
Tari benar-benar duduk meper didekat jendela, intinya, Tari benar-benar ingin duduk sejauh mungkin, dan duduk nempel dipintu mobil itulah jarak terjauh didalam ruangan mobil tersebut, agar tidak kentara dia sengaja ingin menjauhi bosnya itu, Tari memfokuskan pandangannya keluar jendela supaya dia dikira menikmati pemandangan sepanjang jalan yang mobil lewati.
Pak Dante hanya tersenyum licik, dalam hati berkata, "Sekarang kamu boleh menjauhi aku Tari, tapi nanti, jangan harap kamu bisa lepas dariku, akhirnya setelah sekian lama aku menanti, kamu masuk juga dalam perangkapku."
Tari melongo saat mobil yang dikendarai oleh sopir pak Dante berhenti disebuah parkiran hotel, Tari langsung menoleh ke arah pak Dante yang duduk disampingnya dan mengajukan keheranannya, "Pak, apa sopir bapak tidak salah, kenapa berhenti dihotel begini."
"Gak salah Tari, memang klien kita minta bertemunya disini."
"Emang ada ya klien yang minta ketemu dihotel." Tari bertanya-tanya dalam hati, "Ohhh iya, hotelkan juga memiliki restoran, iya mungkin disanalah tempat pertemuannya." Tari berusaha berfikir positif dan menghempaskan fikiran negatif yang sempat merasuki fikirannya.
"Ayok Tari turun."
Tari mengangguk dan mengikuti sik bos turun dari mobil, mereka berjalan memasuki lobi hotel dan berjalan menuju lift.
Dan saat pak Dante mengarahkan Tari kesebuah kamar hotel, disini kecurigaan Tari yang sempat menghilang kembali ke permukaan, "Apa-apaan ini, masak iya ada orang meeting dikamar hotel begini, masuk akal gak ini." perasaan Tari mendadak tidak enak yang membuatnya menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa kamu diam saja Tari, ayok masuklah." ucap pak Dante setelah dia membuka pintu kamar hotel tersebut.
"Mmm, pak Dante, ini beneran kliennya minta ketemunya disini." tanya Tari curiga.
Pak Dante menjawab dengan pasti supaya Tari tidak mencurigainya, "Iya, ini permintaan mereka, sebentar lagi mereka datang kok, tadi pihak mereka mengirim pesan, katanya mereka tengah dalam perjalanan menuju kemari."
Tari kok ragunya.
"Ayok Tari masuk, apalagi yang kamu tunggu." pak Dante terlihat tidak sabaran karna Tari belum juga melangkahkan kakinya.
Meskipun curiga dengan pak Dante, tapi toh akhirnya Tari melangkahkan kakinya memasuki kamar hotel yang memang sudah lebih dulu dipesan oleh pak Dante.
Saat pintu tertutup, perasaan Tari semakin tidak enak, dia merasa seperti masuk ke kandang singa.
"Gerah ya." pak Dante melepaskan jasnya yang membalut kemeja bagian dalamnya dan melemparkan jas tersebut disofa kamar hotel.
"Tari, apa kamu tidak kegerahan, kalau kamu gerah, kamu bisa melepas baju kamu juga." memandang Tari dengan pandangan nakal.
"Gak pak, saya kedinginan malah." bohongnya.
Sumpah Tari rasanya benar-benar tidak nyaman berada dikamar hotel begini dengan bosnya.
"Mmmm, pak Dante, kliennya kapan sampainya ya, kok lama ya." Tari yang sejak tadi mengarahkan perhatiannya menjelajah kamar hotel ini menoleh ke arah pak Dante, Tari melotot saat dilihatnya bosnya itu kini mulai membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Sebelum kliennya datang, bagaimana kalau kita bersenang-senang terlebih dahulu." memandang Tari seolah-olah ingin menelanjangi Tari.
"Apa maksud pak Dante, dan kenapa bapak malah buka baju." Tari panik, dia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Ayok Tari, jangan jadi gadis sok suci, layani aku dan kamu akan mendapatkan apapun yang kamu inginkan, kamu tahukan aku sangat kaya." pak Dante kini mendekati Tari yang mulai ketakutan, reflek Tari mundur untuk menjauhi Dante.
"Pak Dante, bapak apa-apaan sieh, saya mau pulang saja." Tari berjalan ke arah pintu keluar, namun lengannya ditarik, dan dengan kasar pak Dante menarik Tari ke arah tempat tidur hotel dan menjatuhkannya yang membuat tubuh Tari memantul, dan pak Dante mengungkung tubuh Tari dan mengunci kedua tangannya, dengan sekuat tenaga, Tari berusaha untuk berontak, dia benar-benar tidak sudi dipegang oleh bosnya yang hidung belang.
"Pak, apa yang bapak lakukan, lepaskan saya." lengking Tari.
"Setelah sekian lama saya menunggu kesempatan ini, akhirnya kesempatan ini datang juga, saya tidak akan mungkin melepaskan kamu Tari, layani saya Tari, dan saya pastikan saya akan memberikan limpahan kemewahan untuk kamu, kamu mau tas mewah, rumah besar lengkap dengan fasilitasnya atau jalan-jalan keliling dunia, semuanya akan saya berikan kepadamu Tari."
Kalau Tari gadis matrek, sudah pasti Tari dengan senang hati memberikan tubuhnya, sayangnya, Tari adalah wanita yang punya harga diri dan tidak akan tergiur dengan harta.
"Dasar bajingan brengsek, aku tidak akan sudi melakukan apa yang kamu minta, kamu fikir aku wanita murahan." Tari berteriak, dia sudah menanggalkan sopan santunnya.
Tanpa mengindahkan umpatan Tari pak Dante berkata, "Ayok Tari kita bersenang-senang, jangan jadi gadis munafik." pak Dante berusaha mencium bibir Tari, namun Tari berhasil menghindar.
"Dasar laki-laki bejat." umpat Tari, air matanya sudah mulai merembas dari kedua pelupuk matanya, sumpah dia merasa sangat sakit hati dan terhina dilecehkan begini.
"Tuhan, tolong aku, mas Adam, tolong aku mas." Tari merintih dalam hati, seketika bayangan suaminya melintas difikirannya, dia tidak sudi disentuh oleh orang lain, tubuhnya untuk kekasih halalnya, hanya Adam yang boleh menyentuhnya, dan seketika itu, Tari seperti mendapat tenaga, dia mengangkat kakinya dan dengan keras menghantamkan lututnya dibarang berharga milik pak Dante.
"Arrhhh."
Apa yang dilakukan oleh Tari membuat pak Dante mengerang dan memegang barang berharganya yang terasa sakit, dengan sekuat tenaga yang dia miliki, Tari mendorong tubuh pak Dante, tubuh tambun itu terguling jatuh ke lantai dengan suara gdebuk yang cukup keras.
Memanfaatkan kesempatan ketidakberdayaan pak Dante yang masih merintih kesakitan sambil memegang masa depannya sambil berlutut, Tari memungut tasnya dan dengan langkah lebar berlari ke arah pintu.
"Tariiii, jangan pergi kamu, awhhhh, awas kamu ya." ancam pak Dante yang tidak dipedulikan oleh Tari sama sekali.
Tari terus berlari dan berlari tanpa henti, takut pak Dante menyusulnya dan kembali menyeretnya ke kamar hotel, beberapa tamu hotel yang berpapasan dengannya sampai keheranan melihatnya berlari dengan pakaian dan rambutnya yang terlihat berantakan, Tari tidak peduli dengan pandangan orang-orang itu, intinya dia harus pulang, karna itu tempat teraman untuknya saat ini.
Tari menyetop taksi pertama yang dilihatnya saat tiba dipinggir jalan, setelah masuk, dia menyebutkan alamat rumahnya.
__ADS_1
Sejak berada ditaksi, Tari berusaha menahan tangisnya, dia benar-benar sakit hati karna dilecehkan oleh bossnya sedemikian rupa, sehingga saat dia tiba dikamarnya, Tari menumpahkah semua rasa sakit yang disebabkan oleh bosnya yang hidung belang.
Hiks
Hiks
Hiks
Tari : Mas, mas sudah pulang belum
Saat ini, yang Tari butuhkan adalah Adam sebagai sandarannya, Tari berharap suaminya berada disampingnya saat ini, karna kalau Adam disini, hatinya akan lebih tenang, namun ternyata Adam tidak membalas pesan yang dia kirim.
"Dasar bajingan, brengsek, aku membencimu, mentang-mentang kamu kaya kamu fikir kamu berhak melakukan apapun yang kamu inginkan kepadaku." Tari mengumpat, dia benar-benar jijik mengingat dirinya sempat disentuh oleh laki-laki hidung belang itu.
****
Adam begitu sangat bahagia, dia sudah tidak sabar memberitahu akan berita bahagia ini sama Tari, dia bisa sieh memberitahu Tari lewat telpon, tapi Adam memilih memberitahu Tari secara langsung, dia ingin melihat reaksi istrinya kalau mengetahui dirinya diberi kesempatan oleh boss diproyek pembangunan tempatnya bekerja untuk mendesain proyek berikutnya, meskipun belum tentu juga sieh nanti desainnya akan diterima, tapi seenggaknya dia beri kesempatan, itu sudah sangat bagus kok.
Dengan bersiul Adam melangkah menyusuri gang menuju rumahnya, Adam yakin saat ini Tari sudah pulang, dan benar saja, pintu depan tidak terkunci saat dia mendorongnya yang membuktikan kalau Tari memang benaran ada dirumah.
"Tari pasti ada dikamar."
Adam langsung melenggang menuju kamar, mendorong kenop pintu, "Tari sayang....."
"Mas Adam." rintih Tari begitu melihat suaminya yang sejak tadi dia tunggu-tunggu datang.
Suara Adam tertelan kembali begitu melihat saat ini Tari tengah menangis, melihat hal itu membuat Adam khawatir, dia berjalan mendekati Tari dengan tergesa-gesa.
"Tari, kamu kenapa sayang, apa yang terjadi hah, apa kamu sakit, mana yang sakit, apa kita perlu ke rumah sakit." rentetan pertanyaan yang keluar dari bibir Adam saking khawatirnya Adam terhadap istrinya.
Tari malah menghambur memeluk suaminya, bukannya menjawab pertanyaan Adam dia malah menangis tersedu-sedu dan itu membuat Adam semakin khawatir.
"Kamu kenapa sayang, apa yang terjadi."
Namun Tari belum juga buka suara, dia masih betah menangis di pelukan Adam, Adam akhirnya menyerah menanyai Tari, fikir Adam, dari segi fisik mungkin istrinya baik-baik saja karna Tari tidak terlihat terluka atau kesakitan, entah apa yang terjadi dengan Tari, Adam memilih sabar dan menunggu Tari berhenti untuk menangis dan menceritakan apa yang terjadi.
Dan setelah menangis beberapa saat dan lelehan air matanyapun berhenti mengalir, Tari akhirnya buka suara, "Mas Adam."
Hiks
Hiks
Tari benar-benar jijik mengingat dirinya disentuh oleh sik laki-laki hidung belang itu membuatnya kembali menitikkan air matanya.
"Maafkan aku mas Adam, aku tidak bisa menjaga diriku, maafkan aku mas Adam."
Adam mendorong bahu Tari pelan dan meletakkan tangannya dilengan Tari, "Tari, apa maksudmu."
"Sik brengsek itu melecehkan aku mas, dia mau memperkosa aku." lapor Tari dan setelah mengatakan hal tersebut kembali tangisnya pecah.
Tangan Adam mengepal, rahangnya mengeras mendengar penjelasan istrinya, wajah Adam merah padam menahan amarah, tidak ada seorangpun laki-laki di dunia ini yang sudi wanitanya disentuh oleh orang lain, "Siapa dia Tari."
"Pak Dante mas, bos diperusahaan tempat aku bekerja."
Adam berdiri begitu cepat, "Aku akan membunuhnya, berani-beraninya dia menyentuh istriku." geramnya dan melangkahkan kakinya keluar.
Tari berlari menyusul Adam untuk menahannya, dia tidak ingin suaminya itu berbuat nekat, "Jangan mas Adam, jangan." Tari memohon dengan wajah menghiba sambil memegang lengan Adam, "Jangan temui dia mas."
"Jangan halangi aku Tari, aku akan membunuh laki-laki kurang ajar itu."
"Jangan mas, aku mohon, aku tidak mau kamu masuk penjara hanya gara-gara membunuh orang, bagaimana dengan nasibku nantinya mas."
Adam yang dikuasai oleh emosi menoleh ke arah Tari yang masih memegang lengannya untuk mencegahnya mencari laki-laki brengsek yang telah melecehkan istrinya itu, Tari benar-benar mengkhawatirkan dirinya.
"Jangan mas Adam, aku mohon, demi aku."
Adam menarik Tari dan mendekapnya, Adam menangis karna merasa gagal melindungi istrinya, "Maafkan aku sayang, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu."
Tari menggeleng, "Ini bukan salahmu mas, sik brengsek itu yang menjebakku."
Dua insan itu saling berpelukan satu sama lain, berpelukan dalam jangka waktu yang lama, sama-sama saling menenangkan dan menguatkan satu sama lain lewat pelukan.
Dan setelah benar-benar tenang, Tari kemudian bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1
Sepanjang Tari bercerita, Adam mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya, rasanya dia ingin mencari laki-laki brengsek itu dan membunuhnya.
Diakhir ceritanya, Tari berkata, "Aku akan berhenti mas, aku tidak ingin lagi bekerja disana."
Adam mengangguk, "Iya sayang, itu adalah pilihan yang tepat, aku setuju dengan keputusanmu." ujar Adam dan kembali memeluk Tari dan mengelus rambut Tari yang berantakan.
"Ohh ya sayang, aku juga ingin memberitahu kamu sesuatu."
"Apa mas." jawab Tari lemah.
"Kamu tahu sayang, boss dari perusahaan properti dan real estate tempat aku bekerja sebagai kuli sekarang memberikan aku kesempatan untuk mendesain proyek perumahan yang akan mereka kerjakan berikutnya."
"Benarkah." Tari mendongak, setelah tadi dilanda rasa sedih, kini dia agak terhibur mengetahui kalau suaminya diberi sebuah kesempatan oleh boss dari sebuah perusahaan properti.
Adam mengangguk, "Iya sayang."
"Ya Tuhan, akhirnya doa-doa kita terkabul ya mas." kini senyum sudah muncul dibibir Tari.
"Belum tentu diterima juga sayang, tapi aku akan berusaha, sangat berusaha supaya kehidupan kita menjadi lebih baik." semangat Adam.
"Aku yakin kamu bisa mas, kamu itu punya kemampuan."
"Doain aku ya sayang."
"Aku akan selalu berdoa untukmu mas."
*****
Setelah keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, tempat dimana dia menggantungkan hidupnya selama beberapa bulan ini, kini Tari berusaha memasukkan lamaran kerja dibeberapa perusahaan, dia tidak akan mungkin berpangku tangankan hanya duduk dan diam saja dirumah.
Sedangkan Adam, dia masih bekerja menyelsaikan proyek pembangunan perumahan yang sebentar lagi akan rampung, dan malam harinya dia menarikan tangannya mendesain bangunan untuk proyek berikutnya yang akan dikerjakan oleh perusahaan properti milik pak Sutomo, dan tentunya desain yang dikerjakan oleh Adam sesuai dengan keinginan dari pak Sutomo.
Dan dihari yang telah ditentukan, Adam menemui pak Sutomo dikantornya untuk memperlihatkan hasil kerjanya, Adam benar-benar berharap pak Sutomo menyukai hasilnya.
"Ini anda yang mendesain mas Adam." tanya pak Sutomo terlihat takjub saat melihat desain yang dikerjakan oleh Adam.
"Iya pak, itu saya yang mendesain." jawab Adam memastikan.
Untuk beberapa saat pak Sutomo hanya terpaku melihat hasil desain yang diciptakan oleh Adam, dia tidak menyangka kalau pemuda yang ada didepannya ini sangat berbakat.
"Bagaimana pak." tanya Adam meminta pendapat pak Sutomo karna pak Sutomo belum menyampaikan pendapatnya tentang desain yang saat ini tengah diperhatikan oleh pak Sutomo.
Pertanyaan Adam membuyarkan keterpanaan pak Sutomo akan hasil desain yang saat ini dia pegang.
"Baiklah mas Adam, saya sangat menyukai hasil desain anda, dan bisa saya pastikan kalau saya akan menggunakan desain ini untuk pembangunan proyek berikut."
"Apa.....bapak akan..." mulut Adam sampai terbuka saking tidak percaya dengan pendengarannya, "Bapak akan menggunakan desain yang saya buat."
"Iya mas Adam, saya akan menggunakan desain yang mas Adam buat." ujar pak Sutomo meyakinkan.
"Dan sebagai bonusnya, saya menawarkan sebuah pekerjaan untuk mas Adam, apa mas Adam mau bergabung dan bekerja di perusahaan saya."
"Ap...ap..." Adam jadi gagap, dia kesulitan berbicara, "Apa maksud pak Sutomo, saya bekerja diperusahaan bapak begitu." saat ini Adam antara percaya dan tidak.
"Iya mas Adam, apa mas Adam bersedia."
"Tentu saja, tentu saja saya bersedia, sangat bersedia malah." jawab Adam antusias.
"Saya sangat senang mendengar keputusan mas Adam, dan saya harap, mas Adam bisa bekerja mulai besok di perusahaan saya, karna perusahaan saya membutuhkan orang seperti mas Adam."
"Terimakasih pak Sutomo, terimakasih." Adam menjabat tangan pak Sutomo erat saking bahagianya.
Pak Sutomo menepuk lengan Adam, "Mari kita bekerjasama membangun perusahaan ini supaya lebih besar dari sekarang."
"Pasti pak, pasti."
Adam sudah tidak sabar untuk pulang dan memberitahukan kabar bahagia ini untuk Tari.
"Terimakasih ya Allah, ini berkat doa Tari." batin Adam.
Setelah urusannya dengan pak Sutomo selesai, Adam pamit pulang, dia sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar bahagia ini sama Tari.
*****
__ADS_1