CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
MEMINTA MAAF


__ADS_3

Laura sangat bersyukur karna operasi yang dilakukan oleh Tari berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala sama sekali, dan meskipun Tari belum membuka matanya, tapi seenggaknya Tari telah berhasil melewati masa kritisnya.


Laura menolak untuk pulang, dia ingin menemani Tari karna Tari kini sebatang kara tidak memiliki sanak saudara, hanya Laura yang kini dimilikinya, mama dan papanya mengerti sehingga mereka membiarkan putri mereka untuk menunggu Tari.


Dan saat ini Laura tengah menikmati sarapan dicafetaria rumah sakit, saat itu dia tidak sengaja mendengar percakapan dua orang yang berjarak dua meja darinya.


"Sudahlah sayang, kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan, ini adalah takdir, kamu harus mengikhlaskan Adam ya, pagi ini juga kita bawa jenazahnya supaya nanti sore kita bisa memakamkannya." itu suara Irfan suami Hawa yang saat ini tengah menghibur istrinya.


"Kamu makan ya, dari kemarin kamu belum makan lho, nanti kalau kamu sakit gimana." Irfan membujuk istrinya.


"Aku gak nafsu makan mas."


"Makanlah sayang walaupun hanya sedikit."


Hawa menggeleng, disaat dilanda kesedihan seperti ini, sepertinya tidak ada yang bisa masuk ke lambungnya.


Laura bisa mendengarkan percakapan dua orang itu dengan jelas, dan dia juga mendengar mereka menyebut-nyebut tentang Adam.


"Apa wanita itu adalah mbak Hawa, kakaknya Adam." batin Laura.


Tari selalu bercerita kalau kakaknya Adam sangat baik kepadanya, dan hal itu membuat Laura tergerak untuk mendekat ke arah dua orang asing yang tidak dikenalnya itu.


"Permisi mas, mbak." tegurnya.


Hawa dan suaminya menoleh pada sumber suara.


"Apa kalian mengenal mas Adam." tanya Laura.


Hawa dan Irfan menatap Laura heran.


Karna pertanyaannya tidak direspon, Laura memperkenalkan dirinya, "Saya Laura, sahabatnya Tari."


Saking fokusnya dengan Adam dan merasakan duka yang mendalam karna meninggalnya sang adik membuat Hawa tidak mengingat Tari sama sekali, sehingga saat dia mendengar nama Tari disebut-sebut membuatnya langsung teringat dengan adik iparnya itu


"Tari." Hawa langsung berdiri, "Bagaimana keadaan Tari, dimana dia sekarang, saya adalah kakak iparnya, kakaknya Adam."


"Tari tidak bisa dibilang baik-baik saja mbak, dia harus menjalani operasi untuk mengangkat bayi yang dikandungnya." jelas Laura.


Hawa membekap bibirnya, "Astaga, ya Tuhan, keponakanku." air mata Hawa yang sempat kering kini kembali menitik.


Irfan berdiri, dia merangkul bahu istrinya berusaha untuk menenangkanya.


"Dimana Tari sekarang."


"Tari masih belum sadarkan diri mbak, kalau mbak mau melihatnya, ayok ikut saya."


"Mas, ayok kita lihat kondisi Tari." Hawa mengajak suaminya yang diangguki oleh suaminya.


*****


"Ya Tuhan Tari." Hawa membekap bibirnya melihat kondisi Tari yang terbaring lemah.


Rasanya sejak kemarin sampai sekarang Hawa tidak pernah putus-putusnya menangis, begitupun saat melihat tubuh Tari yang terbaring dibankar, beberapa bagian tubuh Tari terpasang selang medis untuk menunjung kehidupannya, monitor kecil yang berada disamping tempat tidurnya tidak putus-putusnya memampangkan garis naik turun yang menandakan kalau jantung Tari masih berdenyut.


"Tari...." Hawa meraih tangan adik iparnya itu dan duduk dikursi yang ada didekat tempat Tari terbaring.


Tangan Tari begitu dingin dalam genggamannya, "Maafkan mbak Tari yang selama ini selalu mengabaikan kalian, mbak merasa sangat bersalah, maafkanlah mbak Tari yang tidak bisa berbuat apa-apa." Hawa terisak.


Irfan dan Laura hanya berdiri dan melihat intraksi tersebut.


"Terimakasih Tari, terimakasih karna disisa hidupnya kamu telah memberi kebahagian untuk Adam, terimakasih karna telah memberinya cinta yang tulus, seenggaknya disisa hidupnya Adam merasakan kebahagian bersama dengan kamu."


"Sekarang Adam sudah pergi Tari, dia sudah pergi meninggalkan kita terlebih dahulu, orang-orang bilang supaya mbak mengikhlaskan kepergiannya, tapi semuanya terasa sulit, sangat sulit untuk mengikhlaskannya, dan aku yakin kamu juga akan seperti mbakkan."

__ADS_1


Laura menghapus air matanya, dia tidak tahan membendung air matanya mendengar kata-kata Hawa.


"Tapi mau tidak mau, kita harus mengikhlaskan Adam Tari, kita harus mengikhlaskan kepergiannya supaya dia bisa tenang dialam sana."


Irfan mendekat ke arah istrinya dan berbisik, "Hawa, papa menunggu kita, katanya kita harus pulang dan membawa jenazah Adam pulang ke rumah." beritahu Irfan karna mertuanya itu mengechatnya.


Hawa mengangguk, dia menghapus air matanya dan berpamitan sama Tari meskipun Tari tidak bisa mendengarnya, "Mbak pergi dulu Tari, tapi mbak janji, mbak akan datang lagi." janji Hawa dan berdiri dari duduknya dan mendekati Laura.


"Maaf, siapa nama mbak tadi." Hawa menanyai Laura.


"Nama saya Laura mbak."


"Laura, terimakasih karna telah menjaga Tari."


"Tari adalah sahabat saya mbak, dan itu sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaganya dan selalu menemaninya."


"Sekali lagi terimakasih ya Laura, saya pergi dulu, titip Tari ya, besok-besok saya akan kembali untuk melihat kondisi Tari."


"Iya mbak, terimakasih karna telah mau melihat Tari kesini."


Hawa mengangguk, dia dan suaminya pergi dari ruangan tersebut.


****


Setelah bertanya sama perawat yang ditemuinya, dan sik perawat mengatakan kalau gadis yang dicari oleh Lukas telah dipindahkan ke ruang perawatan, kini dengan masih memapah putranya mama Lili membawa Lukas menuju kamar yang disebutkan oleh sik perawat.


"Sayang, kamu bisa tunggu sebentar gak, duduk disana dulu ya." mama Lili menunjuk kursi besi yang ada didekat dinding, "Mama sudah tidak tahan kebelet pipis soalnya."


Lukas mengangguk sementara mamanya langsung ngacir mencari toilet terdekat.


Meskipun tadi Lukas mengiyakan permintaan mamanya, Lukas bukannya malah duduk menunggu mama Lili, tapi dia tetap berjalan meskipun dengan tertatih-tatih karna kakinya juga terluka karna insiden tabrakan itu.


Lukas menghentikan langkahnya disebuah ruangan yang menurut info dari perawat yang mamanya tanyai adalah tempat dimana Tari dirawat, Lukas meletakkan tangannya dikenop pintu, namun saat dia akan mendorongnya, ada keraguan dihatinya, entah kenapa dia merasa takut, takut akan dosanya karna telah membuat gadis itu kehilangan suaminya, namun setelah beberapa saat menguatkan hatinya, pada akhirnya Lukas mendorong pintu itu juga secara perlahan, matanya langsung tertuju pada tubuh seorang gadis yang terbaring dengan mata tertutup, beberapa luka lebam menghiasi wajah gadis tersebut, Lukas kemudian beralih menatap perut sik gadis yang ternyata sudah kempes, rasa bersalah itu kembali menyeruak, sekali lagi dia harus menerima kenyataan kalau satu lagi nyawa melayang karna ulahnya, dia benar-benar merasa sangat berdosa, bayi yang seharusnya bisa menikmati indahnya dunia kini harus pergi sebelum sempat dilahirkan, dan itu karna ulahnya.


Lukas berjalan mendekati Tari, dia ingin meminta maaf, meskipun gadis itu tidak bisa mendengarnya, dan kalaupun seandainya Tari bisa mendengarnya, Lukas yakin, Tari tidak akan pernah memaafkannya, dosanya begitu sangat besar.


Pintu terbuka yang membuat Lukas menolehkan kepalanya ke arah pintu, seorang gadis yang tidak lain adalah Laura menatap Lukas dengan curiga, Laura baru kembali dari menemui dokter untuk mengetahui perkembangan Tari, Laura bertanya-tanya dalam hati, kenapa ada orang asing yang juga mengenakan pakaian pasien berada dikamar rawat Tari.


"Kamu siapa." tanya Laura setelah meneliti laki-laki yang berdiri tidak jauh dari tempat tubuh Tari terbaring.


"Saya Lukas."


"Lukas." heran Laura, "Apa kamu mengenal Tari."


Lukas mengangguk, Lukas menunduk, menarik nafas perlahan, dan setelah menguatkan hatinya, dia menatap Laura dan memberitahukan kebenarannya, "Saya yang menyebabkan terjadinya kecelakaan yang menimpa Tari dan suaminya."


Mata Laura melebar mendengar pengakuan laki-laki bernama Lukas tersebut, saking fokusnya sama keselamatan Tari, dia tidak pernah mencari tahu penyebab terjadinya kecelakaan yang dialami oleh Tari dan Adam, dan kini, orang yang menyebabkan kecelakaan tersebut berdiri dihadapannya, tanpa tedeng aling-aling, Laura meringsek mendekati Lukas, dengan sekuat tenaga dia meluapkan amarahnya dengan menampar Lukas dengan sangat keras dan itu berhasil membuat wajah Lukas oleng ke samping, tidak puas hanya sampai disana, Laura menarik kerah baju pasien yang dikenakan oleh Lukas, tidak peduli dengan kondisi Lukas yang terluka, Laura melancarkan serangannya bertubi-tubi dengan memukul tubuh Lukas.


"Dasar sialan, brengsek, tanggung jawab kamu, gara-gara kamu Tari terbaring tidak berdaya begini, gara-gara kamu Tari harus kehilangan suami dan calon bayinya, seharusnya kamu yang mati, bukan mereka, kenapa Tuhan membiarkan laki-laki brengsek seperti kamu hidup sialan." Laura menjerit histeris dengan tangan masih aktif memukul-mukul Lukas.


Lukas hanya diam menerima amukan dari gadis yang tidak dikenalnya yang Lukas yakini adalah keluarga dari gadis yang saat ini terbaring dibankar, Lukas tidak berusaha menghentikan gadis tersebut yang terus memukulnya, menurut Lukas, dia sangat pantas menerima amukan tersebut, "Iya, kamu benar, seharusnya aku yang mati bukan mereka, aku iklhas, kalau membunuhku bisa menebus dosa-dosaku, lakukanlah." pasrahnya.


"Kamu memang harus mati." geram Laura semakin intens memukul-mukul bagian tubuh Lukas.


"Ya Tuhan, apa yang kamu lakukan kepada putraku." mama Lili tiba-tiba datang, dia sangat terkejut melihat putranya dipukuli oleh seorang gadis.


Mama Lili langsung berlari dan mendorong tubuh Laura dari Lukas, mama Lili menatap Laura tajam, "Kenapa kamu memukul putraku, apa salahnya." mama Lili berdiri didepan Lukas seoalah-olah menjadi perisai untuk melindungi putranya.


"Anak tante memang pantas menerimanya, dia bahkan seharusnya mati." Laura tidak kalah berteriak, "Gara-gara anak tante sahabatku seperti ini." Laura menunjuk tubuh Tari yang terbaring, "Dan tidak hanya itu, anak tante juga membunuh suami beserta bayi yang dikandung oleh sahabatku."


Yang namanya seorang ibu pasti akan membela putranya, tidak peduli apakah putranya benar atau salah, begitu juga dengan mama Lili, "Itu bukan salah putraku, itu murni kecelakaan, jadi kamu tidak bisa menyalahkan putraku begitu saja."


"Gadis itu benar ma, itu semua salahku." Lukas mengintrupsi.

__ADS_1


Mama Lili menoleh kebelakang, "Itu bukan salah kamu sayang, itu adalah kecelakaan, berhenti salahkan dirimu sendiri."


Lukas menggeleng, "Itu memang salahku ma, kalau aku tidak mabuk dan ugal-ugalan, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi."


"Tuhh, tante dengar sendiri, itu salah anak tante, dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan."


"Diam kamu, berhenti menyalahkan putraku, putraku sudah cukup terpukul dengan semua ini, jangan kamu tambah bebannya dengan menyalah-nyalahkannya."


"Itu tidak sepadan dengan apa yang diderita oleh sahabatku, seharusnya anak tante yang mati dan pergi ke neraka."


Mama Lili sudah akan membuka bibirnya untuk membalas kata-kata Laura, namun Adam meraih pergelangan tangan mamanya dan menggeleng, "Ma, sebaiknya kita pergi dari sini." ujarnya karna Adam tidak ingin terjadi keributan.


Mama Lili mengangguk, putranya memang butuh istirahat, tidak baik untuk putranya berada disini lama-lama mendengar dirinya dan gadis yang tidak kenalnya adu mulut.


"Sekali lagi, saya minta maaf, saya akan bertanggung jawab dengan apa yang telah saya lakukan." ucap Adam sebelum pergi meninggalkan ruang tersebut.


Laura terduduk disofa, dia benar-benar begitu emosi melihat kehadiran laki-laki bernama Lukas yang telah menyebabkan Tari seperti ini, "Dia datang dan meminta maaf dengan begitu mudahnya, dasar brengsek, difikir dengan meminta maaf semuanya akan baik-baik saja dan mengembalikan Adam dan bayi Tari, kenapa bukan dia saja yang mati, kenapa Tuhan malah membiarkan dia yang hidup." umpat Laura.


*****


Saat ini Laura tengah mengelap tangan Tari dengan handuk basah saat dia melihat tangan Tari bergerak-gerak.


"Tari." gumamnya melirik ke wajah Tari, dan Laura bisa melihat kalau kelopak mata Tari juga bergerak, perlahan tapi pasti, mata Tari terbuka perlahan, mata indah itu mengerjap-ngerjap karna silau akibat sinar matahari yang masuk melalui gorden.


"Tari ya Tuhan, kamu sudah sadat." gumam Laura terharu, "Ma, mama, Tari sadar ma." beritahunya sama mamanya yang duduk di sofa.


Mama Indi mendekat untuk memastikan kebenaran yang dikatakan oleh putrinya.


"Tari nak, kamu sudah sadar, syukurlah." ucap mama indi penuh syukur.


Tari hanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, mungkin kesadarannya belum sepenuhnya kembali.


"Laura, panggil dokter untuk memeriksa keadaan Tari." perintah mama Indi.


"Baik ma." Laura langsung keluar ruangan untuk memanggil dokter.


Dan tidak mama Laura datang bersama dokter yang memang menangani Tari sejak awal.


Dokter itu memeriksa keadaan Tari untuk beberapa saat, melakukan beberapa hal sebelum bisa memastikan keadaan Tari.


"Gimana dokter." tanya Laura.


Dokter itu tersenyum tipis, "Keadaan nyonya Tari baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Laura dan mama Indi mendesah lega.


"Tapi untuk proses pemulihan, nona Tari harus tetap berada dirumah sakit, yahh mungkin kurang lebih selama dua mingguan."


"Iya dokter, terimakasih."


"Baiklah kalau begitu saya tinggalkan dulu." pamit dokter tersebut.


"Iya dokter."


Laura mendekat dan duduk dikursi yang tadi dia duduki, "Tari, bagaimana perasaanmu."


"H a us."


"Haus, kamu ingin minum." Laura menuangkan air untuk Tari, mengangkat kepala Tari dan membantunya untuk minum, dan dia kembali membaringkan kepala Tari dibantal setelah membantu Tari minum.


Tari meletakkan tangannya diperut, karna merasakan perutnya rata, Tari meraba-raba, dia kelihatan panik, "Ra, ba yi ku, ma na." karna baru terbangun setelah melakukan operasi, jadinya Tari belum bisa bicara dengan normal, suaranya terputus-putus.


Sumpah disini Laura bingung harus bagaimana, dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa atas pertanyaan Tari barusan, itu masih masalah bayinya, bagaimana kalau Tari bertanya tentang Adam, Laura yakin Tari pasti akan shock mengetahui kalau Adam telah pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Laura tidak ingin menjawab, tapi tatapan Tari menuntut untuk mendapatkan jawaban.


***


__ADS_2