
Kini Tari dan Adam telah kembali ke rumah sederhana peninggalan ayahnya Tari.
Tari sedih tentu saja karna pernikahan mereka tidak mendapat restu dari orang tua Adam, tapi dia lebih sedih melihat kondisi suaminya yang babak belur karna dipukul habis-habisan oleh papa mertuanya, hal itu membuatnya menangis.
Adam yang melihat istrinya menangis menarik istrinya dalam pelukannya dan berusaha untuk menghibur, "Sudah Tari, kamu gak usah menangis, kita bisa menjalani hidup kita dengan baik tanpa restu dari mereka."
Tari sesenggukan, tapi dia mengangguk mendengar ucapan Adam.
"Awwwhhh." Adam meringis karna merasakan perih di sudut bibirnya, sakit akibat pukulan papanya baru terasa sekarang.
"Kenapa mas." panik Tari melihat suaminya menyentuh ujung bibirnya yang sobek.
"Duduk mas, Tari akan mengobati luka mas Adam." perintah Tari.
Adam nurut, dia duduk dikursi rotan diruang tamu, sedangkan Tari mencari kotak P3K, gak lama Tari muncul dengan membawa hal-hal yang dia perlukan dan duduk disamping Adam.
"Sakit banget ya mas."
"Lumayanlah, papa bener-bener menyalurkan emosinya dengan sangat menjiwai." kekehnya dan dia kembali mengaduh, "Awhhh."
"Jangan bicara dulu mas."
Tari membersihkan luka Adam terlebih dahulu dengan alkohol, barulah kemudian setelah itu dia mengoleskan obat merah.
"Awwwwhhh." Adam kembali meringis saat merasakan kulitnya yang terasa perih akibat sentuhan obat merah yang digunakan untuk mengobatinya.
"Sakit mas, maafkan aku, aku akan pelan-pelan."
"Padahal pas digebukin tidak terasa sakitnya, kok sekarang jadi sakit banget ya."
Hening, keduanya sama-sama terdiam, dan Tari masih sibuk mengobati luka-luka Adam.
"Mas, maafkan aku." lirih Tari tiba-tiba, tidak jelas apa yang menyebabkannya meminta maaf.
Adam menatap Tari bingung, heran dia kenapa Tari tiba-tiba meminta maaf padanya, "Kenapa kamu meminta maaf Tari."
"Karna aku mas jadi kayak gini dan diusir dari rumah."
Adam tersenyum tipis, "Aku memilihmu karna kamu gadis yang pantas untuk diperjuangkan."
"Terimakasih mas, mas telah mau mengikuti kata-kata ayah untuk menikahiku dan menjagaku saat ayah telah tiada."
"Justru aku yang harusnya berterimakasih sama almarhum ayah Tari karna beliau telah mempercayakan putri kesayangannya kepadaku untuk aku jaga."
"Mas, Tari kangen sama ayah." gumam Tari, matanya berkaca-kaca saat mengingat almarhum ayahnya yang sudah tiada.
"Besok kita ziarah ke makam ayah ya."
Tari mengangguk mengiyakan kata-kata Adam.
"Nahh sudah selesai, sekarang mas Adam sebaiknya istirahat."
"Sama kamu ya istirahatnya." Adam mengedipkan matanya penuh arti.
"Apaan sieh mas Adam, aku mau masak mas."
"Nanti saja masaknya, istirahat dulu ya setengah jam saja." istirahat yang tidak sembarang istirahat, "Ya sayang ya." Adam memaksa.
Tari yang mengerti maksud kata-kata suaminya berkata, "Tapi mas Adamkan lagi sakit."
"Cuma sakit gini doank mah gak ada artinya sayang."
"Tadi saja mas mengaduh-ngaduh terus."
"Makanya ayok, anggap saja ini sebagai obat supaya aku cepat sembuh."
Tari terkekeh, "Dasar mas Adam."
Karna Adam terus merengek, akhirnya Tari menuruti permintaan suaminya itu.
****
Hawa mengunjungi rumah kediaman keluarganya begitu mamanya menelpon dan memberitahu tentang apa yang terjadi dirumah besar padanya, dia datang sendiri karna suaminya belum pulang dari kantor sedangkan putrinya dititipkan sama pengasuhnya dirumah.
Begitu tiba dirumah kediaman keluarganya, Hawa langsung menuju kamar mamanya.
Tok
Tok
Hawa mengetuk pintu kamar, "Ma, ini Hawa, Hawa masuk ya."
Meskipun tidak ada sahutan dari dalam, Hawa mendorong pintu, begitu pintu terbuka, Hawa bisa melihat mamanya duduk ditepi ranjang.
"Ma." Hawa mendekati sang mama dan duduk diruang kosong didekat mamanya, dari jarak dekat, Hawa bisa melihat mata mamanya terlihat bengkak, sepertinya mamanya telah menangis cukup lama.
"Apa yang sebenarnya terjadi ma, bagaimana kronologi ceritanya." cecar Hawa penasaran karna saat ditelpon mamanya hanya bilang kalau Adam sudah menikah dan diusir oleh papa Atta.
"Adikmu itu lebih memilih perempuan itu daripada mama dan papa, dia telah membuat kami malu dihadapan Siska, gadis terbaik yang telah kami pilihkan untuknya." mama Cellin bercerita dengan emosi dengan mata penuh kebencian pada Tari.
Hawa mengelus lengan mamanya, "Terus gimana ma."
"Yahh kamu tahu sendirikan papa kamu, dia langsung menghajar adikmu dan mengusirnya dari rumah, papamu murka, dia benar-benar sudah tidak menganggap adikmu itu lagi menjadi bagian dari keluarga kita."
Sebenarnya Hawa ingin bilang begini, 'Biarkan saja Adam bersama Tari ma, toh Tari yang membuat Adam bahagia, daripada dipaksa menikah dengan Siska pasti hasilnya tidak akan baik' inginnya Hawa mengatakan hal itu, tapi untuk saat ini dia cukup sadar diri untuk tidak mengatakan hal tersebut secara langsung mengingat mamanya dalam keadaan emosi dan alergi terhadap Tari, bisa-bisa dia kena semprot kalau sampai mengatakan hal tersebut, makanya dia lebih memilih diam dan menjadi pendengar.
__ADS_1
"Mama tidak pernah menyangka adikmu akan membangkang seperti ini, dia adalah anak yang baik dan penurut, tapi gara-gara gadis sialan itu dia sampai tega melawan mama dan papa, entah apa yang dilakukan oleh wanita itu terhadap adikmu, mungkin dia telah mencuci otak Adam."
Lagi-lagi Hawa hanya bisa diam dan tidak menanggapi keluhan mamanya, karna dalam lubuk hatinya, Hawa tidak pernah menyalahkan Tari sama sekali, karna dia tahu, Adam memilih Tari karna Tari adalah gadis yang baik, yang Hawa lakukan hanya mengelus lengan mamanya.
"Tenangkan diri mama, kalau mama menyimpan amarah begini, nanti penyakit darah tinggi mama kambuh lagi." hanya itu kata-kata terbaik yang bisa Hawa katakan pada mamanya.
Gak lama, papanya memasuki kamar, Hawa bisa melihat raut wajah papanya yang mengeras karna sangat murka dengan Adam.
"Pa." tegur Hawa.
"Hawa, papa kasih tahu sama kamu." ujar papa Atta tanpa basa-basi tanpa membalas sapaan putrinya terlebih dahulu, "Adam bukan lagi bagian dari keluarga kita, dia lebih memilih gadis yang baru beberapa tahun dikenalnya daripada kita sebagai keluarganya, papa tekankan sama kamu Hawa, jangan menghubungi adikmu itu lagi, apalagi sampai membantunya, paham kamu."
"Baik pa." jawab Hawa dibibir, hal itu dilakukan karna tidak ingin melihat papanya emosi, dihatinya jelas Adam tetaplah adiknya dan tentunya dia akan membantu Adam kalau adiknya itu butuh bantuan, tapi jelas dia akan melakukannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan papanya.
"Kita lihat saja, apa yang bisa dilakukan anak kurang ajar itu tanpa papa, apakah dia bisa bertahan tanpa papa." geram papa Atta mengingat kelakuan Adam yang berani melawannya hanya demi seorang gadis miskin.
Setelah beberapa saat berada dirumah keluarganya, Hawa pamit pulang dan sebelum pergi dia berpesan sama orang tuanya untuk istirahat dan jangan memikirkan masalah ini karna Hawa tidak mau hal itu berpengaruh pada kesehatan orang tuanya.
Saat berada dimobil, Hawa menelpon adiknya untuk menanyakan dimana keberadaan sang adik, meskipun papanya telah menekankan supaya tidak menghubungi Adam, dan Hawa mengiyakan, tapi kata-kata 'iya' itu hanya dibibir saja, fikir Hawa, cukup orang tuanya saja yang memusuhi Adam dan Tari, dia tidak perlu melakukan itu juga terhadap adiknya.
Pada deringan kedua panggilannya terjawab.
"Halo mbak, mbak Hawa pasti menelpon karna telah diberitahu oleh mama tentang apa yang terjadi dirumah kita beberapa jam yang lalu." ujar Adam begitu sambungan terhubung.
"Iya, tadi mbak pergi ke rumah orang tua kita, mereka sangat marah dengan apa yang kamu lakukan Adam."
"Salahkah aku mbak kalau ingin menjalani hidupku dengan wanita yang aku cintai."
"Gak salah Adam, hanya saja orang tua kitalah yang gengsinya selangit." lirih Hawa, "Kamu yang sabar ya Adam, mbak yakin, lama-lama pasti hati mereka luluh dan akan menerima Tari sebagai menantunya." Tari membesarkan hati adiknya.
"Semoga mbak."
"Adam, kamu ada dimana sekarang, mbak ingin bertemu dengan kamu ."
"Adam dirumah mbak, lebih tepatnya rumah peninggalan ayahnya Tari."
"Rumah peninggalan ayahnya Tari, maksud kamu apa."
Adam kemudian menjelaskan apa yang terjadi, tentang papa mereka yang datang ke rumah Tari dan memberikan cek pada Tari sehingga hal itu membuat penyakit asma ayah Rahman kambuh dan sampai pada akhirnya laki-laki itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Hawa membekap bibirnya saat mendengar cerita Adam, dia tidak pernah menyangka, gara-gara ayahnya orang sampai kehilangan nyawa, "Astaga papa, apa yang telah papa lakukan."
"Jahatkan papa mbak."
"Yahh biar bagaimanapun Adam, dia tetaplah papa kitakan."
"Hmmm."
"Oke, mbak akan ke rumah kalian sekarang."
Dua bersaudara tersebut mengakhiri panggilan.
Hawa meminta sopir keluarganya untuk mengarahkan mobil pada alamat yang dikirim oleh Adam.
Hanya butuh waktu 25 menit mobil berhenti tepat didepan sebuah gang, Hawa bisa melihat adiknya berjalan mendekati mobilnya karna memang tadi Adam bilang akan menunggunya didekat jalan karna rumah istrinya tidak bisa dimasuki oleh mobil.
Adam dan Hawa saling berpelukan satu sama lain saat bertemu.
"Mbak Hawa apa kabar." tanya Adam basa-basi, karna melihat kondisi kakaknya, sudah pasti kakaknya baik-baik saja secara fisik dan psikis.
"Mbak baik, tapi kamu yang sepertinya tidak baik, kamu terlihat kurusan Dam."
"Aku baik-baik saja kok mbak."
"Ayok mbak, Tari udah nungiin mbak dirumah kami yang sederhana."
Sebelum pergi, Hawa berpesan sama sopirnya, "Pak, tunggu sebentar ya."
"Baik nyonya."
Hawa berjalan dibelakang mengikuti adiknya sebagai penunjuk jalan, hanya butuh waktu lima menit untuk sampai dirumah yang saat ini ditempati oleh adiknya dan istrinya.
Hawa menatap rumah sederhana itu dengan tidak berkedip, dalam hati berkata, "Adam sekarang tinggal disini, aku tidak pernah menyangka adikku yang sejak kecil dilimpahi dengan kemewahan itu memilih untuk meninggalkan kemewahannya yang selama ini dinikmatinya dan memilih hidup sederhana begini."
"Aku tahu yang mbak fikirkan." gumam Adam yang membuat Hawa menghentikan aktifitas menilainya.
Hawa menepuk punggung adiknya pelan, "Mbak salut sama kamu Adam, demi memperjuangkan perempuan yang kamu cintai kamu meninggalkan semua kemewahan yang telah papa berikan."
"Mbak pernah denger istilah cinta itu buta gak, yah mungkin itulah yang membuatku melakukan hal ini." kekehnya mencoba untuk bercanda.
Hawa tertawa pelan mendengar jawaban adiknya.
"Selamat datang mbak Hawa dirumah sederhana kami." sambut Tari yang baru keluar dari rumah.
Hawa tersenyum begitu melihat Tari yang saat ini sudah resmi berstatus sebagai adik iparnya, dia berjalan menghampiri Tari dan memeluknya, "Aku atas nama keluarga meminta maaf ya Tari atas perbuatan papa kami kepada kamu dan almarhum ayah kamu."
Tari menggeleng, "Mbak gak perlu meminta maaf, Tari sudah ikhlas kok dengan semuanya."
"Kamu begitu sangat baik dan tulus, pantas saja Adam begitu sangat mencintaimu dan memilih kamu daripada keluarganya sendiri."
"Maafkan Tari atas itu mbak, Tari sedikitpun tidak bermaksud untuk membuat hubungan keluarga antara mas Adam dengan papa dan mama menjadi retak."
"Iya mbak tahu, kamu juga gak perlu meminta maaf begitu." Hawa mencoba menenangkan, dia tidak mau membuat Tari merasa bersalah begitu, adiknya sudah dewasa, tahu mana yang terbaik untuknya.
"Ayok masuk mbak." ajak Tari berjalan ke dalam, "Tapi maaf ya mbak, rumahnya kecil gini."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Tari, rumah itu yang penting adalah nyamannya bukan besar dan mewahnya."
"Iya mbak benar." sahut Tari, "Ayok mbak duduk dulu." Tari mempersilahkan.
"Sebentar ya mbak Tari buatkan minum."
"Maaf ya Tari telah merepotkan kamu."
"Gak merepotkan mbak."
Adam kemudian menyusul masuk dan duduk bersebrangan degan kakaknya.
Saat ini Hawa memfungsikan indra penglihatannya untuk menjelajah setiap sudut ruangan tersebut, rumah Tari benar-benar sederhana, tidak ada perabot mewah disana, sangat berbeda 180 derajat dengan rumah orang tuanya dan rumah suaminya.
"Yahh beginilah rumah kami mbak, kecil dan sederhana." gumam Adam.
"Meskipun sederhana, tapi kamu bahagia tinggal disini, daripada besar tapi kamu tidak bahagia."
"Iya mbak benar."
"Sekarang rencana kamu apa Dam."
"Cari kerja mbak, kan sekarang aku dikeluarkan oleh papa secara tidak hormat dari perusahaan."
"Mbak ada kenalan atau kenalan mas Irfan gitu yang saat ini tengah membutukan pegawai."
"Sebenarnya mbak dilarang untuk membantu kamu dalam bentuk apapun oleh papa." Hawa memberitahu kata-kata papanya.
"Melihat mbak berada didepanku sekarang, aku yakin mbak tidak menuruti ucapan papakan."
"Dibibir iya, tapi dihati gak, mana tega aku tidak membantu adiku sendiri."
"Mbak benar-benar kakak ter the best deh."
"Nanti mbak bantuin ya nanya-nanya sama mas Irfan dan juga kenalan mbak siapa tahu ada lowongan kerja."
"Adam tunggu informasinya mbak."
Tari kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi teh untuk kakak iparnya dan suaminya.
"Silahkan mbak diminum." ucap Tari begitu meletakkan cangkir teh dihadapan kakak iparnya dan satunya lagi dihadapan suaminya, Tari kemudian duduk disamping Adam.
"Terimakasih Tari." Hawa meraih cangkir dan menyeruput teh bikinan adik iparnya.
"Kalau kamu sendiri Tari, apa rencanamu." tanya Hawa setelah meletakkan cangkir tehnya.
"Aku juga berusaha untuk cari kerja mbak, rencananya aku akan memasukkan lamaran dibeberapa perusahaan." Tari menjelaskan.
Hawa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Adam meraih tangan istrinya, "Maafkan aku sayang, karna sekarang aku tidak punya apa-apa sampai membuat kamu harus ikutan kerja juga, seharusnyakan cuma aku yang kerja untuk menafkahi kamu, kamu seharusnya cukup dirumah saja menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak kita nantinya." sejak dulu Adam memang menginginkan istrinya hanya stay dirumah, tapi karna berhubung karna keadaan, jadinya Tari juga ikutan mencari pekerjaan.
"Apaan sieh mas, jangan merasa bersalah gitu, ini memang sudah tugas Tari untuk membantu mas Adam."
Pengantin baru itu saling melempar pandangan penuh cinta satu sama lain, "Terimakasih sayang, kamu benar-benar wanita yang sangat pengertian." Adam mengecup punggung tangan Tari.
"Ekhemm ekhem." Hawa berdehem, "Ada mbak lho disini Adam, mbak tahu kalian pengantin baru dan masih hangat-hangatnya, tapi bisa tidak mesra-mesraannya jangan didepan mbak, kan mbak jadi iri." seloroh Hawa dengan nada bercanda.
Tari merasa malu, dia menunduk, sedangkan Adam hanya terkekeh menanggapi candaan kakaknya.
"Elahhh mbak, mbak bisa tuh mesra-mesraan sama mas Irfan dikamar sepulang dari sini."
"Kamu seperti tidak tahu saja, kakak iparmu itu tidak akan pulang sebelum jam sembilan, benar-benar gila kerja dia."
"Jangan ngeluh donk mbak, mas Irfan kan kerja demi mbak yang hobinya soping."
"Iya sieh, dia yang kerja, mbak yang menghabiskan uang, cukup adil." kekehnya.
"Dasar mbak Hawa, sifatnya gak jauh dari mama."
Setengah jam kurang lebih Hawa berada dirumah adiknya itu sebelum pada akhirnya dia memutuskan untuk pulang.
Adam mengantar kakaknya sampai depan mobilnya.
"Mbak pulang dulu Dam, kalau ada apa-apa hubungin mbak ya." Hawa mencium pipi adiknya sebelum masuk ke mobil.
"Mbak." tahan Adam.
"Ada apa Adam."
"Bagaimana dengan ijazahku yang ada dirumah papa." Adam baru ingatkan akan hal itu, kalau dia memasukkan lamaran kerjakan yang dia butuhkan adalah itu, "Akukan tidak bisa memasukkan kerja tanpa ijazahku mbak."
"Kamu tenang saja masalah itu Adam, nanti mbak akan berusaha untuk memintanya sama mama, mbak yakin mama akan memberikannya, meskipun kamu pembangkang, mama tidak mungkin tega membiarkan kamu hidup luntang-lantung."
"Iya mbak, tolong ya, tanpa ijazah itu, Adam tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak."
"Kamu serahkan semuanya sama mbak Adam, kamu gak perlu khawatir."
"Aku mengandalkanmu mbak."
"Baiklah kalau begitu ya Adam, izinkan mbak pulang sekarang karna keponakanmu terus mencari mbak dirumah."
"Hati-hati mbak." Adam membiarkan kakak perempuannya masuk mobil.
Mereka saling melambaikan tangan satu sama lain sebagai perpisahan.
__ADS_1
****