
Dengan menggenggam tangan sang istri, Adam melangkah dengan pasti memasuki rumah besar milik keluarganya.
"Tuan muda." tegur bi Asih saat melihat tuan mudanya itu kembali setelah beberapa hari pergi dan tidak ada kabarnya.
Bi Asih sangat senang melihat anak majikannya itu kembali, dia tahu apa yang terjadi, dia tidak sengaja mendengar percakapan papa Atta dan mama Cellin saat dia tengah membereskan meja makan.
"Bi Asih." Adam memeluk wanita yang telah mengikuti keluarganya itu sejak kedua orang tuanya menikah, bi Asih yang lebih banyak mengurus dan mengasuhnya saat dia masih kecil.
Wanita yang berumur 65 tahun itu masih kelihatan segar dan bugar diusianya yang terbilang sudah tua, wanita itu membalas memeluk anak majikannya yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
"Kemana saja kamu, bibik khawatir sampai tidak bisa tidur memikirkan kamu."
Bisa dibilang, bi Asih adalah ibu kedua bagi Adam.
"Adam baik-baik saja bik, bibik tidak perlu mengkhawatirkan aku, lagiankan aku sudah gede, sudah bisa menjaga diri sendiri."
"Bagi bibik, kamu tetap anak kecil yang harus bibik jaga." wanita tua itu tidak kuasa untuk menahan tangisnya.
"Iya bik, yang pentingkan sekarang aku sudah ada didepan bibik dan baik-baik saja dan masih utuh sempurna, jadi, bibik jangan nangis lagi ya."
Bi Asih mengangguk dan mengusap lelehan air matanya yang membasahi pipinya.
Dia kemudian menatap wanita muda yang berada disamping Adam dengan keingintahuan yang besar, bik Asih baru menyadari keberadaan Tari.
Tari tersenyum sebagai sopan santun saat dirinya ditatap.
"Ini siapa." tanyanya dengan tangan keriputnya menunjuk Tari.
"Ini Mentari bik Asih, istriku, wanita yang pernah aku katakan waktu itu." Adam memperkenalkan Tari
Tari meraih tangan bik Asih dan menciumnya, "Saya Mentari bik, bibik bisa memanggil saya Tari."
Bibir bik Asih terbuka saat mengetahui fakta kalau Adam kini sudah menikah.
"Istri, ini maksudnya apa, tuan muda beneran sudah menikah." bik Asih menolak untuk mempercayai pendengarannya.
Adam mengangguk pasti untuk meyakinkan bik Asih.
"Tanpa restu dari tuan dan nyonya."
Adam terdiam, dia tidak langsung menjawab.
"Hmmm, yahh, aku harus bagaimana, mereka tidak memberi restu dan malah menjodohkan aku dengan wanita lain, sedangkan mereka tahu kalau aku mencintai Tari." jelas Adam.
"Jangan bilang bibik juga menentang pernikahan Adam dan Tari."
"Apa." bi Asih terkekeh sendiri, "Tuan muda, tuan muda, bibik tidak punya hak untuk tidak merestui hubungan kalian, tapi bibik seneng mendengar tuan sudah menikah, selamat ya tuan, nona atas pernikahannya." bi Asih memberi selamat dan memandang Adam dan Tari bergantian.
"Terimakasih bik Asih, biar bagaimanapun, bik Asih adalah ibu kedua untuk Adam, restu bi Asih tentu saja sangat Adam harapkan."
"Kalau tuan muda meminta restu bibik, tentu saja bibik akan merestui tuan dan nona Tari, kebahagian tuan adalah hal yang terpenting untuk bibik."
Adam memeluk bik Asih, bik Asih balas memeluk tuan mudanya, dan menepuk-nepuk punggung Adam.
"Seandainya mama seperti bik Asih." gumam Adam dalam hati.
Setelah mengurai pelukannya, bik Asih kini beralih pada Tari, wanita yang sekarang telah resmi menjadi istri tuan mudanya, bik Asih meraih tangan Tari dan menggenggamnya dan berkata, "Tuan muda adalah laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab nona, saya bisa pastikan kalau nona akan hidup bahagia dengan tuan."
"Iya bik, saya yakin akan hal itu, makanya saya mau menikah dengan mas Adam." ucap Tari membenarkan kata-kata bik Asih.
"Ohh ya bik, mama dan papa mana." Adam bertanya.
"Nyonya dan tuan ada diruang tamu tuan, soalnya nyonya kedatangan tamu seorang wanita yang masih muda dan cantik."
"Tamu wanita, muda dan cantik, siapa." tanya Adam dalam hati karna biasanya tamu mama ataupun papanya adalah orang-orang seumur mereka.
"Baiklah bik, kami akan menemui papa dan mama kalau gitu." putus Adam.
"Ayok sayang." meraih tangan Tari dan menggengamnya.
__ADS_1
"Semoga tuan dan nyonya memberi restunya untuk tuan muda dan nona Tari."
"Semoga." jawab Adam tidak yakin.
Baru saja mereka akan berjalan, terdengar suara langkah disertai dengan obrolan yang mendekat ke arah mereka.
Dua diantara ketiga suara tersebut tentu saja sangat dikenal oleh Adam, suara mama dan papanya, sedangkan suara merdu itu mungkin adalah suara tamu yang dibilang oleh bik Asih.
Adam dan Tari bisa mendengar obrolan itu dengan sangat jelas.
"Tante senang kamu datang kemari sayang, sering-seringlah datang bermain dirumah kami, ajak juga jenk Tania." itu adalah suara mama Cellin.
"Iya tante, kapan-kapan aku akan kemari kalau kantor tidak sibuk dan akan mengajak mama juga."
"Selain berbakti, kamu juga bener-bener hebat Siska, muda, cantik, pintar, dan sekarang, perusahaan papamu bertambah semakin berkembang pesat saat kamu ikut terjun membantunya mengurus bisninya, om sangat salut kepadamu, om pasti akan sangat bahagia kalau kamu menjadi menantu om nantinya." suara itu adalah suara papa Atta yang penuh dengan harapan.
Seperti dirinya yang mendengar percakapan itu, Adam juga yakin Tari mendengarnya, oleh karna itu, Adam menggenggam tangan istrinya dan meremasnya lembut, remasan itu memberitahu kalau meskipun orang tuanya memuji wanita lain, tapi bagi Adam, Tarilah yang terbaik untuknya dan lebih segala-galanya untuknya.
Tari menatap Adam dengan tatapan sendu, yah, hati siapa yang tidak sedih mendengar mertua memuji wanita lain, sedangkan dirinya tidak diterima dalam keluarga mereka.
Adam menatap balik istrinya dan tersenyum pada Tari, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Tari dan berbisik, "Jangan pernah minder, kamu lebih segala-galanya untukku, I LOVE YOU Mentari Whardhani, kamu adalah mentari yang senantiasa menyinari relung hatiku dan hidupku."
Kata-kata Adam itu membuat Tari terhibur, reflek kedua sudut bibirnya melengkung.
"I LOVE YOU TO mas." balas Tari.
Obrolan ketiga orang yang berjalan ke arah pintu keluar tersebut langsung terhenti begitu melihat Adam dan Tari berdiri didepan mereka.
"Adam." gumam mama Cellin antusias begitu melihat putra kesayangannya yang sudah beberapa hari ini tidak pulang berdiri dihadapannya, langsung saja dia berlari menghambur ke arah putranya dan memeluknya dengan erat, Adam melepas pegangan tangannya dari Tari dan balik memeluk mamanya.
"Adam." desis Siska, melihat Adam membuat hatinya bergetar, "Siapa gadis yang bersama mas Adam itu." Siska bertanya-tanya dalam hati, namun dia berusaha untuk positif thinking, "Mungkin sepupunya kali."
"Adam sayang, mama kangen putraku, bagaimana keadaan kamu, apa kamu baik-baik saja." cecar mama Cellin begitu dia mengurai pelukannya, mama Cellin mengabaikan keberadaan Tari yang berdiri disamping putranya.
Adam mengangguk menjawab pertanyaan mamanya, "Iya ma, Adam baik-baik saja."
"Tapi kenapa kamu terlihat kurusan begini, apa kamu makan dengan baik." mama Cellin memegang kedua sisi wajah putranya yang kelihatan tirus, "Apa papa kamu sudah keterlaluan dengan mencabut semua fasilitas dan kartu kredit kamu."
"Mama senang mendengar kalau kamu baik-baik saja, dan terimakasih kamu mau kembali ke rumah, mama senang melihatmu." mama Cellin berfikir kalau putranya itu pulang karna telah menyadari kesalahannya.
"Ma, Adam pulang untuk memberitahu mama sesuatu."
Adam meraih tangan Tari, dua insan itu saling melempar pandangan satu sama lain sebelum Adam memberitahu maksud kedatangannya yang sebenarnya.
"Adam dan Tari sudah menikah ma, kami datang kemari untuk meminta restu dari mama dan papa."
Seperti disambar petir disiang bolong, itulah yang dirasakan oleh Siska saat ini saat mendengar pengakuan dari bibir Adam, laki-laki yang telah mencuri hatinya ternyata kini telah menikah dengan wanita lain, Siska memang baru mengenal Adam, dan ini adalah pertemuan kedua mereka, tapi pertemuan singkat mereka sudah mampu membuat Siska jatuh cinta sama Adam, sehingga wajar kalau dia patah hati saat mendengar Adam sudah menikah.
"Bilang kamu hanya bercanda, ini tidak benarkan, kamu tidak menikahi gadis inikan." mama Cellin menolak untuk percaya.
"Bener ma, Adam dan Tari sudah menikah."
"Om, tante, apa-apaan ini, bukannya Adam dijodohin sama Siska, kenapa Adam malah menikahnya dengan wanita lain." timpal Siska dengan suara melengking.
"Maafkan aku Siska, sejak awal aku tidak menerima perjodohan ini." Adam menoleh ke arah Siska yang terlihat shock.
Papa Atta menggeram dan mengepalkan tangannya, dia berjalan dengan langkah lebar dan meringsek ke arah Adam, tanpa basa-basi dia meraih kerah kemeja Adam dan menonjok pipi putranya.
Buk
Pukalan itu cukup keras membuat tubuh Adam oleng.
"Dasar anak tidak tahu diuntung." kembali memberikan tonjokan dan kali ini membuat tubuh Adam tersungkur ke lantai.
"Mas Adam." pekik Tari kaget karna melihat papa Atta tiba-tiba memukul suaminya.
Adam tidak melawan, bagaimana dia bisa melawan kalau orang yang memukulnya adalah papanya.
"Berani kamu datang ke rumah dan dengan santainya memberitahu kalau kamu sudah menikah tanpa memikirkan perasaan kami."
__ADS_1
Buk
Buk
Papa Atta memberi pukulan bertubi-tubi pada putranya yang telah mengecewakannya tersebut.
Mama Cellin masih terpaku ditempatnya, tidak berusaha mencegah suaminya yang memukul putranya, dia masih belum mempercayai kalau putranya itu sudah menikah dengan gadis yang menurutnya tidak pantas bersanding dengan keluarga Wijaya.
"Papa, jangan." Tari berusaha menahan ayah mertuanya yang saat ini memberi pukulan pada Adam.
Papa Atta menghempaskan tangan Tari, "Jangan berani-beraninya kamu memanggil aku papa, aku tidak akan pernah sudi mengakui gadis miskin seperti kamu sebagai menantuku, paham kamu." tunjuk papa Atta dengan kebencian yang kentara ditampakkan oleh matanya.
Tari sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi tetap saja dia merasakan perih dihatinya karna tidak pernah dianggap oleh keluarga suaminya.
Adam tidak melawan saat dirinya dipukul, tapi dia tidak terima saat istrinya dihina, Adam menyingkirkan tangan papanya yang masih mencengkram kerah kemejanya, dia berusaha berdiri dengan susah payah, dia merasakan perih dibeberapa bagian wajahnya yang kena pukul oleh tangan papanya.
"Pa, papa boleh memukul aku bahkan sampai aku mati sekalipun, tapi jangan pernah hina Tari, dia sekarang adalah istriku, menantu papa."
"Jangan sebut-sebut dia sebagai menantu papa Adam, bahkan sampai kiamat sekalipun papa tidak akan pernah sudi mengakuinya sebagai menantu papa."
Bendungan yang sejak tadi ditahan oleh Tari kini jebol, mengalir dengan deras membasahi pipinya dan membentuk anak sungai.
"Cukup pa, kami kesini bukan untuk meminta restu dari papa, kami kesini hanya untuk memberitahu papa."
"Benar-benar anak kurang ajar kamu Adam, demi wanita ini kamu berani melawan papa."
"Adam tidak pernah bermaksud melawan papa, Adam sangat menghormati papa, papa boleh mengatur kehidupan Adam,
hanya saja, masalah hati, papa tidak bisa mengaturnya, Adam berhak bersama dengan wanita yang Adam cintai, dan wanita itu adalah Tari, bukan Siska."
Perih, itulah yang dirasakan oleh Siska mendengar pengakuan Adam, padahal dia sudah membayangkan pernikahan dan hidup bahagia dengan Adam, tapi nyatanya, laki-laki itu memilih menikahi gadis lain.
Plak
Setelah tonjokan, kini tamparan yang mendarat dipipi Adam, wajah Adam sudah tidak berbetuk, memar dan sudut bibirnya sobek sehingga mengeluarkan darah.
"Pergi kamu dari rumah papa Adam, sekarang benar-benar tidak ada hubungan diantara kita, kamu bukan lagi bagian dari keluarga Wijaya, dan jangan pernah kamu injakkan kaki kamu dirumah papa." sekarang papa Atta benar-benar sudah menganggap Adam bukan lagi bagian dari keluarganya, kemarin dia fikir dengan mencabut semua fasilitas yang selama ini dia berikan akan membuat putranya itu sadar dan kembali dengan suka rela pulang ke rumah.
Yahh, Adam memang pulang, tapi bukan untuk kembali, tapi membawa berita buruk, berita buruk untuk keluarganya tentunya karna mereka memang tidak menginginkan Adam menikahi Tari.
"Iya pa, Adam akan pergi, terimakasih karna telah membesarkan Adam dengan baik dan memberikan semua kemewahan untuk Adam."
"Ma, Adam pergi dulu, jaga diri mama baik-baik." Adam pamit sama mamanya, tapi bahkan mama Cellin tidak mau memandang putranya, dia benar-benar kecewa dengan Adam.
"Siska." Adam menoleh ke arah Siska yang masih berdiri ditempatnya, wajah Siska menyiratkan kesedihan, "Maafkan aku, kamu pasti akan menemukan laki-laki yang jauh lebih baik daripada aku."
Siska hanya diam, bahkan membuka bibir saja rasanya dia tidak sanggup.
"Ayok Tari kita pergi." Adam menggandeng tangan Tari.
Meskipun tidak diakui, tapi Tari tetap berpamitan sama orang tua Adam yang sekarang juga berarti adalah orang tuanya juga, "Ma, pa, kami pamit dulu."
Ya jelaslah kedua orang tua Adam tidak merespon, boro-boro meresepon, mereka malah memandang Tari dengan tatapan kebencian.
Adam menggandeng tangan istrinya, berhenti sesat ketika berada dihadapan bik Asih yang masih betah berdiri ditempatnya karna menyaksikan adegan drama yang biasanya sering terjadi disinetron-sinetron yang ditayangkan oleh stasiun TV nasional.
"Bi Asih, kami pamit dulu." ujar Adam.
Mata bi Asih berkaca-kaca, bagaimana tidak, dia benar-benar tidak tega melihat tuan mudanya yang sudah dia anggap seperti anak sendiri itu dengan wajah babak belur, niatnya meminta restu ehh malah dikasih bogeman.
"Iya tuan muda, bibik akan selalu berdoa semoga tuan muda dan nona bahagia."
"Terimakasih bik doanya."
Dan sebelum pergi, Adam memeluk bik Asih untuk terakhir kalinya, Tari juga melakukan hal itu.
"Kami pergi dulu bik." pamit Tari.
Bi Asih hanya mengangguk, rasanya dia tidak sanggup untuk berkata-kata lagi, dia sangat sedih melihat secara langsung tuan mudanya diusir dari rumah besar kediaman keluarga Wijaya.
__ADS_1
Dengan langkah mantap dan tidak melepas genggaman tangan satu sama lain, Adam dan Tari keluar dari rumah kediaman keluarga Wijaya, mulai saat ini, kehadiran mereka benar-benar tidak diterima disana.
****