliki suami dan anak yang harus hidup dengan baik, kalau papanya sampai menarik dana yang telah dia berikan, kemungkinan perusahaan suaminya akan bangkrut, dan itu berarti bisa dipastikan dia, Irfan dan Orlin akan hidup melarat.


"Bagus, kamu telah mengambil keputusan yang benar Hawa, ternyata kamu masih menyayangi dirimu dan keluargamu." desis papa Atta tajam.


Hawa hanya bisa menangis dalam hati, karna bisa dipastikan dia tidak bisa lagi bertemu bahkan membantu adiknya.


"Maafkan  mbak Adam, maafkan mbak karna tidak bisa berbuat apa-apa lagi untukmu."


Karna merasa tidak ada lagi yang akan dikatakan, papa Atta berdiri dan berniat untuk pulang, laki-laki itu memang benar-benar, dia hanya datang untuk memarahi anak perempuannya dan menantunya, dan tidak sedikitpun menanyakan tentang cucunya yang tengah lucu-lucunya.


"Papa sudah mau pulang." tanya Hawa melihat papanya berdiri


"Hmmm."


Papa Atta berjalan ke pintu keluar, sedangkan Hawa dan Irfan mengekor dibelakang untuk mengantarkan kepergian papa Atta.


"Papa harap kamu selalu ingat dengan peringatan papa Hawa." sebelum masuk papa Atta kembali memperingatkan putrinya supaya tidak kembali melakukan hal yang sama.


"Iya pa, sekali lagi maafkan Hawa."


Pak Yono yang merupakan sopir pribadi papa Atta membukakan pintu untuk tuannya saat dilihatnya tuannya sudah mengakhiri ucapannya.


"Hati-hati pa." pesan Hawa saat mobil papanya melaju meninggalkan halaman rumahnya.


Tidak cukup hanya papa Atta yang memarahi Hawa, Irfan juga melakukan hal yang sama begitu mobil mertuanya sudah tidak terlihat.


"Apa yang kamu lakukan benar-benar membahayakan keluarga kita Hawa, kamu tidak pernah berfikir konsekwensi yang akan kita terima saat kamu membangkang perintah papa, bagaimana nasib perusahaan kalau papa menarik dana yang telah dia berikan, dan bagaimana naisb kita kalau perusahaan bangkrut, kamu mau jadi gelandangan dan hidup dijalanan, padahal aku sudah memperingatkan kamu sebelumnya supaya berhenti berhubungan dengan adikmu itu."


"Cukup mas, tidak cukupkah papa yang memarahiku habis-habisan, dan sekarang mas Irfan juga menyalah-nyalahkan aku, mas Irfan tidak tahu rasanya punya saudara yang diusir tanpa membawa apa-apa dan berada diluar sana tanpa pekerjaan."


"Dari awal aku sudah bilang, ini pilihan Adam, dia yang memilih jalan hidupnya bersama dengan gadis itu, jadi kalau sekarang dia menderita dan tidak punya pekerjaan, seharusnya itu bukan menjadi urusanmu, apa yang kamu lakukan benar-benar mempertaruhkan nasib perusahaan dan kehidupan kita."


"Cukup mas, cukup, toh papa saat ini tidak menarik dana yang telah dia berikan kan, jadi aku harap mas Irfan berhenti menyalah-nyalahkan aku lagi." lengking Hawa kesal.


Irfan hanya mendesah berat, dia tidak pernah menyangka kalau papa mertuanya akan datang ke rumahnya hanya untuk marah-marah.


*****


"Apa, kok bisa mendadak begini, berarti kita harus mencari penggantinya dengan cepat, sementara proyek yang saat ini kita kerjakan akan selesai sebentar lagi."


"......."


"Makanya, bagaimana kita mengerjakannya kalau desainnya saja tidak ada, benar-benar tidak bertanggung jawab orang itu, memilih mundur tanpa peringatan sebelumnya, kalau beginikan kita yang kelabakan."


"......."


"Kamu usahakan segera untuk mencari orang yang berkompeten dibidangnya."


"......."


"Saya tunggu secepatnya informasi dari kamu."


Adam tidak sengaja mendengar pembicaraan bos besar yang kebetulan datang berkunjung memeriksa proyek perumahan yang sebentar lagi rampung.


Adam memberanikan diri mendekat pada laki-laki yang wajahnya mengerut karna mendengar berita yang tidak baik dari bawahannya itu.


"Maaf pak."


"Ada apa." jawab sik boss tidak bersahabat, siapa juga yang bisa ramah pada orang yang tidak kenal, apalagi setelah mendengar berita kurang mengenakkan barusan.


"Saya tidak sengaja mendengar pembicaraan bapak ditelpon barusan." ujar Adam memberitahu.


Sik boss mengernyit, kentara sekali dia tidak suka lantaran ada yang menguping pembicaraannya, baik sengaja atau tidak.


Sebelum sik boss salah paham, Adam buru-buru menambahkan, "Saya dengar kalau orang yang ditugaskan untuk mendisain bangunan berikutnya mengundurkan diri ya."


"Terus apa hubungannya dengan anda." sik boss terlihat benar-benar jengkel sekarang.


"Maafkan kalau saya lancang, saya sebenarnya lulusan tehnik arsitektur, kalau bapak mengizinkan, berikanlah saya kesempatan untuk mengerjakan proyek berikutnya."

__ADS_1


Sebenarnya saat mendekati boss tersebut, Adam pesimis dan rasanya tidak mungkin keinginannya itu akan disetujui, jangankan disetujui, dipertimbangkan saja sepertinya tidak mengingat dia hanya seorang kuli bangunan, dan mana ada orang yang percaya kalau dia adalah lulusan tehnik arsitektur.


Sik boss itu meneliti penampilan Adam dari atas sampai bawah, "Hmmm, sebagai seorang kuli, besar juga nyalimu mendekati saya dan meminta saya untuk memberi kamu kesempatan pada proyek besar ini, apa benar kamu lulusan tehnik arsitektur, kalau iya, kenapa kamu bekerja sebagai kuli."


"Karna ijazah saya ditahan oleh orang tua saya pak, dan tidak ada perusahaan yang menerima karyawan tanpa membawa ijazah." Adam menjelaskan.


"Ohh, kenapa ijazah anda ditahan oleh orang tua anda." boss itu kepo ternyata.


"Maafkan saya pak, kalau masalah itu, saya tidak bisa menceritakannya."


Pak Yahya mendekat dan bertanya pada sang boss apa yang saat ini terjadi mengingat bosnya terlihat bicara serius dengan Adam.


"Ada apa pak Sutomo, apa ada masalah." pak Yahya bertanya.


"Gak ada, hanya saja, siapa nama anda..." boss yang bernama Sutomo itu bertanya pada Adam.


"Adam pak, nama saya Adam."


"Iya, pekerja kamu yang bernama Adam ini meminta saya untuk mempertimbangkannya untuk mengerjakan desain proyek berikutnya."


"Apa." pak Yahya terkejut mendengar hal tersebut, "Jangan mengada-ngada kamu Adam, mendesain bangunan tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, perlu keahlian khusus, dan itu jelas sangat bertolak belakang dengan pekerjaanmu sebagai kuli."


"Saya lulusan tehnik arsitektur pak, bahkan saya lulusan terbaik dikampus saya." ujar Adam meyakinkan.


Pak Yahya terlihat tidak percaya, yang ada difikirannya adalah, lulusan terbaik, tapi kok memilih jadi kuli.


Dan apa yang dikatakan Adam barusana membuat pak Sutomo tergerak memberi kesempatan pada Adam, tapi tentu saja dia tidak mengandalkan Adam, dia akan tetap berusaha mencari pengganti yang lainnya, "Baiklah, kamu akan saya beri kesempatan."


Mata Adam melebar, dia tidak mempercayai apa yang didengarnya, "Maksudnya pak."


"Iya, saya akan memberi kamu kesempatan untuk mendesain proyek bangunan perumahan yang akan perusahaan saya kerjakan berikutnya, tapi meskipun begitu, saya juga akan tetap mencari tenaga ahli yang lainnya."


Adam begitu bahagia mendengar kabar tersebut, dia akan berusaha semaksimal mungkin dan tidak akan mengecewakan pak Sutomo, "Terimakasih pak, terimakasih, saya akan sangat berusaha memberikan hasil terbaik." Adam menyalami tangan pak Sutomo dengan erat saking bersyukurnya, dia sampai tidak mempedulikan kalau tangannya kotor.


"Mas Adam, tangan mas Adam kotor." pak Yahya mengingatkan.


Adam menarik tangannya, "Maafkan saya pak."


"Baiklah, saya akan memberikan waktu selama dua minggu untuk anda Adam untuk menyelsaikan desain proyek ini."


"Iya pak, saya berjanji akan memberikan hasil yang terbaik."


Pak Sutomo mengangguk, dan setelah itu dia berjalan meninggalkan Adam untuk melihat-lihat proyek bangunan yang sebentar lagi akan rampung tersebut.


Pak Yahya menepuk lengan Adam, dia ikut senang sekaligus tidak menyangka kalau pekerjanya itu ternyata diberi kesempatan oleh pak Sutomo untuk mengerjakan proyek desain bangunan berikutnya.


"Selamat ya mas Adam, saya tidak pernah menyangka kalau mas Adam ternyata adalah lulusan tehnik arsitektur."


"Terimakasih pak."


"Lakukan yang terbaik, kesempatan ini tidak akan datang dua kali."


"Pasti."


Adam begitu sangat bahagia, rasanya dia tidak sabar untuk pulang dan memberitahu berita bahagia ini pada Tari, Adam yakin istrinya pasti akan bahagia.


*****


Tari membereskan barang-barangnya karna ini sudah waktunya jam pulang kantor, dan saat seperti itu pak Dante keluar dari ruangannya.


"Tari, kamu ikut saya meeting dengan klien."


"Ehh, meeting pak." ulang Tari dengan kalimat ditekan untuk memberitahu bosnya kalau ini sudah saatnya jam pulang kantor.


Tapi bosnya itu tidak peduli dengan keberatan yang ditunjukkan oleh Tari,, dia kembali berkata, "Iya kita meeting, dan sebagai sekertaris kamu wajib untuk ikut." tandasnya tidak bisa dibantah.


Tari mendesah berat, yang artinya apa boleh buat.


Saat Tari meninggalkan tasnya dimeja, pak Dante berkata, "Bawa tas kamu sekalian Tari, kita akan meeting diluar."


"Diluar pak."


"Iya, itu permintaan dari klien."


Tari kembali menyampirkan tasnya dibahu, dalam hati merutuk, "Setelah sekian lama aku hindari untuk diantar pulang oleh sik hidung belang ini, sekarang aku harus terpaksa satu mobil dengannya hanya gara-gara menuruti keinginan klien yang meminta meeting diluar."

__ADS_1


*****


__ADS_2