
"Ini beneran adikku gak sieh." Hawa membatin melihat cara adiknya makan, Adam sudah seperti orang yang tidak makan selama tiga hari saja.
Saking fokusnya memperhatikan Adam, Hawa bahkan sampai lupa kalau dia sama sekali belum menyentuh makanannya sama sekali.
"Alhamdulillah kenyang." desah Adam lega begitu perutnya terisi penuh.
Setelah beres dengan urusan perutnya, barulah Adam melihat kalau makanan di piring kakaknya belum tersentuh sama sekali.
"Mbak, kenapa mbak gak makan."
"Kakak kenyang melihat kamu makan."
"Idihhh, mbak ada-ada saja."
"Jadi, ceritakan kamu bekerja dimana Adam." tuntut Hawa.
"Mmmm, tapi mbak jangan kaget ya."
"Memang apa yang kamu kerjakan, mengedarkan narkoba atau....."
"Apaan sieh mbak, ya gaklah, sesulit-sulitnya kehidupan aku, ya gak mungkinlah aku sampai melakukan pekerjaan haram begitu."
"Habisnya kamu meminta mbak untuk jangan kaget, memang apa yang sieh yang sebenarnya kamu kerjakan."
"Kayaknya tadi diawal aku sudah bilang deh mbak."
"Apa."
"Tentang pekerjaan akulah."
"Memangnya apa."
"Kuli bangunan."
"Kuli bangunan." Hawa mengulangi kata Adam, jelas dia kaget, dan itu juga sekaligus menjelaskan kenapa kulit adiknya yang dulunya putih bersih kini menjadi kecoklatan, ditambah dengan penampilannya yang kucel dan dekil, dan porsi makannya yang sangat banyak.
"Sudah aku bilang juga jangan kaget."
"Ini beneran kamu jadi kuli Dam."
"Ya beneranlah mbak, masak iya aku bohong."
"Ya Tuhan Adam, itukan pekerjaan berat, memang kamu bisa."
"Jangan ngeremehin ya mbak, gini-gini adikmu ini sangatlah kuat, bahkan pak Yahya mandor ditempatku bekerja memuji aku."
"Ya Tuhan ya Tuhan, aku benar-benar tidak percaya ini, adikku, kenapa kamu berakhir seperti ini." Hawa benar-benar prihatin dengan kondisi adiknya.
Sulit rasanya bagi Hawa untuk percaya kalau adiknya yang sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan berat dan dulunya senantiasa mendapatkan apapun yang dia inginkan dengan mudah kini bekerja sebagai kuli bangunan, bukannya Hawa merendahkan profesi kuli, hanya saja, adiknya adalah lulusan arsitek dan berbakat pula dibidangnya, dan hanya karna tidak memiliki ijazah, (Maksudnya, ijazah Adam ditahan oleh orang tua mereka.) Adam harus bekerja berat begini.
"Sudahlah mbak gak usah lebay begitu, aku saja gak apa-apa tuh." Adam hanya menanggapi dengan santai respon kakaknya.
"Pokoknya, mbak akan berusaha kuat untuk membantu kamu Dam, pasti ada teman mbak yang....."
"Sudahlah mbak, hentikan usaha mbak untuk membantuku, tidak ada perusahaan yang mau menerima seseorang tanpa ijazah, bahkan hanya sebagai penjaga toko pakaian saja minimal harus membawa ijazah SMA." Adam memutus kata-kata kakaknya.
"Tapi Adam...."
"Aku sudah ikhlas kok menerima dan menjalani nasibku, aku masih beruntung, sehat dan masih bisa bekerja, diluar sana masih banyak orang yang tidak seberuntung aku." pengalaman hidup mengajarkan Adam menjadi lebih bijak dan bersyukur, "Lagian, sebagai kepala keluarga, aku harus bekerjakan, masak iya aku terus-terusan dihidupi oleh istriku, apa kata dunia mbak."
Hawa hanya mendesah, dia kasihan sama adiknya, dia tidak bisa membayangkan adiknya yang tiap hari harus berada dibawah siraman sinar matahari dan berjibaku dengan sekop, batu bata, semen dan hal-hal lainnya yang ada hubungannya dengan masalah bangunan, tapi disatu sisi, dia bangga dengan adiknya, Adam tidak gengsi mengerjakan apapun, dan adiknya itu seperti oke-oke saja tuh menjalani profesinya.
"Tari tahu kamu kerja apa."
Adam menggeleng lemah, "Aku hanya bilang kalau aku bekerja disebuah perusahaan, aku tidak ingin dia malu gara-gara punya suami yang berprofesi sebagai kuli bangunan begini, aku ingin dia bisa membanggakan aku didepan teman-temannya dan juga para tetangga yang sering nyinyir."
"Apa yang kamu lakukan Adam, menyembunyikan pekerjaan kamu yang sebenarnya sama istri kamu sendiri, aku yakin, Tari bukan wanita materialistis yang malu dengan profesi suaminya, kalau gak, kenapa dia masih mau menerimamu meskipun sudah diusir dari rumah dan tanpa membawa apa-apa sama sekali, kamu harus segera memberitahu Tari apa pekerjaan kamu yang sebenarnya Adam, kalau suatu saat dia tahu dari orang lain, dia pasti akan sangat marah sama kamu, biar bagaimanapun, kaliankan adalah suami istri dan sudah seharusnya saling menerima satu sama lain." Hawa berusaha mengingatkan adiknya.
Adam terdiam merenungi kata-kata kakaknya, kakaknya memang benar, tidak seharusnya dia berbohong sama Tari tentang pekerjaannya, Tari adalah gadis yang baik dan menerimanya apa adanya, Tari tidak mungkin malu dengan pekerjaan yang dia geluti saat ini.
"Mbak benar, aku akan bicara sama Tari nanti." ujarnya setelah mendengar nasehat dari kakaknya.
"Adam, yang perlu kamu ketahui, mbak sangat bangga dengan kamu, mbak tidak menyangka kamu mau bekerja apa saja demi tanggung jawabmu sebagai kepala keluarga."
"Habis mau bagaimana lagi mbak, tanpa ijazah, hanya ini yang bisa Adam lakukakan."
"Mbak yakin, suatu saat nanti, kamu pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik Adam."
"Amin."
"Ohhh ya mbak, aku boleh pesan lagikan."
"Heee, tadi kamu makan banyak sekali, emangnya perut kamu masih kuat nampungnya."
"Bukan mbak, ini dibungkus dan dibawa pulang untuk Tari."
"Ohhh, mbak fikir."
"Bolehkan mbak."
"Tentu saja boleh."
"Ohh iya mbak." Adam merogoh kantong celananya dan mengeluarkan dompetnya, "Ini...." Adam menyodorkan kartu kredit yang pernah diberikan Hawa padanya, "Aku rasa, aku tidak membutuhkannya lagi."
"Kamu pegang saja Adam." Hawa kembali mendorongnya kedepan adiknya.
__ADS_1
"Gak mbak, aku sudah punya pekerjaan sekarang, dan aku tidak membutuhkannya lagi, aku hanya menggunakannya satu kali saat merayakan keberhasilan Tari saat mendapatkan pekerjaan." Adam kembali mendorong kartu itu kehadapan Hawa.
"Baiklah kalau begitu, tapi kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan untuk memberitahu mbak ya Adam."
"Pasti mbak."
"Ngomong-ngomong, Tari sudah hamil belum."
"Belum ada tanda-tandanya mbak."
"Sepertinya kamu harus lebih berusaha lagi Adam."
"Sepertinya begitu, mbak doain deh supaya kami segera dapat momongan."
"Insaallah mbak akan selalu mendoakan kamu dan juga Tari, semoga kalian selalu mendapatkan yang terbaik."
"Amin."
****
"Ehh Tari, sudah pulang kerja." sapa ibu Haryati yang saat ini tengah duduk diwarung bersama dengan ibu-ibu lainnya, biasa, para ibu-ibu sore-sore begini pada kumpul untuk bergosip ria.
"Iya bu."
Ibu Dian menyahut, "Tari kerjanya dikantoran, kok mau ya sama mas Adam yang kerjanya hanya sebagai kuli bangunan."
Mendengar kata-kata ibu Dian, Tari meluruskan, "Maaf bu Dian, suami saya juga bekerja dikantor, bukan sebagai kuli bangunan." tentu saja Tari menjawab begitu, karna Adamkan bilangnya dia bekerja disebuah perusahaan, dan Tari percaya sama suaminya.
"Bekerja dikantor, bukannya suami Tari bekerja sebagai kuli bangunan, saat saya pergi ke pasar saya lihat sendiri lho dengan mata kepala saya sendiri."
"Mmm mungkin ibu salah lihat kali, mungkin orang itu hanya sekedar mirip saja sama mas Adam." Tari masih berusaha membantah
"Ya gak mungkin donk Tari saya salah lihat, mata saya masih sangat sehat dan bisa melihat dengan jelas."
"Ini mungkin kamu dibohongi Tari." ibu Eka turut menimpali, "Suami kamu itu hanya ngaku-ngakunya pekerja kantoran, padahal cuma buruh bangunan."
Tari mulai kesal mendengar ocehan ibu-ibu tukang gosip tersebut, tapi gara-gara ocehan ibu Dian barusan Tari juga agak curiga sieh sama suaminya itu, apalagi sekarang kulit suaminya berubah kecoklatan, tangan kasar, dan tiap malam suaminya mengeluh pegal dan sering minta dipijitin.
"Makanya Tari, kalau menikah itu jangan asal saja, kenali dulu latar belakangnya, jangan hanya karna rupa yang rupawan kamu mau aja gitu langsung diajak nikah."
Kuping Tari memerah mendengar ucapan ibu Dian, sebelum emosinya menjadi tidak terkendali, dia buru-buru pergi dari sana, "Saya permisi dulu bu."
"Cepat amat, duduk-duduk dulu saja sama kita."
"Gak terimakasih." Tari langsung ngacir.
Setelah kepergian Tari, ibu-ibu itu kembali bergosip.
"Kasihan sekali ya Tari, sepertinya suaminya itu membohonginya."
"Iya benar, mas Adam memang tampan sieh, sayangnya penipu."
"Bener-benar kasihan sik Tari."
****
"Apa benar yang dikatakan oleh ibu-ibu tukang gosip itu kalau mas Adam hanya bekerja sebagai seorang kuli bangunan bukannya bekerja dikantoran, kalau iya, tega sekali mas Adam membohongiku."
Tari : Mas Adam kapan pulangnya.
Tari mengirim pesan sama suaminya, dia sudah tidak sabar untuk mengintrogasi suaminya itu.
Adam : Iya sebentar lagi sayang, kangen ya
Kalau biasanya Tari akan tersipu saat Adam menggodanya begitu, tapi kali ini dia malah kesel.
Tari : Apaan sieh mas, siapa juga yang kangen
Adam : Kirain kangen
Tari : Kalau urusan mas sudah selesai dengan mbak Hawa, mas langsung pulang ya
Adam : Oke sayangku
Tari : Sampaiin salamku untuk mbak Hawa
Adam : Perintah dilaksanakan istriku
Tari yang tadinya kesal, mau tidak mau mengangkat sudut bibirnya saat membaca pesan tersebut.
Tari menunggu Adam cukup lama, setelah satu jam lebih, Adam baru muncul dengan membawa makanan yang dia pesankan untuk Tari dicafe tempatnya bertemu dengan Hawa.
"Hai sayang, kamu menungguku ya." goda Adam melihat Tari yang saat ini duduk dikursi ruang tamu.
"Hmmm." gumam Tari dengan wajah datar.
Adam meletakkan makanan yang dia bawa dimeja, dan berkata, "Itu mbak Hawa yang beliin untuk kamu."
Tari mengangguk sebagai respon.
Tentu saja Adam merasa ada yang tidak beres karna melihat istrinya yang tidak seperti biasanya, Tari yang selalu menyambutnya dengan senyum kini hanya berwajah datar, hal itu mendorong Adam untuk mengajukan pertanyaan atas perubahan sikap istrinya tersebut.
"Tari, kamu kenapa."
"Aku mau menanyakan sesuatu sama kamu mas, tapi kamu jawab dengan jujur ya."
__ADS_1
"Memangnya kamu mau menanyakan apa."
"Beneran kamu bekerja sebagai kuli bukannya bekerja diperusahaan."
Adam mengerutkan keningnya, tentu saja dia heran dari mana Tari bisa tahu akan hal ini, dia memang ingin memberitahu Tari secara langsung sieh, tapi dia gak menyangka kalau istrinya itu ternyata tahu duluan.
"Kamu tahu darimana."
"Gak penting aku tahunya darimana, jawab dulu pertanyaan aku mas." Tari mendesak.
Adam menunduk, dia berusaha untuk merangkai kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya sama Tari, setelah beberapa detik kemudian, barulah dia mendongak dan menatap Tari, "Iya, memang benar aku bekerja sebagai kuli bangunan." jawab Adam.
Mendengar kebenaran itu, Tari hanya menganga, dia tidak percaya suaminya selama ini membohonginya, fikir Tari, apa maksudnya coba dengan berbohong begitu.
Melihat Tari hanya terdiam sambil memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan, Adam meminta maaf, "Maafkan aku Tari, aku salah, aku benar-benar meminta maaf, aku memang ingin memberitahukan kebenaran ini, tapi ternyata kamu sudah tahu duluan."
"Kenapa mas Adam berbohong."
"Karna aku tidak ingin kamu malu dengan profesi aku yang hanya sebagai seorang kuli bangunan Tari, hanya ini yang bisa aku lakukan, tidak ada perusahaan yang mau menerima karyawan tanpa ijazah."
"Apa sieh yang ada difikiran mas Adam, kenapa mas Adam berfikir aku malu kalau profesi mas Adam hanya seorang kuli, mas Adam fikir aku wanita materialistis." suara Tari meninggi, dia marah karna dibohongi oleh orang yang dia cintai, dia tidak habis fikir kenapa suaminya berfikir begitu tentang dirinya.
"Aku hanya...."
"Aku kecewa dengan mas Adam, tidak seharusnya mas Adam berbohong sama aku tentang pekerjaan mas Adam." Tari meluapkan emosinya.
"Tari aku minta maaf, aku...."
"Malam ini, mas Adam tidur diluar." setelah mengatakan hal tersebut, Tari berjalan meninggalkan Adam dan masuk ke kamarnya dan menguncinya dari dalam, dan sepertinya Tari benar-benar akan membiarkan Adam tidur diluar.
Adam hanya mendesah berat, memang tidak seharusnya dia berbohong, namun Adam tidak tinggal diam, dia masih berusaha untuk membujuk Tari, dia mengetuk pintu kamar.
Tok
Tok
"Tari sayang, maafin mas karna telah membohongimu, kamu benar, tidak seharusnya mas berbohong hanya gara-gara gak mau kamu malu dengan pekerjaan yang mas geluti, seharusnya mas tahu apapun keadaan dan kondisi mas, kamu akan selalu menerima mas."
Tidak sahutan.
"Sayang, buka pintunya, mas benar-benar minta maaf dan menyesal."
Sepertinya Tari masih betah dengan diamnya dan benar-benar akan membiarkan Adam tidur diluar, dan pada akhirnya Adam menyerah untuk membujuk Tari, dia terpaksa harus menerima takdirnya untuk tidur diluar malam ini tanpa kehangatan.
*****
Suara deringan ponsel yang menghiasi seluruh ruangan sungguh sangat mengganggu dua orang yang saat ini tengah tertidur dengan nyaman ditempat tidur empuknya.
"Pa, angkat telponnya, berisik sekali." perintah mama Lili dengan mata terpejam.
Masih setengah sadar, papa Sebastian meraba nakas yang berada disampingnya dimana ponselnya berada, dengan mata yang setengah terbuka, papa Sebastian melihat angka yang tertera pada jam digital yang ada diponselnya yang menunjukka angka 02.34 pagi.
"Orang gila mana yang mengganggu tidur orang lain sepagi ini." dengus papa Sebastian saat melihat nomer asing yang tertera dilayar.
Belum sempat dia buka suara, suara berat dan tegas terdengar dari seberang.
"Selamat malam, apa ini benar dengan bapak Sebastian Pangestu."
"Iya benar, ini dengan siapa."
"Saya dari pihak kepolisian, saya hanya ingin menyampaikan kepada anda kalau anak bapak, Lukas Pangestu saat ini kami tahan dikantor kami karna menyetir dalam keadaan mabuk." orang yang menelpon papa Sebastian ternyata adalah polisi yang memberitahu tentang Lukas yang saat ini tengah ditahan dikantor polisi.
"Tahan saja dia, selamanya juga tidak apa-apa, itu lebih bagus." ujar papa Sebastian cuek sebelum mematikan panggilan secara sepihak.
Mama Lili yang tadi berniat kembali tidur kembali terbuka matanya saat mendengar percakapan suaminya yang entah dengan siapa.
"Siapa pa."
"Polisi."
"Polisi, ada apa polisi nelpon papa pagi-pagi begini."
"Anak kesayanganmu itu membuat ulah lagi."
"Maksud papa, Lukas ditahan polisi begitu." mama Lili ternyata bisa menangkap apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Iya."
Mama Lili yang tadinya bertanya setengah mengantuk matanya kini kembali on dan langsung terduduk, "Astaga, kasihan sekali anak kita pa, ayok pa kita ke kantor polisi."
"Biarin saja ma, biarin saja anak itu menginap dikantor polisi."
"Papa ini apa-apaan sieh, kok tega sekali sama anak sendiri." mama Lili tentu saja tidak terima mendengar kata-kata suaminya.
"Sekali-kali biarkanlah ma, agar anak itu tidak berbuat seenaknya sendiri, siapa tahu dengan menginap dipenjara barang sehari dua hari atau bahkan seminggu itu bisa membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik."
Tentu saja mama Lili tidak setuju dengan suaminya, dia kukuh mengajak suaminya ke kantor polisi untuk membebaskan anak tunggal mereka.
"Tidak bisa pa, mama tidak tenang melihat anak mama berada dikantor polisi, pokoknya kita harus ke kantor polisi sekarang dan membawanya pulang."
Namanya juga seorang ibu, senakal-nakalnya anaknya, tetaplah dia tidak tega membiarkan anaknya mengalami kesulitan.
Papa Sebastian menyerah dan menuruti keinganan istrinya, karna kalau tidak dituruti, istrinya itu akan terus-terusan merengek sampai pagi.
"Iya iya baiklah." jawabnya kesal.
__ADS_1
****